• Tidak ada hasil yang ditemukan

II. TINJAUAN PUSTAKA

6.6 Rezim Pengelolaan Sumberdaya Tuna Madidihang

Analisis bioekonomi dilakukan untuk menentukan tingkat pemanfaatan sumberdaya perikanan yang optimal dan berkelanjutan. Pendekatan ini menggunakan formula perhitungan pengelolaan tuna madidihang dengan

49 pendekatan model Clarke, Yoshimoto dan Pooley (CYP). Berdasarkan pendekatan model ini diperoleh kondisi perikanan sumberdaya madidihang pada kondisi MSY, MEY, dan OA yang disajikan pada Tabel 15.

Tabel 15. Analisis Bioekonomi Tuna Madidihang pada Rezim Pengelolaan MSY, MEY, dan OA

Parameter

Rezim Pengelolaan

MEY MSY OA

Biomassa (Ton) 2.253,3896 2.033,7961 439,187

Hasil tangkapan (Ton) 977,5407 989,0713 381,0466

Tingkat upaya (Unit) 747,2398 837,6867 1494,48

Rente ekonomi (Rp) 18.377.607,2488 18.108.356,8540 0

Sumber: Hasil Analisis Data, 2012

Pada Tabel 15 dapat dilihat perbandingan dari ketiga rezim pengelolaan perikanan untuk ikan tuna sirip kuning atau madidihang. Pada saat perikanan dikelola MEY maka diperoleh rente tertinggi walaupun dengan effort yang lebih sedikit dibandingkan dengan kondisi MSY dan OA.

Nilai parameter biomassa (x) merupakan kondisi biomassa sumberdaya tuna sirip kuning di perairan NTT dalam kondisi masing-masing pengelolaan. Kondisi biomassa tertinggi sebesar 2.253,3896 ton merupakan biomassa optimal pada rezim MEY, kondisi lestari yang bisa dicapai pada kondisi rezim MSY sebesar 2.033,7961 ton. Nilai ini lebih tinggi dibandingkan nilai maksimal yang dicapai pada rezim pengelolaan OA sebesar 439,187 ton. Nilai ini yang akan digunakan sebagai informasi dalam upaya konservasi stok dalam pengelolaan berkelanjutan.

50 Gambar 6. Kurva Bioekonomi Tuna Madidihang “Landing Base” Perairan NTT

Nilai parameter (h) menunjukkan hasil tangkapan dari upaya pemanfaatan sumberdaya tuna sirip kuning. Nilai ini merupakan besaran hasil tangkapan yang diperbolehkan dalam pengelolaan berkelanjutan. Hasil tangkapan terbesar dicapai pada kondisi MSY yaitu sebesar 989,0713 ton, 977,5407 ton pada kondisi MEY, dan 381,0466 ton pada kondisi OA.

Sumber: Hasil Analisis Data, 2012

Gambar 7. Perbandingan Produksi Madidihang pada Masing-Masing Rezim Pengelolaan

-500.0000 1,000.0000

MEY MSY OA Aktual

977.5407 989.0713 381.0465545 997.41 Produksi (Ton) MEY MSY �OA TR = TC = OA Produksi Effort �MEY Y �MSY

51 Gambar 7 menunjukkan bahwa jumlah produksi aktual tuna madidihang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan jumlah penangkapan pada masing-masing rezim pengelolaan. Jumlah penangkapan aktual adalah sebesar 997,41 ton. Jumlah ini jauh lebih besar dibandingkan dengan kondisi MEY, MSY, dan OA. Berdasarkan jumlah penangkapan aktual tersebut, dapat dinyatakan bahwa penangkapan tuna madidihang di perairann NTT telah mengalami biological overfishing karena jumlah penangkapan aktual telah melebihi jumlah yang dianjurkan.

Nilai effort (E) menunjukkan tingkat upaya dalam pemanfaatan perikanan. Nilai ini memberikan informasi terkait dengan tingkat upaya yang diperbolehkan untuk pengelolaan yang berkelanjutan. Effort terbesar berada pada kondisi OA yaitu sebesar 1494,48 unit standar alat tangkap, kemudian rezim pegelolaan MSY sebesar 837,6867 unit standar alat tangkap, dan kondisi MEY sebesar 747,2398 unit standar alat tangkap. Kondisi effort pada rezim MEY merupakan jumlah effort optimum yang dianjurkan secara ekonomi.

Sumber: Hasil Analisis Data, 2012

Gambar 8. Perbandingan Effort Penangkapan Tuna Madidihang pada Masing-Masing Rezim Pengelolaan

0 1000 2000 3000 4000 5000

MEY MSY OA Aktual

747.2398 837.6867

1494.48

4532 Effort (Unit)

52 Sama seperti jumlah penangkapan, jumlah rata-rata effort aktual penangkapan adalah sebesar 4532 unit standar alat tangkap. Jumlah ini sudah melebihi kapasitas pada kondisi MEY, MSY, bahkan OA. Oleh karena itu, penangkapan tuna madidihang di perairan NTT dapat dinyatakan telah mengalami economic overfishing karena jumlah effort aktual telah melebihi jumlah yang dianjurkan. Nilai parameter rente ekonomi (π) menunjukkan tingkat keuntungan secara ekonomi yang diperoleh dari pemanfaatan sumberdaya tuna madidihang. Nilai rente ekonomi yang diperoleh pada rezim MEY yaitu sebesar Rp 18.377.607,2488 yang merupakan rente ekonomi terbesar. Nilai rente ekonomi kedua terdapat pada rezim MSY yaitu sebesar Rp 18.108.356,8540 dan diikuti Rp 0,- pada rezim OA. Tidak adanya rente ekonomi yang diperoleh pada kondisi OA mengandung arti bahwa nelayan hanya memperoleh upah atas biaya yang dikeluarkan tanpa memperoleh keuntungan. Jika sumberdaya tuna madidihang di perairan NTT dibiarkan terbuka untuk setiap orang, maka persaingan usaha pada kondisi ini menjadi tidak terbatas dan dampaknya adalah tingkat resiko yang harus ditanggung oleh nelayan menjadi semakin besar karena persaingan untuk mendapatkan hasil tangkapan menjadi semakin ketat. Pada kondisi inilah dapat dikatakan bahwa keuntungan atau nilai rente yang dapat diterima sama dengan nol atau keuntungan normal. Nilai rente pada kondisi MEY lebih tinggi dibandingkan nilai rente pada MSY dan OA. Nilai rente ekonomi MEY ini merupakan nilai rente maksimum.

6.7 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Nelayan dalam Penangkapan

53

6.7.1 Biaya Operasional

Biaya merupakan salah satu faktor produksi yang sangat penting dalam usaha penangkapan tuna madidihang. Hasil tangkapan tuna madidihang sangat bergantung kepada banyaknya biaya yang dikeluarkan. Biaya operasional mencakup biaya bahan bakar, biaya untuk membeli umpan, es balok, perbekalan berupa makanan dan minuman yang menjamin nelayan selama satu atau dua minggu di laut. Berdasarkan hasil wawancara, rata-rata biaya operasional yang

dikeluarkan oleh nelayan dalam satu kali trip adalah Rp.3.626.533.

6.7.2 Ukuran Kapal

Nelayan yang menjadi responden dalam penelitian ini memiliki kapal yang bervariasi ukurannya. Ukuran kapal nelayan selain mempengaruhi kapasitas produksi atau hasil tangkapan juga berpengaruh terhadap durasi melaut dalam satu kali trip. Ukuran kapal yang kecil memiliki kapasitas produksi yang berbeda dibanding dengan kapal penangkap tuna madidihang yang berukuran lebih besar. Dalam penelitian ini, ukuran kapal nelayan lokal yang menjadi responden bervariasi, yaitu kapal berukuran 2 GT sampai dengan 7 GT.

6.7.3 Jumlah Anak Buah Kapal (ABK)

Kegiatan penangkapan tuna madidihang membutuhkan anak buah kapal yang bertugas untuk menangkap ikan maupun melakukan tugas lainnya selama trip. Dalam penelitian ini, responden memiliki jumlah ABK yang bervariasi, sesuai dengan kebutuhan dan ukuran kapal. Jumlah ABK dalam kegiatan penangkapan tuna madidihang di perairan NTT berjumlah dua sampai dengan lima orang.

54 Nelayan lokal yang melakukan kegiatan penangkapan tuna madidihang memiliki latar belakang pendidikan yang berbeda-beda. Tingkat pendidikan responden dalam penelitian ini yaitu Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), dan Sekolah Menengah Atas (SMA). Sebaran nelayan responden berdasarkan tingkat pendidikan dapat dilihat pada Tabel 16.

Tabel 16. Jumlah Nelayan Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan

Tingkat Pendidikan Nelayan Frekuensi Persentase (%)

Tidak Lulus SD 0 0

Lulus SD 7 23

Lulus SMP 15 50

Lulus SMA 8 27

Jumlah 30 100

Sumber: Data Primer, Diolah (2012)

Tabel 16 menunjukkan bahwa sebagian besar nelayan responden merupakan nelayan dengan tingkat pendidikan terakhir Sekolah Menengah Pertama (SMP) dengan persentase sebesar 50%. Persentase tingkat pendidikan nelayan responden terendah yaitu nelayan dengan tingkat pendidikan terakhir Sekolah Dasar (SD) dengan persentase 23%.

6.7.5 Umur Nelayan

Aspek umur merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi kondisi fisik nelayan dalam kegiatan penangkapan tuna madidihang. Umur nelayan yang masih muda memiliki kondisi fisik yang baik dalam kegiatan penangkapan tuna madidihang. Kondisi nelayan yang mempunyai umur lebih tua cenderung memiliki kondisi fisik yang kurang baik dalam usaha penangkapan tuna madidihang, namun pengalaman yang dimiliki menjadi faktor lain yang menjadi kelebihan nelayan yang berumur lebih tua. Kegiatan penangkapan tuna madidihang membutuhkan waktu melaut yang cukup lama sehingga dibutuhkan

55 kondisi fisik yang baik dari nelayan. Sebaran nelayan responden berdasarkan umur dapat dilihat pada Tabel 17.

Tabel 17. Jumlah Nelayan Responden Berdasarkan Sebaran Umur

Umur Nelayan Frekuensi Persentase (%)

25 – 36 13 43

37 – 48 14 47

49 – 60 3 10

Jumlah 30 100

Sumber: Data Primer, Diolah (2012)

Tabel 17 menunjukkan sebaran umur nelayan tuna madidihang yang ada di Bolok, Kabupaten Kupang dengan persentase terbesar berada pada range umur 37-48 tahun dengan nilai 47%, sedangkan persentase terendah berada pada range umur 49-60 dengan nilai 10%.

Dokumen terkait