• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III BIOGRAFI KOMARUDDIN HIDAYAT

B. Riwayat Pendidikan

B. Riwayat Pendidikan

Kenangan masa kecilnya dirasa cukup pahit, terutama ketika melewati tahun 1965. Selain terlahir dari keluarga miskin, sejarah bangsa ini juga mencatat 1965 adalah tahun berkembangnya Komunis termasuk di Indonesia ada PKI. Masa itu krisis ekonomi nasional cukup parah, ditambah para petani mengalami gagal panen.

Setamat sekolah dasar, orang tuanya mengirim dirinya untuk masuk Sekolah Teknik Kanisius di Muntilan, dengan konsentrasi teknik pertukangan. Harapan orang tua, agar setamat sekolah itu ia memiliki keterampilan kerja. Terobsesi juga oleh para tukang di kampung yang hidupnya Makmur, diundang ke sana ke mari, dan rumahnya bagus-bagus. Perjalanan untuk sekolah dari kampungnya ke Muntilan ini membuat perjumpaan menarik dengan agama lain, sambil belajar di sekolah ia juga suka pergi ke gereja dan senang dengan orang-orang Katolik. Meski orang tuanya sempat heran, tapi tidak pernah melarang kegemarannya tersebut.

Karena jenuh berjalan dari Pabelan ke Muntilan bolak-balik sejauh kurang lebih 4

3 Wawancara Pribadi dengan Komaruddin Hidayat, Ciputat, Senin, 6 Januari 2020.

kilometer, dan menganggap itu bukan passion dirinya, tidak sampai setahun ia memilih keluar dari Sekolah Teknik Kanisius.4

Namun pada tahun yang sama, di kampungnya dibangun pondok pesantren baru namanya Pondok Pesantren Pabelan. Sesungguhnya cikal Pondok Pesantren Pabelan dimulai pada tahun 1800-an, ditandai dengan kegiatan mengaji yang dilakukan oleh Kiai Raden Muhammad Ali. Namun mengalami kevakuman terutama setelah terjadi Perang Diponegoro (1825-1830) hingga waktu yang lama.

Lalu bangkit lagi sekitar 1900-an di bawah asuhan Kiai Anwar dan dilanjutkan oleh Kiai Anshor, namun kembali mengalami kevakuman. Hingga pada tanggal 28 Agustus 1965, atas inisiatif K.H. Hamam Ja’far—yang juga merupakan keturunan perintis Pondok Pabelan—membuat sistem dan kurikulum modern sebagaimana ia alami ketika menjadi santri di Pondok Modern Darussalam Gontor, mendirikannya kembali dengan nama Balai Pendidikan Pondok Pesantren Pabelan.

Ia menjadi santri angkatan pertama beserta 32 orang teman lainnya. Semua santri adalah anak-anak kampung Pabelan kecuali satu orang. Tidak ada pemisahan antara lelaki dan perempuan, semuanya bercampur. Mereka adalah anak-anak yang berhenti sekolah, atau putus sekolah karena tidak mampu membayar biaya pendidikan, bahkan di antara mereka adalah anak pengangguran, namun di Pondok Pesantren Pabelan mereka semua ditampung.5

Kegiatan yang dilakukan awal mula adalah character building, melalui kerja bakti, membersihkan kendang kambing dan ayam, mengangkut pasir untuk membuat sekolah, dan apa saja juga dikerjakan oleh Sang Kiai. Sehingga tidak ada jarak antar kelas, masyarakat dan kehidupan, bahkan tidak ada tembok antara

4 Wawancara Pribadi dengan Komaruddin Hidayat, Ciputat, Senin, 6 Januari 2020.

5 Wawancara Pribadi dengan Komaruddin Hidayat, Ciputat, Senin, 6 Januari 2020.

pesantren dan masyarakat, semuanya lebur. Mas Komar belakangan baru menyadari bahwa itu semua adalah life skills.

Tahun-tahun berikutnya Pondok Pesantren Pabelan mengalami perkembangan yang semakin pesat, santri yang tidak diterima di Gontor masuk di sana. Guru-guru juga didatangkan dari luar. Tapi pada tahun 1969 Mas Komar memilih keluar karena teman-teman angkatannya sudah tidak ada lagi. Jadilah dirinya pengangguran. Untuk mengatasi kebuntuan itu, ia memilih berkunjung ke salah satu tempat temannya di Babad Lamongan. Ternyata di Babad ini hidup mengantar dirinya menjadi sosok guru madrasah ibtidaiyah. Orang-orang di sana senang jika ada guru dari Jawa Tengah karena dianggap penyabar, telaten dan bahasanya lebih halus dari orang sekitar. Sempat mendapat tempat tinggal dan gaji, tapi setahun tinggal membuatnya berpikir tidak memiliki masa depan, tidak memiliki ijazah juga.6

Akhirnya keluar dai Babad dan pulang, lalu melamar di Pondok Pesantren al-Iman untuk tingkat Aliyah. Dengan mempertimbangkan umur yang lewat, ia meminta langsung masuk kelas 6, dan ternyata lulus pada tahun 1971. Setelah ijazah diperoleh, lagi-lagi harus menjadi pengangguran kembali. Keinginan untuk melanjutkan pendidikan sangat kuat, tapi keadaan ekonomi tidak memungkinkan meski gurunya menyarankan untuk masuk di IAIN Yogyakarta jurusan Adab setelah melihat bahwa ternyata kemampuan akademiknya yang sangat memuaskan, dan diperkirakan langsung lulus bahkan kelak menjadi dosen.

Menikmati masa-masa penganggurannya itu ia lalui dengan terlibat aktif di masyarakat. Berbagai kegiatan yang ada saat itu ia ikuti, mulai dari terlibat aktif di

6 Wawancara Pribadi dengan Komaruddin Hidayat, Ciputat, Senin, 6 Januari 2020.

PII (Pelajar Islam Indonesia), Pemuda Muhammadiyah, ada juga Ikatan Pelajar Muhammadiyah, sesekali juga ikut berdakwah dan pendek kata kegiatan apa saja diikutinya. Tetapi kejenuhan kembali datang, kali ini pikirannya teringat kepada salah seorang kawan yang ada di Jakarta. Maka segera dijadwalkan kepergiannya ke ibu kota tidak lain untuk mengatasi kebuntuan, barangkali jalan-jalan membuatnya tenang.7

Orang-orang kampungnya banyak yang melakukan transmigrasi, selain ke Sumatera ada juga yang memilih Jakarta, meski dalam bayangan orang saat itu Jakarta adalah Kota Hitam, mengerikan, dan segala atribut negatif lainnya. Tapi karena dirinya niat jalan-jalan, maka tidak terlalu khawatir dengan hal itu.

Sesampainya di Terminal Pulo Gadung, Mas Komar remaja melihat banyak sekali beragam kehidupan terjadi di terminal, mulai dari lalu-lalang kendaraan, tukang lap bis, penjual koran, penjual gorengan hingga pedagang gorengan. Dirinya juga merasa bisa hidup sebagaimana mereka, keyakinan ini disebabkan kebiasaan di pondok dan termasuk pengaruh bacaan, terutama cerita silat Kho Ping Hoo.8 Ditambah cerita petualangan heroik Nagasasra Sabuk Inten karangan Mintardjo SH.9

Melalui cerita silat Kho Ping Hoo dan Mintardjo SH inilah, Mas Komar merasa siap mental, dalam dirinya sudah mengalir jiwa pesilat kehidupan sehingga

7 Wawancara Pribadi dengan Komaruddin Hidayat, Ciputat, Senin, 6 Januari 2020.

8 Nama lainnya adalah Asmaraman Sukowati, pria kelahiran Sragen Jawa Tengah ini dikenal luas sebagai penulis cerita silat bertemakan Tionghoa Indonesia. Sumbangannya terhadap literatur fiksi silat Indonesia tidak dapat diabaikan, selama 30 tahun setidaknya ia telah menulis sekitar 120 cerita. Diolah dari berbagai sumber.

9 Komaruddin Hidayat, Agama Untuk Peradaban: Membumikan Etos Agama dalam Kehidupan (Jakarta: Alvabet, 2019), h. 300.

untuk tinggal di Jakarta bukankah sebuah halangan yang perlu ditakuti tetapi tantangan yang harus dilewati.

Selama kurang lebih tiga hari ia menginap di tempat temannya di Jl. Salemba, yang kebetulan bekerja di tempat cat duco. Ia juga teringat memiliki seorang kawan perempuan tinggal di Jakarta, dulunya ia adalah teman kelas di pondok. Lalu menikah dan ikut suaminya ke Jakarta yang berprofesi sebagai militer dan tinggal di Komplek MABAD (Markas Besar Angkatan Darat) Rempoa. Saat mengunjungi kawan perempuannya ini, Mas Komar diajak oleh suaminya untuk ikut rapat tentang pembangunan di komplek ini. Mulai dari panitia pembangunan masjid, rapat komplek dan beberapa hal lainnya. Merasa hal tersebut bukanlah hal yang sulit, akhirnya iya mengajukan diri untuk ikut membantu dan mengurus beberapa hal yang diperlukan seperti pembuatan KTP, pembuatan nama jalan, hingga panitia pembuatan sekolah.10

Lepas dari kegiatan tersebut, suatu hari ia berjalan-jalan ke Kampung Hutan.

Tanpa disengaja, ia melihat sebuah tulisan dan membacanya, ‘Institut Agama Islam Negeri Syarif Hidayatullah’. Secara bersamaan antara ingatan dan hatinya bergetar menyadari bahwa tempat tersebut adalah sekolah Cak Nur, sosok yang selalu disebut oleh kiainya semasa di pondok sebagai salah seorang yang berpengaruh di Indonesia dalam hal pemikiran Islam. Akhirnya Mas Komar saat itu memberanikan diri untuk melangkah masuk, dan ternyata sedang dibuka pendaftaran penerimaan mahasiswa baru. Tanpa berpikir panjang ia langsung mendaftar dan lulus. Sempat bingung karena lagi-lagi masalah ekonomi, akan tetapi dua alasan kuat menjadikannya tetap melanjutkan langkah, pertama karena Cak Nur dan Adab IAIN

10 Wawancara Pribadi dengan Komaruddin Hidayat, Ciputat, Senin, 6 Januari 2020.

Syarif Hidayatullah. Kedua karena kecintaannya pada ilmu tersebab pesan kiainya bahwa seorang anak di dunia ini tidak memiliki dan berarti apa-apa. Makan minum dari orang tua, pakaian pun dari orang tua. Anak akan berarti apalagi memiliki cita-cita dan akhlak yang mulia serta dengan cita-cita-cita-cita tersebut dimaksudkan pada cinta ilmu. Sebab dengan ilmu seseorang bisa melanglang buana, bermakna keberadaannya, dan bisa mensyukuri nikmat Allah.11

Menjadi mahasiswa pun dilaluinya sambil kerja dan aktif pada kegiatan mahasiswa terutama dalam Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Ciputat yang juga memberikan pengaruh dalam hidupnya. Pada tahun 1979 melalui Pak Harun Nasution sebagai Rektor IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta saat itu, Mas Komar diminta untuk memberikan pelajaran Islam bagi keluarga Wakil Presiden Adam Malik.

Sebagai mahasiswa yang terlahir dari kondisi ekonomi pas-pasan tentu hal yang membanggakan bisa pergi ke luar negeri. Itu terjadi pada Mas Komar tepat ketika tahun 1980 bersama dua orang temannya, Sahar L dan Harry Azhar Aziz mewakili PB-HMI ke Malaysia untuk mengikuti seminar Kebudayaan Islam di Kuala Lumpur.

Sampai di Malaysia, Mas Komar bertemu dengan dua sosok intelektual dan aktivis sosial Malaysia yang sangat popular, yaitu Prof. Naquib Al-Attas dan Anwar Ibrahim. Kesempatan tersebut juga ia membeli dua buku Al-Attas yang berulang kali dibacanya karena isi di dalamnya yang mencerahkan. Dua buku tersebut adalah Islam and Secularism dan Islam dan Peradaban Melayu.12

11 Wawancara Pribadi dengan Komaruddin Hidayat, Ciputat, Senin, 6 Januari 2020.

12 Hidayat, Agama Untuk Peradaban, h. 308.

Selama kurang lebih Mas Komar mengajar di keluarga Adam Malik.

Pesertanya adalah anak-anak Adam Malik, yaitu Otto, Budi Ilham, Rini, dan beberapa keluarga dekat serta staf Sekertariat Wapres, yang setiap pertemuan berkisar sepuluh orang.13

Tahun 1980 adalah tahun dirinya lulus kuliah. Sebelum tamat ternyata Prof.

Harun Nasution yang saat itu menjabat sebagai rector, memintanya untuk bergabung menjadi dosen yang secara tidak langsung dirinya diangkat sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS). Sambil menjadi dosen, dunia jurnalistik tetap ditekuninya dengan baik karena sudah menjadi hobi.

Tahun-tahun berikutnya dilalui dengan penuh arti. Mas Komar pada tahun 1983 mendapat undangan sebagai wartawan Panji Masyarakat dari Kedutaan Irak di Jakarta untuk menghadiri konferensi internasional Islam di Baghdad. Berlanjut pada tahun yang sama, ia berkunjung ke Korea Utara pada bulan Juni untuk menghadiri Konferensi Jurnalis Internasional di Pyongyang atas rekomendasi dari Adam Malik.

Tahun 1985 kemudian melanjutkan pendidikan di Turki. Tujuan kampus awal adalah Universitas Istambul, tetapi karena bahasa pengantarnya adalah Bahasa Turki dan harus mengikuti pendalaman bahasa untuk kuliah di sana, akhirnya diputuskan untuk mencari kampus lain dengan mengadu ke Duta Besar RI di Ankara, Marsekal Abdulrachim Alamsyah. Keputusan jatuh dan menyelesaikan program master dan doktor di METU (Midle East Technical University) dengan spesialiasi bidang filsafat, dan selesai pada 1990. Sempat juga memperoleh beasiswa selama satu semester, yaitu Post Doctorate Research Program di McGill

13 Hidayat, Agama Untuk Peradaban, h. 306.

University, Montreal, Canada (1995) dan program yang sama pernah dijalaninya di Hartfort Seminary, Connecticut, Amerika Serikat pada 1997. Kemudian pada 2002 sempat mengikuti International Visitor Program di Amerika Serikat juga.

Setelah menyelesaikan pendidikannya, Mas Komar kembali ke tanah air.

Suami dari Ait Choeriyah dan ayah dari dua anak perempuan yaitu Zulfa Indira Wahyuni dan Sukma Agustin ini lebih memilih mengabdikan diri dalam bidang akademik dan pendidikan dari pada dunia politik meski tak jarang tawaran menjadi dewan dan mentri datang menghampirinya.

Dokumen terkait