• Tidak ada hasil yang ditemukan

Riba Dan Pengharamannya

Dalam dokumen AKAD BAY AL-WAFA’ (Halaman 64-68)

Bab II : Kajian Teoritis

C. Riba Dan Pengharamannya

1. Pengertian Riba

Secara etimologi, riba berarti bergerak, subur, kelebihan atau tambahan. Arti secara bahasa ini dipahami dari firman Allah dalam surah Fushshilat (QS. 41:39), yang berbunyi:

‏يِ َّ

لا‏َّنِإ‏ۦ‏ ْتَبَرَو‏ ْتَّ َتْها‏َءاَم ْلا‏اَهْيَلَع‏اَ ْلنَزنَأ‏اَذِإَف‏ًةَعِشاَخ‏ َضْرَ ْلا‏ىَرَت‏َكَّنَأ‏ِهِتاَيآ‏ْنِمَو

‏﴾٣٩﴿‏‏ٌريِدَق‏ٍءْ َش‏ ِّ ُك‏َٰ َع‏ُهَّنِإ‏ۦ‏ٰ َتْوَمْلا‏ ِيْحُمَل‏اَهاَيْح َ أ

Artinya : “Dan di antara tanda­tanda­Nya (ialah) bahwa kau Lihat bumi kering dan gersang, Maka apabila Kami turunkan

82 Wahbah az-Zuhaili, Al­Fiqh al­Islami…., h. 3508-3509.

air di atasnya, niscaya ia bergerak dan subur. Sesung­

guhnya Tuhan yang menghidupkannya, pastilah dapat menghidupkan yang mati. Sesungguhnya Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.“83

Selanjutnya firman Allah dalam surah an-Nahl (QS. 16:92), berbunyi:

‏ ًلَخَد‏ْمُكَناَمْي َ

أ‏َنوُذِخَّتَت‏اًثاَكن َ

أ‏ٍةَّوُق‏ِدْعَب‏نِم‏اَه َلْزَغ‏ ْت َضَقَن‏ ِتَّلَك‏اوُنوُكَت‏ َلَو

‏َمْوَي‏ْمُكَل‏ َّ َنِّيَبُ َلَو‏ۦ‏ِهِب‏َُّللا‏ُم ُكوُلْبَي‏اَمَّنِإ‏ۦ‏ٍةَّمُأ‏ْنِم‏ٰ َبْرَأ‏َ ِه‏ٌةَّمُأ‏َنوُكَت‏نَأ‏ْمُكَنْيَب

‏﴾٩٢﴿‏‏َنوُفِلَتْ َ

ت‏ِهيِف‏ْمُتنُك‏اَم‏ِةَماَيِق ْ لا

Artinya : “Dan janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat, menjadi cerai berai kembali, kamu menjadikan sumpah (perjanjian) mu sebagai alat penipu di antaramu, disebabkan adanya satu golongan yang lebih banyak jumlahnya dari golongan yang lain. Sesungguhnya Allah hanya menguji kamu dengan hal itu. dan Sesungguhnya di hari kiamat akan dijelaskan­Nya kepadamu apa yang dahulu kamu perselisihkan itu.“84

Adapun secara terminologi para ulama fiqh mendefinisikan bahwa riba adalah kelebihan harta dalam suatu transaksi tanpa ada imbalan/gantinya.

2. Pengharaman Riba

Berdasarkan pengertian riba di atas dan ayat yang dijadikan sebagai landasan hukum kebolehan jual beli, dapat dipahami bahwa riba adalah sesuatu yang dilarang dan diharamkan Allah, sebagaimana yang dinyatakan pada surah al-Baqarah (QS. 2:275).

Adapun Hadits Nabi tentang keharaman riba tersebut berbunyi:

83 Depag. RI, Al­Qur’an dan Terjemahannya, h. 778

84 I b i d. h. 416

‏وموابرلا‏كا‏ملسو‏هيلع‏للا‏لص‏للا‏لوسر‏نعل‏:‏لاق‏هنع‏للا‏ضر‏رب‏اج‏نع

‏.

85

ملسم‏و‏يراخلا‏هاور‏.‏ءاوس‏مه‏:‏لاقو‏،‏هيدهاشو‏ههبتكاو‏هك

Artinya : Dari Jabir r.a berkata; Rasulullah saw melaknat pemakan riba, yang memberi makan dengan cara riba, para penu­

lis nya dan para saksinya, dia berkata; semua mereka itu sama .Hadits riwayat Bukhary dan Muslim.

Demikian tegasnya terhadap kebolehan jual beli dan keha -ra man riba, hingga digandengkan dalam satu penggalan ayat da-lam surat al-Baqarah. Tentang pengharaman riba dapat dijum pai berulang kali dalam al-Quran maupun Hadits, karena riba meru-pakan suatu bentuk kezaliman ekonomi yang harus dihindari.

Sebelum kedatangan Islam, riba merupakan suatu sistem, dimana pinjaman asal digandakan dan terganda, tersistem melalui psoses penambahan (usurious), oleh sebab itu Islam datang dan menolak meng akui riba sebagai suatu transaksi bisnis yang adil.

Berdasarkan dalil al-Quran dan Hadits Rasulullah saw. para ulama fiqh sepakat menyatakan bahwa muamalah dengan cara riba ini hukumnya haram, karena itu pekerjaan melakukan riba adalah suatu pekerjaan dosa besar yang wajib ditinggalkan. Orang yang pernah melakukannya hendaklah berhenti dengan segera dan bertobat. Kalau dia tobat, dia boleh mengambil modalnya itu kembali dengan tidak mengambil keuntungan yang didapat dari riba itu.86 Menurut al-Maraghi seorang mufassir dari Mesir sebagaimana yang dikutip oleh H. Nasrun Haroen bahwa proses keharaman riba disyariatkan Allah secara bertahap.87 Adapun tahapan tersebut adalah sebagai berikut:

a. Pertama, dimana Allah menyatakan bahwa riba itu bersifat negatif, hal ini dapat kita pahami dalam surat al-Rum (QS.

30:39):

85 Muhammad bin Ismail al-Kahlany, Subulussalam, jilid 3, h. 36

86 Syekh H. Abdul Halim Hasan Binjai, Tafsir al­Ahkam (Jakarta: Prenada Media Group, 2006), h.164

87 Ahmad Mustafa al-Maraghi, Tafsir al­Maraghi. Lihat Nasrun Haroen, Fiqh Muamalah, h. 182

‏ٍة َكاَز‏نِّم‏مُتْيَتآ‏اَمَو‏ۦ‏َِّللا‏َدنِع‏وُبْرَي‏ َلَف‏ ِساَّلنا‏ِلاَوْمَأ‏ ِف‏َوُبْ َيِّل‏اًبِّر‏نِّم‏مُتْيَتآ‏اَمَو

‏﴾٩٣﴿‏‏َنوُفِع ْضُم ْلا‏ُمُه‏ َكَِٰلوُأَف‏َِّللا‏َهْجَو‏َنوُديِرُت

Artinya : “Dan sesuatu riba (tambahan) yang kamu berikan agar dia menambah pada harta manusia, maka riba itu tidak menambah pada sisi Allah.“88

Menurut para mufassir, ayat ini ayat Makiyah (ayat-ayat yang diturunkan pada periode Mekkah), ayat yang pertama kali berbicara tentang riba.

b. Kedua, Allah memberi isyarat tentang keharaman riba melalui kecamanNya terhadap praktek riba di kalangan masyarakat Yahudi. Ini dapat kita pahami yang dinyatakan Allah dalam surat an-Nisa’ (QS. 4:161) :

‏ َنيِرِف َكْلِل‏اَنْدَتْعَأَو‏ۦ‏ِلِطاَْلاِب‏ ِساَّلنا‏َلاَوْم َ

أ‏ْمِهِل ْكَأَو‏ُهْنَع‏اوُهُن‏ْدَقَو‏اَبِّرلا‏ُمِهِذْخَأَو

﴾١٦١﴿‏‏اًم ِل َ

أ‏اًباَذَع‏ْمُهْنِم

Artinya : “Dan disebabkan mereka memakan riba, Padahal Sesungguhnya mereka telah dilarang daripadanya, dan karena mereka memakan harta benda orang dengan jalan yang batil. Kami telah menyediakan untuk orang­orang yang kafir di antara mereka itu siksa yang pedih.“89

Ayat ini termasuk ayat Madaniyah (yang diturunkan pada periode Madinah), dimana Allah menegaskan tentang kecaman-Nya terhadap orang-orang yang melakukan praktek riba.

c. Ketiga. Tahap berikut ini Allah telah menyatakan bentuk riba yang diharamkan dengan sifatnya yang berlipat ganda, ketegasan sifat ini dinyatakan Allah dalam surat Ali Imran (QS; 3:130):

88 Depag.RI, Al­Quran dan Terjemahnya, h. 647

89 Ibid, h. 150

‏َنوُحِلْفُت‏ْمُك َّلَعَل‏ََّللا‏اوُقَّتاَو‏ًةَفَعا َضُّم‏اًفاَعْضَأ‏اَبِّرلااوُلُكْأَت َلاوُنَمآ‏َنيِ َّلا‏اَهُّيَأ‏اَي

﴾١٣٠﴿‏

Artinya : “Hai orang­orang yang beriman, janganlah kamu memakan Riba dengan berlipat ganda dan ber tak­

walah kamu kepada Allah supaya kamu men dapat keberuntungan.“90

Allah sudah menegaskan dalam ayat di atas dan menya-takan ciri/sifat dari riba tersebut, apabila sifat itu ditemukan dan mengindikasikan adanya penambahan terhadap harta seseorang, hal tersebut tergolong riba dan diharamkan.

d. Keempat. Tahap ini merupakan tahapan akhir untuk me-nyatakan secara totalitas dengan segala ciri dan sifatnya bahwa riba itu diharamkan. Hal ini dapat dipahami dari surat al-Baqarah ayat 275 dinyatakan Allah bahwa jual beli itu tidak sama dengan riba, pada ayat berikutnya (ayat 276) Allah memerintahkan untuk memusnahkan riba, selan-jutnya pada ayat 278 dinyatakan Allah supaya manusia me ning galkan segala sisa riba (yang belum dipungut), agar menjadi manusia yang beriman.

Dalam dokumen AKAD BAY AL-WAFA’ (Halaman 64-68)

Dokumen terkait