• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.7 Respon Risiko

Respon risiko merupakan tindakan yang dilakukan untuk dapat mengurangi atau mengatasi risiko yang memberikan dampak negatif dari pemeliharaan gedung. Beberapa strategi dalam menentukan respon risiko adalah sebagai berikut (PMBOK,2004):

1. Menghindari Risiko

Menghindari risiko merupakan cara dari manajemen pengelola gedung untuk dapat menghilangkan atau mengurangi risiko yang merugikan dan melindungi gedung dari dampak risiko.

2. Memindahkan Risiko

Memindahkan risiko artinya mengganti penerima dampak negatif yang didapat kepada pihak ketiga. Strategi memindahkan risiko ini dilakukan apabila pemiik gedung memiliki anggapan akan kesulitan dalam mengantisipasi risiko yang mungkin terjadi beserta dampaknya.

3. Mengurangi Risiko

Mengurangi risiko dilakukan apabila biaya untuk menangani risiko itu sendiri masih lebih rendah dari risiko tersebut. Beberapa cara untuk mengurangi risiko seperti memberikan alternatif pilihan pekerjaan, merubah metode kerja atau waktu pekerjaan.

4. Menerima risiko

Menerima risiko dilakukan apabila risiko yang ada diketahui biaya penanganannya lebih besar dari risiko itu sendiri akan tetapi pihak pemilik gedung mampu untuk mangani risiko yang terjadi.

5. Membagi Risiko

Memabgi risiko dilakukan karena biaya penanganan risiko beserta dampaknya hampir sama. Risiko dibagi atau didistribusikan kepada pihak yang lebih mampu untuk menangani risiko tesebut dengan biaya lebih kecil.

6. Mengabaikan Risiko

Mengabaikan risiko dilakukan karena diketahui dampak dari risiko yang terjadi sangat kecil dimana proses didalam suatu organisasi serta prosedur pemeliharaan gedung yang baik dapat menmperkecil risiko tersebut.

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Jenis dan Pendekatan Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan pendekatan deskriptif. Metode penelitian kuantitatif digunakan untuk meneliti pada populasi atau sampel tertentu, pengumpulan data menggunakan analisis bersifat kuantitatif dengan tujuan untuk menguji hipotesis yang telah ditetapkan. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif dengan tujuan untuk mendeskripsikan objek penelitian ataupun hasil penelitian.

3.2 Lokasi Penelitian

Lokasi yang dijadikan objek penelitian adalah Gedung Kantor Badan Pengelola Keuangan Daerah Kota Pematangsiantar. Gedung ini dimiliki oleh Pemerintah Kota Pematangsiantar dan dikelola oleh Badan Pengelola Keuangan Daerah. Gedung ini berlokasi di Jalan Merdeka Nomor 6, Proklamasi, Siantar barat, Kota Pematangsiantar, Sumatera Utara.

Gambar 3.1 Kantor Badan Pengelola Keuangan Daerah Kota Pematangsiantar

3.3 Populasi dan Sampel

Menurut Sugiyono (2007) populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas obyek/subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya.

Sedangkan sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki populasi. Apa yang dipelajari dari sampel, kesimpulannya akan diberlakukan untuk populasi. Untuk itu sampel yang diambil dari populasi harus betul-betul representatif.

Penelitian ini menggunakan purposive sampling, yaitu pengambilan sampel yang berdasarkan pada kemampuan dan pengetahuan responden yang diyakini dapat memberikan jawaban sesuai dengan topik penelitian (Sugiyono,2007).

Sampel dari penelitian ini merupakan pegawai gedung kantor yang menggunakan dan bertanggung jawab atas pemeliharaan gedung kantor. Untuk menentukan jumlah sampel digunakan metode Slovin dengan toleransi kesalahan 5%. Semakin kecil toleransi kesalahan, semakin akurat sampel menggambarkan populasi.

Misalnya, penelitian dengan batas kesalahan 5% berarti memiliki tingkat akurasi 95%.

Dimana:

n = jumlah sampel N = jumlah populasi

E = batas toleransi kesalahan (error tolerance).

𝑛 = 31

1 + 31 Γ— 0.052 = 28.77 β‰ˆ 28

( Jumlah populasi sebanyak 31 orang diambil dari data struktur organisasi ) Maka dengan menggunakan rumus Slovin jumlah sampel atau responden pada penelitian ini adalah sebanyak 28 orang.

Dari hasil penyebaran kuesioner yang dlakukan kepada 28 responden, diperoleh respon atau jawaban sebanyak 21 kuesioner dengan tingkat pengembalian sebesar 75%.

𝑛 = 𝑁

1 + 𝑁𝑒2

3.4 Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data adalah cara-cara yang akan digunakan untuk mengumpulkan data, melalui survey yang dilakukan pada lokasi penelitian. Data yang digunakan pada penelitian ini terdiri dari dua, yaitu:

5.1 Data Primer

Pendekatan untuk pengumpulan data primer pada penelitian ini adalah dengan menggunakan kuesioner. Kuesioner merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara memberi seperangkat pertanyaan tertulis kepada responden untuk dijawabnya. Serta merupakan teknik pengumpulan data yang efisien bila peneliti tahu pasti variabel yang akan diukur dan tahu apa yang diharapkan dari responden (Sugiyono 2012).

2. Data Sekunder

Sugiyono (2012) mendefinisikan data sekunder adalah sumber data yang diperoleh dengan cara membaca, mempelajari dan memahami melalui media lain yang bersumber dari literatur, buku-buku, dokumen perusahaan, serta sumber-sumber lain yang berkaitan dengan penelitian ini.

3.5 Variabel Risiko

Dari pengkajian studi literature didapatkan variabel-variabel risiko teknis yang biasa terjadi dalam pemeliharaan proyek konstruksi gedung. Variabel-variabel risiko dikelompokkan dalam empat bagian yaitu risiko force majeure, risiko material dan tenaga kerja, risiko manajemen dan risiko pemeliharaan.

Tabel 3.1 Variabel-variabel Risiko Berdasarkan Referensi Jenis Risiko Variabel Risiko Sumber Referensi Force majeure Gempa Contractor All Risk (CAR)

Banjir Contractor All Risk (CAR)

Kebakaran Contractor All Risk (CAR)

Kerusuhan/ huru-hara Iman Soeharto (2001)

Badai Iman Soeharto (2001)

Cuaca tidak menentu Iman Soeharto (2001) Tersambar petir Iman Soeharto (2001) Risiko material

dan tenaga kerja

Kurang tersedia jumlah tenaga ahli

Iman Soeharto (2001)

Produktifitas tenaga kerja rendah

Iman Soeharto (2001) Kenaikan harga material Touran,Paul and Scott

(1994)

Kesalahan estimasi biaya Iman Soeharto (2001) Kurangnya kontrol dan 3.6 Skala Pengukuran Penelitian

Kriteria skala yang digunakan dalam memberi penilaian potensi probabilitas dan dampak risiko terhadap waktu dan biaya di dalam kuesioner adalah skala likert. Berdasarkan data PMBOK, 2004 asumsi kriteria skala penilaian adalah:

Tabel 3.2 Skala Nilai Probabilitas Risiko (Frekuensi)

No. Skala Keterangan

1 Sangat Jarang (SJ) Jarang terjadi, hanya pada kondisi tertentu (Kemungkinan Terjadi risiko 0-10%) 2 Jarang (J) Kadang terjadi pada kondisi tertentu

(Kemungkinan Terjadi risiko 0-10%)

3 Cukup (C) Terjadi pada kondisi tertentu

(Kemungkinan Terjadi risiko 0-10%) 4 Sering (S) Sering terjadi pada kondisi tertentu

(Kemungkinan Terjadi risiko 0-10%) 5 Sangat Sering (SS) Selalu terjadi pada setiap kondisi tertentu

(Kemungkinan Terjadi risiko 0-10%) Sumber: Duffeld (2003)

Tabel 3.3 Skala Nilai Dampak Terhadap Biaya

Nomor Skala Keterangan

1 Sangat Rendah (SR) 0-25 Juta

2 Rendah (R) 25-50 Juta

3 Sedang (S) 50-100 Juta

4 Tinggi (T) 100-200 Juta

5 Sangat Tinggi (ST) 200-400 Juta

Sumber: Knight & Frayek (2002)

Tabel 3.4 Level Risiko

Simbol Level Risiko Keterangan

H Risiko Tinggi Pengamatan secara rinci oleh pimpinan S Risiko Signifikan Ditangani oleh Manajer Proyek M Risiko Sedang Risiko rutin, ditangani di tingkat kontraktor

L Risiko Rendah Risiko rutin, ada dianggaran pelaksanaan poyek Sumber: Duffeld (2003)

3.7 Uji Validitas dan Reabilitas

Untuk menguji instrument penelitian berupa variabel, diperlukan instrumen yang valid dan reliable. Validitas menunjukan ketepatan dan kecermatan alat ukur dalam melakukan fungsi ukurnya. Alat ukur dalam pengujian validitas suatu kuesioner adalah angka hasil korelasi antara skor pernyataan dan skor keseluruhan pernyataan responden terhadap informasi dalam kuesioner. Reabilitas menunjukan hasil pengukuran konsisten walau digunakan mengukur berkali-kali. Pengujian ini juga menggunakan SPSS 23.0.

3.8 Proses Pengolahan Data

Data yang telah dikumpulkan dari kuesioner utama kemudian dilakukan analisis untuk mendapatkan data yang dapat mewakii beberapa responden menggunakan Serverity Index (SI). Rumus Serverity Index adalah sebagai berikut:

SI = βˆ‘4𝑖=0π‘Žπ‘–π‘₯𝑖

4 βˆ‘4𝑖=0π‘₯𝑖(100%)

Dimana:

ai : Konstanta penilaian xi : Frekuensi responden

Dengan,

x0, x1, x2, x3, x4 adalah respon frekuensi responden a0 = 0; a1 = 1; a2 = 2; a3 = 3; a4 = 4

Maka,

x0 : Frekuensi responden sangat jarang/sangat rendah dari survey, maka a0=0 x1 : Frekuensi responden jarang/rendah dari survey, maka a1 = 1

x2 : Frekuensi responden cukup/sedang dari survey, maka a2 = 2 x3 : Frekuensi responden sering/tinggi dari survey, maka a3 = 3

x4 : Frekuensi responden sangat sering/sangat tinggi dari survey, maka a4 = 4

Setelah mendapatkan nilai SI, kemudian dilanjutkan dengan mengkategorikan risiko berdasarkan nilai SI yang didapat. Menurut Majid dan McCaffer, 1997 besaran nilai SI tersebut dapat dikategorikan sebagai berikut:

Sangat Jarang/Rendah (SJ/SR) : 0,00 ≀ SI < 12,5 Jarang/Rendah (J/R) : 12,5 ≀ SI < 37,5 Cukup /Sedang (C/S) : 37,5 < SI < 62,5 Sering/Tinggi (S/T) : 62,5 < SI < 87,5 Sangat Sering/ Tinggi (SS/ST) : 87,5 < SI < 100

Hasil yang didapat mewakili beberapa responden dalam bentuk kategori SI dari masing-masing variabel risiko selanjutnya dilakukan perubahan kedalam skala likert dalam rentang nilai 1 sampai dengan 5 agar dapat dilakukan analisis risiko menggunakan matriks probabilitas dan dampak. Skala penilaian probabilitas risiko dan skala penilaian dampak risiko terhadap biaya waktu dapat dilihat sebagai berikut:

Tabel 3.5 Skala Penilaian Probabilitas Risiko (P)

Nomor Skala Keterangan

1 Sangat Jarang (SJ) 1

2 Jarang (J) 2

3 Cukup (C) 3

4 Sering (S) 4

5 Sangat Sering (SS) 5

Tabel 3.6 Skala Penilaian Dampak Risiko Terhadap Biaya dan Waktu (I)

Nomor Skala Keterangan

1 Sangat Rendah (SR) 1

2 Rendah (R) 2

3 Sedang (S) 3

4 Tinggi (T) 4

5 Sangat Tinggi (ST) 5

Dilakukan perkalian P X I oleh masing-masing variabel risik yang ada kemudian dilakukan pemplotan nilai P x I kedalam table matriks probabilitas dan kemudian dianalisis untuk menghasilkan suatu tingkatan risiko untuk selanjutnya didapatkan respon risiko. Metode analisis yang digunakan pada penelitian ini adalah sebagai berikut:

Sumber: PMBOK

Gambar 3.2 Matriks Probabilitas dan Dampak

Ada tiga peringkat risiko, yaitu:

Tabel 3.7 Peringkat Risiko No. Simbol Level Risiko

1 H Risiko Tinggi

2 M Risiko Sedang

3 L Risiko Rendah

Peringkat risiko yang didapat berdasarkan penilaian yang akan diberikan respon risiko adalah risiko yang memiliki peringkat risiko tinggi. Hal ini dilakukan karena risiko tinggi memiliki dampak yang signifikan dan sangat mungkin terjadi.

3.9 Respon Risiko

Setelah risiko dominan didapatkan kemudian untuk mengetahui penyebab terjadinya risiko beserta respon risiko yang akan diberikan perlu dilakukan wawancara kepada responden yang telah dilakukan pemilihan sebelumnya agar dapat mengetahui respon risiko yang efektif dan optimal berdasarkan tiga pertimbangan yaitu dampak risiko, biaya penanganan risiko dan kemampuan menangani risiko. Dalam memberikan respon risiko digunakan analisis deskriptif dengan cara mendeskripsikan terlebih dahulu respon resiko dari masing-masing responden kemudian diambil kesimpulan dari masing-masing respon yang didapat yang sesuai untuk dilakukan respon risiko.

3.10 BAGAN ALIR PENELITIAN

Gambar 3.3 Diagram Alir Penelitian Studi Literatur

Pengumpulan Data

Tahap Pengolahan Data : 1. Identifikasi risiko melalui studi literature 2. Penyebaran kuesioner kepada responden

3. Uji validitas dan reabilitas menggunakan SPSS 23.0 4. Mencari nilai yang mewakili jawaban responden

menggunakan metode Severity Index

Hasil Penelitian

Kesimpulan & Saran

Analisis Risiko Pada Masa Pemeliharaan Proyek Konstruksi Gedung Perkantoran Di

Pemerintah Kota Pematangsiantar

SELESAI Data Primer

Kuesioner Data Sekunder

Struktur Organisasi

BAB IV

ANALISIS DAN PEMBAHASAN

4.1 Pendahuluan

Pada bab ini akan dibahas hasil analisa data untuk memperoleh jawaban (output) dari penelitian ini berdasarkan data yang diperoleh melalui survei kuesioner kepada responden sesuai struktur organisasi yang bertanggung jawab dalam pemeliharaan gedung kantor, yang selanjutnya diolah berdasarkan teori-teori dari tinjauan kepustakaan.

Untuk memperoleh hasil analisis data dilakukan proses pengumpulan data dan pengolahan data dilakukan dengan menggunakan metode serverity index dan matriks probaabilitas dan dampak.

4.2 Hasil Pengumpulan Data

Pada hasil penelitian ini akan diuraikan mengenai hasil-hasil yang diperoleh setelah tahapan pengumpulan data dan pengolahan data.

4.2.1 Data Responden Penelitian

Data diperoleh dengan menyebarkan kuesioner pada beberapa pihak yang bertanggung jawab atas pemeliharaan gedung kantor, yaitu pegawai pada kantor itu sendiri. Pada penelitian ini kuesioner diberikan kepada 21 orang responden.

Sebelum melakukan pengisian kuesioner, maksud dan tujuan penelitian ini telah dijelaskan terlebih dahulu.

Berikut data responden yang dikategorikan berdasarkan usia, jabatan, pengalaman kerja, dan tingkat pendidikan. Adapun data-data dibawah ini akan dijelaskan dalam bentuk diagram.

1. Tingkat Pendidikan

Berdasarkan hasil survey tingkat pendidikan responden dengan total 21 orang, sebanyak 9 orang atau 43% dengan tingkat pendidikan Strata 1 (S1), 7 orang atau 33% dengan tingkat pendidikan Strata 2 (S2), 1 orang atau 5% dengan

tingkat pendidikan Strata 3 (S3), 4 orang atau 19% dengan tingkat pendidikan lainnya.

Gambar 4.1 Diagram Tingkat Pendidikan Responden

2. Usia Responden

Berdasarkan hasil survei usia responden dengan total 21 orang, sebanyak 1 orang atau 5% berusia ≀ 20 tahun, 5 orang atau 24% berusia 21 ≀ 30 tahun, 9 orang atau 43% berusia 31 s/d 40 tahun, dan 6 orang atau 28% berusia 31 s/d 40 tahun.

Gambar 4.2 Diagram Usia Responden

43%

33%

5%

19%

Tingkat Pendidikan

S1 S2 S3 Lainnya

5%

24%

43%

28%

Usia Responden

≀ 20 Tahun 21 ≀ 30 Tahun 31 s/d 40 Tahun

β‰₯ 40 Tahun

3. Pengalaman kerja

Berdasarkan hasil survei pengalaman kerja responden dengan total 21 orang, sebanyak 2 orang atau 10% dengan pengalaman kerja 1 s/d 5 tahun dan sebanyak 19 orang atau 90% dengan pengalaman kerja β‰₯ 5 tahun.

Gambar 4.3 Diagram Pengalaman Kerja Responden

4. Jabatan Responden

Berdasarkan hasil survey jabatan responden sebanyak 21 orang, sebanyak 1 orang atau 5% dengan masing-masing jabatan kepala badan, sekretaris, dan cleaning service. Sebanyak 2 orang atau 9% dengan jabatan sub bagian, 6 orang atau 28% dengan jabatan kepala bidang, dan 10 orang atau 48% dengan jabatan sub bidang.

Gambar 4.4 Diagram Jabatan Responden

10%

90%

Pengalaman Kerja

1 s/d 5 Tahun

β‰₯ 5 Tahun

5% 5%

9%

48% 28%

5%

Jabatan Responden

kepala badan sekretaris sub bagian kepala bidang sub bidang cleaning service

4.2.2 Hasil Identifikasi Risiko

Dibawah ini merupakan tabel hasil identifikasi risiko yang diperoleh dari observasi dan studi literatur.

Tabel 4.1 Daftar Hasil Identifikasi Risiko No Jenis Risiko Kode

Risiko Variabel Risiko

A Force Majeure

A1 Gempa

A2 Banjir A3 Kebakaran

A4 Kerusakan dan huru-hara A5 Badai

A6 Cuaca yang tidak menentu A7 Tersambar petir

B Risiko Material dan Tenaga Kerja

B1 Kemampuan tenaga kerja kurang baik B2 Kurang tersedia tenaga kerja ahli B3 Kurangnya jumlah tenaga kerja B4 Produktifitas tenaga kerja rendah B5 Komunikasi antar pekerja kurang baik B6 Kecelakaan tenaga kerja

B7 Perselisihan tenaga kerja B8 Pemogokan tenaga kerja B9 Kenaikan harga material

B10 Volume material yang tidak sesuai B11 Jenis peralatan kerja yang tidak sesuai B12 Jenis material yang tidak sesuai B13 Kelangkaan material

B14 Keterlambatan pengiriman alat kerja dan material

B15 Kehilangan material B16 Kehilangan peralatan kerja

C Risiko Manajemen

C1 Kekurangan tempat pembuangan sisa material pekerjaan

C2 Alokasi sumber daya manusia kurang baik C3 Konflik keuangan dalam perusahaan C4 Kesalahan Pengestimasian biaya pekerjaan C5 Kurangnya kontrol dan koordinasi

C6 Kebijaksanaan dan prosedur yang tidak sesuai

C7 Metode pelaksanaan tidak tepat

D Risiko Pemeliharaan

D1 Kerugian akibat kesalahan desain D2 Keretakan dan kebocoran

D3 Kerusakan komponen struktur gedung (Dinding beton, dinding kayu, dll)

D4 Kerusakan komponen arsitektur gedung (Dinding, plafon, kusen, dll)

D5 Kerusakan komponen mekanikal gedung (Saluran air bersih, saluran air kotor, saluran udara)

D6 Kerusakan komponen elektrikal gedung D7 Kerusakan komponen ruang luar

bangunan gedung (Atap gedung, cat tembok luar, listplank, dll)

D8 Kerusakan komponen tata graha gedung (toilet, perabot kantor, tangga, dll)

D9 Kerusakan peralatan kerja

D10 Tidak sesuainya metode pemeliharaan yang diterapkan

Setelah didapat variabel risiko pada pemeliharaan gedung, dilakukan penyebaran kuesioner kepada responden guna mengetahui kemungkinan dan dampak risiko tersebut. Kemudian dilakukan uji validitas dan reabilitas terhadap hasil jawaban kuesioner. Hasil pengujian dibantu dengan program SPSS 23.

4.3 Analisa Data

4.3.1 Pengujian Uji Validitas dan Uji Reabilitas a. Uji Validitas

Uji validitas bertujuan untuk mengukur ketepatan atau kecermatan instrumen yang digunakan dalam suatu penelitian atau untuk melihat apakah hasil pengisian kuesioner yang dilakukan telah valid dan dimengerti oleh responden. Untuk menentukan tingkat kevalidan data maka nilai corrected item-total correlation dibandingkan dengan nilai r tabel, dimana n adalah jumlah responden. Nilai r dapat dilihat pada tabel r yang dikemukakan oleh Sugiyono (2007). Jika nilai corrected item-total correlation (r hitung) lebih besar dari r tabel, maka variabel tersebut adalah valid. Sebaliknya, jika nilai corrected item-total correlation (r hitung) lebih kecil dari r tabel, maka variabel tersebut adalah tidak valid.

Dalam penelitian ini sampel yang digunakan adalah sebanyak 21 orang responden sehingga nilai r yang didapat yaitu 0,433. Dari hasil uji validitas nilai r hitung > r tabel, sehingga hasil pengisian kuesioner dinyatakan valid.

b. Uji Reliabilitas

Untuk mengetahui suatu instrumen dinyatakan reliabilitas, Sugiyono (2012) mengemukakan bahwa suatu instumen dinyatakan reliable, bila koefisien reliabilitas minimal 0,60. Berdasarkan pendapat tersebut, maka dapat diketahui bahwa suatu instrumen dinyatakan reliable jika nilai Alpha > 0,60. Dari hasil uji reliabilitas nilai r hitung > Alpha 0,60 sehingga dinyatakan memiliki reliabilitas yang tinggi.

4.3.2 Peniliaian Risiko

Setelah hasil kuesioner sudah valid dan reliabel, selanjutnya akan dianalisa menggunakan metode Serverity Index (SI). Tujuannya adalah untuk mendapatkan hasil kombinasi penilaian probabilitas dan dampak risiko terhadap aspek biaya.

Berikut ini merupakan contoh perhitungan menggunakan metode Serverity Index (SI). Berdasarkan data yang didapat melalui kuesioner probabilitas terjadinya risiko β€œKeretakan dan kebocoran” didapat data sebagai berikut, yaitu 8

responden menyatakan bahwa probabilitas terjadinya keretakan dan kebocoran Dapat Terjadi (C), 8 responden menyatakan Sering Terjadi (S), dan 5 responden menyatakan Sangat Sering (SS).

SI = βˆ‘4𝑖=0π‘Žπ‘–π‘₯𝑖

4 βˆ‘4𝑖=0π‘₯𝑖(100%) Dimana:

ai = Konstanta penilaian xi = Frekuensi responden i = 0,1,2,3,4,...,n

Dengan: a0 = 0 untuk jawaban Sangat Jarang (SJ) a1 = 1 untuk jawaban Jarang (J)

a2 = 2 untuk jawaban Dapat Terjadi (C) a3 = 3 untuk jawaban Sering (S)

a4 = 4 untuk jawaban Sangat Sering (SS)

𝑆𝐼 =((0 Γ— 0) + (1 Γ— 0) + (2 Γ— 8) + (3 Γ— 8) + (4 Γ— 5))(100) 4 Γ— 21

SI = 71,248

Setelah didapatkan nilai SI 71,248 selanjutnya nilai SI ini dikonversikan terhadap skala penilaian probabilitas dan dampak ( Majid and McCaffer, 1997) sebagai berikut:

Sangat Jarang/Rendah = 0,00 ≀ SI < 12,5 Jarang/Rendah = 12,5 ≀ SI < 37,5 Cukup/Sedang = 37,5 < SI < 62,5 Sering/Tinggi = 62,5 < SI < 87,5 Sangat Sering/Tinggi = 87,5 < SI < 100

Berdasarkan kriteria diatas maka kategori probabilitas dari risiko β€œkeretakan dan kebocoran” adalah Sering. Cara yang sama juga digunakan untuk perhitungan Severity Index (SI) terhadap dampak risiko.

Berdasarkan data yang didapat melalui kuesioner, hasil analisa penilaian probabilitas dan dampak risiko terhadap biaya untuk seluruh variabel risiko dengan menggunakan metode Severity Index (SI) dapat dilihat pada lampiran.

Berdasarkan hasil tersebut, analisa selanjutnya dilakukan dengan merubah kategori risiko dari tiap variabel yang di dapat sebelumnya dengan kategori sebagai berikut:

Kategori Probabilitas (P), yaitu:

Sangat Jarang (SJ) = 1

Jarang (J) = 2

Dapat Terjadi (C) = 3 Sering (S) = 4 Sangat Sering (SS) = 5

Kategori Dampak (I) terhadap biaya, yaitu:

Sangat Rendah (SR) = 1

Rendah (R) = 2

Sedang (S) = 3 Tinggi (T) = 4 Sangat Tinggi (ST) = 5

Tabel 4.2 Hasil Penilaian Variabel Risiko Berdasarkan Kategori P dan I No Variabel Risiko

Probabilitas Dampak

SI Kate

gori SI Kate

gori

A1 Gempa SJ 1 R 2

A2 Banjir SJ 1 R 2

A3 Kebakaran SJ 1 R 2

A4 Kerusakan dan huru-hara J 2 SR 1

A5 Badai J 2 R 2

A6 Cuaca yang tidak menentu J 2 R 2

A7 Tersambar petir J 2 SR 1

B1 Kemampuan tenaga kerja J 2 R 2

kurang baik

B2 Kurang tersedia tenaga kerja

ahli J 2 R 2

B3 Kurangnya jumlah tenaga kerja J 2 R 2

B4 Produktifitas tenaga kerja

rendah J 2 R 2

B5 Komunikasi antar pekerja

kurang baik J 2 R 2

B6 Kecelakaan tenaga kerja J 2 R 2

B7 Perselisihan tenaga kerja J 2 R 2

B8 Pemogokan tenaga kerja J 2 R 2

B9 Kenaikan harga material J 2 R 2

B10 Volume material yang tidak

sesuai J 2 R 2

B11 Jenis peralatan kerja yang tidak

sesuai J 2 R 2

B12 Jenis material yang tidak sesuai J 2 R 2

B13 Kelangkaan material J 2 R 2

B14 Keterlambatan pengiriman alat

kerja dan material J 2 R 2

B15 Kehilangan material J 2 R 2

B16 Kehilangan peralatan kerja J 2 R 2

C1 Kekurangan tempat pembuangan sisa material pekerjaan

J 2 R 2

C2 Alokasi sumber daya manusia

kurang baik J 2 R 2

C3 Konflik keuangan dalam

perusahaan J 2 S 3

C4 Kesalahan Pengestimasian

biaya pekerjaan J 2 R 2

C5 Kurangnya kontrol dan

koordinasi S 4 R 2

C6 Kebijaksanaan dan prosedur

yang tidak sesuai C 3 R 2

C7 Metode pelaksanaan tidak tepat J 2 R 2

D1 Kerugian akibat kesalahan

desain J 2 S 3

D2 Keretakan dan kebocoran S 4 R 2

D3 Kerusakan komponen struktur gedung (Dinding beton, dinding kayu, dll)

J 2 S 3

D4 Kerusakan komponen arsitektur gedung (Dinding, plafon, kusen, dll)

S 4 R 2

D5 Kerusakan komponen

mekanikal gedung (Saluran air bersih, saluran air kotor, saluran udara)

S 4 S 3

D6 Kerusakan komponen

elektrikal gedung S 4 S 3

D7 Kerusakan komponen ruang luar bangunan gedung (Atap gedung, cat tembok luar, listplank, dll)

S 4 S 3

D8 Kerusakan komponen tata graha gedung (toilet, perabot kantor, tangga, dll)

S 4 R 2

D9 Kerusakan peralatan kerja C 3 R 2

D10 Tidak sesuainya metode

pemeliharaan yang diterapkan S 4 S 3

Setelah kategori risiko dirubah kedalam bentuk angka tersebut, maka dapat dilakukan analisa risiko perhitungan probability x impact ( P x I ) dengan bantuan matriks probabilitas dan dampak seperti pada gambar berikut.

Sumber: PMBOK

Gambar 4.5 Matriks Probabilitas dan Dampak

Analisa risiko terhadap biaya dan waktu dilakukan dengan cara mengalikan hasil penilaian probabilitas (P) dengan hasil penilaian dampak (I) terhadap biaya dari tiap variabel risiko.

Tabel 4.3 Hasil Kategori Risiko Berdasarkan Matriks Probabilitas dan Dampak

No Variabel Risiko P I PxI Kategori

risiko

A1 Gempa 1 2 2 L

A2 Banjir 1 2 2 L

A3 Kebakaran 1 2 2 L

A4 Kerusakan dan huru-hara 2 1 2 L

A5 Badai 2 2 4 L

A6 Cuaca yang tidak menentu 2 2 4 L

A7 Tersambar petir 2 1 2 L

B1 Kemampuan tenaga kerja kurang

baik 2 2 4 L

B2 Kurang tersedia tenaga kerja ahli 2 2 4 L

B3 Kurangnya jumlah tenaga kerja 2 2 4 L B4 Produktifitas tenaga kerja rendah 2 2 4 L B5 Komunikasi antar pekerja

kurang baik 2 3 6 L

B6 Kecelakaan tenaga kerja 2 2 4 L

B7 Perselisihan tenaga kerja 2 2 4 L

B8 Pemogokan tenaga kerja 2 2 4 L

B9 Kenaikan harga material 2 2 4 L

B10 Volume material yang tidak

sesuai 2 2 4 L

B11 Jenis peralatan kerja yang tidak

sesuai 2 2 4 L

B12 Jenis material yang tidak sesuai 2 2 4 L

B13 Kelangkaan material 2 2 4 L

B14 Keterlambatan pengiriman alat

kerja dan material 2 2 4 L

B15 Kehilangan material 2 2 4 L

B16 Kehilangan peralatan kerja 2 2 4 L

C1 Kekurangan tempat pembuangan

sisa material pekerjaan 2 2 4 L

C2 Alokasi sumber daya manusia

kurang baik 2 2 4 L

C3 Konflik keuangan dalam

perusahaan 2 3 6 L

C4 Kesalahan Pengestimasian biaya

pekerjaan 2 2 4 L

C5 Kurangnya kontrol dan

koordinasi 4 2 8 M

C6 Kebijaksanaan dan prosedur

yang tidak sesuai 3 2 6 M

C7 Metode pelaksanaan tidak tepat 2 2 4 L

D1 Kerugian akibat kesalahan

desain 2 3 6 L

D2 Keretakan dan kebocoran 4 2 8 M

D3

Kerusakan komponen struktur gedung (Dinding beton, dinding kayu, dll)

2 3 6 L

D4

Kerusakan komponen arsitektur gedung (Dinding, plafon, kusen, dll)

4 2 8 M

D5

Kerusakan komponen mekanikal gedung (Saluran air bersih, saluran air kotor, saluran udara)

4 3 12 M

D6 Kerusakan komponen elektrikal

gedung 4 3 12 M

D7

Kerusakan komponen ruang luar bangunan gedung (Atap gedung, cat tembok luar, listplank, dll)

4 3 12 M

D8

Kerusakan komponen tata graha gedung (toilet, perabot kantor, tangga, dll)

4 2 8 M

D9 Kerusakan peralatan kerja 2 3 6 L

D10 Tidak sesuainya metode

pemeliharaan yang diterapkan 4 3 12 M

Keterangan:

H (High) = Risiko Tinggi M (Medium) = Risiko Sedang L (Low) = Risiko Rendah

4.4 Hasil Penelitian

Berdasarkan hasil analisa risiko pada tabel 4.3 didapatkan beberapa variabel risiko yang memiliki nilai yang lebih besar dibandingkan risiko-risiko lainnya

yaitu kategori sedang hingga tinggi (medium to high) terhadap aspek biaya.

Risiko-risiko inilah yang memiliki kemungkinan paling besar untuk terjadi dan menimbulkan dampak yang signifikan terhadap biaya pemeliharaan gedung.

Tabel dibawah ini adalah jenis-jenis risiko yang merupakan hasil analisa risiko berdasarkan tabel matriks probabilitas dan dampak yang termasuk kedalam risiko sedang (medium) kemudian akan diberikan respon risiko.

Tabel 4.4 Risiko yang Termasuk dalam Kategori Sedang (Medium)

No Variabel Risiko P I PxI Kategori

risiko C5 Kurangnya kontrol dan

koordinasi 4 2 8 M

C6 Kebijaksanaan dan prosedur

yang tidak sesuai 3 2 6 M

D2 Keretakan dan kebocoran 4 2 8 M

D4

Kerusakan komponen arsitektur gedung (Dinding, plafon, kusen, dll)

4 2 8 M

D5

Kerusakan komponen mekanikal gedung (Saluran air bersih, saluran air kotor, saluran udara)

4 3 12 M

D6 Kerusakan komponen elektrikal

gedung 4 3 12 M

D7

Kerusakan komponen ruang luar bangunan gedung (Atap gedung, cat tembok luar, listplank, dll)

4 3 12 M

D8

Kerusakan komponen tata graha

Kerusakan komponen tata graha

Dokumen terkait