Table 65. Pengukuran Kinerja (eksemplar) Pelestarian Warisan Budaya Tahun 2016
Klasifikasi Indikator Kinerja Target Realisasi Capaian
Konservasi fisik bahan perpustakaan 10.015 10.415 104 % Reprografi bahan perpustakaan 16.709 16.710 100 % Transformasi digital bahan perpustakaan 12.940 12.940 100 %
Jumlah sasaran program 39.664 40.065 101 %
Dengan adanya perubahan revisi terhadap target capaian yang telah ditetapkan sebelumnya maka kinerja yang dihasilkan pada tahun 2016 telah melampaui target indikator kinerja hingga mencapai 101 % atau memiliki kategori penilaian “berhasil”. Keberhasilan yang diperoleh didukung dengan adanya pelaksanaan program tepat waktu dan pembangunan sarana prosedur kerja yang lebih mapan dan
terencana seperti tertibnya administrasi pekerjaan, penerapan pengendalian mutu (quality control) dan jaminan mutu (quality assurance) terhadap hasil (produk) pelestarian. Melalui jaminan mutu maka kegiatan yang telah direncanakan pada waktu tertentu dapat diimplementasikan secara sistematis sehingga diperoleh standar hasil pekerjaan yang telah ditetapkan. Jaminan mutu pelestarian yang saling terkait antar bagian memberikan petunjuk pekerjaan
kepada konservator terhadap metode yang semestinya dilakukan dengan sedikit melakukan percobaan (trial and error) pada tiap-tiap bahan perpustakaan yang akan dilestarikan.
Kendala yang muncul dalam pelaksanaan pencapaian kinerja berupa keterlambatan dalam pengadaan material bahan penunjang standar bahan baku pelestarian yang sebagian besar diproduksi di luar negeri dan diperoleh secara impor. Solusi yang dilakukan untuk mengatasi masalah tersebut adalah melalui penjadwalan ulang dan koordinasi pada pihak ketiga untuk mempercepat proses pengadaan bahan. Melakukan perencanaan kajian metode pelestarian dengan memanfaatkan kandungan lokal sehingga tidak selalu bergantung kepada produsen luar namun dapat meproduksinya sendiri. Mengingat perpusnas adalah
96
Bab 3 Akuntabilitas Kinerja
Gambar 27. Pelestarian Naskah Daerah
lembaga terbesar pelestarian warisan budaya maka kebutuhan pelaksanaan dapat dilakukan dari hulu ( m e n ci p t a k a n b a h a n b a k u ) hin gga ke hili r ( m e m a n f a a t k a n b a h a n b a k u ) . D e n g a n berkembangannya kesadaran masyarakat dan pecinta pelestarian warisan budaya yang tumbuh di Indonesia maka memproduksi bahan baku pelestarian dapat menciptakan industri kecil yang hanya memenuhi kebutuhan lembaga pelestarian di seluruh Indonesia. Salah satu program prioritas pelestarian sesuai dengan amanat Undang-Undang Perpustakaan mengatakan bahwa pemerintah memiliki wewenang untuk mengalih mediakan naskah kuno secara nasional yang menjadi
ikon daerah untuk dilestarikan dan didayagunakan. Jumlah naskah nusantara yang dimiliki oleh Indonesia adalah yang terbesar di dunia dengan berbagai karakter isi informasi dan bentuk fisik yang beragam. Pada tahun 2016 Perpusnas telah melestarikan naskah daerah yang terdapat di Museum Sang Nila Utama, Pekanbaru, Riau dan Museum Adityawarman, Sumatera Barat sebanyak 300 eksemplar baik diselamatkan dan dikembalikannya kondisi fisik koleksi analognya sehingga untuk jangka waktu yang sangat lama dapat bertahan sebagai identitas budaya bangsa Indonesia secara turun temurun dapat diwariskan pada generasi berikutnya kemudian hasil digitalnya dapat diakses kembali kepada pemustaka dengan mudah, kapan dan dimana saja.
Memory of The World (MOW) atau Ingatan Dunia UNESCO mempromosikan pelestarian dan akses pada warisan dokumenter budaya sebuah peradaban manusia. Tujuan utama dari program ini adalah untuk memastikan pelestarian, dengan cara yang paling tepat, dokumenter warisan yang memiliki arti penting bagi dunia dan mendorong pelestarian dokumenter warisan yang memiliki makna nasional dan regional. Dokumenter warisan dalam lembaga informasi seperti perpustakaan merupakan bagian utama dari memori bangsa di dunia dan mencerminkan keragaman bangsa, bahasa dan budaya. Isu melestarikan warisan ini telah menjadi sumber keprihatinan untuk spesialis dan metode yang sesuai menghindari terjadinya kerapuhan dan risiko kehilangan sumber informasi yang sangat penting. UNESCO sendiri telah mengembangkan instrumen standar pengaturan untuk memberikan dasar bagi perlindungan warisan dokumenter dunia, termasuk dalam bentuk digital. Perlindungan dapat secara efektif dicapai melalui kebijakan strategis yang berkontribusi terhadap peningkatan kerangka kerja legislatif dan implementasi nasional di negara anggota.
Perpustakaan Nasional sebagai perwakilan negara anggota yang ikut membangun komunitas MOW mempromosikan tentang pentingnya melestarikan warisan budaya sebagai kegiatan yang merupakan kebijakan International yang di payungi UNESCO. Setiap Perpustakaan yang terdapat di setiap negara memiliki kegiatan Ingatan Dunia. Terlebih jumlah naskah yang menjadi koleksi Perpustakaan nasional sangat bernilai dan berkaitan erat dengan Negara-negara lain.
Pada tahun 2013 naskah Babad Diponegoro dan naskah Negarakertagama sebagi koleksi perpusnas telah tercatat sebagai Ingatan Dunia (MOW). Untuk tahun 2016 program Ingatan Dunia yang dilakukan oleh perpusnas yaitu dengan melaksanakan identifikasi, registrasi, dan pembahasan untuk diajukan sebagai Ingatan Dunia.
Koleksi naskah yang dimiliki Indonesia harus disegera dihak patenkan sebagai naskah yang berasal dari Indonesia, agar budaya dan karya anak bangsa Indonesia tidak lagi diakui oleh negara lain. Pada tahun
2016 perpusnas telah melakukan regis trasi (menominasikan) dan mengusung naskah Panji koleksi Perpusnas dari dua nominasi lain yang telah didaftarkan dari Indonesia dan total 62 nominasi yang diajukan seluruh dunia sebagai Ingatan Dunia.
Upaya yang dilakukan oleh perpusnas saat ini dengan mengajukan joint nomination antara lembaga international lain yang juga memiliki naskah tersebut seperti Perpustakaan Nasional Malaysia, Thailand, Kamboja, Belanda dan British Library.
Gambar 28. Naskah Negarakertagama dan Babad Diponegoro Sebagai Ingatan Dunia
Gambar 29. Naskah Panji Koleksi Perpusnas
98
Bab 3 Akuntabilitas Kinerja
Indonesia (33.519) naskah
Negara lain (1.843) naskah Jerman (1.350) naskah
Inggris (1.388) naskah Malaysia (3.000) naskah
Belanda (17.397) naskah
Manfaat yang sangat besar pada strategi pelestarian warisan budaya dokumenter ketika naskah panji dapat masuk pada MOW UNESCO dikarena tidak hanya masyarakat Indonesia mengetahui tentang identitas budaya mereka namun juga turut mempromosikan adanya hasil kebudayaan yang tinggi kepada dunia internasional. Jumlah pelestarian naskah nusantara sudah mencapai target 100 % terpenuhinya program pelestarian naskah kuno, namun yang menjadi kendala adalah nilainya masih kecil jika dibandingkan dengan jumlah total koleksi naskah secara nasional yang dimiliki Indonesia sebesar 33.519 eksemplar.
Grafik 15. Persentase Sebaran Naskah di Seluruh Dunia
Kendala kecilnya jumlah pelestarian yang dilakukan oleh perpusnas dapat dilakukan dengan membangun jaringan nasional pelestarian dengan berkoordinasi pada dinas maupun lembaga informasi lainnya sehingga jumlah semakin besar. Dengan melihat data yang telah dihimpun pada Survey Risiko Preservasi Koleksi Tahun 2013 terhadap keseluruhan kerusakan koleksi perpusnas diketahui bahwa sebanyak 73,52 % atau 387.514 eksemplar berada dalam kategori kondisi
rusak dengan jumlah jenis penyebab kerusakan karena tingkat keasaman koleksi yang tinggi. Target perbaikan dan pelestarian koleksi pada tahun 2016 telah mencapai 10,3 % atau 40.065 eksemplar. Pemecahan masalah yang dapat dilakukan akibat terjadinya penghematan anggaran sehingga merevisi target capaian adalah dengan melakukan preservasi preventif berupa pemeliharaan dan menjaga kondisi koleksi dari kerusakan dan kehancuran.
Grafik 16. Enam Indikator Pelestarian Preventif
Dengan menjaga enam indikator utama kondisi lingkungan penyimpanan ruang koleksi maka akan menurunkan jumlah koleksi yang nantinya akan mengalami kerusakan lebih lanjut atau dengan arti lain jumlah koleksi yang memerlukan penanganan pelestarian kuratif (target) akan semakin kecil.