Kalau kita menelusuri sejarah perlawanan bangsa Indonesia terhadap kolonialisme dan imprialisme, kita akan segera menjumpai sejumlah wanita yang ikut aktif di dalamnya. Salah satu perlawanan yang melibatkan banyak kaum wanita adalah perlawanan terhadap kolonialis Belanda di Aceh (1873-1942). Dalam perang yang berlangsung lebih dari enam puluh tahun itu pengaruh dan peranan wanita telah mengagumkan dan mengherankan pihak Belanda sendiri. Tidaklah berlebihan apabila H.C. Zentrgaff, seorang penulis dan wartawan Belanda yang terkenal dan banyak menulis tentang sejarah perang melawan Belanda di Aceh, mengatakan bahwa para wanitalah yang merupakan “de leidster van het verzet” (pemimpin perlawanan) terhadap Belanda dalam perang yang terkenal itu. Lebih lanjut, dalam karyanya yang berjudul Atjeh itu, Zentgraff 11 Tulisan ini dipernah dimuat dalam buku Wanita Utama
juga menyebutkan bahwa sejarah Aceh mengenal “Grandes Dames” (wanita-wanita besar) yang memegang peranan penting dalam politik maupun dalam peperangan, baik dalam posisinya sebagai sultan maupun sebagai istri orang-orang yang terkemuka dan berpengaruh. Di Aceh terdapat pemimpin-pemimpin wanita yang menyamai Semiramis (permaisuri Raja
Babilon) dan ada pula yang menyamai Katherina II, kaisar wanita Rusia. Wanita Aceh tidak pernah ragu mempertaruhkan jiwa raganya dalam mempertahankan apa yang dipandangnya sebagai soal kebangsaan dan keagamaan. Keberanian dan kesatriaan wanita Aceh melebihi segala wanita yang lain, lebih-lebih dalam
mempertahankan cita-cita kebangsaan dan
maupun secara terang-terangan menjadi perlawanan tersebut. Ia rela menerima hidup dalam kancah peperangan dan melahirkan putranya di tempat itu. Ia berperang bersama-sama dengan suaminya. Kadang- kadangm, disamping, dihadapan atai di tangannya yang kecil dan halus itu, kelewang dan rencong dapay menjadi senjata yang berbahaya (Zentgraff, 1939: 78).
Salah seorang dari sekian jumlah wanita yang aktif dan berperan dalam perangan dengan Belanda tersebut adalah Cut Nyak Dhien. Seperti diketahui, Cut Nyak Dhien, peranannya dalam perjuangan rakyat Aceh khususnya dan rakyat Indonesia pada umumnya telah banyak diselediki dan dicatat oleh para penulis sejarah, baik bangsa asing maupun oleh bangsa Indonesia sendiri. Bahkan ada sudah ada yang membuat film tentangnya. Dari karya-karya tersebut kita dapat mengetahui kehidupan Cut Nyak Dhien, kewibawaan dan kepandaian, serta keberaniannya dalam perjuangan melawan Belanda. Karya-karya itu menunjukkan pula kepada kita bahwa wanita itu dapat melaksanakan peranan-peranan yang biasanya hanya diperuntukkan atau dicadangkan untuk kaum pria (Supadio dan Ihromi, 1983: XX).
Zentgraaff menyebut Cut Nyak Dhien sebagai seorang wanita besar, wanita yang terkenal dalam peperangan tahun 1896 dan tahun-tahun berikutnya. Setelah Teuku Umar (suaminya yang kedua) meninggal, ia memilih melanjutkan perjuangan dengan hidup di
dalam rimba daripada menyerah pada Belanda. Ketika itu, ia sudah tua, matanya sudah rabun. Meskipun demikian, semangat perjuangannya tidak terpatahkan. Ia membiarkan dirinya menderita dan lapar di hutan sambil terus dibayangi oleh pasukan Marsose Belanda yang terus-menerus mengejar dirinya dan rombongannya. Ada kalanya berminggu-minggu tidak menjumpai sesuap nasi sehingga selama itu ia terpaksa memakan apa saja yang halal yang dapat diketemukan di hutan. Kehidupan yang demikian ditempuhnya selama waktu lebih kurang enam tahun. Padahal, sebelumnya ia tergolong perempuan yang hidup manja, terutama pada masa jayanya sebagai anak uleebalang yang duduk setaraf dengan wanita-wanita bangsawan lainnya (Zentgraaff, 1939: 64).
Dalam karyanya yang berjudul Tjoet Nya’ Dhien, M.H. Szekely Lulofs, seorang pengarang Belanda, mengatakan bahwa jiwa kepahlawanan yang menggerakkan semangat juang dalam dada Teuku Umar, adalah dorongan halus dari istrinya, Cut Nyak Dhien di atas. Sifat kepahlawanan itu diwarisi wanita tersebut dari ayahnya yang merupakan salah seorang pejuang dalam menentang kolonialis Belanda. Sifat yang demikian tampak begitu menonjol pada diri Cut Nyak Dhien pada saat ia mengambil alih pimpinan perang segera setelah Teuku Umar gugur. Cut Nyak Dhien lahir pada tahun 1848. Ayahnya bernama Teuku Nanta Setia, uleebalang VI mukim, bagian dari wilayah Sagi XXV Mukim. Tempat tinggalnya di Kampung Lampadang
Peukan Bada, Aceh Besar. Ayah Cut Nyak Dhien berasal dari keturunan seorang perantau asal Sumatra Barat (Minangkabau), bernama Machoedem Sati. Ia diperkirakan datang ke Aceh pada abad XVIII ketika Kerajaan Aceh diperintah oleh Sultan Jamalul Alam Badrul Munir (1711-1733).
Ibu Cut Nyak Dhien keturunan bangsawan, putri seorang uleebalang terkuemuka dari Kemukiman Lampagar, juga bagian wilayah VI Mukim (Szekely Lulofs, 1950: 16). Sebagaimana lazimnya putri-putri bangsawan dan putri-putri Aceh lainnya, sudah sejak kecil Cut Nyak Dhien memperoleh pendidikan agama. Pendidikan itu diberikan baik oleh orang tuanya maupun oleh guru-guru agama pada waktu itu. Pengetahuan tentang rumah tangga seperti memasak, cara menghadapi atau melayani suami, serta hal-hal yang menyangkut tata kehidupan sehari-hari, didapatkan dari didikan ibunya dan kerabat orang tua perempuan tersebut. Sebagai putri uleebalang, dengan sendirinya Cut Nyak Dhien terbawah dan terpengaruh oleh pola dan cara hidup bangsawan. Karena pengaruh didikan agama yang kuat, ditambah dengan suasana lingkungannya, Cut Nyak Dhien memiliki sifat-sifat yang tabah, lembut, dan tawakal.
Setelah tumbuh menjadi gadis remaja, Cut Nyak Dhien dijodohkan oleh orang tuanya dengan anak saudara laki-laki dari pihak ibunya yang bernama Teuku Ibrahim, putra Teuku Po Amat, uleebalang Lam Nga XIII
Mukim Tungkop, Sagi XXVI Mukim, Aceh Besar. Dalam rangka memeriahkan perkawinan putrinya, ayah Cut Nyak Dhien mengundang Do Karim (Abdul Karim) seorang penyair terkenal pada waktu itu untuk membawakan syair-syair yang bernafaskan agama dan yang mengagung-agungkan perbuatan-perbuatan heroik sehingga dapat menggugah semangat bagi yang mendengarnya, khususnya dalam rangka melawan kafir (Snouck Hurgronje, 1985: 107). Setelah dianggap mampu mengurus rumah tangga sendiri, kedua pasangan tersebut segera pindah dari rumah orang tuanya ke rumah lain yang telah disediakan untuk mereka. Menurut Adat atau kebiasaan dalam masyarakat Aceh, hal yang demikian disebut peumeukleh.
Selanjutnya kehidupan rumah tangga Cut Nyak Dhien berjalan baik dan harmonis, masa bahagia mereka lalui dan nikmati hingga kelahiran anak pertama mereka, seorang anak laki-laki. Pada saat Belanda menyerang Kerajaan Aceh tahun 1873, suami Cut Nyak Dhien, yang juga dipanggil dengan sebutan Teuku Nyak Him dan bergelar Teuku Di Bitai, telah ikut berperang menghadapi pihak Belanda bersama-sama dengan pejuang Aceh yang lain. Meskipun baru saja berumah tangga, Cut Nyak Dhien mengikhlaskan keterlibatan suaminya dalam peperangan di atas. Lebih jauh lagi, ia bahkan memberikan dorongan dan semangat juang terhadap suaminya itu. Keterlibatan lebih jauh dari Cut Nyak Dhien pada masa perang dengan Belanda tersebut dapat dilihat dari peristiwa terbakarnya Mesjid
Baiturrahman yang sekaligus merupakan benteng pertahanan pasukan Aceh. Szekely Lulofs melukiskannya sebagai berikut,
“Cut Nyak Dhien meninggalkan rumah, lalu turun tanah. Dengan rambut tergerai-gerai, kedua tinjunya mengepal dan mengacung-acung, sampailah ia ke pintu halamannya. Kepada sekalian orang kampung yang datang berkerumun melihatkan apa yang menggolak- golak itu dari jauh, berseru-serulah ia dengan gemas dan mata terbelalak, katanya: Hai sekalian mukim yang bernama orang Aceh ! Lihatlah ! Saksikan sendiri dengan sendiri dengan matamu mesjid kita dibakarnya ! Mereka menentang Allah Subhanahuwata’ala, tempatmu beribadah dibinasakannya ! Nama Allah dicemarkannya ! Camkanlah itu ! Janganlah kita melupakan- melupakan budi si kafir yang serupa itu ! Masih adakah orang Aceh yang suka mengampuni dosa di kafir itu ? Masih adakah orang Aceh yang suka menjadi budak Belanda ?” (Szekely Lulofs, 1951: 59).
Selama berkecamuknya perang, suami Cut Nyak Dhien turun aktif di garis depan bersama-sama pejuang Aceh lainnya. Oleh karena itu, Teuku Ibrahim ini jarang pulang ke rumah berkumpul bersama dengan Cut Nyak Dhien dan anaknya. Dan, bila suaminya pulang ke Lampadang, wanita tersebut selalu mengadakan hal-hal
yang berhubungan dengan perjuangan rakyat dalam menentang penjajahan Belanda. Untuk melepaskan rindunya, ketika suaminya berada di medan perang yang jauh, ia mendendangkan lagu sambil membelai anaknya dengan syair-syair yang terjemahan dari bahasa Acehnya sebagai berikut:
“Hai buyung, hai anakku sayang, laki-laki engkau, ayahmu, datukmu laki-laki pula, perlihatkanlah kejantananmu, orang kafir handak mengganti agama kita dengan agamanya, agama kafir … pertahankanlah hak kita orang Aceh, pertahakanlah agama kita agama Islam. Wahi anakku, turutlah jejak ayahmu, Teuku Ibrahim Lamnga, sekarang ia tidak di rumah, tetapi janganlah engkau menyangka bahwa ayahmu sedang mengumpulkan kawan untuk menyambut kedatangan kafir, tetapi akan mengusirnya ke luar tanah Aceh”. (H.M. Zainuddin, 1966: 62-63).
Dari tahun ke tahun perang antara pihak Aceh dengan Belanda yang telah terjadi sejak 1873 itu semakin menjadi marak. Dan, karena Belanda lebih unggul dalam hal persenjataan serta adanya pengkhianatan yang dilakukan oleh orang-orang Aceh sendiri, pasukan Aceh menjadi semakin terdesak, khususnya yang terdapat di wilayah Aceh Besar, berjatuhan ke tangan Belanda. Kuta (benteng) Lampadang dan Peukan Bada yang berada di daerah Cut Nyak Dhien juga menjadi sasaran serangan Belanda dan berhasil dikuasainya.
Cut Nyak Dhien dan keluarganya terpaksa mengungsi ke tempat lain, ke daerah Leupueng, yang merupakan bagian wilayah Sagi XXV Mukim. Pada tanggal 29 Juni 1878, dalam suatu pertemputan di Lembah Beuradeun Gle Taron, Kemukiman Montasik, Sagi XXII Mukim, Teuku Ibrahim, suami Cut Nyak Dhien dan beberapa pengikutnya gugur. Menurut Szekely Lulofs, penyebab peristiwa tersebut adalah pengkhianatan yang dilakukan oleh seseorang yang bernama Habib Abdurrahman (Szekeley Lulofs, 1951: 112-113; Hazil, 1952: 41-42). Karena kematian suaminya itu, Cut Nyak Dhien menjadi janda muda. Dan, sejak itu rasa benci dan dendamnya kepada Belanda menjadi semakin dalam merasuk kalbunya. Menurut pendapat orang-orang yang dekat dengannya, antara sadar dan tidak sadar ia pernah berucap atau berjanji akan bersedia kawin dengan laki-laki yang dapat membantunya untuk menuntut bela terhadap kematian atas suaminya (Hazil, 1952: 43).
Kemunculan seorang figur seperti Teuku Umar menjadi amat bermakna dalam kaitan dengan janji tersebut. Teuku Umar dam Cut Nyak Dhien tidak pernah saling bertemu sebelumnya meskipun sudah saling kenal nama masing-masing. Terutama karena keperkasaannya dan melakukan perlawanan terhadap Belanda dan karena, konon, keberhasilannya menewaskan serdadu Belanda yang telah menewaskan serdadu Belanda yang telah menewaskan Teuku Ibrahim Lamnga, Teuku Umar cepat menarik hati Cut Nyak Dhien. Kisah pertemuan
antara Teuku Umar dengan Cut Nyak Dhien itu dilukiskan oleh Hazil (1952: 31) sebagai berikut,
“Cut Nyak Dhien memandang kepada orang yang berbadan tinggi kurus yang berdiri di depannya itu, seolah-olah mengharap daripadanya pertolongan guna menjalankan maksudnya dengan sempurna; hati Umar terasuk melihat muka wanita yang lusuh oleh geram dan berang itu. Saudara sepupunya ini berdarah bangsawan yang panas, sikapnya seolah-olah harimau betina yang hendak menyerang si pengacau keluarganya, tapi pandangan mata itu mengisyaratkan pula, bahwa ia seorang perempuan. Kata kesetiannya membisikkkan pada untuk membantu wanita yang menjanda ini”. Pada tahun 1878 itu juga beberapa bulan setelah kematian suaminya, Cut Nyak Dhien menikah dengan Teuku Umar di Montasik. Pernikahan mereka ramai dibicarakan orang karena keduanya terkenal dalam masyarakat Aceh Besar dan pasangan baru ini dianggap cocok untuk memimpin perang, kelanjutan perlawanan terhadap Belanda (Hazil, 1952: 51-52). Szekely Lulofs (1951: 118-119) memberikan pendapat tentang dasar perkawinan itu sebagai beriku,
“… jika hati Din sesudah itu dapat pula melekat kepada Teuku Umar, maka yang menjadi dasar dan sebabnya hanyalah satu: Tertariknya hati oleh seorang laki-laki, yang di dalam Sabilillah,
melawan kafir, hendak dijadikan kawan seikhwan, rekan seperjuangan. Rekan itulah yang akan mengangkat senjata untuknya, penumpas kafir yang sedang menodai tanah airnya. Kawan itulah yang akan menyertainya dalam ia berhasrat hendak mengusir orang kafir dari tanah Aceh ! Bukanlah suami baru pengantin yang hilang hendak dicarinya, penghibur hati yang gundah, melainkan ia hendak mencari rekan berjuang, karena ia kehilang kawan guna menyambung tangan yang puntung di dalam ia berhasrat hendak menerkam musuhnya”.
Pada waktu Cut Nyak Dhien kawin dengan Teuku Umar, umurnya sekitar 30 tahun, sedikit lebih tua daripada suami keduanya itu. Namun, parasnya masih menunjukkan kejelitaan yang menarik hati laki-laki. Bagi Teuku Umar perkawinan itu sendiri mempunyai arti yang khusus. Selain pengaruhnya di wilayah Aceh Besar, khususnya di wilayah Sagi XXV Mukim, menjadi meningkat, derajatnya pun turut naik. Bagaimana pun, Cut Nyak Dhien adalah wanita berpengaruh di wilayahnya.
Karena itu, dengan menerimanya sebagai istrinya, Teuku Umar mendapatkan pula pengaruh dari sang istri di wilayahnya, Cut Nyak Dhien bukanlah istri pertama dan satu-satunya dari Teuku Umar. Sebelum dan di samping Cut Nyak Dhien terdapat dua istri lain dari lelaki tersebut, yaitu Cut Nyak Sapiah, putri uleebalang
Glumpang, dan Cut Nyak Meuligoe, putri panglima Sagi XXV Mukim. Meskipun demikian, dibandingkan dengan kedua istri terdahulu tersebut, kedudukan Cut Nyak Dhien dimata suaminya yang baru tersebut lebih menonjol. Wanita itulah yang paling dapat mempengaruhi, mengekang, dan membatasi tindakan- tindakan buruk yang biasa dilakukan oleh Teuku Umar, misalnya kebiasaan menghisap candu. Dari perkawinan dan hubungan yang demikianlah keduanya kemudian mendapatkan seorang anak perempuan yang diberi nama Cut Gambang, anak perempuan yang kemudian dinikahkan dengan Teungku Mayet alias Teungku Di Buket, anak laki-laki Teungku Chik Di Tiro M. Saman (ulama dan pejuang Aceh yang terkenal, yang juga merupakan salah seorang Pahlawan Kemerdekaan Nasional Indonesia).
Bersama dengan Cut Nyak Dhien, Teuku Umar mulai lebih memarakkan lagi gelanggang peperangan melawan Belanda di kawasan Aceh Besar, khususnya di wilayah Sagi XXV Mukim. Berkat keberanian dan kecekatannya, sebagian besar wilayah yang dahulunya berada di bawah Teuku Nanta Setia (ayah Cut Nyak Dhien) dan sudah dikuasai oleh Belanda berhasil direbut kembali. Tentu saja rakyat menyambut kemenangan itu dan Cut Nyak Dhien yang semula sudah mengungsi ke Montasik dapat kembali ke kediaman orang tuanya di Lampadang. Sayangnya, peristiwa itu tidak berlangsung lama. Belanda berhasil menguasai kembali wilayah VI Mukim. Oleh karena itu, Teuku Umar, Cut Nyak Dhien
dan pengikut-pengikutnya terpaksa harus meninggalkan kembali Lampadang. Selanjutnya, mereka mengungsi lagi, menuju tempat tinggal Teuku Umar di Lampisang yang pada saat itu masih bebas dari kekuasaan Belanda.
Perlawanan Teuku Umar terhadap Belanda tidaklah berlangsung terus-menerus hingga akhir hayatnya. Pada tanggal 30 September 1893, bersama 15 pengikutnya, ia menyerahkan diri pada Belanda dan mengangkat sumpah setia kepada pemerintah kolonial yang diwakili oleh Jenderal Deijckerhoff selaku Gubernur Militer Belanda di Aceh (A.J. Kruijt, 1896: 69). Sumpah setia Teuku Umar itu dilaksanakan dihadapan Teungku Kadli pada makam almarhum Teungku Anjong di Kampung Pelanggahan, dekat Kutaraja (Banda Aceh- sekarang). Tempat ini sengaja dipilih oleh pemerintah Belanda karena termasuk salah satu makam keramat dan suci. Dengan memilih tempat itu Belanda berharap Teuku Umar dapat mentaati dengan teguh sumpah yang diucapkannya.
Teuku Umar tampaknya mentaati sumpahnya seperti yang terbukti dari berbagai bantuannya terhadap Belanda dalam melawan pasukan Aceh. Itulah sebabnya, ia diberi gelar oleh pemerintah Belanda “Panglima Perang Besar” dan diberi pula nama kebesaran, “Teuku Johan Pahlawan”. Selain itu, Teuku Umar juga diberi berbagai bantuan materi dan fasilitas lainnya. Kepadanya diberikan peralatan militer yang meliputi 380 senapan kokang modern, 800 senapan jenis kuno, 25.000
peluru, 500 kilo mesiu, 120.000 sumbu mesiu, dan 5.000 kilo timah untuk mengisi sendiri persediaan mesiu. Bagi pribadinya diberikan pula sejumlah candu dan uang 18.000 ringgit Spanyol (Van’t Veer, 1985: 164). Kepada keluarganya di Lampisang dibangunkan sebuah rumah yang besar dan indah menurut ukuran masa itu. Keadaan dan kemewahan rumah ini dilukiskan oleh Szekely Lulofs (1951: 172) sebagai berikut,
“… rumah itu berpotongan Aceh, didirikan dalam lingkungan pagar besi, yang dibangun di atas suatu fundamen beton yang kukuh dan dibuat dari kayu yang mahal serta dihiasi dengan ukiran- ukiran yang bagus, baik pada bahagian luar maupun bahagian dalamnya. Di dalam rumah Aceh yang besar itu, terdapat pelbagai rupa perkakas rumah dan hiasan-hiasan orang Barat yang mahal harganya”.
Sebenarmya Teuku Umar adalah seorang manusia yang sukar direka dalam pikirannya, baik oleh kawan maupun lawannya. Banyak tindakan dan perbuatannya yang kadang-kadang kontriversial. Dalam beberapa hal pikiran dan perilakunya tidak sejalan benar dengan istrinya, Cut Nyak Dhien, yang juga merupakan penasihat dan pendorong semangat lelaki tersebut. Beberapa penulis Belanda mengatakan bahwa peristiwa menyerahnya Teuku Umar pada Belanda sesungguhnya merupakan “sandiwara besar” yang dibuatnya bersama Cut Nyak Dhien (Damste, 1916: 454-455). Maka, setelah
mendapatkan berbagai fasilitas yang dikemukakan di atas, pada tanggal 29 Maret 1896 Teuku Umar bersama- sama dengan para pengikutnya membelot kembali ke pihak Aceh untuk melakukan perlawanan terhadap Belanda. Pihak Belanda geger. Letnan Jenderal Vetter, Komisaris pemerintah Belanda di Aceh, mengeluarkan sebuah pernyataan yang bunyinya sebagai berikut,
“… menyatakan perang terhadap Teuku Umar, bukan kepada Aceh; serta mencabut kepangkatan yang telah diberikan kepada Teuku Umar sebagai Panglima Perang Besar; serta pencabutan gelar kebesaran “Johan Pahlawan”. Memberhentikan Teuku Umar sebagai uleebalang Leupueng dan menuntut pengembalian senjata-senjata Belanda dan peluru-peluru yang telah diberikannya”. Selain itu akibat peristiwa tersebut di atas, pada tanggal 28 Mei 1896 rumah tempat kediaman istri Teuku Umar, Cut Nyak Dhien, yang telah dibangun Belanda di Lampisang, dibakar dan diledakkan oleh Belanda. Gubernur Deijckerhoff, dipecat dari jabatannya dan kemudian diganti dengan Jenderal Van Heutsz.
Akibat lebih lanjut dari kemarahan Belanda tersebut adalah tertutupnya peluang bagi Teuku Umar dan Cut Nyak Dhien untuk tetap tinggal di wilayahnya. Setelah memberitahu para pimpinan pejuang Aceh di kawasan Aceh Besar dan Pidie, Teuku Umar dan Cut Nyak Dhien, serta para pengikutnya bergerak mengungsi menuju daerah Pantai Barat (daerah Aceh
Barat) untuk meneruskan perlawanan terhadap Belanda dan menghindarkan diri mereka dari kejaran pemerintah kolonial. Selama Teuku Umar dan pengikut-pengikutnya bergerilya dari satu tempat ke tempat lainnya di belantara Aceh Barat, terus bergerak melalui daerah Daya ke selatan hingga ke daerah-daerah Sungai Woyla dan Sungai Meulaboh, Cut Nyak Dhien dengan setia menyertai dan mendampinginya. “berbulan-bulan lamanya Teuku Umar dan Cut Nyak Dhien serta rombongannya dapat menghindar, sambil melindungi diri mereka dari ancaman barisan Marsose yang menurutkannya di belakang tumit. Sepanjang jalan lari itu, Cut Nyak Dhien tidak mencerai-ceraikannya barang setapak. Suaminya diturutkannya, berhujan, bersama, dimuka sasaran peluru Marsose, sementara kedua istri Teuku Umar yang lain, yaitu Cut Nyak Sapiah dan Cut Nyak Meuligoe tinggal di rumah keluarganya masing- masing”. (Szekely Lulofs, 1951: 196).
Bersama-sama dengan rekan-rekan seperjuangan- nya yang setia, Teuku Umar dan Cut Nyak Dhien meneruskan perjalanannya dari rimba ke rimba dan dari jurang ke jurang. Kadangkala, mereka terpaksa meninggalkan Cut Nyak Dhien pada suatu tempat yang aman di dalam hutan untuk mencoba menyerang Belanda. Demikianlah yang terjadi pada tanggal 10 menjelang 11 Februari 1899, Teuku Umar dan pasukannya mencoba turun ke Meulaboh untuk menyerang sebuah pusat pertahanan Belanda yang ada di sana. Namun keesokan harinya, pada tanggal 11
Februari, dalam sebuah pertempuran di Suak Ujung Kalak Meulaboh, Teuku Umar tewas tertembak oleh milter Belanda. Namun, sesuai dengan pesan lelaki itu sendiri menjelang ajalnya, mayat Teuku Umar berhasil diselamatkan dari Belanda. Mayat pahlawan itu kemudian dikuburkan di suatu tempat yang tidak diketahui oleh pemerintah kolonial, yaitu di Mon Tulang Pucok Meuhon Kendik Meulaboh.
Berita gugurnya Teuku Umar diterima oleh Cut Nyak Dhien dengan hati yang tabah dan tawakal. Dengan meninggal suaminya itu, perempuan itu kembali menjadi janda. Selanjutnya, demi kelangsungan perjuangan melawan Belanda, pimpinan perlawanan diambil alih oleh Cut Nyak Dhien sendiri. Bersama-sama dengan bagian pasukan Teuku Umar, termasuk Pang Laot Ali, yang kini menjadi tangan kanannya, Cut Nyak Dhien melanjutkan perlawanan di rimba-rimba daerah pedalaman pantai Barat (Damste, 1916: 468; Van’t Veer, 1985: 201). Demikian kata Cut Nyak Dhien mengenai perlawanannya tersebut,
“… selama aku masih hidup, masih berdaya, Perang Suci melawan kafir ini hendak kuteruskan, Demi Allah ! Polem hidup, bait hidup, Imam Lueng Bata hidup, menantuku Teungku Mayet di Tiro hidup, Sultan Daud hidup dan kita hidup ! Belum ada yang kalah, Umar syahid, marilah kita meneruskan pekerjaannya, guna agama, guna