Berdasarkan uraian diatas, maka yang akan menjadi rumusan masalah dalam penelitian adalah : Apakah terdapat hubungan cedera otak dengan peningkatan kadar leukosit di Rumah Sakit BhayangkaraMakassar ?
4 C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Mengetahui tentang hubungan antara cedera otak dan peningkatan jumlah sel darah putih.
2. Tujuan Khusus
a Untuk mengetahui perbedaan jumlah sel darah putih pada pasien dengan kerusakan otak ringan dan sedang
b Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap perbedaan kadar sel darah putih pada pasien dengan kerusakan otak ringan dan berat.
c. Untuk mengetahui perbedaan jumlah sel darah putih pada pasien dengan kerusakan otak sedang dan berat
Manfaat penelitian 1. Bagi peneliti
Hal ini dapat menjadi pengalaman bagi peneliti sebagai sarana untuk mengembangkan pengetahuan tentang isu-isu sosial..
2. Bagi institusi
Hasil penelitian dapat menjadi sarana pengembangan program pendidikan untuk mengidentifikasi permasalahan yang muncul di masyarakat..
3. Bagi masyarakat
Hasil penelitian diharapkan dapat membantu meningkatkan peran masyarakat dalam mencapai keselarasan dalam kehidupan dan perilaku sehat di masyarakatnya.
5 BAB II
TINJAUAN PUSTAKA A. Cedera Otak Traumatik
1. Definisi
Cedera otak adalah cedera mekanik yang mempengaruhi kepala secara langsung atau tidak langsung, menyebabkan kerusakan kulit kepala, patah tulang tengkorak, laserasi meningeal, kerusakan jaringan otak itu sendiri, dan neuropati.fungsi kognitif, dan psikososial baik temporer maupun permanen7.
Menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC),cedera kepalaadalah suatu trauma kranioserebral, secara spesifik terjadinya cedera pada kepala (akibat trauma tumpul atau tajam atau akibat daya akselerasi atau deselerasi) yang terkait dengan gejala akibat cedera tersebut seperti penurunan kesadaran, amnesia, abnormalitas neurologi atau neuropsikologi lainnya, fraktur tengkorak, lesi intrakranial atau kematian8.
2. Etiologi
Penyebab cedera otak dibagi menjadi primer dan sekunder yaitu cedera primer yang terjadi akibat benturan langsung maupun tidak langsung, dan cedera sekunder yaitu cedera yang terjadi akibat cedera saraf melalui akson meluas, hipertensi intrakranial, hipoksia, hiperkapnea / hipotensi sistemik. Cedera sekunder merupakan cedera akibat dari berbagai proses patologis yang timbul sebagai tahapan lanjutan dari
6 kerusakan neuron berkelanjutan, iskemia, peningkatan tekanan intrakranial dan perubahan neurokimiawi9.
3. Insiden
a. Jenis Kelamin
Pada populasi secara keseluruhan, laki-laki dua kali ganda lebih banyak mengalami cedera kepala dari perempuan. Namun, pada usia lebih tua perbandingan hampir sama. Hal ini dapat terjadi pada usia yang lebih tua disebabkan karena terjatuh. Mortalitas laki-laki dan perempuan terhadap cedera otak.10
Menurut Brain Injury Association Of America, laki-laki cenderung mengalami cedera otak lebih banyak daripada perempuan.
b. Umur
Resiko cedera otak adalah dari umur 15-30 tahun, hal ini disebabkan karena pada kelompok umur ini banyak terpengaruh dengan alkohol, narkoba dan kehidupan sosial yang tidak bertanggung jawab.10
Menurut Brain Injury Association Of America, dua kelompok umur mengalami risiko yang tertinngi adalah dari umur 0 sampai 4 tahun dan 15 sampai 19 tahun.
4. Patofisiologi Cedera Otak
Perubahan patofisiologi setelah cedera otak adalah kompleks. cedera bisa disebabkan oleh mekanisme yang berbeda, dan sering berkombinasi.
Perubahanperubahan setelah trauma adalah terjadi pada tingkat molekuler, biokimia, seluler, dan pada tingkat makroskopis.11
7 Cedera otak primer disebabkan oleh kerusakan mekanis pada jaringan otak dan pembuluh darah selama trauma. Pada tingkat makroskopik, Anda dapat melihat bahwa jaringan otak terputus; Kerusakan sel parenkim dapat dilihat pada tingkat mikroskopis (sel neuron, axon, dan glia) dan mikrosirkulasi (arteriol, capiler, dan venula).11
Cedera otak sekunder mengacu pada efek setelah peristiwa cedera primer.
Secara klinis, efeknya berlaku untuk hematoma intrakranial pasca-trauma, edema serebral, hipertensi pasca-intrakranial, dan hidrosefalus stadium lanjut dan infeksi. Cedera kepala sekunder adalah kejadian sistemik yang terjadi setelah trauma dan dapat menyebabkan kerusakan tambahan pada neuron, akson, dan kecelakaan serebrovaskular. Cedera kepala sekunder yang terpenting adalah hipoxia ,hipotensi, hipercarbia, hiperexia, dan gangguan elektrolit.11
5. Gejala Klinis
Cedera otak atau trauma kepala dapat memiliki konsekuensi fisik dan psikologis yang meluas. Beberapa tanda dan gejala muncul segera setelah peristiwa traumatis, sementara yang lain muncul beberapa hari atau minggu kemudian.
1. Cedera otak ringan a. Gejalafisik
1. Kehilangan kesadaran selama beberapa detik sampai beberapa menit
8 2. Tidak ada kehilangan kesadaran, tapi keadaan bingung\
3. Sakit kepala 4. Mual atau muntah 5. Keletihan atau kantuk 6. Kesulitan tidur
7. Tidur lebih dari biasanya
8. Pusing atau kehilangan keseimbangan.
b. Gejala sensorik
1. Masalah sensorik seperti mata kabur, tinitus, bau mulut, dan perubahan indra penciuman
2. Sensitivitas terhadap cahaya atau suara c. Gejala kognitif atau mental
1. Masalah memori atau konsentrasi
2. Perubahan suasana hati atau mood berubah 3. Merasa tertekan atau cemas
2. Cedera otak sedang
Cedera otak sedang dapat mencakup tanda dan gejala cedera ringan, serta gejala berikut yang mungkin muncul dalam beberapa jam pertama hingga beberapa hari setelah cedera otak:
a. Gejala fisik
1. Kehilangan kesadaran dari beberapa menit sampai 6 jam
2. Sakit kepala yang terus-menerus atau sakit kepala yang memburuk 3. Muntah berulang atau mual
9 4. Kejang-kejang atau kejang
5. Dilatasi satu atau kedua pupil mata
6. Cairan bening menguras dari hidung atau telinga 7. Ketidakmampuan bangun dari tidur
8. Kelemahan atau mati rasa di jari tangan dan kaki 9. Hilangnya koordinasi
b. Gejala kognitif atau mental
1. Kebingungan
2. Agitasi atau perilaku tidak biasa lainnya 3. Ucapan samar-samar
3. Cedera otak berat
Cedera otak berat mencakup gejala dari cedera kepala sedang, serta gejala berikut yang mungkin muncul dalam jam pertama sampai hari setelah terjadinya :
a. Gejala fisik
1. Kehilangan kesadaran lebih dari 6 jam 2. Kesulitan untuk tetap bangun
3. Muntah yang berulang
4. Bengkak atau memar di daerah mata atau belakang telinga 5. Kesulitan berjalan atau koordinasi
b. Gejala sensorik
1. Kehilangan sebagian atau seluruh penglihatan 2. Diplopia atau penglihatan ganda
10 3. Penurunan atau kehilangan pendengaran
4. Telinga terasa mendengung atau tinnitus 5. Penurunan atau kehilangan indra penciuman 6. Penurunan atau kehilangan indra pengecapan c. Gejala kognitif atau mental
1. Tidak mengerti kalimat yang dibicarakan 2. Kesulitan membaca
3. Kesulitan menulis 4. Kesulitan berbicara 5. Depresi
B. Sel Darah Putih (Leukosit)
Sel darah putih (white blood cell atau SDP) adalah unit yang dapat bergerak di dalam sistem kekebalan tubuh. Imunitas adalah kemampuan tubuh untuk melawan dan mengeluarkan zat asing yang berpotensi berbahaya dan sel-sel abnormal. Sel darah putih dan turunannya, bersama dengan berbagai protein plasma, membentuk sistem kekebalan. Sistem imun adalah sistem pertahanan internal yang mengenali, menghancurkan, atau menetralkan zat asing di dalam tubuh. Secara khusus, sistem kekebalan (1) melindungi tubuh dari serangan mikroorganisme patogen (bakteri, virus, dll.).
(2) Bertindak sebagai "penjaga" yang membersihkan sel-sel tua (misalnya, sel darah merah tua) dan puing-puing jaringan (misalnya, jaringan yang rusak akibat trauma atau penyakit) dan menyediakan sarana penyembuhan luka dan
11 perbaikan jaringan dan (3) mengidentifikasi dan menghancurkan sel kanker yang timbul di tubuh.12
Untuk melaksankan fungsinya, leukosit umumnya menggunakan strategi “cari dan hancurkan” yaitu, sel-sel ini pergi ke tempat invasi atau kerusakan jaringan. Penyebab utama leukosit berada didalam darah adalah agar cepat diangkut dari tempat produksi atau penyimpanannya ke tempat mereka dibutukan. Leukosit tidak memiliki hemoglobin (berbeda dengan eritrosit) sehingga tidak berwarna (yaitu,putih) kecuali jika secara spesifik diwarnai agar dapat dilihat dengan mikroskop. Di dalam darah terdapat lima jenis leukosit yang berbeda-beda-neutrofil, eosinofil, basofil, monosit, dan limfosit. Masing-masing dengan struktur dan fungsi khas tersendiri. Sel-sel ini agak lebih beasar daripada eritrosit. Kelimas jenis leukosit masuk ke dalam dua kategori utama, bergantung pada gambaran nukleus dan ada tidaknya granula di dalam sitoplasmanya jika dilihat di bawah mikroskop.
Leukosit ( sel darah putih, atau SDP) dan turunan-turunannya, bersama dengan beragam protein plasma, bertanggung jawab melaksanakan beragam strategi pertahanan imun. Sebagai ulasan singkat, fungsi kelima jenis leukosit adalah sebagai berikut.
1. Neutrofil adalah spesialis fagosit yang sangat mobile dan dapat menelan dan menghancurkan zat yang tidak diinginkan
2. Eosinofil mengeluarkan bahan kimia yang menghancurkan parasit dan terlibat dalam reaksi alergi.
12 3. Basofil melepaskan histamin dan heparin dan juga terlibat dalam reaksi
alergi.
4. Monosit berubah menjadi makrofag, yaitu spesialis fagositik besar yang berada di jaringan.
5. Limfosit terdiri dari dua tipe :
a. Limfosit B (sel B) adalah sel plasma yang mensekresi antibodi (imunitas yang diperantarai antibodi, imunitas humoral) yang secara tidak langsung menyebabkan destruksi benda asing.
b. Limfosit T (sel T) Ini secara langsung menghancurkan sel-sel yang terinfeksi virus dan mutan dengan melepaskan bahan kimia yang menembus sel-sel korban (kekebalan yang diperantarai sel).Jumlah kadar leukosit antara lain :
a. Leukosit normal neonatus adalah 9000-30000 sel/mm b. Leukosit normal balita adalah 5700-18000 sel/mm
c. Leukosit normal anak 10 tahun adalah 4500-13500 sel/mm d. Leukosit normal pada orang dewasa adalah 4500-10000 sel/mm
Suatu leukosit hanya berada dalam darah dalam waktu singkat.
Sebagian besar leukosit keluar dari darah menuju ke jaringan dalam misi pertahanan. Karena itu, sel-sel efektor system imun tersebar luas di seluruh tubuh dan dapat mempertahankan tubuh di lokasi manapun.
13 C. Faktor Yang Mempengaruhi Leukosit Meningkat
Faktor yang mempenagruhi leukositosis adalah adanya reaksi infeksi, reaksi stres, dan alergi pada tubuh sehingga menyebabkan sel darah putih meningkat untuk melawan infeksi, kelainan sistem kekebalan tubuh dan gangguan pada sumsum tulang belakang yang menyebabkan produksi sel darah putih terganggu.13
D. Hubungan Cedera Otak dengan kadar Leukosit
Pada cedera otak, mekanisme terjadinya peningkatan leukosit diyakini karena Peran hormon katekolamin dan kortikosteroid telah dilaporkan dalam literatur. Katekolamin meningkatkan jumlah sel darah putih dengan melepaskan sel darah putih yang diaktifkan ke dalam aliran darah.
Kortikosteroid meningkatkan jumlah sel darah putih dengan melepaskan sel darah putih dari penyimpanan sumsum tulang ke dalam aliran darah. Di otak, badan sel mikroglia membesar pada proses longitudinal pasca trauma dan bercabang dalam 60 menit pertama setelah trauma 10. Sel mikroglia mengekspresikan antigen MHC kelas I dan II, yang dipresentasikan ke limfosit lokal dan memicu aktivasi limfosit yang beredar di nodus dan sistem saraf pusat. Selain itu, cedera kepala parah mengakibatkan peningkatan sel darah putih baru. Sel darah putih kurang elastis dibandingkan sel darah merah, sehingga diperlukan lebih banyak tekanan untuk mendorongnya ke dalam kapiler yang lebih kecil.Dalam keadaan penurunan tekanan perfusi, pembuluh darah kapiler dapat bertindak seperti
14 jaring dan memperangkap sel-sel leukosit untuk meningkatkan hitung leukosit. Setelah proses tersebut, sel-sel leukosit akan menempel pada endotel dan tidak dapat terlepas sekalipun tekanan perfusi sudah kembali normal.14 ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar (QS Al-Baqarah:
155),(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun (QS Al-Baqarah: 156)”
Menurut pandangan syariat bahwa setiap musibah atau cobaan yang menimpa diri kita, tidak lain adalah karena dosa yang telah kita lakukan.
Tetapi jika kita disiksa karena dosa-dosa yang kita lakukan, tentunya musibah demi musibah akan terjadi di atas kepala kita dan kita tidak akan dapat beristirahat atau merasa senang sesaatpun, atau dengan kata lain, jika Allah menjatuhkan sanksinya kepada kita atas segala kesalahan yang kita lakukan di majelis-majelis kita, pastinya tidak seorangpun akan merasa tenang di muka bumi. Akan tetapi, karena Allah Maha Penyayang, maka setiap dosa yang dilakukan oleh manusia, maka hukumannya ditunda, agar kita dapat bertaubat dari dosa-dosa kita. Karena Allah mampu memaafkan setiap dosa, meskipun dosa setiap orang sangat banyak jumlahnya.15
15 Perlu diketahui bahwa manusia dapat mengetahui bahwa segala cobaan atau musibah yang menimpa pada dirinya hanyalah dari hasil perbuatan manusia sendiri dan pengetahuan seperti itu hanya mereka dapati dari al-Qur’an. Jadi, pemikiran apapun yang bertentangan dengan pendapat al-Qur’an akan menyebabkan manusia saling menyalahkan dengan sesamanya, sehingga orang-orang yang suka berbuat salah akan selalu terkena musibah dari Allah.
16 F. Kerangka Teori
Cederakepala
Respon Fase Akut Respon Fase Kronik
Sel leukosit kurang elastis
Membutuhkan tekanan tinggi
Katekolamin Badan sel mikroglia
Kortikosteroid
Sel darah putih melekat pada endotel dan tidak dapat dipisahkan
Leukosit
17 BAB III
KERANGKA KONSEP
A. Kerangka Konsep
VARIABLE INDEPENDEN VARIABLE DEPENDEN
(Variable Bebas) (Variable Terikat)
B. Definisi operasional 1. Variable dependen
Peningkatan kadar leukosit
a. Defnisi : leukosit lebih besar dari kadar normal
b. Cara ukur : Mencatat jumlah pasien cedera otak yang mengalami peningkatan kadar leukosit dari data rekam medik.
c. Hasil : Leukositosis 2 Variable Independen
Cedera otak
a. Definisi : Cedera otak Sebagai gangguan fungsi otak normal, hal ini dapat disebabkan oleh pukulan di kepala, pukulan atau pukulan, atau cedera otak tembus.
b. Sumber informasi : Mencatat pasien yang mengalami cedera otak data rekam medik.
Cedera otak Peningkatan kadar Leukosit
18 c. Hasil diagnostik : Cedera otak
C. Hipotesis
1. Hipotesis nol (H0)
b. Tidak terdapat hubungan cedera otak ringan sampai berat dengan peningkatan Kadar Leukosit di RS Bhayangkara Makassar.
c. Tidak ada perbedaan kadar Kadar Leukosit pada penderita cedera otak ringan dan sedang
d. Tidak ada perbedaan kadar Kadar Leukosit pada penderita cedera otak ringan dan berat
e. Tidak ada perbedaan kadar KadarLeukosit pada penderita cedera otak sedang dan berat
2. Hipotesis cedera otak alternatif (Ha)
a. Terdapat hubungan cedera otak ringan sampai berat dengan peningkatan Kadar Leukosit di Rumah Sakit Bhayangkara Makassar
b. Terdapat perbedaan Kadar Leukosit sewaktu pada penderita cedera otak ringan dan sedang
c. Terdapat perbedaan Kadar Leukosi tpada penderita cedera otak ringan dan berat
d. Terdapat perbedaan KadarLeukositpada penderita cedera otak sedang dan berat
19 BAB IV
METODE PENELITIAN
A. Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan analisis deskriptif yang bertujuan untuk mengklarifikasi hubungan antara cedera kepala ringan hingga berat dan peningkatan jumlah sel darah putih. Desain penelitian menggunakan pendekatan retrospektif.
B.Waktu dan lokasi penelitian 1. Waktu penelitian
Penelitian dilaksanakan pada bulan Desember 2019 – Januari 2020 2. lokasi penelitian
Penelitian dilaksanakan di Rumah Sakit Bhayangkara Makassar
C Populasi dan sampel 1. Populasi
Populasi disini adalah pasien cedera otak dengan peningkatan sel darah putih sebanyak di RS BhayangKara Makassar.
2. Sampel
Sampel penelitian adalah pasien dengan diagnosis cedera otak yang memiliki rekam medik lengkap meliputi umur,jenis kelamin, dan jumlah leukosit.
20 D Kriteria
1. kriteria inklusi
a. semua pasien cedera otak yang telah terdata dalam rekam medik.
b. pasien cedera kepala yang telah diperiksa skor Glass Coma Scale (GCS) oleh dokter di IGD RS. Bhayangkara Makassar.
c. pasien cedera kepala yang telah diperiksa leukositnya.
2. kriteria eksklusi
pasien yang mempunyai penyakit terdahulu peningkatan kadar leukosit E. Cara pengambilan sampel
Sampel sebanyak 41
orang diperoleh dengan menggunakan teknik pengambilan sampel yang tidak mungkin, yaitu sampel yang diminati berdasarkan pertimbangan khusus studi berdasarkan karakteristik yang diketahui atau demografis. Orang dengan rumus :
n1 = n2 = (
𝑍∝ √2𝑃𝑄+𝑍 𝛽√𝑃1𝑄1+𝑃2𝑄2 𝑃1−𝑃2)²
Kesalahan tipe I = 10% hipotesis dua arah, Z𝛼 = 1,282 untuk 𝛼 = 0,1 Keasalahn tipe II = 20%, maka Z𝛽 = 0,842 untuk 𝛽 = 0,20
P2 = propris pajanan pada kelompok kasus sebesar 0,128 P1 – P2 = 0,2
21
(
1,282 √2 𝑥 0,228 𝑥 0,772+0,842√0.328 𝑥 0.672+0.128 𝑥 0.8720,2
)²
n1 = n2 = (
0,76+0,480,2)²
n1 = n2 = (
0,960,2)² =
(4,82)² = 23,3Jadi, sampel minimal yang diteliti yaitu 24 orang.
F Jenis data dan instrument penelitian 3. Jenis data
Penelitian ini menggunakan data sekunder dari rekam medis yang diteliti.
4. Instrument penelitian
Alat pengumpulan data dan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari lembar pengisi data dengan tabel-tabel khusus untuk mengumpulkan data yang dibutuhkan dari rekam medis.
G Manajemen penelitian 1. Pengumpulan data
Pengumpulan data dilakukan setelah memenuhi perizinan dari pihak kampus dan pihak yang akan dilakukan penelitian, kemudian nomor rekam medik pasien cedera kepala dalam periode yang telah ditentukan akan dikumpulkan. Setelah itu dilakukan pengamatan dan pencatatan langsung ke dalam tabel yang di sediakan.
22 2 Pengelolaan data analisa data
a. Pengelolaan data
H2asil pengelolaan data akan dikumpulkan dan diolah menggunakan program SPSS yang dilakukan dengan uji chi- square yaitu uji statistic yang digunakan untuk menguji signifikan dua variable dengan tingkat kemakmaknaan p<a(0,05).
b. Analisa data
1 Analisa univariat
Analisa univariat digunakan untuk mendeskripsikan karakteristik dari variable independen dan dependen. Keseluruhan data yang ada dalam kuesioner diolah dan disajikan dalam bentuk tabel.
2 Analisa bivariat
Analisa bivariat Digunakan untuk melihat kemungkinan hubungan antara variabel bebas dan variabel terikat. Uji statistik chi-square memberikan nilai p yang menggunakan tingkat signifikansi 0,005 dalam penelitian ini.
Penyelidikan antara kedua variabel dikatakan masuk akal bila nilainya p0.05. Artinya HO akan diterima dan Ha ditolak.
3. Penyajian data
Data yang diproses ditabulasi untuk menjelaskan prevalensi pasien trauma kepala dengan peningkatan sel darah putih.
4. Alur penelitian
23 5. Etika penelitian
1. Menyertakan Lampirkan surat lamaran ke RS. Bhayangkara Makassar sebagai surat pengantar yang ditujukan kepada RS. Bhayangkara Makassar.
1. Menjaga kerahasiaan data pasien yang terdapat pada rekam medik, sehingga diharapkan tidak ada pihak yang merasa dirugikan atas penelitian yang dilakukan.
Pengambilan data awal
Penetapan populasi
Penentuan sampel menggunakan consecutive sampling
Pengumpulan data menggunakan rekam medik
Pengelolaan data
Hasil dan pembahasan
Kesimpulan dan saran
24 BAB V
HASIL PENELITIAN
A. Gambaran Umum Populasi/Sampel
Sebuah penelitian dilakukan pada hubungan antara cedera otak dan peningkatan jumlah sel darah putih pada pasien di Rumah Sakit Bayangala.
Pengumpulan data untuk penelitian ini dilakukan di Rumah Sakit Bayankara dari bulan Desember 2019 hingga Januari 2020. Data diperoleh dari rekam medis pasien di RS Bhayangkara Makassar.,
Data yang terkumpul dikompilasi ke dalam tabel induk menggunakan program Microsoft Excel. Data dari tabel master ditransfer ke perangkat komputer menggunakan program SPSS, diproses, dan kemudian ditampilkan dalam format tabel distribusi frekuensi dan tabel silang.
B. Gambaran Umum Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilakukan di Rumah Sakit Bhayangkara Makassar Jl. Andi Mappaodang No.63, Jongaya, Kec. Tamalate, Kota Makassar, Sulawesi Selatan 90223
C. Analisis
Penelitian ini dilakukan di Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Makassar. Beberapa variabel yang diteliti dalam penelitian ini adalah pengaruh kebersihan kulit wajah terhadap kejadian akne vulgaris.
Pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan metode Observasional Analitik hingga didapatkan sampel minimal sebanyak 58 orang.
25 Adapun hasil penelitian disajikan dalam tabel yang disertai penjelasan sebagai berikut:
1. Analisis Univariat
1.2 Distribusi Karakteristik Responden Berdasarkan Karakteristik Demografi
Tabel 5.1. Distribusi frekuensi dan persentase berdasarkan karakteristik responden.
No. Variabel Subgrup Jumlah
n Persentase (%)
1. JenisKelamin Laki-laki Perempuan
37 21
64 36
Sumber : Data Primer 2020
Berdasarkandata jenis kelamin pasien diatas di simpulkan bahwa pasien yang berjenis kelamin laki-lak idi dapatkan sebanyak 37 (64%) responden, sedangkan pasien yang berjenis kelamin perempuan sebanyak 21 (36%) responden.
1.3 Distribusi Derajat Cedera Otak
Tabel 5.2. Distribusi derajat cedera otak
Perilaku Frekuensi (n) Persentase (%)
26 CederaOtak
Ringan
24 41.4
CederaOtakSedang 11 19
CederaOtakBerat 23 39.7
Total 58 100
Sumber : Data Primer 2020
Dari data di atas disimpulkan sebanyak 24 (41.4%) pasien mengalami cedera otak ringan, 11 (19%) Pasien dengan cedera otak sedang dan sebanyak 23 (39,7%) pasien dengan cedera otak berat.
1.4 Distribusi Nilai Kadar Leukosit
Tabel 5.3. Distribusi Nilai Kadar Leukosit
Perilaku Frekuensi (n) Persentase (%)
Normal 23 39,7
Meningkat 35 60,3
Total 58 100
Sumber : Data Primer 2020
Dari 58 data pasien ditemukan sebanyak23 (39,7%) pasien memiliki kadar leukosit normal dan sebagian dari data pasien mengalami peningkatan kadar leukosit sebanyak 35 (60,3%).
2. Analisis Bivariat
27 2.1 Tabel5.4. HubunganDerajat Cedera Kepala dengan Peningkatan Kadar Leukosit pada Pasien Rumah Sakit Bhayangkara Makassar.
Sumber : Data Primer 2020
Tabel 5.5 menunjukkan bahwa sebagian besar pasien mengalami cedera otak ringan dan hingga 16 (27,6%) jumlah sel darah putih normal.
Delapan pasien (13,8%) mengalami cedera otak ringan dan peningkatan kadar leukositosis.Sebagian juga pasien dengan cedera otak sedang dan kadar leukosit yang normal didapatkan sebanyak 7 orang (12,1%), untuk
28 pasien dengan cedera otak sedang dan kadar leukosit yang meningkat sebanyak 4 orang (6,9%). Selanjutnya sebanyak 5 orang pasien (8,6%) dengan cedera otak berat dan kadar leukosit normal, kemudian sebanyak 18 orang pasien (31,0%) mengalami cedera otak berat dengan kadar leukosit meningkat.
Hasil Analisa di dapatkan menggunakan uji korelasi yaitu :nilai p=0.004 yang menunjukkan bahwa adanya Hubungan Derajat Cedera Otak Dengan Peningkatan Kadar LeukositPadaPasien RS Bhayangkara Makassar.
2.2 Tabel 5.5Hubungan Perbedaan kadar Leukosit pada Cedera Otak Ringan dengan Sedang pada Pasien Rumah Sakit Bhayangkara Makassar.
CO Ringan CO Sedang
p*
Mean SD Mean SD
KDR Leukosit (mm/3)
14.63 336.50 23.50 258.50 0.015
Sumber :Data sekunder 2020
Hasil penelitian menunjukkan nilai rata-rata Kadar Leukosit pada cedera otak Sedang adalah 23.50 (SD 258.50) lebih tinggi dibandingkan dengan nilai rata-rata Kadar Leukosit cedera otak ringan yaitu 14.63 (SD
29 336.50). Ada perbedaan yang bermakna antara Kadar leukosit pada cedera otak ringan dan berat (p=0.015)
2.3 Tabel 5.6 Perbedaan kadar Leukosit pada Cedera Otak Ringan dengan Berat pada Pasien Rumah Sakit Bhayangkara Makassar.
CO Ringan CO Berat
p*
Mean SD Mean SD
KDR Leukosit (mg/dl)
13.96 335.00 34.48 793.00 0.00
menunjukkan bahwa rata-rata jumlah sel darah putih pada kerusakan otak berat adalah 34,48 (SD 793,00), lebih tinggi dari rata-rata jumlah sel darah putih pada kerusakan otak ringan 13,96 (SD 335.00).
Terdapat perbedaan yang bermakna antara kadar sel darah putih pada kerusakan otak ringan dan berat (p=0,00).
2.4 Tabel 5.7 Perbedaan kadar Leukosit pada Cedera Otak sedang dengan Berat pada Pasien Rumah Sakit Bhayangkara Makassar.
CO Sedang CO Berat
p*
Mean SD Mean SD