• Tidak ada hasil yang ditemukan

Rekomendasi Kebijakan

Dalam dokumen MODEL PEMILU SERENTAK (Halaman 13-21)

Untuk mencapai sejumlah perubahan tersebut ada beberapa hal yang perlu diimplementasikan:

1. Perlu perubahan model pemilu serentak seperti dianut UU No.7/2017 tentang Pemilu.

2. Perubahan UU Pilkada, dimana Pilkada serantak ke depan menjadi bagian dari pemilu serentak lokal.

3. Revisi UU Pemilu sehingga materi UU Pilkada menjadi materi dari UU Pemilu.

Paper - Model Pemilu Serentak

4. Perlu ada jeda waktu, dua atau tiga tahun, antara pemilu serentak nasional dan pemilu serentak lokal agar penyelenggaraan dua pemilu itu mudah dikelola dan untuk memudahkan koordinasi pelaksanaan kebijakan pemerintahan antara pemerintah pusat dan pemerintah-pemerintah daerah;

5. Agar terjadi efek pengaruh politik (coattails effect) antara tingkat keterpilihan presiden/wakil presiden dan caleg dari partai atau koalisi partai pendukungnya agar tercipta hubungan harmonis antara eksekutif dan legislatif, sistem pemilu legislatif sebaiknya adalah sistem proporsional dengan daftar tertutup;

10

Policy Paper - Model Pemilu Serentak

DAFTAR PUSTAKA

American Political Science Review, Volume 77, No. 2 Juni 1983.

American Political Science Review, Volume 97, No. 3 Tahun 2003.

Andersen, David J. Pushing the Limits of Democracy: Concurrent Elections and Cognitive Limitations of Voters. PhD Dissertation. New Jersey: The State University of New Jersey, 2011.

Asshiddiqie, Jimly. Pengantar Ilmu Hukum Tata Negara. Jakarta: Rajawali Pers, 2010.

Cheibub, Jose Antonio. Presidentialism, Parlementarism, and Democracy. New York: Cambrige University Prees, 2007.

Comparative Political Studies 33 (1), 2000.

Comparative Political Studies, Vol. 26, No. 2, 1993.

Comparative Political Studies, Volume 44, No. 7 Juli 2011.

Comperative Political Studies, 1999, Volume 26, No.2.

Electoral Studies 22, 2003.

Electoral Studies 25, 2006.

Leyh, Gregory. Hermeneutika Hukum Sejarah, Teori dan Praktik. Bandung:

Nusamendia, 2008.

Lijphart, Arend. Electoral Sistem and Party System; A Study of Tweenty-Seven Democracies 1945-1990. New York; Oxford University Press, 1994.

Linz, Juan J. dan Valenzuela. The Failure of Presidential Democracy: Comparative Perspectives. Baltimore: John Hopkins University Press, 1994.

Linz, Juan J.dan Arturo Valenzuela, ed.. The Failure of Presidential Democracy.

Volume I. Baltimore and London: The Johns Hopkins University Press, 1994..

Parthnership. Menyederhanakan Waktu Penyelenggaraan Pemilu: Pemilu Nasional dan Pemilu Lokal. Jakarta: Parthnership, Juli 2011.

Rahardjo, Satjipto. Ilmu Hukum. Bandung: Citra Aditya Bakti, 2000.

Ria Casmi Arrsa, “Pemilu Serentak dan Masa Depan Konsolidasi Demokrasi”

dalam Jurnal Konstitusi Vol.11 No.3 (Jakarta: Mahkamah Konstitusi, 2014) Rocamora, Joel. Philippine Political Parties, Electoral System and Political Reform,

http://www.philsol.nl/1998.

Paper - Model Pemilu Serentak Scholten, Paul. Struktur Ilmu Hukum (De Structuur Der Rechtswetenchap). Alih

Bahasa Arief Sidharta. Bandung: Alumni, 2005.

Sedelius, Thomas. The Tug-of-War between Presidents and Prime Ministers: Semi Presidentialism in Central and Eastern Europe. Orebro University: Orebro Studies in Political Science 15, 2006.

Soehino. Hukum Tata Negara Perkembangan Pengaturan dan Pelaksanaan Pemilihan Umum di Indonesia (Edisi Pertama). Yogyakarta: BPFE, 2010.

Taagepera, Rain. Predicting Party Sizes: The Logic of Simple Electoral Systems.

New York: Oxford University Press, 2007.

Taiwan Journal of Democracy 10 (1), 2014

Tim Penyusun Naskah Komprehensif Proses dan Hasil Perubahan UUD 1945.

Naskah Komprehensif Perubahan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 Latar Belakang, Proses, dan Hasil Pembahasan, 1999-2002, Buku V Pemilihan Umum. Jakarta: Sekretariat Jenderal dan Kepaniteraan Mahkamah Konstitusi, 2008.

Yanuarti, Sri. Adaptasi Sistem Pemilu Paralel Bagi Indonesia. Jakarta: Pusat Penelitian Politik, 2014

12

Profil Singkat Kedeputian IPSK LIPI

SEJARAH ILMU PENGETAHUAN SOSIAL DAN KEMANUSIAAN

LEMBAGA ILMU PENGETAHUAN INDONESIA (IPSK LIPI)

B

erdasarkan Keputusan Presiden RI, No. 1 Tahun 1986, LIPI adalah Lembaga Pemerintah Non Kementerian yang berada dan bertanggung jawab langsung kepada Presiden dan Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 178 Tahun 2000, LIPI ditetapkan sebagai salah satu dari sekian lembaga pemeritah no kementerian. Kemudian berdasarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 43 Tahun 2011, menetapkan organisasi dan tata kerja Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia.

Dalam menetapkan tata kerja LIPI, telah mempunyai landasan karena dapat merujuk Undang-Undang No. 18 Tahun 2002 tentang Sistem Nasional Penelitian, Pengembangan dan Penerapan Ilmu Pengtahuan dan Teknologi. Kemudian mengalami reorganisasi LIPI pada tahun 1997 dan berakhir tahun 2001, menetapkan organisasi dan tata kerja lembaga.

Penetapan organisasi dan tata kerja yang dimaksud, tertuang pada Surat Keputusan Kepala Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), No. 1151/M/2001, tentang susunan organisasi sebagai berikut:

1. Kepala LIPI 2. Wakil Kepala LIPI 3. Sekretariat Utama

4. Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Kebumian 5. Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Hayati 6. Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Teknik

7. Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Sosial dan Kemanusiaan 8. Inspektorat

9. Pusat Penelitian Perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Berdasarkan Keputusan Kepala Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), No. 1151/M/2001 pada pasal 237 telah ditetapkan susuanan organisasi Kedeputian Bidang Ilmu Pengetahuan Sosial dan Kemanusiaan yang teridir dari:

1. Pusat Penelitian Kemasyarakatan dan Kebudayaan (PMB-LIPI) 2. Pusat Penelitian Ekonomi (P2E-LIPI)

3. Pusat Penelitian Kependudukan (PPK-LIPI) 4. Pusat Penelitian Politik (P2P-LIPI)

5. Pusat Penelitian Sumber Daya Regional (PSDR-LIPI)

Ditetapkan kembali organisasi dan tata kerja berdasarkan Peraturan Kepala Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), No. 1 Tahun 2014, Pasal 5 tentang susunan organisasi sebagai berikut:

1. Kepala

2. Wakil Kepala 3. Sekretariat Utama

4. Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Kebumian 5. Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Hayati 6. Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Teknik

7. Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Sosial dan Kemanusiaan 8. Deputi Bidang Jasa Ilmiah

9. Inspektorat

10. Pusat Penelitian Perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi 11. Pusat Pembinaan, Pendidikan, dan Pelatihan Peneliti

Berdasarkan Peraturan Kepala Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), No. 1 Tahun 2014 pada pasal 275 telah ditetapkan susuanan organisasi Kedeputian Bidang Ilmu Pengetahuan Sosial dan Kemanusiaan yang teridir dari:

1. Pusat Penelitian Kemasyarakatan dan Kebudayaan (P2KK-LIPI) 2. Pusat Penelitian Ekonomi (P2E-LIPI)

3. Pusat Penelitian Kependudukan (P2K-LIPI) 4. Pusat Penelitian Politik (P2P-LIPI)

5. Pusat Penelitian Sumber Daya Regional (P2SDR-LIPI)

Dalam tugasnya IPSK-LIPI adalah melaksanakan perumusan kebijakan di bidang penelitian ilmu pengetahuan sosial dan kemanusian.

14

Profil Singkat Kedeputian IPSK LIPI

Deputi Bidang IPSK-LIPI, Periode 1965-Sekarang 1. Prof. Dr. K.P.H. Koentjaraningrat (1965-1978) 2. Prof. Drs. Harsoyo (1978-1980)

3. Dr. Mochtar Buchori (1980-1990) 4. Dr. E.K.M. Masinambow (1990-1996) 5. Drs. Arjuno Brojonegoro,MSc.(1996-2001) 6. Prof. Dr.Dewi Fortuna Anwar, MA (1997-2010) 7. Prof. Dr Ir. Aswatini (2010-2015)

8. Dr. Tri Nuke Pudjiastuti, M.A. (2016-Sekarang)

VISI DAN MISI

Visi Kedeputian Bidang IPSK merujuk kepada visi nasional dan juga visi LIPI. Visi pembangunan nasional sesuai dengan UU RI Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) Tahun 2005-2025 ialah menuju Indonesia yang mandiri, maju, adil dan makmur. RPJPN ini dibagi menjadi 4 tahap Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) yaitu RPJMN I (2005-2009), RPJMN II (2010-2014), RPJMN III (2015-2019), RPJMN IV (2020-2024).

Sementara itu, visi nasional dalam RPJMN III (2015-2019) berbunyi:

“memantapkan pembangunan secara menyeluruh dengan menekankan pembangunan keunggulan kompetitif perekonomian yang berbasis sumber daya alam yang tersedia, sumber daya manusia yang berkualitas serta kemampuan ilmu pengetahuan dan teknologi.”

Dalam upaya mencapai visi jangka panjang tersebut, dan sejalan dengan Visi Pembangunan 2015-2019, LIPI menetapkan Visi tahun 2015-2019, sebagai berikut:

Menjadi lembaga ilmu pengetahuan berkelas dunia dalam pengembangan dan pemanfaatan ilmu pengetahuan untuk meningkatkan keunggulan kompetitif perekonomian melalui pengelolaan SDA berkelanjutan dan mencerdaskan masyarakat.

Visi tersebut kemudian diadopsi ke dalam visi Kedeputian Bidang IPSK-LIPI sebagai berikut:

Menjadi lembaga penelitian berkelas dunia dalam bidang ilmu pengetahuan sosial dan kemanusiaan untuk meningkatkan kualitas hidup bangsa dan masyarakat global.

Untuk mencapai visi besar tersebut di atas, Kedeputian IPSK - LIPI menyusun tiga visi utama yaitu:

• Menghasilkan temuan-temuan penelitian yang menjadi rujukan pengembangan ilmu sosial dan kemanusiaan.

• Menghasilkan pemikiran dalam bidang sosial dan kemanusiaan yang berkontribusi dalam proses perumusan kebijakan dan pemberdayaan masyarakat.

• Memperkuat peran IPSK sebagai rujukan dan jembatan aktivitas ilmiah dalam bidang sosial dan kemanusiaan pada level nasional dan internasional.

TUPOKSI

Tugas pokok Kedeputian IPSK – LIPI adalah melaksanakan perumusan kebijakan di bidang penelitian ilmu pengetahuan sosial dan kemanusiaan.

Selanjutnya, fungsi Kedeputian IPSK – LIPI adalah sebagai berikut:

1. Perumusan kebijakan, pelaksanaan, pemberian bimbingan dan pembinaan di bidang penelitian ilmu pengetahuan sosial dan kemanusiaan.

2. Pengendalian terhadap pelaksanaan kebijakan di bidang penelitian ilmu pengetahuan sosial dan kemanusiaan.

3. Pelaksanaan tugas-tugas yang berkaitan dengan penelitian sesuai dengan kebijakan yang ditetapkan oleh Kepala Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia.

Berdasarkan fungsi kedeputian bidang IPSK di atas maka setiap satuan kerja di lingkungan kedeputian bidang IPSK-LIPI mempunyai fungsi di bidangnya, sebagai berikut:

1. Mempersiapkan bahan perumusan kebijakan teknis penelitian.

2. Pelayanan jasa Ilmu Pengetahuan dan Teknologi.

3. Tata Usaha.

16

Profil Singkat P2Politik LIPI

PUSAT PENELITIAN POLITIK (P2 Politik) LIPI

Pusat Penelitian Politik, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (P2 Politik-LIPI) adalah sebuah pusat penelitian di bawah Kedeputian Bidang Ilmu Pengetahuan Sosial dan Kemanusian (IPSK LIPI). P2 Politik memiliki tiga kelompok penelitian yang meliputi: kajian politik nasional, politik internasional, dan politik lokal.

P2 Politik secara aktif terlibat dalam kegiatan penelitian dan aktivitas ilmiah lainnya, baik di dalam maupun luar negeri. Dalam menjalankan fungsinya, P2 Politik berkomitmen untuk senantiasa berkontribusi pada pembangunan politik nasional sebagaimana pengembangan pengetahuan tentang isu regional dan internasional.

Sebagai institusi pemerintah, kegiatan penelitian yang dilakukan oleh P2 Politik mencakup kajian ilmiah dan advokasi kebijakan serta juga mendorong pengembangan ilmu sosial terkait konsep dan teori baru dalam ilmu pengetahuan politik, politik perbandingan serta kajian politik kontemporer.

Alamat :

Gedung Widya Graha LIPI, Lt. III & XI

Jl. Jend. Gatot Subroto KAV-10, Jakarta Selatan 12710 - INDONESIA Tlp. / fax : 021 - 520 7118 | Website: www.politik.lipi.go.id

Email: [email protected] Twitter: @PolitikLIPI

Dalam dokumen MODEL PEMILU SERENTAK (Halaman 13-21)

Dokumen terkait