BAB IV PRAKTIK PENOLAKAN HUJAN MELALUI
D. Respon Serta Pemahaman Ustadz dan Santri terhadap
Perbedaan latar belakang pendidikan akan berdampak bedanya pemahaman dalam kepala masing-masing manusia dan menimbulkan perbedaan pendapat di kalangan warga, baik yang bersifat formal maupun non formal. Sedikit maupun banyak sangat mempengaruhi pendapat santri dan warga tentang bacaan surah di al-Qur’an. Disamping itu, kondisi kultur, ekonomi dan budaya. Setiap individu warga juga memiliki perebedaan yang sama. Khususnya latar belakang tersebut memberikan keunikan di setiap kali memahami al-Qur’an. Seperti warga Tambak Beras, Jombang yang mayoritas adalah kaum santri, akan tetapi memungkinkan menimbulkan adanya perbedaan dalam menanggapi dan fungsi surah al-Ṭāriq seperti halnya yang peneliti temui di Desa Tambak Beras14.
Khairul menceritakan pemahamannya bahwa surah al-Ṭāriq adalah surah yang artinya sangat bagus untuk dipakai di desa Tambak Beras apalagi di Bumi Damai Al-Muhibbin yang santrinya sangat banyak15. Sementara M. Muhdhor mengatakan, “Itu ajaran baik dan surahnya juga baik, saya masih ingat abah Kiai (Djamaluddin Ahmad) menjelaskan Tafsir surat al-Ṭāriq dalam pengajian Hikam dan bisa untuk mengalihkan curah hujan ketempat lain, tentunya dengan izin Allah Swt.”16. Pendapat lain dari Ustadz Lauhul Mahfudz menegaskan, “Surah al-Ṭāriq kan dari dulu dibacakan di Muhibbin sebelum acara Rojabiyyah dimulai, semua orang sudah tau akan hal itu karena salah satu dari Ijazahnya Kiai Djamal untuk Nyiwer Hujan17.
14 Ahmad Fauzi Darmawan. Wawancara
15 Khairul (warga sekitar pondok),diwawancarai oleh Much. Saifuddin Zuhri, Tambak Beras, 23 April 2020, Jombang.
16 M. Muhdhor (Santri Al-Muhibbin), diwawancarai oleh Much. Saifuddin Zuhri, Tambak Beras 25 April 2020, Jombang.
17 Lauhul Mahfudz. Wawancara.
Selain itu, ada juga para santri yang memahami tentang surah al-Ṭāriq dalam berbagai versi pendapat mereka. Zulkifli santri kelas 3 Aliyah asal Sidoarjo menceritakan “Surah al-Ṭāriq adalah surah yang sering dibaca oleh pak Kiai kalau sedang hujan lebat dan ada acara yang cukup besar, terutama dalam acara Rajabiyyah, Saya tidak tahu kenapa hujan bisa berhenti mungkin karena dipindah ditempat lain, itu yang saya dengar dan pahami18. Ahmad Saiful Rizal juga sama halnya berpendapat, ”Yah surat al-Ṭāriq kan harus dibaca setiap acara Rajabiyyah itu harus dibaca setelah shalat Maktubah dan gak pernah ketinggalan.19 Bahkan, pendapat pemahaman mereka juga menyentuh aspek empiris, seperti Ahmad Dzikrullah Akbar selaku santri senior di Pondok al-Muhibbin menggunakan ayat ke 11 surah al-Ṭāriq ini sebagai salah satu ayat yang diyakininya sebagai perisai dan doa meraih rida Allah, sebagaimana ia mengatakan ”Ya surat al-Ṭāriq itu bagus dibaca dan santri Al-Muhibbin itu selalu membacanya dan bagi mereka sebelum Ilmuan di dunia membahas terkait langit dan bintang al-Quran sudah membahasnya melalui surat al-Ṭāriq, dan menurutku surat ini bisa untuk memindahkan hujan ketempat lain, itulah kenapa kami selalu membaca surat tersebut sebelum acara rajabiyyah”.51
Pengalaman berinteraksi dengan al-Qur’an menghasilkan pemahaman dan penghayatan terhadap ayat-ayat tertentu secara atomistik, sebagaimana dilihat dari pengalaman pembacaan surah al-Ṭāriq di Pondok Pesantren Al-Muhibbin. Pemahaman dan penghayatan individual yang diungkapkan dan dikomunikasikan secara verbal maupun dalam bentuk tindakan tersebut dapat mempengaruhi individu yang membacanya, dan juga individu lain sehingga membentuk kesadaran bersama, dan pada taraf tertentu
18 Zulkifli (Santri Al-Muhibbin), diwawancarai oleh Much. Saifuddin Zuhri, Tambak Beras 25 April 2020, Jombang.
19 Ahmad Saiful Rizal (santri al-Muhibbin), diwawancarai oleh Much. Saifuddin Zuhri, Tambak Beras , 26 April 2020, Jombang.
51 Ahmad Dzikrullah Akbar. Wawancara.
melahirkan tindakan-tindakan kolektif dan terorganisasi. Pengalaman bergaul dengan al-Qur’an melalui pembacaan ayat-ayat secara mentradisi seperti pembacaan surah al-Ṭāriq ternyata lekat dengan makna yang dibawa surah itu sebagai surah dalam al-Qur’an.
Dengan demikian, adanya praktek pembacaan ayat-ayat al-Qur’an yang mentradisi di sebuah masyarakat seperti pembacaan surah al-Ṭāriq di kalangan warga Tambak Beras dan Santri Al-Muhibbin benar-benar menjadikannya al-Qur’an yang hidup di tengah masyarakat yang mengamalkannya. Salah satu bukti testimoni masyarakat sebagai respon positif mereka atas praktek living Qur’an ini menegaskan bahwa “mengenai bacaan surah al-Ṭāriq sebagai amalan yang dilakukan setiap selesai shalat Maktubah di bulan Rajab. Selain digunakan untuk sarana menghentikan hujan juga sebagai refleksi bahwa di Bulan Rajab warga Tambak Beras dan Santri Al-Muhibbin dituntut untuk semakin mendekatkan diri kepada Allah52”.
52 Lauhul Mahfudz. Wawancara.
57 BAB V PENUTUP
A. Kesimpulan
Santri dan para Ustadz pondok al-Muhibbin mempraktikkan riwayat surah al-Ṭāriq dalam rangkaian acara Rajabiyyah. Hasil penelitian skripsi yang peneliti lakukan menemukan bahwa pembacaan surah al-Ṭāriq dibaca selama 7 kali setiap selesai shalat Maktubah dan melibatkan pengurus, ustadz serta santri Pondok Al-Muhibbin dan setelah itu membaca doa Allahumma Khawalaina Wala ‘Alaina sebanyak 100 kali. Ayat-ayat itu dibacakan dalam upacara untuk menolak hujan pada saat acara sedang berlangsung. Rutinitas ayat-ayat surah al-Ṭāriq itu dibarengi dengan adanya pemahaman khusus terhadap pilihan pembacaan ayat-ayat tadi, sehingga menjadi bagian dari Living Qur’an dalam kebiasaan santri al-Muhibbin Tambak beras Jombang.
Santri al-Muhibbin sendiri masih berpegang teguh dengan tradisi yang ada, yang masih melekat dalam melaksanakan serta menjalankan tradisi tersebut, salah satu tradisi yang dipegang dan digunakan hingga sekarang ialah “Rajabiyyah yang dilakukan pada bulan Rajab” yang dimaksud dengan Rajabiyyah ialah : salah satu kegiatan yang dilakukan oleh Santri al-Muhibbin untuk menyongsong bulan suci Ramadan. Santri Al-Muhibbin Tambak Beras membacakan surah dalam al-Qur’an yaitu surah al-Ṭāriq secara berjamaah supaya pada hari acaranya tidak turun hujan.
Beberapa praktik pembacaan surah al-Ṭāriq yang digunakan dalam acara kegiatan Rajabiyyah santri al-Muhibbin dan Ustadz pondok antara lain:
1. Surah al-Ṭāriq digunakan saat acara Rajabiyyah, biasanya di baca setelah hadarat-hadarat kepada Nabi Muhammad Saw., dan kepada keluarga yang sudah meninggal dunia, barulah dibacakannya surah al-Ṭāriq
tersebut dengan maksud, agar ketika acara berlangsung tidak ada yang menghalanginya terutama hujan.
2. Surah Ṭāriq dipakai juga sebagai amalan rutin santri al-Muhibbin, pengurus dan ustadz ketika mulai bulan Rajab sampai datangnya bulan Ramadan untuk mempersiapkan diri menuju bulan yang suci dan mulai berlatih riyaḍah secara batin. Karena santri al-Muhibbin mayoritas mengikuti thariqah Syadziliyyah yang diasuh oleh KH. Djamaluddin Ahmad selaku Pengasuh Pondok al-Muhibbin dan Mursyid Thariqah Syadziliyyah.
B. Saran
Penelitian tentang Praktek Pembacaan surah al-Ṭāriq dan acara Rajabiyyah di Pondok Pesantren al-Muhibbin menjadi salah satu fenomena Living Qur’an yang harus dikaji lebih dalam. Peneliti merekomendasikan kepada peneliti selanjutnya agar mampu memperhatikan aspek-aspek lain dari kehidupan masyarakat Tambak Beras yang mayoritas adalah santri.
Sehingga semakin hari dapat menjadi proses menuju pengalaman al-Qur’an sesuai dengan tuntunan syari’at Islam. Al-Qur’an kembali kepada fungsi sebenarnya, dan menjadi pedoman kehidupan untuk menggapai kebahagiaan di dunia dan akhirat.
59
DAFTAR PUSTAKA
Artikel, Buku, Jurnal dan Wawancara.
Abd. Qadir, Jum’ah. Ma’âlim Suar al-Qur’ân, Cairo: Universitas al-Azhar, cet.I, 2004.
Abdul Baqi, Fuad. Muʹjam al-Mufahras li al-Fādz al-Qurān al-Karim.
_______. Muʹjam al-Mufahras li al-Fādz al-Qurān al-Karīm. Beirut: Dar el-Hadith, 2007.
Abidin, Zaenal. dkk, Pola Perilaku Masyarakat.
Ahmad ‘Ubaydi Hasbilah, AU. Ilmu Living Qur’an Hadist, Ontologi, Epistimologi, dan Aksiologi. Ciputat: Yayasan Waqaf Darus-sunnah.
Ahmad Zainal Abidin dkk, Pola Perilaku Masyarakat. 2019.
Ali bin Muhammad Abu Hasan Almawardi, Ali bin Muhammad. Tafsir Al-Mawardi.
Al-Shagir, al-Jami’. Faidhul Qadir, Maktabah Tajariyatul Kubra, 1971.
Hajar, Ibnu, Mausu’ah al-Hafidz
Creswell, John. Penelitian Kualitatif & Field Research. Yogyakarta:
Pustaka Pelajar. 2015.
Habibah, Umi Dkk,..Ilmu Pengetahuan Alam 5. Jakarta:CV.Mitra Media Pustaka,2010.
Hartono. Geografi jelajah bumi dan alam semesta untuk kelas X SMA/MA, Jakarta: CV.Citra Praya.2009.
Herdiansyah, Haris. Metode Kualitatif Untuk Ilmu-Ilmu Sosial. Jakarta:
Salemba Humanika. 2010.
J. Moleong, Lexy. Metode Penelitian Kualitatif.
Jalaludin Al-Mahalli, Jalaludin. Tafsir Jalalain. Surabaya.
Junaedi, Didi. 2015. Living Qur’an Sebuah Pendekatan Baru Dalam Kajian al-Qur’an. Vol. 4. No, 2.
Sawaun, Nurdin. 2017. Dialog al-Qur’an Dengan Budaya Lokal Nusantara,. Vol, 2, No, 1.
M. Hanafi, Muchlis. Pelestarian Lingkungan hidup (Tafsir al-Qur’an Tematik.
M. Hanafi, Muchlis. Pelestarian Lingkungan hidup (Tafsir al-Qur’an Tematik)
_______. Pelestarian Lingkungan hidup (Tafsir al-Qur’an Tematik).
Jakarta: Lajnah Pentashih Al-Qur’an, 2012.
Mansur. Muhammad dkk. Metodologi Penelitian Living Qur’an dan Hadist.
Yogyakarta: Teras. 2007.
Masyur Muhammad dkk, Living Qur’an Dalam Lintasan Sejarah, Yogjakarta: TH-Press, 2007.
Masruroh, Umi. 2017. Tradisi Rebo Wekasan Dalam Kajian Living Qur’an di Desa Pakuncen. Qaf. Vol, 1. No, 02.
Muhammad Ali Shabuni, Muhammad. Mukhtasar Ibnu Katsir. Lebanon, 1981.
Muhammad Ibnu Jarir Ath-Thabarani, Muhammad Ibnu. Tafsir Al-Thabari.
Al-Muhibbin, Bumi Damai.com ( 25 Mei, 2020). Diakses pada 25 Mei 2020.
Muhtador, Mochammad. 2014. Pemaknaan ayat al-Quran dalam mujahadah: Studi Living Qur’an di PP al-munawwir krapyak. Jurnal Penelitian. Vol, 8, No, 1
Al-Munawi, SA. Aktualisasi Nilai-Nilai Qur’ani Dalam Sistem Pendidikan Islam. Ciputat; Ciputat Press. 2005.
Muri Yusuf, Muri. Metode Penelitian Kualitatif dan Gabungan, Jakarta:
Paramedia Group, 2014.
Mustaqim. Abdul. Metode Penelitian Al-Qur’an dan Tafsir. Yogyakarta:
PPLSQ Ar-Rahmah. 2014.
Najar, Zaglul. Abdul Daim Kahlil, Ensiklopedia Mukjizat Ilmiah Al-Qur’an Dan Hadis. Jakarta: Lentera Abadi, 2015.
Ndarto, Hidrologi. Jakarta: Bumi Aksara, 2014.
Rahman, Syahrul. 2016. living quran: Studi Kasus Pembacaan al-Ma’tsurat di Pesantren Khalid Bin Walid. Syahadah. Vol, 4. No., 2.
Rajo, J.R. Metode Penelitian Kualitatif: Jenis, Karakteristik dan Keunggulan. Jakarta : Grasindo. 2010.
Shihab, Quraish. 2002. Tafsir Al-Misbah, Jakarta: Lentera Hati. Vol. 6.
_______. 2002. Tafsir Al-Misbah, Jakarta: Lentera Hati. Vol. 4.
_______. Tafsir Al-Misbah, Vol. 8.
Soehadha, Moh. Metode Penulisan Sosial Kualitatif untuk Studi Agama.
Syamsul Ulum, Syamsul. Menangkap Cahaya Al-Qur’an, Malang: UIN Malang Press, 2007
Sugiono. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R& D. Bandung:
Alfabeta. 2011.
Al-Suyuti, Jalaludin. al-Itqan fi ‘Ulumi al-Qur’an Cet. I (Beirut: Darul Kutub al-Ilmiah, 2004.
Warson Munawwir, Ahmad. Al-Munawwir: Kamus Arab-Indonesia.
Surabaya: Pustaka Progresif, 1997.
Zaid, Moh. 2011. Makna dan Pesan Penguat Sumpah Allah Dalam Surat-Surat Pendek. Nuansa. Vol 8 No, 1.
Zainudin, Ahmad. Keutamaan Membaca Al-Qur’an, diambil dari https://Artikel Muslim.Or.id.diambil pada tanggal 11 januari 2020.
Zariri bin Yazid, Muhammad. Jamiul Bayan Fi Ta’wilil Qu’an. 2000.
Disertasi, Skripsi, dan Tesis.
As-Syafi’i, Muhammad. “Karomahan (Studi Tentang Pengamalan Ayat-Ayat Al-Qur’an Dalam Praktek Karomahan di Padepokan Macan Putih.” Skripsi S1., IAIN Surakarta 2016.
E, Ibrahim. “Be a Living Qur’an Petunjuk Praktis Penerapan Ayat-ayat al-Qur’an Dalam Kehidupan Sehari-sehari.” Skripsi S1., IAIN Sultan Maulana Hasanudin Banten, 2009.
Hamid, Idam. “Tradisi Membaca Yasin Di Makam Annangguru Maddappungan Santri Pondok Pesantren Salafiyah Parappe Kec.
Campalagian Kab. Polewali Mandar.” Skripsi S1., UIN Alaudin Makasar, 2017.
Nasir, Fauzan. “Pembacaan Tujuh Surat Pilihan Al-Qur’an Dalam Tradisi Mitoni.” Skripsi S1., IAIN Surakarta, 2016.
Sholeha, Isnani. “Pembacaan Surat-Surat Pilihan Dari Al-Qur’an Dalam Tradisi Mujahadah.” Skripsi S1., UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, 2016.
Fanani, Rizal. “Kajian Living Qur’an Ayat-Ayat Pengobatan Dalam Kitab Sullam al-Futuhat.” Tesis S2., Pasca Sarjana Ilmu Al-qur’an dan Tafsir. IAIN Tulungagung, 2016.
Mulyadi, Yadi. “Al-qur’an dan Jimat.” Tesis S2., UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, 2017.
Wawancara Responden/informan.
Akbar, Dzikrullah (Santri Al-Muhibbin). Diwawancarai oleh Much.
Saifuddin Zuhri. Tambak Beras, 24 April 2020, Jombang.
Fauzi D, Achmad (Ketua Santri al-Muhibbin). Diwawancarai oleh Much.
Saifuddin Zuhri. Tambak Beras, 23 April 2020, Jombang.
Khairul (warga sekitar pondok). Diwawancarai oleh Much. Saifuddin Zuhri. Tambak Beras, 23 April 2020, Jombang.
Mahfudz, Lauhul (Ustadz Pondok Al-Muhibbin). Diwawancarai oleh Much. Saifuddin Zuhri. Tambak Beras, 24 April 2020, Jombang.
Muhdhor, Muhammad (Santri Al-Muhibbin). Diwawancarai oleh Much.
Saifuddin Zuhri. Tambak Beras 25 April 2020, Jombang.
Ni’am, Faidlun (Santri Al-Muhibbin). Diwawancarai oleh Much. Saifuddin Zuhri. Tambak Beras, 24 April 2020, Jombang.
Rizal, Saiful (Santri al-Muhibbin). Diwawancarai oleh Much. Saifuddin Zuhri. Tambak Beras , 26 April 2020, Jombang.
Safaruddin, Ahmad (Santri Al-Muhibbin). Diwawancarai oleh Much.
Saifuddin Zuhri. Tambak Beras, 24 April 2020, Jombang.
Zulkifli (Santri Al-Muhibbin). Diwawancarai oleh Much. Saifuddin Zuhri.
Tambak Beras 25 April 2020, Jombang.
TRANSKRIP WAWANCARA Nama : Achmad Fauzi Darmawan
Alamat : Jl. Moh Hatta Badang 03/03 Badang, Ngoro, Jombang Jabatan :Ustadz/Ketua Pondok
Telpon : 085607311414 Email : -
Saya : “Bagaimana praktik pembacaan surah al-Ṭāriq pada kegiatan Rajabiyyah di Pondok Pesantren al-Muhibbin?”.
Informan : “Pembacaannya biasanya dimulai ketika mendekati acara Rojabiyyah, Abah (KH Djamaludin Ahmad) Ngendiko (memerintahkan) kepada semua santri pondok untuk membacakan secara serentak setelah shalat Maktubah, dilakukan di Masjid ini, yakni Masjid Jami’ al-Muhibbin”.
Saya : “ Apakah di setiap tahun santri juga melakukan hal yang sama?
Informan :”Iya, karena sudah menjadi tradisi sejak Pondok dibangun di Tempat ini, selain untuk tawassul menghentikan hujan abah juga mengingatkan kita untuk mempersiapkan diri kita semua untuk menjemput bulan suci Ramadan”.
Saya : “ Kalau boleh tahu dari mana tradisi ini dimulai?
Informan : “ ini aslinya sebuah ijazah dari guru Abah ketika belajar di pesantren tempo dulu, dikumpulkan oleh abah dan minta restu dari Gurunya yaitu Kiai Jalil Mustaqim Tulungagung untuk diamalkannya dan beliau merestuinya, intinya hanya satu kita pasrahkan semuanya kepada Allah Swt. melalui Ridha dan kebesarannya tidak ada yang tidak mungkin”.
LAMPIRAN 1
Saya : “Apakah benar ketika sudah membaca surah al-Ṭāriq hujan benar-benar tidak turun?”
Informan : “Sekali lagi itu semua Qadla dan Qadar Allah, yang saya rasakan biidznillah semua akan lancar-lancar saja, biasanya dengan cara berdoa agar hujan dialihkan ketempat yang lain kalau lagi musim hujan ya”.
Saya : “Selain surah al-Ṭāriq adakah doa lain yang dibaca?
Informan :” Ada, doa Allahumma Khawalaina Wala ‘Alaina sebanyak 100 kali ini juga ijazah yang diterima oleh Abah dari gurunya dulu”.
Saya : “Untuk pembacaannya tempatnya dimana, apakah boleh dilakukan di selain Masjid Jami’?
Informan : ”Boleh saja, karena amalan ini akan dilakukan sampai nanti bulan puasa, akan tetapi lebih mudah dan biar tidak terasa berat maka lebih baik dilakukan di Masjid secara bersamaan”.
TRANSKRIP WAWANCARA Nama : Ahmad Safaruddin
Alamat : Jl. Prapatan Angker Kelet 05/03 Jepara Jabatan : Santri
Telepon : 085706896121
Email : [email protected]
Saya : “Bagaimana praktik pembacaan surah al-Ṭāriq pada kegiatan Rajabiyyah di Pondok Pesantren al-Muhibbin?”.
Informan: “Selama saya mengikutinya, pembacaan surat itu ditujukan untuk maksud menangkal hujan ketika acara berlangsung, biasanya dibaca dua minggu sebelum acara dimulai dan dibaca setelah shalat wajib”
Saya : “Apakah anda yakin ketika membaca surah al-Ṭāriq hujan tidak turun?’
Informan : ”Ya yakin, bahkan tidak berani mampir kesini karena yang doa orang-orang shalih semua hehe”
Saya : “Anda mulai mengikuti sejak kapan?”
Informan : ”Saya mengikuti sejak pertama kali mondok disini, awalnya saya penasaran dan sedikit tidak percaya namun setelah mengetahuinya dan mendapatkan penjelasan dari bapak Kiai akhirnya saya mantap dan percaya. Kan ini juga tidak untuk menolak hujan saja, juga untuk mendekatkan diri kepada Allah di bulan Rajab”.
Saya : “Anda mondok disini sejak kapan?”
Informan : ”Sudah lama, dari tahun 2005 sampai sekarang.”.
Saya : ”Bagaimana respon santri terhadap pembacaan surah aṭ-Ṭāriq?
LAMPIRAN 2
Informan : “Karena itu termasuk amanat dari pak Kiai jadi kita santrinya harus mengikutinya, semua santri maupun santriwati di sini mengikuti semua, bahkan sampai ngaji kilatan waktu ramadhan surah al-Ṭāriq masih diamalkan”.
TRANSKRIP WAWANCARA Nama : M. Faidlun Ni’am
Alamat : Jl. Masjid No. 12 014/003 gang I, Sarirejo, Mojosari Mojokerto
Jabatan : santri/Pengurus pondok Telepon : 08151533391
Email : [email protected]
Saya : “Bagaimana menurut Anda tentang praktik pembacaan surah Ṭāriq pada kegiatan Rajabiyyah di Pondok Pesantren al-Muhibbin?”.
Informan : “Saya selalu mengikutinya dengan santri yang lain di Masjid Jami’. Pembacaan surat ini dilakukan untuk melancarkan hajat besar yaitu Rajabiyyah supaya berjalan dengan lancar dan gak hujan”.
Saya : “Apakah anda yakin dengan membaca surah al-Ṭāriq hujan tidak turun?’
Informan : ”Iya, saya yakin”.
Saya : ”Apakah anda pernah menyaksikan kejadian diluar logika tentang pembacaan surah aṭ-Ṭāriq?
Informan : ”Waktu Rajabiyyah kemarin ini, baru saja selesai kemaren itu yang saya tahu langit mendung, tapi tidak hujan. Saya sudah beberapa kali mengalami peristiwa seperti itu”.
LAMPIRAN 3
1.
TRANSKRIP WAWANCARA Nama : Ahmad Dzikrullah Akbar
Alamat : Klampisan, Tondowulan, Plandaan, Jombang Jabatan : Santri/warga sekitar
Telepon : 082333332760
Email : [email protected]
Saya : “Bagaimana menurut Anda tentang praktik pembacaan surah Ṭāriq pada kegiatan Rajabiyyah di Pondok Pesantren al-Muhibbin?”.
Informan : “Apa ya, yang saya tahu surah al-Ṭāriq selalu dibaca warga sini ketika ada acara Rajabiyyah di al-Muhibbin dan dapat mengalihkan hujan, jadi kita mengantisipasi dulu sebelum acara melalui wasilah pembacaan surat at-Thariq”.
Saya : “Apakah anda juga mengikutinya?”.
Informan : “Iya, biasanya dengan anak saya”
Saya : ”Menurut anda kegiatan ini seperti apa?
Informan :”Ya bagus, dapat pahala banyak kan bulan Rajab”.
LAMPIRAN 4
2.
TRANSKRIP WAWANCARA Nama : Khairul
Alamat : Gang Salaf Tambakberas Jombang Jabatan : santri/Warga sekitar
Telepon : 085730222844 Email : -
Saya : “Bagaimana menurut Anda tentang praktik pembacaan surah Ṭāriq pada kegiatan Rajabiyyah di Pondok Pesantren al-Muhibbin?”.
Informan : “Bagus, ini Ijazah dari Kiai Jamal untuk menolak hujan, saya selalu membaca surah tersebut, apalagi dalam ayat ke 11, itu saya resapi betul-betul sesuai dengan anjuran bapak Kiai”.
Saya ; ”Anda sudah berapa kali mengikuti Rajabiyyah?
Informan : “Dari pertama saya selalu mengikutinya bahkan dulu saya pernah menjadi panitia acara tersebut”.
Saya :”Apakah kamu hanya membacanya ketika acara Rajabiyyah saja?
Informan : “Dulu saya seperti itu, tapi sekarang saya baca terus sampai bulan puasa datang cak meskipun bolong-bolong hehe”
LAMPIRAN 5
3.
TRANSKRIP WAWANCARA Nama : Ustad Lauhul Mahfudz
Alamat : Cendoro, Palang, Tuban Jabatan : Ustadz/Pengurus
Telepon : 085733208833
Email : [email protected]
Saya : “Bagaimana menurut anda tentang praktek pembacaan surah Ṭāriq pada kegiatan Rajabiyyah di Pondok Pesantren al-Muhibbin?”.
Informan : “Ya itu bacaan al-Quran, yang namanya Mushaf kita lihat saja dapat pahala apalagi membacanya dengan rutin dan berjamaah pasti akan sangat mustajab”
Saya :”Anda selalu mengikutinya?
Informan : “Iya. Bahkan warga sekitar pun banyak juga yang mengamalkannya bersama-sama.”
Saya : ”Menurut Anda apa hubungannya surah al-Ṭāriq dengan menolak hujan?
Informan : ”Surat itu kan diturunkan pada malam hari, dan disalah satu ayatnya yaitu ayat 11 menerangkan tentang hujan, bahwa semua yang turun dari langit dan muncul dari bumi adalah milik Allah jadi semua tergantung dengan izin Allah. Kita hanya berdoa dengan seksama dan saya yakin Allah akan mengabulkan dengan perantara tersebut”.
Saya : ”Biasanya dilakukan kapan?”
Informan : ”Dibulan Rajab, bulan yang penuh berkah”.
LAMPIRAN 6
TRANSKRIP WAWANCARA Nama : Ahmad Saiful Rizal
Alamat : gang Salaf Tambakberas Jombang Jabatan : Santri/warga sekitar
Telepon : 085749375177
Email : [email protected]
Saya : “Bagaimana menurut anda tentang praktek pembacaan surah Ṭāriq pada kegiatan Rojabiyyah di Pondok Pesantren al-Muhibbin?”.
Informan : “Bagus dan dilakukan terus ketika bulan rajab dan acara Rajabiyah”.
Saya : ”Anda mondok di al-Muhibbin atau warga setempat?
Informan : ”Rumah saya dekat dengan pondok ini, saya hanya ikut ngaji dan jama’ah saja tetapi menetap di rumah”.
Saya : ”Bagiamana meurutmu tentang keyakinan menghentikan hujan dengan pembacaan surah aṭ-Ṭāriq?
Informan : ”Secara saintifik mungkin masih menjadi perdebatan kalau digunakan untuk menolak hujan tapi secara fisika dan ilmu biologi surat al-Ṭāriq sudah menjelaskan lebih dulu daripada ilmu lainnya dan lagi-lagi ini soal kepercayaan warga setempat semua bisa terjadi dan buktinya memang ada. Ditambah lagi tidak ada efek negatifnya, karena warga dan santri sini sudah paham betul terkait agama”.
Saya : ”Biasanya anda melakukannya di rumah atau di masjid?
Informan : ” Saya melakukanya di masjid bersama dengan santri”.
LAMPIRAN 7
TRANSKRIP WAWANCARA Nama :M. Muhdhor
Alamat : Jl. Kyai Achmad 01/04 Magersari, Pandaan, Pasuruan Jabatan : Santri
Telepon : -
Email : [email protected]
Saya : “Bagaimana menurut anda sebagai santri tentang praktek pembacaan surah al-Ṭāriq pada kegiatan Rajabiyyah di Pondok Pesantren al-Muhibbin?”.
Informan : “Menurut saya itu semacam doa agar tidak terjadi hujan ketika acara Rajabiyyah, saya juga ,asih ingat ketika pengajian Hikam bersama Abah Jamal, salah satu manfaat surah at-Tahriq bisa mengalihkan
Informan : “Menurut saya itu semacam doa agar tidak terjadi hujan ketika acara Rajabiyyah, saya juga ,asih ingat ketika pengajian Hikam bersama Abah Jamal, salah satu manfaat surah at-Tahriq bisa mengalihkan