B. Dakwaan Jaksa dan Pertimbangan Hakim 1.Dakwaan Jaksa dan Pertimbangan Hakim
2. Rincian Setiap Unsur dan Pertimbangan Hakim
Rincian unsur-unsur yang dibuat oleh Majelis Hakim dalam putusannya akan dibagi menjadi yaitu (a) rincian unsur yang berkaitan dengan tanggung jawab atasan (komando) dan (b) rincian unsur yang berkaitan dengan adanya pelanggaran ham berat yang dilakukan oleh bawahan yaitu berupa pembunuhan dan penganiayaan. Berikut kajian detil terhadap rincian unsur-unsur tersebut.
a. Unsur Atasan Polisi yang mempunyai kendali efektif atas anak buahnya, (ii) unsur mengetahui atau secara sadar mengabaikan informasi yang secara jelas menunjukkan bahwa bawahannya sedang melakukan atau baru saja melakukan pelanggaran HAM yang berat, (iii) unsur tidak mengambil tindakan yang layak dan diperlukan dalam ruang lingkup kewenangannya untuk mencegah atau menghentikan perbuatan tersebut atau menyerahkan pelakunya kepada pejabat yang berwenang untuk dilakukan penyelidikan, penyidikan, dan penuntutan
Fakta Hukum yang Diterima Hakim Pertimbangan Hakim Analisa
1. Bahwa benar terdakwa Brigadir Jenderal Polisi Drs Johny Wainal
Yang dimaksud dengan seorang atasan polisi dalam unsur ini adalah seoranng polisi karena
Usman pada Bulan November 2000 sampai dengan bulan Mei 2001 menjabat sebagai Komandan Satuan Brimob (Dan Sat Brimob) Polda Papua/Irian Jaya di Jayapura berdasarkan Surat Keputusan Kepala Kepolisian Negara RI Nomor: Skep/1343/XI/2000 tanggal 8 Nopember 2000, dengan pangkat Superintendent (Letnan Kolonel Polisi);
2. Bahwa benar sebelum Dan Sat Brimob (terdakwa) memberikan APP kepada anggota satuan Brimob yang telah berkumpul pada saat itu, terlebih dahulu menelpon Wakapolda – Irjen Pol.Drs.MOERSOETIDARNO
MOERHADI, dan melaporkan Bahwa : “Mapolsek Abepura telah diserang oleh sekelompok orang yang tidak dikenal dan telah menimbulkan korban jiwa 1(satu) orang yang meninggal dunia dan 3(tiga) orang mengalami luka parah” yang selanjutnya Wakapolda memerintahkan terdakwa untuk membantu Polsek Abepura serta
jabatan dengan Surat Keputusan Pengangkatannya sebagai Komandan/Kepala Satuan pada salah satu unit di lingkungan POLRI, yang membawahi beberapa anggota polisi yang berada di bawahnya.
Berdasarkan alat bukti keterangan saksi serta bukti surat yang dihadirkan ke persidangan terungkap bahwa pada saat peristiwa penyerangan Polsek Abepura, pembakaran ruko, pembunuhan satpam serta pembakaran kantor otonomi, terdakwa menjabat sebagai Dan Sat Brimob Polda Irian Jaya.
Menimbang bahwa bentuk pertanggungjawaban ini tidak hanya berlaku
bagi komandan militer tetapi juga non militer seperti Kepala Negara/Pemerintahan seperti pada praktek kasus Hirota, Karadzic dan Mladic, Akayesu serta Kambanda,
Selain itu seseorang baru dapat dikenakan pertanggungjawaban atas tindakan yang dilakukan orang lain apabila telah memenuhi dua elemen yakni (1) pengetahuan, dan (2) gagal untuk mencegah.
Menimbang, di samping prinsip pertanggungjawaban komando maka dikenal
Doktrin pertanggungjawaban komandan/atasan ini terbagi tiga aspek40:
1. Aspek Fungsional : Bahwa kedudukan seorang komandan harus menimbulkan kewajiban untuk bertindak.
2. Aspek kognitif : Seorang komandan ‘harus memiliki pengetahuan’ (must have known) atau ‘seharusnya memiliki pengetahuan’ (should have known) tentang kejahatan; 3. Aspek Operasional : Harus ada kegagalan
(failure)41 untuk bertindak yang dilakukan komandan.
Berdasarkan ketiga aspek diatas, unsur pertanggungjawaban komando yang pertama kali harus dibuktikan adalah posisi terdakwa sebagai seorang atasan. Dengan demikian, penentuan unsur atasan sebagai unsur pertama yang harus dibuktikan oleh Majelis Hakim adalah tepat.
Selanjutnya, alat bukti dan keterangan saksi
40 E. van Sliedregt, The Criminal Responsibility of Individuals for Violation of IHL, T.M.C Asser Press, The Hague,2003. hlm.135
mengejar dan menangkap para pelaku penyerangan Mapolsek Abepura tersebut;
3. Bahwa benar pada tanggal 7 Desember 2000 kira-kira pukul 03.00 s/d 06.00 WIT terdakwa berada di Mapolsek Abepura dan sekitarnya, setelah pukul 06.00 terdakwa kembali ke rumah untuk mandi dan ganti pakaian, kemudian menuju ke Mako Brimob Kotaraja; 4. Bahwa benar pada waktu anggota
satuan Brimob Polda Papua/Irian Jaya membantu anggota Polsek Abepura dan Polres Jayapura
juga prinsip pertanggungjawaban secara individu yang mulai dikembangkan dalam praktek internasional dan diadopsi dalam Statuta Roma di mana telah mengenyampingkan beberapa Prinsip Hukum Umum yakni :
(1) seorang pejabat tidak dapat dituntut sebagai individu karena kebijaksanaan yang dilakukan
(2) pejabat tidak dapat dituntut terhadap tindakan yang dilakukan dalam kapasitas sebagai pejabat
Dengan demikian menurut Majelis Hakim terdakwa dapat bertanggungjawab terhadap
juga mendukung pertimbangan hakim bahwa pada saat terjadinya penyerangan terdakwa menjabat sebagai Dan Sat di mana tugasnya adalah membina, melatih anggota dan menyiapkan untuk dihadapkan pada tugas-tugas berintensitas tinggi, yang utamanya adalah kejahatan yang menggunakan senjata api, dan
42 Berkas Perkara…op.cit,hlm.218 43
Lihat Bab 3 mengenai pembuktian unsur atasan.
44 Lihat Berkas Perkara…op.cit, hlm. 218.
45 Lihat Pasal 42 (1) dan (2) Undang-Undang 26/2000, dalam Pasal itu diyatakan bahwa :
(1) komandan militer atau seseorang yg secara efektif bertindak sebagai komandan militer dapat dipertanggungjawabkan terhadap tindak pidana yang berada di dalam jurisdiksi Pengadilan HAM, yang dilakukan pasukan yang berada di bawah komando dan pengendaliannya yang efektif atau di bawah kekuasaan dan pengendaliannya yang efektif dan tindak pidana tersebut merupakan akibat dari tidak dilakukannya pengendalian pasukan secara patut, yaitu :komandan militer atau seseorang tersebut
mengetahui atau atas dasar keadaan saat itu, seharusnya mengetahui bahwa pasukan tersebut sedang melakukan atau baru saja melakukan pelanggaran
HAM yg berat; dan
B. Komandan militer atau seseorang tersebut tidak melakukan tindakan yg layak dan diperlukan dalam ruang lingkup kekuasannya untuk mencegah atau menghentikan perbuatan tersebut atau menyerahkan pelakunya pada pejabat yang berwenang untuk dilakukan penyelidikan, penyidikan dan penuntutan (2) seseorang atasan, baik polisi maupun sipil lainnya bertangungjawab secara pidana terhadap pelanggaran HAM yang berat yang dilakukan oleh bawahannya yang berada di bawah kekuasaan dan pengendaliannya yang efektif karena atasan tersebut tidak melakukan pengendalian terhadap bawahannya secara patut dan benar, yakni:
A. atasan tersebut mengetahui atau secara sadar mengabaikan informasi yg secara jelas menunjukkan bahwa bawahan sedang melakukan atau baru saja melakukan pelanggaran HAM yg berat; dan
B. atasan tersebut tidak mengambil tindakan yang layak dan diperlukan dalam ruang lingkup kewenangannya untuk mencegah atau menghentikan perbuatan tersebut atau menyerahkan pelakunya pada pejabat yang berwenang untuk dilakukan penyelidikan, penyidikan dan penuntutan (huruf tebal dari penulis)
melakukan penangkapan terhadap sejumlah penduduk sipil di Asrama NINMIN, Asrama IMI, Asrama YAWA, pemukiman di Jalan Baru Kotaraja, Pemukiman di Abepantai dan Skyline, terdakwa selaku Dan Sat Brimob Polda Papua/Irian Jaya tidak pernah melakukan upaya pencegahan terhadap tindakan kekerasan yang dilakukan oleh anggota satuan Brimob Polda Irian Jaya yang berada dibawah kekuasaan dan pengendaliannya, sehingga terjadilah peristiwa penganiayaan dan penembakan terhadap penduduk sipil tersebut; 5. Bahwa benar terhadap anggota
satuan Brimob yang melakukan tindakan kekerasan itu oleh terdakwa atas perintah Kapolda telah dilakukan penyelidikan dengan cara terdakwa memerintahkan provost Brimob untuk melakukan penyelidikan terhadap anggota-anggota yang diduga telah melakukan pelanggaran HAM yang berat in casu Kejahatan Terhadap Kemanusiaan;
6. Bahwa benar dari hasil penyelidikan terhadap anggota yang
apa yang dilakukan pasukan brimob sebagai bawahannya yang ditugaskan untuk membantu POLSEK Abepura dalam upaya pengejaran dan penangkapan orang-orang yang diduga melakukan penyerangan Polsek Abepura
Menimbang, bahwa beradasarkan uraian dan pertimbangan di atas Majelis Hakim menyatakan bahwa sepanjang mengenai apa yang dimaksud dengan unsur “seorang atasan Polisi bertanggungjawab secara pidana” dapat dibuktian.
bahan peledak, pelaku-pelaku terror serta pelaku pemberontakan42. Tidak ada keraguan Majelis Hakim dalam hal ini mengenai posisi atasan terdakwa dan keharusan mengendalikan anak buahnya walaupun beberapa keterangan saksi mengatakan bahwa setelah di BKO kan kewenangan pengendalian ada di tangan komandan satuan wilayah dalam hal ini Kapolre/Kapolsek (de jure commander).
Walaupun demikian, fakta di persidangan memperlihatkan bahwa terdakwa masih memiliki kewenangan sebagai de facto commander, di mana perintahnya masih
diduga telah melakukan pelanggaran HAM berat tersebut ternyata tidak ditemukan;
7. Bahwa benar terdakwa telah menjatuhkan hukuman disiplin terhadap anggota yang telah melakukan pelanggaran disiplin, masing-masing anggota tersebut adalah: 1.Drs. Yosi Muhamartha, dengan hukuman teguran, 2.Suryo Sudarmadji, dengan hukuman teguran, 3.Abdul Rajak Hamid, dengan hukuman teguran, 4. Sawalauddin, dengan hukuman teguran, 5. John Frederik Kamodi, dengan hukuman Penahanan Ringan selama 14(empat belas) hari terhitung mulai tanggal 18 Januari 2001 s/d tanggal 1 Pebruari 2001, 6.Frans Fairnap, dengan hukuman Penahanan Ringan selama 14 hari terhitung mulai tanggal 18 Januari 2001 s/d tanggal 1 Pebruari 2001;
dijelaskan bahwa: “Pengendalian yang efekif” adalah bahwa seorang komandan harus memiliki kemampuan untuk mencegah dan menghukum anak buahnya yang melakukan tindak pidana. Pengertian “effective” dalam hal ini berarti “nyata/benar-benar” sesuai teks asli Satuta Roma yang ditulis dalam bahasa Inggris atau dengan kata lain pengendalian secara de facto.
Selanjutnya, pengkategorian terdakwa sebagai Atasan Sipil menngundang pertanyaan karena pada saat kasus terjadi Kepolisian masih berada di bawah kesatuan Tentara Nasional Indonesia. Selain itu, terdakwa adalah Komandan Satuan Brimob, di mana tugas dan tanggungjawab Brimob berbeda dengan polisi lainnya yakni terfokus pada tugas-tugas yang berintensitas tinggi, yang utamanya adalah kejahatan yang terorganisir, menggunakan senjata api dan bahan peledak, pelaku-pelaku terror dan pelaku
pemberontakan44. Operasi yang dilancarkan terhadap kelompok separatis, tidak berbeda dengan operasi militer selain perang, walaupun dilakukan polisi. Tentu saja dengan tugas yang berbeda tersebut berimplikasi pada perbedaan senjata yang digunakan serta Rules of Engangement (aturan perlibatan) yang berbeda dengan satuan kepolisian lain. Apakah dengan demikian Brimob masih dapat disamakan dengan atasan sipil?
Pada prinsipnya, tidak ada perbedaan yang sangat mendasar antara pertanggungjawaban yang dibebankan pada atasan militer dan sipil. Perbedaannya hanyalah pada “mens rea” (unsur niat), di mana seorang atasan militer memiliki kewajiban untuk mengetahui atau kalau ia tidak tahu , ia “seharusnya mengetahui (should have known”) atas tindakan bawahannya. Jadi, komandan militer tidak bisa mengelak dari pertanggungjawaban komandan karena alasan ia tidak tahu mengenai tindakan yang sedang dilakukan bawahannya. Berbeda dengan atasan sipil, mereka akan dikenakan pertanggungjawaban atasan jika mereka “mengetahui atau secara sadar mengabaikan informasi”, dengan demikian mereka bisa mengelak dari pertanggungjawaban ini jika mereka tidak memiliki pengetahuan dan tidak mengabaikan informasi.45 Hal ini dikarenakan hierarkis militer yang begitu teratur dan
kewajiban komandan untuk selalu membangun sistem pelaporan yang efektif sehingga menjadikannya selalu terinformasi atas apa yang akan,sedang dan telah dilakukan anak buahnya.
Namun jika dilihat dari segi hierarkis, Satuan Kepolisian memiliki hierarkis yang kurang lebih sama dengan militer, sehingga seharusnya atasan polisi juga memiliki kewajiban untuk selalu membangun sistem pelaporan yang efektif sehingga menjadikan dirinya selalu terinformasi tentang apa yang akan, sedang atau telah dilakukan anak buahnya dan mereka tidak dapat mengelak dengan alasan “tidak memiliki pengetahuan”. Dalam hal kelengkapan untuk memperoleh informasi sebetulnya polisi tidak berbeda dengan militer, karena sama-sama memiliki sistem pelaporan berjenjang yang sma dan bahkan biasanya memiliki satuan intelejen. Oleh karena itu ”unsur pengetahuan” bagi aparat militer maupun polisi/sipil tidak lah berbeda.
Pertimbangan Majelis hakim dalam mengambil kesimpulan akan adanya pertanggungjawaban pidana yang dibebankan pada terdakwa tidak jelas dan membingungkan. Majelis hakim tidak
menghubungkan antara fakta hukum yang diterimanya dengan pertimbangan hukum yang diuraikan guna mengambil kesimpulan yang mempunyai dasar argumen yang kuat. Dalam fakta hukum yang diterimanya, semua unsur-unsur pertanggungjwaban atasan telah terpenuhi, namun fakta-fakta hukum ini ditinggalkan dalam pertimbangan hukum yang dibuatnya (kecuali fakta hukum yang menunjuk bahwa terdakwa adalah sebagai atasan de jure), sekalipun akhirnya Majelis Hakim menyatakan bahwa unsur pertanggungjawaban atasan terpenuhi.
Hakim dalam mempertimbangkan unsur ”atasan yang harus bertanggungjawab secara pidana” telah sesuai dengan doktrin pertanggungjawaban komando yang dikembangkan dalam praktek internasional. Namun demikian, Hakim hanya mendasarkan pada teori bahwa terdakwa adalah de jure commander, padahal pada prakteknya, terdakwa juga berperan sebagai de facto commander. Walaupun pertanggungjawaban de jure dan de facto commander adalah sama, namun hal ini tetap penting untuk ditekankan agar supaya hal ini tidak menjadi celah bagi terdakwa untuk membebaskan diri.
Selain itu, keputusan Majelis Hakim yang mengkategorikan terdakwa sebagai atasan sipil memperlihatkan bahwa Hakim tidak cermat menganalisa hasil pembuktian di persidangan. Walaupun penentuan atasan sipil ini mendasarkan pada dakwaan Penuntut Umum, namun seharusnya hakim dapat mengkritisi dakwaan tersebut dengan memutuskan bahwa terdakwa seharusnya didakwa atas pasal 42 (1) yakni sebagai atasan militer. Walaupun pada prinsipnya tidak ada perbedaan mendasar, namun hal ini akan sangat berpengaruh pada pembuktiann unsur ”mengetahui” dari seorang atasan/komandan.
b. Unsur pelanggaran HAM berat yang dilakukan bawahannya berupa pembunuhan dan penganiayaan
Fakta Hukum Pertimbangan Hakim Analisa
1. Bahwa benar pada pukul 02.30 WIT, setelah terjadinya penyerangan Mapolsek Abepura, anggota satuan Brimob dibawah pimpinan Bripka HANS FAIRNAP melakukan pengejaran dan penyekatan ke Asrama NINMIN dan menangkap 27 (dua puluh tujuh) orang penghuni
asrama, kemudian membawa mereka ke Mapolsek Abepura dan terus dibawa ke Mapolres
Menimbang bahwa yang dimaksud dalam pelanggaran HAM yang berat dalam dakwaan adalah kejahatan terhadap kemanusiaan.
Yang dimaksud bawahan dalam hal ini adalah setiap orang yang memiliki atasan yang dapat mengarahkan pekerjaan dan/atau tugasnya.
Menimbang bahwa kejahatan terhadap kemanusiaan mulai dikembangkan sejak Deklarasi St. Peterburg dan pengaturannya terus berkembang hingga praktek-praktek
Fakta hukum yang diterima oleh hakim dalam unsur-unsur ini sangat terbatas.
• Pertimbangan hakim dalam memutuskan tidak adanya pelanggaran ham yang dilakukan oleh bawahan terdakwa kurang meyakinkan.
• Untuk unsur meluas dapat dibuktikan melalui fakta bahwa jumlah korban cukup besar, jumlah personil kepolisian yang dikerahkan cukup besar juga, serangan dilakukan tidak hanya sekali tetapi minimal 5 kali, diberbagai tempat yang berbeda-beda dan dalam waktu yang berberbeda-beda berbeda-beda pula serta ditujukan terhadap penduduk sipil
• Untuk sampai pada kesimpulan tersebut diatas, argumentasi yang dikemukakan hakim sangat
Jayapura;
2. Bahwa benar terdakwa menyerahkan anggota Brimob sebanyak 1(satu) pleton kepada Kapolsek dalam rangka memback-up polsek Abepura, dan pada saat menyerahkan anggota Brimob kepada Kapolsek
Abepura, terdakwa mengatakan:”ini anggota Brimob silahkan perintah:’ 3. Bahwa benar pada kurang
lebih pukul 05.30 anggota satuan Brimob dibawah pimpinan Bripka ZAWAL
HALIM melakukan pengejaran dan penangkapan kepemukiman
warga Kotalima Memberamo dan Warga
Wamena Barat di Abepantai dan kemudian menangkap 4(empat) orang penduduk sipil, dan kemudian membawa mereka ke Mapolres Jayapura;
4. Bahwa benar kira-kira pukul 05.30 WIT anggota satuan Brimob lainnya dibawah pimpinan Iptu
ICTY, ICTR dan berujung pada terbentuknya Rome Statute on the Establishment of International Criminal Court.
Upaya masyakat untuk memerangi kejahatan ini juga diintensifkan dengan diakuinya Prinsip Yurisdiksi Universal, di mana “no safe heaven” bagi pelaku kejahatan terhadap kemansiaan.
Menimbang bahwa berdasarkan ketentuan Pasal 9 Undang-Undang 26/2000, Majelis Hakim dapat merincikan unsur delik sebagai berikut :
1. Adanya serangan meluas dan sistematis
2. Serangan tersebut ditujukan secara langsung kepada penduduk sipil Add 1 : Serangan yang meluas dan
sistematis
a. Serangan
Berdasarkan Otto Trifterer (ed), Commentary on the Rome Statute of the ICC, Majelis Hakim merincikan bahwa serangan mengandung hal-hal sebagai berikut : (1) dilakukan secara berganda, (2) bukan semata-mata serangan militer tapi juga non militer, (3) ditujukan kepada
lemah dan tidak konsisten. Pertama-tama hakim menggunakan interpretasi historis yaitu penafsiran berdasarkan sejarah hukumnya. Hakim menafsirkan pemahaman kejahatan terhadap kemanusiaan dari sejak Deklarasi St Petersburg tahun 1868 sampai dengan pembentukan UU No. 26 tahun 2000. Namun demikian sampai taraf ini, hakim belum memberikan kesimpulan yang cukup berarti dan belum mampu menunjukkan apa fungsi penafsiran historis ini dalam membangun argumentasi yang diyakini. Seharusnya hakim sudah bisa menggali dinamika nilai-nilai kemanusiaan yang tumbuh dan berkembang dari penelusuran sejarah lahirnya ketentuan ini. Dari penafsiran ini hakim hanya sampai pada kesimpulan untuk menunjukkan pengertian kejahatan terhadap kemanusiaan yang disebutkan dalam Pasal 9 UU No. 26 tahun 2000 yang selanjutnya dijadikan titik pangkal hakim dalam melakukan penafsiran berdasar bahasa yang digunakan dalam ketentuan (interpretasi gramatikal)
Selanjutnya, dari uraian pertimbangan Hakim tersebut, terlihat bahwa Majelis Hakim menyadari betul bahwa tindak pidana ini adalah sesuatu yang baru dalam sistem hukum di Indonesia. Hakim mencoba untuk menguraikan kejahatan ini secara komprehensif, sejak latar belakang sejarah hingga tercantumnya dalam Statuta Roma. Namun, uraian ini tampak berlebihan dan tidak bermakna, ketika pada
SURYO SUDARMADI melakukan pengejaran dan penangkapan ke Asrama Yapen Waropen (YAWA) dan menangkap 5 (lima) orang penghuni asrama tersebut, kemudian membawa mereka ke Mapolres Jayapura;
5. Bahwa benar kira-kira pukul 09.30 WIT anggota satuan Brimob dibawah pimpinan Brigpol JOHN FREDERIK KAMODI, melakukan pengejaran dan penangkapan ke pemukiman Skylne, dan menagkap 1(satu) orang penduduk sipil;
6. Bahwa benar kira-kira pukul 08.00 WIT anggota satuan Brimob lainnya melakukan pengejaran dan
penangkapan ke Pemukiman warga suku
Memberamo dan Wamena Barat di Jalan baru Kotaraja dan menangkap 48 (empat puluh delapan) orang penduduk sipil, kemudian membawa mereka ke
penduduk sipil.
b. Meluas
Meluas berarti menunjuk pada korban yang banyak, dilakukan berulang kali dalam jangka yang tiidak terlalu lama, dilaksanakan secara kolektif yakni tidak sendiri-sendiri ditempat yang berbeda dan akibatnya serius (Akayesu Case).
c. Sistematis
Pengertian serangan yang sistematis berkaitan dengan suatu kebijakan atau rencana yang melatarbelakangi terjadinya tindakan tersebut. Kebijakan tidak selalu tertulis namun dapat juga merupakan tindakan yang beruang dan terus menerus serta menjadi pola yang diikuti ole aparat negara
Menimbang bahwa unsut meluas dan sistematis tidak harus dibuktikan keduanya.
Menimbang bahwa setelah mengetahui pengertian serangan yang meluas tau sistematis tersebut dan dihubungkan dengan tindakan Johny Wainal Usman yang mengerahkan pasukan Brimob untuk membantu Polsek adalah tidak berkesusaian. Hal ini dikarenakan :
akhirnya Hakim menafsirkan unsur-unsur “serangan meluas atau sistematis” hanya menyandarkan pada Penjelasan Pasal 9 UU 26/2000, dan tidak pada penguraian unsur-unsur berdasarkan putusan pengadilan internasional (ICTY dan ICTR).
Berikut akan diuraikan mengenai unsur-unsur kejahatan terhadap kemanusiaan yakni “serangan yang meluas atau sistematis yang ditujukan secara langsung kepada penduduk sipil” berdasarkan doktrin dan praktek pengadilan internasional yang digunakan Majelis Hakim.
a. Serangan
Hakim menimbang bahwa untuk terjadinya pelanggaran HAM berat harus memenuhi unsur delik; pertama adanya serangan yang meluas atau sistematik; kedua serangan tersebut ditujukan secara langsung pada penduduk sipil. Hakim menjelaskan arti istilah serangan yang menunjukkan kata kerja yang dilakukan secara fisik dengan cara mendatangi sasaran yang dituju, dan dalam hal ini adalah penduduk sipil dengan menggunakan kekuatan, baik kekuatan militer maupun non-militer untuk menghancurkan atau membuat tidak berdayanya lawan atau lawan menyerah. Hakim juga menjelaskan mengenai apa yang dimaksud dengan serangan menurut Commentary on The Rome Statute of the ICC yakni :
1. Tindakan baik sistematis maupun meluas yang dilakukan secara berganda (milticiplity
MAKO Brimob Kotaraja dan oleh terdakwa diperintah untuk membawa orang-orang tersebut ke Mapolres Jayapura;
7. Bahwa benar kira-kira pukul 23.00 WIT anggota satuan Brimob yang lain melakukan pengejaran dan penangkapan ke Asrama Ikatan Mahasiswa Ilaga (IMI) dan menangkap 14 (empat belas) orang penduduk sipil, kemudian membawa mereka ke Mapolres jayapura;
8. Bahwa benar jumlah penduduk sipil yang telah ditangkap oleh Satuan Brimob adalah sebanyak 99 (sembilan puluh sembilan) orang, dan dalam melakukan pengejaran dan penangkapan telah terjadi ekses yaitu berupa tindakan kekerasan dengan cara memukuli terhadap anggota masyarakat dengan popor senjata dan menendangnya
Berdasarkan penjelasan Pasal 9 UU 26/2000 serangan adalah “rangkaian perbuatan yang ditujukan kepada penduduk sipil sebagai kelanjutan kebijakan penguasa atau kebijakan yang berhubungan dengan organisasi”. :
(1) Pengertian “kebijakan” sebagai roh dari serangan dipahami Majelis Hakim sebagai “policy atau ide atau gagasan yang bersifat melanggar hukum atau tercela”.
(2) Pengertian “rangkaian perbuatan” dimaknai Majelis Hakim sebagai adanya perencanaan yang khusus ditujukan kepada penduduk sipil, dalam hal ini ada unsur kesengajaan, yang mempunyai arti tujuan dari pelaku. Dengan kata lain, terjadinya suatu tindakan tersebut adalah merupakan perwujudan dari maksud dan tujuan pelaku. Menimbang bahwa berdasarkan fakta hukum yang terungkap di persidangan
commision of acts) : Dalam Kasus Abepura ini terbukti terjadi rangkaian tindak kejahatan yang dilakukan oleh anggota Kepolisian/Brimob, berupa penyerangan, penangkapan dan penahanan sewenang-wenang, peyiksaan dan pembunuhan. Tindakan-tindakan tersebut dilakukan berulang-ulang pada sasaran –sasaran yang berbeda yang berdasarkan laporan intelejen merupakan sasaran yang dicurigai, namun anggota kepolisian juga sudah mengetahui bahwa sasaran operasi tersebut merupakan tempat kediaman dari penduduk sipil46. Hal ini membuktikan bahwa tindakan penyerangan dan penangkapan tersebut bukanlah tindakan yang berdiri sendiri, melainkan tindakan yang berganda serta memiliki hubungan kausalitas.