1. Joko Susilo (Warga biasa yang tinggal didesa Marindal I)
6.3. Interpretasi Data
6.3.11. Resolusi Konflik
Dalam upaya penyelasaian konflik yang terjadi didesa Marindal I mengalami perdebatan yang cukup panjang dan hampir tidak menemukan jalan keluar karena masing-masing pihak saling mengklaim. Masing-masing pihak yang bertikai merasa bahwa merekalah yang benar dan mempunyai hak atas tanah garapan. Karena adanya surat pengajuan yang ditujukan kepada DPRD, maka akhirnya DPRD melayangkan surat yang ditujukan kepada Bupati kabupaten Deli Serdang. Adapun isi surat yang dilayangkan adalah :
- Berhubungan dengan akan berakhirnya masa HGU PTPN II pada tahun 2000 - Masyarakat pensiunan desa Marindal I mengatas namakan pengurus ranting
Persatuan Punakaryawan Republik Indonesia Kecamatan Patumbak mengajukan permohonan agar diberikan hak atas tanah dan tetap menempati rumah-rumah yang berda diareal HGU.
- UU no. 5 tahun1960 tentang agraria dan keputusan Mentri tentang pedoman pemindah tanganan
- Hasil pertemuan komosi I DPRD dengan pihak Pemda Kabupaten Deli Serdang dan pihak yang terkait serta hasil peninjauan langsung ke lapangan.
Dari isi surat yang dilayangkan, maka DPRD meminta agar Bupati tidak jadi mengeluarkan surat yang menyatakan perpanjangan HGU PTPN II tepatnya didaerah areal yang diduduki/ditempati oleh para pensiun karyawan yang pada dasarnya turun temurun dan benar-benar mendistribusikan secara tegas kepada mereka. Begitu juga dengan mereka para pensiun yang tidak mendapatkan pertapakan tanah agar
diberikan. Selanjutnya bagi mereka para pensiun yang menyebar diluar areal lahan PTPN II, juga harus diberikan pertapakan tanah diareal eks perkebunan PTPN II.
Penyelesaian kasus ini tidak hanya sampai dilayangkannya surat dari DPRD ke Bupati saja, tetapi beberapa instansi yang terkait juga turut serta menyelesaikan konflik tanah yang berada didesa Marindal I, tepatnya konflik Lahan PTPN II didesa Marindal I. Adapun instansi yang terkait dalam penyelesaian kasus ini adalah :
1. Gubernur
Melayangkan surat kepada Direktur Utama PTPN II, yang meminta agar tidak menggusur para pensiun karyawan PTPN II yang masih menempati rumah dinas sebelum ada penyelesaian yang manusiawi.
2. BPN
Melayangkan surat ke Bupati Deli Serdang yang menjelaskan bahwa menurut penelitian yang dilakukan BPN ternyata diareal lahan eks perkebunan PTPN II Marindal I dan II telah diterbitkan Surat Ketereangan Tanah (SKT) kepada penduduk/rakyat setempat. Namun menurut BPN, SKT tersebut akan mempersulit pekerjaan Tim B Plus sebagai penengah dalam penyelesaian kasus ini. Masyarakat menganggap bahwa mereka telah memiliki bukti yang kuat atas hak tanah.
3. Kepala Desa
Memberikan tawaran solusi kepada Panitia Tim B Plus dalam penyelesaian konflik tanah didesa Marindal yaitu :
- Adanya keputusan bahwa permohonan perpanjangan HGU PTPN II tidak diperpanjang
- Adanya keputusan bahwa tanah eks perkebunan diberikan kepada karyawan atau pensiunan karyawan, penggarap yang tidak bermasalah dengan yang lainnya, mantan anggota DPRD dan pegawai PEMDA tingkat II, pemerintah desa Marindal I untuk kepentingan sosial dan kepentingan umum.
4. Tim B Plus
Sebagai penengah dalam penyelesaian konflik tanah PTPN II, maka tim B Plus melakukan langkah-langkah sesuai pedoman sebagai petunjuk penyelesaian, antara lain :
- Memperhatikan segala keputusan sampai ada bukti-bukti lain yang lebih kuat - Melakukan penelitian terhadap keaslian data dan peta yang dilampirkan
masyarakat dalam mengajukan tuntutannya. Apabila data yang diajukan oleh masyarakat memiliki kebenaran dan belum ada penyelesaian dari PTPN II, maka tanah tersebut dikeluarkan dari areal HGU, begitu juga sebaliknya. - Tuntutan masyarakat yang dikabulkan harus memperhatikan ketentuan yang
berlaku
- Menyelesaikan permasalahan/tuntutan/garapan yang ada diatasnya terhadap tanah yang dikuasi PTPN II diluar sertifikat HGU.
- Diwajibkan kepada PTPN II Memberikan ganti rugi atau tempat penampungan bagi penggarap apabila tanah-tanah yang dikuasai PTPN II masuk dalam sertfikat HGU. Apabila hal tersebut tidak direalisasikan maka
areal tersebut dikecualikan dari perpanjangan HGU dengan memperhatikan penyelesaian sebelumnya.
- Terhadap tanah yang dituntut oleh masyarakat dengan dasar keputusan pemerintah telah dinyatakan tidak dilindungi oleh Undang-Undang, tetapi dari hasil penelitian Tim B Plus ternyata tanah tersebut dilindungi oleh Undang-Undang, maka keputusan pemerintah tersebut diusulkan untuk direvisi
- Berdasarkan keputusan pemerintah dan dinyatakan dilindungi oleh Undang-Undang terhadap tanah yang dituntut, maka tanah tersebut dikeluarkan dari areal HGU PTPN II.
- Menolak segala tuntutan masyarakat terhadap tanah yang tidak jelas letak dan dasar tuntutannya
- Terhadap tanah-tanah yang terbukti dilindungi oleh Undang-Undang, sementara subjek hak yang menuntut saat ini bukan orang yang ditunjuk dalam Undang-Undang tersebut, maka tanah tersebut dikeluarkan dari areal HGU PTPN II dan diserahkan kepada pemerintah daerah setempat.
- Terhadap tanah-tanah yang letaknya tumpang tindih apabila berdasarkan keputusan panitia Tim B Plus dapat dikeluarkan dari HGU PTPN II, maka tanah tersebut diberikan kepada penuntut yang dapat menunjukan keaslian atas haknya, tetapi bila ada pihak lain mengajukan keberatan terhadap keputusan tersebut, maka untuk menentukan pemilik yang sebenarnya penyelesaian diserahkan kepada lembaga peradilan
- Terhadap tanah yang dilindungi undang-undang tetapi PTPN II menguasai tanah tersebut dengan cara memberikan ganti rugi kepada penggarap, tetapi
jika terbukti ada suatu unsur pemaksaan dalam pelaksanaan ganti rugi maka tanah tersebut dikeluarkan dari areal HGU PTPN II.
Dari hasil-hasil pengolahan data atas permohonan/tuntutan garapan dari kelompok-kelompok penggarap ditanda tangani oleh panitia kecil yang dibentuk oleh Tim Panitia B Plus. Setelah selesai melakukan pengolahan data, kemudian Tim B Plus membuat berita acara penelitian terhadap penyelesaian tuntutan yang memuat 1. Riwayat tanah yang dituntut
2. Fakta dilapangan 3. Pertimbangan/analisis 4. Kesimpulan
Panitia Tim B Plus dibentuk berdasrkan keputusan Gubernur Sumatera Utara No. 593.4/065/2000 tanggal 11 Februari 2000 yaitu :
1. Kepala Kantor Wilayah BPN Sumut sebagai ketua merangkap anggota
2. Asisten ketataprajaan Sekretaris Daerah Sumut sebagai wakil ketua merangkap anggota
3. Staf khusuh Gubernur Bidang Pertanahan sebagai wakil ketua merangkap anggota 4. Bupati sebagai anggota
5. Kadis Perkebunan SUMUT sebagai anggota
6. Inspektur pembantu Bidang Kekayaan mewakili Kepala Inspektorat SUMUT sebagai anggota
7. Kepala Biro Tata Pemerintahan Umum Sekretariat Daerah Sumut sebagai anggota 8. Kepala Bidang Hak Atas Tanah Kantor Wilayah BPN Sumut sebagai anggota 9. Kepala Penatagunaan Tanah Kantor Wilayah BPN Sumut sebagai anggota
10.Kepala Bidang Pengaturan Penguasaan Tanah Kanto Wilayaj BPN Sumut sebagai anggota
11.Kepala Bidang Pengukuran dan Pendaftaran Tanah Kantor Wilayah BPN Sumut sebagai anggota
12.Kepala Kantor Pertanahan Kabupaten sebagai anggota 13.Camat sebagai anggota
14.Kepala Seksi Pengurusan Hak Atas Tanah Badan Hukum Kantor Wilayah BPN Sumut Sekretaris merangkap anggota
15.Kepala seksi Penyelesaian Masalah Pertanahan Kantor wilayah BPN Sumut sebagai Wakil sekretaris merangkap anggota.