BAB II TINJAUAN PUSTAKA
3. ROM (Range Of Motion)
Range of motion adalah gerakan dalam keadaan normal dapat dilakukan oleh sendi yang bersangkutan (Suratun, dkk, 2008). Range of motion (ROM) adalah suatu teknik dasar yang digunakan untuk menilai gerakan dan untuk gerakan awal kedalam suatu program intervensi. Gerakan dapat dilihat sebagai tulang yang digerakkan oleh otot ataupun gaya eksternal lain dalam ruang geraknya melalui persendian. Bila terjadi gerakan, maka seluruh struktur yang terdapat pada persendian tersebut akan terpengaruh, yaitu: otot, permukaan sendi, kapsul sendi, fasia, pembuluh darah dan saraf.
Range of Motion (ROM) adalah jumlah maksimum gerakan yang mungkin dilakukan sendi pada salah satu dari tiga potongan
tubuh, yaitu sagital, transversal, dan frontal. Pengertian ROM lainnya adalah latihan gerakan sendi yang memungkinkan terjadinya kontraksi dan pergerakan otot, dimana klien menggerakan masing-masing persendiannya sesuai gerakan normal baik secara aktif ataupun pasif. Latihan Range Of Motion (ROM) adalah latihan yang dilakukan untuk mempertahankan atau memperbaiki tingkat kesempurnaan kemampuan menggerakan persendian secara normal dan lengkap untuk meningkatkan massa otot dan tonus otot (Potter & Perry, 2005).
Sebelum dilakukan intervensi, pasien stroke dilakukan pre test, untuk mengetahui apakan meraka merasakan adanya masalah konstipasi. Setelah itu, dilakukan perlakuan (ROM Pasif) setiap hari, secara rutin dan tepat. Perawat menggerak-gerakkan tubuh klien sesuai kemampuan. Setelah 5 hari berturut-turut, untuk tiap pasien maka peneliti melakukan post test (wawancara) kepada responden. Hal ini dilakukan untuk mengetahui sejauh mana efektifitas ROM pasif dalam mengatasi permasalahan pasien, yakni konstipasi. Seperti yang tercantum dalam buku Brunner, 2002 yakni salah satu tindakan yang dapat dilakuka untuk mengatasi konstipasi adalah dengan melakukan pergerakan.
Perawat mendorong ambulasi sering dan mengajarkan latihan pengerutan otot abdomen untuk meningkatkan defekasi.
Penggerutan otot abdomen terdiri dari mengkontraksikan otot
abdomen. Latihan ini meningkatkan tonus otot abdomen yang membantu mendorong isi kolon.
b. Jenis – jenis Range of Motion (ROM)
Berikut adalah beberapa jenis – jenis Range of Motion (ROM) menurut Potter & Perry, 2006 adalah sebagai berikut:
1) ROM Aktif
ROM aktif adalah gerakan yang dilakukan oleh seseorang (pasien) dengan menggunakan energi sendiri (lukman, Nurma Ningsih, 2013). Perawat memberikan motivasi, dan membimbing klien dalam melaksanakan pergerakan sendi secara mandiri sesuai dengan rentang gerak sendi normal (klien aktif). Kekuatan otot 75%. Hal ini untuk melatih kelenturan dan kekuatan otot serta sendi dengan cara menggunakan otot-ototnya secara aktif.
2) ROM pasif
ROM pasif adalah pergerakan yang dilakukan dengan bantuan orang lain, perawat aau alat bantu (Lukman, Nurma Ningsih;
2013). Perawat melakukan gerakan persendian klien sesuai dengan rentang gerak yang normal (klien pasif) kekuatan otot 50%. Indikasi latihan pasif adalah tidak sadar, pasien dengan keterbatasan mobilisasi tidak mampu melakukan beberapa atau semua latihan rentang gerak dengan mandiri, pasien tirah baring total. Rentang gerak pasif ini berguna untuk menjaga
kelenturan otot-otot dan persendian dengan menggerakkan otot orang lain secara pasif misalnya perawat mengangkat dan menggerakkan kaki pasien (Suratun, 2008).
c. Tujuan Range of Motion (ROM)
Menurut Potter & Perry, 2006 berikut tujuan dari Range Of Motion (ROM) yaitu :
1) Mempertahankan atau memelihara fleksibilitas dan kekuatan otot
2) Memelihara mobilitas persendian 3) Merangsang sirkulasi darah
4) Mencegah kelainan bentuk, kekakuan dan kontraktur d. Manfaat Range of Motion (ROM)
Manfaat ROM menurut Potter & Perry, 2006 yaitu : 1) Memperbaiki tonus otot
2) Meningkatkan mobilisasi sendi
3) Memperbaiki toleransi otot untuk latihan 4) Meningkatkan massa otot
e. Indikasi dari Range of Motion (ROM)
Beberapa indikasi ROM menurut Suratun, 2008 yaitu : 1) Stroke atau penurunan tingkat kesadaran
2) Kelemahan otot 3) Fase rehabilitasi fisik
4) Klien dengan tirah baring lama
f. Gerakan- gerakan Range of Motion (ROM)
Berikut ini gerakan ROM menurut Rendi dan Margareth, 2012 yaitu :
1) Fleksi dan ekstensi pergelangan tangan Cara :
a) Atur posisi lengan pasien dengan menjauhi sisi tubuh dan siku menekuk dengan lengan.
b) Pegang tangan pasien dengan satu tangan dan tangan yang lain memegang pergelangan tangan pasien.
c) Tekuk tangan pasien ke depan sejauh mungkin d) Catat perubahan yang terjadi
2) Fleksi dan ekstensi siku Cara :
a) Atur posisi lengan pasien dengan menjauhi sisi tubuh dengan telapak mengarah ke tubuhnya.
b) Letakkan tangan di atas siku pasien dan pegang tangannya mendekat bahu.
c) Lakukan dan kembalikan ke posisi sebelumnya.
3) Pronasi dan supinasi lengan bawah Cara :
a) Atur posisi lengan bawah menjauhi tubuh pasien dengan siku menekuk.
b) Letakkan satu tangan perawat pada pergelangan pasien dan pegang tangan pasien dengan tangan lainnya.
c) Putar lengan bawah pasien sehingga telapaknya menjauhinya.
d) Kembalikan ke posisi semula.
e) Putar lengan bawah pasien sehingga telapak tangannya menghadap ke arahnya.
f) Kembalikan ke posisi semula.
4) Pronasi fleksi bahu Cara :
a) Atur posisi tangan pasien disisi tubuhnya.
b) Letakkan satu tangan perawat di atas siku pasien dan pegang tangan pasien dengan tangan lainnya.
c) Angkat lengan pasien pada posisi semula.
5) Abduksi dan adduksi bahu Cara :
a) Atur posisi lengan pasien di samping badannya.
b) Letakkan satu tangan perawat di atas siku pasien dan pegang tangan pasien dengan tangan lainnya.
c) Gerakkan lengan pasien menjauh dari tubuhnya kearah perawat (Abduksi).
d) Gerakkan lengan pasien mendekati tubuhnya (Adduksi) e) Kembalikan ke posisi semula.
6) Rotasi bahu Cara :
a) Atur posisi lengan pasien menjauhi tubuh dengan siku menekuk.
b) Letakkan satu tangan perawat di lengan atas pasien dekat siku dan pegang tangan pasien dengan tangan yang lain.
c) Gerakkan lengan bawah ke bawah sampai menyentuh tempat tidur, telapak tangan menghadap ke bawah.
d) Kembalikan posisi lengan ke posisi semula.
d) Gerakkan lengan bawah ke belakang sampai menyentuh e) Tempat tidur, telapak tangan menghadap ke atas.
f) Kembalikan lengan ke posisi semula.
7) Fleksi dan ekstensi jari-jari Cara :
a) Pegang jari-jari kaki pasien dengan satu tangan, sementara tangan lain memegang kaki.
b) Bengkokkan (tekuk) jari-jari kaki ke bawah c) Luruskan jari-jari kemudian dorong ke belakang.
d) Kembalikan ke posisi semula.
8) Infersi dan efersi kaki Cara :
a) Pegang separuh bagian atas kaki pasien dengan satu jari dan pegang pergelangan kaki dengan tangan satunya.
b) Putar kaki ke dalam sehingga telapak kaki menghadap ke kaki lainnya.
c) Kembalikan ke posisi semula.
d) Putar kaki keluar sehingga bagian telapak kaki menjauhi kaki yang lain.
e) Kembalikan ke posisi semula.
9) Fleksi dan ekstensi pergelangan kaki Cara :
a) Letakkan satu tangan perawat pada telapak kaki pasien dan satu tangan yang lain di atas pergelangan kaki. Jaga kaki lurus dan rilek.
b) Tekuk pergelangan kaki, arahkan jari-jari kaki ke arah dada pasien.
c) Kembalikan ke posisi semula.
d) Tekuk pergelangan kaki menjauhi dada pasien.
10) Fleksi dan ekstensi lutut.
Cara :
a) Letakkan satu tangan di bawah lutut pasien dan pegang tumit pasien dengan tangan yang lain.
b) Angkat kaki, tekuk pada lutut dan pangkal paha.
c) Lanjutkan menekuk lutut ke arah dada sejauh mungkin
d) Ke bawahkan kaki dan luruskan lutut dengan mengangat kaki ke atas.
e) Kembali ke posisi semula.
11) Rotasi pangkal paha Cara :
a) Letakkan satu tangan perawat pada pergelangan kaki dan satu tangan yang lain di atas lutut.
b) Putar kaki menjauhi perawat.
c) Putar kaki ke arah perawat.
d) Kembalikan ke posisi semula.
12) Abduksi dan adduksi pangkal paha.
Cara :
a) Letakkan satu tangan perawat di bawah lutut pasien dan satu tangan pada tumit.
b) Jaga posisi kaki pasien lurus, angkat kaki kurang lebih 8 cm dari tempat tidur, gerakkan kaki menjauhi badan pasien.
c) Gerakkan kaki mendekati badan pasien.
d) Kembalikan ke posisi semula.
KERANGKA TEORI
Stroke Hemoragik
Perdarahan Intra Serebral Perdarahan Subaracnoid
1. Kehilangan fungsi motorik 2. Kehilangan fungsi komunikasi 3. Kerusakan afek
4. Eliminasi
5. Gangguan persepsi dan sensori
Imobilisasi (Hemiparase)
Kelemahan Otot dikolon desenden
Konstipasi
ROM Pasif
(Peningkatan tonus otot abdomen mendorong isi kolon)
Rendi dan Margareth, 2012 Gambar 2.1 Kerangka Teori
B. KERANGKA KONSEP
Gambar 2.2 Kerangka Konsep
ROM Pasif Mencegah Konstipasi
39
BAB III
METODE PENYUSUNAN KTI APLIKASI RISET
A. Subyek Aplikasi Riset
Pengambilan kasus ini dengan pasien stroke hemoragik yang dirawat di High Care Unit (HCU) Anggrek II yang ekstermitas nya terganggu dan mengalami konstipasi.
B. Tempat dan Waktu
Pengambilan kasus ini dilakukan di High Care Unit (HCU) Anggrek II RSUD Dr. Moewardi Surakarta dari tanggal 11 – 16 Maret 2015.
C. Media dan Alat yang Digunakan
Penelitian ini menggunakan stetoskop untuk menghitung bising usus selam 5 - 10 menit sebelum dan sesudah melakukan ROM pasif dan tindakan Rom pasif dilakukan selama 30 menit/ 4 jam.
D. Alat Ukur Evaluasi
Alat ukur pada penelitian ini menggunakan lembar observasi tentang bising usus pada pasien.
40
BAB IV
LAPORAN KASUS
A. IDENTITAS KLIEN
Pengkajian dimulai pada tanggal 11 Maret 2015, jam 09.00 WIB. Data pengkajian pada kasus ini diperoleh dengan cara autoanamnase, pengamatan dan observasi langsung, menelaah catatan medis, catatan perawat dan pengkajian fisik pasien. Hasil pengkajian pada Ny.T, alamat rumah di Jagalan, Jebres, umur 56 tahun, berjenis kelamin perempuan, tingkat pendidikan SD, bekerja sebagai buruh, status menikah dan beragama Islam, pasien masuk Rumah Sakit tanggal 8 Maret 2015, diagnosis medis stroke hemoragik, dirawat di ruang IGD RSUD Dr. Moewardi Surakarta.
Penanggung jawab pasien bernama Ny.T umur 38 tahun yang hubungan dengan pasien adalah sebagai anak.
B. PENGKAJIAN
Keluhan utama pasien adalah penurunan kesadaran. Riwayat kesehatan pasien keluarga mengatakan pasien tiba – tiba terjatuh. Anggota gerak mengalami kelemahan. Pasien tampak memegangi kepala karena kesakitan, tetapi tidak ada benturan. Kemudian pasien dibawa ke IGD RSUD Dr.
Moewardi Surakarta sekitar pukul 16.30 WIB. Di IGD pasien terlihat mengantuk selama 2 jam masuk rumah sakit. Di IGD pasien dipriksa dan didapatkan data tekanan darah: 210/ 120 mmHg, nadi: 90 x/ menit,
pernafasan: 24x/ menit. Kesadaran pasien somnolent, GCS E3M5V3. Terapi yang didapatkan pasien di ruang IGD adalah infus NaCl 0,9 % 20 tpm, O2 3 Lpm. Kemudian pasien dipindah di High Care Unit (HCU) Anggrek II tanggal 9 Maret 2015 jam 7.00 wib. Didapatkan tekanan darah 190/110 mmHg, nadi 88x/menit, respirasi 22x/menit, suhu 380C.
Hasil pengkajian di ruang IGD didapatkan riwayat kesehatan dahulu keluarga mengatakan sebelumnya pasien sering pusing tetapi cuma diperiksa di puskesmas. Di puskesmas pasien diberi obat tetapi keluarga tidak tahu obat yang diberikan ke pasien. Pasien tidak pernah dirawat dirumah sakit sebelumnya. Pasien tidak mempunyai alergi baik makaan dan obat-obatan.
Pasien tidak pernah dioperasi.
Pada riwayat kesehatan keluarga mengatakan dikeluarganya memiliki penyakit keturunan atau penyakit menular seperti hipertensi dan hepatitis.
Genogram
Keterangan
: Perempuan : Laki - Laki : Pasien Ny. T : Tinggal satu rumah : Meninggal Dunia X
Pasien merupakan anak ketiga dari 3 bersaudara, ayah dan ibunya sudah meninggal, pasien mempunyai 3 anak, pasien tinggal serumah dengan suami dan anak keduanya, karena anaknya yang pertama dan ketiga sudah menikah.
Pada riwayat kesehatan lingkungan keluarga pasien mengatakan lingkungan sekitar rumah bersih dan sampah dibuang ditempat sampah yang tersedia.
Pola pengkajian primer pada pasien didapatkan data airway: jalan nafas paten, tidak adanya lidah jatuh, tidak ada benda asing pada jalan nafas (sputum / bekas muntah), breathing: respirasi: 22 x/ menit, tidak ada nafas cuping hidung, tidak ada retraksi dada, bernafas menggunakan O2 3 liter/
menit, circulation: nadi: 88 x/ menit, nadi kuat, tekanan darah: 190/ 110 mmHg, kulit lembab, capilary refile < 2 detik, disability: pupil isokor, kesadaran somnolent nilai GCS eye 3, motorik 5 dan verbal 3 , Exposure:
pasien sudah memakai kaos kaki dan selimut, Suhu 380 C, akral teraba hangat.
Pengkajian pola fungsional menurut Gordon, pola persepsi dan pemeliharaan kesehatan pola persepsi dan pemeliharaan kesehatan keluarga pasien mengatakan bahwa pasien bilang sehat itu penting. Untuk menjaga kesehatan tiap pagi untuk berolahraga teratur. Jika ada keluarga yang sakit harus segara dibawa kerumah sakit, jika belum parah bisa diberi obat.
Pola nutrisi dan metabolik sebelum sakit pasien makan 3x sehari nasi, lauk, sayur-sayuran, satu porsi habis dan tidak ada keluhan. Pasien minum 8x sehari jenis air teh, kurang lebih 8 gelas/hari @ 240 ml dan tidak ada keluhan.
Pengkajian A (antropometri) BB sebelum sakit 47 kg, selama sakit 45 kg, TB 160 cm, IMT 47 kg :1,62 = 18,25 (normal), B (biochemical) tidak ada, C (clinical) pasien tampak segar dan konjungtiva tidak anemis, D (diet) nasi, lauk, sayur-sayuran satu porsi habis. Selama sakit makan 3x sehari, bubur cair (kacang hijau), porsi 100cc/3 jam melalui sonde, dengan keluhan muntah.
Minum 3x sehari, susu 100cc/3 jam melalui sonde, dengan keluhan muntah.
Pengkajian A (antropometri) BB sebelum sakit 47 kg, BB selam sakit 45 kg, IMT 45 : 1,62 = 17,57 (kurang), B (biochemical) HB 13.0, ureum 47 mg/dl, kreatinin 0,6 mg/dl, C (clinical) pasien tampak lemas, konjungtiva anemis, D (diet) bubur kacang hijau dan susu 100cc/3jam 1700 kkal.
Pola eliminasi didapatkan hasil sebelum sakit pasien BAB 1x sehari, konstipasi lunak, warna coklat kekuningan. BAK kuning dan tidak ada nyeri saat BAK. Selama sakit keluarga mengatakan pasien belum buang air besar sebelum masuk rumah sakit 5 hari dan selama dirumah sakit 2 hari. Pasien terpasang kateter sejak tanggal 8 Maret 2015, produksi urin dalam 24 jam ± 1500 cc. Pengkajian balance cairan pada Ny. T per 24 jam yaitu input: air (makan dan minum) = 300cc, cairan infus 950cc, terapi injeksi ketorolac 30mg/12 jam = 6cc, manitol 100cc/6 jam= 400cc, vit B12 100mg/12 jam=
20cc, air metabolisme 5 x BB = 5 X 45= 225, total input 1901. Output : urine 1500cc, IWL 10 X BB – 10 X 45 = 450. Jadi balance cairan pada Ny. T dalam 24 jam input cairan – output cairan = 1901-1950 = -49. Kesimpulan Ny. T kekurangan volume cairan sebanyak -49cc/hari.
Pola aktivitas dan latihan, sebelum sakit pasien makan/minum, toileting, berpakaian, mobilitas ditempat tidur, berpindah dan ambilasi/ ROM dapat dilakukan secara madiri oleh pasien. Selama sakit makan/minum (terpasang NGT), toileting (terpasang kateter), berpindah dibantu orang lain dan alat, berpakaian dan mobilitas ditempat tidur dibantu oleh orag lain, sedangkan ambulasi / ROM pasien tergantung total.
Pola istirahat tidur, sebelum sakit keluarga pasien mengatakan tidur malam ± 8 jam dan tidur siang ± 2 jam perhari. Selama sakit pasien tidur malam ± 6 jam dan tidur siang ± 2 jam.
Pola kognitif perseptual, sebelum sakit pasien tidak membutuhkan alat bantu untuk melihat dan membaca, mampu berbicara lancar, mampu menjawab pertanyaan dengan baik, mengidentifikasi bau minyak kayu putih, dan merasakan sentuhan. Selama sakit keluarga mengatakan pasien tidak bisa membuka mata, tidak mampu berbicara, tidak mampu menjawab pertayaan, tidak bisa mengidentifikasi bau minyak kayu putih dan tidak bisa merasakan sentuhan.
Pola persepsi konsep diri, sebelum sakit pada gambaran diri, ideal diri dan harga diri Ny. T tidak terkaji. Peran diri keluarga pasien mengatakan Ny.
T adalah seorang ibu rumah tangga. Identitas diri keluarga pasien mengatakan Ny. T adalah seorang perempuan yang merupakan ibu rumah tangga. Selama sakit gambaran diri, ideal diri, harga diri Ny. T tidak terkaji. Peran diri keluarga pasien mengatakan Ny. T tidak bisa bekerja karena harus dirawat di rumah sakit. Identitas diri keluarga pasien mengatakan Ny. T seorang
perempuan yang merupakan ibu rumah tangga saat ini Ny. T dirawat di rumah sakit karena penyakit stroke.
Pola hubungan peran, sebelum sakit keluarga pasien mengatakan bahwa hubungan pasien dengan anggota cukup harmonis dan hubungan dengan masyarakat cukup baik. Selama sakit keluarga pasien mengatakan bahwa selama pasien sakit dirawat sakit hubungan keluarga dan masyarakat sekitar baik ditandai dengan banyak tetangga yang menjenguk.
Pola seksual reproduksi, keluarga pasien mengatakan bahwa pasien sudah menikah dan memiliki 3 orang anak perempuan dan 1 orang suami.
Pola mekanisme koping, sebelum sakit keluarga pasien mengatakan bahwa ketika ada masalah dalam keluarga pasien selalu bercerita kepada seluruh keluarganya dan pengambilan keputusan dilakukan secara musyawarah. Selama sakit keluarga pasien mengatakan bahwa selama sakit jika ada masalah di pasien keluarga selalu bercerita dengan anggota keluarganya.
Pola nilai dan keyakinan, sebelum sakit keluarga pasien mengatakan pasien beragama islam dan selalu menjalankan sholat 5 waktu. Selama sakit keluarga pasien mengatakan bahwa selama sakit pasien tidak dapat menjalankan Sholat 5 waktu.
Pengkajian pemeriksaan fisik didapatkan hasil kesadaran somnolent, nilai GCS eye 3, motorik 5 dan verbal 3. Hasil pemeriksaan tanda-tanda vital, tekanan darah 190/ 120 mmHg, nadi 88 x/ menit, teratur dan kuat, respirasi 22 x/ menit, dengan irama, teratur, suhu 380 C, bentuk kepala mesocepal,
kulit kepala tidak ada ketombe, rambut bersih, berombak, beruban. Palpebra tidak ada oedem, konjungtiva anemis, sklera tidak ikterik, pupil isokor, diameter kanan kiri simetris, reflek terhadap cahaya baik (positif), tidak menggunakan alat bantu penglihatan. Hidung bersih, tidak ada sekret, tidak ada nafas cuping hidung, terpasang NGT, terpasang O2 nasal kanul, warna bibir pucat, simetris, mukosa bibir kering, mulut bersih, tidak ada perdarahan, gigi sedikit caries, tidak ada gigi palsu, telinga bersih, simetris, sedikit ada serumen, tidak menggunakan alat bantu pendengaran. Leher tidak ada pembesaran kelenjar tiroid. Pemeriksaan dada, inspeksi : tidak ada jejas, dada simetris, palpasi: tidak terkaji, perkusi: bunyi paru sonor, auskultasi: suara nafas vesikuler. Pemeriksaan jantung, inspeksi: bentuk dada datar, tidak ada jejas, ictus cordis tidak tampak, palpasi: ictus cordis pada ICS 5, perkusi:
pekak, auskultasi: reguler. Pemeriksaan abdomen, inspeksi:tidak ada jejas, bentuk simetris, auskultasi: bising usus 3 x/ menit, perkusi: suara lambung tympani kuadran II, III, IV dan redup kuadran I, palpasi:tidak ada masa, perut teraba keras dikuadran III. Genetalia : bersih, terpasang kateter. Rektum:
bersih, tidak ada luka, tidak ada hemoroid.
Hasil pemeriksaan ekstremitas bagian atas tangan kiri terpasang infus Nacl 20 tpm, kekuatan otot tangan kanan 5, kiri 1, ROM kanan aktif, kiri pasif, capilary refilIe < 2 detik, normal, tidak ada perubahan bentuk tulang, perabaan akral hangat. Bagian bawah kekuatan otot kanan 5, kiri 1, Rom kanan aktif, kiri pasif, capilary refille < 2 detik, normal, tidak ada perubahan bentuk tulang, perubahan akral hangat. Hasil pemeriksaan yang dilakukan
antara lain kekuatan otot sebelah kiri hanya dapat kontraksi otot 10 sangat buruk (kelemahan berat).
Pemeriksaan penunjang darah rutin pada pasien selama perawatan di High Care Unit (HCU) dilakukan pada tanggal 8 Maret 2015, jenis pemeriksaan yang didapatkan berupa hemoglobin 13.0 g/dl hasil normal.
Hematokrit 39 % hasil normal. Leukosit 7.1 ribu/ul hasil normal. Trombosit 266 ribu/ul hasil normal. Eritrosit 4.23 juta/ul hasil normal. Golongan darah B. PT 12.9 dtk hasil normal. APTT 46.1 dtk hasil tinggi. Glukosa darah 104 mg/dl hasil normal. SGOT 21 hasil normal. SGPT 15 hasil normal. kreatine 0.6 mg/dl hasil normal. Ureum 47 mg/dl hasil normal. Natrium darah 140 mmol/l hasil normal. Kalium darah 3.3 mmol/l hasil normal. Clorida darah 108mmol/l hasil tinggi. Hbsag reactive. Pada tanggal 8 Maret 2015 didapatkan hasil pemeriksaan EKG reguler sinus ritme dan CT-Scan didapatkan hasil ICH dicorona radiata dan lobus temporoparientalis kanan.
Selama perawatan di High Care Unit (HCU), pasien mendapatkan terapi O2 3 liter per menit. Terapi infus Nacl 20 tpm untuk pengobatan kekurangan cairan. Terapi injeksi Ketorolac (30 mg/12 jam) untuk penatalaksanaan jangka pendek terhadap nyeri akut, terapi injeksi manitol (100cc/6jam) untuk memperlancar diuresis dan ekspansi material toksik dalam urin, mengurangi TIK, masa pada otak, TIO yang tinggi. Parasetamol (3x500mg) mengurangi rasa sakit kepala. Vitamin B12 (100mg/12jam) untuk memenuhi kebutuhan vitamin B
C. DAFTAR RUMUSAN MASALAH
Dari data pengkajian tanggal 11 Maret 2010, jam 09.05 WIB didapatkan data subyektif keluarga pasien mengatakan klien tidak sadar.
Secara objektif perubahan tingkat kesadaran somnolent GCS E3M5V3, pasien tampak memegangi kepala karena kesakitan, tanda-tanda vital didapatkan tekanan darah 190/ 110 mmHg, nadi 88 x/ menit, respirasi 22 x/
menit dan suhu 380 C. Sehingga dapat diambil diagnosa keperawatan yang pertama adalah ketidakefektifan perfusi jaringan serebral berhubungan dengan peningkatan tekanan intrakranial (TIK).
Dari data pengkajian tanggal 11 Maret 2015, jam 09.10 WIB didapatkan data subjektif bahwa keluarga pasien mengatakan pasien tidak bisa melakukan aktifitasnya karena kaki sebelah kiri dan tangan kiri tidak bisa bergerak. Secara objektif pasien susah bergerak, kekuatan otot atas kanan 5 dan kiri 1 serta kekuatan otot bawah kanan 5 dan kiri 1, pasien tampak lemas.
Sehingga dapat diambil diagnosa keperawatan yang kedua adalah hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan penurunan kekuatan otot.
Dari data pengkajian tanggal 11 Maret 2015, jam 09.10 WIB didapatkan data subjektif bahwa keluarga pasien mengatakan sebelum masuk rumah sakit belum buang air besar selama 5 hari dan selama dirumah sakit sudah 2 hari pasien belum buang air besar. Secara objektif bising usus 3x/menit, perut teraba keras dikuadran III. Sehingga dapat diambil diagnosa keperawatan yang ketiga adalah konstipasi berhubungan dengan kelemahan otot abdomen.
Dari data pengkajian tanggal 11 Maret 2015, jam 09.10 WIB didapatkan data subjektif bahwa keluarga pasien mengatakan pasien muntah bila makan. Secara objektif terpasang NGT, diet 100cc/3jam, A (antropometri) BB sebelum sakit 47 kg dan selama sakit 45 kg IMT 45 :1.6 = 15.7 (kurang), B (biochemical) HB 13.0 g/dl, ureum 47 mg/dl, kreatinin 0.6 mg/dl, C (clinical) pasien tampak lemas, konjungtiva anemis, D (diet) bubur kacang hijau dan susu 100cc/3 jam. Sehingga dapat diambil diagnosa keperawatan yang empat adalah ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan faktor biologis (mual, muntah).
Berdasarkan diagnosa keperawatan yang penulis temukan, maka dapat dirumuskan prioritas masalah keperawatan yaitu ketidakefektifan perfusi jaringan serebral berhubungan dengan peningkatan tekanan intrakranial (TIK), hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan penurunan kekuatan otot, konstipasi berhubungan dengan kelemahan otot abdomen dan ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan faktor biologis (mual muntah).
D. PERENCANAAN
Rencana keperawatan yang akan dilakukan pada Ny. T untuk diagnosa
Rencana keperawatan yang akan dilakukan pada Ny. T untuk diagnosa