Nuansa kemanusiaan sangat ditekankan pada Ketuhanan Indonesia dalam gagasan John Titaley. Nuansa demikian sejalan dengan penegasannya bahwa ketuhanan Indonesia adalah ketuhanan yang menghormati kemanusiaan.85 Penegasan pada kemanusiaan ini berpulang pada pembacaan John Titaley terhadap Indonesia sebagai proyek kemanusiaan bersama dengan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Oleh karenanya, gagasan ketuhanan yang dibangun parameternya adalah sejauh mana kemanusiaan dihargai dalam gagasan itu. Di sini tidak banyak dipersoalkan bagaimana bentuk ketuhanan Indonesia itu melainkan lebih pada kemanusiaan mendapatkan jaminan atau tidak di dalam diskursus ketuhanan itu untuk memastikan tidak ada yang tereksklusi.86
Gagasan John Titaley penting ketika gagasan ketuhanan dalam konteks kebangsaan masih cenderung kabur. Di awal telah ditegaskan bahwa sampai kini belum ada pemahaman bersama yang utuh dan sistematis tentang ketuhanan itu.
Menjadi wajar jika berkembang wacana yang menegaskan ketuhanan agama tertentu menjadi ketuhanan dalam konteks kebangsaan.87 Meneropong dari sudut pandang John Titaley, sangat jelas pandangan itu tidak tepat. Gagasan ketuhanan kebangsaan berlainan dengan gagasan ketuhanan agama-agama dan tidak dapat dijadikan sebagai ketuhanan kebangsaan, sebab ia hanya mewakili golongan tertentu saja dari pluralitas masyarakat Indonesia.
84 Azis Anwar Fachrudin. Pasca-Putusan MK 2017: Persoalan Penghayat Kepercayaan yang Belum Usai. CRCS UGM, Juli 2, 2019, diakses pada 5 Desember 2021. https://crcs.ugm.ac.id/pasca-putusan-mk-2017-persoalan-penghayat-kepercayaan-yang-belum-usai/
85Wawancana dengan John Titaley pada 30 November 2021
86Dalam hal definisi agama, yang perlu diperhatikan bukan mencari esensi definisi agama tetapi apakah ada yang tereklusi atau tidak dalam definisi agama yang dibuat. Lihat Zainal Abidin Bagir, Agama, 42.
87Satu tokoh yang amat mencolok dalam hal ini adalah Egy Sudjana. Baginya, ketuhanan kebangsaan adalah ketuhanan Islam. Ini sejalan dengan tafsirnya terhadap Ketuhanan Yang Maha Esa hanya sesuai dengan Islam dan Tuhan sebagaimana dimaksudkan di dalam UUD 1945 adalah Allah s.w.t.
28
Menyandingkan dengan ketuhanan dalam agama-agama dapat ditanyakan, apakah Tuhan dalam dalam gagasan ketuhanan Kristen misalnya dapat menjadi Tuhan untuk semua manusia? Menjadi Tuhan bagi Islam, Hindu, Buddha, Konghucu dan yang lainnya? Tampaknya jawaban atas pertanyaan itu sulit dibuat. Jikapun memungkinkan itu merujuk pada keyakinan bahwa Tuhan juga hadir untuk mereka yang berbeda bukan sebaliknya. Mirip seperti Kristen anonim dalam pandangan Karl Rahner yang dipakai oleh orang Kristen untuk menyebut orang beragama di luar Kristen tetapi bukan sebaliknya.88 Oleh karena itu, jika ada gagasan pada tataran kebangsaan maka itu adalah Ketuhanan Indonesia. Dalam konteks gagasan John Titaley, ketuhanan Indonesia itu dipahami ketuhanan yang menghormati kemanusiaan, Tuhan yang dalamnya setiap orang sama dan setara.
Gagasan Ketuhanan Indonesia menjadi bagian penting dari identitas nasional sebagai bangsa. Ia menjadi “milik” bersama manusia Indonesia apapun agamamya.
Akan tetapi sebagaimana disampaikan Zainal Abidin Bagir bahwa tampaknya sulit memiliki suatu identitas nasional bersama yang dipegang atau diakui semua warga.
Jikapun ada, maka itu untuk hal yang bersifat substantif dan umum sedangkan hal-hal yang konkret selalu terbuka ruang dialog. Di sini sangat diperlukan kondisi yang di dalamnya memungkinkan semua orang untuk terlibat dalam memberikan tafsiran atasnya. Dalam konteks ini sangatlah penting keterbukaan yakni keterbukaan untuk diperiksa dan ditafsir ulang, dan di sisi yang lain kompetensi untuk menegosiasikan perbedaan.89
Gagasan Ketuhanan Indonesia perlu diposisikan secara demikian. Ia tidak dapat diberikan pemahaman resmi melainkan sebagai suatu gagasan yang terbuka untuk direfleksikan dan ditafsir ulang. Jika tidak demikian, maka Ketuhanan Indonesia lalu menjadi hegemoni. Tidak jauh berbeda akhirnya dengan apa yang terjadi dengan Pancasila pada masa Orde Baru maupun penerapan definisi agama dalam pengakuan agama. Dalam gagasan John Titaley tampaknya sulit adanya ruang
88Joas Adiprasetya. Mencari Dasar Bersama: Etika Global dalam Kajian Postmodernisme dan Pluralisme Agama. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2002, 72-72.
89Zainal Abidin Bagir, dkk. Pluralisme Kewargaan: Arah Baru Politik Keragaman di Indonesia. Yogyakata: CRCS UGM, 2011. 52-53
29
bagi tafsir resmi gagasan Ketuhanan Indonesia. Hal ini terjadi karena bagi John Titaley Tuhan adalah misterius. Tuhan yang misterius membuat pemahaman manusia adalah interpretasi sehingga selalu ada ruang kosong pemahaman manusia tentang Tuhan. Namun jika perlu ada prinsip umum yang dipegang bersama tentang gagasan ketuhanan Indonesia, maka dalam konteks pandangan John Titaley prinsip itu dapat merujuk pada pemahaman bahwa Ketuhanan Indonesia adalah Ketuhanan yang menghormati kemanusiaan. Diskursus ketuhanan Indonesia tidak keluar dari hal tersebut.
Gagasan John Titaley juga relevan dengan kondisi masyarakat plural yang membutuhkan gagasan keagamaan yang sadar dan memasukan keragaman dalam gagasannya. Agama-agama mempunyai keunikan gagasan ketuhanannya masing-masing yang dipahami dan dipraktikan dalam suatu komunitas. Kadang keunikan itu dibenturkan satu sama lain dengan menekankan kebenarannya di atas yang lain. Itu boleh jadi karena realitas keberagaman kurang mendapatkan tempat dalam komunitas keagamaan itu. Berbeda dengan gagasan ketuhanan dalam agama-agama, gagasan ketuhanan Indonesia dibangun sepenuhnya dengan kesadaran akan keberagaman sejak awal. Dengan begitu gagasan ketuhanan Indonesia mengakomodasi realitas keberagaman itu sehingga tidak ada yang tereksklusi dalam gagasan ketuhanan Indonesia.
Gagasan ketuhanan dapat menjadi landasan utama yang menentukan pelaksanaan hidup seseorang maupun komunitas keagamaan. Ini terjadi karena ada usaha untuk selalu menyesuaikan tindakan-tindakannya dengan sesuatu hal yang diyakininya. Dalam konteks ini, pelaksanaan kehidupan diterangi oleh gagasan ketuhanan itu. Sehubungan dengan itu, maka apa yang disampaikan John Titaley juga dapat memberikan dampak-dampak signifikan bagi pelaksanaan kehidupan di Indonesia khususnya dalam kaitannya dengan pluralitas agama.
Pengaruh paling pertama dari gagasan John Titaley adalah transformasi gagasan ketuhanan di Indonesia. Transformasi sebagaimana dimaksudkan bukan perubahan dengan menggantikan satu hal menjadi hal yang lainnya melainkan terjadi peningkatan kualitas pemahaman terhadap Tuhan. Jika sebelumnya Tuhan dipandang
30
secara tertutup maka dalam pengalaman sebagai orang Indonesia, pengalaman tentang Tuhan yang demikian tidak dapat dipertahankan lagi. Sebab dalam konteks Indonesia yang plural, Tuhan juga memberikan rahmat dan berkat yang sama kepada mereka yang berbeda. Jika sebelumnya Tuhan hanya dipandang “milik” pihak tertentu, mengasihi manusia dengan agama tertentu, maka mengalami transformasi bahwa Tuhan adalah untuk semua pihak. Jika sebelumnya ada pembedaan posisi manusia yang menyebabkan ketidaksetaraan, maka akan terjadi transformasi bahwa di hadapan Tuhan semua manusia adalah sama dan setara. Transformasi gagasan ketuhanan semacam itu dapat terjadi baik secara individual maupun komunitas keagamaan. Dalam konteks agama-agama transformasi itu dapat terjadi pada partikularitas gagasan ketuhanannya yang diuniversalkan mencakup setiap manusia tanpa mengeksklusi mereka yang berbeda.90
Di sisi lain, gagasan ketuhanan Indonesia juga dapat berpengaruh dalam konteks kebijakan. Ketuhanan Indonesia dalam gagasan John Titaley sarat dengan muatan kemanusiaan. Di dalamnya ada penekanan pada kesetaraan kemanusiaan bahwa dalam ketuhanan Indonesia manusia tidak hanya setara di hadapan hukum tetapi juga setara di hadapan Tuhan. Di sisi lain juga tidak ada pembedaan berdasarkan agama tertentu di dalam gagasan ketuhanan itu. Dalam konteks ini, yang lain harus dilihat sebagai saudara. Mereka yang berbeda juga adalah subjek yang menerima rahmat dan berkat yang sama dari Tuhan. Dengan pemahaman yang demikian, tidak tepat jika terjadi berbagai perlakuan dan kebijakan yang diskriminatif berdasarkan agama. Perilaku demikian tidak hanya menciderai hukum tetapi juga mengkhianati Tuhan yang memberikan berkat dan rahmat yang sama kepada semua manusia Indonesia. Pada titik ini, jika negara berlaku diskriminatif, negara telah menerapkan ketidaksetaraan di antara manusia Indonesia padahal di hadapan Tuhan Yang Maha kuasa semuanya berdiri setara.
Perubahan itu dapat dimulai dengan pembersihan berbagai produk hukum yang bersifat diskriminatif dengan mencabut berbagai peraturan sebagaimana telah
90Dalam kekristenan hal ini dilakukan oleh Ebenhaizer Nuban Timo maupun Joas Adiprasetya ketika berbicara tentang Trinitas yang dikaitkan langsung dengan realitas keberagaman agama di Indonesia.
31
disebutkan pada bagian sebelumnya. Selebihnya perlu membuat berbagai produk hukum dalam berbagai bidang yang memungkinkan pluralitas agama itu dialami, disadari dan dirayakan. Perubahan semacam itu tentu tidak dapat secara langsung menyelesaikan persoalan. Tetapi setidaknya dengan perubahan berbagai produk hukum yang diskrimnatif itu mendorong tidak hanya negara (pemerintah) untuk bertindak lebih adil tetapi juga menutup ruang-ruang pemanfaatan oleh masyarakat untuk bertindak sewenang-wenang terhadap sesamanya.
Pengaruh lainnya terkait hubungan antaragama. Hubungan antaragama terjadi dalam usaha untuk hidup bersama dalam keberagaman. Dalam kerangka Ketuhanan Indonesia, keragaman agama tidak hanya harus diterima tetapi harus dijaga. Ia merupakan kekayaan bersama.91 Agama-agama karenanya lalu mengembangkan sikap tanggung jawabnya terhadap agama-agama yang lain. Misalnya bahwa komunitas agama yang lain harus tetap ada. Di sini sangat diperlukan sikap yang oleh John Titaley inklusif-transformatif yang menekankan usaha untuk belajar dari pemahaman dan pengalaman mereka yang berbeda. Inklusif berarti menerima keberadaan yang lain dan transformatif karena dalam interaksi dengan yang lain yang berbeda itu akan melahirkan transformasi pemahaman dalam komunitas masing-masing agama.92 Sebagaimana telah ditegaskan sebelumnya yang lain dapat dipahami sebagai saudara dan ditempatkan dalam posisinya yang sama dan setara sehingga yang lain itu juga merupakan subjek belajar.
Proses belajar bersama itu perlu dilihat bukan hanya antaragama dunia saja sebagaimana umum sampai saat ini dalam perjumpaan antaragama di Indonesia tetapi juga termasuk agama-agama leluhur. Hubungan antaragama yang hanya melibatkan agama-agama dunia seolah-olah menegaskan bahwa entitas keagamaan di Indonesia hanya 6 saja padahal lebih dari itu. Selain agama-agama dunia, Indonesia memiliki/dimiliki juga oleh agama-agama leluhur yang mesti dilibatkan dalam proses-proses belajar bersama. Proses belajar bersama dengan agama-agama leluhur
91Jeffrie A. A. Lempas. Memahami SIla Ketuhanan Yang Maha Esa: Kajian Interpretatif-Historis terhadap Sila Ketuhaan Yang Maha Esa dari Pancasila Dikaitkan dengan Gagasan Ketuhanan Alinea Ketiga Pembukaan UUD 1945. Tesis: Program Pascasarjana Agama dan Masyarakat UKSW, 2001. 114
92John Titaley, Menuju, 29
32
dapat berkontribusi pada hilangnya stigma yang disematkan kepada penganut agama leluhur sebagai penyembah berhala, bukan orang beragama, dan seterusnya., karena perbedaan pemahaman terkhususnya tentang Tuhan. Ada hal yang dapat dipelajari dari agama-agama leluhur yang darinya akan melahirkan transformasi pemahaman dalam komunitas-komunitas keagamaan di Indonesia terutama agama-agama dunia.
Misalnya terkait persoalan ekologi tetapi juga masalah-masalah keagamaan pada umumnya termasuk gagasan ketuhanan.93
5. Penutup
Pengalaman Indonesia dengan masyarakatnya yang plural memunculkan gagasan Ketuhanan Indonesia yang berbeda dengan gagasan ketuhanan pada umumnya terutama dalam agama-agama. Dalam pandangan John Titaley Ketuhanan Indonesia itu adalah ketuhanan yang menghormati kemanusiaan. Bagi John Titaley Tuhan itu misterius sekaligus terlibat di dalam sejarah manusia termasuk dalam sejarah manusia Indonesia yang memperlakukan manusia secara sama dan setara.
Tuhan yang misterius itu membuat pemahaman manusia bersifat interpretatif sehingga tidak mungkin membuat suatu pemahaman resmi yang baku. Pemahaman seperti itu membawa kepada kesadaran akan keterbatasan pemahaman manusia terhadap Tuhan dan pada saat yang sama mengajak manusia Indonesia untuk terbuka satu terhadap yang lainnya dalam rangka belajar bersama sehingga semakin memahami Tuhan dan makna kehadiran mereka di Indonesia.
Gagasan John Titaley tersebut relevan dalam konteks Indonesia dengan pluralitas agama yang membutuhkan gagasan keagamaan yang sadar akan keberagaman dalam bangunan pemikirannya. Gagasan itu juga relevan ketika sampai kini gagasan ketuhanan pada tataran kebangsaan masih belum utuh dan sistematis pemahamannya. Dalam konteks ini, jika ada suatu perspektif ketuhanan kebangsaan maka itu haruslah gagasan Ketuhanan Indonesia. Gagasan Ketuhanan Indonesia itu juga sekaligus memberikan pengaruh bagi kehidupan dalam pluralitas agama di
93Lihat Samsul Maarif. Studi Agama di Indonesia: Refleksi Pengalaman. Yogyakarta: CRCS UGM, 2016, 35-50.
33
Indonesia. Pengaruh tersebut terjadi dalam tiga hal. Pertama, transformasi gagasan ketuhanan di Indonesia baik secara individu maupun dalam komunitas keagamaan.
Kedua, pengaruhnya terhadap kebijakan-kebijakan. Ketiga, pengaruhnya dalam hubungan antaragama di Indonesia.
Ketuhanan Indonesia menjadi penting untuk dikonstruksi gagasannya secara utuh oleh agama-agama di Indonesia. Agama-agama sebagaimana dimaksud tidak hanya agama-agama dunia tetapi juga agama-agama leluhur. Agama-agama yang mempunyai gagasan unik tentang Tuhan memungkinkan untuk berkolaborasi mewujudkan gagasan Ketuhanan Indonesia yang utuh. Konstruksi itu sebagaimana disampaikan John Titaley hendaknya berangkat dari perspektif Indonesia yakni realitas bangsa Indonesia yang plural dengan nilai-nilai idealnya yang terkandung dalam Pembukaan UUD 1945. Di sisi lain, hendaknya gagasan itu juga tidak hanya berfokus pada manusia (kemanusiaan) tetapi juga alam (lingkungan hidup).
Bagaimanapun Indonesia tidak hanya tentang manusia tetapi juga tentang tanah-air.
Lebih jauh, konstruksi gagasan itu sebagaimana ditegaskan John Titaley bahwa Tuhan tetaplah misterius sehingga Tuhan dalam gagasan Ketuhanan Indonesia tidak boleh jatuh pada suatu tafsir resmi. Sebaliknya yang harus dilakukan adalah sikap terbuka dan kesediaan terhadap refleksi serta tafsir ulang secara terus-menerus gagasan ketuhanan itu.
34
Daftar Pustaka
Anonimus. Ringkasan Mengatasi Intoleransi, Merangkul Keberagaman: Kondisi Kebebasan Beragama/Berkeyakinan (KBB) di Indonesia Tahun 2021. Jakarta:
Setara Institute, 2022.
Arif, Syaiful. Pancasila Esa dan Ketuhanan Kita. Kompas, Oktober 21, 2017.
Diakses Agustus 28, 2020,
https://www.kompas.id/baca/opini/2017/10/21/pancasila-esa-dan-ketuhanan-kita/
Azhari, Subhi dan Gamal Ferdhi, Kemajuan Tanpa Penyelesaian Akar Masalah:
Laporan Tahunan Kebebasan Beragama Berkeyakinan Tahun 2019 di Indonesia. Jakarta: Wahid Foundation. 2020.
Armstrong, Karen. Sejarah Tuhan: Kisah 4000 Tahun Pencarian Tuhan dalam Agama-Agama Manusia. Bandung: Mizan, 2000.
_______Masa Depan Tuhan: Sanggahan terhadap Fundamentalisme dan Ateisme.
Bandung: Mizan, 2014.
Adiprasetya, Joas. Mencari Dasar Bersama: Etika Global dalam Kajian Postmodernisme dan Pluralisme Agama. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2002.
_______An Imaginative Glimbs: Trinitas dan Agama-Agama. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2018.
Bagir, Zainal Abidin, dkk. Pluralisme Kewargaan: Arah Baru Politik Keragaman di Indonesia. Yogyakata: CRCS UGM, 2011.
_______Agama dan Kepercayaan. Jurnal Prisma, Vol. 39, no. 1 (2020).
Bahar, Saafroedin, dkk. Risalah Sidang Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI)-Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI). Jakarta: Sekretariat Negara Republik Indonesia, 1995.
Djafar, Alamsyah M. Ringkasan Eksekutif Tawar-Menawar Kebebasan: Satu Dekade Pemantauan Kemerdekaan Beragama Berkeyakinan (KBB) Wahid Foundation.
Jakarta: Wahid Foundation, 2020.
Fachrudin, Azis Anwar. Pasca-Putusan MK 2017: Persoalan Penghayat Kepercayaan yang Belum Usai. CRCS UGM, Juli 2, 2019. Diakses Desember 5, 2021. https://crcs.ugm.ac.id/pasca-putusan-mk-2017-persoalan-penghayat-kepercayaan-yang-belum-usai/
Maula, Haris Fatwa Dinal. Lika-Liku Agama Buddha Meraih Pengakuan. CRCS UGM, Januari 7, 2021. Diakses November 20, 2021 https://crcs.ugm.ac.id/lika-liku-agama-buddha-meraih-pengakuan/
Syaiful, Arif. Konghucu dan Budaya Tionghoa: Pasang Surut Rekognisi. CRCS UGM, Maret 6, 2021. Diakses November 20, 2021,
Guanga, Caprili C. Misiologi Regnosentris Paul Knitter: Sebuah Kritik dan Koreksi.
Jurnal Teologi dan Pelayanan, 5/1 (April 2004): 77-92.
35
Hamersma, Harry. Persoalan Ketuhanan dalam Wacana Filsafat Ketuhanan.
Yogyakarta: Kanisius, 2014.
Hick, John. Tuhan Punya Banyak Nama. Yogyakarta: Interfidei, 2006.
Jacobs, Tom. Paham Allah: Dalam Filsafat, Agama-Agama dan Teologi.
Yokyakarta: Kanisius, 2006.
Kholiludin, Tedi. Agama, Negara dan Hak-Hak Sipil: Analisis terhadap Politik Pengakuan Negara Atas Agama di Indonesia. Tesis: Magister Sosiologi Agama. 2008.
_______Pancasila dan Transformasi Religiusitas Sipil di Indonesia. Disertasi:
Doktor Sosiologi Agama Program Pascasarjana Fakultas Teologi UKSW, 2015.
Kurniawan, Aloysius Budi. Konsep Keesaan Tuhan Menyatukan. Kompas, Januari
30, 2020. Diakses Agustus 28, 2020,
https://www.kompas.id/baca/dikbud/2020/01/30/konsep-keesaan-tuhan-menyatukan/
Latif, Yudi. Negara Paripurna: Historitas, Rasionalitas, dan Aktualitas Pancasila.
Jakarta: Gramedia, 2011.
_______Wawasan Pancasila: Bintang Penuntun Untuk Pembudayaan, Edisi Komprehensif. Bandung: Mizan, 2020.
Lempas, Jeffrie A. A.. Memahami SIla Ketuhanan Yang Maha Esa: Kajian Interpretatif-Historis terhadap Sila Ketuhaan Yang Maha Esa dari Pancasila Dikaitkan dengan Gagasan Ketuhanan Alinea Ketiga Pembukaan UUD 1945.
Tesis: Program Pascasarjana Agama dan Masyarakat UKSW, 2001.
Lukman, Elisabeth. Tinjauan terhadap Kristologi Korelasional Paul F. Knitter dari Perspektif Eksklusivisme. Tesis: Sekolah Tinggi Teologi SAAT, 2014.
Maarif, Samsul. Studi Agama di Indonesia: Refleksi Pengalaman. Yogyakarta: CRCS UGM, 2016
_______Pasang Surut Rekognisi Agama Leluhur dalam Politik Agama di Indonesia.
Yogyakaarta: CRCS UGM. 2018.
Menoh, Gusti A. B. Religiusitas Bangsa sebagai Hasil Penalaran Agama-Agama di Indonesia: Diteropong dari Pespektif Filsafat Politik Jurgen Habermas. Jurnal Studi Agama dan Masyarakat, Vol. II, no. 1 (April 2014): 83-104.
Qurtuby, Sumanto Al. Dekontruksi Teks dan Transformasi Agama. Semarang: Elsa Press, 2020.
Sigit, Kidung Asmara dan Ismail Hasani. Intoleransi Semasa Pandemi: Laporan Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan 2020. Jakarta: Setara Institute, 2021.
Sirry, Mun’im. Polemik Kitab Suci: Tafsir Reformis atas Kritik Al-Qur’an terhadap Agama Lain. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2013
Suseno, Franz Magnis. Menalar Tuhan. Yogyakarta: Kanisius, 2005.
_______Beragama dalam Damai. Dalam ”Agama, Politik Identitas dan Keberpihakan Negara, diedit oleh Jimmy M. I. Sormin, dkk. Jakarta: ICRP, 2020.
Tewuh, Joshua B. Berteologi Dalam Konteks Pra Indonesia & Sesudah Jadi Indonesia, Bahasan Apik dan Cerdas Prof. JT. 2020.
36
Timo, Ebenhaizer I. N. Aku Memahami Yang Aku Imani: Memahami Allah Tritunggal, Roh Kudus dan Karunia-Karunia Roh Secara Bertanggungjawab.
Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2009.
_______Allah Menahan Diri, Tetapi Pantang Berdiam Diri: Suatu Upaya Berdogmatika Kontekstual di Indonesia. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2015.
Titaley, John A. Nilai-Nilai Dasar Yang Terkandung Dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945. Salatiga: Fakultas Teologi UKSW, 1999.
_______Menuju Teologi Agama-Agama yang Kontekstual. Salatiga: UKSW, 2001.
_______Religiositas di Alinea Tiga: Pluralisme, Nasionalisme dan Transformasi Agama-Agama. Salatiga: UKSW, 2013.
_______Agama dan Ajaran tentang Tuhan. Dalam Buku Ajar Agama, diedit oleh Mariska Lauterboom, dkk, 15-33. Salatiga: UKSW, 2015.
_______Berada Dari Ada Walau Tak Ada: Indonesia Sebagai Konteks Kehidupan Beragama. Semarang: eLSA, 2020.
Yewangoe, A. A. Allah Mengizinkan Manusia Mengalami Diri-Nya: Pengalaman dengan Allah dalam Konteks Indonesia yang Berpancasila. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2018.
Yusuf, Muri. Metode Penelitian: Kuantitatif, Kualitatif dan Penelitian Gabungan.
Jakarta: Kencana, 2014.
Zed, Mestika. Metode penelitian Kepustakaan. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2004.