BIOGRAFI KH. MUCHTAR THABRANI
B. Riwayat Pendidikan KH. Muchtar Thabrani
Sebelumnya sudah disebutkan bahwa KH. Muchtar kecil sudah dididik secara ketat. Pendidikan pertama kali yang diajarkan kedua orangtuanya berkaitan dengan persoalan ajaran Islam, terutama bagaimana Islam mengatur kehidupan sehari-hari manusia. Hal itu berkaitan dengan ajaran kemanusiaan, moral, dan budi pekerti.
Dengan bertambahnya usia hingga menjadi dewasa, KH. Muchtar sudah menunjukkan minat dan bakat yang istimewa terhadap ilmu dan agama. Kehausan akan ilmu agama sangat luar biasa. Dari kecil Muchtar sudah mengaji dari kampung ke kampung, kemudian orangtuanya menyerahkan Muchtar pada Guru Mughni untuk belajar Al-Quran selama dua tahun, kemudian meneruskan mengaji dengan Guru Marzuqi ke pondok pesantren yang dipimpin oleh Guru Marzuqi Cipinang Muara, Jatinegara, Jakarta Timur selama tiga tahun. Di pesantren Guru Marzuqi belajar tajwid, tauhid, nahwu, shorof, dan fiqih. Di pondok inilah ia bergaul dan berdiskusi dengan teman-temannya yang kemudian menjadi tokoh ulama, antara lain KH. Abdullah Syafi‟i, KH. Abdurahman Shodri, KH. Abu Bakar, KH. Noer Ali, KH. Usman, KH, Abdul Bakir Marzuki, KH. Hasbullah, KH. Mahmud, KH. Junaidi, KH. Rochim, KH. Abdul Majid, dan KH. Abdullah.60
Setelah merasa cukup belajar dengan guru Marzuqi dan telah memiliki pengetahuan yang cukup memadai, ia kembali ke kampung halamannya untuk mengabdikan ilmu dan memulai perjalanan dakwah di kampungnya yang saat itu masih kental dan sarat dengan hal-hal yang bertentangan dengan ajaran agama Islam. Muchtar merasa terpanggil untuk membenahi akidah masyarakat kampungnya, yang sudah semakin jauh dari ajaran Islam yang benar. Sedikit demi sedikit Muchtar mulai merubah pola hidup keagamaan di kampungnya.61
60 Ahmad Fadli, Ulama Betawi…, hlm. 154
61 „‟KH. Muchtar Thabrani (1901-1971) Keberkahan Salam Dan Doanya’’, Majalah Shohwatunnur, edisi Oktober 2007, hlm. 5
Pada usia menjelang ke-20 tahun, Muchtar berhasil merubah dan meluruskan masyarakat Kaliabang Nangka dari pola hidup yang bertentangan dengan Islam ke pola hidup yang sesuai dengan ajaran Islam. Muchtar berencana untuk menunaikan rukun Islam ke lima yaitu pergi haji, dan berniat menuntut ilmu agama di tanah suci. Tahun 1937 ia berangkat pergi haji dan menuntut ilmu di Mekkahdengan modal biaya tiga ribu enam ratus rupiah.
Di tanah suci Mekkah, Muchtar menimba ilmu kepada beberapa orang guru di sana. Di antaranya adalah Syeikh Muchtar Atharid, Syeikh Alwi Al-Maliki, Syeikh Ahyad dan beberapa guru lainnya. Guru yang paling dekat dan paling banyak mempengaruhi pola pikir dan perkembangan keilmuannya adalah Syeikh Alwi Al-Maliki.
Muchtar menimba ilmu di Dar al Ulum Ad-Diniyah di Mekkah seperti tingkat Aliyah. Lalu Muchtar belajar dengan guru-guru besar di Masjidil Haram.
Setiap hari Muchtar belajar kitab-kitab yang mencakup kajian tasawuf, fikih, hadis, tafsir, nahwu, Balaghoh.
a. Kategori kitab Hadis antara lain:
ئِراَبْلا ُحْتَ ف يِراَخُبلا ُحيِحَص ,
مُْلَِا ُباَتِك , باَّىَولا ُحْتَ ف ,
يِمِيَْجُلما ,
b. Kategori kitab Tafsir antara lain:
يِْثَك ُنْبِا ُيِْسْفَ ت يِفَسَن ,
ْوُرَعلا ُماَمِلِا , يواضيبلا س
c. kategori kitab Nahwu antara lain :
ِبْيِبّللا ِنِْغُم ُباَتِك لِقاَع ُنبِا ُحْرَش ,
d. kategori kitab Balaghoh antara lain :
ةَغَلاَبلا ُرِى اَوَج ُبَاتِك ِناَجْرُلجا ُماَمِلِا ,
dan masih banyak lagi. KH. Muchtar di Mekkah mendalami ilmu Tasawuf. 62 Madrasah Dar al Ulum merupakan periode di mana gerakan-gerakan nasionalis yang meperjuangkan kemerdekaan di tanah air, di madrasah inilah
62 Wawancara pribadi dengan, KH. Ishomuddin Muchtar, Bekasi, 23 Januari 2017
nasionalisme bersemi di kalangan santri-santrinya yang kemudian hari menjadi ulama-ulama yang mempertahankan kemerdekaan RI.63
Diantara murid-muridnya adalah Syekh Muhammad Ismail Zaini al Yamini, Syekh Muhammad Mukhtaruddin, Habib Hamid Al-Kaff, KH. Ahmad Damhuri (Banten), KH. Abdul Hamid (Jakarta), KH. Ahmad Muhajirin (Bekasi), KH. Zayadi Muhajir, KH. Syafi‟I Hadzami, dan masih banyak muridnya yang tersebar di pelosok dunia, termasuk KH. Muchtar Thabrani.64
Menurut Azyumardi Azra, sumber dinamika Islam pada abad ke-17 dan ke-18 adalah jaringan ulama, yang terutama berpusat di Mekkah dan Madinah.
Posisi penting kedua kota suci ini, khususnya dalam kaitan dengan ibadah haji, mendorong sejumlah besar guru (ulama) dan penuntut ilmu dari berbagai wilayah Dunia Muslim datang dan bermukim di sana, yang pada gilirannya menciptakan semacam jaringan keilmuan yang menghasilkan wacana ilmiah yang unik.
Sebagian besar mereka terlibat dalam jaringan ulama, yang berasal dari berbagai wilayah Dunia Muslim, dengan membawa sebagian tradisi keilmuan ke Mekkah dan Madinah. Terdapat usaha-usaha di antara ulama dalam jaringan untuk melakukan pembaharuan. Tema pokok pembaharuan mereka adalah merekontruksi sosio moral masyarakat-masyarakat Muslim. Karena hubungan-hubungan ekstensif dalam jaringan ulama, dengan semangat pembaharuan.65
Pengembangan gagasan pembaharuan dan transmisinya melalui jaringan ulama melibatkan proses-proses yang amat kompleks. Terdapat saling berhubungan di antara banyak ulama dalam jaringan, sebagian hasil dari proses keilmuan mereka, khususnya dalam bidang tasawuf (tariqoh).66
Jaringan ulama ini akan mengembangkan paradigma pembaharuan (tajdid) dalam wacana intelektual keagamaan. Kamus biografi ulama (tarjamah jamak, tarajim) pada abad ke-11 dan 12 memberitahukan bahwa mereka yang terlibat dalam jaringan ulama, selain ahli dalam tafsir dan hadis juga pakar dan pengamal tarekat. Sufisme yang dikembangkan dan praktikan adalah sufisme
63 Zainul Milal Bizawie, Masterpice Islam Nusantara Sanad Dan Jejaring Ulama-Santri (1830-1945), Ciputat: Pustaka Compas, 2016, hlm 252
64 Zainul Milal Bizawie, Masterpice Islam…, hlm 252
65 Azyumardi Azra, Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII & XVIII, Akar pembaharuan Islam di Indonesia, Jakarta: Kencana Perss, 2004, hlm. xviiii
66 Azyumardi Azra, Jaringan Ulama…., hlm. xviiii
yang lebih sesuai dengan kerangka ortodoksi yang menekankan ketaatan dan respek pada ketentuan-ketentuan syariah. Dengan karakteristik yang seperti itu, tasawuf dalam wacana intelektual keagamaan ini menurut Fazlur Rahman dapat di sebut „‟neosufisme‟‟67
KH. Muchtar mendalami ilmu tasawuf dan mempelajarinya dari guru Marzuqi dan guru-guru di Mekkah dan Madinah. Tetapi penulis tidak menemukan ijasah untuk menyebarkan tarekat dan silsilah dari Syekh yang menjadi gurunya, karena terbatasnya sumber. Menurut KH. Ishomuddin anak KH. Muchtar, KH.
Muchtar sehari-hari mengamalkan amalan dengan yang diajarkan oleh gurunya, setiap malam selalu sholat Tahajud, selalu dalam ketaatan kepada Allah dan Rasul, dengan menjalankan ketentuan-ketentuan syariah. Tidak ada ulama sekarang yang dapat menyaingi keilmuan KH. Muchtar.68
Adanya kebebasan dalam mengikuti berbagai tradisi pemikiran dan aliran Islam yang berbeda, baik dalam bidang kalam, fikih, maupun tasawuf merupakan karakteristik yang penting dalam jaringan ulama ini.69 Jaringan ulama berpusat terutama di Mekkah, seperti Syaikh Junaid al-Betawi yang belajar dan bermukim (mustauthin) di Mekkah memiliki guru-guru dan murid-murid di kota suci. Hal ini menggambarkan bahwa jaringan ulama itu melibatkan hubungan dan jaringan antara murid dengan guru, guru dengan guru, dan murid dengan murid. Jaringan ulama melibatkan hubungan yang saling berkaitan dan sangat kompleks, terdapat tumpang tindih yang rumit dalam hubungan-hubungan di antara mereka yang terlibat dalam jaringan ulama tersebut.70
Hubungan yang membentuk jaringan ulama itu dengan terjalin pertama-tama melalui isnad ilmiyah – sanad keilmuan, ketika seorang murid belajar kepada gurunya dan terus guru dari gurunya lagi dan seterusnya ke atas. Isnad ilmiyah ini penting sebagai bukti otoritas dan kesahihan ilmu yang dipelajari
67Azyumardi Azra, Historiografi Islam Kontemporer, Wacana, Aktualisasi dan Aktor Sejarah, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2002, hlm. 122
68 Wawancara pribadi, KH. Ishomuddin, Lc, Bekasi, 10 Mei 2017
69 Ahmad Fadli, Ulama Betawi,… hlm 66
70 Rahmat Zailaini Kiki, Geneologi Intelektual Ulama Betawi, (Melacak Jaringan Ulama Betawi Awal Abad Ke-19 Sampai Abad Ke-21), Jakarta: Pustaka Pengakajian Pengambangan Islam Jakarta (JIC), 2011, hlm. 13
seorang murid. Jadi, ilmu yang dipelajari seorang murid bukan dari sembarangan sumber.71
KH. Muchtar Thabrani masih bersambung isnad ilmiyah dari Guru Marzuqi dan guru-guru dari Mekkah dan Madinah, karena bersambung guru dengan guru, teman sesama murid, seperti KH. Noer Ali, KH. Muhammad Tambih, KH. Hasbiyallah, KH. Muhadjirin Amsar Ad-Dary, dan lainnya, yang kelak menjadi tokoh besar dan alim ulama yang terkemuka di kalangan Betawi.
71 Rahmat Zailaini Kiki, Geonologi Intelektual Ulama Betawi…, hlm. 14