S
uatu ketika, selaku Ketua Mahkamah Agung (MA), Bagir Manan mengadakan kunjungan kerja ke daerah. Di sana, yang mula- mula dikunjunginya adalah pengadilan tinggi dan pengadilan negeri. Ia memperhatikan kebersihan dua pengadilan itu, dan ia puas. Setelah itu ia beserta rombongan beranjak ke pengadilan agama. Ternyata pengadilan itu kurang bersih. Bagir Manan kecewa. Ia pun lekas mengumpulkan para pejabat, hakim dan pegawai di pengadilan agama itu, lalu memberi pengarahan.“Memang hadis mengenai kebersihan itu dihafal oleh hakim-hakim agama, tapi yang melaksanakannya hakim peradilan umum,” kata Bagir Manan, yang langsung disambut tawa orang-orang di hadapannya.
Bagir Manan, yang sebelumnya berkarir di Departemen Kehakiman dan di lingkungan kampus, pada mulanya adalah hakim agung non-karir. Meski begitu, tiada hambatan yang berarti baginya untuk menjalin hubungan dan kedekatan dengan berbagai kalangan di lembaga peradilan.
Ketika menjadi Ketua MA pada periode 2001-2008, Bagir Manan berusaha mengayomi seluruh lingkungan peradilan yang beratap di MA, termasuk peradilan agama.
Bagir Manan merasa beruntung, ia dapat diterima oleh warga peradilan umum. Itu karena ia adalah orang kampus. “Banyak hakim yang pernah kumpul sama saya sebagai mahasiswa atau sebagai apa, sehingga merasa: ah, kita ditegur oleh kawan sendiri,” ungkapnya.
Bagir Manan juga merasa beruntung dapat diterima oleh warga peradilan agama. Jika ia menegur aparat peradilan agama, mereka tidak tersinggung. “Mereka merasa ditegur oleh saudaranya sendiri,” ucapnya.
Itu terjadi, menurut Bagir, karena sejak mahasiswa ia aktif di organisasi
Islam. Selain itu, ia telah cukup lama bergaul dengan pimpinan-pimpinan peradilan agama sewaktu masih bernaung di bawah Depag.
Jika menengok ke belakang, jauh sebelum menjadi Ketua MA, Bagir Manan sesungguhnya sudah sering berinteraksi dengan pimpinan peradilan agama. Ia juga turut memberikan sumbangsih pemikirannya untuk peradilan agama.
Ketika untuk kali pertama dalam sejarah, peradilan agama memiliki UU sendiri, yakni UU 7/1989, Bagir Manan terlibat aktif dalam penyusunan peraturan pelaksanaan UU tersebut. “Saya anggota tim karena saya waktu itu adalah staf ahli menteri kehakiman,” ungkapnya.
Saat itu Bagir Manan mengusulkan agar peradilan agama bisa mengeksekusi sendiri putusannya, tanpa perlu melibatkan lingkungan peradilan lainnya. Dengan begitu, peradilan agama tidak lagi menjadi peradilan semu. Apa yang diperjuangkan Bagir Manan itu kemudian membuahkan hasil.
Selain soal eksekusi tadi, Bagir Manan juga mengusulkan agar para hakim peradilan
agama selalu berusaha mendamaikan para pihak yang sedang bersengketa dalam perkara cerai, tidak hanya pada tahap awal persidangan, tapi juga sepanjang persidangan, bahkan upaya damai itu mestinya bisa dilakukan di tingkat banding dan kasasi. Dengan begitu, secara tidak langsung, Bagir Manan berusaha mengubah paradigma hakim peradilan agama: dari menceraikan ke merujukkan.
“Fungsi peradilan
agama terutama menyangkut perkara
keluarga adalah mengutuhkan kembali keluarga yang akan pecah. Itu perinsip- perinsip baru yang kita tegakkan,” ujarnya.
Melihat perkembangan peradilan agama saat ini, Bagir Manan mengaku turut bergembira. Kini eksistensi peradilan agama kian kokoh dan kompetensinya bertambah. “Dulu, karena lanjutan dari masa kolonial, peradilan agama dianggap kelas dua di lingkungan peradilan,” ujarnya.
Selain memiliki kewenangan menerima, memeriksa dan mengadili perkara-perkara perdata Islam, kini peradilan agama juga punya kewenangan di bidang ekonomi syariah dan pidana Islam di Aceh. Menurut Bagir Manan, hal itu perlu disyukuri.
“Kalau lingkungan peradilan agama ini lebih kuat, misalnya hukum ekonomi syariah bisa dapat jalan dan sebagainya, itu sudah bisa menolong umat luar biasa,” tuturnya.
Dari segi manajemen, menurut Bagir, peradilan agama juga punya peluang untuk terus menjadi lebih besar, karena setelah satu atap,
INSPIRASI
peradilan agama berkedudukan setara dengan lingkungan peradilan lainnya. Aspek manajemen itu setidaknya meliputi anggaran dan SDM.
Meski demikian, Bagir Manan mewanti-wanti, agar warga peradilan agama tidak melupakan soal yang lebih substansial. “Yaitu bagaimana kita meningkatkan mutu peradilan agama, mutu para hakim,” ungkapnya.
Hakim peradilan agama, menurutnya, harus terus meningkatkan kemampuannya dalam membuat putusan yang berkualitas. Hal itu bisa ditempuh dengan cara mengikuti pelatihan-pelatihan atau mengadakan diskusi-diskusi untuk membahas isu- isu hukum terkini.
Secara khusus, Bagir Manan memberi apresiasi positif terhadap banyaknya warga peradilan agama yang berusaha meraih jenjang pendidikan tertinggi, bahkan jadi doktor. Tapi
yang terpenting, menurutnya, bukan soal gelar Doktor itu, melainkan substansinya.
“Jangan sampai kita jadi doktor ilmu hukum di sana-sana hanya karena kita ingin kelihatan hebat sebagai doktor ilmu hukum, tapi kewajiban keulamaan kita jadi nomor dua,” pesannya.
Bagir Manan juga berpesan agar hakim peradilan agama tidak terlalu dogmatis. Hakim peradilan agama perlu terus menggali hukum dari sumbernya untuk menciptakan keadilan. “Sekarang kita masih kurang sekali kemampuan untuk menggali atau bahasa kerennya berijtihad soal itu,” kritiknya.
Lebih dari itu, menurut Bagir Manan, hakim peradilan agama harus mempunyai identitas dan karakter, yang dapat dikenali dari cara berpikir dan bersikap sehari-hari.
Bagir Manan tidak ingin melihat lagi ada hakim peradilan yang rendah
diri atau minder. “Saya setuju bahwa hakim agama itu tawadu, rendah hati, tapi tidak berarti bahwa tawadu itu tempat bersembunyi rendah diri; tempat bersembunyi untuk menunjukkan kekurangan kita,” ujarnya.
Bagir Manan merasa perlu mengingatkan kembali soal identitas, karakter dan sikap tawadu yang berlebihan itu bukan tanpa sebab.
“Dulu, saya sering bergurau begini: Oh, kalau hakim agama itu tandanya kalau pakai safari, safarinya yang sudah belel, pecinya sudah kuning. Nggak boleh seperti itu ya. Bukan tawadu itu,” ucapnya.
Ya, begitulah Bagir Manan. Bahkan hal-hal terkecilpun dicermatinya. Bisa jadi, itu adalah wujud rasa sayangnya pada peradilan agama. (*)
[Mahrus Abdurrahim, Ahmad Zaenal Fanani, Hermansyah]
Bagir Manan dikenal sebagai sosok yang menjadi peletak dasar pembaruan di MA setelah era Orde Baru. Sejak di- lantik menjadi Ketua MA oleh Presiden Abdurrahman Wahid pada tahun 2001 hingga purnabhakti sebagai Ketua MA pada 2008, ia berhasil melakukan berb- agai perubahan positif.
Cetak Biru Pembaruan MA mulai disusun saat ia menjadi Ketua MA. Ket- erbukaan informasi di pengadilan juga dipeloporinya. Tidak hanya itu, proses penyatuatapan empat lingkungan peradi- lan di bawah MA juga terjadi pada masa ia menjadi Ketua MA. Dan salah satu pencapaiannya yang paling nyata ialah meningkatnya alokasi anggaran MA.
“Sewaktu saya masuk, anggaran MA hanya Rp 500 miliar, tapi ketika saya
tinggalkan, anggaran MA mencapai 5,5 triliun,” tutur Bagir Manan, kepada Tim Redaksi majalah Peradilan Agama, akhir Agustus lalu.
Bagi Bagir Manan, menjadi seorang pimpinan lembaga tinggi negara seperti MA bukanlah pekerjaan enteng, meski sebelumnya ia cukup berpengalaman di birokrasi dan kampus. Agar sukses memimpin MA, yang diperlukan bukan saja kemampuan manajerial, tapi juga keberanian untuk bertanggung jawab apabila institusi yang dipimpinnya menghadapi suatu persoalan.
“Kalau ada kesulitan, biar saya yang tanggung jawab,” tandasnya.
Berasal dari Lampung, lalu kuliah di Bandung, Amerika, dan balik lagi ke tanah air, Bagir Manan mengaku tidak
pernah bercita-cita menjadi seorang Dirjen, hakim agung, apalagi menjadi Ketua MA. Cita-citanya sejak semula adalah menjadi pendidik.
Meski lebih suka berkecimpung di dunia akademis, Bagir Manan tetap membuka diri bila diberi amanah un- tuk memangku jabatan di luar dunia akdemis. Itu dibuktikannya ketika ia diminta menjadi Direktur, lalu menjadi Dirjen di Depkeh, hakim agung di MA, dan akhirnya menjadi Ketua MA. Ke- tika diberi amanah, ia hanya berusaha untuk menjalankan amanah itu sebaik- baiknya.
“Saya berusaha untuk sebaik-bai- knya dalam batas-batas kemampuan yang terbatas itu,” ujar professor yang kin menjadi Ketua Dewan Pers itu. (*)