• Tidak ada hasil yang ditemukan

Minggu yang lalu melawatlah saya ke Bantam. Dapatlah saya kesempatan melihat runtuhan clan bekas sebuah Kerajaan Islam yang besar zaman purba. Dari jauh kelihatanlah menara mesjid Bantam, berdiri dengan megahnya, mengarah lampu suar memberi petunjuk bagi perahu-perahu clan bahtera yang berlayar di laut. Meskipun yang kita dapati sekarang adalah sa-tu desa sunyi, sasa-tu runsa-tuhan basa-tu-basa-tu, namun khayal kita dapatlah menjalar, menyeruak awan clan mega sejarah.

Kalau sekiranya pasir clan runtuhan batu-batu dapat ber-kata, tentu dia akan mengatakan bahwa di sinilah dahulu pah-lawan "Kemenangan Allah" (Fatahillah) mendarat, melalui ombak clan gelombang membawa tentara Islam dari Demak. Di sini pula dahulu puteranya Hasanuddin menjadi Sultan Ban-tam yang perBan-tama. Dan dia puntidak henti-hentinya mengem-bangkan agama Rasulullah, lee daerah Jawa Barat clan sampai juga menyeberang ke Sumatera, ke kampung clan daerah Selebar (Bengkulu), sampai kawin dengan puteri Sultan·

lndrapura.

Di pinggir Utara Mesjid Bantam, atau Mesjid syltan-sultan Bantam itu terdapatlah "Sabakingking"(bumi dultacita), tempat Hasanuddin bersemayam buat selama-lamanya. Di kiri kanan beliau bersemayamlah beberapa sultan yang lain, demi-kian juga beberapa orang besar-besar clan puteri-puteri.

Di hadapan perkuburan clan mesjid kelihatan runtuhan-runtuhan istana besar Bantam yang menurut riwayat dikerjakan oleh tukang-tukang orang Belanda clan Prancis menurut con-toh rumah-rumah besar orang Eropa. Istana itu didirikan atas perintah Maulana Yusuf, Sultan Bantam yang kedua, putera Hasanuddin.

Penunjuk jalan saya, Sdr. Taber Hanaf wedana Pontang berkata bahwa sebelum revolusi Indonesia batu-batu bekas is-tana itu tidaklah kelihatan. Karena sejak kesulis-tanan Bantam bertambah runtuh clan hilang pamornya, terutama sejak kekua-saan Gub.ernur Jenderal Daendels telah dibiarkan hegitu saja.

sehingga rumputnya menjadi panjang. Akhirnya menjadi be-lukar dan akhirnya menjadi rimba raya. Kayu-kayu yang besar tumbuh, dan uratnya bersilang-siur sehingga batu-batu runtuh-an itu hilruntuh-ang tak kelihatruntuh-an lagi. Setelah revolusi besar Indone-sia, barulah pemuda-pemuda membersih.kan hutan belukar itu.

Jelaslah sekarang gambaran dari kebesaran yang lama.

Kami pun melihat "Suhan Kanai", yaitu bekas bandar galian air yang digali atas perintah Maulana Yusuf juga. Kare-na pada zaman pemerintahan beliaulah rakyat diajar bersa-wah, sehingga Bantam kaya ·dengan padi. Dan kesuburan eko-nomi dengan sendirinya menimbulkan kesuburan agama. Ha-nya antara 2 a 3 meter saja dari kanal buatan s11 ltan Belanda membuat galian air yang lain, supaya nama Sultan hilang dari ingatan. Tetapi Kan al buatan suit an yang sudah berusia 350 tahun itu masih ada, dipenuhi oleh kiambang dan seroja, se-hingga jelas dapat dilihat bekas pekerjaan besar itu, sekurang-kurangnya: untukjadi kenang-kenangan.

Sultan Yusuf, atau Maulam1. Yusuf banyak benar mening-galkan jejak jasa di Bantam. Sultan Yusuflah yang menakluk-kan Kerajaan Hindu Pajajaran sehingga tak bangkit lagi. Kami-pun ziarah ke makam beliau, tidak jauh ,Ji luar kota Bantam.

Juru kunci menerangkan bahwa yangdisampingbeliau adalah makam puteranya Maulana Muhammad yang mangkat dalam perjuangan di Sungai Musi Palembang. Dan di samping itu lagi kuburan Pangeran Jepara. Termenunglah saya sejenak, se-sudah di masa hidup demikian hebat keinginan Pangeran Jepa-ra hendak merebut kekuasaan, namun setelah mati, mau atau tidak mau, mereka diperdekatkan orang juga.

Kami pun pergi ke Tirtayasa, sebuah desa yang lebih mu-ram lagi di luar Bantam.

Di sana terdapat makam Sultan Ageng Tirtayasa, terkenal nama beliau Abul FathiAbdul Fatah, pahlawan besar Bantam, pahlawan besar Islam, pahlawan besar tanah air di awal abad ke 18 yang terpaksa berperang dengan puteranya sendiri, Sultan Haji yang mendapat bantuan dari Kompeni.

Tirtayasa dipilih oleh Sultan Abul Fathi Abdul Fatah menjadi ibukota Bantam Islam yang merdeka setelah oe1iau Ii-hat di Bantam sendiri telah masuk pengaruh kehidupan Eropa.

98

Dan putera harapannya Sultan Haji yang telah diberikannya hak memegang kekuasaan beberapa lamanya, telah diutusnya berlayar ke Mekkah, tidaklah membawa perubahan kemajuan agama, tetapi telah kena ketularan semangat mewah ajaran Kompeni pula.

Akhirnya pecahlah perang di antara ayah clan anak. Ayah kalah clan mati dalam buangan Kompeni. Dan anak terpaksa menyandarkan kekuasaan kepada Kompeni.

Saya bertanya kepada penunjuk jalan, yang manakah ku-buran beliau Sultan Ageng Tirtayasa, karena terdapat bebera-pa kubur. Penunjuk jalan tidak dabebera-pat menunjukkan. Maka ter-ingatlah saya kisah Diogenes di kuburan Philipus raja Macedo-nia. Waktu itu raja Iskandar Zulkarnaen datang clan bertanya:

"Mengapa orang tua di sini?" Diagones menjawab: "Di sini, berkubur ayah Tuanku dan budak-budaknya, saya lihat kubur telah runtuh dan tulang berserak. Namun saya tidak dapat me-nyisihkan mana yang tulang ayah Tuanku dan mana tulang bu-dak-budaknya. Karena sama saja. 11

Rupanya dibawalah tulang-tulang beliau dari Jakarta ke Bantam, setelah lama beliau mangkat.

Sultan '>Ultan Bantam! Telah hampir seluruh negeri yang bersuh an baik lama a tau yang masih ada, belum say a pernah bertemu yang sedemikian besar pengaruh sultan-sultan yang telah mangkat sejak 300 tahun, bersemayam da-lam hati clan kenangan rakyatnya sebagai di Bantam.

Sampai sekarang masih ada orang yang datang ziarah se-tia, bahkan minta diakui jadi rakyat Bantam.

Kenang-kenangan dan kesetiaan adalah baik. Tetapi kita harus memandang ke muka, meneruskan langkah. Di Cirebon pun ada belahan kenangan Bantam, yang sejarahnya berasal dari satu nenek "kesepuhan ", "kanoman ", dan "kecerbonan ", namun kenangan lain dan kenyataan lain.

Zaman itu telah lama berlalu, dia gilang gemilang buat masa lampau. Kita sekarang tengah membuat lanjutan sejarah, yang anak cucu kita 300 tahun lagi, harus mengingatnya seba-gai sejarah yang gemilang pula.

Kita tidak akan pulang ke zaman lampau, kita menuju zaman depan.

IX. PEMBERONTAKAN DI CILEGON