• Tidak ada hasil yang ditemukan

Rumusan Hipotesis

Dalam dokumen Oleh: MONICA YULIA PURY ARTHA NIM : (Halaman 68-0)

BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN RUMUSAN HIPOTESIS

E. Rumusan Hipotesis

Berdasarkan hasil kajian pustaka pada bagian sebelumnya maka dapat dirumuskan beberapa hipotesis sebagai berikut:

a. Hipotesis 1

H0: Tidak ada perbedaan kompetensi guru di SMA dan SMK Negeri ditinjau dari pangkat golongan

H1: Ada perbedaan kompetensi guru di SMA dan SMK Negeri ditinjau dari pangkat golongan

b. Hipotesis 2

H0: Tidak ada perbedaan kompetensi guru di SMA dan SMK Negeri ditinjau dari status kepegawaian

H1: Ada perbedaan kompetensi guru di SMA dan SMK Negeri ditinjau dari status kepegawaian

c. Hipotesis 3

H0: Tidak ada perbedaan kompetensi guru di SMA dan SMK Negeri ditinjau dari jenis kelamin

H1: Ada perbedaan kompetensi guru di SMA dan SMK Negeri ditinjau dari jenis kelamin.

Kompetensi Pedagogikk Pangkat

Golongan

Status Kepegawaian

Jenis Kelamin

Guru

48 BAB III

METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian

Penelitian ini menggunakan metode penelitian ex-postfacto atau penelitian non-ekspresimental. Ex-postfacto terdiri dari tiga kata, ex diartikan dengan observasi atau pengamatan, post artinya sesudah, dan facto artinya kejadian atau fakta. Sehingga ex-post facto adalah pengamatan dilakukan setelah kejadian lewat (Arikunto, 2010:17). Hal ini menunjukkan bahwa penelitian tersebut adalah penelitian tentang variabel yang kejadiannya sudah terjadi tentang kompetensi pedagogik guru berdasarkan kurikulum 2013 ditinjau dari pangkat golongan, status kepegawaian dan jenis kelamin.

Penelitian ini juga disebut penelitian komparatif yaitu suatu penelitian yang melibatkan tindakan pengumpulan data guna menentukan apakah ada hubungan dan tingkat hubungan antara dua variabel atau lebih (Gay, 1982:430). Metode penelitian komparatif yang digunakan adalah penelitian deskriptif. Penelitian deskriptif yaitu penelitian yang dilakukan dengan pengumpulan data untuk menentukan adakah hubungan antara variabel dalam subjek atau objek yang menjadi perhatian untuk diteliti.

B. Tempat Dan Waktu Penelitian 1. Tempat Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di SMA Negeri dan SMK Negeri di wilayah Kabupaten Sleman Yogyakarta.

2. Waktu Penelitian

Penelitian dilaksanakan pada bulan Desember 2017 sampai dengan Maret 2018.

C. Subjek Dan Objek Penelitian 1. Subjek Penelitian

Subjek dalam penelitian ini adalah Guru-Guru SMA Negeri dan SMK Negeri di wilayah Kabupaten Sleman Yogyakarta.

2. Objek Penelitian

Objek penelitian ini adalah kompetensi pedagogik guru di SMA dan SMK Negeri se-Kabupaten Sleman Yogyakarta.

D. Populasi dan Sampel 1. Populasi

Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas objek atau subjek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya (Sugiyono, 2004 : 72). Populasi dalam penelitian ini adalah guru-guru SMA

dan SMK Negeri di wilayah Kabupaten Sleman Yogyakarta.Sebaran populasi dapat dilihat pada tabel 3.1

Tabel 3.1

Sebaran Populasi Guru-Guru SMA dan SMK Negeri Se-Kabupaten Sleman

No Nama Sekolah Populasi

A. Jumlah Guru SMA Negeri di Sleman

B. Jumlah Guru SMK Negeri di Sleman

1 SMK N 1 DEPOK 65 Guru

2. Sampel Penelitian a. Ukuran Sampel

Besarnya sampel di hitung dg mengggunakan rumus Slovin dengan menggunakan batas toleransi kesalahan (error tolerance) sebagai berikut:

Keterangan:

N : jumlah sampel N : jumlah populasi

e : batas toleransi kesalahan (error tolerance)

𝑛 =

𝑁

1+𝑁𝑒2

𝑛 =

1113

1+(1113)(0,05)2

𝑛 = 1113 1 + 2.7825 𝑛 = 1113

3.7825 𝑛 = 294.24983

Dengan rumus diatas dengan margin eror 5% diperoleh ukuran sampel sebesar 294. Dengan demikian ukuran sampel setiap sekolah proportional sebesar 26,41% (294/1113). Selanjutnya untuk mengantisipasi kemungkinan adanya sampel yang gugur maka besarnya sampel ditambah 10%. Dengan demikian besarnya sampel yang

direncanakan 294 ditambah 29,4 sama dengan 323,4 dibulatkan menjadi 323.

b. Teknik sampling

Penelitian ini menggunakan pengambilan sampel dengan teknik sampling yaitu nonprobability sampling jenis convenience sampling, nonprobability sampling adalah teknik pengambilan sampel yang tidak memberikan peluang atau kesempatan yang sama bagi setiap unsure atau anggota populasi untuk dipilih menja disampel (Sugiyono, 2011:84).

Kemudian, convenience sampling merupakan teknik penentuan sampel berdasarkan kebetulan saja, anggota populasi yang ditemui peneliti, dan bersedia menjadi responden untuk dijadikan sampel, atau peneliti memilih orang-orang yang terdekat saja (Siregar, 2012:60). Dalam penelitian ini difokuskan pada SMA dan SMK Negeri Se-Kabupaten Sleman yang dimana populasi 1113 guru dan sampelnya sebanyak 323 guru. Perhitungan proporsi sampel pada masing-masing sekolah adalah sebesar 323 dibagi 1113 dikali 100% sehingga didaparkan hasil sebesar 29.02%. Dengan demikian perhitungan proposional sebaran sampel pada masing-masing sekolah dapat dilihat pada tabel 3.2

Tabel 3.2

Sebaran Populasi dan Sampel Guru-Guru SMA dan SMK Negeri di wilayah Kabupaten Sleman

No Nama Sekolah Populasi Jumlah

Sampel

E. Operasional Dan Pengukuran Variabel Penelitian 1. Variabel Penelitian

Variabel penelitian adalah sesuatu hal yang berbentuk apa saja yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari sehingga diperoleh informasi tentang hal tersebut, kemudian ditarik kesimpulannya (sugiyono, 1999).

Adapun variabel yang digunakan dalam peneltian ini terdiri dari dua jenis, yaitu:

a. Variabel Bebas

Variabel ini sering disebut sebagai variabel stimulus atau prediktor.

Variabel bebas adalah variabel yang mempengaruhi atau yang menjadi sebab perubahan atau timbulnya variabel independen. Dalam penelitian ini yang menjadi variabel bebas adalah(X1) pangkat golongan adalah kedudukan yang menunjukkan tingkat seorang pegawai dalam susunan kepegawaian dan yang digunakan sebagai dasar penggajian, (X2) status kepegawaian kedudukan orang yang bekerja pada suatu lembaga, (X3) Jenis Kelamin adalah perbedaan biologis dan psikologis antara perempuan dan laki-laki (Widdy,2016:32).

b. Variabel Terikat

Variabel ini sering disebut variabel dependen. Variabel terikat merupakan variabel yang dipengaruhi atau yang menjadi akibat karena adanya variabel bebas. Dalam penelitian ini, variabel terikatnya adalah:

kompetensi pedagogik yaitu kemampuan guru berkenaan dengan penguasaan teoritis dan proses pengaplikasian dalam pembelajaran.

2. Pengukuran variabel penelitian a. Variabel Bebas

Pengukuran variabel bebas dalam penelitian ini ditentukan sebagai berikut:

1) Pangkat Golongan

Dalam Marsono (1981:131) mengatakan bahwa pangkat adalah kedudukan yang menunjukkan tingkat seseorang Pegawai Negeri Sipil dalam rangkaian susunan kepegawaian dan digunakan sebagai dasar penggajian.Pangkat golongan guru diukur berdasarkan jenjang golongan ke pangkatan guru, antara lain III/a, III/b, III/c, III/d, IV/a, dan IV/b, lalu disesuaikan untuk guru yang belum memiliki pangkat, GTT peneliti tambahkan sesuai dengan data responden yang ada.

Adapun pemberian skor untuk variabel pangkat golongan guru dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 3.3

Skoring Variabel Pangkat Golongan No Pangkat Golongan Skor

1 Belum Memiliki Pangkat 1 2 Guru Pratama, III/a 2 3 Guru Pratama, III/b 3

4 Guru Muda, III/c 4

5 Guru Muda, III/d 5

6 Guru Madya, IV/a 6

7 Guru Madya, IV/b 7

2) Status Kepegawaian

Status adalah keadaan atau kedudukan (orang, badan, dsb) dalam hubungan dengan masyarakat disekelilingnya (KBBI, 1988:858). Pegawai adalah orang yang bekerja pada pemerintah (perusahaan dsb) (KBBI 1988:658). Status kepegawaian adalah kedudukan orang yang bekerja pada suatu lembaga. Tingkat pengukuran status kepegawaian yaitu, PNS diberi skor 1, GTT diberi skor 2, dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 3.4

Skoring Variabel Status Kepegawaian No. Status Kepegawaian Skor

1. PNS 1

2. GTT 2

3) Jenis Kelamin

Jenis kelamin yang dimaksud adalah guru laki-laki dan perempuan. Secara psikologis ternyata laki-laki dan perempuan mempunyai perkembangan yang berbeda . seorang perempuan lebih mempunyai sifat keibuan yang lemah lembut, berperasaan, dan lebih feminim sedangkan laki-laki mempunyai sifat yang maskulin, kasar dan lebih perkasa. (Gilarso, 1993:5).Pemberian skor untuk variabel jenis kelamin adalah sebagai berikut :

Tabel 3.5

Skoring Variabel Jenis Kelamin No. Jenis Kelamin Skor

1. Laki-laki 1

2. Perempuan 2

b. Variabel terikat

Kompetensi Pedagogik Guru

Kompetensi pedagogik guru merupakan seperangkat pengetahuan, keterampilan, dan perilaku yang harus dimiliki, dihayati, dan dikuasai oleh guru dalam mempelajari masalah membimbing peserta didik kearah tujuan tertentu yang berkaitan dengan melaksanakan tugas keprofesionalan seorang guru. Dalam variabel kompetensi pedagogik guru ada tujuh unsur yaitu: menguasai karakteristik peserta didik, menguasai teori dan prinsip-prinsip pembelajaran, mengembangkan kurikulum dan merancang pembelajaran, menyelenggarakan pembelajaran yang mendidik, memanfaatkan tujuan instruksi khusus (TIK) untuk kepentingan pembelajaran, memfasilitasi pengembangan potensi peserta didik, berkomunikasi secara efektif, empatik, dan santun dengan peserta didik, menyelenggarakan evaluasi dan penilaian proses hasil belajar.

Pengukuran variabel kompetensi pedagogikk guru menggunakan skala likert yang telah dimodifikasi menjadi empat opsi jawaban untuk setiap pernyataan, yaitu Selalu (S), Kadang-kadang (K), Hampir Tidak Pernah (HTP), dan Tidak Pernah (TP). Pemberian skor skala likert pada setiap pernyataan tampak pada tabel 3.6 sebagai berikut:

Tabel 3.6

Skala Likert Untuk Pernyataan Bersifat Positif Dan Negatif

Keterangan Pernyataan Positif

Pernyataan Negatif

Selalu 4 1

Kadang-kadang 3 2

Hampir Tidak Pernah 2 3

Tidak Pernah 1 4

F. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan teknik pengumpulan data kuesioner. Kuesioner ini digunakan untuk mengumpulkan data mengenai pangkat golongan, kemampuan teknologi infomasi, serta usia guru. Responden yang mengisi kuesioner ini adalah guru-guru SMA dan SMK Negeri se-Kabupaten Sleman. Kuesioner ini terdiri atas 48 pernyataan dengan menggunakan skala Likert untuk mengukur kompetensi pedagogik guru. Kuesioner berisi butir-butir instrumen yang diukur sesuai dengan data yang telah diisi oleh responden, data berupa skor-skor Likert yang kemudian akan diintepretasikan dengan skor pada masing-masing variabel menggunakan PAP II (Masidjo, 1995:158-159).

Supaya kuesioner yang disusun memiliki validitas isi dan validitas konstruk, maka dalam penyusunannya dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut: (a) mendefinisikan variabel, (b) menentukan dimensi dan aspek berkaitan dengan variabel yang hendak diteliti, (c) memilih indikator, (d) menulis pernyataan/item pada kuesioner.

Berdasarkan uraian diatas mengenai cara untuk mengungkap data variabel yang hendak diukur menggunakan skala likert, maka disusun kisi-kisi kuesioner sebagai berikut:

Tabel 3.7 perilaku peserta didik

4 - 3 Menjelaskan tujuan

pembelajaran 9 -

4 sesuai dengan tujuan dan proses pembelajaran

1 Menyusun RPP sesuai

dengan silabus 13 +

2

Menyampaikan materi pembelajaran dengan lancar, jelas dan lengkap

14 +

4

6 Mengelola kelas dengan

efektif dan produktif 26 -

2

6 Memberikan perhatian

terhadap pertanyaan 43 -

perserta didik dan meresponnya secara lengkap dan relevan

7 Penilaian serta evaluasi dari peserta didik dan merefleksikannya untuk

G. Validitas dan Reliabilitas Instrumen Penelitian 1. Validitas

Validitas adalah suatu ukuran yang menunjukan tingkat kevalidan suatu instrumen (Arikunto, 2003:235). Pengujian validitas dilakukan pada setiap instrumen pengumpulan data variabel kompetensi pedadogik.

Pengujian validitas dengan menggunakan rumus teknik korelasi Product Moment (Husein Umar, 2003:78) yaitu sebagai berikut :

N∑XY - (∑X) ((∑Y) rxy =

Keterangan :

rxy = Koefisien korelasi antara X dan Y N = Jumlah subjek

X = Skor masing-masing butir uji coba Y = Skor total butir uji coba

∑X = Jumlah skor butir

Setiap butir pernyataan pada kuesioner dinyatakan valid jika pada α = 5%, r hitung bersifat positif serta nilanya lebih besar dari r tabel. jika r hitung lebih besar dari pada r tabel , maka butir soal tersebut dapat dikatakan valid. Jika sebaliknya maka butir soal tersebut tidak valid.

Koefisien korelasi (r hitung) diperoleh dari rumus yang telah disebutkan di atas dengan perhitungan menggunakan alat bantu komputer program SPSS versi 22.0 for windows, sedangkan untuk r tabel diperoleh dari tabel nilai-nilai r Product Moment pada taraf signifikansi 5% dan dk 300-2 = 298 (Sugiyono, 2010: 455). Ringkasan hasil pengujian validitas instrumen penelitian dengan derajat kebebasan sebesar 298 (dk = 300-2) dan taraf signifikansi sebesar 5% menunjukkan bahwa nilai r tabel sebesar 0,113 yang nampak pada tabel 3.8 berikut ini:

] ) ( ][

) (

[NX2  X 2 NY2  Y 2

Tabel 3.8

Ringkasan Hasil Pengujian Validitas Variabel Kompetensi Pedagogik Guru

33 0,414 0,113 Valid

34 0,409 0,113 Valid

35 0,311 0,113 Valid

36 0,446 0,113 Valid

37 0,378 0,113 Valid

38 0,363 0,113 Valid

39 0,386 0,113 Valid

40 0,386 0,113 Valid

41 0,351 0,113 Valid

42 0,323 0,113 Valid

43 0,298 0,113 Valid

44 0,386 0,113 Valid

45 0,317 0,113 Valid

46 0,444 0,113 Valid

47 0,471 0,113 Valid

48 0,406 0,113 Valid

Berdasarkan tabel hasil pengujian kompetensi pedagogik guru diperoleh hasil keseluruhan koefisien r hitung lebih besar dari r tabel. Oleh karena itu, 48 pernyataan variable kompetensi pedagogic guru dapat dikatakan valid.

2. Reliabilitas

Reliabilitas menunjukkan pada suatu pengertian bahwa suatu instrument cukup dapat dipercaya untuk digunakan sebagai alat pengumpul data karena instrument tersebut sudah baik. Instrumen yang baik tidak akan bersifat tendensius mengarahkan responden untuk memilih jawaban-jawaban tertentu. Instrumen yang sudah dapat dipercaya, yang reliabel akan menghasilkan data yang dapat dipercaya juga. Reliabilitas menunjuk pada tingkat keterandalan sesuatu. Reliabel artinya dapat dipercaya, jadi dapat

diandalkan. Menurut Noor (2014:25), uji reliabilitas digunakan untuk menilai kestabilan ukuran dan konsistensi responden dalam menjawab kuisioner. Rumus yang digunakan adalah Alfa Cronbach sebagai berikut:

r11 = (𝑘−1𝐾 ) (1 − Σ σbσ2t2) Keterangan :

r11 = reliabilitas instrumen

k = banyaknya butir pertanyaan atau banyaknya soal

∑ σb² = jumlah varians butir σ²t = varians total

Kriteria kuesioner dikatakan reliabel jika pada ɑ=5% nilai alfa cronbach lebih dari 0,60. Untuk melakukan uji reliabilitas digunakan bantuan program SPSS versi 22 for windows. Arikunto (2002:5) mengklasifikasikan tingkat reliabilitas berdasarkan tingkat interpretasi indeks reliabilitas sebagai berikut:

(Sumber: Christianto, 2016:79) Tabel 3.9

Kriteria Koefeisien Reliabilitas Nilai Reliabilitas Kriteria

0,800-1,000 Sangat Tinggi

0,600-0,799 Tinggi

0,400-0,599 Sedang

0,200-0,399 Rendah

<0,200 Sangat Rendah

Berdasarkan tabel hasil pengujian reliabilitas pada tabel 3.9 didapatkan nilai alpha cronbach sebesar 0,869. Hasil pengujian ini terletak pada taraf 0.800-1.000, sehingga dapat diartikan bahwa keseluruhan butir pernyataan variabel kompetensi pedagogik guru adalah handal dan memiliki reliabilitas yang sangat tinggi.

H. Teknik Analisis Data 1. Analisis Deskriptif

Teknik analisis data dalam penelitian ini menggunakan statistik deskriptif. Menurut Sugiyono (2010: 207) statistik deskriptif adalah statistik yang digunakan untuk menganalisis data dengan cara mendeskripsikan atau menggambarkan data yang telah terkumpul sebagaimana adanya. Peneliti mendeskripsikan penyajian data dalam bentuk tabel dan nilai-nilai statistiknya serta menginterpretasikan berdasarkan pada Penilaian Acuan Patokan tipe II (PAP II) dengan nilai presentil sebagai berikut(Masidjo, 1995:157):

80% ke atas : Sangat Baik 66% - 80% : Baik

Tabel 3.10

Hasil Pengujian Reliabilitas Instrumen Penelitian Variabel Kompetensi Pedagogik

Reliability Statistics

Cronbach's Alpha

Cronbach's Alpha Based on

Standardized Items N of Items

.869 .885 48

56% - 65% : Cukup 46% - 55% : Tidak Baik

Dibawah 46% : Sangat Tidak Baik

Penilain Acuan Patokan tipe II umumnya digunakan untuk menghitung penilaian hasil belajar siswa dengan skor minimal 0 dan skor maksimal 100, oleh karena data dalam penelitian yang telah ditetapkan memiliki skor terendah 1 dan skor tertinggi 4, oleh sebab itu untuk mendeskripsikan kecenderungan kompetensi guru harus menentukan skor interval terlebih dahulu dengan memodifikasi rumus PAP II dengan rumus.

elitian yang telah ditetapkan memiliki skor terendah 1 dan skor tertinggi 4, untuk mendeskripsikan kategori variabel, maka langkah pertama yang harus dilakukan adalah menentukan skor interval melalui memodifikasi rumus PAP tipe II dengan rumus: Skor minimal yang mungkin dicapai + [Nilai presentil x (skor tertinggi yang mungkin dicapai – skor terendah yang mungkin dicapai).

Perhitungan kategori kecenderungan pada variabel kompetensi pedagogikk guru dengan jumlah butir pernyataan kuesioner sebayak 48 butir pernyataan. Sehingga didapatkan perhitungan skor tertinggi sebesar 192 (48 x 4), sedangkan skor terendah adalah sebesar 48 (48 x 1). Skor kategori kecenderungan variabel kompetensi pedagogik guru sebagai berikut:

48 + 81% (192-48) = 165 48 + 66% (192-48) = 143 48 + 56% (192-48) = 129

48 + 46% (192-48) = 114 48 + 0% (192-48) = 48

Dari perhitungan diatas dapat disimpulkan kategori kecenderungan variabel kompetensi pedagogik guru dapat dilihat pada tabel 3.10 berikut:

Tabel 3.11

Interval Skor Kompetensi Pedagogik Guru No Interval Skor Kategori

1 165 – 192 Sangat Baik

2 143 – 164 Baik

3 129 – 142 Cukup

4 114 – 128 Tidak Baik

5 48 – 113 Sangat Tidak Baik

2. Pengujian Hipotesis

Dalam penelitian ini, peneliti merumuskan tiga hipotesis sebagai berikut:

a. Hipotesis Pertama

H01: Tidak ada perbedaan kompetensi pedagogik guru di SMA dan SMK Negeri Se-Kabupaten Sleman ditinjau pangkat golongan.

Ha1: Ada perbedaan kompetensi pedagogik guru di SMA dan SMK Negeri Se-Kabupaten Sleman guru di SMA dan SMK Negeri ditinjau pangkat golongan.

b. Hipotesis Kedua

H02: Tidak ada perbedaan kompetensi pedagogik guru di SMA dan SMK Negeri Se-Kabupaten Sleman ditinjau status kepegawaian.

Ha2: Ada perbedaan kompetensi pedagogik guru di SMA dan SMK Negeri Se-Kabupaten Sleman ditinjau status kepegawaian.

c. Hipotesis Ketiga

H03: Tidak ada perbedaan kompetensi pedagogik guru di SMA dan SMK Negeri Se-Kabupaten Sleman ditinjau jenis kelamin.

Ha3: Ada perbedaan kompetensi pedagogik guru di SMA dan SMK Negeri Se-Kabupaten Sleman ditinjau jenis kelamin.

3. Langkah-Langkah Pengujian Hipotesis

Untuk pengujian hipotesis 1 sampai 3 menggunakan analisis Chi-Square, sedangkan langkah-langkah pengujiannya sebagai berikut:

a. Mencari Nilai Chi-Square (𝑋2)

Uji Chi-Square (𝑋2) digunakan untuk menguji perbandingan variabel. Adapun persamaan yang digunakan untuk menguji Chi-Square (𝑋2) adalah sebagai berikut (Siregar, 2010:231):

𝑋2 = ∑(𝑓0− 𝑓𝑒)2 𝑓𝑒

Keterangan:

𝑓0 : Frekuensi Observasi

𝑓𝑒 : Frekuensi yang diharapkan 𝑋2 : Chi-Square

Jika frekuensi harapan (Fe) tidak diketahui maka dapat dicari dengan persamaan sebagai berikut:

𝑓𝑒 = ∑𝑓𝑜 𝑛

Keterangan:

𝑓0 : Frekuensi Observasi

𝑓𝑒 : Frekuensi yang diharapkan 𝑛 : Jumlah data

b. Kriteria Pengujian Hipotesis

Jika nilai Asymp. Sig>0,05 maka Ho diterima. Ho tersebut menunjukan tidak ada pengaruh tingkat pendidikan guru, kemampuan teknologi informasi, pengalaman mengajar guru terhadap kemampuan kompetensi pedagogikk guru, maka tidak perlu dilakukan penentuan derajat asosiasi. Jika Ha, diterima artinya menunjukan ada perbedaan dari pangkat golongan, status kepegawaian dan jenis kelamin guru terhadap kemampuan kompetensi pedagogik guru maka langkah selanjutnya adalah mencari derajat asosiasi.

c. Menentukan Besarnya Derajat Asosiasi

Apabila Ha diterima, selanjutnya untuk mengetahui derajat hubungan antara variabel bebas dan variabel terikat, maka koefisien kontingensi C dibandingkan dengan koefisien kontingensi maksimum (Cmax) dapat dicari dengan persamaan sebagai berikut (Sudjana, 2002:282):

𝐶 = √ 𝑥2 𝑥2+ 𝑛

𝐶𝑀𝑎𝑥 = √𝑚 − 1 𝑚

Rasio = C/Cmax

Keterangan :

C : Koefisien Kontingensi

CMax : Koefisien Kontingensi maksimum X2 : Koefisien Chi-Square

m : Jumlah minimum antara baris dan kolom n : Banyaknya sampel

secara umum kriteria rasio C/Cmax adalah sebagai berikut:

Tabel 3.12 Kriteria Rasio C/Cmax

C/Cmax Interpretasi

>0,80 Sangat Kuat

0,60 – 0,80 Kuat

0,40 – 0,60 Sedang

0,20 – 0,40 Lemah

<0,20 Sangat Lemah

Untuk mencari Chi-Square hitung dan koefisien kontingensi dalam penelitian ini menggunakan bantuan program SPSS versi 22.0 For windows.

d. Penarikan Kesimpulan Hipotesis

Jika nilai Sig< = 0,05, maka Ha diterima. Artinya ada pengaruh antara tingkat pangkat golongan, status kepegawaian dan jenis kelamin guru terhadap kemampuan kompetensi pedagogik guru. Sebaiknya jika nilai sig < a = 0,05 maka Ho diterima. Artinya tidak ada pengaruh antara tingkat pangkat golongan, status kepegawaian dan jenis kelamin guru.

74 BAB IV

ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN

A. Deskripsi Data

Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 16 Januari 2018 sampai dengan 05 Maret 2018 dengan subjek penelitiannya adalah guru. Penelitian ini seharusnya 24 SMA dan SMK Negeri se-Kabupaten Sleman, akan tetapi tidak dapat mengambil sampel di SMK Negeri 1 Godean dan SMA Negeri 1 Pakem dikarenakan keterbatasan waktu tunggu serta ketidak berkenannya sekolah untuk menjadi subjek penelitian. Pengambilan data yang seharusnya 24 SMA dan SMK Negeri akhirnya menjadi 22 SMA dan SMK Negeri se-Kabupaten Sleman. Dilaksanakan di SMA Negeri 1 Depok, SMA Negeri 1 Mlati, SMA Negeri 1 Ngaglik, SMA Negeri 2 Ngaglik, SMA Negeri 1 Sleman, SMA Negeri 2 Sleman, SMA Negeri 1 Gamping, SMA Negeri 1 Tempel, SMA Negeri 1 Seyegan, SMA Negeri 1 Turi, SMA Negeri 1 Minggir, SMA Negeri 1 Cangkringan, SMA Negeri 1 Ngemplak, SMA Negeri 1 Prambanan, SMK Negeri 1 Depok, SMK Negeri 2 Depok, SMK Negeri 1 Kalasan, SMK Negeri 1 Tempel, SMA Negeri 1 Godean, SMK Negeri 2 Godean, SMK Negeri 1 Seyegan, dan SMK Negeri 1 Cangkringan. Selanjutnya, disribusi kuesioner yang telah diisi oleh responden dari 22 SMA dan SMK Negeri Se-Kabupaten Sleman dengan jumlah populasi sebesar 1033 dengan jumlah sampel sebesar 300. Selain perubahan jumlah sekolah, jumlah populasi, dan jumlah sampel ada perubahan margin eror dari 5% menjadi 5,7%. Dari 22 sekolah tersebut peneliti

telah menyebar 381 kuesioner untuk guru, dengan jumlah kuesioner yang kembali sebanyak 342, sebanyak 42 kuesioner digugurkan karena adanya responden yang mengisi kuesioner tidak lengkap. Jadi, kuesioner yang diisi dengan lengkap sebanyak 300 kuesioner atau sebesar 29,045 dari populasi.

1. Distribusi Responden

Selanjutnya, disribusi responden yang telah diisi oleh responden dari 22 SMA dan SMK Negeri se-Kabupaten Sleman dapat diilustrasikan pada

21 SMK N 1 SEYEGAN 81 16 19,75%

22 SMK N 1 CANGKRINGAN 59 17 28,81%

Total 1033 300 29,04%

Dalam bab ini akan disajikan mengenai analisis data menggunakan bantuan komputer dengan program SPSS versi 22.0 for Windows serta pembahasan dari hasil penelitian.

2. Pangkat Golongan

Data responden guru berdasarkan pangkat golongan dapat dilihat pada tabel 4.2 berikut ini.

Berdasarkan pada tabel 4.2 diatas, maka dapat dilihat bahwa dari 300 respondenberdasarkan pangkat golongan, terdapat 39 guru (13%) tidak mempunyai pangkat golongan, 19 guru (6,3%) memiliki pangkat golongan III/a, 13 guru (4,3%) memiliki pangkat golongan III/b, 41 guru (13,7%)

Tabel 4.2

Data Responden Guru Berdasarkan Pangkat Golongan

Frequency Percent

Valid Percent

Cumulative Percent Valid Belum memiliki

pangkat 39 13.0 13.0 13.0

memiliki pangkat golongan III/c, 19 guru (6,3%) memiliki pangkat golongan III/d, 163 guru (54,3%) memiliki pangkat golongan IV/a, dan 6 guru (2%) memiliki pangkat golongan IV/b.

Sehingga, dapat disimpulkan bahwa sebagian besar guru SMA dan SMK Negeri se-Kabupaten Sleman memiliki pangkat golongan IV/a atau sebanyak 54,3% dari jumlah responden yang ada.

3. Status Kepegawaian

Data responden guru berdasarkan status kepegawaian dapat dilihat pada tabel 4.3berikut ini.

Tabel 4.3

Data Responden Guru Berdasarkan Status Kepegawaian

Frequency Percent

Valid Percent

Cumulative Percent

Valid PNS 263 87.7 87.7 87.7

GTT 37 12.3 12.3 100.0

Total 300 100.0 100.0

Dari tabel, dapat dilihat jumlah responden guru berdasarkan status kepegawaian guru, dimana dari 300 guru ada 263 guru atau 87.7% yang mempunyai status kepegawaian PNS dan 37 guru atau 12.3% yang mempunyai status kepegawaian GTT. Dapat disimpulkan bahwa sebagian besar responden guru mempunyai status kepegawaian PNS sebanyak 263 guru atau 87.7%.

4. Jenis Kelamin

Data responden guru berdasarkan jenis kelamin dapat dilihat pada tabel 4.4 sebagai berikut.

Tabel 4..4

Data Responden Berdasarkan Jenis Kelamin

Frequency Percent

Valid Percent

Cumulative Percent

Valid Laki-laki 103 34.3 34.3 34.3

Perempuan 197 65.7 65.7 100.0

Total 300 100.0 100.0

Dari tabel, dapat dilihat bahwa jumlah responden guru laki-laki sebesar 103 orang (34,3%)dan jumlah responden guru perempuan sebesar 197 orang (65,7%). Dapat disimpulkan sebagian besar responden guru berjenis kelamin perempuan.

5. Kompetensi Pedagogik Guru

Untuk mengetahui kemampuan pedagogik guru berdasarkan kurikulum 2013 edisi revisi, maka peneliti membuat lima kategori.

Kategori tersebut diperoleh berdasarkan 48 pernyataan dengan empat opsi jawaban kuesioner yang dipilih oleh responden, dimana skor terendah adalah 48 dan skor tertinggi adalah 192. Penentuan skor untuk pernyataan positif sebagai berikut: sangat setuju (skor 4), setuju (skor 3), tidak setuju (skor 2), dan sangat tidak setuju (skor 1).

Sedangkan penentuan skor untuk pernyataan negatif adalah sebagai berikut: sangat tidak setuju (skor 4), tidak setuju (skor 3), setuju (skor 2), dan sangat setuju (skor 1). Selanjutnya, peneliti menginterpretasikan skor

Sedangkan penentuan skor untuk pernyataan negatif adalah sebagai berikut: sangat tidak setuju (skor 4), tidak setuju (skor 3), setuju (skor 2), dan sangat setuju (skor 1). Selanjutnya, peneliti menginterpretasikan skor

Dalam dokumen Oleh: MONICA YULIA PURY ARTHA NIM : (Halaman 68-0)

Dokumen terkait