• Tidak ada hasil yang ditemukan

E. Manfaat Penelitian

2. Rivalitas dan Dinamikanya

Pada tingkat yang paling dasar, konsep dari “rivalitas” menandakan suatu hubungan yang sangat kompetitif antara dua pelaku atau lebih, dimana pelaku dalam hal ini ada pada level kelompok. Konseptualisasi yang lebih mendalam yang dikemukakan oleh para ahli terkait dengan rivalitas khususnya yang terkait dengan konsep-konsep

40 seperti “perseteruan” atau konflik berkepanjangan” menyorot pada tiga unsur utama dalam rivalitas, yakni; rivalitas antara kelompok yang memiliki latar belakang yang sama dengan lawan (rival), persepsi ancaman dan permusuhan diantara masing-masing pihak yang berlawanan, dan dimensi temporal yang mencerminkan dampak dari interaksi masa lalu (sebelumnya) dan kemungkinan interaksi di masa depan (Kilduff, 2010: 945).

Menurut Wayman pada tahun 1996, suatu rivalitas abadi memiliki beberapa indikator, yang diantaranya; (1) kedua belah pihak terlibat atau memiliki sebuah hubungan yang sangat kompetitif atas satu atau lebih sudut pandang yang mereka anggap penting, (2) masing-masing pihak merasakan bahwa pihak lain memiliki niat untuk bermusuhan dan menimbulkan ancaman yang signifikan, dan (3) hubungan yang kompetitif telah berlangsung sejak waktu yang lama dan diperkirakan akan berlanjut di masa mendatang. Konsep tentang rivalitas memiliki jangkauan yang luas dan memiliki penggunaan yang sangat spesifik dalam penerapannya, misalnya persaingan ekonomi antar negara dapat dengan mudah dilihat sebagai persaingan yang melibatkan kebijakan ekonomi atau pasar. Persaingan ini menghasilkan persepsi permusuhan yang buruk dan ancaman terhadap keamanan masing-masing pihak (dalam hal ekonomi), berlangsung selama periode yang lama dengan kemungkinan berlanjut di masa depan.

Bentuk rivalitas yang tidak parah (menengah) juga dapat terjadi pada suasana yang damai dan pada hubungan yang kurang kompetitif yang melibatkan dua pihak atau lebih kelompok. Dalam kasus tertentu, kemungkinan akan selalu ada didalam suatu hubungan persaingan yang tidak kompetitif dan persaingan yang tidak parah tersebut akan berubah dan berpotensi menjadi sebuah persaingan yang penuh atau sangat kompetitif. Sebagai contoh, dua pihak (kelompok) yang tidak banyak merasakan

41 kompetisi, ancaman, ataupun permusuhan diantara satu sama lain kemudian dapat berubah menjadi rival dan mulai bersaing, jika peristiwa di masa mendatang menghasilkan hubungan yang lebih kompetitif, muncul permusuhan, ataupun persepsi ancaman yang timbul semakin besar. Perlu dicatat bahwa proses suatu hubungan menjadi sebuah persaingan itu tidak mudah diprediksi dan tidak dapat di ubah. Namun jika kedua pihak mampu menyelesaikan beberapa masalah secara damai atau salah satu pihak tidak mau mengambil resiko terjadi sebuah konflik, maka setiap persepsi ancaman atau tingkat persaingan diantara mereka dapat menurun, mendekatkan mereka ke hubungan yang lebih damai sehingga dengan demikian kondisi rivalitas dapat direduksi.

Seperti yang sudah dibahas sebelumnya, rivalitas antar kelompok dan antar individu menghubungkan antara derajat hubungan diantara pesaing dan lamanya suatu interaksi diantara pesaing. Konsep rivalitas lain menyebut bahwa rivalitas adalah suatu hubungan yang kompetitif subjektif yang pelakunya memerlukan peningkatan keterlibatan psikologis dan menerima akibatnya dalam kaitan kompetisi dengan pelaku lain, dimana kondisi tersebut bergantung pada situasi dengan karakteristik yang objektif.

Dengan kata lain, rivalitas terjadi ketika seorang pelaku atau kelompok merasakan hasil yang sangat besar secara signifikan dari hasil berkompetisi dengan pelaku atau kelompok lain, dibandingkan dengan orang lain, sebagai akibat langsung dari hubungan kompetitifnya dengan lawan demi mempertahankan nilai-nilai positifnya. Dengan demikian, konsepsi akan rivalitas ini menangkap sejauh mana hubungan persaingan diantara dua kelompok atau lebih yang bertikai.

Ada beberapa aspek tambahan dari konseptualiasi mengenai rivalitas, (Kilduff dan Staw, 2010: 946). Pertama, rivalitas bersifat subjektif yaitu konsep rivalitas yang ada

42 didalam benak pelaku. Ini berarti hubungan rivalitas tidak dapat di identifikasi hanya oleh mereka-mereka yang ada di sebuah kelompok ataupun melalui situasi kompetitif lainnya.

Rivalitas juga tidak dapat disimpulkan hanya dari karakteristik suatu hubungan yang kompetitif, Deutsch (Dalam Kilduff, 2010: 961). Kedua, sebelumnya interaksi merupakan salah satu pusat dari rivalitas. Suatu hubungan pada umumnya terbentuk dari waktu ke waktu dan melalui interaksi yang berulang-ulang. Peran interaksi diantara dua kelompok atau lebih dapat menimbukan kondisi hubungan yang kompetitif, khususnya terhadap interaksi yang terjadi secara berulang-ulang dan memiliki kecenderungan interaksi yang negatif. Ketiga, rivalitas memperbesar pertaruhan psikologis para pesaing secara independen, sebagai akibatnya hal itu dapat menyebabkan timbulnya perilaku rasional. Seperti pada hubungan antara dua rival yang sudah terjalin, perilaku kompetitif mereka diantara satu sama lain dapat dipengaruhi oleh aspek hubungan, sebagaimana kompetisi sebelumnya yang telah terjadi. Selanjutnya, hasil dari sebuah kompetisi dengan para pesaing cenderung bersifat provokatif. Keempat, sifat subjektif dari rivalitas, meskipun persaingan sering dialami oleh kedua belah pihak yang bersaing, namun timbal balik adalah bukan menjadi keharusan, dimana satu pihak dapat merasakan persaingan sementara pihak lainnya tidak.

Bukti secara anekdot menunjukan rivalitas dapat terbentuk antar individu, kelompok, organisasi, dan bahkan negara. Sehubungan dengan sifat hubungan rivalitas, dalam suatu lingkungan yang kompetitif, persepsi persaingan antar pelaku akan memilki banyak makna yang bervariasi pada hubungan itu sendiri, dalam kaitannya dengan kedua belah pihak. Artinya, pelaku akan dapat mengidentifikasi lawan tertentu sebagai saingan, karena hubungan yang mereka miliki dengan lawannya tersebut. Selain karena faktor

43 lingkungan yang kompetitif, faktor lain juga menyebutkan bahwa sifat dari pelaku secara individu tidak dapat sepenuhnya memprediksi persaingan, termasuk intensitas dari persaingan itu sendiri. Meskipun pelaku (pesaing) dengan statusnya yang tinggi dapat menimbulkan intensitas persaingan yang lebih tinggi dari lawan mereka rata-rata, namun hanya hubungan yang unik antara para pesaing saja yang dapat memunculkan pola tambahan dari rivalitas itu sendiri.

Dalam sebuah studi mengenai rivalitas, terdapat beberapa variasi rivalitas didalam suatu hubungan antar individu atau kelompok. Variasi dari rivalitas tersebut antara lain, (Kilduff, 2010: 947-950):

1. Persepsi rivalitas bervariasi secara signifikan terhadap kedua pihak yang bersaing dan lebih ditentukan oleh hubungan antar pesaing dibandingkan dengan karakteristik masing-masing.

Selain menguji sejauh mana rivalitas bervariasi sesuai dengan hubungan antar pesaing, pengujian lain juga menyelidiki bagaimana dan mengapa rivalitas itu terbentuk. Bagaimana pelaku memiliki keinginan pokok untuk mengungguli lawan tertentu. Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi suatu hubungan, yaitu; kedekatan pelaku, sifat relatif, dan sejarah interaksi.

2. Rivalitas antara pesaing secara pasti berhubungan dengan kesamaan mereka Pengalaman dari berkompetisi dapat meninggalkan jejak-jejak residu kompetitif yang tetap bertahan, bahkan ketika kontes telah berakhir sekalipun.

Artinya rivalitas tersebut adalah rivalitas yang bergantung pada jalur. Sebuah penelitian terbaru menunjukan bahwa peserta yang secara acak ditugaskan untuk bersaing satu sama lain ternyata terus bersaing, bahkan setelah

44 penelitian dirubah sedemikian rupa menjadi sebuah kerjasama diantara peserta. Berkenaan dengan kuantitas interaksi kompetitif, kompetisi yang diulang-ulang memungkinkan untuk mendorong rasa bersaing yang lebih besar diantara pelaku, sebagai sisa kompetitifnya dari kompetisi masa lalu yang terakumulasi. Pembukaan diri yang berulang-ulang untuk merangsang awal mula dari sebuah permusuhan masa lalu dapat mengakibatkan hasil yang semakin negatif, begitu juga dengan pembukaan diri yang berulang-ulang terhadap dorongan kompetitif yang sama dapat meningkatkan peningkatan persepsi daya saing. Dengan demikian, kuantitas persaingan yang tipis diantara pelaku juga akan mengakibatkan adanya persaingan.

3. Rivalitas antara pesaing secara pasti berkaitan dengan jumlah interaksi kompetitif yang telah terjadi sebelumnya

Perlu dicatat bahwa meskipun suatu hubungan kompetitif dapat di reduksi, namun interaksi kompetisi dapat terjadi secara terus menerus. Oleh karena itu, persaingan yang berulang juga dapat dikonseptualisasikan sebagai lamanya waktu dimana pihak telah saling bersaing antara satu sama lain. Selanjutnya kompetisi tingkat tinggi dapat menyebabkan dua belah pihak yang bersaing untuk membatasi gerakan agresif mereka satu sama lain, sebuah fenomena yang dikenal sebagai kesabaran yang saling timbal balik. Hal ini terjadi seiring meningkatnya kekhawatiran atas kemungkinan pembalasan yang dapat terjadi dibandingkan dengan pengurangan rasa dalam bersaing.

45 4. Rivalitas antara pesaing secara positif berhubungan dengan daya saing masa

lalu mereka

Secara keseluruhan bahwa kesamaan, kompetisi yang berulang, dan daya saing di masa lalu semua akan mengarah kepada persaingan. Konsepsi kompetisi dalam hal ini dimana kontes antara pesaing diperkirakan akan terus mempengaruhi persepsi kompetitif bahkan setelah hasil dari sebuah persaingan telah diputuskan. Penting untuk dicatat bahwa faktor kesamaan di masa lalu (kemampuan atau status) dan daya saing dapat terkait secara erat.

Dokumen terkait