BAB III. METODE PENELITIAN
B. Peran pemerintah dalam penertiban terminal
4. Sanksi Administrasi
Sanksi administrasi yang dimaksud adalah memberikan teguran atau sanksi kepada parah supir yang melanggar aturan menaikkan menurungkan penumpang di luar terminal dan mobil pribadi (plat hitam) yang mengambil penumpang sesuai perda yaitu pencabutan surat izin mengemudi (SIM) surat tanda nomor kendaraan (STNK.) dan pencabutan izin trayek. Hal ini di ungkapkan dengan Staf Pegawai Bimbingan Keselamatan Transportasi bahwa:
“Kami telah memberikan sanksi kepada para supir yang melakukan pelanggaran menaikkan menurungkan penumpang di luar terminal dan mobil pribadi (plat hitam) yang mengambil penumpang dengan mencabut surat-surat kendaraan dan melakukan penahanan kendaraan selama 2 minggu supaya ada efek jerah”.(Hasil Wawancara AM, 3 Juni 2015).
Hasil wawancara di atas mengunkapkan bahwa dinas perhubungan telah memberikan sanksi kepada para supir yang melakukan pelanggaran menaikkan
dan menurungkan penumpang di luar terminal seperti mobil pribadi (plat hitam) yang mengambil penumpang dengan mencabut surat-surat kendaraan dan pencabutan surat izin trayek dan menahan kendaraan selama 2 minggu supaya ada efek jerah agar tidak melakukan pelanggaran tersebut dan dapat kembali menaikkan dan menurungkan penumpang di dalam terminal sehingga mengembalikan terminal sesuai fungsinya dan dapat menambah pendapatan asli daerah (PAD). Hal ini juga di ungkapkan anggota Lalu lintas Polrestabes Kota Makassar bahwa:
“Kami dari kepolisian Lalu lintas telah berupaya memberikan sanksi kepada para supir yang melakukan pelanggaran menaikkan menurungkan penumpang di luar terminal dan mobil pribadi (plat hitam) yang mengambil penumpang dengan melakukan tilang pencabutan surat-surat kendaraan dan denda Rp 250 000”.(Hasil Wawancara, SL 5 Juni 2015).
Sesuai hasil wawancara di atas bahwa sesuai aturan yang telah di tentukan kepolisian lalu lintas telah berupaya memberikan sanksi tegas kepada parah supir yang melakukan pelanggaran menaikkan dan menurungkan penumpang di luar terminal mobil pribadi (plat hitam) yang mengambil penumpang dengan memeberikan surat tilang pencabutan surat-surat kendaraan dan denda Rp 250 000 sebagai efek jerah agar tidak melakukan pelangggaran tersebut dan dapat mengembalikan fungsi terminal sebagai awal dan akhir keberangkatan penumpang. Hal berbeda di ungkapkan supir bahwa :
“Pihak kepolisian sudah 2 tahun tidak pernah melakukan penindakan kepada pada supir angkutan daerah. Tahun 2011 -2013 pernah ada polisi yang sangat tegas, apa bila melihat mobil angkutan mengambil penumpang di luar terminal akan kena sanksi tilang, Tapi satu tahun kemudian polisi tersebut di pindahkan ke polres mamasa, Jadi beberapa tahun terakhir sudah tidak ada polisi yang bertugas di luar terminal”(Hasil wawancar RM,1 juni 2015).
Berdasarkan hasil wawancara di atas mengungkapkan bahwa kepolisian sudah 2 tahun tidak pernah melakukan penindakan dan memberikan sanksi kepada para supir yang melakukan pelanggaran mengambil penumpang di luar terminal dan mirisnya kepolisian yang pernah tegas melakukan penindakan kepada para supir yang melakukan pelanggaran di pindah tugaskan kepolres mamasa. Jadi beberapa tahun terakhir tidak ada penindakan dan sanksi yang berikan kepada para supir yang mengambil penumpang di luar terminal. Sehingga supir angkutan daerah dan mobil pribadi (plat hitam) bebas menaik turungkan penumpang di luar terminal regional daya.
Sesuai Hasil wawancara mengenai sanksi administrasi Dalam Menertibkan Terminal Liar Di Kawasan Terminal Regional Daya Kota Makassar dapat di simpulkan Kepolisian Lalu lintas Polrestabes Kota Makassar dan Dinas Perhubungan Kota Makassar sudah berupaya Menertibkan Terminal Liar Di Kawasan Terminal Regional Daya Kota Makassar dengan Mengeluarkan Sanksi Administrasi tapi adanya perbedaan pendapat antara petugas dan supir serta sanksi adminitrasi yang di berikan kepada supir kurang efektif sehinggah para supir sering melakukan pelanggaran yang sama.
C. Faktor-Faktor Yang Menhambat Dan Mendukung Peran Pemerintah Dalam Menertibkan Terminal Liar Di Kawasan Terminal Regional Daya Kota Makassar.
Faktor-Faktor Yang Mengambat Dan Mendukung Peran Pemerintah Dalam Penertiban Terminal Liar terdiri dari faktor penghambat dan faktor pendukung.
Faktor pendukung yang di maksud di sini adalah pendukung terjadinya Terminal
Liar Di Kawasan Terminal Regional Daya Kota Makassar. Sedangkan Faktor penghambat adalah penghambat atau kendala yang di alami Pemerintah Dalam Menertibkan Terminal Liar Di Kawasan Terminal Regional Daya Kota Makassar.
1. Faktor pendukung
Faktor pendukung merupakan suatu hal yang dapat membantu Peran Pemerintah Dalam Menertibkan Terminal Liar Di Kawasan Terminal Regional Daya Kota Makassar yaitu Tim Terpadu, Untuk mengetahui lebih lanjut tentang Tim terpadu sebagai faktor pendukung Peran Pemerintah Dalam Menertibkan Terminal Liar Di Kawasan Terminal Regional Daya Kota Makassar maka di lakukan wawancara dengan salah satu informan yaitu Kepala Seksi Administrasi dan Kepegawaian PD Terminal Makassar metro mengemukakan bahwa:
“Pemerintah mengeluarkan SK Wali Kota Nomor 551.05/1181/Kep/VII/204 tentang pembentukan tim terpadu pembinaan, penataan, penertiban kendaraan bermotor umum/kendaraan pribadi (plat hitam) beroperasi menaikkan penumpang atau barang di luar terminal”.(Hasil wawancara MR, 26 mei 2015).
Hasil wawancara di atas faktor pendukung peran pemerintah dalam penertiban terminal liar di terminal regional daya Kota Makassar yaitu adanya Tim terpadu yang telah di keluarkan oleh wali kota Makassar yaitu Surat Keputusan yang berisi tentang pembinaan, penataan, pertiban, kendaraan bermotor yang beroperasi menaikkan penumpang atau barang di luar terminal dan mengikat beberapa instansi terkait seperti Perusahaan Daerah Terminal Makassar Metro, Polisi Lalu lintas polrestabes kota Makassar, Dinas Perhubungan Kota Makassar TNI AU, TNI AD, Koramil, Satpol PP, Propam Polda, Kapolsek Biringkanaya dan beberapa instansi terkait lainya.
2. Faktor penghambat
Faktor penghambat merupakan suatu hal atau kejadian yang dapat menjadi kendala Peran Pemerintah Dalam Penertiban Terminal Liar Di Kawasan Terminal Regional Daya Kota Makassar.
a. Adanya oknum yang tidak bertanggung jawab (perwira)
Oknum yang tidak bertanggung jawab yang di maksud adalah kebanyakan pemilik mobil yang melakukan tindakan pelanggaran dalam hal ini mobil pribadi (plat hitam) yaitu aparat negara “perwira”. Untuk mengetahui lebih lanjut mengenai oknum yang tidak bertanggung jawab sebagai faktor penghambat Peran Pemerintah Dalam Penertiban Terminal Liar Di Kawasan Terminal Regional Daya Kota Makassar maka di lakukan wawancara dengan salah satu informan yaitu anggota lalu lintas Polrestabes Kota Makassar bahwa:
“Salah satu yang menjadi penghambat peran pemerintah dalam penertiban terminal liar di terminal regional daya kota Makassar adanya oknum yang tidak bertanggung jawab (perwira) sebagai pemilik kendaraan mobil pribadi (plat hitam) sehinggah kami sangat sulit untuk melakukan penindakan
”.(Hasil wawancara SL, 5 juni 2015)
Berdasarkan hasil wawancara di atas dapat kita ketahui bahwa Faktor Penghambat Peran Pemerintah Dalam Penertiban Terminal Liar Di Kawasan Terminal Regional Daya Kota Makassar adalah adanya oknum yang tidak bertanggug jawab (perwira) sebagai pemilik kendaraan pribadi (plat hitam) sehingga kepolisian sangat sulit untuk melakukan penindakan dan apa bila mengetahui mobil tersebut di tahan akan balik memarahi petugas yang melakukan penertiban.
Hasil wawancara tersebut di dukung oleh Kepala Bidang Tehnik Sarana dan Prasarana Dinas Perhubungan Kota Makassar menjelaskan bahwa:
“Kami tidak bisa melakukan penindakan karena kendaraan yang mengambil penumpang di luar terminal sebagian adalah milik oknum yang tidak bertanggung jawab ( perwira) dan hanya jeruk makan jeruk yang artinya hanya saling merugikan sesama aparat negara”(Hasil wawancara AR,3 juni 2015).
Sesuai hasil wawancara di atas bahwa Faktor Penghambat Peran Pemerintah Dalam Penertiban Terminal Liar Di Kawasan Terminal Regional Daya Kota Makassar yaitu sebagian besar kendaraan yang melakukan pelanggaran menaikkan dan menurungkan penumpang di luar terminal adalah milik aparat negara (perwira) dan membuat para petugas penertiban terminal liar kesulitan untuk mengambil tindakan. Inilah yang membuat masalah terminal liar tidak akan terselesaikan tampa keseriusan pemerintah dalam menertibkan para pemilik kendaraan yang sebagian besar adalah aparat negara yang seharusnya ikut bertanggun jawab dalam menhilangkan berbagai masalah yang di daerah tersebut.
b. Banyaknya retribusi
Banyaknya retribusi yang di maksud adalah ketika penumpang masuk ke dalam terminal adannya loket pembayaran yang mengharuskan penumpang membayar retribusi untuk masuk kedalam area terminal penumpang.
Agar dapat di ketahui lebih lanjut tentang adanya retribusi yang harus di bayar oleh parah supir dan penumpang masuk ke dalam terminal maka di lakukan wawancara dengan salah satu informan yaitu seorang penumpang angkutan di ungkapkan bahwa :
“saya tidak masuk ke dalam terminal karena banyaknya retribusi yang harus di bayar pada saat masuk ke dalam area terminal”.(Hasil wawancara DI 7 Juni 2015 )
Hasil wawancara di atas mengungkapkan bahwa penumpang tidak masuk ke dalam terminal karena adanya retribusi yang harus di bayar oleh penumpang pada saat ingin masuk ke dalam area terminal yaitu sebesar Rp 1000. Inilah yang membuat calon penumpang untuk tidak masuk ke dalam terminal karena mereka lebih menginginkan cepat dan mudah untuk sampai ketempat tujuan.
Hal yang sama juga di ungkapkan oleh penumpang Terminal Regional Daya bahwa :
“Saya tidak ingin masuk ke dalam terminal karena banyaknya retribusi yang harus di bayar, sedangkan di luar terminal tidak ada retibusi yang dibayar sama sekali”(Hasil wawancara RA, 7 juni 2015)
Berdasarkan hasil wawancara di atas dapat di ketahui bahwa salah satu Penghambat Efektivitas Peran Pemerintah Dalam Penertiban Terminal Liar Di Kawasan Terminal Regional Daya Kota Makassar yaitu adanya retribusi yang harus di bayar oleh penumpang sehingga penumpang lebih memilih naik mobil angkutan yang berada di luar terminal. Hasil wawancara di dukung oleh supir angkutan:
“Kami dari para supir tidak masuk ke dalam terminal karena banyaknya retribusi yang harus di bayar dan kurangnya penumpang yang masuk ke dalam terminal”.(Hasil wawancara RM,1 Juni 2015).
Hasil wawancara di atas bahwa sebagian besar supir angkutan daerah tidak ingin masuk kedalam terminal karena banyaknya retribusi yang harus dibayar yaitu sebesar Rp 6000 dan kuranya penumpang yang ingin masuk ke dalam
terminal, Sehingga para supir lebih memilih mengambil penumpang di luar terminal.
c. Banyaknya buruh angkut
Banyaknya buruh angkut yang di maksud adalah banyaknya buruh yang mengankat barang penumpang yang ingin masuk ke dalam terminal, hal ini sangat meresahkan penumpang dan biasa ada penumpang yang tidak ingin menggunakan jasa angkut tetap dipaksa. Hal ini di jelaskan oleh penumpang bahwa :
“saya tidak ingin masuk ke dalam terminal karena banyaknya buruh angkut yang berada di dalam terminal dan mereka sering memaksa penumpang untuk di angkat barangnya dan mereka sering meminta bayaran yang besar”.
( Hasil Wawancara AS,7 Juni 2015)
Berdasarkan hasil wawancara di atas bahwa sebagian besar calon penumpang tidak ingin masuk ke dalam terminal karena banyaknya buruh yang menawarkan jasanya untuk mengankat barang penumpang yang ingin masuk kedalam terminal dan bahkan para penjual jasa angkut ini sering memaksa calon penumpang untuk menggunakan jasa angkut dan meminta bayaran yang besar itulah yang membuat para penumpang untuk tidak ingin masuk ke dalam terminal regional daya.
Hal yang sama juga di katakan penumpang Terminal Regional Daya bahwa :
“saya tidak masuk ke dalam terminal karena banyaknya buruh angkut yang mendatangi kami saat turung dari pete-pete dan mereka sering memperebutkan tas atau barang penumpang dan mereka juga sering meminta bayaran mahal”.(Hasil wawancara DI 7 Juni 2015).
Sesuai hasil wawancara yang di lakukan bahwa sebagian besar calon penumpang tidak ingin masuk ke dalam terminal karena buruh angkut juga sering memperebutkan barang atau tas penumpang ketika turung dari mobil angkutan
kota dan buruh angkut juga sering meminta bayaran yang mahal kepada penumpang sehingga itulah yang membuat sebagian calon penumpang lebih memilih menunggu mobil angkutan yang berada di luar Terminal Regional daya.
Hasil wawancara di atas dapat di simpulkan bahwa Faktor Penghambat Peran Pemerintah Dalam Penertiban Terminal Liar Di Kawasan Terminal Regional Daya Kota Makassar adalah adanya oknum yang tidak bertanggung jawab (perwira) sebagai pemilik kendaraan pribadi (plat hitam ), banyaknya retribusi yang harus di bayar oleh supir dan penumpang serta banyaknya buruh angkut yang berkeliaran di dalam terminal sehingga membuat keresahan kepada calon penumpang sehingga penumpang lebih memilih naik mobil angkutan yang berada di luar terminal.
64 BAB V PENUTUP
Setelah memahami BAB 1 pendahuluan, BAB II pembahasan, BAB III metode penelitian, dan BAB IV hasil dan pembahasan, maka tahap terakhir BAB V penutup. Pada tahap ini akan di bahas tentang kesimpulan mengenai apa yang menjadi hasil penelitian dan saran yang akan di berikan penulis mengenai subyek dan obyek kegiatan.
A. Kesimpulan
1. Peran pemerintah dalam Menertibkan Terminal Liar Di Kawasan Terminal Regional Daya Kota Makassar.
Regulasi, kurangnya kepedulian para supir untuk mematuhi aturan yang telah di tetapkan pemerintah. Pembinaan, kurangnya sosialiasi pemerintah dalam melakukan pembinaan kepada para supir angkutan sehingga terjadinya perbedaan pendapat antara pemerintah dan supir angkutan. Pengawasan, pengawasan yang di lakukan oleh pemerintah kurang efektif dan maksimal terhadap para supir angkutan sehingga supir leluasa mengambil penumpang di luar terminal. Sanksi adminsitrasi, Kurang efektifnya sanksi yang di berikan petugas terhadap supir angkut sehingga para supir sering melakukan pelanggaran yang sama.
2. Faktor-Faktor Yang Menghambat Dan Mendukung Peran Pemerintah Dalam Menertibkan Terminal Liar Di Kawasan Terminal Regional Daya Kota Makassar.
Faktor Pendukung Peran Pemerintah Dalam Penertiban Terminal Liar Di Kawasan Terminal Regional Daya Kota Makassar yaitu adanya pembentukan tim
terpadu yang berorientasi kepada Penertiban Terminal Liar Di Kawasan Terminal Regional Daya Kota Makassar.
Faktor Penghambat Peran Pemerintah Dalam Penertiban Terminal Liar Di Kawasan Terminal Regional Daya Kota Makassar yaitu
Adanya oknum yang tidak bertanggung jawab yang menjadi pemilik kendaraan pribadi (Plat hitam) yang melakukan pelanggaran sehingga petugas sulit untuk melakukan tindakan. Banyaknya retribusi yang harus di bayarkan oleh para supir dan penumpang ketika masuk kedalam terminal. Banyaknya buruh angkut yang berada di dalam terminal yang sangat meresahkan penumpang.
Banyaknya calo yang berada di dalam terminal.
B. Saran penulis
Berdasarkan dari kesimpulan di atas, adapun saran-saran yang di berikan, yaitu :
1. Regulasi yang di buat oleh pemerintah seharusnya para supir harus mematuhi aturan yang telah di tetapkan untuk tidak menaikkan dan menurungkan penumpang di luar terminal dan dapat menjadikan terminal sebagai awal keberangkatan dan akhir kedatangan penumpang.
2. Pembinaan, Pemerintah seharunya melakukan sosialisasi kepada seluruh supir angkut yang melakukan pelanggaran yang menaikkan dan menurungkan penumpang di luar terminal.
3. Pengawasan, Pemerintah seharusnya melakukan pengawasan di terminal liar secara rutin agar para supir mengetahui tentang pengawasan tersebut dan pemilik kendaraan mobil plat hitam yang merupakan anggota perwira agar
di berikan sanksi atau tindakan oleh aparat negara yang mempunyai kewenangan.
4. Sanksi administrasi, Kepolisian Lalu Lintas Polrestabes Kota Makassar dan Dinas Perhubungan Kota Makassar dalam memberikan sanksi kepada para supir yang melakukan pelanggaran harus lebih tegas seperti mencabut surat izin trayek serta melakukan penahanan kepada mobil plat hitam yang mengambil penumpang agar mendapatkan efek jerah.
5. Faktor penghambat
a) Pemilik kendaraan yang merupakan oknum perwira yang seharusnya mematuhi peraturan agar di berikan surat teguran agar kendaraannya tidak mengambil penumpang atau barang.
b) Perusahaan Daerah Terminal Makassar Metro selaku pengelola terminal seharusnya tidak memungut retribusi terlalu banyak kepada para supir dan penumpang agar mereka tidak mengeluh untuk masuk ke dalam terminal.
c) Perusahaan Daerah Terminal Makassar Metro selaku pengelola terminal seharusnya lebih memperhatikan keadaan terminal seperti menertibkan para buruh angkut yang meresahkan calo penumpang dan Menggantikan sarana troly agar memudahkan calon penumpang untuk mengankat barangnya.
67
DAFTAR PUSTAKA
Adisasmita Rahardjo .2011. Manajemen Pemerintah Daerah.Yogyakarta : PT Graha Ilmu.
Ali Faried dan Alam Syamsu, 2012. Studi kebijakan pemerintah. Bandung : PT Repika aditama.
Eko. 2013. Pengertian Peranan. (Online). http. //Eko. com/2013/05/Pengertian Peranan. Html. Diakses 09.16 wita hari kamis 12 Desember 2014.
Hisman Syamsi. 2011. Skripsi peranan motivasi taruna dalam proses belajar mengajar pada balai pendidikan dan pelatihan ilmu pelayaran barombong. Makassar : STIA LAN Makassar.
Hamdi, Muchlis. 2002. Bunga Rampai Pemerintahan, Bandung: Watampone:
Yarsif Watampone.
Kansil, C. S .T, 2011. Sistem Pemerintah Indonesia. Jakarta : Bumi Aksara.
Labolo MuhaddaM, 2006. Memahami Ilmu Pemerintahan. Jakarta : PT Raja Grapindo Persada.
Marlok, K.E., 1995. Pengantar Teknik dan Perencanaan Transportasi, Jakarta : Erlanga.
Ndaraha Taliziduhu, 1997. Metode Ilmu Pemerintahan. Jakarta : PT Rineka Cipta.
---. 2000. Kybernology ( ilmu pemerintahan baru ). Jakarta : Rineka Cipta.
---. 2001. Fungsi Pemerintahan. Jakarta: IIP
Osborne David dan Plastrik Peter . 2000 .Memangkas birokrasi., Jakarta : PPM Rasyid, Muhammad Ryaas. 2000. Makna Pemerintahan-Tinjau dari Segi Etika
dan Kepemimpinan. Jakarta : PT. Mutiara Sumber Widya,
---. 2002. Makna Pemerintahan di tinjau dari Segi Etika dan Kepemimpinan, Jakarta: PT. Yarsif Watampone
Syafii, Inu Kencana dkk. 2002. Sistem Pemerintahan Indonesia. Jakarta : Rineka Cipta.
Supriatna, Tjahya. 2007. Aspek Sikap Mental Dalam Manajemen Sumber Daya Manusia. Jakarta : Ninmas Multima.
Sumaryadi, 2006. Perencanaan Pembangunan Daerah Otonom dan Pemberdayaan Masyarakat . Citra Utama.
Soekanto, Soejono. 2006. Sosiologi suatu pengantar. Jakarta : Rajawali Press.
Sujanto, 2007. Cakrawala Otonomi Daerah. Jakarta: Sinar Grafika.
Siagian, Sondang P, 2012. Administrasi Pembangunan : konsep, Dimensi dan Strategi. Jakarta : Bumi Aksara.
Sugiyono. 2012. Memahami Penelitian Kualitatif. Bandung: CV. Alfabeta
Sembiring, Masana. 2012. Budaya Dan Kinerja Organisasi, Bandung : Fokusmedia.
Sugiyono. 2013. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D. Bandung : Alfabeta
Soematri Sri. 1983. Sistem-Sistem Pemerintahan Negara-Negara ASEAN, Tristo, Bandung.
Tim Penyusun Pusat Kamus, 2007. Kamus Besar Bahasa Indonesi. Balai Pustaka.
Jakarta.
Widjaja, W.A.W,1997. Percontohan Otonom Daerah Di Indonesia. Jakarta : Rineka Cipta.
Perda Kota Makassar Nomor 15 Tahun 2006 Tentang Pengelolaan Terminal Penumpang.
Surat Keputusan Wali kota Makassar Nomor : 510/kep/551.23/2004 memutuskan larangan menaikkan dan menurungkan penumpang.
Surat Keputusan Wali Kota Makassar Nomor : 551.05/1181/kep/VII/2014 Pembentukan Tim Terpadu.
Utrecht. 1983. Pengantar Dalam Hukum Indonesia. Jakarta : Ichtiar Baru.
Undang-Undang No. 22 Tahun 2009 Tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.
Iad-eds/ars 2014 Walikota harus turung tangan .fajar,makassar pada 19 Agustus 2014. (www.m.fajar.co.id) di akses 08.16 hari jumat 13 Desember 2014
Konsep peran menurut parah ahli http://adidevi69. wordpress.
com/2013/06/08/konsep-peran-menurut-beberapa-ahli/ di akses 07:10 wita hari kamis 12 juni 2014
Pemkot makassar 2014 masalah terminal bayangan di kota makassar http://www.makassarkota.go.id/berita-227-pemkot-makassar-berjanji-segera-tertibkan-terminal-bayangan.html di akses jam 08:05 wita hari rabu 11 juni 2014
Situs jurnalis warga makassar 2012 aksi demondtrasi gabungan pekerja terminal daya makassar http://makassarnolkm.com/aksi-demontrasi-gabungan-pekerja-terminal-daya-makassar/ di akses 08:15 wita hari rabu 11 juni 2014.
L A M
P
I
R
A
N
Gambar pelanggaran yang di lakukan oleh supir angkutan daerah dan mobil pribadi (plat hitam) menaikkan dan menurungkan penumpang di luar
Terminal Regional Daya (TRD)
Gambar tanda larangan menaikkan dan menurungkan penumpang yang terpasang di luar terminal
Gambar supir angkutan daerah dan mobil pribadi (plat hitam) yang sedang menunggu penumpang di luar terminal
Gambar mobil mobil pribadi (plat hitam) sedang terparkir menunggu penumpang di luar Terminal Regional Daya
Gambar mobil mobil pribadi (plat hitam) yang menghiasi terminal liar yang sedang menunggu penumpang di luar Terminal Regional Daya
Gambar mobil angkutan daerah sedang menurungkan penumpang di luar terminal
Gambar mobil pribadi (plat hitam) sedang menaikkan penumpang di luar terminal
Gambar terminal yang sangat sepi oleh mobil angkutan daerah
Gambar mobil angkutan terminal sepi dan hanya beberapa mobil yang parkir di dalam Terminal Regional Daya
Gambar beberapa mobil pribadi (plat hitam) yang sedang terparkir di area Terminal Regional Daya
Gambar Terminal Regional Daya yang sangat sepi oleh mobil angkutan
Gambar beberapa mobil bus dan angkutan daerah yang sedang terpakir menunggu penumpang di dalam terminal
Gambar Terminal Regional Daya yang sangat sepi oleh mobil angkutan daerah.
Gambar ruang tunggu terminal sepi dan hanya ada beberapa penumpang yang berada di area ruang tunggu di dalam terminal
Gambar surat-surat kendaraan yang kena razia Tim Terpadu
Gambar retribusi yang di bayar supir
DAFTAR NOMOR POLISI KENDARAAN YANG TERJARING
No No Kendaraan Plat kuning/plat hitam
1 DW 1138 UW Plat hitam
2 DD 992 ID Plat hitam
3 DD 1107 JK Plat hitam
4 DD 763 AY Plat hitam
5 DD 1303 UJ Plat hitam
6 DD 1409 AA Plat hitam
7 DD 1986 OI Plat kuning
8 DD 1387 AA Plat hitam
9 DD 1019 UC Plat hitam
10 DD 1076 XL Plat hitam
12 DC 746 BB Plat hitam
13 DD 637 0K Plat hitam
14 DD 1366 UK Plat hitam
14 DD 935 JZ Plat hitam
15 DD 1470 I Plat hitam
16 DD 1060 DC Plat hitam
17 DC 1485 CY Plat hitam
18 DC 1374 OY Plat hitam/ di tahan
19 DD 1154 DK Plat hitam
20 DD 1330 RU Plat hitam
21 DD 1232 XY Plat hitam
22 DD 1484 DB Plat hitam
23 DD 1104 QR Plat hitam
24 DD 1424 ML Plat hitam
25 DD 743 OL Plat hitam
26 DD 1412 OU Plat hitam
27 DD 1432 DY Plat hitam
28 DD 1059 DA Plat hitam
29 DD 1459 OU Plat hitam
30 DD 1498 BJ Plat hitam
31 DD 1025 OK Plat hitam
32 DD 1150 OK Plat hitam
33 DP 1918 AA Plat kuning
34 DD 1241 CX Plat hitam
35 DD 1005 AM Plat hitam
36 DD 1453 BJ Plat hitam
37 DW 1016 AZ Plat hitam
38 DW 1182 AZ Plat hitam
39 DW 1146 BK Plat hitam
40 DW 1113 DA Plat hitam
41 DD 1297 HD Plat hitam
42 DD 1361 LA Plat hitam
43 DD 1305 GD Plat hitam
43 DD 1305 GD Plat hitam