• Tidak ada hasil yang ditemukan

Respon Terhadap Keluarga Besar

BAB IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

B. Hasil Penelitian Dan Pembahasan

4. Respon Terhadap Keluarga Besar

Kedua subjek juga memiliki respon yang berbeda terkait dengan

sikap dari keluarga besar.

Subjek 1 :

Tema Subjek 1

1. Mendapat penolakan dari keluarga besar 2. Mengabaikan penolakan dari keluarga besar

3. Menghindari Penolakan dari keluarga besar

4. Menyadari penolakan dari keluarga besar

5. Merasa bahwa keluarga inti juga tidak menyukai keluarga besar

6. Ketidaknyamanan dengan keluarga besar terkait dengan aturan dari agama lama

7. Kekecewaan terkait dengan sikap keluarga besar yang fanatic

8. Merasa tersinggung terkait dengan agama dari pacar 9. Menahan diri kemudian tunduk kepada otoritas orang tua

dan budaya untuk menghindari masalah

177 – 183 183 – 185, 436 – 438, 632 - 638 316 – 319, 380 – 385 473 – 487, 647 - 649 329 – 335 336 – 340 342 – 346, 347 – 351, 372 - 379 367 - 371 408 – 424 448 – 460, 656 - 661

Subjek 1 mengalami penolakan dari keluarga besar terkait dengan

keputusannya untuk pindah agama. Hal ini disebabkan karena keluarga

besar dari subjek 1 sangat fanatic dengan agama sebelumnya. Penolakan

dari keuarga besar akibat pindah agama tersebut, perahan – lahan dapat memunculkan perasaan tidak aman ketika berhadapan dengan keluarga

besar (Nugroho, 2008) Untuk mengatasi hal tersebut, subjek seringkali

berusaha mengabaikan sindiran dan kata – kata sarkastik yang diutarakan oleh keluarga besar subjek.

di cemooh sama saudara – saudaraku yang lain gitu, mereka

menganggap orang tuaku tuh gak bisa mendidik aku dan lain sebagainya, ya mungkin emang iya sih ya, tapi aku sebenarnya sih gak terlalu memikirkan mereka soalnya gak terlalu deket gitu yang penting keluarga intiku tuh mendukung,

Dari hal tersebut subjek mampu menghadapi permasalahan tersebut karena

subjek mendapatkan penerimaan dan dukungan dari keluarga inti subjek.

Bahkan dalam beberapa kasus, keluarga inti subjek tidak terlalu suka

dengan sikap dari keluarga besar. Dukungan dan penerimaan tersebut

membuat subjek merasa berharga dan memampukan subjek untuk

mengabaikan penolakan dari keluarga besar.

Subjek juga seringkali menghindari bahan pembicaraan dengan

agama. Bahkan dalam beberapa kasus subjek berusaha untuk tidak terlalu

sering bertemu dengan keluarga besarnya. Hal ini disebabkan karena

subjek nampaknya tidak ingin untuk memulai pertengkaran dengan

keluarga besar subjek. Orang tua subjek, juga menasihati subjek agar

subjek tidak usah membantah sindiran dari keluarga besar subjek. Hal ini

terkait dengan adat istiadat dari suku Jawa yang diyakini oleh keluarga inti

subjek yakni bahwa orang yang berusia lebih muda tidak baik jika

membantah orang yang lebih tua.

aku sih maunya jawab gitu ya, nek di, nek dinasehatin ki aku maunya jawab ngono lho put tapi kan kalau orang jawa gak boleh gitu to put, kalau dinasehatin ki ojo njawab ngono, dirungokke wae,

Dari pertanyaan tersebut dapat diketahui bahwa subjek sebenarnya sangat

ingin untuk membantah sindiran dari keluarga besar. Namun demikian

didikan dari orang tua subjek menyatakan bahwa subjek tidak

diperkenankan untuk membantah hal tersebut untuk menghindari masalah

yang lebih pelik lagi.

Selain hal tersebut, subjek juga merasa bahwa keluarga besar

subjek sangat fanatik dan mengekang subjek dalam berperilaku sehari –

hari.

waktu awal – awal kuliah juga ngerasa gak nyaman dan orang

saking fanatiknya itu sampe – sampe aku di rumah aja misale lagi panas banget aku harus pake celana panjang misale untuk tidur aku pake celana kolor yang dibawah lutut gitu, dan yang sampe

kayak gitu – gitu lah

Bahkan, subjek sempat merasa sangat tertekan dengan perilaku dari

keluarga besar yang terlihat dari :

jadi aku terpaksa tinggal di situ kira – kira tiga bulan gitu dan rasanya itu

tersiksa banget, tersiksanya itu karena aku gak bebas ngapa – ngapain,

aku gak bebas pulang malem, pulang jam 7 itu aku udah di tanyain

ngapain aja dan lain – lain, trus aku ditanyain ak sholat apa gak, trus aku

gak sholat kenapa kalau maghrib dan lain – lain rasanya ya gak nyaman

aja pengen cepet – cepet pindah dari situ,

Hal tersebut semakin mengembangkan sikap antipati pada diri subjek

terhadap keluarga besar subjek. Sesuai dengan yang diungkapkan oleh

Heirich (2007), pindah agama memiliki makna dramatis karena individu

kemudian menentang secara kuat, segala kegiatan dan struktur kognitif di

agama yang lama. Perasaan tersiksa dalam diri subjek timbul karena

subjek berusaha untuk menentang kebiasaan dan keyakinannya yang lama,

dan berusaha untuk menggantinya dengan yang baru. Sikap keluarga besar

subjek yang fanatik membuat subjek merasa tidak nyaman, sehingga

subjek mengalami pergolakan batin, sebagai akibat usaha untuk

Keluarga besar subjek juga sempat menyinggung bahwa keputusan

subjek untuk pindah agama disebabkan karena pacar subjek yang memiliki

agama yang berbeda dengan subjek. Subjek sendiri telah menyatakan

bahwa keputusannya untuk pindah agama memang benar – benar berasal dari keputusan pribadi subjek.

Walaupun keluarga besar terus – menerus menunjukkan sikap penolakan, namun perlahan – lahan subjek menyadari bahwa subjek harus menerima sikap penolakan dari keluarga besar sebagai konsekuensi atas

keputusannya untuk melakukan pindah agama. Hal ini sesuai dengan apa

yang diungkapkan oleh Bastaman (2007) yang menyatakan bahwa

penerimaan dan sikap yang tepat atas kejadian buruk dapat menuntun

kepada penemuan makna. Ditambah lagi dengan dukungan dari keluarga

besar membuat subjek mampu mengatasi konfliknya dengan keluarga

besar.

nah itu sih sebabnya aku sih paham karena mereka agama islamnya kuat banget, fanatic banget dan itu pun karena aku didukung sama orang tua ku,

Subjek 2 :

Tema Subjek 2

1. Heran dengan sikap keluarga besar yang sudah mengetahui subjek tidak beragama Muslim

2. Mendapat penerimaan dari keluarga besar terkait

412 – 432 432 – 438,

455 – 468 471 – 473,

kepindahan agama

3. Merasa lebih dekat dengan keluarga besar ayah

4. Menyadari bahwa keluarga besar Ayah taat menjalankan ibadah agama sebelumnya

515 - 526 478 – 493,

572 - 579 542 – 551

Subjek 2 merasa lebih dekat dengan keluarga besar ayah daripada

keluarga besar ibu. Hal ini nampaknya disebabkan karena subjek merasa

lebih dekat dengan ayah daripada dengan ibu. Selain itu, juga disebabkan

karena keluarga besar ibu berada di luar pulau Jawa sehingga lebih jarang

untuk bertemu.

Subjek berusaha menutupi informasi soal kepindahan agamanya

tidak hanya dari ayah tetapi juga dari keluarga besar ayah. Namun subjek

merasa heran karena nampaknya keluarga besar ayah, telah mengetahui

bahwa subjek tidak lagi memiliki agama yang sama dengan sang ayah.

Bahkan, keluarga besar ayah subjek tidak terlalu terganggu dengan hal

tersebut.

Iya aku kaget, kupikir maksudnya kupikir yang ada di dalam pikiran neneku tuh aku muslim gitu kan karena aku Islam, lha terus ternyata pas aku cerita begitu, lha terus kamu gimana, nanti mama gimana, berarti kan maksudnya nenekku juga agak sedikit paham kalau aku bukan muslim gitu, bukan Islam gitu, makanya trus aku kaget,

Subjek juga semakin heran dengan hal tersebut disebabkan karena

keluarga besar ayah subjek pada dasarnya merupakan keluarga besar yang

taat beribadah.

Dengan demikian sikap dari keluarga besar ayah subjek

nampaknya tidak terlalu mempengaruhi subjek terkait dengan keputusan

subjek untuk pindah agama.

Dokumen terkait