B. Anlisis farmer’s share
6.2. Saluran Tataniaga
Saluran 1 Saluran 2 Saluran 3
Saluran 4
Gambar 3. Sistem Tataniaga Tebu Di Desa Pulorejo, Kecamatan Ngoro, Kabupaten Jombang Tahun 2011
6.2. Saluran Tataniaga
Saluran tataniaga tebu yang terdapat di Desa Pulorejo adalah empat saluran. Saluran pertama dilakukan oleh empat orang petani responden dan memiliki presentase sebesar 20%. Volume penjualan saluran pertama adalah 73.000 kuintal tebu dan memiliki presentase sebesar 20,5% dari seluruh volume penjualan. Petani yang menjual tebu kepada kelompok tani sebanyak enam orang dan memiliki presentase sebesar 30% dari seluruh jumlah petani responden. Volume penjualan pada saluran kedua adalah 53.000 kuintal dan memiliki presentase sebesar 14,9% dari seluruh volume penjualan. Jumlah petani yang menjual tebu kepada kontraktor tebu sebanyak sepuluh orang dan memiliki presentase sebesar 50% dari seluruh jumlah petani responden. Tebu yang dijual dalam saluran ini sebesar 227.000 kuintal dan memiliki presentase sebesar 63,7% dari jumlah seluruh penjualan. Petani yang menjual hasil tebu kepada pedagang sari tebu berjumlah empat orang, petani yang melakukan penjualan kepada pedagang sari tebu merupakan petani yang terlibat dalam saluran satu, saluran dua
Petani 356.450 Kuintal Kelompok Tani 53.000kw (14,9%) APTRI 73.000 kw (20,5%) Kontraktor tebu 227.000 kw(63,7%)
Pedagang sari tebu 3.450 kw (0,9%)
49 dan saluran ketiga. Penjualan kepada pedagang sari tebu ini dilakukan apabila tebu yang akan digiling ke pabrik tidak memenuhi persyaratan pabrik gula. Volume tebu yang dijual kepada pedagang sari tebu sebesar 3.450 kuintal dan memiliki presentase sebesar 0,9% dari total volume penjualan tebu.
Hasil pengamatan menunjukan presentase petani responden yang menjual tebu kepada kontraktor tebu pada saluran satu paling besar bila dibandingkan dengan saluran lainnya. Selain itu volume penjualan pada saluran ketiga paling besar yaitu sebesar 227.000 kuintal. Hal ini dikarenakan petani tidak memiliki surat kontrak dengan pabrik gula. Selain itu, petani merasa cara seperti ini lebih mudah dan cepat karena semua biaya tebang dan angkut akan ditanggung oleh kontraktor tebu. Biaya tebang dan angkut merupakan biaya pemanenan yang cukup tinggi terlebih jika dalam cuaca yang buruk dan jarak kebun yang jauh dari pabrik gula.
6.2.1. Saluran Tataniaga 1
Saluran tataniaga satu terdiri dari petani, Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) dan pabrik gula. Jumlah petani responden yang melakukan saluran tataniaga satu adalah empat orang atau sebesar 20% dari jumlah petani responden di Desa Pulorejo. Volume penjualan tebu pada saluran ini sebesar 73.000 kuintal dan memiliki presentase sebesar 20,5% dari total volume penjualan tebu.
Petani melakukan saluran tataniaga ini dikarenakan petani mendapatkan pinjaman modal untuk melakukan usahatani tebu. Pinjaman ini sesuai dengan besarnya lahan yang diusahakan oleh petani. Pinjaman dari APTRI berasal dari pinjaman bank dan dikembalikan saat petani telah mendapatkan hasil dari panennya. Kemungkinan kredit ini mengalami macet bayar sangat kecil, hal ini dikarenakan oleh hasil giling tebu petani diserahkan kepada APTRI untuk kemudian diikutkan dalam lelang. Petani yang terlibat dalam saluran satu ini memiliki ikatan kemitraan dengan APTRI. Alasan jumlah petani yang menggunakan saluran ini hanya sedikit adalah jauhnya letak APTRI dari Desa Pulorejo. Petani mendatangi APTRI untuk mengajukan kredit usahatani tebu kemudian mengambil uang kredit yang diberikan dari APTRI. Selain itu untuk
50 mengambil uang hasil penjualan tebu petani harus datang ke APTRI. Menurut petani letak APTRI yang jauh dan petani harus mengeluarkan biaya trasportasi membuat saluran ini kurang diminati oleh petani dalam menjual hasil tebu milik petani.
Tebu petani dibeli oleh APTRI dengan harga Rp. 37.000/kuintal tebu. Tebu dititip giling ke pabrik gula, kemudian melakukan bagi hasil dengan pabrik gula melalui hasil rendemen yang dihasilkan. Tebu yang dipanen dibawa dengan menggunakan mobil pick-up menuju pabrik gula. Biasanya hasil yang didapatkan oleh petani adalah 60% dari seluruh hasil giling. Hasil giling tebu tersebut diambil oleh APTRI kemudian diikutkan dalam lelang yang diikuti oleh APTRI. Hasil lelang tersebut kemudian dipotong oleh pinjaman petani dan biaya pemanenan seperti tebang dan angkut. Harga lelang hasil giling tebu tidak menentu. Kisaran harga lelang hasil giling adalah Rp. 7000 sampai Rp. 9000. Biaya yang dikeluarkan oleh APTRI adalah biaya karung yaitu sebesar Rp. 328 per kuintal tebu.
Pada saluran satu harga gula ditentukan oleh APTRI berdasarkan harga lelang. Sistem pembelian dilakukan secara tunai. Sistem pembayaran dilakukan secara tunai setelah tebu hasil giling dilelang oleh APTRI, hal ini dipengaruhi oleh rasa kepercayaan petani dengan APTRI.
Dengan demikian pada saluran ini petani mengeluarkan biaya tataniaga seperti biaya tebang dan angkut. APTRI mengeluarkan biaya pengemasan seperti karung. Pabrik gula mengeluarkan biaya pengolahan untuk menggiling tebu.
6.2.2. Saluran Tataniaga 2
Saluran tataniaga dua ini dilakukan oleh enam orang petani responden. Lembaga tataniaga yang terlibat dalam saluran tataniaga ini adalah petani, kelompok tani dan pabrik gula. Volume penjualan tebu pada saluran ini sebesar 53.000 kuintal dan memiliki presentase penjualan sebesar 14,9% dari total volume penjualan tebu.
Kelompok tani berperan dalam mengumpulkan tebu dari anggota kelompok tani dan menggiling tebu di pabrik gula. Petani menitipkan tebunya kepada kelompok tani untuk digiling. Petani yang melakukan saluran tataniaga ini
51 tidak memiliki surat kontrak dari pabrik tebu. Kelompok tani memiliki surat kontrak untuk menggilingkan hasil tebu para anggotanya dengan menggunakan nama kelompok taninya. Ketua kelompok tani mendapatkan imbalan sebesar 1,5% dari hasil giling tebu milik anggotanya. Kelompok tani tidak memiliki hak atas tebu milik petani. Kelompok tani hanya sebagai broker bagi petani yang tidak memiliki surat kontrak. Saluran ini kurang diminati oleh petani karena keengganan petani untuk mengeluarkan uang untuk memberikan komisi kepada ketua kelompok tani. Petani beranggapan hasil yang didapat dari usahatani tebu belum bisa menutupi kebutuhan pateni sehari-hari terlebih bila lahan yang digunakan oleh petani kecil. Pelayanan yang diberikan oleh kelompok tani adalah mengurus tebu milik petani dari giling hingga mendapatkan hasil dari gilingan tebu. Petani tidak perlu ke pabrik gula untuk mengikuti tebu miliknya dan kembali ke pabrik gula untuk mengambil hasil dari gilingan tebu miliknya. Semua itu dikerjakan oleh kelompok tani. Bagi beberapa petani yang menggunakan saluran ini mengeluarkan uang sebesar 1.5% untuk ketua kelompok tani sebanding dengan pelayanan yang diberikan. Hasil giling tebu diikutkan dalam lelang yang dilakukan oleh pabrik gula.
Petani yang telah memanen hasil tebunya mengeluarkan biaya pemanenan seperti biaya tebang dan angkut. Hasil panen tersebut dikumpulkan langsung ke pabrik gula untuk digiling. Hasil giling tebu tersebut akan dilakukan bagi hasil dengan pabrik gula sesuai dengan rendemen yang dihasillkan oleh petani. Hasil tersebut diikutkan dalam lelang yang diadakan pabrik gula. Setelah lelang dilakukan maka kelompok tani akan mendapatkan surat hasil giling tebu yang memuat hasil giling tebu dan harga yang diterima oleh petani. Uang hasil giling tebu petani akan diberikan melalui kelompok tani. Kelompok tani akan membagi uang tersebut kepada masing-masing petani sesuai dengan tebu yang disetorkan kepada kelompok tani.
Harga tebu ditentukan dari hasil lelang yang dilakukan pabrik gula. sistem pembelian dilakukan secara tunai. Sistem pembayaran dilakukan tunai setelah lelang dilakukan. Petani dalam saluran tataniaga dua mendapatkan informasi dari ketua kelompok tani. Informasi yang diterima adalah harga, kisaran rendemen,
52 harga pupuk dan harga bibit tebu. Petani memiliki posisi tawar yang rendah karena petani hanya menerima harga dari lelang pabrik gula dengan investor.
6.2.3. Saluran Tataniaga 3
Petani responden yang menggunakan saluran tataniaga tiga adalah 10 orang. Lembaga yang terlibat dalam saluran tataniaga tiga ini adalah petani, kontraktor tebu dan pabrik gula. Volume tebu yang dijual pada saluran tataniaga tiga sebesar 227.000 kuintal atau sebesar 63,7% dari total volume penjualan tebu.
Rata-rata petani yang menggunakan saluran tataniaga tiga adalah petani yang tidak memiliki surat kontrak dengan pabrik gula. Selain itu alasan petani menggunakan saluran tataniaga tiga adalah petani lebih mudah dalam menjual hasil tebu, cepat dan biaya pemanenan ditanggung oleh kontraktor tebu. Kondisi seperti ini dianggap menguntungkan oleh petani yang menggunakan saluran tataniaga tiga. Saluran ini paling diminati oleh petani karena memberikan kemudahan bagi petani dan petani tidak perlu menanggung risiko atas hasil usahatani tebunya. Risiko akan ditanggung oleh kontraktor tebu yang membeli hasil panen tebu miliknya. Kontraktor tebu memiliki surat kontrak dengan pabrik gula dan akan membawa tebu hasil pembeliannya dengan petani ke pabrik untuk gilingkan. Kontraktor tebu membeli tebu milik petani untuk memenuhi surat kontrak yang sudah ditandatangani dengan pabrik tebu.
Kontraktor tebu akan mendatangi pemilik tebu untuk membeli tebu yang telah siap panen. Kontraktor dan petani akan melakukan kegiatan tawar menawar harga tebu. Kontraktor tebu membeli tebu milik petani sebesar Rp. 36.900/kuintal tebu. Setelah harga disepakati oleh kedua pihak, maka kontraktor tebu akan melakukan penebangan dan pengangkutan tebu yang telah dibeli dari petani. Tebu yang telah di tebang di bawa ke pabrik tebu untuk digiling. Hasil tebu yang digiling oleh pabrik tebu akan diikutkan dalam lelang yang diadakan pabrik gula dengan investor. Harga gula yang diikutkan dalam lelang pabrik gula sebesar Rp.8.000-Rp.10.000/kg gula.
Harga tebu ditentukan melalui kesepakatan antara kontraktor tebu dengan petani tebu. Sisem pembelian dilakukan dengan tunai dan sistem pembayaran dilakukan dengan kredit, 50% dibayarkan saat tebang dan sisanya dibayarkan
53 setelah dilakukan lelang. Petani tebu mendapatkan informasi pasar dari kontraktor tebu dan petani tebu lainnya. Petani memiliki posisi tawar yang tinggi karena dapat menentukan harga melalui negosiasi dengan kontraktor tebu.
6.2.4. Saluran Tataniaga 4
Terdapat empat orang petani yang melakukan penjualan tebu dalam saluran empat. Petani yang terlibat dalam saluran tataniaga empat ini merupakan bagian dari petani yang melakukan saluran tataniaga satu, dua atau tiga. Lembaga tataniaga yang terlibat dalam saluran tataniaga ini adalah petani, pedagang sari tebu dan konsumen. Volume penjualan tebu dalam saluran tataniaga empat adalah 3.450 kuintal atau sebesar 0,9% dari total volume penjualan tebu.
Alasan petani menggunakan saluran ini adalah untuk meminimalkan kerugian akibat tebu hasil panen tidak memenuhi syarat giling pabrik gula. Pabrik gula melakukan gradding pada hasil tebu petani sebelum dilakukan penggilingan. Tebu yang tidak memenuhi syarat giling pabrik akan dikembalikan kepada petani. Tebu ini akan digunakan pedagang sari tebu untuk dijual kembali dengan melakukan pengolahan terhadap tebu tersebut. Adanya saluran ini menguntungkan bagi petani karena petani dapat meminimalkan risiko yang ditanggungnya. Namun, hasil tebu yang dijual pada asaluran ini tidak banyak karena tujuan utama petani melakukan usahatani tebu adalah untuk digiling menjadi tebu. Tebu ini dibeli pedagang sari tebu di rumah petani. Pengangkutan tebu ini menggunakan motor milik pedagang. Petani tidak mengeluarkan biaya transportasi dalam saluran tataniaga ini.
Tebu yang dipanen oleh petani akan dibeli oleh pedagang sari tebu dengan melakukan tawar menawar. Harga yang dibeli pedagang sari tebu dari petani adalah Rp.2000/kg tebu. Setelah harga disepakati oleh petani dan pedagang maka pedagang akan membawa tebu tersebut. Tebu akan dibersihkan untuk kemudian diolah oleh pedagang menjadi minuman sari tebu dan akan dijual kepada konsumen. Harga sari tebu yang dijual oleh pedagang sari tebu adalah Rp.2500/gelas.
Pada saluran tataniaga empat, harga tebu ditentukan melalui kesepakatan antara petani dan pedagang tebu. Sistem pembelian dilakukan secara tunai dan sistem pembayaran dilakukan secara tunai. Petani yang menjual produknya
54 mendapatkan informasi pasar dari petani tebu lainnya. Petani memiliki posisi tawar yang tinggi karena petani dapat menentukan harga jual kepada pedagang.