• Tidak ada hasil yang ditemukan

Responden 3 (Taaruf) a Latar belakang responden

ANALISA DATA DAN INTERPRETAS

B. Analisa Data

3. Responden 3 (Taaruf) a Latar belakang responden

Nama responden adalah Putra (bukan nama sebenarnya). Responden lahir 31 tahun yang lalu dan ia bersuku Jawa. Responden adalah anak pertama dari lima bersaudara. Responden berasal dari keluarga yang kurang beruntung, ayah responden berpisah dengan ibunya dan menikah lagi dengan wanita lain, sejak itu responden dibesarkan oleh ibunya seorang. Responden adalah anak paling besar di keluarganya, sehingga setelah orangtuanya berpisah, responden membantu ibunya menjadi tulang punggung keluarga.

Responden menamatkan pendidikannya sampai tingkat SMA. Awalnya responden berniat untuk melanjutkan pendidikannya ke perguruan tinggi, namun

akhirnya responden memilih untuk menikah saja dan tidak melanjutkan pendidikannya. Saat ini responden bekerja sebagai karyawan sebuah perusahaan swasta di Medan.

Responden menikah di usia 28 tahun. Responden mengenal istrinya melalui proses taaruf yang dilakukan sebelum pernikahan. Proses perkenalan responden dan istrinya saat itu cukup singkat, hanya dalam waktu satu bulan sejak proses taaruf, responden dan istri sudah resmi menikah dan menjadi suami istri. Kini dari pernikahannya, mereka telah dikaruniai dua orang anak, seorang anak perempuan dan seorang anak laki-laki.

Peneliti mengenal responden dan istrinya melalui seorang teman yang cukup dekat dengan istri responden. Awalnya, teman peneliti menghubungi istri responden untuk menjelaskan tentang penelitian peneliti sekaligus menanyakan kesediaan istri responden dan responden untuk berpartisipasi dalam penelitian responden. Setelah mendapat kesediaan dari keduanya, peneliti bersama teman tersebut mendatangi rumah responden. Responden saat itu tidak berada di rumah, karena masih bekerja, peneliti hanya bertemu dengan istri responden. Responden akhirnya berkenalan dengan istri responden, berbincang-bincang sambil melakukan pendekatan dan menjelaskan tujuan dan prosedur penelitian serta menanyakan kembali kesediaan istri responden untuk berpartisipasi dalam penelitian ini. Setelah mendapat persetujuan langsung dari istri responden, peneliti kemudian meminta nomor telepon yang bisa dihubungi sehingga dapat memudahkan peneliti untuk menentukan jadwal pertemuan berikutnya.

b. Data Hasil Wawancara

1) Masa Perkenalan Sebelum Menikah

Sepulang dari luar kota, responden diajak ikut mengaji oleh seorang ustadz. Beberapa kali menghadiri pengajian membuat responden memahami tata cara pernikahan dalam Islam. Responden yang memiliki target usia 28 tahun sudah menikah kemudian mengutarakan niatnya untuk menikah kepada ustadz yang merupakan guru ngajinya tersebut. Responden oleh ustadz kemudian disuruh untuk membuat biodata diri.

“...Pulang dari luar kota dulu, sering keluar kota kan, jumpa-jumpa ustadz, saya di ajak ngaji, ngaji dan banyak dengar kalo mau menikah seperti ini, seperti ini, seperti ini. Karena saya punya target usia 28 tahun sudah menikah, saya omongkan dengan ustadz, ana mau nikah. O.. ya udah, buatlah biodata,...”

(R3. W1/k. 8-20/hal. ...)

Responden kemudian ditawarkan tiga biodata akhwat untuk responden pilih salah satunya. Dari tiga pilihan biodata yang ada, responden memilih biodata akhwat yang usianya lebih tua dari dirinya, responden ingin mendahulukan akhwat yang lebih tua. Ternyata setelah mendapat informasi, akhwat tersebut tidak bersedia kerena ingin menyelesaikan studinya dahulu. Akhirnya pilihan kedua responden jatuh kepada biodata calon istrinya yang usianya lebih muda darinya. Kebetulan juga dari biodata istri responden mengetahui bahwa calon istrinya tersebut bersuku Padang, keinginan responden memang ingin memiliki pasangan yang berbeda suku dengannya, karena responden bersuku Jawa maka responden ingin mencari pasangan dari suku yang berbeda. Jadi, responden pertama sekali mengenal calon istrinya melalui biodata.

“Kalo proses perkenalan memang ya belum kenal. Namanya, ya, melalui datalah ya. Saya dapat data, ibu dapat data. Seperti itu. Kebetulan saya dapat tiga data, ya istri ini termasuk calon yang ke dua. Pertama tu, semacam yang apa kan, kita harus cari yang lebih tua. Yang lebih tua, kemaren tu alasannya dia mo nyelesaikan kuliahnya. Ya udah, yang ke dua,... Kan dah ada biodata, antum mau yang mana? Yang ini aja ustadz, ya, satu tua satu muda. Kita udah ini, dah tsiqoh (percaya) cari yang tua, ternyata yang lebih tua dari kita tidak mau. Ya, sebenarnya memang dari yang tiga data itu, dua orang Padang, satu orang Jawa. Memang keinginan juga kalo bisa lain suku. Seperti itu.”

(R3. W1/k. 23-39/hal...)

Umumnya proses taaruf dilakukan sebanyak dua atau tiga kali pertemuan, dengan maksud agar kedua calon pasangan bisa saling mengenal dan lebih memantapkan hati dan diri dalam mengambil keputusan. Berbeda dengan proses pada umumnya, responden dan calon istrinya saat itu merasa sudah mantap dan yakin untuk melanjut ke pernikahan hanya dalam sekali pertemuan taaruf. Akhirnya, hanya dalam waktu satu bulan sejak taaruf, responden dan calon istri resmi menjadi suami istri.

“Termasuk sebulan kelar lah tu sekali, makanya subhana Allah kali.” (R3. W1/k. 42-48/hal....)

Responden mengakui bahwa setelah melakukan shalat istikharah, responden merasa yakin dengan keputusannya memilih calon istrinya tersebut karena setelah shalat perasaan reponden mengatakan inilah jodohku, apalagi responden merasa tenang dan tidak ada gejolak di hatinya dan responden merasa dimudahkan dalam segala prosesnya dengan calon istri. Perasaan ini responden sadari berbeda dengan perasaannya sewaktu proses sebelum dengan istri. Saat itu responden merasa tidak nyaman dan gelisah, sampai akhirnya responden ditunjukkan apa hal yang membuatnya gelisah tersebut sehingga responden tidak

melanjutkan prosesnya yang lalu. Berbeda dengan saat dengan istri, responden merasa lancar dan nyaman-nyaman saja.

“...Sholat istikharah ya,...pokoknya dalam hati ini bawaannya tenang aja gitu lo. Tidak ada apalah. Mungkin itu jodoh kita lah ya. Tenang, apa, enak gitu kan. Selesai shalat istikharah, bawaannya itu jodohku gitu. Hati ini, tenang aja gitu lo. Gak ada gejolak gitu, tenang. Seperti itu.”

(R3. W1/k. 62-74/hal...)

“...masalahnya itu, pertama dinampakkan, terus yang keduanya, akhirnya tidak nyaman gitu, gelisah gitu ya. Kenapa kok gelisah gitu. Terus setelah kita kesana, rupanya ada satu hal yang mungkin memang, “itu loh”, o itu dia. Tapi waktu yang sama istri ini kita sahalat istikharah, ya kok luwes, sekeluarga kemari kok nyaman-nyaman aja,...”

(R3. W3/k. 60-80/hal...)

2) Masa Pernikahan

Responden menikah di usianya yang ke 28 tahun. Responden menikah dengan istrinya setelah melalui proses taaruf. Saat ini usia pernikahan responden sudah memasuki usia 3 tahun. Menurut responden, usia tiga tahun pernikahan masihlah terlalu muda untuk menilai keberhasilan suatu rumah tangga.

“Alhamdulillah udah tiga tahun.” (R3. W1/k. 77/hal....)

“Ya memang bisa dibilang cukup terlalu muda,...” (R3. W1/k. 80-103/hal...)

Masa perkenalan yang begitu singkat tidak membuat responden canggung dalam berhubungan dengan istri di awal pernikahan. Istri responden termasuk orang yang mudah akrab, sehingga responden tidak merasa kesulitan dalam mendekatkan diri dengan istri. Jadi, walaupun perkenalan mereka singkat, responden tetap dapat sepat mengakrabkan diri dengan istri.

“...istri mungkin pandai gitu ya, pande apa, cepat mengakrabkan diri. Jadi ya, dia seperti itu, kita pun ya harus,..”

(R3. W2/k. 241-245/hal. 67)

“...macam kenal lama gitu, jadi gak ada, macam kenal lama gitu, jadi ya, Subha Allah gitu. Ya, cepatlah pengakrabannya. Cepatlah.”

(R3. W2/k. 233-237/hal. 66)

Responden merasa ada senang dan terkadang ada susah dalam menjalani pernikahan responden selama ini, namun responden manyadari bahwa setiap pernikahan pasti tidak luput dari permasalahan. Begitu pula dengan pernikahan resonden yang sudah tiga tahun respodnen jalani, sesekali pasti ada riak-riak kecil yang menghampiri. Menurut responden setiap permasalahan harus dapat disikapi dengan bijaksana. Menurut responden, bila menyikapi permasalahan dengan bijaksana, maka keluarga akan tetap bahagia namun bila masalah tidak disikapi dengan bijaksana maka mungkin keluarga akan menjadi tidak akan bahagia.

“Ya perasaannya ada senang, juga ada susah. Namanya kehidupan rumah tangga pasti ada itulah ya, gejolak. Kembali lagi, tinggal kitanya yang menyikapinya bagaimana,...Jadi pasti ada. Artinya, riak-riak dalam kehidupan rumah tangga itu pasti ada, tidak menutup kemungkinan. Tinggal kitanya gitu lo menyikapinya bagaimana. Bijaksana gak, gitu lo. Makin kita tidak bijaksana, ya mungkin rumah tangga kita tidak akan bahagia gitu ya,...”

(R3. W3/k. 83-103/hal....)

Menurut responden, istrinya adalah seorang yang tegas dan itu sudah terlihat dari sikap istri responden selama ini. Responden merasa senang dengan sifat istri tersebut, karena sifat tegas istri dapat menutupi dan melengkapi diri responden yang kurang tegas dan terkadang istri yang tegas mampu menguatkan responden dalam mengambil keputusan. Disamping ketegasannya, istri juga adalah seorang yang mudah merajuk. Awalnya responden merasa kecewa dengan

sifat istri yang mudah merajuk, tapi setelah sering responden beri masukan kepada istri, sekarang sifat merajuk istri responden sudah berkurang.

“...dia itu orangnya tegas, gitu kan. Nampak. Saya tu termasuk orang yang kurang tegas, jadi saya ingin cari yang apalah ya, menutupi saya. Insya Allah lah ya, sekarang ini kenyataan.”

(R3. W1/k. 51-59/hal. 56)

“...Dan itu memang yang saya suka dari istri saya itu, yang saya tidak punya itu adalah ketegasannya gitu, saya tidak punya itu. Dia seringkali, mas, pake ini, gitu ya. Jadi, menguatkan saya untuk mengambil keputusan,...”

(R3. W2/k. 200-214/hal. 66)

“Ya, dulunya gitu, mudah merajuk, tapi belakangan ini setelah kita kasih masukan, alhamdulillah berkuranglah gitu kan;...Jadi ya memang kalo pertama itu memang kecewa gitu. Kalo saya pribadi kalo dirajukin gitu ya sungguh tidak enak gitu ya.”

(R3. W3/k. 4-20/hal. 70)

Menurut responden, penyebab istri responden merajuk karena cemburu atau karena ada agenda yang tidak terlaksana sesuai rencana, misalnya ketika berencana akan pergi lalu responden datang terlambat. Responden menyikapi sikap istri yang sedang merajuk dengan bersikap diam pada awalnya. Setelah responden merasa suasana hati istri sudah melunak, baru responden membicarakan dan menanyakan pada istri, tentang masalah yang membuat istri merajuk. Jadi, tidak langsung pada saat merajuk langsung dibicarakan, tapi responden mencari waktu yang tepat untuk membicarakannya.

“...kalo ada masalah itu saya selalu diam, gitu. Diam. Terus, lihat timing nya, sudah enak, sudah apa, baru, kenapa tadi mi, gitu kan, kenapa seperti ini, baru dibicarakan, gitu;...jadi tidak langsung diputuskan,...”

“Iya, cari waktu yang tepat. Iya. (R3. W2/k. 17/hal. 62)

Responden merasa bahwa adanya suatu masalah dalam rumah tangga dapat semakin mendewasakan dan menambah rasa cinta responden kepada istri. Hal ini disebabkan karena dengan adanya masalah membuat seseorang belajar bagaimana cara mengatasi masalah sehingga ke depan dapat lebih baik. Masalah juga membuat responden semakin cinta pada istri karena menurut responden, istri selalu patuh, menerima dan melaksanakan nasehat atau saran yang diberikan responden dari setiap permasalahan yang mereka hadapi. Kepatuhan istri inilah yang semakin membuat responden merasa semakin cinta pada istri karena responden merasa dari situ “inner beauty” istri menjadi terlihat.

“...Ya, seperti itu, akhirnya dengan ada itu semakin dewasa, semakin terus kita semakin sayang sama istrinya, seperti itu. Semakin sayanglah kita dengan pasangan kita.”

(R3. W2/k. 20-28/hal. 62)

“...alhamdulillah istriku mau mengikuti yang kita inginkan. Jadi itulah timbul rasa makin cinta, makin cinta, makin cinta. Alhamdulillah ya, kita punya istri yang istilahnya dikasih penjelasan terus dikasih apa, dia mengerti dan itulah yang menjadi pendewasaan bagi dia, dia juga, apa yang kita inginkan bersama bisa berjalan bersama, bahwasanya inilah yang kita harus tempuh. Dari situlah makanya timbul rasa cinta itu.”

(R3. W3/k. 272-298/hal. 75-76)

Menurut responden, komunikasi adalah solusi atas setiap permasalahan. Responden merasa penting sekali untuk selalu menjaga dan membangun komunikasi yang baik dengan pasangan. Menurut responden, komunikasi yang tidak nyambung bisa menjadi pemicu keretakan dalam rumah tangga. Responden juga menekankan pada istri untuk selalu mengkomunikasikan setiap masalah dengan baik.

“Saling komunikasi pun saya terapkan, komunikasi, komunikasi, komunikasi. Saya ingatkan. Kadang-kadang karena keretakan dalam rumah tangga itu karena komunikasi yang tidak nyambung.”

(R3. W1/k. 107-133/hal. 57)

Komunikasi antara responden dan istri selama ini sudah cukup baik sekali. Biasanya sebelum tidur itu responden sering mengajak istri bercerita, meminta tanggapan istri tentang responden dan saling berbagi. Responden mengatakan bahwa keluarag itu dibangun dengan komunikasi, kalau komunikasi diantara pasanagn tidak baik, maka tidak akan nyambung satu sama lain. Responden mengakui bahwa komunikasi responden dan istri selama ini sudah baik. Responden selalu menceritakan segalanya kepada istri. Salah satu prinsip responden yaitu selalu jujur kepada istri, apapun resikonya.

“Ya, Alhamdulillah cukup baik ya, cukup baik sekali;...Sebelum tidur itu cerita, tanggapan, apa, segala macam. Kalo komunikasi itu cukup baik, karena kita keluarga itu, ya, dibangun dengan komunikasi, karena kalo komunikasi tidak baik, tidak akan nyambung gitu. Insya Allah, komunikasinya baik lah.”

(R3. W1/k. 171-180/hal. 58)

“...Ya, harus jujurlah. Gitu. Itu juga salah satu prinsip saya ya. Ya jujur. Dalam agama pun kan memang harus jujur. Apapun ceritanya gitu. Itulah resikonya.”

(R3. W1/k. 215-222/hal. 59)

Permasalahan yang sering terjadi antara responden dan istri disebabakan karena adanya salah paham atau tidak nyambung tentang suatu hal. Istri responden terkadang tidak mengkonfirmasi terlebih dulu tentang suatu masalah kepada responden, tapi istri sudah merajuk duluan. Menurut responden, seharusnya sebelum marah dikonfirmasi terlebih dulu masalah tersebut kepada responden sehingga tidak menimbulkan salah paham. Untuk itu responden selalu

menekankan pada istri untuk selalu mengkomunikasikan segalanya pada responden.

“...seringnya memang salah paham atau tidak nyambung, tidak di tabayun (dikonfirmasi) dulu, mengapa tadi kok lama gitu kan. Jadi sebelum kita cerita dia sudah merajuk duluan gitu kan. Seharusnya kan di tabayun dulu makanya kadang-kadang tabayun dulu mi gitu lo.”

(R3. W3/k. 41-52/hal. 71)

Menurut responden, anak adalah tanggung jawab kedua orangtuanya. Anak bukan hanya tanggung jawab istri tetapi anak juga adalah tanggung jawab suami. Kedua orang tua menurut responden harus berperan dalam pengasuhan anak, karena menurut responden, anak membutuhkan kedua figur orangtuanya, figur ayah dan juga figur ibu. Maka seletih apapun responden, bila sudah bertemu dengan anak, maka hilanglah perasaan letihnya. Responden berusaha untuk selalu terlibat dalam pengasuhan anak. Misal bila istri sedang sibuk mengerjakan suatu pekerjaan, maka responden akan mengajak anaknya bermain. Responden juga sering mengajak anaknya untuk jalan-jalan sore sepulang responden kerja.

“...karena anak itu juga perlu figur ibu dan figur ayah, kecuali yatim piatu ya, itu lain cerita. Tapi kalo masih ada berdua, perlu dua-duanya;...”

(R3. W3/k. 331-341/hal. 76)

“...anak itu memang tanggung jawab kita bersama, bukan hanya tanggung jawab ibu. Jadi, macam tadi pulang aja, ya walaupun saya capek tapi itulah subhana Allah nya Allah ini ya, saya capek kerja, tapi lihat anak, apa gitu, lihat istri kerja apa gitu, hilang rasa capeknya, jadi istri beresin yang lain, jadi kita main-main sama anak.”

(R3. W3/k. 301-327/hal. 76)

Responden merasa apabila salah satu diantara responden atau istri sedang dalam keadaan tidak enak atau marah, maka pengasuhan anak diserahkan kepada yang sedang tidak marah, misal bila istri marah maka responden yang memegang

anak. Menurut responden bila anak dipegang oleh orangtua yang sedang marah maka hal itu dapat berpengaruh pada si anak, karena anak akan mencontoh kondisi orantuanya. Oleh karena itu, responden berusaha menjaga agar anak-anak responden tidak terkontaminasi dengan perasaan orangtuanya yang sedang tidak baik dengan menyerahkan pengasuhan anak disaat kondisi tidak enak kepada pasangan yang perasaannya saat itu sedang lebih baik.

“Terus kalo abi pulang, istri kurang enak perasaannya gitu, mau marah, setidaknya siapa yang apa, serahkan sama yang tidak marah. Biar anak itu tidak terkondisi dengan apa kita;...Jadi betul-betul kita hati-hati dalam mendidik anak ini. Karena kan anak ambil contoh dari orangtuanya gitu ya. Jadi apa kondisi orangtuanya akan ia contoh. Jadi kalo ummi nya marah, abi lah yang ngomong ma anak gitu juga dengan ummi, saya agak capek sekali, kurang enak, ummilah yang apa. Jadi anak itu tidak ada terkontaminasi dengan kita.”

(R3. W3/k. 301-27/hal. 76)

Responden merasa sangat senang dengan kehadiran anak dalam rumah tangga responden, karena setiap pasangan pasti menginginkan hadirnya anak dalam rumah tangganya. Setelah memiliki anak, responden mengakui bahwa perhatiaan responden menjadi lebih banyak ke anak, sehingga terkadang diakui responden ini membuat istri responden merasa terbagi, merasa tidang disayang lagi karena istri merasa responden terlalu banyak ke anak. Sebenarnya responden tidak ada bermaksud untuk terlalu perhatian ke anak dan mengabaikan istri, responden tidak mau seperti itu, namun memang tidak dipungkiri oleh responden bahwa terkadang responden memang lebih cenderung ke anak.

“Ya, memang, tidak kita pungkiri, maksudnya perasaan istri gitu, merasa terbagi gitu ya. Tapi, kadang-kadang, itulah kita, kadang-kadang, sebenarnya tidak gitu. Tapi ya, namanya perasaan ya, itu sah-sah aja, merasa kadang-kadang kita terlalu sama anak kali, gitu kan. Karena khawatir gitu kan, khawatir dia merasa tidak disayang lagi gitu. Padahal

kalo diri pribadi tidak ada seperti itu, gitu ya, rasanya ya, memang kadang- kadang, kita cenderung gitu, tapi sebenarnya kita tidak, tidak mau seperti itu. Tapi, kadang-kadang memang kita cenderung ke anak kita, gitu kan.” (R3. W2/k. 168-195/hal. 65-66)

Setelah melahirkan anak yang kedua, responden banyak mendengar nasehat dan masukan sehingga kini responden berusaha untuk kembali memperbaiki hubungan responden dan istri. Apalagi responden dan istri tidak pernah pacaran, jadi responden berusaha untuk tidak menghilangkan masa-masa bahagianya dengan istri setelah hadirnya anak dalam rumah tangga responden. Sekarang responden berusaha untuk bersikap lebih romantis pada istri agar istri tidak lagi merasa ditinggalkan setelah hadirnya anak dalam rumah tangga responden.

“...apalagi yang kedua ini, agak-agak dengar taujih lagi kan ya. Terus kita perbaiki hubungan kita, ya itu adalah, ya, kita kan dulu, belum, belum, tidak pernah pacaran, jadi jangan sampai masa-masa itu, artinya, dengan adanya anak, dihilangkan gitu. Tetep dijaga itunya. Makanya saya sekarang, walaupun ini lihat perasaan tetap disayang itu ya, sekali-sekali saya panggil sayang atau dek Halimah. Jadi, merasa, ya tidak ditinggalkan, gitu kan.”

(R3. W2/k. 168-195/hal. 65-66)

Responden berusaha untuk memaksimalkan waktu luangnya bersama keluarga. Biasanya, responden bersama anak dan istri pergi bersama mengisi waktu luang dengan berenang atau bersilaturahim ke rumah orangtua dan keluarga atau ke tempat teman. Kegiatan yang paling sering dilakukan responden bersama keluarga di waktu luang adalah bersilaturahim dan berenang.

“Ya, silaturrahim, kebiasaan kalo waktu luang berenang. Silaturrahim dan berenang yang paling sering. Kalo ada waktu yang panjang juga, sering, jalan-jalanlah. Kalo wisata berdua belum pernah, yang paling apa ya berenang, silaturrahim, tempat keluarga, tempat teman,”

Responden dan istri belum pernah melakukan wisata berdua saja dalam mengisi waktu luang bersama. Istri responden terkadang mengajak responden untuk pergi berdua, kemudian meninggalkan anak-anak. Responden merasa kalau pergi berdua mengantar istri mengaji atau kemana tidak masalah meninggalkan anak-anak, tetapi kalau untuk pergi berdua agak lama terus meninggalkan anak- anak, responden merasa belum bisa melakukannya. Responden merasa kurang lengkap saja bila pergi tanpa membawa anak-anak. Responden mengakui bahwa terkadang pergi berdua saja dengan istri perlu dilakukan, apalagi responden dan istri tidak pacaran sebelum menikah, jadi terkadang istri ingin pergi berdua saja, tapi memang untuk saat ini responden belum bisa melakukannya.

“Cuma memang kalo pigi berdua, artinya, saya memang belum bisa. Kadang-kadang istri suka, ayo mas, pigi berdua gitu terus ninggalin anak- anak gitu, saya belum bisa. Artinya, memang ya harusnya dilakukan juga gitu lo, karena ya kita dulu menikah tidak dengan pacaran, jadi mungkin kadang-kadang istri pingin juga berdua-duaan. Ya, memang kalo apalah, untuk ngantar-ngantar ngaji, ngantar apa, bisa ninggalin anak. Tapi kalo pigi-pigi itu ya, agak jauhan gitu kan, agak lama ya, mau pigi berdua itu, gak, belum, saya berdua ma istri. Istri maunya kan, kepingin gitu. Tapi saya pribadi kadang-kadang, udah bawa ajalah, bawa aja. Kayaknya karena dah satu keluarga gitu kayaknya gak lengkap kalo gak ngajak anak- anak.”

(R3. W3/k. 237-265/hal. 74-75)

Responden mengakui bahwa setelah menikah hubungan responden dengan keluarga tetap terjalin dengan baik. Responden sering berkunjung dan bersilaturahim ke rumah keluarga-keluarga responden, kalau ke rumah orangtua, setiap minggu responden selalu mendatangi orang tua responden. Hubungan

responden dan keluarga berjalan dengan baik-baik saja, tidak ada perasaan- perasaan yang mengganjal, semua baik-baik saja.

“Ya, alhamdulillah sampai saat ini masih baik-baik saja, karena itu, kita saling silaturahim ya, silaturahim ya. Pinomat sebulan sekali itu, ntah keluarga kita silaturahim lah. Kalo tempat orangtua, seminggu sekali insya

Dokumen terkait