China merupakan salah satu negara berkembang yang mampu menonjolkan dirinya sebagai negara dengan keberhasilan peningkatan ekonomi yang cukup sering diperbincangkan oleh dunia pasca kebijakan reformasi ekonomi yang dilakukan oleh pemerintah China semenjak kepemimpinan Deng Xiaoping pada tahun 1978 (Roger K. Oden, 1973). Reformasi ekonomi bergaya sosialis modern China ini telah membuka peluang yang besar bagi masuknya berbagai investasi asing untuk membangun konsep industri pedesaan serta export-oriented China (Roger K. Oden 1973), beserta kerjasama perdagangan dengan berbagai negara besar dunia seperti Amerika Serikat, Jerman, Taiwan, Korea Selatan, Malaysia, dan lain sebagainya (Media Online Bisnis, 2013).
Dengan struktur dasar sosialis yang cukup kokoh, pembangunan ekonomi ini tidak bersifat bebas secara menyeluruh. Meskipun para pemimpin China telah menganut beberapa nilai pasar bebas atau ekonomi modern, namun pemerintah masih memegang kendali penuh atas setiap kebijakan ekonomi yang sedang dan akan dijalani (Index of Economy Freedom, 2013).
Dari data grafik pertumbuhan GDP Cina dari tahun 1952 hingga 2005 yang berasal dari situs online Financial Sense yang berjudul “China, 2012, and Von Mises Crack-up Boom” digambarkan pada tahun 1952 yang merupakan momentum
awal terjadinya krisis dan banyaknya demonstrasi di China membuat kondisi perekonomian di China terhambat dan cenderung tidak bertumbuh. Hingga akhirnya pada awal tahun 1980an, dampak dilaksanakannya kebijakan reformasi ekonomi oleh Deng Xiaoping ini mulai nampak membuahkan hasil hingga GDP di China meningkat sedikit demi sedikit dan mencapai angka 18232.1 miliar pada tahun 2005 (Financial Sense, 2012).
Sumber: Finance Sense
Gambar 4.4
GDP China Tahun 1952-2005
Sebagian besar masyarakat di dunia telah memandang bahwa kondisi kebangkitan ekonomi China yang baru saat ini adalah sebagai salah satu negara pesaing yang memiliki kompetensi untuk dapat menandingi dominasi ekonomi Amerika Serikat di dunia. Namun, tidak sedikit juga masyarakat yang berpendapat bahwa kondisi ekonomi China masih berada dalam keadaan yang belum sepenuhnya kuat, atau dengan kata lain China masih membutuhkan usaha untuk menjaga pertahanan kondisi kemajuan ekonominya agar tetap berada dalam kondisi yang stabil dan berkelanjutan atau menghindari peluang munculnya penurunan laju ekonomi hingga terjun bebas (Washington Post, 2017).
Adapun grafik asumsi yang menunjukkan perbandingan antara pertumbuhan ekonomi China dengan Amerika Serikat sebagai negara super power hingga saat ini yang berasal dari salah satu artikel media online The Economist digambarkan bahwa perbandingan pertumbuhan ekonomi China dan Amerika Serikat yang dilihat dari pertumbuhan GDP, tingkat inflasi, serta persebaran penggunaan China’s Yuan di dunia, dapat dilihat bahwa China akan terus menyusul posisi Amerika Serikat yang diasumsikan hingga pada tahun 2028 dapat menandingi posisi Amerika Serikat apabila China dapat terus menjaga dan mengontrol kestabilan kondisi ekonominya yang maju saat ini (The Economist, 2014).
Namun tidak seperti negara-negara lain pada umumnya, dalam masa-masa keemasan ekonomi tersebut, pemerintah China tidak terlihat terlalu mengutamakan kebijakan untuk bagaimana caranya menjaga kestabilan ekonomi di dalam negerinya agar dapat mencapai peningkatan ekonomi yang lebih besar lagi
sekaligus berkelanjutan secara internal, namun China cenderung ingin lebih menunjukkan eksistensi dan atau keberadaan dirinya kepada masyarakat internasional.
Indikasi peran pemerintah China dalam menerapkan reformasi kebijakan liberalisasi gaya China yang tidak serta merta memberikan keleluasaan pada pasar tersebut, bertujuan untuk mendorong perekonomian China ke arah yang lebih maju.
Tidak dipungkiri bahwa dengan membuka diri melalui liberalisasi ekonomi ini, China memiliki peluang untuk dapat menjadi sebuah negara yang mampu menunjukkan diri sebagai negara dengan potensi yang mampu diangkat dalam bersaing di tingkatan dunia secara global. Potensi – potensi yang muncul sebagai hasil dari keberhasilan reformasi ekonomi 1978 tersebut menjadi alat untuk dapat membentuk peningkatan power yang lebih luas lagi terutama dalam menandingi dominasi Amerika Serikat selama ini.
Selain membuka diri terhadap perdagangan luar negeri demi tercapainya tingkat ekspor dalam negeri yang meningkat lebih baik, China juga memiliki keinginan untuk dapat mendirikan mata uang nasionalnya, yaitu Renminbi dengan satuan unit resmi Yuan, sebagai mata uang perdagangan internasional. Aktivitas ini biasa disebut sebagai Internationalization of Renminbi (RMB) (China Daily, 2006).
Renminbi pertama kali dikeluarkan oleh pemerintahan sosialis China pada
tahun 1949 untuk mengatasi hyper-inflation yang sempat dialami oleh China menjelang akhir masa Kuomintang (Dictionary References, 2009). RMB merupakan alat tukar resmi yang dikeluarkan oleh Bank Rakyat China sebagai
otoritas moneter Republik Rakyat China dan juga telah berkembang pesat di Hong Kong, Singapura, Taiwan, dan London. RMB telah mengalami kemajuan pesat melalui tiga tahap proses internasionalisasi yang digunakan dalam proses perdagangan, investasi, dan cadangan global (HSBCnet, 2009).
RMB dipatok harga terhadap nilai dollar Amerika Serikat sampai pada tahun 2005, dengan tujuan bahwa China dapat mendapatkan peluang untuk dapat mengejar transisi terhadap pasar ekonomi, meningkatkan peran dalam perdagangan internasional, serta meningkatkan daya saing China dengan usaha mendevaluasi RMB (HSBCnet, 2009).
Selain itu, pemerintah juga mengeluarkan kebijakan “lepas pantai” terhadap mata uangnya, sehingga mata uang tersebut dapat digunakan di luar daratan China terpisah dari penggunaan dalam transaksi dengan perusahaan dari dalam negeri, sesama penduduk China, dan perusahaan China yang memiliki kehadiran China dalam proses bisnisnya.
Di sini, tampak bahwa para investor sedang diberi akses yang lebih besar baik dalam daratan China, maupun menjalankan bisnis di lepas pantai China dengan penggunaan RMB. Oleh karena itu, dengan berbagai proyek percontohan dalam rangka mempersiapkannya bersanding dengan dolar Amerika Serikat dan euro, diharapkan RMB dapat menjadi mata uang cadangan internasional dalam jangka waktu yang cukup lama.
Hal ini sudah dibuktikan dengan seringnya penggunaan mata uang RMB sebagai alat tukar perdagangan oleh banyak perusahaan-perusahaan barang dan jasa
internasional, di mana permintaan terhadap RMB telah meningkat sejak Juni 2010 dan pada waktu yang sama permintaan terhadap mata uang euro dan USD menurun (East Asia Forum, 2012).
G-2 Summit merupakan salah satu sarana yang dilihat China sebagai peluang besar untuk dapat merealisasikannya, di mana Cina ditempatkan sebagai mitra kerja Amerika Serikat yang memiliki otoritas tinggi dibanding negara-negara lain dengan citra positif awalnya diekspektasikan sebagai peran “responsible stakeholder” dan seharusnya mengikuti segala kebijakan, nilai, dan norma sistem
ekonomi dari Amerika Serikat melalui Washington Consensus ini diubah menjadi sarana untuk menyebarkan paradigma sistem ekonomi sosialis modern yang ditunjukkan dengan bukti keberhasilan reformasi ekonomi China kepada negara-negara di dunia.
Begitu pula dengan usaha meningkatkan eksistensi RMB yang telah menjadi mata uang nasional masyarakat China menjadi mata uang resmi dalam berbagai aktivitas perdagangan global menggeserkan kedudukan dolar Amerika.
Kebijakan internasionalisasi mata uang oleh pemerintah China ini mulai menampakkan hasil yang positif, di mana sebuah data dari The People’s Bank of China menunjukkan peningkatan referensi RMB terhadap dolar Amerika Serikat
mencapai titik tertinggi pada 1,41% pada tahun 2012 setelah sebelumnya mencapai sekitar 0,63% pada tahun 2011 (China Daily for Europe, 2013).
Hal ini didasari oleh adanya kekhawatiran masyarakat dunia yang disebabkan oleh merosotnya kualitas kredit dan banyak yang mulai beralih kepada
RMB untuk mengurangi penggunaan dolar, euro, yen Jepang (JPY), poundsterling dan franc dalam aktivitas perdagangan dan investasi lintas batas (RT Business, 2013). Kepercayaan yang cukup tinggi terhadap RMB tersebut secara langsung akan menciptakan rasa nyaman dan aman untuk memakai mata uang tersebut dan akan terus tumbuh menjadi ketergantungan yang dapat semakin mendorong tercapainya kepentingan dari willingness of individual countries, yakni mempengaruhi negara-negara untuk seturut dengan prinsip China dan mengubah pandangan mereka untuk beralih dari aturan liberalisme yang selama ini telah disosialisakan oleh Amerika Serikat.
China memiliki peluang yang cukup kuat untuk dapat ikut serta dalam setiap bagian prosedur pengambilan kebijakan, termasuk di dalamnya adalah proses pembentukan norma, tata peraturan, prinsip dan penentuan berbagai kebijakan global, serta pengadaan program di dalamnya. Termasuk kedekatan China dengan Amerika Serikat G-2 Summit ini, melihat Amerika Serikat hingga saat ini masih memiliki pengaruh dalam mengendalikan beberapa perilaku negara yang dapat digunakan oleh China sebagai kesempatan awal dalam mempelajari dan memahami bagaimana pola Amerika Serikat dalam menyebarkan pengaruhnya melalui rancangan kebijakan dan program-program kerja dengan menyisipkan kepentingan nasionalnya dibalik tujuan meraih pertumbuhan ekonomi dunia yang lebih baik dan berkelanjutan.
Tidak menutup kemungkinan bagi China untuk menyelipkan apa yang menjadi kepentingan ekonomi baginya di antara kepentingan Amerika Serikat dan
sederet misi pembangunan dunia. Ditambah lagi, Amerika Serikat merupakan kreditur terbesar dari China yang bisa dengan lebih mudah bagi China untuk mencari celah untuk memperkokoh power nya dan secara bertahap berpeluang untuk dapat ‘menundukkan’ dominasi Amerika Serikat di dunia.
Kebangkitan ekonomi yang telah dimiliki oleh China saat ini bukan hanya saja dapat berperan sebagai alat untuk menciptakan image sebagai negara berkembang yang dapat mempengaruhi perubahan pandangan tatanan internasional terhadap kebijakan yang sedang berlaku, namun China juga dapat memperoleh kekuatan yang lebih besar lagi, sebagai negara yang masih digolongkan dengan hak-hak negara berkembang untuk dapat menggertak negara lain atau memaksa negara lain untuk dapat bertindak sesuai dengan kepentingan China, terutama dalam usaha untuk dapat menandingi posisi dan dominasi Amerika Serikat sebagai negara yang masih memegang peran sebagai negara super power.
Hingga saat ini China belum mampu untuk dikategorikan sebagai negara yang lebih unggul dari Amerika Serikat, bisa disebut bahwa kondisi China merupakan suatu negara yang setara untuk berkompetisi dengan Amerika Serikat namun masih belum mengunggulinya. Di mana China masih belum berhasil untuk mempengaruhi Amerika Serikat dan seluruh dunia untuk meninggalkan prinsip liberalis dan pasar bebas untuk beralih sepenuhnya kepada prinsip sosialis modern yang telah membawa keberhasilan reformasi ekonomi bagi China. Amerika Serikat masih menjadi negara super power, namun memiliki ancaman adanya pergeseran
kekuasaan internasional dari munculnya negara-negara dengan kekuatan ekonomi baru seperti China.
Beberapa peristiwa yang menandakan adanya gertakan China kepada negara lain yang tergolong lebih besar dan maju dalam rangka untuk meraih kepentingannya adalah menolak perintah Amerika Serikat untuk menghentikan impor minyak dari Iran dengan alasan bahwa pemberlakuan sanksi yang berasal dari Amerika Serikat dan Uni Eropa terhadap minyak Iran hanya akan menyebabkan harga minyak yang semakin melambung dan menghambat pemulihan ekonomi global (Republika, 2012).
Selain itu, China juga menolak keinginan Filipina yang membawa sengketa di wilayah Laut Cina Selatan kepada pengadilan arbitrase internasional. Di bawah konvensi hukum laut PBB tahun 1982, Filipina menyatakan perilaku Beijing di kawasan yang diperebutkan oleh beberapa negara karena kekayaan sumber daya alam minyak tersebut adalah melanggar hukum, namun hal tersebut tidak dapat mengelakkan pengakuan China atas klaim akan kedaulatan wilayah tersebut (USA Today, 2012).