BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ANALISIS
4.1.5 Rumitan
Rumitan adalah perkembangan dari gejala mulai tikaian menuju klimaks cerita, klimaks tercapai apabila rumitan mencapai puncak kehebatannya. Rumitan mempersiapkan pembaca untuk menerima seluruh dampak dari klimaks.
Pertikaian semakin rumit dengan beberapa kejadian-kejadian yang dialami Setadewa. Rumitan berawal dari bab 7 Singa Mengerti hingga bab 20 Rumah Pertanyaan.
Bab 7 Singa Mengerti.
(13) … Mengapa kau beberapa kali keluyuran ke jalan Kramat tanpa mendapat
perintah operasi ke sana? Kau tahu apa itu artinya dalam kamus disiplin tentara? (Aku lebih bengong lagi. Begitu tajamkah mata-mata intel?)
“ NEFIS telah memberikan rekomendasi kepadaku untuk menghabisi riwayatmu,
kelinci kecil. Ini sangat serius. Kita dalam keadaan darurat perang. (Mangunwijaya, 2010: hlm 81).
(14) “Kalau badan intelijen menaruh curiga, itu, harus kau ketahui, adalah tugas dan
kewajibannya. Tetapi saya tidak akan memajanglebarkan masalah ini. Pendek saja, saya masih mau member kesempatan padamu. Sebab saya tahu, bahwa kau menderita. Dan setiap lelaki yang menderita, persetan kau, mesti lari ke si wanita, nggak usah bohong. Dan di Kramat itu kau mencari perempuan, ayo kutempeleng kalau bohong (Mangunwijaya, 2010: hlm 82).
Bab ini menjelaskan bahwa, Setadewa dilaporkan oleh NEFIS sebagai mata-mata Republik karena Setadewa sering pergi ke Kramat tanpa ada perintah ke wilayah tersebut dan Setadewa hampir akan dihabisi riwayatnya. Anak tetapi, Mayor Verburggen tidak melakukan hal itu karena Verburggen mengerti keadan Setadewa yang sebenarnya. Mayor Verburggen memberi kesempatan kepada Setadewa untuk menemui Larasati.
Bab 8 Banteng-banteng Muncul
(15) Tahun 1946 bagiku serba simpang-siur dan aku sendiri tidak tahu lagi harus berpikir apa. Patroli rutin semakin membosankan, karena terus-terang saja, kami orang-orang tentara tidak paham soal diplomasi dan segala kemunafikan kaum diplomat, sehingga merasa dijadikan bulan-bulanan. Jenderal Spoor jelas mengarah ke suatu penyerangan total. Kami tahu, tekun dia sedang memperispkan operasi tidak kecil-kecilan. Tetapi dari pihak lain Van Mook sudah sama-sama minum teh dengan kue-kue dengan si penghasut Soekarno. Ya tentu saja orang-orang Inggris biangkeladinya. Tentu saja, seperti yang kami dengar, Spoor dan Pinke dengan sendirinya naik pitam. Apa lagi kami. Ini mau ke mana? (Mangunwijaya, 2010: hlm 96).
Peristiwa menjadi semakin rumit, karena Setadewa dan Verburggen merasa dijadikan bulan-bulanan. Di satu pihak Jenderal Spoor melakukan penyerangan total, tetapi dipihak lain van Mook bersimpatik dengan Soekarno. Hal ini dirasakan Inggris lah yang menjadi biangkeladinya.
Bab 9 Elang-elang Menyerang
(16) “Itu pesawat-pesawat datang dari mana dan mau ke mana?” “Itu Belanda.” kata
perempuan muda itu, “Mereka menyerang Yogya, itu sudah jelas.” Dan sedih, halus gugatannya. “Selalu begitu Belanda itu. Tidak mengindahkan peri-ksatria. Seperti
ketika menawan Diponegoro.” Sekarang ayahnya yang menjadi korban dan ia
mengeluh, bagaimana caranya memberitahu ibunya nanti (Mangunwijaya, 2010: hlm 111—112).
(17) Atik memandang wajah ayahnya. Bagaimana mengangkat jenazah ayahnya ke kota? Bagaimana cara memberitahu ibunya? Ini jelas perang. Dari desas-desus anggota delegasi RI yang sedang berunding di Kaliurang di bawah naungan Komisi PBB ia sudah tahu, betapa gawat keadaan. Sikap wakil Mahkota, Dr. Beel, begitu kaku seperti bakiak klompen negerinya, bahkan kasar sebenarnya, tak sopan. Tetapi bahwa sudah secepat itulah Belanda menyerang, sungguh, tidak pernah itu diperkirakan. Juga oleh para wakil Tiga Negara di meja perundingan Kaliurang. Sungguh aneh dan gila sebetulnya, menyerang Yogya di muka hidung wakil-wakil Dunia Internasional itu. itu kan namanya meremehkan bahkan menghina mereka (Mangunwijaya, 2010: hlm 113).
Keadaan semakin rumit ditambah dengan penyerangan Belanda ke Yogya dan ayah Atik yang menjadi korban penembakan tersebut. Akan tetapi, Atik selamat dan mendapat pertolongan dari Pak Trunya.
Bab 10 Macan Tutul Meraung
(18) Sisa hikayat D-day 19 Desember sudah terkenal. Istana kami duduki. Colonel van Langen datang dengan jip, sesudah semua aman tentaram dan tidak ada risiko satu rambut pun jatuh. Seokarno, Hatta, Syahrir dan orang tua Haji Salim dan siapa lain lagi ditawan. Matilah Republik! Hidup Republik! (Mangunwijaya, 2010: hlm 126). (19) Pada petang hari yang sama itu, 19 Desember 1948, sambil duduk lunglai karena
payahnya di atas tangga-tangga istana, dengan bayangan raksasa batu di halaman muka itu, aku ditumbuhi perasaan bimbang lagi. Pasukanku menang, Kapitein Seta
jaya. Tetapi kehilangan Larasati. Barangkali… barangkali toh aku salah pilih (Mangunwijaya, 2010: hlm 127).
Keadaan pun tambah rumit dengan adanya penyerangan di Yogya dan Soekarno, Hatta, Syahir ditawan. Penyerangan tersebut dipimpin oleh Setadewa, mesipun begitu Setadewa merasa kehilangan Larasati.
Bab 12 Cendrawasih Terpanah
Bab ini melukiskan kebimbangan Setadewa menjadi KNIL dan pertemuan Setadewa dengan ibunya yang sudah hilang ingatan. Pertemuan Setadewa dengan ibunya ini berkat bantuan Verburggen.
(20) Tidak hanya kadang-kadang aku dijangkiti rasa bimbang tentang arti segala sikap dan tingkahlaku selama ini, sejak Mama dan Papa lenyap dari kehidupanku. Akan tetapi biasanya itu kutimbuni dengan segala ransel dan peralatan perang yang mudahsaja membungkam segala gagasan bingung dari manusia yang suka bising menghambur-hamburkan peluru… (Mangunwijaya, 2010: hlm 140).
(21) “ apa yang serius? Ini apa? Kau semakin mencurigakan, Verburggen. “Baiklah,
saya sudah memperingatkan kau. Jadi jangan mempersalahkan saya kalau ada akibat-akibat yang tidak enak.” “Apa ada di dalam keadaan edan seperti ini yang masih bisa lebih tidak enak?” “Okey, okey. Saya sudah tua dank au sebentar lagi
juga akan tua. Dengarkan. (Dan ia menatap padaku, lirih berbisik). Ibumu sudahku
temukan.” Hah?” Mataku membelalak dan asap cigarello menyeruduk paru-paru
sehingga aku abtuk-batuk tidak karuan. “ Ya, Marice. Tidak usah banyak basa-basi. Ia kutemukan di Rumah Penyakit Syaraf Kramat sana tadi.” Seperti terkena granat
Howitzer 10 inch aku hanya bisa bungkam dan membelalak. Ibuku di rumah gila?
Kramat Magelang adalah rumah gila. Ya Tuhan… siapa yang gila, mereka atau aku
sekarang? Lemas aku duduk setengah berbaring di atas ranjang itu. mamiku malang. Verburggen menepuk-nepuk bahuku seperti seorang ayah. “Jangan berlagak kau
lebih menderita dariku. Pikullah ini sebagai seorang prajurit (Mangunwijaya, 2010: hlm 162).
Pergolakan batin yang sangat dalam dirasakan oleh Setadewa setelah mendengar keadaan ibunya yang gila. Ibunya tidak bisa diajak bicara dan ibunya
hanya bisa mengatakan “Ya, segala telah kuberikan. Segala telah kuberikan. Tetapi mereka mengikari janji.” Penderitaan batin yang dialami ibunya Setadewa membuat
ibunya hilang ingatan.
Seiring berjalannya waktu, Setadewa pun menjadi menejer produksi Pacific Oil Wells Company. Bab ini menjelaskan, Setadewa datang ke Indonesia untuk membongkar kecurang yang terjadi dalam sistem komputer. Kecurangan ini dilakukan oleh Pacific Oil Wells. Setadewa sudah siap dengan segala risiko yang akan dia hadapi.
Bab 16 Nisan Perhitungan
(22) Mami, ya Mami. Kau sekarang sudah menemukan kedamaian. Segala-gala telah kau serahkan. Tetapi mereka mengikari jani. Dari dokter direktur rumah-sakit jiwa Magelang, pas pada hari aku meraih gelar doktor di Harvard, kuterima berita menditil mengenai wafatnya Mamiku (Mangunwijaya, 2010: hlm 222).
(23) Bagitulah maka sekarang sudah saatnya aku datang, sebagai manusia biasa, yang ingin mengadakan perhitungan dengan ular Kepala Dua yang hidup di bawah tanah
hati nuraniku… (Mangunwijaya, 2010: hlm 225).
Bab ini menggambarkan, peristiwa meninggalnya ibu Setadewa. Setadewa mengunjungi makam ibunya di Kramat Magelang dan Setadewa berjanji akan membongkar semua kecurangan yang terjadi dalam perhitungan sistem komputer.
Bab 17 Gunung Rawan
Bab ini menggambarkan, kunjungan Setadewa ke makam Pak Antana di Juranggede.
Bab 18 Aula Hikmah
(24) Pagi itu Nyonya Janakatamsi, Kepala Direktorat Pelestarian Alam akan mempertahankan tesisinya untuk meraih gelar doktor biologi di hadapan Senat lengkap beserta undangan. Aku bukan undangan, karena sampai sekarang aku belum pernah (berani) berhubungan lagi dengan Atik, alias Nyonya Larasati Janakatamsi, isteri Dekan Fakultas Geologi salah satu universitas swasta di Jakarta dan Kepala
Laboratorium Maritim Angkatan Laut. Tetapi kartu undangan dapat kuraih, karena salah seorang perwakilan Ford Foundation yang kukenal dan diundang, pada hari itu masih turne di Ujungpadang (Mangunwijaya, 2010: hlm 243—244).
Hingga Larasati akan mempertahankan tesisnya, Setadewa pun belum berani bertemu dengan Atik.
Bab 19 Pendopo Perjuangan
(25) “Oh, bukan untuk saya. ada tamu untuk Tuan Setadewa.” “Saya? siapa yang ingin
menemui saya? Kawanku dari Ford Foundation itu? Tetapi bagaimana ia dapat tahu,
saya di sini.” Kartu kuterima dan … aku terpaku tak bisa bergerak. Kartu keluarga Janakatamsi. “Seorang pria atau wanita?” tanyaku pada pelayan. “Berdua, pria dan wanira.” “Siapa?” Tanya tuan rumah. “Tuan Janakatamsi dan istri. Bagaimna mereka tahu aku di sini?” KRT Prajakusuma mendongka dan member pelita (Mangunwijaya, 2010: hlm 265).
(26) … Mas Teto kami undang dengan sangat; kami, khususnya Bu Antana. Sukalah
menginap di rumah kami. Istriku sudah begitu lama merindukan Mas Teto. Tidak pantaslah, bahkan kejamlah bila tawaran mereka ditolak. Aku tentulah hanya dapat
berkata: “Ya, baiklah.” (Mangunwijaya, 2010: hlm 269).
Pada bab inilah Setadewa pertama kali bertemu dengan Atik dan suaminya. Setadewa diminta untuk menginap dirumah keluarga Janakatamsi, Setadewa pun tidak dapat menolak permintaan Atik.
Bab 20 Rumah Pertanyaan
(27) “Teto, saya tidak berhak apa-apa atas hidup dan sanubarimu.” “Ah. Bu. Ibu
Antana sudah jadi ibuku, jangan berkata begitu.” “Ya, terima kasih. Tanpa itu
kuucapkan, aku juga sudah merasakannya. Jadilah anakku dan jadilah abang untuk
Atik. Ia sangat cinta padamu.” “Ya … tetapi bagaimana caranya Bu. Ibu pasti sudah
tahu, bahwa itu dapat menimbulkan situasi yang sangat berbahaya.” “Kau benar,
Teto. Aku pun juga sudah merasa itu. terus-terang saja, aku belum juga menemukan
jawaban yang memuaskan. Maka sebetulnya aku ingin minta nasihat kepadamu.”
Di Rumah Pertanyaan ini, Bu Antana mengajak berbicara kepada Setadewa agar menjadi kakak angkat Atik karena Atik sangat mencintai Setadewa. Namun Setadewa bingung harus berbuat apa karena takut mengganggu rumah tangga Atik.