IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
7) Bagian Utility
4.5. Analisis Gap Kompetensi Sumber Daya Manusia
4.5.2. Responden Kepala Regu Departe men Weaving
Gap kompetensi karyawan pada posisi kepala regu diperoleh dari rata-rata nilai kompetensi yang diberikan oleh kepala unit dan pengawas disetiap unit kerja. Contoh perhitungan Penilaian kompetensi karyawan posisi kepala regu dapat dilihat pada Lampiran 5. Hasil survei penilaian kompetensi karyawan yang terdiri atas keahlian umum dan keahlian teknik dipaparkan sebagai berikut: 1). Unit kerja Kowari
Hasil dari survei penilaian kompetensi Kepala Regu Kowari dengan jumlah karyawan sebanyak 2 orang (Tabel 11).
Tabel 11. Hasil penilaian kompetensi Kepala Regu Kowari
No. Kompetensi Aktual Standar Gap
1. Manajemen 3 2 1 2. Leadership 2 2 0 3. Komputer 1 1 0 4. Membagi benang 3 3 0 5. Operasikan mesin 3,5 3 0,5 6. Menyambung benang 3 4 -1 7. Jenis benang 3 4 -1 8. Ketelitian 3 3 0 9 Kecepatan kerja 3 4 -1 10. Instruksi kerja 3 3 0
Berdasarkan Tabel 11. diketahui informasi bahwa hasil penilaian kompetensi karyawan pada keahlian umum yang mencangkup kompetensi manajemen, leadership dan komputer diperoleh bahwa karyawan sudah mampu memenuhi standar kompetensi. Hasil penilaian tersebut menunjukkan bahwa tidak ada
kesenjangan antara nilai standar dan kompetensi aktual karyawan. Rata-rata karyawan menunjukkan penguasaan pada kompetensi manajemen. Kompetensi leadership memperlihatkan karyawan sudah cukup menguasai keahlian tersebut.
Berbeda pada kompetensi komputer meskipun rata-rata karyawan tidak menguasai keahlian kerja namun nilai tersebut sudah cukup untuk memenuhi persyaratan standar kompetensi. Kemampuan karyawan dalam memenuhi komptensi keahlian umum ditunjukkan dalam sikap keseharian bekerja karyawan dengan menerapkan kompetensinya selama bekerja.
Hasil dari Tabel 11. dapat disimpulkan bahwa rata-rata karyawan sudah mampu memenuhi nilai standar kompetensi perusahaan pada kompetensi keahlian teknik seperti membagi benang, operasikan mesin, ketelitian, dan instruksi kerja. Teknik lain masih menunjukkan kesenjangan kompetensi di beberapa atribut kompetensi antara lain menyambung benang, jenis benang, dan kecepatan kerja. Penyebab adanya kesenjangan nilai kompetensi pada atribut tersebut disebabkan sebagian besar karyawan belum mampu untuk menerapkan standar mutu kerja. Posisi kepala regu menuntut karyawan untuk dapat meningkatkan keterampilan pada keahlian teknik tersebut.
2). Unit kerja Sizing
Kepala regu pada unit kerja Sizing sebelumnya telah dilakukan survei untuk penilaian kompetensi karyawan dengan jumlah sebanyak 2 orang karyawan (Tabel 12).
Hasil penilaian kompetensi keahlian umum dan teknik pada posisi kepala regu dinilai oleh wakil pengawas dan kepala unit. Jenis kompetensi kepala regu disajikan Tabel 12. terdiri atas keahlian umum dan keahlian teknik. Keahlian umum terdiri atas kompetensi manajemen, leadership dan komputer, sedangkan pada keahlian teknik meliputi 8 atribut kompetensi seperti memasang beam, perbaiki benang, mengecek Tang, data
52
produksi, penyusunan beam, kelurusan beam, kekentalan nori, dan penurunan beam.
Tabel 12. Hasil penilaian kompetensi Kepala Regu Sizing
No. Kompetensi Aktual Standar Gap
1. Manajemen 2,75 2 0,75 2. Leadership 2 2 0 3. Komputer 1 1 0 4. Memasang beam 3,5 3 0,50 5. Perbaiki benang 3,5 3 0,50 6. Mengecek Tang 3,5 4 -0,50 7. Data Produksi 2,5 3 -0,50 8. Penyusunan beam 3,5 3 0,50 9. Kelurusan beam 3,25 4 -0,75 10. kekentalan nori 3,5 3 0,50 11. Penurunan beam 3,25 3 0,25
Hasil penilaian kompetensi yang diperoleh pada keahlian umum dapat disimpulkan bahwa karyawan telah mampu dalam memenuhi standar kompetensi yang ditetapkan perusahaan. Nilai rata-rata dari karyawan sudah cukup mengusai keahlian umum tersebut. Adapun pada kompetensi komputer memperlihatkan karyawan belum mampu mengusai kompetensi tersebut. Penyebabnya ialah kesempatan yang rendah dan pengetahuan karyawan terbatas dalam menggunakan komputer. Namun, nilai yang diperoleh karyawan sudah cukup dalam memenuhi standar nilai kompetensi.
Penilaian kompetensi pada keahlian teknik diketahui hasil yang berbeda dibanding pada keahlian umum. Kesenjangan terjadi pada tiga dari delapan atribut kompetensi keahlian teknik. Berdasarkan hasil penilaian kompetensi pada Tabel 12. terdapat informasi bahwa karyawan belum mampu memenuhi nilai standar kompetensi yang perusahaan tetapkan. Atribut kompetensi teknik yang masih terdapat kesenjangan antara lain kelurusan beam, mengecek Tang, dan data produksi.
Kesenjangan kompetensi ini terjadi karena sebagian kecil karyawan kurang terampil dalam menjalankan tugas yang
diberikan sehingga nilai aktual rata-rata karyawan masih menunjukkan hasil yang rendah dibanding nilai standar kompetensi.
3). Unit Kerja Jumbi Hozen
Hasil dari survei penilaian kompetensi karyawan pada posisi 1 orang kepala regu unit kerja Jumbi Hozen (Tabel 13).
Tabel 13. Hasil penilaian kompetensi Kepala Regu Jumbi
Hozen
No. Kompetensi Aktual Standar Gap
A Manajemen 2 2 0 B Leadership 2 2 0 C Komputer 1 1 0 D Operasikan mesin 2 3 -1 E Deteksi kerusakan 2 3 -1 F Perbaiki mesin 2 3 -1 G Pekerjaan mudah 3 4 -1 H Usaha preventif 2 3 -1 I Standar mesin 2 3 -1 J tension beam 2 3 -1 K Instruksi kerja 2 3 -1
Sesuai dengan data pada Tabel 13. keahlian kerja dikelompokkan menjadi 2 bagian yaitu 1). keahlian umum meliputi kompetensi manajemen, leadership dan komputer, 2). keahlian teknik terbagi lagi menjadi beberapa atribut kompetensi antara lain mengoperasikan mesin, deteksi kerusakan, perbaiki mesin, pekerjaan mudah, usaha preventif, standar mesin, tension beam, dan instruksi kerja.
Berdasarkan hasil penilaian kompetensi pada Tabel 13. Dapat disimpulkan bahwa karyawan sudah mampu dalam memenuhi nilai standar kompetensi pada keahlian umum. Hasil penilaian tersebut memperlihatkan bahwa karyawan sudah cukup mampu dalam mengusai keahlian umum tersebut.
Hasil penilaian didasari pada pengamatan yang memperlihatkan karyawan selama bekerja telah menunjukkan hasil yang cukup
54
baik. Hal ini terjadi karena karyawan sudah mempunyai pengetahuan yang cukup pada kompetensi tersebut.
Kesenjangan kompetensi masih terjadi pada semua atribut kompetensi keahlian teknik. Hal ini disebabkan sebagian besar karyawan belum mampu menerapkan standar mutu kerja dengan baik pada keahlian teknik. Dari Tabel 13. memperlihatkan bahwa sebagaian besar atribut kompetensi pada keahlian teknik belum mampu dikuasai dengan baik oleh karyawan.
Karyawan pada posisi ini sebetulnya memiliki pengetahuan terhadap standar mutu kerja, namun pada unit kerja ini karyawan dituntut untuk mempelajari berbagai jenis mesin (Kowari, Sizing, RT Winder dan Warper) untuk dapat diperbaiki dan dipahami dengan baik. Tidak semua karyawan mempunyai kemampuan dalam menguasai perbaikan pada berbagai jenis mesin. Hal ini yang menjadikan nilai kompetensi aktual karyawan yang rendah pada keahlian teknik di unit kerja ini.
4). Unit Kerja Unten
Berikut ini hasil dari survei penilaian kompetensi karyawan untuk posisi kepala regu pada unit kerja Unten dengan jumlah karyawan sebanyak 3 orang (Tabel 14).
Tabel 14. Hasil penilaian kompetensi Kepala Regu Unten
No. Deskripsi Aktual Standar Gap
1. Manajemen 3 2 1 2. Leadership 2 2 0 3. Komputer 1,67 1 0,67 4. Komunikasi 3 3 0 5. Alur order 3 4 -1 6. Informasi kerja 3 4 -1
7. Jenis kain produk 3 3 0
8. Koordinasi 3 3 0
9. Monitoring 3 3 0
10. Backup kerja 3,17 3 0,17
Tabel 14. menunjukkan bahwa karyawan pada unit kerja Unten telah memenuhi persyaratan kompetensi pada keahlian umum.
Keahlian umum tersebut antara lain kompetensi manajemen, leadership dan komputer. Kompetensi aktual memperlihatkan karyawan sudah cukup menguasai keahlian pada kompetensi manajemen dan leadership. Pencapaian standar kompetensi oleh karyawan pada unit ini disebabkan pengalaman dan pengetahuan yang diterapkan karyawan sudah cukup baik selama bekerja. Berdasarkan hasil penilaian pada Tabel 14. memperlihatkan atribut kompetensi karyawan terdiri atas 7 teknik kerja. Kompetensi aktual memperlihatkan hanya 2 atribut kompetensi teknik kerja yang belum memenuhi nilai standar kompetensi. Atribut kompetensi tersebut antara lain seperti informasi kerja dan alur order.
Hasil penilaian kompetensi diperoleh bahwa nilai rata-rata kelapa regu sebetulnya sudah dapat menguasai keahlian kerja tersebut, namun hal ini belum cukup untuk memenuhi nilai kompetensi yang ditetapkan dengan nilai yang cukup tinggi. Kesenjangan kompetensi terjadi karena sebagian kecil karyawan belum cukup cermat dalam memahami permasalahan produksi yang terjadi dalam bekerja.
5). Unit Kerja Shiage
Penilaian kompetensi karyawan untuk posisi kepala regu pada unit kerja Shiage telah dilakukan survei dengan jumlah karyawan sebanyak 2 orang (Tabel 15).
Tabel 15. Hasil penilaian kompetensi Kepala Regu Shiage
No. Deskripsi Aktual Standar Gap
1. Manajemen 2,25 2 0,25 2. Leadership 2 2 0 3. Komputer 1 1 0 4. Mengetahui grade 2 3 -1 5. Mengetahui produk 2,5 3 -0,50 6. Perbaikan kain 2,5 3 -0,50 7. Packing kain 3 4 -1 8. Delivery 2,5 4 -1,50 9. Operasikan mesin 3 3 0 10. Pelipatan Folding 3 4 -1
56
Berdasarkan hasil penilaian kompetensi pada Tabel 15. diperoleh bahwa sebagian besar karyawan sudah mampu mengusai keahlian pada atribut keahlian umum dan teknik. Namun, kesenjangan kompetensi masih terjadi pada beberapa atribut yang dinilai karena belum mampu dalam memenuhi nilai standar kompetensi yang ditetapkan.
Menurut hasil penilaian kompetensi diketahui bahwa pada keahlian umum seperti kompetensi manajemen, leadership dan komputer sudah mampu dipenuhi karyawan dalam mencapai nilai standar kompetensi. Pemahaman karyawan pada kompetensi manajeman dan leadership memperlihatkan hasil yang cukup baik. Hal ini terjadi karena tingkat pengetahuan mengenai aturan perusahaan sudah cukup baik diterapkan karyawan.
Penilaian kompetensi pada atribut keahlian teknik mencangkup tujuh atribut kompetensi teknik kerja. Nilai rata-rata dari kompetensi aktual karyawan diperoleh bahwa sebagian besar atribut kompetensi masih memperlihatkan kesenjangan standar kompetensi.
Faktor yang menjadi penyebab kesenjangan antara lain sebagian karyawan terkadang kurang konsentrasi dalam bekerja dan mengabaikan standar mutu kerja pada keahlian teknik tersebut.
Penilaian kompetensi diperoleh hasil yang sama pada unit kerja lain di Departemen Weaving seperti Reaching, Warper, Shokki, Shikake, dan Hozen Shokki. Sebagaimana disajikan pada Lampiran 6, hasil penilaian kompetensi menunjukkan kesenjangan nilai kompetensi pada sebagian kecil atribut kompetensi keahlian teknik. Penyebab yang menjadi faktor kesenjangan karena karyawan kurang terampil dan cermat dalam menerapkan keahlian kerja. kepala regu merupakan karyawan mempunyai pengetahuan yang lebih banyak mengenai pemahaman proses produksi dibandingkan posisi operator disetiap unit kerja. Namun, dalam praktek karyawan memperlihatkan kurang mentaati keahlian kerja sesuai standar mutu. Hal ini
menyebabkan nilai kompetensi aktual karyawan menjadi rendah dan tidak cukup dalam memenuhi standar kompetensi perusahaan.
Kesenjangan kompetensi yang terjadi pada penilaian kompetensi posisi kepala regu di beberapa atribut kompetensi keahlian teknik tidak ditemukan pada keahlian umum. Karyawan telah mampu dalam memenuhi nilai standar kompetensi. Hal ini disebabkan karena karyawan memiliki kemampuan dan pemahaman yang cukup baik terhadap pengetahuan dan penerapan aturan perusahaan yang diterapkan dalam bekerja.
Pemaparan hasil penilaian terhadap kompetensi karyawan pada masing- masing unit kerja Departemen Weaving bagian kepala regu disajikan pada Tabel 16.
Tabel 16. Hasil gap kompetensi setiap unit kerja kepala regu
Catatan: A (Reaching), B (Kowari), C (Warper), D (Sizing), E (Hozen Jumbi), F (Shokk i), G (Shik ak e), H (Hozen Shokk i), I (Unten), dan J (Shiage)
Berdasarkan informasi pada Tabel 16. dapat diketahui kesenjangan kompetensi di setiap unit kerja bagian kepala regu. Hasil dari penilaian kompetensi menunjukkan kesenjangan kompetensi masih terjadi disebagian besar unit kerja pada keahlian teknik. Namun, kompetensi karyawan pada keahlian umum nilai aktual telah mampu mencapai standar yang ditetapkan perusahaan.
Hasil kompetensi dari nilai akual karyawan yang mencapai standar kompetensi menunjukkan bahwa karyawan pada bagian kepala regu telah mampu menguasai kompetensi pada keahlian umum. Informasi dari Tabel 16. nilai tertinggi kompetensi manajemen terdapat pada unit kerja Shokki. Kompetensi leadership nilai paling tinggi pada unit Reaching. Sedangkan pada kompetensi komputer nilai tertinggi terdapat pada unit Warper. Tingkat pendidikan karyawan dan
Ko mpetensi Hasil Gap ko mpetensi Setiap Unit Kerja
A B C D E F G H I J Manajemen 1 1 1 0,75 0 1,50 1 0,43 1 0,25 Leadership 1 0 0,50 0 0 0,70 0,50 0,50 0 0 Ko mputer 0 0 1 0 0 0 0,50 0 0,67 0 Rata-rata Teknik 0,31 -0,4 0,23 0,06 -1 -0,4 0,25 -0,1 -0,3 -0,8
58
pemahaman selama bekerja menjadi pengaruh penilaian atasan terhadap nilai kompetensi yang diberikan pada keahlian umum.
Kompetensi karyawan pada keahlian teknik masih menunjukkan kesenjangan nilai antara aktual dan standar kompetensi karyawan. Sebagain besar unit kerja masih diperoleh nilai aktual karyawan yang rendah dibanding nilai standar kompetensi. Nilai terendah terdapat pada unit kerja Hozen Jumbi. Nilai aktual kompetensi yang rendah disebabkan karena pada keahlian teknik dibutuhkan konsistensi dalam penerapan standar mutu kerja dalam proses produksi.