• Tidak ada hasil yang ditemukan

3.4 Kebangkitan dan Transformasi dalam Kristus

3.5.3 Sabat Ilahi

Kerajaan Allah bukanlah kerajaan di surga saja melainkan „di atas bumi seperti di surga‟. Usaha menyelamatkan lingkungan hidup agar ia semakin dirasakan sebagai rumah bersama bagi seluruh umat manusia merupakan salah satu usaha untuk menghadirkan Kerajaan Allah di dunia ini. Belajar dari kebijaksanaan bangsa Yahudi sebagaimana dikisahkan dalam Kitab Kejadian, Moltmann melihat pentingnya umat manusia merayakan Sabat dengan pemaknaan yang baru. Kisah penciptaan bukanlah laporan historis. Tetapi dari sana umat dapat belajar sesuatu. Kisah penciptaan mau menegaskan bahwa pada hari sabat tidak hanya seluruh ciptaan yang disucikan.

Waktu dan keabadian juga ikut disucikan oleh Allah. Seluruh keberadaan makhluk ciptaan disucikan oleh Allah termasuk ruang maupun waktu. Melalui hari sabat dimana Allah beristirahat itu, Pencipta mencapai tujuanNya dan manusia, yang merayakan hari sabat itu, memandang alam sebagai ciptaan Allah dan memungkinkan dunia untuk menjadi ciptaan Tuhan116. Hari sabat, yang menempati ruang yang istimewa dalam adat Yahudi, menggambarkan bahwa waktu itu suci dan penting dalam pandangan Allah.

Moltmann mengusulkan agar dalam kerangka gerakan ekologis diadakan sebuah perayaan sabat, dalam konteks hubungan manusia dengan alam semesta ini.

Industri telah membangun kerangka pikir bahwa semua diarahkan menuju hasil yang melimpah. Dalam dunia pertanian tidak ada lagi pola tanam yang berputar karena telah digantikan oleh pertanian monokultur. Bumi ini telah tua dan lelah menanggung

116 Through God’s rest on the Sabath, the creator comes to his goal and humans, who celebrate the Sabath, perceive nature as God’s creation and allow the world to be God’s creation. Jurgen Moltmann, Reconciling with Nature, 312.

beban demi manusia. Diperlukan sebuah masa rehat selama satu hari agar bumi ini bernafas dan memberikan kesegaran bagi dirinya dan bagi semua makhluk yang tinggal di atasnya. Praktik semacam ini telah banyak dilakukan di beberapa kota, misalnya satu hari tanpa kendaraan bermotor (car free day). Gerakan sabat semacam inilah yang menurut Jürgen Molmann konkrit dan perlu bagi lingkungan hidup agar ia semakin menunjang kehidupan di muka bumi. Hukum sabat adalah, menurut Alkitab, strategi ekologis Allah untuk melestarikan kehidupan yang telah Allah ciptakan 117.

3.6 Kesimpulan

Alam semesta ini merupakan tanda cinta Allah yang memberikan diri. Alam semesta ini menjadi tanda bahwa Allah mencipta dari awal hingga sekarang. Ketika alam semesta ini ada dalam ancaman dosa, Allah tidak tinggal diam. Ia mencintai semesta ini tanpa pernah berhenti. Ia hadir menjadi Sang Sabda yang menjadi daging.

Itulah inkarnasi. Rahner menyebut peristiwa penciptaan dan inkarnasi sebagai dua momen dan dua tahap dalam satu proses pemberian diri dan ungkapan diri Allah, walau secara intrinsik merupakan proses yang berbeda118.

Evolusi adalah proses sejarah dan perjalanan alam semesta ini. Teologi mendapat sumbangan yang nyata dari ilmu pengetahuan dan sains modern. Dari sains teologi dapat lebih dalam merefleksikan Allah yang berkarya di dunia ini. Sains mengajak teologi untuk tidak menutup mata terhadap fakta-fakta ilmiah

117 Jürgen Moltmann, Reconciling with Nature, 313.

118 Inkarnasi digambarkan Rahner sebagai ‘two moments and two phases of the one process of God self-giving and self-expression, although it is an instrinsically differentiated process. Karl Rahner, The Foundations of Christian Faith, 189 dalam Denis Edwards, The God of Evolution: Tritinatarian Theology, 1999, 108.

perkembangan alam semesta. Evolusi semakin menegaskan bahwa Allah senantiasa berkarya di dunia dan tidak meninggalkan alam semesta sendirian. Sains juga menunjukkan bahwa dunia ini ternyata juga mempunyai integritasnya sendiri. Alam semesta mempunyai hukumnya sendiri.

Dunia ini mempunyai integritas. Alam mempunyai hukum. Alam semesta itu dilukai oleh tindakan eksploitasi yang merusak. Dosa dan kejahatan manusia juga melukai persatuan manusia dengan Allah, Penciptanya. Syukurlah, Allah yang senantiasa memberikan diri itu menjelma dalam manusia Yesus dari Nasaret.

PenjelmaanNya semakin menegaskan bahwa hidup jasmani dan materi ini bermakna di hadapan Allah. Kematian yang menjadi buah dosa tidak membinasakan manusia karena Allah menebus manusia. Keselamatan yang ditawarkan Allah itu memuncak dalam peristiwa salib dan kebangkitan Yesus. Salib itu tidak hanya menyelamatkan manusia melainkan seluruh ciptaan. Pada akhirnya semua mengalami transformasi dalam Kristus, bersatu kembali dengan Allah, sebagai Omega.

Pemikiran Moltmann meneguhkan pentingnya dimensi eskatologis dalam iman kristiani. Tindakan umat merupakan sebuah bagian dari penantian umat akan kedatangan dan kepenuhan karya keselamatan Allah, yang telah dimulai sejak penciptaan dan berpuncak pada salib dan kebangkitan Yesus Kristus. Kerusakan lingkungan, yang merupakan kematian lingkungan hidup, juga merupakan krisis kerohanian manusia. Alam ini bukan semata-mata barang (property) saja melainkan mempunyai nilai sebagai karya ciptaan Allah. Alam semesta, sebagai „rumah‟ bagi semua harus juga menjadi dasar bagi manusia yang ada di dalamnya untuk menyusun

kesepakatan-kesepakan, baik legal maupun nonformal yang semakin menunjang kebaikan bersama semua manusia.

Jürgen Moltmann menekankan pentingnya memahami hari sabat secara baru.

Tindakan Allah menyucikan dan memberi hidup kepada apa yang telah diciptakan.

Makhluk ciptaan itu adalah suci di hadapan Allah. Allah, sebagaimana dikisahkan dalam kitab Kejadian, beristirahat setelah melakukan tindakan mencipta. Kisah ini mau mengatakan bahwa Allah menyucikan satu hari karena memandang semua ciptaan „baik adanya‟. Allah tidak hanya menyucikan ruang, melainkan juga waktu di mana semua ciptaan alam semesta ini berada. Di akhir jaman nanti semua akan berjumpa dengan Allah kembali dalam Sabat Abadi, ketika semua kembali kepada Allah. Di dunia ini lingkungan hidup perlu mendapatkan sabat (satu hari untuk memulihkan lingkungan yang ada).

Dalam bab berikut akan dibahas tindakan menyelamatkan lingkungan dan alam semesta, yang bersumber dari keprihatinan kerusakan ekologis, sebagai bentuk partisipasi kemuridan. Alam adalah tempat Allah mencintai manusia. Maka alam tidak boleh dilupakan perannya. Kesatuan kita dengan Kristus tidak hanya bersifat rohaniah semata antara kita dengan Dia, melainkan juga antara alam dan Dia.

Keselamatan itu tidak hanya bagi manusia saja.

Terkait hal itu kesadaran yang perlu dibangun adalah bahwa manusia mempunyai tanggung jawab moral terhadap alam. Tanggung jawab moral ini menuntut manusia untuk mengambil prakarsa, usaha, kebijakan, dan tindakan bersama secara nyata untuk menjaga alam semesta dengan segala isinya. Tanggung jawab moral itu tidak hanya bersifat antroposentris-egoistis, melainkan juga

kosmis119. Artinya, manusia memikirkannya bukan demi kepentingannya melainkan demi ekosistem yang ada. Tanggung jawab ini merupakan suatu bentuk kecintaan terhadap alam (ecosophy), bukan demi kepentingan antroposentris, melainkan karena alam bernilai pada dirinya. Lalu, bagaimana usaha pelestarian lingkungan sebagai tindakan menjaga keutuhan ciptaan dapat diwujudnyatakan dalam tindakan pastoral yang konkrit? Bagaimana habitus mencintai Allah melalui alam semesta ini dapat menjadi nafas gerak harian dan gerak iman kita yang secara moral nyata (ethically responsible) dan sekaligus kristiani (radically christian)?

119 A. Sonny Keraf, Etika Lingkungan, Kompas, Jakarta, 2006, 146.

BAB IV

KOMITMEN UNTUK LINGKUNGAN

SEBAGAI TINDAKAN KEMURIDAN DALAM YESUS KRISTUS

Tuhan Allah mengambil manusia itu dan menempatkannya dalam taman Eden untuk mengusahakan dan memelihara taman itu.

[Kej 2: 15]

Alam semesta ini adalah hasil karya ciptaan Allah. Penciptaan itu terus berlangsung sampai sekarang ini. Dalam sejarah panjang penciptaan ini, dunia mengalami kegelapan karena dosa manusia. Tapi Allah Pencipta menawarkan keselamatan kepada manusia. Sejarah keselamatan itu memuncak dalam misteri inkarnasi, ketika Allah Pencipta itu masuk dalam realitas ciptaan, menjadi daging, dalam manusia Yesus Kristus. Dalam Yesus kristus, Allah Pencipta menawarkan jalan kepada manusia untuk bersatu kembali denganNya. Penolakan dari pihak manusia memuncak dalam salib yang harus ditanggung Yesus. Namun Allah mencintai manusia sampai sehabis-habisnya. Maka Ia membangkitkan Yesus.

Kematian sebagai akibat dosa telah dikalahkan sehingga manusia dapat menikmati hidup kekal bersama Allah. Keselamatan bahkan tidak terbatas bagi manusia saja.

Dalam Yesus Kristus Allah telah menebus seluruh ciptaan, Ia membarui dan mentransformasi segala sesuatu di dunia ini.

Manusia tidaklah otonom secara mutlak. Manusia selalu bersifat terbatas dan keberadaannya di dunia ini selalu terhubung dengan makhluk ciptaan yang lain.

Hidup manusia tergantung dari sumber daya dan ruang yang ada di alam semesta karena alam semesta memungkinkannya hidup. Manusia terbatas dan tergantung kepada Allah, Penciptanya. Keselamatan dalam diri Yesus menjadi bukti bahwa manusia itu tergantung mutlak kepada Allah. Pengakuan dan penghargaan akan Allah membawa manusia pada penghargaan akan kehidupan. Manusia disadarkan bahwa jika ia diciptakan secitra dengan Allah maka ia mempunyai tanggung jawab untuk membawa sifat Allah sebagai pencipta dan pemelihara segala sesuatu. Alam semesta yang secara konkrit dihadapi manusia adalah bumi dan lingkungan di mana manusia itu tinggal.

Masalah kerusakan lingkungan hidup hendak direfleksikan dengan pemahaman umat beriman akan penciptaan dan iman akan Yesus Kristus. Maka menghubungkan tanggung jawab terhadap lingkungan dengan Yesus merupakan pusat dari teologi lingkungan hidup kristiani120. Keselamatan Allah melalui Yesus Kristus ternyata menjangkau seluruh semesta ini seturut refleksi akan SabdaNya dalam Kolese 1:15-20. Kesadaran sebagai manusia yang telah ditebus membawa kita kepada kesadaran bahwa warta keselamatan itu menjangkau juga seluruh semesta.

Artinya, kita dipanggil untuk membawa keselamatan tidak hanya bagi manusia saja melainkan bagi seluruh alam ciptaan. Apa sumbangan khas teologi kristiani terhadap kenyataan perusakan lingkungan yang terjadi? Lalu bagaimanakah usaha ini ditempatkan dalam kerangka tindakan kemuridan kita? Bagaimana Gereja

120 Denis Edwards, Ecology at the Heart of Faith, Orbis, New York, 2008, 48.

merefleksikan dan menanggapi kualitas lingkungan hidup yang semakin merosot dan mengancam kehidupan makhluk di dunia?

Umat beriman sebagai murid Kristus mempunyai panggilan kemuridan untuk bertindak sebagaimana Allah bertindak terhadap dunia. Kita mempunyai panggilan kemuridan untuk menjaga alam semesta, yang telah ditebus dan akan mencapai kepenuhannya di akhir jaman. Allah yang senantiasa memberikan diri itu menunjukkan ciri relasional antara Pencipta dan ciptaan. Ciptaan tidak memiliki otonomi utuh dan kebebasan mutlak sebab dia ada dalam kesatuan dan hubungan dengan Allah, Sang Pencipta. Pemahaman salah tentang otonomi manusia itulah yang memunculkan tindakan merusak lingkungan. Maka kini manusia dipanggil untuk mengambil bagian dalam menghadirkan Allah dan tindakan ilahiNya di dunia ini.

4.1 Hubungan Manusia dengan Alam Semesta

Ada berbagai pandangan tentang relasi manusia dengan alam semesta seisinya. Pandangan-pandangan berikut menjelaskan relasi manusia dengan lingkungan.