• Tidak ada hasil yang ditemukan

7.5 Rencana Pengembangan Fasilitas Umum

7.5.1 Rencana Pengembangan Fasilitas Pendidikan

Perencanaan sarana pendidikan harus didasarkan pada tujuan pendidikan yang akan dicapai, dimana sarana pendidikan dan pembelajaran ini akan menyediakan ruang belajar harus memungkinkan siswa untuk dapat mengembangkan pengetahuan, keterampilan, serta sikap secara optimal. Oleh karena itu dalam merencanakan sarana pendidikan harus memperhatikan :

1. Berapa jumlah anak yang memerlukan fasilitas ini pada area perencanaan

2. Optimasi daya tampung dengan satu shift;

3. Effisiensi dan efektifitas kemungkinan pemakaian ruang belajar secara terpadu; 4. Pemakaian sarana dan prasarana pendukung;

5. Keserasian dan keselarasan dengan konteks setempat terutama dengan berbagai jenis sarana lingkungan lainnya.

Adapun penggolongan jenis sarana pendidikan dan pembelajaran ini meliputi: 1. Taman kanak-kanak (TK), yang merupakan penyelenggaraan kegiatan belajar

dan mengajar pada tingkatan pra belajar dengan lebih menekankan pada kegiatan bermain, yaitu 75%, selebihnya bersifat pengenalan

2. Sekolah dasar (SD), yang merupakan bentuk satuan pendidikan dasar yang menyelenggarakan program enam tahun

3. Sekolah lanjutan tingkat pertama (SLTP), yang merupakan bentuk satuan pendidikan dasar yang menyelenggarakan proram tiga tahun sesudah sekolah dasar (SD)

Hal VII-25 4. Sekolah menengah umum (SMU), yang merupakan satuan pendidikan yang menyelenggarakan program pendidikan menengah mengutamakan perluasan pengetahuan dan peningkatan keterampilan siswa untuk melanjutkan pendidikan kejenjang pendidikan tinggi

5. Sarana pembelajaran lain yang dapat berupa taman bacaan ataupun perpustakaan umum lingkungan, yang dibutuhkan di suatu lingkungan perumahan sebagai sarana untuk meningkatkan minat membaca, menambah ilmu pengetahuan, rekreasi serta sarana penunjang pendidikan.

Sarana pendidikan di Kota Tidore Kepulauan terdiri dari jenjang pendidikan TK, SD, SMP, SMU dan Perguruan Tinggi. Berdasarkan perbandingan jumlah sarana pendidikan eksisting dan hasil proyeksi untuk tahun 2030, maka dapat diketahui bahwa sarana pendidikan TK di Kota Tidore Kepulauan masih kurang untuk mencukupi kebutuhan pendidikan taman kanak-kanak. Sarana pendidikan TK saat ini dirasa perlu karena sebagai pendidikan pengantar sebelum pendidikan dasar. Pada jenjang pendidikan ini telah diajarkan pengenalan huruf dan menulis sehingga dapat merintis pengurangan buta huruf.

Tabel 7. 7 Jumlah Sarana Pendidikan TK Eksisting dan Kebutuhan Tahun 2030

No Kecamatan Standar

Jumlah Fasilitas TK (Unit)

Kebutuhan Luas (m2) Kondisi Eksisting 2030 1 Tidore Jumlah penduduk pendukung minimal 1.250 jiwa. Luas lahan minimal 500 m2. 12 24 kurang 12.250

2 Tidore Selatan 4 20 kurang 10.002

3 Tidore Utara 9 18 kurang 9.208

4 Tidore Timur 5 9 kurang 4.498

5 Oba 10 12 kurang 5.902

6 Oba Utara 16 24 kurang 11.792

7 Oba Selatan 2 6 kurang 2.936

8 Oba Tengah 7 kurang 3.557

Kota Tidore Kepulauan 54 120 kurang 60.144

Sumber: Hasil Analisis Studio

Kebutuhan sarana pendidikan tingkat dasar (SD) di Kota Tidore Kepulauan pada tahun 2030 masih belum mencukupi. Terutama untuk wilayah Kecamatan Tidore dan Tidore Selatan.

Hal VII-26 Tabel 7. 8 Jumlah Sarana Pendidikan SD Eksisting dan Kebutuhan Tahun 2030

No Kecamatan Standar

Jumlah Fasilitas SD (Unit)

Kebutuhan Luas (m2) Kondisi Eksisting 2030 1 Tidore Jumlah penduduk pendukung minimal 1.600 jiwa. Luas lahan minimal 2.000 m2. 15 19 kurang 38,281

2 Tidore Selatan 11 16 kurang 31,256

3 Tidore Utara 15 14 lebih 28,776

4 Tidore Timur 7 7 cukup 14,055

5 Oba 14 9 lebih 18,444

6 Oba Utara 18 18 cukup 36,850

7 Oba Selatan 7 5 lebih 9,174

8 Oba Tengah 12 6 lebih 11,115

Kota Tidore Kepulauan 99 94 lebih 187,951

Sumber: Hasil Analisis Studio

Kebutuhan sarana pendidikan tingkat dasar (SD) di Kota Tidore Kepulauan pada tahun 2030 masih belum mencukupi. Terutama untuk wilayah Kecamatan Tidore, Tidore Selatan dan Tidore Timur.

Tabel 7. 9 Jumlah Sarana Pendidikan SMP Eksisting dan Kebutuhan Tahun 2030

No Kecamatan Standar

Jumlah Fasilitas SMP (Unit)

Kebutuhan Luas (m2) Kondisi Eksisting 2030 1 Tidore Jumlah penduduk pendukung minimal 4.800 jiwa. Luas lahan minimal 9.000 m2. 3 6 kurang 57,421

2 Tidore Selatan 2 5 kurang 46,884

3 Tidore Utara 5 5 cukup 43,164

4 Tidore Timur 1 2 kurang 21,083

5 Oba 7 3 lebih 27,665

6 Oba Utara 6 6 cukup 55,275

7 Oba Selatan 2 2 cukup 13,761

8 Oba Tengah 3 2 lebih 16,672

Kota Tidore Kepulauan 29 31 lebih 281,926

Sumber: Hasil Analisis Studio

Berdasarkan proyeksi penduduk untuk tahun tahun perencanaan 2030, maka diperkirakan jumlah fasilitas pendidikan SMA saat ini kurang mencukupi kebutuhan. Kecamatan Tidore, Tidore Selatan, Tidore Utara dan Oba Selatan masih membutuhkan fasilitas pendidikan pada tahun perencanaan.

Hal VII-27 Tabel 7. 10 Jumlah Kebutuhan Sarana Pendidikan SMA Eksisting dan Tahun 2030

No Kecamatan Standar

Jumlah Fasilitas SMA (Unit)

Kebutuhan Luas (m2) Kondisi Eksisting 2030 1 Tidore Jumlah penduduk pendukung minimal 4.800 jiwa. Luas lahan minimal 12.500 m2. 5 6 kurang 79.752

2 Tidore Selatan 2 5 kurang 65.117

3 Tidore Utara 2 5 kurang 59.950

4 Tidore Timur 2 2 cukup 29.282

5 Oba 3 3 cukup 38.424

6 Oba Utara 6 6 cukup 76.771

7 Oba Selatan 2 kurang 19.113

8 Oba Tengah 2 2 cukup 23.155

Kota Tidore Kepulauan 22 31 lebih 391.564

Sumber: Hasil Analisis Studio

Fasilitas pendidikan lainnya adalah ketersediaan taman bacaan. Keberadaan fasilitas taman bacaan ditujukan untuk memberikan kemudahan kepada masyarakat pada sumber informasi khususnya buku. Diperkirakan jumlah fasilitas taman bacaan yang dibutuhkan pada tahun 2030 sebanyak 60 unit. Fasilitas pendidikan tingkat tinggi atau perguruan tinggi telah tersedia di Kecamatan Tidore sebanyak 3 unit yaitu: STMIK, PG SD, dan Universitas Nuku.

Tabel 7. 11 Jumlah Kebutuhan Sarana Pendidikan Taman Bacaan Tahun 2030

No Kecamatan Standar Jumlah Fasilitas Taman Bacaan th 2030 Luas (m2) 1 Tidore Jumlah penduduk pendukung minimal 2.500 jiwa. Luas lahan minimal 150 m2. 12 1,837 2 Tidore Selatan 10 1,500 3 Tidore Utara 9 1,381 4 Tidore Timur 4 675 5 Oba 6 885 6 Oba Utara 12 1,769 7 Oba Selatan 3 440 8 Oba Tengah 4 533

Kota Tidore Kepulauan 60 9,022

Sumber: Hasil Analisis Studio

Hal VII-28 1. Peningkatan dan perbaikan bangunan sekolah dan perguruan tinggi yang telah ada pada saat ini. Serta peningkatan fasilitas pembelajaran di sekolah-sekolah menyangkut ketersediaan laboratorium dan perpusatakaan.

2. Mendirikan sekolah baru dibeberapa titik untuk daerah yang belum terlayani di wilayah perencanaan.

3. Untuk pulau-pulau kecil di Kota Tidore Kepulauan yang terdapat permukiman seperti pulau Mare dan pulau Maitara setidakknya terdapat 1 (satu) sarana pendidikan untuk setiap tingakatan (TK, SD, SLTP dan Taman bacaan).

4. Menyediakan sekolah menengah kejuruan berdasarkan potensi wilayah pengembangan. Ketersediaan fasilitas SMK di Kota Tidore Kepulauan dapat dilihat pada tabel dibawah ini:

Tabel 7. 12 3 Arahan Rencana Ketersediaan Fasilitas SMK di Kota Tidore Kepulauan

Lokasi SMK yang Dibutuhkan

Tidore dan Tidore Selatan SMK dengan pembagian program studi: 1. Pariwisata dan perhotelan 2. Manajemen perkantoran 3. Home Industri

4. Perikanan 5. Perkapalan

Tidore Utara dan Tidore Timur SMK dengan pembagian program studi: 1. Pariwisata dan perhotelan 2. Manajemen perkantoran 3. Pertanian

4. Perikanan

Oba Utara SMK dengan pembagian program studi:

1. Pariwisata dan perhotelan 2. Manajemen perkantoran 3. Industri Agro

4. Perkebunan 5. Perkapalan

Oba Tengah SMK dengan pembagian program studi:

1. Industri Agro 2. Perkebunan 3. Perkapalan 4. Pertambangan

Oba SMK dengan pembagian program studi:

1. Industri Agro 2. Pertanian 3. Perkebunan 4. Perikanan 5. Perkapalan

Hal VII-29 Lokasi SMK yang Dibutuhkan

1. Pertanian 2. Peternakan 3. Perkebunan 4. Perikanan

5. Mendirikan taman bacaan umum di tengah-tengah permukiman masyarakat untuk memberikan akses ilmu pengetahuan dan informasi melalui buku. 6. KDB bangunan sebesar 60% dengan 40% digunakan untuk lapangan olah

raga, taman, dan area parkir.

Hal VII-30

Hal VII-31

7.5.2 Rencana Pengembangan Fasilitas Kesehatan

Sarana kesehatan berfungsi memberikan pelayanan kesehatan kesehatan kepada masyarakat, memiliki peran yang sangat strategis dalam mempercepat peningkatan derajat kesehatan masyarakat sekaligus untuk mengendalikan pertumbuhan penduduk. Dasar penyediaan sarana ini adalah didasarkan jumlah penduduk yang dilayani oleh sarana tersebut. Dasar penyediaan ini juga akan mempertimbangkan pendekatan desain keruangan unit-unit atau kelompok lingkungan yang ada. Tentunya hal ini dapat terkait dengan bentukan grup bangunan/blok yang nantinya terbentuk sesuai konteks lingkungannya. Sedangkan penempatan penyediaan fasilitas ini akan mempertimbangkan jangkauan radius area layanan terkait dengan kebutuhan dasar sarana yang harus dipenuhi untuk melayani pada area tertentu.

Beberapa jenis sarana yang dibutuhkan adalah a. Rumah sakit

b. Posyandu yang berfungsi memberikan pelayanan kesehatan untuk anak-anak usia balita

c. Balai pengobatan warga yang berfungsi memberikan pelayanan kepada penduduk dalam bidang kesehatan dengan titik berat terletak pada penyembuhan (currative) tanpa perawatan, berobat dan pada waktu-waktu tertentu juga untuk vaksinasi

d. Balai kesejahteraan ibu dan anak (BKIA) / Klinik Bersalin), yang berfungsi melayani ibu baik sebelum, pada saat dan sesudah melahirkan serta melayani anak usia sampai dengan 6 tahun

e. Puskesmas dan balai pengobatan, yang berfungsi sebagai sarana pelayanan kesehatan tingkat pertama yang memberikan pelayanan kepada penduduk dalam penyembuhan penyakit, selain melaksanakan program pemeliharaan kesehatan dan pencegahan penyakit di wilayah kerjanya

f. Puskesmas pembantu dan balai pengobatan, yang berfungsi sebagai unit pelayanan kesehatan sederhana yang memberikan pelayanan kesehatan terbatas dan membantu pelaksanaan kegiatan puskesmas dalam lingkup wilayah yang lebih kecil

g. Tempat praktek dokter, merupakan salah satu sarana yang memberikan pelayanan kesehatan secara individual dan lebih dititikberatkan pada usaha penyembuhan tanpa perawatan

Hal VII-32 h. Apotik, berfungsi untuk melayani penduduk dalam pengadaan obat-obatan, baik

untuk penyembuhan maupun pencegahan.

Tabel 7. 13 Kondisi Eksisting Sarana Kesehatan dan Rencana Kebutuhan Tahun 2030

No. Kecamatan Jenis Sarana Jumlah Sarana (unit) Luas Eksisting 2030

1 Tidore Rumah Sakit Umum Tipe C 1 1 86400 (*

BKIA dan Rumah Bersalin 1 3000

Tempat praktek dokter 1 6

Puskesmas 1 1 1000

Puskesmas Pembantu 2 2 600

Balai Pengobatan 2 12 3600

Apotek 1 250

2 Tidore Selatan Tempat praktek dokter 1 5

Puskesmas rawat inap 1 1 1000

Puskesmas Pembantu 3 2 600

Balai Pengobatan 2 10 3000

Apotek 1 250

3 Tidore Utara BKIA dan Rumah Bersalin 1 3000

Tempat praktek dokter 5

Puskesmas rawat inap 1 1 1000

Puskesmas Pembantu 5 2 600

Balai Pengobatan 5 9 2700

Apotek 1 250

4 Tidore Timur Tempat praktek dokter 2

Puskesmas 1 1000

Puskesmas Pembantu 3 2 600

Balai Pengobatan 3 4 1200

Apotek 1 250

5 Sofifi dan Oba Utara Rumah Sakit Umum Tipe B 1 86400 (*

BKIA dan Rumah Bersalin 1 3000

Tempat praktek dokter 6

Puskesmas rawat inap 1 1 1000

Puskesmas Pembantu 5 8 2400

Balai Pengobatan 5 8 2400

Apotek 1 250

6 Oba Tengah Tempat praktek dokter 2

Puskesmas rawat inap 1 1 1000

Puskesmas Pembantu 4 6 1800

Balai Pengobatan 5 4 1200

Hal VII-33 No. Kecamatan Jenis Sarana Jumlah Sarana (unit) Luas

Eksisting 2030

7 Oba Rumah sakit Tipe D 1 3000

BKIA dan Rumah Bersalin 1 3000

Tempat praktek dokter 3

Puskesmas rawat inap 1 1 1000

Puskesmas Pembantu 5 8 2400

Balai Pengobatan 3 6 1800

Apotek 1 250

8 Oba Selatan Tempat praktek dokter 1

Puskesmas 1 1 1000

Puskesmas Pembantu 2 4 1200

Balai Pengobatan 4 3 900

Apotek 1 250

Sumber: Hasil Analisis Studio

Keterangan: Perhitungan kebutuhan berdasarkan SNI 03 – 1733 – 2004, (* berdasarkan Buku Teknik Analisis Regional)

Status Tidore yang telah ditetapkan oleh RUTR Provinsi sebagai PKW dan status Kota Sofifi sebagai PKLW dan ibukota Provinsi Maluku Utara membutuhkan fasilitas yang dapat melayani secara regional. Sehingga rencana pemenuhan kebutuhan fasilitas kesehatan di Kota Tidore Kepulauan dengan :

1. Mendirikan rumah sakit umum tipe B dengan skala layanan provinsi di Kota Sofifi dan mendirikan rumah sakit tipe D di Payahe untuk jangkauan layanan wilayah Tidore bagian Selatan (Oba dan Oba Selatan).

2. Peningkatan dan perbaikan bangunan fasilitas kesehatan yang telah ada untuk skala layanan Kota Tidore Kepulauan terutama yang terletak di pusat kota. 3. Menambah fasilitas puskesmas pembantu di wilayah Tidore bagian Pulau

Halmahera untuk memaksimalkan pelayanan kesehatan. Penambahan ini mempertimbangkan lokasi yang luas dengan persebaran permukiman yang mengelompok dibeberapa tempat.

4. Menambah fasilitas BKIA atau rumah bersalin di pusat kegiatan terutama di Tidore (Soasio), Tidore Utara (Rum), Kota Sofifi, Oba (Payahe). Pembangunan sarana kesehatan BKIA bertujuan untuk meningkatkan akses kesehatan bagi ibu dan anak.

Hal VII-34 5. Penambahan fasilitas kesehatan seperti praktek dokter, apotek dan lainya yang dapat disediakan oleh masyarakat diserahkan pada masyarakat dan diarahkan pada pusat-pusat kegiatan lainnya.

6. Di setiap satuan permukiman diharuskan terdapat pos pelayanan terpadu (Posyandu). Dengan standar pelayanan posyandu yang melayani 1.250 jiwa, maka di Kota Tidore Kepulauan dibutuhkan posyandu sebanyak 112 unit posyandu. Lokasi yang dipakai untuk posyandu dapat dilakukan di balai warga atau rumah warga.

7. Untuk pulau-pulau kecil di Kota Tidore Kepulauan yang terdapat permukiman seperti Pulau Mare dan Pulau Maitara setidaknya terdapat 1 (satu) sarana kesehatan untuk fasilitas posyandu untuk balita dan lansia, puskesmas pembantu.

8. Setiap fasilitas kesehatan mempunyai kepadatan bangunan (BCR) 60% dan 40% untuk parkir dan lahan terbuka hijau.

Hal VII-35

Hal VII-36

7.5.3 Rencana Pengembangan Fasilitas Peribadatan

Sarana peribadatan merupakan sarana kebutuhan kerohanian sehingga perlu disediakan di lingkungan perumahan yang direncanakan selain sesuai peraturan yang ditetapkan juga sesuai dengan keputusan masyarakat yang bersangkutan. Oleh karena berbagai macam agama dan kepercayaan yang dianut oleh masyarakat penghuni yang bersangkutan, maka kepastian tentang jenis dan jumlah fasilitas peribadatan yang akan dibangun baru dapat dipastikan setelah lingkungan perumahan dihuni selama beberapa waktu. Pendekatan perencanaan yang diatur adalah dengan memperkirakan populasi dan jenis agama serta kepercayaan dan kemudian merencanakan alokasi tanah dan lokasi bangunan peribadatan sesuai dengan tuntutan planologis dan religius.

Dasar penyediaan ini juga akan mempertimbangkan pendekatan desain keruangan unit-unit atau kelompok lingkungan yang ada. Hal ini dapat terkait dengan bentukan grup bangunan / blok yang nantinya lahir sesuai konteks lingkungannya. Penempatan penyediaan fasilitas ini akan mempertimbangkan jangkauan radius area layanan terkait dengan kebutuhan dasar sarana yang harus dipenuhi untuk melayani area tertentu.

Jenis sarana peribadatan sangat tergantung pada kondisi setempat dengan memperhatikan struktur penduduk menurut agama yang dianut, dan tata cara atau pola masyarakat setempat dalam menjalankan ibadah agamanya. Saat ini, fasilitas sarana ibadah umat Islam sudah terpenuhi, sedangkan fasilitas umat Kristiani lebih banyak tersedia di Kecamatan Oba dan Oba Utara.

Adapun jenis sarana ibadah untuk agama Islam, direncanakan sebagai berikut: 1. Kelompok penduduk 250 jiwa, diperlukan musholla/langgar

2. Kelompok penduduk 2.500 jiwa, disediakan masjid 3. Kelompok penduduk 30.000 jiwa, disediakan masjid desa

4. Kelompok penduduk 120.000 jiwa, disediakan masjid kecamatan (mengacu pada SNI 03-1733-2004)

Untuk sarana ibadah agama lain, direncanakan sebagai berikut: 1. Katolik mengikuti ketentuan paroki

2. Hindu mengikuti adat

3. Budha dan Kristen Protestan mengikuti sistem kekerabatan atau hierarki lembaga.

Hal VII-37 Sehingga gambaran kebutuhan fasilitas peribadatan agama Islam pada tahun rencana 2030 adalah:

Tabel 7. 14 Rencana Kebutuhan Fasilitas Peribadatan Tahun 2030

no Kecamatan Standar

Kebutuhan Fasilitas Peribadatan Mushola Masjid Warga Masjid Desa 1 Tidore Penduduk penunjang Mushola = 250 Jiwa; Masjid Warga = 2500 jiwa; Masjid Desa = 30.000 jiwa

122 12 1 2 Tidore Selatan 100 10 1 3 Tidore Utara 92 9 1 4 Tidore Timur 45 4 0 5 Oba 59 6 0 6 Oba Utara 118 12 1 7 Oba Selatan 29 3 0 8 Oba Tengah 36 4 0

Kota Tidore Kepulauan 601 60 5

Sumber: Hasil Analisis Studio

Keterangan: Standar berdasarkan SNI 03-1733-2004

Dalam hal pemenuhan kebutuhan sarana peribadatan, rencana pembangunannya antara lain:

1. Pembangunan fasilitas peribadatan skala layanan Kota Sofifi yang terletak di pusat kota.

2. Pembangunan fasilitas peribadatan skala layanan kecamatan seperti Masjid Agung di pusat kegiatan baru Payahe dengan lokasi dapat berdekatan dengan kantor kecamatan.

3. Penambahan sarana peribadatan diserahkan kepada kesepakatan masyarakat dengan syarat pembangunan mengikuti IMB dan ketentuan bangunan tahan gempa.

4. Membantu masyarakat dengan diberikannya pedoman standar pembangunan bangunan peribadatan.

5. Dalam satu tempat peribadatan harus mempunyai 40% lapangan terbuka hijau dan parkir.

6. Untuk sarana ibadah agama Islam dan Kristen Protestan dan Katolik, kebutuhan ruang dihitung dengan dasar perencanaan 1,2 m²/jemaah, termasuk ruang ibadah, ruang pelayanan dan sirkulasi pergerakan. Sedangkan tempat ibadah agama lain disesuaikan berdasarkan kebiasaan masyarakat setempat dalam melakukan ibadah agamanya.

Hal VII-38

Hal VII-39

7.5.4 Rencana Pengembangan Fasilitas Pemerintahan dan