• Tidak ada hasil yang ditemukan

SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Medan pada tanggal 18 Desember 1981, sebagai anak ketiga dari lima bersaudara dari Ir. Moch. Fillhasny Junus dan Dr. Herla Rusmarilin, Ir., MS.

Pada tahun 1993 penulis menyelesaikan pendidikan di Sekolah Dasar Negeri Kaliasin III Surabaya. Penulis menyelesaikan pendidikan di Sekolah Menengah Pertama Hangtuah I Surabaya pada tahun 1996. Selanjutnya pada tahun 1999 menyelesaikan pendidikan di Sekolah Menengah Atas Negeri 3 Bogor dan pada tahun yang sama penulis melanjutkan pendidikan di Universitas Padjadjaran, Fakultas Peternakan, Jurusan Nutrisi dan Makanan Ternak melalui jalur UMPTN. Penulis lulus dari perguruan tinggi tersebut pada tahun 2004. Pada tahun 2005 penulis diterima sebagai mahasiswa Pascasarjana, program Magister Ilmu Ternak, Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor dengan minat studi ilmu nutrisi.

DAFTAR ISI

Halaman DAFTAR ISI... i DAFTAR TABEL... iii DAFTAR GAMBAR ... iv DAFTAR LAMPIRAN... vi PENDAHULUAN ... 1

Latar Belakang ... 1 Perumusan Masalah Penelitian ... 5 Tujuan Penelitian ... 5 Hipotesa Penelitian ... 5 Kegunaan Penelitian ... 6 TINJAUAN PUSTAKA ... 7 Pengaruh In Ovo Feeding dan Early Feeding Terhadap Performa Ayam ... 7

Dextrin dan Glutamin... 13 Respon Imun ... 16 Newcastle Disease (ND)... 20 Infectious Bursal Disease (IBD) atau Gumboro... 21 Komposisi Karkas Ayam Broiler... 23 MATERI DAN METODA... 26 Waktu dan Tempat Penelitian ... 26 Hewan Percobaan... 26 Bahan Penelitian ... 26 Rancangan Penelitian ... 27 Metode Penyuntikan ... 28 Larutan Dekstrin dan Glutamin... 28 Kandang dan Perlengkapan... 28 Pakan ... 29 Metode Penelitian ... 29 Persiapan Penelitian ... 29 a. Pengukuran Performa ... 34 b. Pengukuran Leukosit dan Diferensiasinya... 34 c. Pengukuran Bursa dan Timus ... 34 d. Uji Penghambatan Aglutinasi (HI Test)... 35 e. Uji Elisa... 36

f. Persentase Karkas dan Kandungan Lemak dan Protein Daging Ayam Broiler (Dada dan Paha) ... 37

Halaman

HASIL DAN PEMBAHASAN... 39 Pengaruh Pemberian Glutamin, Dekstrin dan Kombinasi Keduanya Terhadap Performa Sampai Umur 35 hari ... 39 Pengaruh Pemberian Glutamin, Dekstrin dan Kombinasi Keduanya

Terhadap Leukosit dan Diferensiasinya... 44 Pengaruh Pemberian Glutamin, Dekstrin dan Kombinasi

Keduanya Terhadap Limfosit... 47 Pengaruh Pemberian Glutamin, Dekstrin dan Kombinasi

Keduanya Terhadap Heterofil ... 49 Pengaruh Pemberian Glutamin, Dekstrin dan Kombinasi

Keduanya Terhadap Monosit ... 51 Pengaruh Pemberian Glutamin, Dekstrin dan Kombinasi

Keduanya Terhadap Eosinofil... 52 Pengaruh Pemberian Glutamin, Dekstrin dan Kombinasi

Keduanya Terhadap Basofil... 54 Pengaruh Pemberian Glutamin, Dekstrin dan Kombinasi Keduanya Terhadap Rasio Heterofil/Limfosit ... 55 Pengaruh Pemberian Glutamin, Dekstrin dan Kombinasi Keduanya Terhadap Berat Relatif Bursa dan Timus... 57 Pengaruh Pemberian Glutamin, Dekstrin dan Kombinasi Keduanya Terhadap Titer ND dan IBD ... 64 Pengaruh Pemberian Glutamin, Dekstrin dan Kombinasi Keduanya Terhadap Kuantitas dan Kualitas Karkas... 68

KESIMPULAN DAN SARAN... 72 DAFTAR PUSTAKA ... 73 LAMPIRAN... 79

DAFTAR TABEL

Halaman

1. Sejarah Perkembangan Penelitian In Ovo Feeding...11 2. Perlakuan yang digunakan dalam penelitian...27 3. Tahap pengumpulan data yang dilakukan selama penelitian...33 4. Pengaruh pemberian glutamin, dekstrin dan kombinasi keduanya terhadap rataan konsumsi pakan, bobot badan dan FCR pada minggu ke- I-V...39

5. Pengaruh pemberian glutamin, dekstrin dan kombinasi keduanya terhadap rataan Leukosit dan diferensiasinya pada umur 7, 21 dan 35 hari ...45

6. Pengaruh pemberian glutamin, dekstrin dan kombinasi keduanya terhadap rasio Heterofil/Limfosit ayam Umur 7, 21 dan 35 hari...56

7. Pengaruh pemberian glutamin, dekstrin dan kombinasi keduanya terhadap rataan bobot relatif bursa dan timus umur 14 hari ...58

8. Pengaruh pemberian glutamin, dekstrin dan kombinasi keduanya terhadap rataan jumlah titer darah sebelum dan sesudah vaksin ND (Log 2n HAU) dan IBD (EU) pada ayam yang diberi in ovo feeding sesuai dengan perlakuan...65 9. Pengaruh pemberian glutamin, dekstrin dan kombinasi keduanya terhadap rataan persentase karkas, dada dan paha ayam ...69

10.Pengaruh pemberian glutamin, dekstrin dan kombinasi keduanya terhadap rataan kadar protein dan lemak daging dada dan paha ayam ...70

DAFTAR GAMBAR

Halaman

1. Kerangka Pemikiran...4 2. Sistem Imun ...16 3. Alur penelitian yang dilakukan selama masa penelitian ...30 4. Pengaruh pemberian glutamin, dekstrin dan kombinasi keduanya terhadap

rataan bobot badan pada minggu I-V ...40 5. Pengaruh pemberian glutamin, dekstrin dan kombinasi keduanya terhadap

rataan konsumsi pakan pada minggu I-V...41 6. Pengaruh pemberian glutamin, dekstrin dan kombinasi keduanya terhadap

rataan FCR pada minggu I-V ...42 7. Pengaruh pemberian glutamin, dekstrin dan kombinasi keduanya terhadap

rataan jumlah leukosit ayam pada umur 7, 21 dan 35 hari...46 8. Pengaruh pemberian glutamin, dekstrin dan kombinasi keduanya terhadap

rataan persentase limfosit ayam pada umur 7, 21 dan 35 hari ...48 9. Pengaruh pemberian glutamin, dekstrin dan kombinasi keduanya terhadap

rataan persentase heterofil ayam pada umur 7, 21 dan 35 hari ...49 10.Pengaruh pemberian glutamin, dekstrin dan kombinasi keduanya terhadap

rataan persentase monosit ayam pada umur 7, 21 dan 35 hari...51 11.Pengaruh pemberian glutamin, dekstrin dan kombinasi keduanya terhadap

rataan persentase eosinofil ayam pada umur 7, 21 dan 35 hari...53 12.Pengaruh pemberian glutamin, dekstrin dan kombinasi keduanya terhadap

rataan persentase basofil ayam pada umur 7, 21 dan 35 hari...54 13.Pengaruh pemberian glutamin, dekstrin dan kombinasi keduanya terhadap

rataan rasio H/L ayam pada umur 7, 21 dan 35 hari ...57 14.Bursa fabrisius ayam perlakuan glutamin (P1) ...59 15.Bursa fabrisius ayam perlakuan dekstrin (P2) ...60 16.Bursa fabrisius ayam perlakuan kombinasi glutamin dan dekstrin (P3)...60

Halaman

17.Bursa fabrisius ayam perlakuan NaCl 0.5% (P4)...61 18.Pengaruh pemberian glutamin, dekstrin dan kombinasi keduanya terhadap

rataan titer IBD umur 12 dan 20 hari ...67 19.Pengaruh pemberian glutamin, dekstrin dan kombinasi keduanya terhadap

DAFTAR LAMPIRAN

Halaman

1. Hasil analisis statistik bobot badan ayam umur I dan II minggu ...79 2. Hasil analisis statistik bobot badan ayam umur III dan IV minggu...80 3. Hasil analisis statistik bobot badan ayam umur V minggu ...81 4. Hasil analisis statistik konsumsi pakan ayam minggu ke-I dan II ...82 5. Hasil analisis statistik konsumsi pakan ayam minggu ke-III dan IV ...83 6. Hasil analisis statistik konsumsi pakan ayam minggu ke-V ...84 7. Hasil analisis statistik Feed Conversion Ratio (FCR) minggu ke-I dan II....85 8. Hasil analisis statistik FCR minggu ke-III dan IV ...86 9. Hasil analisis statistik FCR minggu ke-V ...87 10.Hasil analisis statistik persentase bobot karkas...88 11.Hasil analisis statistik persentase bobot dada dan paha ...89 12.Hasil analisis statistik leukosit umur 7 dan 21 hari...90 13.Hasil analisis statistik leukosit umur 35 hari...91 14.Hasil analisis statistik persentase heterofil umur 7 dan 21 hari ...92 15.Hasil analisis statistik persentase heterofil umur 35 hari ...93 16.Hasil analisis statistik persentase limfosit umur 7 dan 21 hari ...94 17.Hasil analisis statistik persentase limfosit umur 35 hari ...95 18.Hasil analisis statistik persentase monosit umur 7 dan 21 hari...96 19.Hasil analisis statistik persentase monosit umur 35 hari...97 20.Hasil analisis statistik persentase eosinofil umur 7 dan 21 hari...98 21.Hasil analisis statistik persentase eosinofil umur 35 hari...99

Halaman

22.Hasil analisis statistik persentase basofil umur 7 dan 21 hari...100 23.Hasil analisis statistik persentase basofil umur 35 hari...101 24.Hasil analisis statistik bobot relatif bursa...102 25.Hasil analisis statistik bobot relatif timus ...103 26.Hasil analisis statistik titer ND umur 4 hari ...104 27.Hasil analisis statistik titer ND umur 12 dan 20 hari ...105 28.Hasil analisis statistik titer ND umur 28 hari ...106 29.Hasil analisis statistik titer IBD umur 12 dan 20 hari ...107 30.Hasil analisis statistik kadar protein daging bagian dada dan paha ...108 31.Hasil analisis kadar lemak daging bagian dada dan paha ...109 32.Hasil uju Tukey kadar lemak daging bagian paha ...110 33.Data temperatur lingkungan pada hari ke-1 sampai hari ke-35 ...111 34.Data kematian selama penelitian...112

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Metode menyuntikkan nutrien berupa cairan ke dalam amnion embrio (in ovo feeding), menyebabkan embrio tersebut secara alami mengkonsumsi nutrien tersebut secara oral sebelum menetas (Uni et al. 2003). Pemberian suplemen berupa nutrien pada masa kritis pertumbuhan embrio dengan cara teknologi in ovo feeding dapat meningkatkan kualitas nutrisi embrio, yaitu diharapkan dapat memberikan keuntungan di lapangan antara lain: a) peningkatan efisiensi penggunaan pakan, b) meniadakan pertumbuhan tulang yang menyimpang, c) meningkatkan pertumbuhan otot terutama otot dada dan d) peningkatan respon imun terhadap antigen pencernaan serta e) menurunkan mortalitas dan morbiditas pasca penetasan, sehingga dapat menekan biaya produksi per kilogram ayam pedaging (Tako et al. 2004).

Kemampuan in ovo feeding dalam menggertak respon imun baik secara humoral maupun selular membuka peluang pemanfaatan teknologi ini secara komersial untuk unggas. In ovo feeding ini diharapkan dapat menurunkan angka kematian yang banyak terjadi pada saat pengiriman DOC ke peternakan- peternakan komersial serta dapat meningkatkan tanggap kebal ayam tersebut selama masa pemeliharaan sampai panen, sehingga dapat menghasilkan ayam dengan berat panen yang lebih tinggi (Uni et al. 2005).

Terdapat banyak nutrien yang dapat digunakan dalam teknologi in ovo feeding. Dekstrin dapat digunakan sebagai bahan in ovo feeding untuk sumber glukosa yang sangat penting bagi masa pertumbuhan periode penetasan (Moran 1985). Glutamin digunakan sebagai bahan in ovo feeding karena digunakan sebagai bahan bakar utama untuk perkembangan sel-sel secara cepat seperti pada enterosit saluran pencernaan dan limfosit aktif (Newsholme & Calder 2002).

Pada masa pemeliharaan ayam terdapat berbagai macam penyakit yang dapat menyebabkan penurunan bobot badan bahkan dapat menyababkan kematian yang dapat sangat merugikan bagi peternak. Penyakit Newcastle Disease (ND) dan Infectious Bursal Disease (IBD) merupakan penyakit yang paling rentan terjadi pada peternakan-peternakan ayam khususnya pada peternakan ayam

pedaging, sehingga penting untuk dilakukan program vaksinasi selama masa pemeliharaan. In ovo feeding diketahui dapat meningkatkan respon imun ayam. Pengujian respon imun pada penelitian ini dilakukan dalam berbagai macam cara. Salah satunya adalah pengukuran titer antibodi terhadap vaksin ND dan IBD yang diberikan, sehingga diharapkan dengan metode in ovo feeding ini dapat meminimalkan terjadinya penyebaran kedua penyakit ini pada saat pemeliharaan.

Respon imun dibagi menjadi dua, yaitu respon imun spesifik dan non spesifik. Respon imun non spesifik merupakan respon langsung dalam menghadapi serangan berbagai organisme terhadap antigen. Salah satu dari respon imun non spesifik adalah reaksi biokimia tubuh, heterofil dan makrofag. Respon imun spesifik adalah respon yang membutuhkan waktu untuk mengenal antigen terlebih dahulu sebelum memberikan responnya, dibagi menjadi respon imun humoral dan seluler. Respon imun humoral adalah sel-sel B yang menghasilkan antibodi, sedangkan respon imun seluler adalah sel-sel T yang berdiferensiasi didalam timus diantaranya adalah sel-sel T radang, heterofil, eosinofil, monosit dan basofil (Tizard 1987).

Meningkatnya respon imun pada ayam yang diberi in ovo feeding diketahui juga dapat meningkatkan performa ayam sehingga dapat meningkatkan produksi ayam pada saat panen. Peningkatan produksi ayam tidak hanya dilihat dari kuantitasnya saja, tetapi kualitas karkas dari daging ayam tersebut juga dapat mempengaruhi nutrien manusia (Rogers et al. 2001). Dua komponen yang mendominasi metode analisis kimia daging adalah protein dan lemak. Protein dan lemak merupakan komponen yang sangat penting dalam nutrien manusia sehingga sangat berpengaruh terhadap bahan pangan manusia yang diantaranya adalah daging ayam. Komposisi kimiawi daging dipengaruhi oleh bangsa, pakan, umur, dan penggemukan serta komposisi karkas, diantaranya adalah pembentukan otot- otot tubuh, diantaranya white meat (daging dada) dan dark meat (daging Paha) (Lawrie 1979).

Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan informasi tentang pengaruh in ovo feeding dengan menggunakan glutamin, dekstrin ataupun kombinasinya. Pada penelitian ingin membuktikan bahwa penambahan nutrien sebelum penetasan dapat berpengaruh baik atau dapat menunjang performa hingga dapat

meningkatkan produksi pada saat panen yang dilihat melalui kuantitas karkas dan kadar protein dan lemak pada daging dada dan paha. Selain itu juga dapat dilihat nutrien yang terbaik untuk digunakan dalam in ovo feeding, dengan melihat respon imun ayam yaitu jumlah leukosit dan deferensiasinya, berat organ timus dan bursa, titer antibodi terhadap vaksin ND dan IBD.

Pada penelitian ini juga dilakukan pengukuran berat badan, konsumsi ransum, feed conversion ratio (FCR) atau nilai efesiensi pakan untuk mengambarkan performa yang dihasilkan. Berikut adalah gambar kerangka pemikiran yang dilakukan dalam penelitian.

18 Hari Inkubasi :

- Seleksi telur-telur fertil (Candling)

- Injeksi larutan Nutrien Ke Cairan amnion

Umur 1 hari : Bobot Badan Doc (Day Old Chick)

Yang Digunakan

4 hari : Titer Antibodi Terhadap Vaksin Newcastle Disease (ND)

Umur 5 hari : Vaksin ND Pertama Umur 7 hari :

- Total Leukosit dan Diferensiasinya - Bobot Badan

- Konsumsi Pakan - Feed Conversion Ratio

Umur 12 hari :

- Titer Antibodi terhadap Vaksin ND - Titer Antibodi terhadap Vaksin Infectious

Bursal Disease (IBD)

Umur 14 hari : - Bobot Badan - Konsumsi Pakan - Feed Conversion Ratio - Bobot Bursa dan Timus

Umur 20 hari :

- Titer Antibodi terhadap Vaksin ND - Titer Antibodi terhadap Vaksin IBD

Umur 21 hari :

- Total Leukosit dan Diferensiasinya - Bobot Badan

- Konsumsi Pakan - Feed Conversion Ratio - Vaksin ND Kedua Umur 28 hari :

- Bobot Badan - Konsumsi Pakan - Feed Conversion Ratio

Umur 35 hari :

- Total Leukosit dan Diferensiasinya - Bobot Badan

- Konsumsi Pakan - Feed Conversion Ratio - Persentase Karkas - Persentase Dada - Persentase Paha

Umur 13 hari : Vaksin IBD Inkubasi selama 18 hari Telur tetas Ross 308

Perumusan Masalah Penelitian

Beberapa permasalahan yang timbul berdasarkan penelitian terdahulu dan yang timbul di lapangan, diantaranya adalah rentang waktu yang cukup lama yang dilalui anak ayam sebelum mendapat pakan pertama, dan penyebaran penyakit yang cepat sehingga banyak menimbulkan kematian dan menurunkan produksi. Berdasarkan permasalahan diatas, in ovo feeding diharapkan menjadi metode baru yang dapat mengurangi dampak dari rentang waktu yang cukup lama sebelum mendapatkan pakan pertama, sehingga dapat meningkatkan morbiditas dan mortalitas anak ayam tersebut.

Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian dekstrin dan glutamin serta kombinasi keduanya secara in ovo terhadap:

1. Profil darah yang diukur melalui jumlah leukosit darah dan diferensiasinya.

2. Respon imun, yang diukur melalui : a. Berat timus.

b. Berat bursa.

c. Titer antibodi yang diukur pada saat sebelum dan sesudah vaksin Newcastle disease (ND).

d. Titer antibodi yang diukur pada saat sebelum dan sesudah vaksin Infectious Bursal Disease (IBD).

3. Kuantitas dan kualitas karkas ayam broiler jantan.

Hipotesa

Berdasarkan kerangka pemikiran maka dapat diambil hipotesa :

H0 : Pemberian glutamin, dekstrin dan kombinasinya secara in ovo pada umur 18 hari inkubasi tidak mempengaruhi jumlah leukosit dan diferensiasinya, bobot timus dan bursa, titer terhadap ND dan IBD, serta kuantitas dan kualitas ayam broiler jantan.

H1 : Pemberian glutamin, dekstrin dan kombinasinya secara in ovo pada umur 18 hari inkubasi mempengaruhi jumlah leukosit dan diferensiasinya, bobot timus dan bursa, titer terhadap ND dan IBD, serta kuantitas dan kualitas ayam broiler jantan.

Kegunaan Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi tambahan mengenai pengaruh pemberian glutamin, dekstrin dan kombinasi keduanya secara in ovo terhadap total leukosit dan diferensiasinya, berat timus dan bursa, titer antibodi terhadap vaksin ND dan IBD serta performa broiler dari umur sehari hingga umur 35 hari.

TINJAUAN PUSTAKA

Pengaruh In Ovo dan Early Feeding Terhadap Performa Ayam

Beberapa hari sebelum dan sesudah penetasan merupakan periode kritis untuk pertumbuhan dan ketahanan pada ayam broiler (pedaging) komersial. Anak ayam yang baru menetas harus dapat beradaptasi terhadap perubahan metabolisme nutrisi dari penggunaan yolk sebagai sumber nutrisi pada saat embrio, berubah menjadi pakan komplit kaya nutrisi setelah penetasan. Pankreas dan enzim-enzim pencernaan pada brush border harus sudah tersedia atau sudah tumbuh secara maksimal untuk digunakan dalam proses pencernaan sehingga nutrisi pada pakan tersebut dapat diserap di seluruh tubuh. Enzim pankreas terbentuk pada masa- masa terakhir embrio sebelum menetas (Marchaim & Kulka 1967).

Pada penelitian yang telah dilakukan Noy dan Sklan (2001), dilaporkan bahwa adanya makanan dalam saluran pencernaan anak ayam yang baru menetas akan merangsang sekresi yolk ke dalam usus halus dan merangsang bahan-bahan hidrofilik. Masa inkubasi yang lebih lama dari 21 hari pada proses penetasan menyebababkan rendahnya status glikogen pada anak ayam. Pada masa ini banyak embrio yang menggunakan glikogen sebagai energi untuk penetasan. Oleh sebab itu, anak ayam itu harus membentuk glikogen melalui proses gluconeogenesis dari protein tubuh untuk mendukung termogulasi post-hatch dan daya tahan tubuh. Hal ini berlangsung sampai anak ayam tersebut dapat asupan makanan dan memanfaatkan nutrien dari makanan tersebut. Setelah ayam menetas, terjadi perubahan penggunaan pemanfaatan energi dari tubuh menjadi pemanfaatan energi melalui makanan yang tercerna pada saluran pencernaan.

Intestine merupakan organ utama penyuplai nutrisi untuk tubuh. Semakin cepat saluran pencernaan pada anak ayam dapat berfungsi dengan baik maka semakin cepat pula anak ayam tersebut dapat mencerna dan menggunakan nutrisi yang terdapat dalam makanan. Nutrisi tersebut dapat digunakan untuk tumbuh dan berkembang sesuai dengan potensi genetik dari anak ayam (Uni & Ferket 2004).

Cadangan glikogen mulai disimpan kembali pada saat anak ayam yang baru menetas mendapatkan makanan dan oksigen serta dapat menggunakan lemak

yang tersimpan dalam yolk sac secara maksimal (Rosebrough et al. 1978b). Kurangnya jumlah glikogen dan albumin akan memaksa embrio untuk menggunakan protein otot dalam jumlah besar. Hal ini akan menyebabkan terhambatnya pertumbuhan embrio pada periode akhir inkubasi dan anak ayam yang baru menetas (Uni et al. 2005).

Pertumbuhan saluran pencernaan dimulai selama inkubasi (Romanoff 1960), tetapi baru mulai berfungsi pada saat cairan amnion dikonsumsi secara oral yaitu pada hari ke 16-17 masa inkubasi. Berat intestine (bagian dari berat embrio) meningkat dari sekitar 1% pada 17 hari masa inkubasi menjadi 3.5% pada saat menetas (Uni et al. 2003).

Anak ayam umur sehari yang mencerna makanan menunjukkan peningkatan aktivitas total trypsin, amylase, dan lipase yang berkorelasi dengan berat intestine dan berat badan (Noy & Sklan 2000). Broiler umur sehari yang mendapatkan early feeding memiliki tingkat pertumbuhan saluran cerna yang lebih tinggi termasuk luas permukaan villi yang lebih luas dan meningkatnya jumlah sel villi usus (Gonzales et al. 2003).

Menyuntikkan nutrien ke dalam cairan amnion embrio menyebabkan embrio tersebut secara alami mengkonsumsi nutrien tersebut secara oral sebelum menetas. Penambahan nutrien pada masa pertumbuhan kritis dengan teknologi in ovo dapat meningkatkan status nutrisi pada saat penetasan, sehingga dapat mendatangkan beberapa keuntungan. Keuntungan yang dimadsud yaitu efisiensi yang tinggi dalam pemanfaatan nutrisi makanan, menurunkan kematian pada periode post hatch, serta meningkatkan respon imun pada saluran pencernaan dan meningkatkan pertumbuhan otot terutama otot daging pada bagian dada (Uni et al. 2003).

Berbagai macam nutrien dapat digunakan sebagai bahan in ovo feeding. Karbohidrat dapat digunakan untuk sumber glukosa, dimana sangat penting bagi masa pertumbuhan periode penetasan (Moran 1985). Begitu pula dengan glutamin yang dapat memberikan beberapa keuntungan yaitu yang paling penting adalah menurunkan kematian periode post hatch. Glutamin juga diketahui dapat meningkatkan pertumbuhan saluran pencernaan sehingga menghasilkan efesiensi pakan yang lebih tinggi dari ayam dengan perlakuan biasa (Allee et al. 2005).

Pertumbuhan adalah perubahan dalam unit terkecil sel yang mengalami pertambahan jumlah (hyperplasi) dan dengan pertumbuhan ukuran (hypertropi). Pertumbuhan tubuh secara keseluruhan dinyatakan dengan pengukuran pertambahan berat badan. Peningkatan berat badan dapat diketahui dengan cara menimbang secara berulang-ulang dalam jangka waktu tertentu. Pertumbuhan biasanya mulai perlahan-lahan kemudian berlangsung lebih cepat dan akhirnya perlahan-lahan lagi atau berhenti sama sekali (Anggorodi 1990).

Pada penelitian sebelumnya diketahui bahwa terjadi peningkatan berat badan sebanyak 5 gram pada anak ayam yang mengkonsumsi pakan 48 jam setelah penetasan. Pada masa ini ukuran yolk menurun sekitar 60% untuk diubah menjadi 1 gram lemak dan protein agar dapat dimanfaatkan oleh anak ayam tersebut. Sebaliknya anak ayam yang tidak mengkonsumsi pakan segera setelah penetasan (48 jam setelah penetasan) akan mengalami penurunan berat badan sebanyak 3.5 gram. Pada periode ini yolk akan menurun lebih sedikit dibandingkan dengan anak ayam sebelumnya sehingga dapat dikatakan bahwa anak ayam tersebut lebih sedikit memanfaatkan lemak dan protein dari yolk

tersebut (Noy & Sklan 1999).

Baik buruknya pemeliharan ayam pada periode awal, sangat mempengaruhi pertumbuhan pada periode selanjutnya. Pada 7 hari pertama pasca penetasan, ayam mengalami perkembangan saluran pencernaan yang lebih cepat dari pada organ-organ lain seperti tulang dada, otot kaki, dan bulu. Pada fase ini ayam mempersiapkan kerangka tubuh untuk pertumbuhan selanjutnya. Pada fase ini penting untuk diperhatikan karena akan mempengaruhi performa ayam selanjutnya (Scott 2001).

Uni dan Ferket (2004) melaporkan bahwa pemberian karbohidrat yaitu maltosa, sukrosa dan dekstrin secara in ovo feeding pada cairan amnion embrio broiler dapat meningkatkan jumlah cadangan glikogen pada hati embrio dan pada anak ayam yang baru menetas. Pada mukosa usus halus embrio ayam memiliki kemampuan mencerna dan menyerap nutrisi yang terbatas pada waktu menjelang menetas (Uni et al. 2003b). Kemampuan untuk absorbsi ini meningkat saat mendekati proses menetas dan terus meningkat selama beberapa hari setelah menetas (Uni et al. 2003b). Beberapa penelitian melaporkan bahwa pemberian

makan sedini mungkin pada anak ayam setelah menetas akan menstimulasi perkembangan saluran pencernaan sehingga dapat mempercepat morfologi pertumbuhan usus halus. Hal ini dapat menghasilkan berat badan yang lebih tinggi sehingga dapat memperpendek waktu yang diperlukan untuk mencapai berat panen (Uni et al. 2003).

Penelitian yang dilakukan oleh Tako et al. (2004) yang berjudul “Effects of In Ovo Feeding of Carbohydrates and β-Hydroxy-β-Methylbutyrate on The Development of Chicken Intestine” memberikan hasil yang baik. Penelitian ini menyuntikkan cairan karbohidrat (CHO) dan β-Hydroxy-β-Methybutyrate (HMB) pada cairan amnion embryo ayam umur 17.5 hari. In ovo feeding dapat meningkatkan pertumbuhan saluran pencernaan embrio dengan meningkatkan ukuran villi dan meningkatkan kapasitas cerna disakarida usus (meningkatkan aktivitas enzim pada brush border). Hal ini menyebabkan DOC yang menerima in ovo feeding memiliki berat badan yang lebih berat sehingga menghasilkan performa yang lebih baik (Tako et al. 2004).

Penelitian tentang in ovo feeding sudah banyak dilakukan, tetapi penelitian-penelitian yang khusus menyangkut fungsinya sebagai penstimulir

Dokumen terkait