• Tidak ada hasil yang ditemukan

Road Map Penelitian Ethnomathematics

Road map penelitian ethnomathematics perlu untuk peneliti kemukakan

dengan pertimbangan agar dapat dilihat posisi penelitian ini terhadap penelitian-penelitian (perkembangan-perkembangan) sebelumnya pada area penelitian-penelitian

ethnomathematics. Untuk menggambarkan road map penelitian ini, peneliti

menggunakan Fishbone Diagrams (diagram tulang ikan).

Fishbone Diagrams (WBI Evaluation Group, 2007) adalah sebuah

diagram sebab-akibat yang dapat digunakan untuk mengidentifikasi potensi apa (yang aktual) yang dapat menjadi penyebab lahirnya suatu kebutuhan (masalah).

Fishbone Diagrams menyediakan sebuah struktur kelompok-kelompok diskusi di

sekitar potensi (aktual) penyebab lahirnya kebutuhan (masalah).

Prosedur umum pembuatan Fishbone Diagrams dijelaskan pada delapan tahapan di bawah ini (WBI Evaluation Group, 2007):

1. Lakukan identifikasi kesenjangan (celah, gap) yang perlu untuk dicapai dengan sempurna melalui hasil project (program) yang sedang dijalani.

2. Perjelaslah, dengan menggunakan kalimat yang singkat tentang apa yang menjadi kebutuhan (masalah). Pastikan bahwa setiap orang di dalam kelompok project (program) setuju dengan kalimat yang menggambarkan kebutuhan (masalah) tersebut.

3. Menggunakan selembar kertas yang panjang, gambar garis horizontal

sepanjang kertas. Garis tersebut akan menjadi “tulang belakang ikan”.

Tuliskanlah kalimat singkat yang menjadi kebutuhan (masalah) di

sepanjang “tulang belakang ikan” di sebelah kiri tangan.

4. Identifikasi hal-hal yang melenceng sebagai kategori penyebab lahirnya suatu kebutuhan (masalah). Teknik yang efektif untuk bisa mengidentifikasi kategori penyebab lahirnya kebutuhan (masalah) adalah dengan teknik brainstorming. Untuk setiap kategori penyebab,

gambarlah sebuah “tulang” berupa garis yang membentuk sudut 45 derajat terhadap “tulang belakang ikan”. Beri label pada setiap “tulang” tersebut.

5. Bentuk kelompok-kelompok brainstorm untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang menjadi pengaruh lahirnya penyebab dan kebutuhan (masalah). Untuk setiap kategori penyebab, kelompok-kelompok itu

harus bertanya: “Mengapa hal ini dapat terjadi?” Tambahkan pula “alasan mengapa” di dalam diagram.

6. Ulangi prosedur bertanya “Mengapa hal ini dapat terjadi” untuk setiap

jawaban yang telah ditemukan, hingga pertanyaan yang diajukan sudah tidak lagi berarti untuk dijawab.

7. Ketika kelompok telah sepakat dengan isi diagram yang telah cukup memuat informasi, analisislah diagram. Khususnya, temukan/lihat bagian penyebab yang muncul lebih dari satu kali pada bagian diagram.

8. Lingkari apapun yang terlihat menjadi akar penyebab lahirnya kebutuhan (masalah). Prioritaskan akar penyebab tersebut dan tentukan sikap apa yang harus diambil. Pengambilan sikap tersebut mungkin akan menyangkut kepada investigasi selanjutnya terhadap akar-akar penyebab yang lain.

Sebagai gambaran, WBI Evaluation Group (2007) memberikan contoh pembuatan Fishbone Diagrams sebagai berikut:

Gambar 3.1.

Gambaran pembuatan fishbone diagrams

Berdasarkan kepada penjelasan, dan pedoman membuat Fishbone

ethnomathematics, maka peneliti kemudian menyusun Fishbone Diagrams

penelitian ethnomathematics seperti terlihat pada gambar berikut.

Gambar 3.2.

Fishbone Diagrams penelitian ethnomathematics

Diagram di atas digunakan pula untuk menggambarkan road map penelitian ethnomathematics. Kebutuhan yang perlu untuk dipenuhi dengan menggunakan (program) study ethnomathematics adalah perlunya memandang matematika memiliki hubungan timbal balik dengan budaya, dan sosial.

Selain itu juga disajikan causal loops diagrams dari penelitian

ethnomatemathics ini. Causal loops diagrams adalah diagram yang digunakan

untuk menampilkan atau menunjukan sebab dan akibat dari berbagai sudut pandang dan hubungan timbal balik dari sebab dan akibat itu sendiri. Dengan

causal loops diagrams ini dapat ditunjukan pengaruh antar aspek baik itu memperkuat atau memperlemah dengan ditandai tanda “+” atau “-“. Simbol “+” digunakan jika suatu aspek memperkuat aspek yang lain, sendangkan “-“

digunakan jika suatu aspek memperlemah aspek yang lain. Memperkuat disini artinya jika suatu aspek meningkat maka aspek yang dipengaruhinya pun meningkat atau jika suatu aspek menurun maka aspek yang dipengaruhinya menurun. Sedangkan jika suatu aspek meningkat dan aspek yang dipengaruhinya menurun atau jika suatu aspek menurun dan aspek yang dipengaruhinya meningkat maka itu dikatakan memperlemah.

Untuk membuat causal loops diagrams, putuskan atau pilih apa saja hal yang penting dan dapat membuat penelitian itu semakin mudah dipahami.

Berikut ini petunjuk pembuatan causal loops diagrams menurut Kim (1992):

1. Pikirkan elemen apa saja yang akan dimasukan ke dalam causal loops

diagram, dimana elemen tersebut hasrulah berupa variable yang dapat

meningkat dan menurun, meskipun tidak mengetahui cara mengukur seberapa besar peningkatan atau penurunan dari elemen tersebut.

a. Gunakan kata benda atau frasa untuk menggambarkan elemen dalam

causal loops tersebut. Penggunaan kata benda atau frasa lebih baik

dibandingkan dengan penggunaan kata kerja. Artinya, tindakan itu digambarkan oleh penghubung (panah) antara satu elemen ke elemen lainnya, bukan digambarkan atau ditunjukan oleh elemen itu sendiri.

Contohnya, lebih baik menggunakan kata “biaya” daripada penggunaan kata “peningkatan biaya”.

b. Pastikan definisi bahasa dari elemen yang digunakan jelas. Jelas disini adalah tidak membuat bingung atau ambigu ketika diberikan penghubung

(panah) kepada elemen tersebut. Contohnya, penggunaan kata “toleransi terhadap kejahatan” akan lebih baik daripada penggunaan kata “sikap terhadap kejahatan”.

c. Pada umumnya pemilihan kata itu akan lebih jelas jika kata yang digunakan bernilai positif. Contohnya, menggunakan kata

“pertumbuhan” lebih baik daripada “penyusutan”.

d. Penghubung (panah) dari causal loops diagrams haruslah menyiratkan atau menunjukan arah sebab-akibat, dan bukan menunjukan urutan waktu. Dengan kata lain, link positif dari elemen A ke elemen B tidak berarti elemen A lebih dulu terjadi kemudian elemen B terjadi. Arti dari panah positif itu dari elemen A ke elemen B itu ketika elemen A meningkat maka meningkat pula elemenB.

2. Ketika mengkonstruksi link-link pada casual loop diagrams, pikirkanlah kemungkinan-kemungkinan lain yang sebelumnya tidak pernah diduga memiliki efek terhadap elemen-elemen yang disambungkan.

3. Untuk loop yang bernilai feedback negatif, biasanya disanalah tujuan yang harus dicapai itu berada.

4. Perbedaan antara apa yang telah terjadi dengan apa yang dirasakan terhadap suatu proses bisa sering menjadi hal yang penting dalam menjelaskan suatu kebiasaan. Maka dari itu penting untuk membuat causal loop antar 2 (dua) elemen untuk menilai yang mana yang sudah terjadi dan yang mana yang menjadi persepsi (yang dirasakan). Pada banyak kasus, ketika persepsi muncul terhadap apa yang telah terjadi, biasanya ada sesuatu yang menunda/menghalangi. Penundaan/penghalang itu pun perlu untuk digambarkan causal loop-nya.

5. Terdapat perbedaan antara konsekuensi yang panjang (dirasakannya lama) dengan konsekuensi yang pendek (dirasakan seketika), dan hal tersebut sangat mungkin membedakan pula dalam penggambaran loop-nya.

6. Jika link antara dua elemen dipandang memiliki penjelasan yang panjang, pikirkanlah kemungkinan dibuatnya elemen perantara yang menjembatani kedua elemen tersebut untuk lebih memperjelas apa sebenarnya yang sedang terjadi.

7. Usahakan diagram yang dibuat adalah diagram yang sesederhana mungkin. Tujuan dari causal loop diagram bukanlah untuk menggambarkan secara detail proses-proses yang terjadi, tetapi untuk menggambarkan feedback dari setiap aspek pada proses-proses tersebut sehingga mampu untuk mengobservasi pola dari apa yang sedang terjadi.

Causal loops diagrams dari penelitian ini disajikan pada gambar dibawah

ini.

Gambar 3.3.

Causal loops diagrams penelitian ethnomatematics

Causal loops diagrams ini bisa dimulai dari mana saja. Misalkan akan

dimulai dari “matematika dianggap jauh dari budaya” dan “study

ethnomathematics”. Loop dari “matematika dianggap jauh dari budaya” ke “study

ethnomathematics” adalah positif, ini artinya “matematika dianggap jauh dari

budaya” memperkuat “study ethnomathematics”. Dengan kata lain, jika semakin meningkatnya anggapan bahwa matematika itu dianggap jauh dari budaya maka akan meningkat pula study ethnomathematics. Sedangkan loop yang sebaliknya negative, artinya semakin meningkatnya penelitian study ethnomathematics maka akan menurun anggapan atau pandangan matematika jauh dari budaya.

Dari diagram tersebut, semakin meningkatnya anggapan matematika jauh dari budaya akan meningkatkan ketidaktahuan akan timbal balik matematika

dengan budaya. Dan sebaliknya, jika anggapan matematika jauh dari budaya menurun, maka akan menurun pula ketidaktahuan terhadap timbal balik matematika dengan budaya. Begitu pula hubungan antar aspek-aspek yang lain

BAB V

Dokumen terkait