• Tidak ada hasil yang ditemukan

Reproduksi Tikus Putih (Rattus norvegicus)

2.3 Biologi dan Reproduksi Tikus Putih (Rattus norvegicus) .1 Klasifikasi dan Deskripsi Tikus Putih (Rattus norvegicus) .1 Klasifikasi dan Deskripsi Tikus Putih (Rattus norvegicus)

2.3.2 Reproduksi Tikus Putih (Rattus norvegicus)

Pubertas pada tikus betina tergantung dari tingkat pertumbuhan dan kematangan oosit pada ovarium, sedangkan pada jantan ditandai dengan turunnya testes ke dalam scrotum dan terjadinya siklus spermatogenik. Biasanya tikus betina mencapai dewasa kelamin pada umur 50-72 hari dan tikus jantan sekitar umur 40 hari (Hafez 1970). Data parameter normal fisiologi reproduksi dan biologi tikus disajikan pada Tabel 3.

Tabel 3 Parameter normal fisiologi reproduksi dan biologi tikus

Kriteria Nilai Lama/panjang siklus :

Fase 1 diestrus Fase 2 proestrus (awal) Fase 3 proestrus (akhir) Fase 4 estrus Fase 5 metestrus Durasi total siklus

Lama estrus

Waktu ovulasi Lama kebuntingan Jumlah anak perinduk Usia lepas sapih Usia pubertas

Plasenta Uterus

Kawin sesudah beranak

Berat organ :

(berat basah dalam g/100 g bobot badan) Testis (single) Ovary (single)

Lain-lain :

Berat dewas jantan Berat dewasa betina

Konsumsi makan per berat badan per hari

60 jam 60 jam 12 jam 10-20 jam 8 jam 4-5 hari 9-20 jam

8-11 jam sesudah estrus 21-23 hari 6-10 ekor 21 hari 6-8 minggu Diskoidal hemokorial 2 kornua, bermuara sebelum cervik 1-24 jam 0,05 0,005 300-400 g 250-300 g 10 g/100g/hari

Siklus birahi tikus berlangsung selama 4-5 hari dengan lama birahi 12 jam setiap siklus dan birahi terjadi pada malam hari. Birahi pada tikus betina banyak dipengaruhi oleh bau pejantan (Malole dan Pramono 1989). Smith dan Mangkoewidjojo (1988) menyatakan, bahwa pada umumnya tikus mulai kawin pada umur 8-9 minggu, tetapi disarankan mengawinkan hewan tersebut pada umur 10-12 minggu. Masa birahi terbagi empat periode yaitu proestrus, estrus, metestrus, dan diestrus. Masa kebuntingan tikus berlangsung 21-23 hari dan sejak 14 hari sudah terlihat adanya perubahan bentuk kelenjar ambing. Kebuntingan tikus dapat diketahui pada saat berumur 10-14 hari dengan meraba perut tikus. 2.4 Involusi Uterus

Involusi uterus adalah perbaikan uterus ke ukuran dan fungsi normal tidak bunting setelah partus (Hafez and Hafez 2000). Lamanya involusi uterus tergantung pada kemampuan kontraksi miometrium, eliminasi infeksi bakteri, dan regenerasi endometrium. Involusi uterus ini mengakibatkan lapisan luar dari desidua yang mengelilingi situs plasenta akan necrotic (layu/mati) (Sulistyawati 2009).

Perubahan uterus selama involusi uterus dapat dideteksi dengan melakukan palpasi daerah abdomen untuk meraba tinggi fundus uterus (TFU). Pada saat bayi lahir, fundus uterus setinggi pusat dengan berat 1000 gram. Hari ke-7 postpartus, TFU teraba pada pertengahan antara pusat dan simpisis pubis dengan berat 500 gram (Gambar 2). Setelah 2 minggu postpartus, TFU teraba di atas simpisis dengan berat 350 gram, dan 6 minggu postpartus fundus uterus mengecil (tidak teraba) dengan berat 50 gram.

Gambar 2 Tinggi fundus uterus selama proses involusi uterus (Sumber : Garrey dan Govan 1974 dalam Sulistyawati 2009).

Simpisis pubis

Perubahan yang terjadi pada uterus ini berhubungan erat dengan perubahan miometrium yang bersifat proteolitik. Perubahan normal uterus selama involusi pada wanita dapat dilihat pada Tabel 4. Involusi uterus terjadi melalui 3 proses yang bersamaan yaitu autolisis, atropi jaringan, dan kontraksi (efek oksitosin). Autolisis merupakan proses penghancuran diri sendiri yang terjadi di dalam otot uterus. Selama kehamilan, uterus akan membesar hingga 10 kali panjangnya dan 5 kali lebarnya dari ukuran normal. Setelah partus, enzim proteolitik akan memendekkan jaringan otot uterus tersebut hingga kembali ke ukuran normalnya (Sulistyawati 2009).

Tabel 4 Perubahan normal pada uterus selama involusi uterus

Involusi Uterus Tinggi Fundus Berat

Uterus

Diameter Uterus

Palpasi cervik

Plasenta lahir Setinggi pusat 1000

gram

12,5 cm Lembut/lunak

7 hari Pertengahan antara

pusat dan simpisis

500 gram 7,5 cm 2 cm

14 hari Tidak teraba 350 gram 5 cm 1 cm

6 minggu Normal 50 gram 2,5 cm menyempit

Sumber : Pusdiknakes 2003 dalam Sulistyawati 2009

Selama kehamilan jaringan uterus berproliferasi karena adanya estrogen dalam jumlah yang besar dan setelah partus jaringan uterus mengalami atropi sebagai reaksi terhadap penghentian produksi estrogen yang menyertai pelepasan plasenta. Selain perubahan atropi pada otot-otot uterus, lapisan desidua akan mengalami atropi dan terlepas dengan meninggalkan lapisan basal yang akan beregenerasi menjadi endometrium yang baru (Sulistyawati 2009).

Intensitas kontraksi uterus meningkat segera setelah bayi lahir. Hal tersebut diduga terjadi sebagai respon terhadap penurunan volume intrauterin yang sangat besar. Hormon oksitosin yang dilepas dari kelenjar hypofisis memperkuat dan mengatur kontraksi uterus, mengecilkan pembuluh darah, dan membantu proses homoestasis. Kontraksi dan retraksi otot uterus akan mengurangi suplai darah ke uterus. Proses ini akan membantu mengurangi bekas luka tempat implantasi plasenta dan mengurangi perdarahan. Luka bekas perlekatan plasenta memerlukan waktu 8 minggu untuk sembuh total (Sulistyawati 2009).

Selama 1-2 jam pertama postpartus, intensitas kontraksi uterus dapat berkurang dan menjadi teratur. Biasanya untuk mempertahankan kontraksi uterus

ini, disuntikan oksitosin secara intravena atau intramuskuler segera setelah kepala bayi lahir. Pemberian ASI segera setelah bayi lahir juga akan merangsang pelepasan oksitosin karena isapan bayi pada payudara (Sulistyawati 2009). Setelah beberapa bulan laktasi adenohipofisa kembali mengeluarkan hormon yang akan menstimulasi pematangan folikel di ovarium, menghasikan estrogen, dan kembali menginisiasi siklus reproduksi (Guyton 1961).

Selama periode involusi, uterus akan mengekskresikan cairan yang disebut dengan lokia. Lokia terdiri atas mukus, darah, sisa membran fetus, dan jaringan induk, serta cairan fetus. Pengeluaran lokia dan pengecilan ukuran uterus disebabkan oleh kontraksi miometrium yang terus menerus akibat hadirnya prostaglandin. Lokia dapat dibagi berdasarkan warna dan waktu keluarnya yaitu (1) lokia rubra/merah muncul pada hari pertama sampai hari ketiga postpartus. Lokia berwarna merah dan mengandung darah, jaringan sisa-sisa plasenta, serabut dari endometrium, dan korion, (2) lokia serosa muncul pada hari ketujuh sampai keempat belas postpartus. Lokia berwarna kekuningan atau kecoklatan dan terdiri dari sedikit darah dan lebih banyak serum dan juga leukosit, (3) lokia alba muncul setelah hari keempat belas postpartus. Lokia berwarna putih kekuningan dan lebih banyak mengandung leukosit, selaput lendir, sel epitel, dan serabut jaringan yang mati (Sulistyawati 2009; Suparyanto 2011). Setelah pengeluaran lokia selesai, permukaan endometrium akan mengalami re-epitelisasi dan siap untuk kembali ke siklus reproduksi normal (Guyton dan Hall 1997).

Bila uterus mengalami kegagalan dalam involusi disebut subinvolusi. Subinvolusi sering disebabkan oleh infeksi atau tertinggalnya sisa plasenta dalam uterus sehingga proses involusi uterus tidak berjalan dengan normal atau terhambat dan bila tidak ditangani dengan baik maka akan mengakibatkan perdarahan yang berlanjut (postpartus hemorage). Ciri-ciri subinvolusi diantaranya adalah pengembalian ukuran uterus tidak progresif, uterus teraba lunak, kontraksi uterus yang buruk, sakit pada punggung, nyeri pada pelvis yang persisten, perdarahan pervagina abnormal meliputi perdarahan segar, lokia rubra yang banyak dan terus menerus serta berbau busuk (Anonim 2004).

Pada tikus, involusi uterus hampir selesai pada hari ke-4 postpartus. Selama involusi normal, berat basah uterus pada hari ke-3 postpartus berkurang dari 3.1 g

menjadi 0.68 g dan total kolagen uterus berkurang dari 8.8 menjadi 1.8 (Woessner 1969b). Selama involusi postpartus, uterus kehilangan kolagen sebesar 85% dalam jangka waktu 4 hari (Harknes 1956; Woessner 1962). Ryan dan Woessner (1974) menyatakan bahwa hormon estradiol dapat mengurangi kolagenase pada uterus sehingga dapat menghambat kerusakan kolagen postpartus. Studi laboratorium menunjukan bahwa pemberian estradiol dalam dosis 1µg/hari secara nyata mengahambat proses perusakan kolagen uterus tikus pada saat involusi postpartus (Woessner 1969a), sedangkan pemberian progestron dengan dosis sebesar 20-40mg/hari hanya memiliki pengaruh yang kecil terhadap penghambatan kerusakan kolagen uterus postpartus (Woessner 1969b).

Tikus mengalami estrus pertama dalam waktu 48 jam postpartus, namun demikian, sebaiknya tikus tidak dikawinkan dalam masa tersebut supaya anak-anak yang sedang disusui tidak terlantar. Apabila estrus postpartus pertama tersebut tidak dimanfaatkan, tikus betina akan akan kembali birahi antara 2-4 hari sesudah penyapihan. Penyapihan anak tikus dilakukan pada umur 21 hari yaitu saat kira-kira berat anak tikus sudah mencapai 40-50 gram. Bila tikus betina bunting saat menyusui, maka masa kebuntingannya akan lebih lama 3-7 hari. (Malole dan Pramono1989).

Ovulasi pertama postpartus pada tikus akan menghasilkan corpora lutea (CL) dan akan dipertahankan sepanjang masa laktasi. CL tersebut akan menghasilkan progesteron. Jumlah progesteron yang dihasilkan oleh CL berkolerasi secara tidak langsung dengan peningkatan konsentrasi prolaktin. Peningkatan prolaktin ini merupakan dampak positif dari suckling effect (efek menyusui). Selain itu, prolaktin juga menyebabkan penghambatan pengeluaran gonadotropin sehingga mencegah pertumbuhan folikel dan ovulasi, akibatnya folikel akan mengalami degenerasi. Secara tidak langsung, penghambatan pertumbuhan folikel tersebut ditentukan oleh kekuatan efek menyusui. Setelah hari ke 16 laktasi, folikel yang sehat mulai tumbuh sejalan dengan penurunan isapan anak (McNeilly 1988).

BAB 3

Dokumen terkait