• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

4.4 Rendemen Simplisia dan Ekstrak

Hasil penyarian 600 g serbuk simplisia daun sirih dengan menggunakan pelarut etanol 96%. Maserat diuapkan dengan alat rotary evaporator, dikeringkan kembali dengan penangas air dan ditimbang. Ekstrak kental diperoleh sebanyak 138,39 g. Ekstrak ini kemudian digunakan untuk pemeriksaan uji golongan

senyawa kimia dan uji aktivitas antibakteri terhadap bakteri Staphylococcus aureus dan Escherichia coli.

4.5 Pemeriksaan Uji Aktivitas Antibakteri Ekstrak Etanol Daun Sirih Terhadap Bakteri Staphylococcus aureus dan Escherichia coli

Hasil uji aktivitas antibakteri ekstrak etanol daun sirih terhadap bakteri Staphylococcus aureus dan Escherichia coli dapat dilihat pada Tabel 4.3.

Tabel 4.3 Hasil uji aktivitas antibakteri ekstrak etanol daun terhadap bakteri Staphylococcus aureus dan Eschericia coli

No Konsentrasi Ekstrak

16 8 - 7.22

17 7 - -

18 6 - -

19 5 - -

20 4 - -

21 3 - -

22 2 - -

23 1 - -

24 Blanko - -

Pada Tabel 4.3, dalam pengujian ekstrak etanol daun sirih dapat memberikan kemampuan menghambat pertumbuhan bakteri yang efektif.

Menurut Depkes (1995), diameter daerah hambat antibakteri yang paling efektif terhadap uji antibakteri adalah 14 - 16 mm.

Hasil uji aktivitas antibakteri menunjukkan bahwa ekstrak etanol daun sirih dapat menghambat pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus pada konsentrasi 100 mg/mL dengan diameter zona hambat 14,4 mm dan bakteri Escherichia coli pada konsentrasi 100 mg/mL dengan diameter zona hambat sebesar 14,03 mm. Aktivitas suatu zat antimikroba dalam menghambat pertumbuhan atau membunuh mikroorganisme tergantung pada konsentrasi antimikroba tersebut. Nilai konsentrasi hambat minimum (KHM) pada ektrak etanol daun sirih terhadap bakteri Staphylococcus aureus pada konsentrasi 9 mg/mL dengan diameter zona hambat 6,23 mm dan pada bakteri Escherichia coli pada konsentrasi 8 mg/mL dengan diameter zona hambat 7,22 mm.

Penentuan aktivitas antibakteri ekstrak etanol daun sirih dilakukan dengan metode difusi agar. Prinsip metode ini adalah menggunakan media padat dan

cakram kertas, kemudian daya hambat pertumbuhan bakteri ditentukan dengan cara mengukur diameter zona hambat pertumbuhan bakteri. Zona hambat pertumbuhan mikroba adalah daerah jernih disekeliling cakram kertas.

Pengukuran zona hambat pertumbuhan bakteri dapat dilakukan dengan menggunakan jangka sorong, semakin tinggi konsentrasi ekstrak akan menghasilkan diameter zona hambat yang lebih besar karena semakin banyak zat aktif yang terkandung dalam ekstrak tersebut (Dwidjoseputro, 1998).

Daun sirih (Piper betle) memiliki potensi sebagai antibakteri yaitu dengan adanya senyawa-senyawa flavonoida, saponin, tanin yang mempunyai potensi sebagai antibakteri (Robbinson, 1995). Senyawa flavonoida berungsi sebagai antibakteri dengan cara membentuk senyawa kompleks terhadap protein ekstraselluler yang mengganggu intergritas membran sel bakteri (Cowan, 1999).

Saponin termasuk dalam kelempok antibakteri yang mengganggu permeabilitas membran sel bakteri, yang mengakibatkan kerusakan membran sel dan menyebabkan keluarnya berbagai komponen penting dari dalam sel bakteri yaitu protein, asam nukleat dan nukleotida (Ganiswarna, 1995). Tanin merupakan senyawa metabolit sekunder pada tanaman yang bersifat sebagai antibakteri, memiliki kemampuan menyamak kulit dan juga dikenal sebagai adstrigensia (Robinson, 1995)

4.6 Pemeriksaan Uji Aktivitas Antibakteri Amoksisilin Terhadap Bakteri Staphylococcus aureus dan Escherichia coli

Aktivitas antibakteri amoksisilin terhadap Staphylococcus aureus dan Escherichia coli dilakukan dengan metode difusi agar. Aktivitas antibakteri ditentukan dengan berdasarkan diameter zona hambat yang dihasilkan oleh

sediaan uji yang berdifusi pada pencadang kertas berdiameter 6 mm yang diletakkan dalam cawan petri yang telah terlebih dahulu dimasukkan inokulum bakteri uji dan media agar.

Hasil uji aktivitas antibakteri amoksisilin terhadap bakteri Staphylococcus aureus dan Escherichia coli dapat dilihat pada Tabel 4.4.

Tabel 4.4 Hasil uji aktivitas antibakteri amoksisilin terhadap bakteri Staphylococcus aureus dan Eschericia coli

No

Konsentrasi Amoksisilin µg/mL

Diameter Zona Hambat Pertumbuhan Bakteri (mm)*

Eschericia coli Staphylococcus aureus

D* D*

18 10 9.25 7.05

19 9 8.35 -

20 8 7.67 -

21 7 7.60 -

22 6 7.42 -

23 5 6.83 -

24 4 - -

25 3 - -

26 2 - -

27 1 - -

28 Blanko - -

Pada Tabel 4.4, dalam pengujian amoksisilin dapat memberikan kemampuan menghambat pertumbuhan bakteri yang efektif. Hasil uji aktivitas antibakteri menunjukkan bahwa amoksisilin dapat menghambat pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus pada konsentrasi 1.000 µg/mL dengan diameter zona hambat 14,43 mm dan bakteri Escherichia coli pada konsentrasi 1.500 µg/mL dengan diameter zona hambat sebesar 14,08 mm.

Nilai konsentrasi hambat minimum (KHM) pada ektrak etanol daun sirih terhadap bakteri Staphylococcus aureus pada konsentrasi 10 µg/mL dengan diameter zona hambat 7,05 mm dan pada bakteri Escherichia coli pada konsentrasi 5 µg/mL dengan diameter zona hambat 6,83 mm.

4.7 Efek Kombinasi Aktivitas Antibakteri Antara Ekstrak Etanol Daun Sirih dengan Amoksisilin terhadap Bakteri Staphylococcus aureus.

Setelah dilakukan uji aktivitas antibakteri pada masing masing sampel uji dari ekstrak etanol daun sirih dan amoksisilin terhadap bakteri Staphylococcus

aureus dan Escherichia coli kemudian dilakukan kombinasi diantara keduanya dan dilakukan kembali uji aktivitas antibakteri. Parameter yang digunakan untuk melakukan kombinasi adalah nilai KHM, dimana pada uji aktivitas antibakteri ekstrak etanol daun sirih terhadap Staphylococcus aureus memiliki nilai KHM pada konsentrasi 9 mg/mL yaitu 6,23 mm dan nilai KHM ekstrak etanol daun sirih terhadap Escherichia coli terdapat pada konsentrasi 8 mg/mL yaitu 7,22 mm, sedangkan pada uji aktivitas antibakteri amoksisilin nilai KHM terhadap bakteri Staphylococcus aureus yang didapat adalah pada konsentrasi 10 µg/mL dengan diameter zona hambat 7,05 mm dan pada bakteri Escherichia coli diameter zona hambat 6,83 mm pada konsentrasi 5 µg/mL.

Data hasil uji aktivitas anti bakteri ekstrak etanol daun sirih kombinasi dengan amoksisilin terhadap bakteri Staphylococcus aureus dan Escherichia coli dapat dilihat pada Tabel 4.5 dan Gambar 4.1, 4.

Tabel 4.5 Hasil uji aktivitas anti bakteri ekstrak etanol daun sirih kombinasi dengan amoksisilin terhadap bakteri Staphylococcus aureus

No

0

Gambar 4.1 Hasil uji aktivitas kombinasi antibakteri ekstrak etanol daun sirih dengan amoksisilin terhadap bakteri Staphylococcus aureus Keterangan : A : 2 mg/mL + 10 µg/mL

Gambar 4.2 Grafik perbandingan uji aktivitas antibakteri kombinasi ekstrak etanol daun sirih dengan KHM amoksisilin terhadap bakteri Staphylococcus aureus.

Gambar 4.3 Hasil uji aktivitas antibakteri amoksisilin kombinasi dengan ekstrak etanol daun sirih terhadap bakteri staphylococcus aureus.

Keterangan: A : 2 µg/mL + 9 mg/mL

Gambar 4.4 Grafik perbandingan uji aktivitas antibakteri kombinasi dari KHM ekstrak etanol daun sirih dengan amoksisilin terhadap bakteri Staphylococcus aureus.

Berdasarkan hasil Tabel 4.5, dilakukan pengujian aktivitas antibakteri amoksisilin dikombinasi dengan ekstrak etanol daun sirih terhadap bakteri Staphylococcus aureus dengan memvariasikan konsentrasi amoksisilin yaitu 2; 4;

0

6; 8; 10 µg/mL dengan KHM ekstrak etanol daun sirih yaitu 9 mg/mL dan sebaliknya dilakukan pengujian aktivitas antibakteri dengan memvariasikan konsentrasi dari ekstrak etanol daun sirih yaitu 2; 4; 6; 8; 10 mg/mL dengan KHM amoksisilin yaitu 10 mg/mL.

Berdasarkan hasil Tabel 4.5, pada saat dilakukan kombinasi antara variasi konsentrasi amoksisilin dengan KHM ekstrak etanol daun sirih diameter zona hambatnya meningkat begitu juga dengan konsentrasi variasi ekstrak etanol daun sirih dengan KHM amoksisilin terhadap bakteri Staphylococcus aureus juga mengalami peningkatan diameter zona hambat dibandingkan saat dilakukan uji aktivitas antibakteri secara tunggal. Dengan hal ini dapat disimpulkan bahwa kombinasi antara amoksisilin dengan ekstrak etanol terhadap bakteri Staphylococcus aureus bersifat sinergisme.

4.8 Pemeriksaan Uji Aktivitas Antibakteri Ekstrak Etanol Daun Sirih Kombinasi dengan Amoksisilin terhadap Bakteri Escherichia coli.

Hasil uji kombinasi aktivitas antibakteri ekstrak etanol daun sirih dengan amoksisilin terhadap bakteri Escherichia coli dapat dilihat pada Tabel 4.6 dan Gambar 4.5, 4.6, 4.7, dan 4.8.

Tabel 4.6 Hasil uji aktivitas antibakteri ekstrak etanol daun sirih kombinasi dengan amoksisilin terhadap bakteri Escherichia coli

No

5

10 µg/mL + 8

mg/mL 10.40 10 mg/mL + 5

µg/mL 9.90

Keterangan: (D*) = Diameter rata-rata pengukuran tiga kali.

Gambar 4.5 Hasil uji aktivitas antibakteri ekstrak etanol daun sirih kombinasi dengan amoksisilin terhadap bakteri Escherichia coli.

Keterangan : A : 2 mg/mL + 5 µg/mL

Gambar 4.6 Grafik perbandingan uji aktivitas antibakteri kombinasi ekstrak etanol daun sirih dengan KHM amoksisilin terhadap bakteri Escherichia coli.

Gambar 4.7 Hasil uji aktivitas antibakteri amoksisilin kombinasi dengan ekstrak etanol daun sirih terhadap bakteri Escherichia coli.

Keterangan: A : 2 µg/mL + 8 mg/mL

Gambar 4.8 Grafik perbandingan uji aktivitas antibakteri kombinasi dari KHM ekstrak etanol daun sirih dengan amoksisilin terhadap bakteri Escherichia coli.

Berdasarkan hasil Tabel 4.6, dilakukan pengujian aktivitas antibakteri amoksisilin dikombinasi dengan ekstrak etanol daun sirih terhadap bakteri

0

Escherichia coli dengan memvariasikan konsentrasi amoksisilin yaitu 2; 4; 6; 8;

10 µg/mL dengan KHM ekstrak etanol daun sirih yaitu 8 mg/mL dan sebaliknya dilakukan pengujian aktivitas antibakteri dengan memvariasikan konsentrasi dari ekstrak etanol daun sirih yaitu 2; 4; 6; 8; 10 mg/mL dengan KHM amoksisilin yaitu 5 mg/mL.

Berdasarkan hasil Tabel 4.6, pada saat dilakukan kombinasi antara variasi konsentrasi amoksisilin dengan KHM ekstrak etanol daun sirih diameter zona hambatnya meningkat begitu juga dengan konsentrasi variasi ekstrak etanol daun sirih dengan KHM amoksisilin terhadap bakteri Escherichia coli juga mengalami peningkatan diameter zona hambat dibandingkan saat dilakukan uji aktivitas antibakteri secara tunggal. Dengan ini dapat disimpulkan bahwa kombinasi antara amoksisilin dengan ekstrak etanol terhadap bakteri Escherichia coli bersifat sinergisme seperti yang ditunjukkan pada Lampiran 7 halaman 64.

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

Berdasarkan pengamatan dan pembahasan dalam penelitian ini dapat disimpulkan:

a. Hasil pemeriksaan karakteristik serbuk simplisia daun sirih memiliki kadar air 3,66%, kadar sari larut dalam air 22,54%, kadar sari yang larut dalam etanol 14,65%, kadar abu total 9,25%, dan kadar abu yang tidak larut dalam asam 1,03% dan memenuhi persyaratan umum simplisia.

b. Pemeriksaan skrining fitokimia serbuk simplisia dan ekstrak etanol daun sirih menunjukkan adanya kandungan senyawa kimia flavonoida, tanin, glikosida, saponin dan steroida/triterpenoida.

c. Hasil kombinasi antara ekstrak etanol daun sirih dengan amoksisilin yang dilakukan dengan KHM sebagai parameter uji menunjukkan bahwa kombinasi antara ekstrak etanol daun sirih dan amoksisilin dapat menghambat pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus dan Escherichia coli.

5.2 Saran

Disarankan kepada peneliti selanjutnya untuk menguji kandungan senyawa daun sirih yang mengakibatkan timbulnya efek sinergisme dengan antibiotik amoksisilin.

DAFTAR PUSTAKA

Abdallah, E.M. (2011). Plants: An Alternative Source for Antimicrobials. Journal of Applied Pharmaceutical Science, 01 (06): 18.

Al-Adhroey., Zurainee, M.N., Hesham M., Adel, A., Amran and Mahmud, R.

(2011). Antimalarial Activity of Methanolic Leaf Extract of Piper betle L.

journal molecules. 16: Hal. 107-118.

Adam, M.R., dan Moss, M.O. (1995). Food Microbiology. Cambrige: The Royal Society of Chemistry. Hal. 181-182; 203-205.

Azwar, A. (1992). Antropologi Kesehatan Indonesia Jilid I Pengobatan Tradisional. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC. Hal. 105-109.

Bangash, F.A., Hashmi A.N., Mahboob, A., Zahid, M., Hamid, B., Muhammad S.A., Shah, Z.U., Afzaal, H. (2012). IN-VITRO Antibacterial Activity Of Piper betel Leaf Extracts. 639 | J App Pharm 03(04): 639-646.

Baskaran., Ratha., dan Kanimozhi. (2011). Screening For Antimicrobial Activity And Phytochemical Analysis Of Various Leaf Extract Of Murraya koenigii. IJRAP. Vol. 2(6): 1807-1810.

Caburian, B.A., Marina, O. (2010). Characterization and Evaluation of Antimicrobial Activity of the Essential Oil from the Leaves of Piper betle L. E-International Scientific Research Journal . ISSN: 2094-1749 Vol.2 (1).

Chanda, S., dan Rakholiya, K. (2011). Combination therapy: synergism between natural plant Extracts and Antibiotics Against Infectious Diseasses. Hal.

520-529.

Carranza, F.A., dan Takei, H.H. (2011). The Treatment Plan. In Carranza’s clinical Periodontologi. Edisi XI . St. Louis: Saunders-Elsevier. Hal. 41, 485, 488.

Chakraborty, D., dan Shah, B. (2011). Antimicrobial, Antioxidative and Antihemolytic Activity of Piper betel Leaf Extracts. International Journal of Pharmacy and Pharmaceutical Sciences. ISSN- 0975-1491 Vol. 3(3): 1.

Cowan, M.M. (1999). Plant Product as Antimicrobial Agent. Clinical microbiology, Review, (12): 564-582.

Depkes RI. (1980). Materia Medika Indonesia. Jilid IV. Cetakan Pertama. Jakarta:

Direktorat Jendral Pengawasan Obat dan Makanan. Hal. 94-98.

Depkes RI. (1989). Materia Medika Indonesia. Jilid V. Jakarta: Direktorat Jendral Pengawasan Obat Dan Makanan. Hal. 513-520, 536, 539-540, 549-552

Depkes RI. (1995). Materia Medika Indonesia. Jilid VI. Cetakan Keenam. Jakarta:

Direktorat Jendral Pengawasan Obat dan Makanan. Hal. 247-251, 199-304, 321-325.

Depkes RI. (2007). Kebijakan Obat Tradisional Nasional. Jakarta: Departemen Kesehatan RI. Hal. 300-304, 306.

Ditjen POM RI. (2005). Penyiapan Simplisia Untuk Sediaan Herbal . Jakarta:

Badan Pengawasan Obat dan Makanan Republik Indonesia. Hal. 1.

Ditjen POM. (1979). Farmakope Indonesia. Edisi III. Jakarta: Departemen Kesehatan RI. Hal. 9, 33.

Ditjen POM. (1995). Farmakope Indonesia. Edisi IV. Jakarta: Departemen Kesehatan RI. Hal. 855, 896, 898, 1035.

Ditjen POM. (2000). Parameter Standar Umum Ekstrak Tumbuhan Obat. Jakarta:

Departemen Kesehatan RI. Hal. 10-11.

Dwidjoseputro. (1989). Dasar-Dasar Mikrobiologi. Jakarta: Penerbit D.

Jambatan. Hal. 38, 134.

Farnsworth, N.R. (1996). Biological and Phytochemical Screening of Plants, Journal of Pharmaceutical Sciences. Vol. 55. No. 3. Chicago: Reheis Chemical Company. Hal. 262-264.

Ganiswarna, S. (1995). Farmakologi dan Terapi. Edisi IV. Jakarta: Penerbit UI.

Guzman, D.E., Galicia, J.J.M., Gatuz., M.S., Santiago, M.AR., Yumul, C.S., Castro, E.J.D., Clemente, R.F., Naguiat, E.S., Hillario, D.S. (2014).

Antibacterial Soap from Nypa fruticans Wurmb (Sasa) Ethanolic Leaf Extract. Philipines: Department of biology Bulacan State University. Page 55.

Hajare, R., Darvhekar, V.M., Shewale, A., Patil, V. (2011). Evaluation Of Antihistaminic Activity Of Piper betel Leaf In Guinea Pig. African Journal of Pharmacy and Pharmacology Vol. 5(2), pp. Hal. 113-117.

Harborne, J. B. (1987). Phytochemical Method. Terbitan Kedua. Penerjemah:

Kosasih Padmawinata dan Iwang Soediro. Metode Fitokimia. Bandung:

Penerbit ITB. Hal. 147.

Islam, M, M., Masum, S., Makbub, K. R., and Haque, M. Z., (2011). Antibacterial Activity of Crab ofAmoxicilin Againt Staphylococcus aureus and Eschericia coli. Journal of Advanced Scientific Research. 2(4): 63-66.

Jawetz, E., Melnick, J.L., dan Adelberg, E.A. (2001). Mikrobiologi Kedokteran.

Jakarta: Salemba Medika. Hal. 318 – 319.

Khan, A.J., Kumar, N. (2011). Evaluation of Antibacterial Properties of Extracts of Piper betle Lef. Journal of Pharmaceutical and Biomedical Sciences, Vol (11) : 1-3.

Kumar, A., Garg, B.R., Rajput, G., Chandel, G., Muwalia, A., Bala, I., Sumeer Singh. (2010). Antibacterial Activity and Quantitative Determination of Protein From Leaf of datura stramonium and piper betle plants.

Pharmacophore, Vol. 1 (3) : 184-195.

Lay, B.W., dan Sugiyo, H. (1994). Analisis Mikroba di Laboratorium. Jakarta:

PT. Raja Grafindo Persada. Hal. 34, 72-73.

Lovena, T. (2015). Karakterisasi Simplisia dan Isolasi Serta Analisis Komponen Minyak Atsirih Daun Sirih Hutan (Piper Crocolium Ruiz & Pav) yang Segar dan Simplisia Secara Gas Chromatography-Mass Spectrometry.

Skripsi. Medan: Fakultas Farmasi Universitas Sumatera Utara.

Oxoid, (1982). The Oxoid Of Culture Media Ingredientand Other Laboratory Service. Edisi V Basintoke: Oxoid. Hal. 20.

Pelezar, M.J., dan Chan, E.C.S. (2008). Dasar-Dasar Mikrobiologi I. Jakarta:

Penerbit UI-Press. Hal. 101.

Praba, S.P., Jeyasundari, J., Brightson, Y. (2014). Synthesis of Silver Nano Particles Using Piper betle and its Antibacterial Activity Vol 3(10): 1014-1016.

Pradhan, D., Suri, K.A., Biswasroy, P. (2013). Golden Heart of the Nature: Piper betle L. ISSN 2278- 4136. ZDB-Number: 2668735-5 IC Journal No: 8192 Vol 1: 6.

Pratiwi, S.T. (2008). Mikrobiologi Farmasi. Jakarta: Penerbit Erlangga. Hal. 105-117, 140-142.

Refdanita., Maksum, R., Nurgani, A., Endang, P. (2004). Pola Kepekaan Kuman Terhadap Antibiotika di Ruang Rawat Intensif Rumah Sakit Fatmawati Jakarta Tahun 2001-2002. Jurnal Makara, Kesehatan, Vol 8(2): 1.

Robinson, T. (1995). Kandungan Organik Tumbuhan Tinggi. Bandung: ITB.

Sasongko, H. (2014). Uji Resistensi Bakteri Escherichia coli Dari Sungai Boyong Kabupaten Sleman Terhadap Antibiotik Amoksisilin, Kloramfenikol, Sulfametoxazol, dan Streptomisin. Jurnal Bioedukatika Vol. 2(1) :1. Mei 2014, ISSN: 2338-6630.

Schwalbe, R., Moore, L, S., and Goodwin, A, C. (2007). Antimicrobial Susceptibility Testing Protocols, USA: CRC Press. Hal. 277, 282, 283.

Setiabudy, R. (2007). Pengantar Antimikroba. Dalam: Gunawan SG, Setiabudy R., Nafrialdi, Elysabeth, penyunting. Farmakologi dan terapi. Edisi V , Jakarta: Balai Penerbitan FKUI. Hal. 585,592-593.

Siswandono. (2000). Kimia Medicinal. Surabaya: Airlangga University Press.

Hal. 124.

Sitorus, S. (2011). Karakterisasi Simplisia, Skrinning Fitokimia dan uji Aktivitas Antibakteri Ekstrak Daun dari Dua Varietas Sirih (Piper betle L.) terhadap Streptococcus Mutans Penyebab Karies Gigi. Skripsi. Medan: Fakultas Farmasi Universitas Sumatera Utara.

Subashkumar, R., Sureshkumar, M., Babu, S and Tha, T. (2013). Antibacterial effect of crude aqueous extract of Piper betle L. against pathogenic bacteria. International Journal of Research in Pharmaceutical and Biomedical Sciences Vol. 4 (1): 42.

Sugumaran, M., Suresh, G.M., Sankarnarayanan, K., Yokesh, M., Poornima, M., Sree, R. (2011). Chemical Composition and Antimicrobial Activity of Vellaikodi Variety of Piper betle Linn Leaf Oil Against Dental Pathogens.

International Journal of PharmTech Research, Vol.3 (4): 2135-2139.

Supardi, I dan Sukamto. (1999). Mikrobiologi dalam Pengolahan dan Keamanan Pangan. Bandung : Penerbit Alumni. Hal. 138-141; 175-177; 182-184.

Trease, G.E., dan Evans, W.C. (1983). Pharmacognosy. Edisi: XII. London:

Bailliere Tindal. Hal. 132.

Voon, W., Ghali, N. A., Rukayadi, Y. and*Meor ,H. (2014). Application of betel leaves (Piper betle L.) extract for preservation of homemade chili bo, International Food Research Journal Vol 21(6): 2399-2403.

World Health Organization. (1992). Quality Control Methods for Medicinal Plants Materials. Switzerland: WHO. Hal. 25-27.

World Health Organization. (2011). Quality Control Methods for Herbal Material. Switzerland: WHO. Hal. 29-38.

Lampiran 1. Tanaman sirih dan daun sirih

Tanaman sirih

Daun sirih segar

Lampiran 2. Gambar daun sirih kering serta serbuk simplisia daun sirih

Daun sirih kering

Serbuk daun sirih

Lampiran 3. Hasil pemeriksaan mikroskopik daun sirih dan serbuk simplisia daun sirih

1

Keterangan:

1. Stomata tipe anomositik

2. Minyak atsiri di dalam sel parenkim 3. Rambut penutup

4. Sel-sel minyak pada hipodermis 5. Berkas pembuluh xylem

2

4 3

5

Lampiran 4. Perhitungan karakterisasi simplisia daun sirih 1. Perhitungan penetapan kadar air simplisia

Kadar air simplisia=volume akhir-volume awal

berat sampel (g) x 100%

No Berat Sampel (g) Volume awal (mL) Volume akhir (mL)

1 5,002 3,25 3,4

2 5,000 3,4 3,65

3 5,002 1,2 1,35

a. % Kadar air = 3,4 − 3,25

5,002 x 100% = 2, 99%

b. % Kadar air = 3,65 − 3,4

5,000 x 100% = 5,00%

c. % Kadar air = 1,35 − 1,2

5,002 x 100% = 2, 99%

% Rata − rata kadar air =2,99 + 5,00 + 2,99

3 = 3,66%

2. Perhitungan penetapan kadar sari larut dalam air simplisia daun sirih Kadar sari larut dalam air = berat sari (g)

berat sampel (g) x 100

20 x 100%

No Berat sampel (g) Berat sari (g)

1 5,001 0,221

2 5,003 0,232

3 5,007 0,224

a. Kadar sari larut dalam air =0,221

5,001 x 100

20 x 100% = 22,09%

b. Kadar sari larut dalam air =0,232

5,003 x 100

20 x 100% = 23,18%

Lampiran 4. (Lanjutan)

c. Kadar sari larut dalam air =0,224

5,007 x 100

20 x 100% = 22,36%

% Rata − rata kadar sari larut dalam air = 22,09 + 23,18 + 22,36

3 = 22,54%

3. Perhitungan penetapan kadar sari larut dalam etanol simplisia daun sirih

Kadar sari larut dalam etanol = berat sari (g)

berat sampel(g) x 100

a. % Kadar sari larut dalam etanol =0,141

5,001 x 100

20 x 100% = 14,09%

b. % Kadar sari larut dalam etanol =0,144

5,002 x 100

20 x 100% = 14,39%

c. % Kadar sari larut dalam etanol =0,155

5,007 x 100

20 x 100% = 15,47%

% Rata − rata kadar sari larut dalam etanol =14,09% + 14,39% + 15,47%

3 = 14,65

Lampiran 4. (Lanjutan)

4. Perhitungan penetapan kadar abu total simplisia daun sirih

% Kadar abu total = berat abu (g)

berat sampel (g) x 100%

No Berat Sampel (g) Berat abu (g)

1 2,009 0,183

2 2,013 0,187

3 2,011 0,189

a. % Kadar abu total =0,183

2,009 x 100% = 9,10%

b. % Kadar abu total =0,187

2,013 x 100% = 9,28%

c. % Kadar abu total =0,189

2,011 x 100% = 9,39%

% Rata − rata kadar abu total =9,10% + 9,28% + 9,39%

3 = 9,25%

5. Perhitungan penetapan kadar abu yang tidak larut asam simplisia dauh sirih

Kadar abu total = berat abu (g)

berat sampel (g) x 100%

N0 Berat Sampel (g) Berat abu (g)

1 2,005 0,020

2 2,009 0,028

3 2,011 0,032

a. Kadar abu yang tidak larut asam =0,020

2,005 x 100% = 0,99%

Lampiran 4. (Lanjutan)

b. Kadar abu yang tidak larut asam =0,026

2,009 x 100% = 0,51%

c. Kadar abu yang tidak larut asam =0,032

2,011 x 100% = 1,59%

% Rata − rata kadar abu total =0,99% + 0,51% + 1,59%

3 = 1,03%

Lampiran 5. Bagan Penelitian

Bagan skrining fitokimia dan karakterisasi serbuk simplisia

fitokimia senyawa - mikroskopik - makroskopik

Ekstrak kental 138, 39 g Dicuci dengan air mengalir

Lampiran 6. Hasil uji aktivitas antibakteri yang menunjukkan efek sinergis antara ekstrak etanol daun sirih kombinasi dengan amoksisilin terhadap bakteri Staphylococcus aureus.dan Escherichia coli

Keterangan: A : KHM ekstrak etanol daun sirih B : KHM amoksisilin

Staphylococcus aureus

Escherichia coli

A

B

B

A

Lampiran 7. Hasil uji aktivitas antibakteri ekstrak etanol daun sirih terhadap bakteri Staphylococcus aureus

Keterangan: D : Diameter zona hambat pertumbuhan bakteri 1,2, dan 3 D* : Diameter rata-rata zona hambat

- : Tidak ada zona hambat NO

Konsentrasi Ekstrak Etanol Daun Sirih mg/mL

Diameter Zona Hambat Pertumbuhan Bakteri (mm)*

Lampiran 8. Hasil uji aktivitas antibakteri ekstrak etanol daun sirih terhadap

Diameter Zona Hambat Pertumbuhan Bakteri (mm)*

Escherichia coli

Keterangan: D : Diameter zona hambat pertumbuhan bakteri 1,2, dan 3 D* : Diameter rata-rata zona hambat pertumbuhan bakteri - : Tidak ada zona hambat

Lampiran 9. Hasil uji aktivitas antibakteri amoksisilin terhadap pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus

No Konsentrasi Amoksisilin µg/mL

Diameter Zona Hambat Pertumbuhan Bakteri (mm)*

Keterangan: D : Diameter zona hambat pertumbuhan bakteri 1,2, dan 3 D* : Diameter rata-rata zona hambat pertumbuhan bakteri - : Tidak ada zona hambat

Lampiran 10. Hasil uji aktivitas antibakteri amoksisilin terhadap pertumbuhan

Diameter Zona Hambat Pertumbuhan Bakteri (mm)*

Keterangan: D : Diameter zona hambat pertumbuhan bakteri 1,2, dan 3 D* : Diameter rata-rata zona hambat pertumbuhan bakteri - : Tidak ada zona hambat

Lampiran 11. Hasil uji kombinasi aktivitas antibakteri ekstrak etanol daun sirih dengan amoksisilin terhadap bakteri Staphylococcus aureus

N

Staphylococcus aureus Staphylococcus aureus

D1 D2 D3 D* D1 D2 D3 D*

Keterangan: D : Diameter zona hambat pertumbuhan bakteri 1,2, dan 3 D* : Diameter rata-rata zona hambat pertumbuhan bakteri - : Tidak ada zona hambat

Lampiran 12. Hasil uji kombinasi aktivitas antibakteri ekstrak etanol daun sirih dengan amoksisilin terhadap bakteri Esherichia coli

N

Escherichia coli Escherichia coli

D1 D2 D3 D* D1 D2 D3 D*

Keterangan: D : Diameter zona hambat pertumbuhan bakteri 1,2, dan 3 D* : Diameter rata-rata zona hambat pertumbuhan bakteri - : Tidak ada zona hambat

Lampiran 13. Gambar uji aktivitas antibakteri ekstrak etanol daun sirih terhadap bakteri Staphylococcus aureus

Konsentrasi 10 dan 5 mg/ mL Konsentrasi 8, 7, 6 mg/mL

Konsentrasi 5, 4, 3 mg/mL Konsentrasi 2, 1 mg/mL, blanko

5 3

4 10

5

8

7 6

1

2 Blanko

Lampiran 14. Gambar uji aktivitas antibakteri ekstrak etanol daun sirih terhadap bakteri Escherichia coli

Konsentrasi 10, 5 mg/mL dan blanko Konsentrasi 10, 5 mg/mL

Konsentrasi 8, 7, 6 mg/mL Konsentrasi 5, 4, 3 mg/mL 10

5

Blankoo

10

9

8

7 6

5

4 3

Lampiran 14. (Lanjutan).

Konsentrasi 2, 1 mg/mL dan blanko 2

1 Blanko

Lampiran 15. Gambar uji aktivitas antibakteri amoksisilin terhadap bakteri Staphylococcus aureus

konsentrasi 9,8,4,3 µg/mL Konsentrasi 10, 2, 1 µg/mL, blanko

Konsentrasi 7, 6, 5 µg/mL

Lampiran 16. Gambar uji aktivitas antibakteri amoksisilin terhadap bakteri Escherichia Coli

Konsentrasi 10, 2, 1 µg/mL, blanko Konsentrasi 9, 8, 4, 3 µg/mL

Konsentrasi 7, 6, 5 µg/mL