BAB I. PENGANTAR A. Rumah Sakit memberikan pelayanan yang baik untuk pasien sesuai dengan visi dan misinya. 1. Permasalahan a. Bagaimana nilai Pareto ABC dilihat dari nilai pakai dan nilai investasi sediaan farmasi berdasarkan pola penyakit hipertensi primer di RS Panti Rapih Yogyakarta tahun 2010? b. Bagaimana Nilai Indeks Kritis (NIK) sediaan farmasi berdasarkan pola c. Bagaimana nilai (EOQ) jumlah pemesanan ekonomis, (ROP) waktu pemesanan kembali, serta persediaan pengaman (SS) khusus untuk sediaan farmasi pola penyakit hipertensi primer kelompok Indeks Kritis A dan B? d. Bagaimana perbandingan antara hasil nilai indeks kritis sediaan farmasi untuk pola hipertensi primer dengan formularium Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta? 2. Keaslian penelitian Sejauh penelusuran dan pengetahuan penulis, penelitian tentang Analisis Pareto ABC Indeks Kritis dan EOQ Sediaan Farmasi dengan Pola Penyakit Hipertensi primer di Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta belum pernah dilakukan. Beberapa penelitian yang relevan antara lain : a. Sari (2010) dari Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, berjudul Analisis Pareto ABC Sediaan Farmasi Puskesmas Di Kabupaten Bantul Dengan Pola Penyakit Utama Nasofaringitis Akut Dan Hipertensi Primer Periode 2009. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai ANP 12,69%, BNP 16,68%, CNP 70,63%; ANI22,27%, BNI24,61%, CNI53,12%; ANIK16,95%, BNIK 16,67%, CNIK 66,38% dan terdapat 15 sediaan farmasi yang menjadi prioritas dalam pengadaan sediaan farmasi dengan total nilai investasi 15 sediaan tersebut adalah sebesar Rp 572.318.662,65. Perbedaan dengan penelitian ini terletak pada tempat, periode penelitian, serta metode analisis yang dilakukan peneliti dimana peneliti menambahkan metode EOQ, ROP,dan SS untuk sakit. Persamaan dengan penelitian yang peneliti lakukan yaitu mengenai pengelolaan sediaan farmasi menggunakan Pareto ABC dan dengan pola penyakit tertinggi. b. Awaludin (2010) dari Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, berjudul Analisis Sediaan Farmasi berdasarkan Metode ABC Indeks Kritis di Instalasi Farmasi Rumah Sakit Palang Biru Kutoharjo periode tahun 2006-2008.Hasil penelitia menunjukkan bahwa nilai ANP 83 item, BNP131 item, CNP499 item; ANI106 item, BNI153 item, CNI454 item; Analisis VEN terdapat 74 item kelompok vital, 508 item kelompok esensial, 306 item kelompok non esensial; ANIK 53 item, BNIK320 item, CNIK515 item serta direkomendasikan 373 item (kelompok A dan B) dari analisis NIK dalam pengadaan sediaan farmasi. Perbedaan dengan penelitian ini terletak pada tempat, periode penelitian, serta metode analisis yang dilakukan peneliti dimana menambahkan metode EOQ, ROP, SS dan perbandingan dengan formularium rumah sakit serta tidak adanya analisis VEN pada bagian analisis ABC Indeks Kritis yang peneliti lakukan. Persamaan dengan penelitian yang peneliti lakukan yaitu mengenai pengelolaan sediaan farmasi menggunakan Pareto ABC. c. Annisa (2008) dari Universitas Indonesia, berjudulPengendalian Persediaan Obat Antibiotik Dengan Metode Analisis ABC, EOQ, dan ROP di Sub Unit Apotik Rumah Sakit Pertamina Jaya Periode Januari-Maret 2008. Hasil penelitian menunjukkan bahwa berdasarkan hasil analisis ABC untuk obat sebesar 4,03%. 11 item obat yang termasuk dalam kelompok A didapatkan nilai EOQ yang bervariasi mulai dari 11-1045 unit, untuk obat kelompok B mulai dari 1-691 unit, dan untuk obat kelompok C mulai dari 1-15 unit. Perhitungan ROP kelompok A sebanyak 4-473 unit, kelompok B sebanyak 1-263 unit, sedangkan kelompok C dari 1-45 unit. Persamaan penelitian ini dengan penelitian yang peneliti lakukan adalah dalam hal kajian pokok yang diteliti, yaitu mengenai pengelolaan sediaan farmasi menggunakan Pareto ABC, EOQ, dan ROP. Perbedaannya adalah pada metode analisis dan sediaan farmasi yang digunakan. Peneliti terdahulu hanya menggunakan analisis ABC untuk obat golongan antibiotik. Sedangkan peneliti menggunakan analisis ABC Indeks Kritis sediaan farmasi dengan pola penyakit Hipertensi Primer. d. Rahayu (2011) dari Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, berjudul Evaluasi Pengadaan Narkotika dan Psikotropika di Apotek-Apotek Kota Yogyakarta Periode Januari-Juni 2011 Menggunakan Analisis Pareto ABC dan Moving Average Total. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perkiraan jumlah pemakaian 33 sediaan kelompok ANIK seluruh apptek di Kota Yogyakarta pada semester kedua, yaitu periode, yaitu periode Juli-Desember 2011 adalah sebanyak 496.128,40 dengan Calmlet® 2 mg sebagai item sediaan dengan jumlah pemakaian paling banyak. Persamaan penelitian ini dengan penelitian yang peneliti lakukan adalah dalam hal kajian pokok yang diteliti, yaitu mengenai pengelolaan sediaan farmasi menggunakan Pareto sebesar 3% dari harga satuan sediaan farmasi. Perbedaannya adalah pada metode analisis dan sediaan farmasi yang digunakan. Peneliti terdahulu menggunakan analisis moving average total serta sediaan farmasi golongan narkotika dan psikotropika, sedangkan peneliti melakukan analisis ROP, SS dan perbandingan dengan formularium, serta sediaan farmasi untuk hipertensi primer. 3. Manfaat penelitian b. Manfaat teoritis Penelitian ini diharapkan dapat memberikan pengetahuan mengenai perencanaan sediaan farmasi berdasarkan pola penyakit Hipertensi Primer agar pengadaan sediaan di suatu rumah sakit dapat efisien serta pemakaian obat-obat tersebut efektif sehingga meningkatkan mutu kehidupan pasien. c. Manfaat praktis 1) Dari hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi kepada apoteker dan pihak rumah sakit berdasarkan hasil analisis indeks kritis sediaan farmasi dengan formularium rumah sakit sehingga dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam melakukan perencanaan dan penyusunan formularium rumah sakit periode selanjutnya. 2) Dari hasil penelitian diharapkan dapat memberikan pengetahuan dan metode pengadaan persediaan yang lebih efektif dan efisien dengan kombinasi metodeEconomic Order Quantity(EOQ). B. Tujuan Penelitian 1. Tujuan umum Penelitian ini bertujuan untuk perencanaan pengadaan sediaan farmasi di Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta berdasarkan analisis Pareto ABC Indeks Kritis dan EOQ agar mendapatkan pengadaan sediaan farmasi yang efektif dan efisien. 2. Tujuan khusus a. Mengetahui nilai Pareto ABC dilihat dari nilai pakai dan nilai investasi sediaan farmasi berdasarkan pola penyakit hipertensi primer di RS Panti Rapih Yogyakarta tahun 2010. b. Mengetahui Nilai Indeks Kritis (NIK) sediaan farmasi berdasarkan pola penyakit hipertensi primer di Rumah Sakit Panti Rapih tahun 2010. c. Mengetahui jumlah pemesanan ekonomis (EOQ), waktu pemesanan kembali (ROP) dan jumlah persediaan pengaman (safety stock) khusus untuk sediaan farmasi berdasarkan pola penyakit hipertensi primer dalam kelompok Indeks Kritis A dan B. d. Mengetahui perbandingan hasil nilai indeks kritis sediaan farmasi berdasarkan pola penyakit hipertensi primer dengan Formularium Rumah 9 BAB II PENELAAHAN PUSTAKA A. Rumah Sakit 1. Definisi Menurut UU Nomor 44 tahun 2009 menyatakan bahwa Rumah Sakit adalah institusi pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan pelayanan kesehatan perorangan secara paripurna yang menyediakan pelayanan rawat inap, rawat jalan, dan gawat darurat. 2. Tugas dan Fungsi rumah sakit Rumah sakit mempunyai tugas memberikan pelayanan kesehatan perorangan secara paripurna. Dimana pelayanan kesehatan perorangan maksudnya yaitu setiap kegiatan pelayanan kesehatan yang diberikan oleh tenaga kesehatan untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan, mencegah dan menyembuhkan penyakit, dan memulihkan kesehatan. Dalam menjalankan tugasnya, rumah sakit memniliki fungsi antara lain : a. Penyelenggaraan pelayanan pengobatan dan pemulihan kesehatan sesuai dengan standar pelayanan rumah sakit. b. Pemeliharaan dan peningkatan kesehatan perorangan melalui pelayanan kesehatan yang paripurna tingkat kedua dan ketiga sesuai kebutuhan medis. c. Penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan sumber daya manusia dalam d. Penyelenggaraan penelitian dan pengembangan serta penapisan teknologi bidang kesehatan dalam rangka peningkatan pelayanan kesehatan dengan memperhatikan etika ilmu pengetahuan bidang kesehatan. (Dewan Perwakilan Rakyat RI, 2009a). 3. Klasifikasi rumah sakit Menurut Permenkes No.340 tahun 2010, klasifikasi rumah sakit adalah pengelompokkan kelas rumah sakit berdasarkan fasilitas dan kemampuan pelayananan. Klasifikasi rumah Sakit ditetapkan berdasarkan : Pelayanan, sumber daya manusia, peralatan, sarana dan prasarana, administrasi dan manajemen. Berdasarkan fasilitas dan kemampuan pelayanan, Rumah Sakit Umum diklasifikasikan menjadi : a. Rumah Sakit Umum Kelas A 1. Rumah Sakit Umum Kelas A harus mempunyai fasilitas dan kemampuan pelayanan medik paling sedikit 4 (empat) Pelayanan Medik Spesialis Dasar, 5 (lima)Pelayanan Spesialis Penunjang Medik, 12 (dua belas) Pelayanan Medik Spesialis Lain dan 13 (tiga belas) Pelayanan Medik Sub Spesialis. 2. Ketersediaan tenaga kesehatan disesuaikan dengan jenis dan tingkat pelayanan. 3. Sarana prasarana Rumah Sakit harus memenuhi standar yang ditetapkan oleh Menteri. 5. Administrasi dan manajemen terdiri dari struktur organisasi dan tata laksana. b. Rumah Sakit Umum Kelas B 1. Rumah Sakit Umum Kelas B harus mempunyai fasilitas dan kemampuan pelayanan medik paling sedikit 4 (empat) Pelayanan Medik Spesialis Dasar, 4 (empat) Pelayanan Spesialis Penunjang Medik, 8 (delapan) Pelayanan Medik Spesialis Lainnya dan 2 (dua) Pelayanan Medik Subspesialis Dasar. 2. Ketersediaan tenaga kesehatan disesuaikan dengan jenis dan tingkat pelayanan. 3. Sarana prasarana Rumah Sakit harus memenuhi standar yang ditetapkan oleh Menteri. 4. Jumlah tempat tidur minimal 200 (dua ratus) buah. 5. Administrasi dan manajemen terdiri dari struktur organisasi dan tata laksana. c. Rumah Sakit Umum Kelas C 1. Rumah Sakit Umum Kelas C harus mempunyai fasilitas dan kemampuan pelayanan medik paling sedikit 4 (empat) Pelayanan Medik Spesialis Dasar dan 4 (empat) Pelayanan Spesialis Penunjang Medik. 2. Ketersediaan tenaga kesehatan disesuaikan dengan jenis dan tingkat 3. Sarana prasarana Rumah Sakit harus memenuhi standar yang ditetapkan oleh Menteri. 4. Jumlah tempat tidur minimal 100 (seratus) buah. 5. Administrasi dan manajemen terdiri dari struktur organisasi dan tata laksana. d. Rumah Sakit Umum Kelas D 1. Rumah Sakit Umum Kelas D harus mempunyai fasilitas dan kemampuan pelayanan medik paling sedikit 2 (dua) Pelayanan Medik Spesialis Dasar. 2. Ketersediaan tenaga kesehatan disesuaikan dengan jenis dan tingkat pelayanan. 3. Sarana prasarana Rumah Sakit harus memenuhi standar yang ditetapkan oleh Menteri. 4. Jumlah tempat tidur minimal 50 (lima puluh) buah. 5. Administrasi dan manajemen terdiri dari struktur organisasi dan tata laksana. (Departemen Kesehatan RI, 2010c). 4. Tujuan pelayanan farmasi rumah sakit Farmasi rumah sakit yang baik dapat meningkatkan tujuan pelayanan farmasi, dan tujuan pelayanan farmasi rumah sakit itu meliputi : a. Melangsungkan pelayanan farmasi yang optimal baik dalamkeadaan biasa maupun dalam keadaan gawat darurat, sesuai dengan keadaan pasien maupun fasilitas yang tersedia. b. Menyelenggarakan kegiatan pelayanan profesional berdasarkan prosedur kefarmasian dan etik profesi. c. Melaksanakan KIE (Komunikasi Informasi dan Edukasi) mengenai obat. d. Menjalankan pengawasan obat berdasarkan aturan-aturan yang berlaku. e. Melakukan dan memberi pelayanan bermutu melalui analisa,telaah dan evaluasi pelayanan. f. Mengawasi dan memberi pelayanan bermutu melalui analisa, telaah dan evaluasi pelayanan. g. Mengadakan penelitian di bidang farmasi dan peningkatan metoda. (Departemen Kesehatan RI, 2004a). 5. Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta Titik awal berdirinya RS Panti Rapih adalah dibentuknya yayasan “Onder de Bogen” atau dalam bahasa Belanda Onder de Bogen Stichting oleh pengurus Gereja Yogyakarta pada tanggal 22 Februari 1927. Peletakan batu pertama pembangunan fisik rumah sakit dilakukan oleh Ny. C.T.M. Schmutzer van Rijckevorsel pada tanggal 14 September 1928. Rumah Sakit Panti Rapih dibuka secara resmi pada 14 Septenber 1929 oleh Sri Sultan Hamengku Buwono VIII dengan nama Rumah Sakit “Onder de Bogen” kemudian pada tahun 1942, Mgr. Alb. Soegijopranoto, SJ, memberikan nama baru yaitu Rumah Sakit Panti Rapih. Rumah Sakit Panti Rapih artinya adalah rumah penyembuhan dengan inspirasi dan motivasi kerja dengan memberikan pelayanan kepada siapa saja secara profesional dan penuh kasih dalam suasana syukur kepada Tuhan”. Misi yang dipumyai oleh RS. Panti Rapih Yogyakarta antara lain : a. Rumah Sakit Panti Rapih menyelenggarakan pelayanan kesehatan menyeluruh secara ramah, adil, profesional, ikhlas, dan hormat dalam semangat iman Katolik yang gigih membela hak hidup insani dan berpihak kepada yang berkekurangan. b. Rumah Sakit Panti Rapih memandang karyawan sebagai mitra karya dengan memberdayakan mereka untuk mendukung kualitas kerja demi kepuasan pasien dan keluarganya, dan dengan mewajibkan diri menyelenggarakan kesejahteraan karyawan secara terbuka, proporsional, adil, dan merata sesuai dengan perkembangan dan kemampuan. Berdasarkan tingkat klasifikasi, Rumah Sakit Panti termasuk Rumah Sakit kelas B karena memiliki 370 tempat tidur dan tingkat pelayanan yang ada antara lain: a. Pelayanan Medik Umum yang terdiri dari Pelayanan Medik Dasar, Pelayanan Medik Mulut dan Gigi, Pelayanan Kesehatan Ibu Anak/Keluarga Berencana. b. Pelayanan Medik Spesialis Dasar yangi terdiri dari Pelayanan Spesialis Bedah Umum, Spesialis Anak, Spesialis Kebidanan dan Kandungan, dan Spesialis Penyakit Dalam; c. Pelayanan Spesialis Penunjang Medik yang terdiri dari Pelayanan Imaging/MRI), Rehabilitasi Medik, Hematologi Klinis, Kimia Klinik, Urinalisa dan Patologi Anatomi; d. Pelayanan Medik Spesialis Lainnya yang terdiri dari Pelayanan Spesialis Mata, Spesialis THT, Spesialis Saraf, Spesialis Penyakit Jantung dan Pembuluh Darah, Spesialis Kulit, Spesialis Psikiatri, Spesialis Paru dan Asma, Spesialis Bedah Tulang, Spesialis Bedah Urologi, Spesialis Bedah Saraf, Spesialis Bedah Plastik, Spesialis Saluran Cerna; e. Pelayanan Medik Subspesialis Dasar yang terdiri dari Spesialis Bedah Digesti, Spesialis Bedah Thorax, Spesialis Penyakit Darah, Spesialis Bedah Anak (Panti Rapih, 2012). 6. Formularium Rumah Sakit Formularium Rumah Sakit adalah dokumen berisi kumpulan produk obat yang dipilih PFT disertai informasi tambahan penting tentang penggunaa obat tersebut, serta kebijakan dan prosedur berkaitan obat yang relevan untuk rumah sakit tersebut. Formularium ini harus terus menerus direvisi agar selalu akomodatif bagi kepentingan penderita dan staf operasional pelayan kesehatan, berdasrkan data konsumtif dan data morbiditas serta pertimbangan klinik staf medik rumah sakit tersebut (Siregar dan Amalia, 2004). Penerapan sistem formularium rumah sakit memberikan kegunaan penting bagi rumah sakit, antara lain : 1. Membantu menyakinkan mutu dan ketepatan penggunaan obat dalam 2. Sebagai bahan edukasi bagi staf tentang terapi obat yang tepat. 3. Memberi rasio manfaat-biaya tertinggi, bukan hanya sekedar pengurangan harga. (Siregar dan Amalia, 2004). Formularium yang dimiliki RS. Panti Rapih disusun oleh Panitia Farmasi dan Terapi setiap dua tahun sekali. Sediaan farmasi disusun dalam bentuk tabel dan diklasifikasikan berdasarkan golongan obat. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan formularium periode 2008-2011 (Panti Rapih,2012). B. Instalasi Farmasi Rumah Sakit Dalam dokumen Analisis pareto ABC indeks kritis dan Economic Order Quantity (EOQ) sediaan farmasi dengan pola penyakit hipertensi primer di Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta tahun 2010 - USD Repository (Halaman 24-37)