DAFTAR GAMBAR
JENIS KEGIATAN
1. Review of Current Masterplan
Setelah tahap analisis tapak telah dilakukan, tahapan berikutnya adalah Review of Current Masterplan. Tahapan ini merupakan tahapan dimana pihak SFA menampilkan kembali masterplan secara spasial dan lebih spesifik sesuai dengan klasifikasi standar SFA serta menganalisis kembali perencanaan pada masterplan yang telah dibuat oleh Forrec sebelumnya. Hal ini bertujuan untuk mengidentifikasi segala sesuatu yang berhubungan dengan perencanaan tapak untuk mendukung kegiatan perancangan selanjutnya. Dengan adanya tahapan ini tidak menutup kemungkinan terjadi perubahan desain pada masterplan. Jika ada perubahan desain pada masterplan, maka hal tersebut harus didiskusikan dengan klien sampai menemui kesepakatan bersama. Kegiatan review ini dilakukan terhadap perencanaan awal area lanskap, bangunan, bayangan bangunan berdasar posisi matahari, hirarki jalan dan zonasi ruang secara umum.
Review of Current Masterplan – Zonasi Ruang
Dari zonasi ruang yang ada pada masterplan dapat dikelompokan menjadi beberapa bentuk perencanaan pemanfaatan ruang (Gambar 18). Menurt Heryanto (2003) konsep kota baru menekankan pembagian suatu kota dalam beberapa kawasan berdasarkan fungsinya sebagai suatu ruang kehidupan manusia, yaitu wisma, karya, marga, cipta, dan rekreasi. Zonasi tersebut terdiri dari area komersial (commercial/office), pemukiman (housing/apartment), area public (public open space), area pemanfaatan khusus (special uses) dan area perairan. Area perairan pada perencanaan awal berupa danau buatan sebagai salah satu area rekreasi yang dilengkapi dengan theme park. Area pemanfaatan khsusus (special uses) misalnya adalah perencanaan sekolah (university), IT park dan area belanja (shopping centre).
Review of Current Masterplan – Bangunan
Konsep yang diangkat dalam perencanaan kawasan Alam Sutera sebagai kota baru adalah mengembangkan sebuah kawasan baru yang dapat meningkatkan kualitas hidup masyarakat salah satunya dengan penyediaan bangunan dan fasilitas modern (http://www.alamsutera.com, 22 Juni 2008). Dalam masterplan
yang ada maka bangunan dikelompokan menjadi 3 macam berdasarkan tingkat kepadatan bangunan yaitu :
b. Low-Density residential
c. Medium- Density commercial and residential d. High-Density commercial Office and residential
Pada Gambar 19 ditunjukkan lebih jelas tingkat kepadatan bangunan yang dibedakan dengan lantai masing-masing jenis tujuan pemanfaatan bangunan. Pada masterplan yang ada terdapat bangunan yang mempunyai 2 lantai hingga 50 lantai. Bangunan yang tergolong high-density building yang termasuk commercial offices dan apartemen direncanakan dibangun pada bagian tengah kawasan. Selanjutnya semakin menjauhi bagian tengah tapak, diletakkan bangunan yang tergolong medium-density dan low-density. Konsep penataan ruang kota baru yang dikemukakan Heryanto (2003) bangunan lembaga ilmu pengetahuan dan penelitian dapat melakukan kegiatannya yang meliputi universitas, lembaga atom, pusat kesehatan, dan lain-lainnya, merupakan prioritas pertama. Sarana rekreasi merupakan prioritas kedua, baik aktif maupun pasif, seperti pusatkultural, pusat pertunjukan, taman botanikal, kebun binatang, dan lain-lainnya. Prioritas ketiga adalah kawasan pertanian dan perkebunan yang bisa memenuhi kebutuhan konsumsi penduduk kota baru.
Review of Current Masterplan - Luasan Area Lanskap
Sesuai dengan komitmen yang diemban pada konsep perencanaan kawasan Alam Sutera (http://www.alamsutera.com, 22 Juni 2008) dikemukakan bahwa pihak pengembang menyediakan lingkungan yang nyaman dan sehat dengan mengoptimalisasikan sebagian tata ruang sebagai area hijau. Pada Gambar 20 ditunjukkan proporsi luasan areal lanskap dimana hampir semua lahan selain yang dimanfaatkan sebagai bangunan maka diperuntukkan sebagai area hijau. Untuk mengetahui lebih jelas seberapa luasan dan presentasi semua zonasi sesuai masterplan dapat dilihat pada Tabel 14.
Tabel 14. Luasan Area Tata Ruang Alam Sutera Fase II (masterplan)
Zoning Plan Area (Ha) Precentage
(%)
Commercial offices and housing 55.75 23.3
School and university 14.28 5.96
Apartments, resort and hotels 34.86 14.59
Special uses (theme park, IT park, Shopping Mall, Cyber Housing)
72.72 30.43
Public Greenspace 20.81 8.7
Water Area 8.10 3.38
Major Public Roads ROW 32.47 13.59
Total 238.99 100
Sumber : Masterplan Alam Sutera Fase II
Review of Current Masterplan – Pengaruh Matahari Terhadap Bayangan
Terkait dengan klasifikasi bangunan berdasarkan banyaknya lantai maka untuk mendukung perancangan tapak selanjutnya perlu dianalisis mengenai pengaruh matahari pada waktu pagi dan sore hari setiap perbedaan musim (musim hujan dan kemarau) berkaitan dengan bayangan bangunan. Dapat dilihat pada Gambar 21 dan 22 bahwa pada dua musim dan jam harian yang berbeda akan dihasilkan bayangan berbeda pula pada masing-masing bangunan sesuai nbanyaknya lantai. Hal ini dapat memberi informasi yang lebih komplek dalam perancangan tapak selajutnya khususnya dalam perancangan suatu area atau fasilitas di sekitar bangunan, terkait juga dengan perencanan penanaman vegetasi.
Review of Current Masterplan – Hirarki Perencanaan Jalan
Perencanaan jalan yang ada pada tapak sesuai dengan masterplan ditujukan untuk menyediakan media pengguna agar dapat dengan mudah mengakses setiap ruang pada tapak. Ada beberapa macam jalan yang disesuaikan untuk setiap tingkat pemanfaatan ruang sehingga kepentingan pengguna jalan dapat diakomodir dengan baik.
Dalam konteks di Inggris ada perbedaan mengenai roads dan streets. Dikemukakan oleh Telford (2007) bahwa roads merupakan jalan (highway) yang
tujuan utamanya mengakomodir pergerakan kendaraan bermotor. Sedangkan streets merupakan sebuah media jalan yang menghubungkan antar fungsi tempat termasuk bangunan dan area publik, pergerakan sendiri masih sebagai kunci fungsi dan yang paling penting adalah fungsi dari tempat itu sendiri. Lebih lanjut dikemukakan Telford bahwa apa yang disebut street harus memenuhi berbagai fungsi secara komplek dalam rangka mempertemukan berbagai kepentingan manusia baik dalam hal pekerjaan, tempat tinggal dan sirkulasi. Dalam hal ini membutuhkan sebuah perhatian dan pendekatan multi disiplin yang dapat menyeimbangkan potensi konflik diantara perbedaan kepentingan tersebut.
Sebelum membahas hirarki jalan maka perlu diketahui ada prinsip fungsi dari jalan sebagai penghubung berbagai kepentingan. Telford (2007) mengungkapkan bahwa ada lima prinsip fungsi yaitu tempat, pergerakan, akses, parkir dan drainase. Dengan memahami prinsip tersebut dan berkaitan dengan prinsip tempat dan pergerakan maka seharusnya perlu dipahami dalam hubungannya dengan desain jalan yang tepat. Hal ini lebih lanjut akan memunculkan hirarki jalan. Telford lebih lanjut mengklasifikasikan hirarki jalan, sebagai contoh :
a. motorways (jalan untuk kendaraan bermotor), mempunyai fungsi yang tinggi sebagai media pergerakan dan nilai rendah sebagai fungsi tempat.
b. high street (jalan utama), mempunyai nilai medium sebagai fungsi pergerakan maupun fungsi tempat.
c. Residential streets (jalan pada area pemukiman), mempunyai nilai rendah sebagai fungsi pergerakan maupun fungsi tempat.
Dalam masterplan direncanakan ada beberapa hirarki jalan klasifikasinya berdasarkan fungsi serta lebar jalan (ROW) yang dapat dilihat pada Gambar 23 dan dijelaskan pada Tabel 15.
Tabel 15. Hirarki Jalan Kawasan Alam Sutera Fase II
No Klasifikasi Definisi
1. Jalan tol (toll
way)
berada diluar kawasan Alam Sutera Fase II tetapi mempunyai pengaruh kuat terhadap mobilitas dari dan menuju kawasan ini.
2. ROW 47 jalan ini merupakan jalan utama pada kawasan mempunyai
lebar total 47 m (main arterial integrator arterial road) 3. ROW 28 (secondary commercial ang residential road), jalan ini
menghubungkan antar area komersil maupun area pemukiman utama pada pusat kawasan dengan lebar total 28 m.
4. ROW 20 (local commercial and residential road ), jalan ini
menghubungkan area komersial dan pemukiman lokal yang lokasinya bukan di pusat kawasan dengan lebar total 20 m. 5. ROW 14 (local residential), jalan ini menghubungkan area dalam zona
pemukiman dengan lebar total 14 m.
6. service road jalan ini sebagai penghubung kepada area yang lebih spesifik dan area pemanfaatan khusus pada kawasan.
7. roundabouts/hubs merupakan jalan melingkar yang dijadikan sebagai pusat
aktivitas tertentu baik untuk tujuan rekreasi atau tujuan lainnya.
Sumber : SFA (2008)
Berkaitan dengan perencanaan awal oleh pihak konsultan masterplan yaitu Forrec, ada beberapa hal penting yang perlu dianalisis lebih lanjut khususnya berkaitan dengan salah satu prinsip jalan sebagai pendukung fungsi drainase. Perjanjian kerja yang disepakati antara pihak SFA dan Alam Sutera adalah pekerjaan perancangan lanskap jalan. Pihak SFA lebih luas menganalisis hubungan lanskap jalan dengan fungsi drainase tersebut. Ada beberapa hal yang menjadi perhatian sebelum proses perancangan, masalah yang ada bila melihat masterplan adalah sebagai berikut :
a. Pada masterplan direncanakan ada danau buatan di sebelah Utara tapak dengan luasan sekitar 5,9 Ha. Hal tersebut didasarkan dengan melihat level topografi eksisting, area Utara tapak merupakan daerah tangkapan air sementara karena levelnya relatif lebih rendah. Untuk kelancaran sistem drainase pada pengembangan tapak yang sarat dengan nilai kerapatan bangunan yang cukup tinggi, yang diperkirakan
sirkulasi air membutuhkan media yang komplek, maka direncanakan pembuatan gorong-gorong air raksasa di sepanjang jalan sebagai media penampung air sementara agar tapak bagian Utara tidak tergenang air karena kapsitas tampungan sementara kurang memadai. Level tapak yang berpotensi banjir adalah pada level 15-17.
b. Pihak SFA menganalisis perencanaan awal tersebut dan menemukan beberapa hal yang perlu disesuaikan. Masalah pertama pembuatan gorong-orong raksasa di bawah jalan akan menghabiskan ruang perakaran vegetasi untuk lanskap jalan, sehingga sebaiknya lebar gorong-gorong diperkecil agar tersedia ruang perakaran lebih banyak. Masalah selanjutnya muncul jika gorong-gorong diperkecil maka jumlah air yang ditampung gorong-gorong akan mengalir ke tapak bagian Utara lebih banyak, memperhitungkan luasan daerah tangkapan sementara yang relatif kecil maka potensi bagian tersebut tergenang air atau banjir akan semakin besar. SFA memberi konsep antisipasi dengan memperluas area danau buatan antara level 15-16 pada tapak (Gambar 24). Untuk itu perlu dilakukan penyesuaian level topografi agar area tersebut stabil dilakukan dengan metode cut and fill, dan perhitungan detail dilakukan oleh ahli drainase.
c. Tahap Konsep Desain (Concept Design)
Sebelum menghasilkan sebuah konsep desain final, tahapan ini diawali dengan beberapa sub tahapan yaitu design principles dan design layers. Design principles merupakan kegiatan analisis teori-teori desain yang berkaitan dengan solusi desain yang berkaitan dengan proyek tersebut. Design layers merupakan tahapan proses pengaplikasian dari design principles ke dalam tapak. Semua tahapan tersebut disajikan secara spasial sebagai informasi dan tahapan pendukung sebelum sampai pada tahap penghasilan site plan.
Design principles
Prinsip-prinsip desain yang diangkat oleh pihak SFA adalah mengenai prinsip desain jalan, desain hubungan pergerakan dan tujuan, prinsip peletakan
poin tujuan sebagai target tujuan yang diutamakan (destination point), serta prinsip desain infrastruktur lanskap.
a. Prinsip desain jalan
Menurut Telford (2007) dalam desain jalan yang dikategorikan sebagai street mengusung fungsi antar obyek yang dihubungkan maka sebaiknya tidak hanya mengakomodir mobilitas kendaraan bermotor tetapi kepentingan mobilitas manusia diperhitungkan. Mengacu prinsip tersebut maka idealnya sebuah jalan juga mengusung fasilitas untuk pejalan kaki dan sepeda.
Jika diaplikasikan pada tapak ini maka desain yang dikonsepkan adalah di bagian kanan-kiri badan jalan sepajang ruas jalan disediakan fasilitas jalur pejalan kaki (pedestrian) yang disesuaikan dengan kondisi masing-masing ROW dan objek yang menjadi tujuan (Gambar 24).
b. Prinsip desain hubungan pergerakan dengan tujuan
Prinsip perancangan jalan yang baik menyuguhkan sebuah kualitas lanskap dan lingkungan yang baik pula sehingga meningkatkan nilai positif serta meningkatkan nilai budi pekerti pada penggunanya (Telford, 2007). Lebih lanjut dikemukakan oleh Telford, nilai-nilai tersebut tercermin dari lingkungan yang menarik dan terkoneksi dengan baik sehingga mendorong lebih banyak manusia untuk menggunakan jalan untuk berjalan kaki dan bersepeda. Sistem pedestrian lebih komplek di perkotaan diharapkan lebih dari sekedar media, tetapi juga tipikal sebuah sistem taman dan area rekreasi terbuka (Harris dan Dines, 1988)
. Desain yang baik mengangkat bagian penting sebuah komunitas yang berkelanjutan. Pergerakan yang didesain akan menumbuhkan jaringan antar ruang dimana pada titik tertentu dijadikan sebagai tujuan pergerakan. Suatu tempat yang dijadikan area beraktivitas tertentu tersebut yang dimaksud dengan destinations (Telford, 2007). Idealnya dalam suatu jaringan pergerakan tersebut terdapat destination point yang pada aplikasinya nanti dapat berupa rest area, public space dan lainnya. Penempatan destinations point juga harus dilandasi dengan prinsip desain yang dikemukakan oleh Ingels (2004) yaitu keseimbangan (balance) dalam bentuk radial (Gambar 25).
c. Prinsip desain infrastruktur lanskap
Konteks jalan harus selaras dengan lanskap sekitar dan pembangunan kota, fungsinya tidak hanya sebagai koridor transportasi tetapi juga sebagai bagian dari komunitas lokal (Anonimous, 2005). Vegetasi merupakan salah satu atribut kriteria koridor jalan yang baik (Anonimous, 1998). Vegetasi dapat memperbaiki iklim mikro tapak dan memberikan kesan psikis dan visual yang nyaman bagi pengguna. Penempatan area hijau (Gambar 26) juga sebaiknya mengemban prinsip desain.
Design layers
Tahapan ini merupakan aplikasi pada tapak atas prinsip-prinsip desain yang telah dijelaskan sebelumnya.
a. Konsep desain sirkulasi dan destination point
Berdasar prinsip desain yang telah dibahas sebelumnya maka telah dihasilkan konsep desain penempatan destination point yang dihubungkan dengan jaringan baru yang berpotensi dimunculkan. Beberapa bentuk destination point dapat didesain dan ditempatkan pada tiik strategis. Salah satu bentuk tersebut adalah pavement activity dimana area tersebut menyediakan fasilitas plaza yang mengakomodir kegiatan tertentu seperti rekreasi. Tema yang diambil untuk plaza adalah bentukan mounding. Bentuk ini diilhami dari bentuk kepompong, dimana kepompong merupakan bagian dari sutera. Penempatan plaza membentuk keseimbangan terhadap arah Utara, Barat dan Selatan. Lalu untuk arah Timur dan tengah dan sisi lain diletakkan bentuk destination point yang berbeda untuk memenuhi prinsip keseimbangan (Gambar 27)
Tiap destination point dihubungkan dengan jalur baru yang diusulkan yaitu jalur pejalan kaki dan jalur kendaraan. Jalur tersebut dirancang untuk menghubungkan tata ruang utama ke sub ruang yang lebih spesifik. Tetapi dalam konsep yang diusulkan tidak dimasukkan jalur sepeda, yang ada hanyalah jalur pejalan kaki dan ruas jalan raya. Seharusnya jalur sepeda juga didesain menjadi bagian dari jalur, baik dipisahkan dengan jalan raya seperti halnya jalur pejalan kaki, maupun menjadi bagian dari jalan raya dan dibatasi dengan bentuk
perkerasan tertentu. Hal ini dapat menstimulasi masyarakat untuk menngunakan sepeda sebagai alternatif kendaraan ramah lingkungan.
b. Konsep desain drainase tapak dan danau buatan
Aliran drainase diasumsikan berasal dari tapak Alam Sutera Fase I dan dari tapak Fase II sendiri. Danau buatan yang awalnya hanya seluas 5,9 Ha yang ditunjukkan pada Gambar 28 diperluas seperti area berwarna biru pada Gambar 29 menjadi sekitar 9,59 Ha. Selain memperluas area danau buatan, SFA juga mengasumsikan bahwa area rawan akan terjadinya luapan air yaitu area yang terletak pada level 15-17, ditunjukkan oleh garis strip biru muda pada Gambar 29. Perhitungan luasan tambahan di bawah tanggung jawab ahli drainase. Konsep perluasan area danau ini cukup baik untuk mengantisipasi bahaya banjir yang dimungkinkan. Danau ini pula dapat dijadikan area rekreasi masyarakat sekitar yang tahap selanjutnya dapat dirancang fasilitas pendukung rekreasi.
c. Konsep desain infrastruktur lanskap
Infrastruktur lanskap yang direncanakan diklasifikasikan menjadi dua yaitu infrastruktur lanskap untuk ruas jalan dan infrsatruktur lanskap sebagai hutan kota. Konsep hutan kota baru sekedar usulan konsep karena SFA fokus pada pekerjaan lanskap jalan. Konsep hutan kota sebagai aplkasi prinsip keseimbangan karena hutan tersebut didesain pada tiga area yaitu pada interchange, pada danau sisi Selatan dan pada danau sisi Utara.
Untuk lanskap jalannya sendiri terdiri dari dua macam penempatan yaitu vegetasi untuk kedua ruas kanan-kiri jalan dan pada median jalan (Gambar 30). Jenis vegetasi mengambil konsep local species. Tapi dalam tahap selanjutnya tetap saja jenis vegetasi sebagian besar mengikuti usulan klien dengan alasan bahwa klien mempunyai beberapa stok tanaman yang dapat diberdayakan. Pihak SFA menyesuaikan jenis tanaman yang ada dengan kondisi lanskap jalan yang akan dirancang. Menurut pihak klien hal ini dimaksudkan untuk mengurangi biaya pengadaan.tanaman.
Site plan
Setelah dihasilkan konsep yang selaras dengan prinsip desain dan diaplikasikan secara spasial maka tahapan selanjutnya adalah pembuatan site plan. Produk dari tahapan konsep desain adalah site plan (Gambar 32). Semua bentuk analisis baik analisis tapak maupun analisis atas teori dsain telah menjadi satu kesatuan dalam bentuk site plan.
d. Tahap Pengembangan Desain (Design Development)
Tahap pengembangan desain adalah kelanjutan dari konsep yang telah disepakati oleh klien. Tahapan ini mulai membuat rancangan yang lebih detail khususnya dalam perancangan lanskap jalan berkaitan dengan pembagian lebar jalan untuk tiap bagian jalan dan terutama jenis vegetasi. Untuk perancangan detil lanskap jalan maka didasarkan atas lebar jalan (ROW) yang telah diklasifikasikan sebelumnya (Tabel 16).
Tabel 16. Perancangan Detil ROW Alam Sutera fase II Median Pedestrian Ukuran Gorong-gorong (m) Klasifikasi ROW Lebar Total (m) Lebar Badan Jalan (m) lebar (m) vegetasi street furniture lebar (m) vegetasi street furni ture kanan kiri ROW 47 (Lampiran 3) 47 28 3 Samanea saman, Hedge, Amenity grass road light type 2 8.5 (total) 1.5 (footpath) Maniltoa gammipara, Khaya grandiflora Terminalia katappa, Brownea capilata Gardenia carinata Messua ferrea Gustavia superba road light type 1 bolard 2.8x2.8 1.3x1.8 1.3x1.7 1.3x1.7 3x2.5 8x2.3 3x2.2 ROW 38 (Lampiran 4) 38 18 12 - alt.1 : Salyx babylonica - alt.2 : Dillenia philippinensis road light type 1 4 (total) 1.5 (footpath)
Amenity grass, Samanea saman, Hedge, Rail- ing road light type 1 0.6x0.9 4.0x2.2 0.6x0.9 4.0x2.2 Sumber : SFA (2008)
Tabel 16. Perancangan Detil ROW Alam Sutera fase II (lanjutan....) Median Pedestrian Ukuran Gorong-gorong (m) Klasifikasi ROW Lebar Total (m) Lebar Badan Jalan (m) lebar (m) vegetasi street furnitu re lebar (m) vegetasi street furni ture kanan kiri ROW 28 Type 1 (Lampiran 5) 28 9 2 segmen 1 : Arenga pinnata 2 : Cassia fistula 3 : livistona chinensis 4 : lagerstromea floribunda amenity grass 4 (total) 1.5 (footpath) - alt. 1 : Switenia mahagoni - alt. 2 : Podocarpus nerifolius Amenity grass Hedge road light type 1 1.25x1.7 1.25x1.7 1.5x1.8 1.3x1.7 1.3x1.7 2.8x2.8 2.8x2.8 1.3x1.7 1.25x1.4 3.0x2.7 3.0x2.6 1.7x2.2 1.7x2.2 2.2x2.2 ROW 28 Type 2 (Lampiran 6) 28 14 8 (total) 1.5 (footpath) Hura crepitans,Gliricidia sepium,Cananga odorata hedge, amenity grass,Bauhinia variegata road light type 1 1.5x2.1 2.8x2.6 1.5x2.1 2.8x2.8 1.5x2.1 1.2x1.6 ROW 28 Type 3 (Lampiran 7) 28 18 5 (total) 1.5 (footpath) - alt.1 : Gmelina arborea, - alt. 2 : Millingtonia hortensis - alt. 3 :Ppterocarpus indicus road light type 1 1.5x1.8 3.0x2.7 1.3x1.7 1.25x1.7
Panorama Resort Marketing Office Park/PRMO (A117)
Kondisi Umum Panorama Resort Marketing Office
Panorama Resort Marketing Office merupakan kantor pemasaran dari Panorama Resort dimana MC2 Tropical Property sebagai klien, resort ini terletak di Desa Pecatu Kabupaten Badung, Kecamatan Kuta Selatan. Sedangkan kantor pemasaran terletak di Jl. Darupadi No. 1 Banjar Basangkana, Seminyak, Bali. Proses perancangan Panorama Resort selesai sampai tahap pengeluaran gambar kerja dan telah dilakukan pelaksanaan konstruksi di lapang. Bangunan kantor telah ada pada tapak, cakupan kerja SFA adalah perancangan taman kantor. SFA juga melakukan beberapa review bentuk dan interior bangunan karena berhubungan dengan view yang akan dirancang pada taman. Dalam pelaksanaan proses perancangannya, SFA bekerja sama dengan tim pengembang lain di dalam proyek ini yaitu Original Vision (Architecture Consultant), Plum Design (Interior), United Engineers (Main Contractor) dan Lighting specialist.
e. Tahap Persiapan
Proyek perancangan Panorama Resort Marketing Office ini didapatkan melalui mekanisme penunjukan langsung oleh MC2 Tropical Property, dimana MC2 Tropical Property juga sebagai klien pada proyek perancangan Panorama Resort sebelumnya. Pada tahap persiapan ini pihak SFA merumuskan tujuan dan berbagai informasi yang terkait dengan persiapan perancangan.
f. Tahap Riset dan Analisa (Research and Appraisal)
Tahap ini merupakan tahap inventarisasi serta analisis ruang. Inventarisasi dilakukan dengan survei tapak secara langsung oleh tim dari SFA. Tahap analisis yang dilakukan adalah mengenai aspek fisik dan biofisik dari tapak.
Inventarisasi
Inventarisasi dilakukan dengan cara survei langsung ke tapak, beberapa informasi pendukung diperoleh dari pihak lain misalnya dari konsultan arsitek dan desainer interior. Salah satu cara mengetahui keadaan lapang adalah dengan melihat dari foto yang diperoleh saat survei (Gambar 33 dan 34) dan Tabel 17.
Tabel 17. Inventarisasi Tapak Panorama Resort Marketing Office
Aspek Hasil Inventarisasi
Aspek Fisik
Luas area 409.2 m2
Luas Bangunan 134.8 m2 Batas kawasan
- Utara bangunan perumahan
- Timur pertokoan
- Selatan jalan raya
- Barat pertokoan
Topografi relatif datar (0-3%) Iklim
- Suhu 24°- 31°C
- Curah hujan 890-2700 mm/th
- Kelembaban 77%
Fasilitas lain kamar mandi, pure peribadatan Aspek Biofisik
Flora
- Pohon sawo (Chrysophyllum cainito)
- Semak Euphorbia, Sansiviera trifasciata, Dracaena variegata dan beberapa jenis semak liar lainnya Fauna bebagai jenis serangga (kupu-kupu, semut, dll) Sumber : SFA (2008)
Luasan tapak perancangan cukup kecil, hal ini memang betujuan untuk proyek perancangan detil untuk taman kantor. Lokasi tapak berada di kawasan bisnis di daerah jalan Drupadi Seminyak. Kantor ini dibatasi oleh bangunan sekitar dan jalan raya. Bangunan kantor eksisting merupakan bangunan dua lantai yang diengkapi fsilitas peribadatan umat Hindu yaitu pure di bagian depannya. Luas bangunan hampir memenuhi luasan tapak secara keseluruhan, sehingga tapak didominasi oleh perkerasan hanya sedikit di tapak bagian Utara yang masih terdapat tanah. Vegetasi eksisiting hanya ada beberapa spesies yang kondisinya kurang terawat. Ada satu pohon besar di tapak bagian Utara (belakang bangunan) yang sangat mendominasi ruang karena tajuknya cukup lebar.
Analisis Ruang
Analisis ruang yang dilakukan adalah untuk ruang luar dan ruang dalam. Ruang luar merupakan area diluar bangunan yang akan dirancang sebagai taman dan ruang dalam merupakan bangunan gedung itu sendiri. Kedua ruang ini harus
memilki kesatuan dan hubungan yang kuat karena aspek estetika ruang luar yang akan menjadi obyek utama bagi pengguna yang berada di dalam gedung.
a. Analisis ruang luar
Bagian ruang luar yang akan dianalisis meliputi halaman depan, halaman samping dan halaman belakang (Gambar 34 dan Tabel 18).
Tabel 18. Analisis Bagian Ruang Luar PRMO Bagian Ruang
Luar
Potensi Kendala Solusi
Halaman depan sebagai welcome area, area parkir, pura sebagai simbol agama sekaligus ciri khas Bali
dominasi perkerasan, panas, pura tidak boleh diubah bentuk maupun posisinya, tidak pembatas dengan