• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II : TINJAUAN PUSTAKA

F. Reorientasi Perencanaan Pembangunan Daerah

Perubahan orientasi perencanaan pembangunan daerah dilakukan dalam era otonomi daerah agar lebih terarah dan efisien.(Sjafrizal,2014) Perubahan orientasi tersebut meliputi :

a. Sistem Perencanaan Pembangunan Daerah.

Perubahan sistem dan orientasi perencanaan pembangunan daerah dilakukan sejalan dengan prinsip Undang-undang No. 32 Tahun 2004, otonomi daerah dilaksanakan dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia.

b. Penerapan Konsep Wilayah Pembangunan

Penerapan konsep wilayah pembaangunara otonomi daerah pada tingkat nasional sudah dimulai sejak REPELITA II (1974), dan dalam era otonomi daerah penerapan konsep wilayah pembangunan semakin intensif dilakukan.

c. Penetapan Program Dan Kegiatan Pembangunan Daerah

Dalam era otonomi daerah, penetapan program dan proyek pembanguna melalui RAKOR-BANG akan sangat berkurang.

Alasannya adalah karna otonomi daerah memberikan kewenangan yang lebih besar kepada daerah untuk menetapkan program dan kegiatan pembangunan yang dibutuhkan oleh masing-masing daerah.

G. Fungsi Badan Perencanaan Pembangunan Daerah

Pada Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional, telah mengukuhkan legitimasi formal bagi institusi perencanaan di daerah (BAPPEDA) yang merupakan salah satu sarana penting untuk mewujudkan sistem perencanaan yang efektif dan bertanggungjawab.

Perencanaan hendaknya mampu menjamin bahwa pembangunan daerah menuju kearah yang tepat sesuai dengan tuntutan internal dan eksternal, ditunjang oleh potensi sumberdaya yang tersedia. BAPPEDA merupakan singkatan dari Badan Perencanaan Pembangunan Daerah yang mana badan ini menurut PP RI No 41 Tahun 2007 tentang Organisasi Perangkat Daerah pasal 6 dijelaskan bahwa:

1. Badan perencanaan pembangunan daerah merupakan unsur perencana penyelenggaraan pemerintahan daerah.

2. Badan perencanaan pembangunan daerah mempunyai tugas melaksanakan penyusunan dan pelaksanaan kebijakan daerah dibidang perencanaan pembangunan daerah.

3. Badan perencanaan pembangunan daerah dalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud pada ayat (2) menyelenggarakan

fungsi:

a. perumusan kebijakan teknis perencanaan;

b. pengoordinasian penyusunan perencanaan pembangunan;

c. pembinaan dan pelaksanaan tugas di bidang perencanaan pembangunan daerah; dan

d. pelaksanaan tugas lain yang diberikan oleh gubernur sesuai dengan tugas dan fungsinya.

4. Badan perencanaan pembangunan daerah dipimpin oleh kepala badan.

5. Kepala badan berkedudukan di bawah dan bertanggung jawab kepada gubernur melalui sekretaris daerah.

Hal ini berarti bahwa Bappeda merupakan suatu unsur perencana dalam proses penyelenggaraan pemerintahan daerah, dimana BAPPEDA bertanggung jawab terhadap kepala daerah melalui sekretaris daerah. Hal ini merupakan Badan Perencanaan Pembangunan tidak berdiri sendiri diluar daripada tanggung jawab dari Kepala Daerah yang bersangkutan, tetapi Badan tersebut dibentuk adalah untuk bekerja dan membantu Kepala Daerah dalam melaksanakan pekerjaan sebagai kepala daerah yang bertugas untuk merencanakan pembangunan serta mengadakan penilaian atas pelaksanaannya.

Dibentuknya Badan Perencanaan Pembangunan Daerah, maka tugas pembangunan, pengawasan dan penilaian menjadi tugas daripada Bappeda tersebut, artinya bahwa badan itu bukan hanya bertugas sebagai perencanaan saja

tetapi harus turut serta aktif dalam mengadakan pengawasan dan pelaksanaan dari yang sudah direncanakan semula. Hanya saja perlu diingat bahwa melalui pengawasan, badan ini akan dapat menyusun perencanaan pembangunan berikutnya dengan mempelajari hal-hal yang telah dilihat melalui pelaksanaan yang sudah dilakukan.

Oleh sebab itu, Bappeda tidak boleh terlepas dari semua badan-badan maupun instansiinstansi yang ada di daerah itu dalam melakukan tugasnya sebagai Badan Perencanaan Pembangunan di daerah. Kunarjo menjelaskan bahwa :

“untuk menampung keinginan masyarakat dalam pembangunan ditempuh sistem perencanaan dari bawah ke atas. Inilah yang sebenarnya merupakan perencanaan partisipatif. Tahap yang paling bawah dalam rapat koordinasi pembangunan daerah akan diusulkan pada tingkat yang lebih tinggi dimulai dengan :

1. Musyawarah Pembangunan Tingkat Desa / Kelurahan

Musyawarah pembangunan desa dipimpin oleh oleh kepala desa atau lurah yang dibimbing oleh camat dan di bantu oleh Kepala Urusan Pembangunan Desa.

Musyawarah desa ini menginvetarisasi potensi desa, permasalahan desa, menyusun usulan program dan proyek yang dibiayai dari swadaya desa bantuan pembangunan Desa, APBD Kabupaten, APBD Provinsi, dan APBN.

2. Temu Karya Pembangunan Tingkat Kecamatan

Temu karya dipimpin oleh camat dan dibimbing oleh BAPPEDA kabupaten / kota yang bersangkutan. Tujuan temu karya ini adalah untuk membahas kembali rencana program yang telah dihasilkan Musbang Desa.

3. Rapat Koordinasi Pembangunan (Rakorbang) Kabupaten

Rapat Koordinasi ini membahas hasil Temu Karya Pembangunan Tingkat Kecamatan yang dipimpin oleh Ketua Bappeda Kabupaten. Dalam rapat ini usulan – usulan program dan proyek dilengkapi dengan sumber – sumber dana yang berasal dari APBD kabupaten, APBD propinsi, APBN, program bantuan pembangunan, maupun bantuan luar negeri, dan sumber dana dari perbankan.

Usulan dari BAPPEDA kabupaten / kota disampaikan kepada gubernur, ketua BAPPENAS, dan mendagri.

4. Rapat Koordinasi Pembangunan (Rakorbang) Propinsi

Hasil rumusan dari Rakorbang Kabupaten / Kota dan usulan proyek pembangunan dibahas bersama – sama dengan Biro Pembangunan dan Biro Bina Keuangan, Sekretariat Wilayah atau Provinsi, serta Direktorat Pembangunan Desa Provinsi. Ketua BAPPEDA provinsi mengkoordinasikan usulan rencana program dan proyek untuk dibahas dalam Rakorbang provinsi yang dihadiri lembaga vertikal dan BAPPEDA kabupaten / kota.

5. Konsultasi Nasional Pembangunan

Hasil Rakorbang Provinsi kemudian diusulakn ke Pemerintah Pusat melalui forum Konsultasi Nasional. Forum ini dipimpin oleh BAPPENAS dan dihadiri oleh wakil – wakil BAPPEDA provinsi serta wakil Depdagri dan departemen teknis tertentu. Hasil dari forum ini dibahas BAPPENAS sebagai masukan untuk penyusunan proyek – proyek yang dibiayai APBN. Daftar proyek yang telah dipadukan antara kebijakan sektoral dan keinginan daerah disusun dalam buku BAPPEDA Kabupaten Kepulauan Selayar mempunyai tugas

membantu Bupati dalam menentukan kebijaksanaan serta penilaian atas pelaksanaan di bidang perencanaan pembangunan daerah. Untuk melaksanakan tugas tersebut di atas badan ini mempunyai fungsi sebagai berikut :

a. Menyusun Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJP-D) b. Menyusun Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah

(RPJMDaerah)

c. Menyusun Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD)

d. Menyusun Rencana Strategis Satuan Kerja Perangkat Daerah (RENSTRA-SKPD)

e. Menyusun Kebijakan Umum APBD (KU-APBD)

f. Menyusun Rencana Kerja Tahunan Daerah dan Rancangan APBD g. Melakukan Koordinasi Perencanaan Sektor, Antar Wilayah, dan Antar

Lembaga baik Pemerintah maupun Swasta dan masyarakat di Kabupaten Kepulauan Selayar

h. Memfasilitasi Perencanaan Pembangunan di Kabupaten/Kota i. Melaksanakan Monitoring dan Evaluasi Kinerja Pembangunan

j. Melaksanakan kegiatan lainnya yang berkaitan dengan Perencanaan sesuai arahan Bupati.

H. Koordinasi Dalam Perencanaan Pembangunan a. Pengertian Koordinasi

Kata coordination berasal dari co – dan ordinare yang berarti to regulate.

Ada beberapa pendekatan dalam koordinasi, yaitu dilihat dari pendekatan empirik, dikaitkan dengan segi etimologi, koordinasi diartikan sebagai kegiatan yang dilakukan oleh berbagai pihak yang sederajat (equal in rank or order, of the same rank order, not subordinate) untuk saling memberi informasi dan mengatur bersama (menyepakati) hal tertentu, sehingga di satu sisi proses pelaksanaan tugas dan keberhasilan pihak yang satu tidak mengganggu proses pelaksanaan tugas dan keberhasilan pihak yang lain.

Jika dilihat dari sudut normatif, koodinasi diartikan sebagai kewenangan untuk menggerakkan, menyerasikan, menyelaraskan, dan mengimbangkan kegiatan – kegiatan yang spesifik atau berbeda – beda, agar semuanya terarah pada pencapaian tujuan tertentu pada saat yang telah ditetapkan.

Dari sudut fungsional, koordinasi dilakukan guna mengurangi dampak negatif spesialisasi dan mengektifkan pembagian kerja. Koordinasi adalah usaha penyesuaian bagian-bagian yang berbeda, agar kegiatan daripada bagian-bagian itu selesai pada waktunya, sehingga masing-masing dapat memberikan sumbangan usahanya secara maksimal, agar memperoleh hasil secara keseluruhan. Koordinasi terhadap sejumlah bagian-bagian yang besar pada setiap usaha yang luas dari pada organisasi demikian pentingnya sehingga beberapa kalangan menempatkannya di dalam pusat analisis.

Koordinasi yang efektif adalah suatu keharusan untuk mencapai administrasi / manajemen yang baik dan merupakan tanggungjawab yang langsung dari pimpinan. Koordinasi dan kepemimpinan tidak bisa dipisahkan satu sama lain oleh karena itu satu sama lain saling mempengaruhi. Kepemimpinan yang efektif akan menjamin koordinasi yang baik sebab pemimpin berperan sebagai koordinator.

G.R. Terry mengungkapkan bahwa :

“koordinasi adalah suatu usaha yang sinkron dan teratur untuk menyediakan jumlah dan waktu yang tepat, dan mengarahkan pelaksanaan untuk menghasilkan suatu tindakan yang seragam dan

harmonis pada sasaran yang telah ditentukan”. Lebih lanjut Mc. Farland (Handayaningrat, 1985:89) mengatakan bahwa: “koordinasi adalah suatu proses di mana pimpinan mengembangkan pola usaha kelompok secara teratur di antara bawahannya dan menjamin kesatuan tindakan di dalam mencapai tujuan bersama”. Selanjutnya menurut E.F.L. Brech :

“koordinasi adalah mengimbangi dan menggerakkan tim dengan memberikan lokasi kegiatan pekerjaan yang cocok dengan masing-masing dan menjaga agar kegiatan itu dilaksanakan dengan keselarasan yang semestinya di antara para anggota itu sendiri”. Lebih lanjut Handoko (2003:195) mendefinisikan koordinasi (coordination) sebagai :

“proses pengintegrasian tujuan-tujuan dan kegiatan-kegiatan pada satuan-satuan yang terpisah (departemen atau bidang-bidang fungsional) suatu organisasi untuk mencapai tujuan organisasi secara efisien”.

1. Sebagai suatu proses kegiatan menyatu padukan kegiatan unit – unit organisasi.

2. Upaya menyatu padukan dapat mengangkat kegiatan, waktu maupun biaya.

Dengan demikian koordinasi dapat didefinisikan sebagai proses penyepakatan bersama secara mengikat berbagai kegiatan atau unsur yang berbeda – beda sedemikian rupa sehingga di sisi yang satu semua kegiatan atau unsur itu terarah pada pencapaian suatu tujuan yang telah ditetapkan dan di sisi lain, keberhasilan kegiatan yang satu tidak merusak keberhasilan kegiatan yang lain.

Dalam pelaksanaan koordinasi tentunya ada sasaran yang hendak dicapai khususnya bagaimana supaya tercipta suatu keserasian dan keselarasan kerja sehingga segala aktivitas yang dilakukan oleh setiap satuan organisasi dapat berjalan dengan baik sehingga tidak terjadi tumpang tindih dalam pelaksanaan tugas masing – masing. Pengertian tentang koordinasi di atas menyiratkan bahwa koordinasi bertujuan :

1. Menciptakan dan memilihara efektivitas organisasi setinggi mungkin melalui sinkronisasi, penyerasian, kebersamaan, dan kesinambungan,antar berbagai kegiatan dependen suatu organisasi.

2. Mencegah konflik dan menciptakan efisiensi setinggi – tingginya setiap kegiatan intardependen yang berbeda – beda melalui kesepakatan – kesepakatan yang mengikat semua pihak yang bersangkutan.

b. Aspek – Aspek Koordinasi

E. Koswara, berpendapat ada beberapa aspek koordinasi yang perlu diperhatikan guna mencapai efektivitas dalam penyelenggaraan pembangunan, antara lain :

1. Aspek Fungsional

Yang dimaksud dengan koordinasi fungsional disini adalah bahwa kegiatan pelaksanaan koordinasi harus terdapat ikatan dan keterpaduan secara fungsional antara instansi vertikal dan dinas – dinas daerah, antara instansi yang satu dengan yang lain, harus ada keterkaitan dan keterpaduan antara program sektoral dan program daerah, antara program yang satu dengan peogram yang lain, demikian pula harus terdapat keterkaitan dan keterpaduan secara fungsional antara wilayah yang satu dengan wilayah yang lain.

2. Aspek Formal

Di dalam aspek formal dimaksudkan bahwa dalam pelaksanaan koordinasi yang efektif dituntut adanya keterkaitan dan konsistensi antara pengaturan yang satu dengan yang lain. Pengaturan dan ketentuan – ketentuan yang dikeluarkan oleh instansi daerah harus

terkait dan konsisten dengan pengaturan yang dikeluarkan oleh pusat, demikian pula yang diterbitkan oleh instansi yang satu dengan instansi yang lain.

3. Aspek Struktural

Aspek struktural dalam organisasi diartikan bahwa di dalam setiap bentuk penegasan oleh suatu instansi hendaknya terdapat kaitan dan konsistensi penegasan dengan instansi lain.

4. Aspek Material

Aspek material dalam koordinasi dimaksudkan bahwa program / proyek yang bersifat lintas sektoral dalam usaha mencapai sasaran atau mengatasi masalah yang dihadapi supaya terdapat keterkaitan, saling tergantung dan saling

menunjang, demikian pula halnya antara program / proyek sektoral dan regional / daerah.

5. Aspek Operasional

Aspek fungsional dimaksudkan bahwa dalam menentukan langkah – langkah pelaksanaan kegiatan, baik menyangkut waktu, kebutuhan material lokasi dan lain sebagainya, bagaimanapun juga harus terdapat kaitan dan keterpaduan sehingga tidak terdapat duplikasi dan saling menghambat dalam pelaksanaannya. Aspek – aspek operasional di atas harus dipertimbangkan dalam menentukan langkah – langkah dan pendekatan guna merumuskan pola mekanisme koordinasi sebagai suatu SOP (standart of operation) yang harus menjadi komitmen bagi siapan pun yang berkepentingan. Guna mencapai efektivitas dalam organisasi pemerintahan, Forland (1967:394) mengemukakan ada 4 (empat) faktor penentu, yaitu :

a. Kewenangan dan tanggung jawab yang jelas b. Pengawasan dan pengamatan yang seksama c. Fasilitas – fasilitas yang efektif

d. Menggunakan kemampuan / kualitas pemimpin

I. Devinisi Operasional Variabel

Untuk memberikan suatu pemahaman agar lebih mempermudah pelaksanaan penyusunan perencanaan pembangunan daerah, maka perlu adanya batasan penelitian yang dioperasionalkan dan indicator yang digunakakan dalam mempermudah dalam penelitian.

a. Perencanaan merupakan cara, teknik atau metode untuk mencapai tujuan yang diinginkan secara cepat, terarah, dan efisien sesuai dengan sumberdaya yang tersedia.

b. Keterpaduan merupakan program atau sistem yang saling mendukung antara satu dengan yang lain dalam suatu perencanaan.

c. Partisipasi masyarakat ialah keikutsertaan masyarakat atau keterlibatan masyarakat dalam suatu kegiatan pembangunan.

d. Pelaksanaan ialah realisasi dari suatu perencanaan yang telah disusun untuk mencapai suatu sasaran pembangunan.

e. Evaluasi ialah pemantauan objek pembangunan untuk memastikan apakah kegiatan dan objek pembangunan yang telah selesai dapat dimaanfaatkan secara maksimal oleh masyarakat

Indikator Variabel

1. Keterpaduan perencanaan pembangunan dioperasionalkan dengan indikator ;

Koordinasi perencanaan pembangunan

Merupakan proses penyepakatan bersama secara mengikat berbagai kegiatan atau unsur yang berbeda – beda sedemikian rupa sehingga disisi yang satu semua kegiatan atau unsur itu terarah pada pencapaian satu tujuan yang telah ditetapkan dan disisi lain, keberhasilan kegiatan yang satu tidak merusak keberhasilan kegiatan yang lain sehingga tercipta keterpaduan dalam suatu perencanaan.

Partisipasi Masyarakat

Partisipasi masyarakat merupakan adanya kontribusi atau keterlibatan masyarakat baik individu ataupun kelompok dalam hal penyusunan perencanaan pembangunan. Partisipasi masyarakat dapat dioperasionalkan melalui indicator sebagai berikut :

1. Pemikiran atau ide – ide berupa masukan

2. Tingkat kualitas pemikiran masyarakat dalam pengambilan keputusan

J. Kerangka Pikir. .

Penggunaan konsep perencanaan pembangunan untuk mendorong peningkatan pembangunan nasional dan daerah yang sesuai dengan aspirasi masyarakat pasti akan mengubah pola orientasi sistem pemerintahan secara besar-besaran, tapi hal ini justru akan sangat baik jika dalam penyusunan perencanaan pembanguanan, tercipta keterpaduan antar sektor dan instansi pemerintahan dalam menjalankan program perencanaan pembangunan daerah serta pemanfaatkan partisipasi masyarakat dapat di optimalkan agar masyarakat merasa dilibatkan dan merasa memiliki tanggung jawab terhadap program atau kegiatan pembangunan.

Penerapan perencanaan pembangunan yang terpadu akan mempermudah mewujudkan tujuan perencanaan pembangunan dari suatu daerah.

Otonomi daerah merupakan kewenangan untuk membuat hukum sendiri dan kebebasan untuk mengtur pemerintahan sendiri. Jadi pada hakikatnya otonomi daerah adalah hak atau wewenang untuk mengurus rumah tangga sendiri

Gambar I.Kerangka Pikir PERENCANAAN

KETERPADUAN PARTISIPASI MASYARAKAT

PELAKSANAAN

PEMANTAUAN DAN EVALUASI OTONOMI DAERAH

BAB III

METODE PENELITIAN A. Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian dilakukan pada Kantor Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (BAPPEDA) di Kabupaten Kepulauan Selayar yaitu dijalan Jendral Ahmad Yani No. 1 Benteng Selayar. Penelitian akan dilaksanakan antara bulan Maret dan April 2015 sampai selesai. Adapun alasan memilih daerah tersebut karna penulis merasa tertarik untuk menganalisa keterpaduan perencanaan dan optimalisasi pemanfaatan partisipasi masyarakat dalam menyusun perencanaan daerah.

B. Informan Penelitian

Pemilihan informan dalam penelitian ini disesuaikan dengan tujuan dan permasalahan dalam penelitian tentang koordinasi dalam penyusunan perencanaan pembangunan dan partisipasi masyarakat dalam menyusun perencanaan pembangunan daerah di kabupaten kepulauan selayar.

1. Kepala BAPPEDA Kabupaten Kepulauan Selayar 2. Sekretaris BAPPEDA Kabupaten Kepulauan Selayar

3. Kepala Sub Bidang Pengendalian dan Evaluasi BAPPEDA Kabupaten Kepulauan Selayar

4. Anggota LSM Kabupaten Kepulauan Selayar 5. Tokoh masyarakat

6. Camat Kecamatan Bonto Manai

C. Metode Pengumpulan Data

Untuk memperoleh hasil penelitian yang akurat sejumlah data pendukung dalam usaha pengumpulan serta pengolahan data tersebut digunakan metode penelitian sebagai berikut :

1. Penelitian kepustakaan (Library research), yaitu penelitan yang dilakukan dengan mengumpulkan serta membaca bebera literature yang berhubungan dengan masalah yang dibahas. Hal ini dimaksudkan untuk melengkapi beberapa peralatan teori yang berkaitan dengan permasalahan tersebut.

2. Penelitian lapangan (Field Research), yaitu penelitian yang dilakukan secara langsung pada instansi serta aparat pemerintah daerah yang mempunyai kaitan langsung dengan permasalahan yang akan diteliti Penelitian yang dimaksud dalam bentuk pengumpulan data dan wawancara bebas (indept interview) untuk memperoleh informasi yang diperlukan, serta dengan menggunakan kuesioner.

D. Jenis Dan Sumber Data

Data yang diperlukan dalam penulisan skripsi terdiri dari :

1. Data primer yaitu data yang diperoleh melalui serangkaian wawancara langsung dengan pimpinan atau staf Badan Perencanaan Pembangunan Daerah mengenai penyusunan perencanaan daerah dan peran serta masyarakat dalam penyusunan perencanaan.

2. Data sekunder, yaitu data yang diperoleh dari kantor Badan Perencanaan Pembangunan berupa dokumen-dokumen dan laporan

tentang penyusunan perencanaan pembangunan daerah. Dan dari berbagai data yang mendukung menelitian.

E. Metode Analisis

Untuk memecahkan masalah yang timbul, dijelaskan dalam penelitian ini serta untuk membuktikan hipotesis yang telah diajukan penelitian ini menggunakan dua metode analisis yaitu :

1. Analisis kualitatif, yaitu suatu metode yang tidak menggunakan rumus tetapi berupa penjelasan dan keterangan – keterangan lengkap mengenai Keterpaduan Perencanaan Pembangunan Serta Optimalisasi Pemanfaatan Partisipasi Masyarakat Dalam Era Otonomi Daerah.

2. Analisis deskriptif yaitu untuk mengetahui gambaran tentang Keterpaduan Perencanaan Pembangunan Daerah Dan Optimalisasi Pemanfaatan Partisipasi Masyarakat Dalam Era Otonomi Daerah.

BAB IV

GAMBARAN UMUM OBJEK PENELITIAN A. Kondisi Geografi Kabupaten Kepulauan Selayar

Secara geografis wilayah Kabupaten Kepulauan Selayar terletak antara 5042’~70 35’ Lintang Selatan dan 1200 15’~122’ 30’ Bujur Timur. Kabupate Kepulauan Selayar merupakan salah satu Kabupaten di Provinsi Sulawesi Selatan, dan satu-satunya Kabupaten yang terpisah dari Pulau Sulawesi, dengan batas-batas wilayah sebagai berikut:

a. Sebelah utara berbatasan dengan Kabupaten Bulukumba b. Sebelah Timur berbatasan dengan Perairan Teluk Bone c. Sebelah Barat berbetasan dengan Perairan Selat Makassar d. Sebelah Selatan dengan Laut Plores

Kabupaten Kepulauan Selayar terletak di tengah bentangan barat-timur Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan berada di antara Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI), yakni ALKI II dan III. Keunggulan tersebut dilengkapi lagi dengan bentangan garis pantai yang mayoritas berbatasan dengan laut dalam, yang selama ini digunakan sebagai jalur lalu lintas transportasi domestik, nasional dan internasional. Jalur transportasi tersebut melalui Selat Selayar, sehingga Selayar sangat potensil dikembangkan sebagai Pusat Distribusi Logistik 9 bahan kebutuhan pokok dan bahan bakar minyak ke Kawasan Timur Indonesia (KTI). Lebih jauh lagi pengembangan Selayar dan pulau-pulau kecil di sekitarnya didukung pula oleh potensi sumberdaya alam, terutama di sektor perminyakan di kawasan utara Pulau Selayar, sektor perikanan dan pariwisata di

kawasan tengah dan selatan Pulau Selayar dan Taman Nasional Laut Takabonerate.

Wilayah Kabupaten Kepulauan Selayar terdiri atas 130 Pulau baik pulau besar maupun pulau kecil. Gugusan Kepulauan tersebut sebagian dihuni penduduk, sebagian lagi adalah pulau yang tidak berpenghuni. Pulau-pulau berpenghuni tersebut antara lain Pulau Pasi Tanete, Pulau Pasi Gusung, Bahuluang, Tambolongang, Polassi, Jampea, Lambego, Bonerate, Pasi Tallu, Kakabia, Jinato, Kayuadi, Rajuni, Rajuni Bakka, Rajuni Ki’di, Kalaotoa, Latondu, Pulo Madu dan lain-lain. Jumlah keseluruhan pulau berpenghuni 26 buah.

Luas keseluruhan wilayah Kabupaten Kepulauan Selayar adalah 10.503,69 km2 dimana luas daratan 1.357,03 km2, sedangkan luas laut 9.146,66 km2, dengan panjang garis pantai yaitu 670 km. Secara administratif pada tahun 2008 Pemerintah Kabupaten Kepulauan Selayar terbagi menjadi 11 Kecamatan, 68 desa dan 7 kelurahan. Sebanyak 5 (lima) kecamatan berada di Kepulauan.

Tabel 1.

Luas Wilayah Kecamatan di Kabupaten Kepulauan Selayar

No Kecamatan Luas (km2)

1 Pasimarannu 176,35

2 Pasilambena 102,99

3 Pasimasunggu 114,5

4 Taka Bonerate 221,07

5 Pasimasunggu Timur 47,93

6 Bontosikuyu 199,11

7 Bontoharu 129,75

8 Benteng 7,12

9 Bontomanai 115,56

10 Bontomatene 159,92

11 Buki 82,73

Sumber: Kepulauan Selayar Dalam Angka (BPS, 2011)

B. Jumlah Penduduk Kabupaten Kepulauan Selayar

Berdasarkan data BPS Tahun 2010 dapat diketahui bahwa perkembangan penduduk Kabupaten Kepulauan Selayar selama beberapa tahun terakhir senantiasa bertambah dari tahun ke tahun dengan tingkat pertumbuhan relative rendah dan berfluktuasi. Jumlah penduduk Kabupaten Kepulauan Selayar pada tahun 2005 adalah sebesar 114.598 jiwa, kemudian berkembang menjadi 121.749 jiwa pada tahun 2009 atau mengalami pertambahan sebesar 5.213 jiwa periode waktu 5 tahun terakhir (2005-2009), atau tumbuh rata-rata sebesar 1,43%

pertahun. Berdasarkan data ini juga diketahui bahwa jumlah penduduk terbesar terdapat di Kecamatan Benteng dengan jumlah penduduk sebesar 18.540 jiwa, sedang yang paling rendah adalah di Kecamatan Pasimasunggu Timur. Gambaran lebih rinci dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 2.

Jumlah Penduduk Kabupaten Kepulauan Selayar Dirinci Menurut Kecamatan Tahun 2006 - 2010

KECAMATAN 2006 2007 2008 2009 2010

PASIMARANNU 8 659 8 710 8 821 8 923 8 959

PASILAMBENA 6 863 7 230 7 411 7 802 6 786

PASIMASUNGGU 6 762 6 826 6 907 7 008 7 625

TAKA BONERATE 11 239 11 523 11 794 12 143 12 296 PASIMASUNGGU

TIMUR

6 416 6 436 6 498 6 524 7 307 BONTOSIKUYU 14 002 14 088 14 278 14 450 14 332

BONTOHARU 11 474 11 505 11 693 11 801 12 484

BENTENG 17 973 18 174 18 540 18 860 21 344

BONTOMANAI 15 914 16 080 13 425 13 642 12 226 BONTOMATENE 17 211 17 288 13 721 13 818 12 571

BUKI *) *) 6 723 6 778 6 125

KEPULAUAN SELAYAR

116 513 117 860 119 811 121 749 122 055

Sumber: Kepulauan Selayar Dalam Angka (BPS 2011)

Keterangan : *) = masih bergabung dengan kecamatan induk

C. Visi dan Misi Pembangunan Daerah Kabupaten Kepulauan Selayar a. Visi

Mengacu pada Visi RPJPD Kabupaten Kepulauan Selayar Tahun 2005-2025, RPJPD dan RPJM Propinsi Sulawesi Selatan, substansi RPJM Nasional 2010-2014, dinamika lingkungan strategis, aspirasi masyarakat dan pemerintah Kepulauan Selayar, serta visi misi Bupati/Wakil Bupati, maka ditetapkan Visi Pembangunan Kabupaten Kepulauan Selayar dalam RPJMD 2010-2015 sebagai gambaran realitas masa depan yang ingin dituju dalam kurun waktu 5 tahun ke depan adalah : “Selayar Sebagai Kabupaten Kepulauan Yang Maju, Sejahtera dan Religius”.

Visi ini memiliki makna sebagai berikut:

1. Maju dimaksudkan sebagai suatu kondisi dimana infrastruktur dan suprastruktur telah memadai, sumberdaya alam telah terkelola secara optimal, aksesibilitas dan interkoneksitas antar daerah dan antar wilayah kepulauan telah terbangun sehingga menempatkan Selayar sebagai Kabupaten

1. Maju dimaksudkan sebagai suatu kondisi dimana infrastruktur dan suprastruktur telah memadai, sumberdaya alam telah terkelola secara optimal, aksesibilitas dan interkoneksitas antar daerah dan antar wilayah kepulauan telah terbangun sehingga menempatkan Selayar sebagai Kabupaten