BAB II : EKSISTENSI PUTUSAN PENGADILAN TINDAK
D. Sanksi Pidana Terhadap Pelaku Tindak Pidana
dikemukakan diatas, khususnya dalam kaitan dengan pembahasan unsur-unsur tindak pidana yang dipergunakan untuk menjerat pelaku tindak pidana korupsi dalam kaitannya dengan pemberantasan korupsi, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (khususnya Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Pada Pengadilan Negeri Semarang) dalam menguraikan unsur-unsur dari suatu tindak pidana korupsi telah sesuai dengan konteks atau disiplin ilmu hukum.
D. Sanksi Pidana Terhadap Pelaku Tindak Pidana Korupsi Melalui Putusan Pengadilan Tindak Pidana Korupsi.
Sanksi/pemidanaan yang diberikan terhadap pelaku tindak pidana korupsi melalui putusan pengadilan tindak pidana korupsi sesungguhnya tidak terlepas dari tujuan pemidanaan itu sendiri. Sebagaimana dikemukakan sebelumnya bahwa dalam memberikan sanksi pidana terhadap pelaku tindak pidana yang dalam hal ini juga adalah pelaku tindak pidana korupsi dikenal 3 (tiga) teori tujuan pemidanaan, yaitu:138
1. Teori absolut.
Menurut teori ini pidana dijatuhkan semata-mata karena seseorang telah melakukan suatu kejahatan atau tindak pidana (quia peccatum est). Pidana 138
merupakan akibat mutlak yang harus ada sebagai suatu pembalasan kepada orang yang melakukan kejahatan. Jadi dasar pembenaran dari pidana terletak pada adanya atau terjadinya kejahatan itu sendiri.
2. Teori relatif.
Menurut teori ini memidana bukanlah untuk memuaskan tuntutan absolut dari keadilan. Pembalasan itu sendiri tidak mempunyai nilai, tetapi hanya sebagai sarana untuk melindungi kepentingan masyarakat.
3. Teori gabungan.
Teori ini menjabarkan bahwa tetap menganggap pembalasan sebagai asas dari pidana dan beratnya pidana tidak boleh melampaui suatu pembalasan yang adil. Namun, teori ini berpendirian bahwa pidana mempunyai pelbagai pengaruh, antara lain perbaikan suatu yang rusak dalam masyarakat dan prevensi general.
Dalam penjatuhan sanksi pidana terhadap pelaku tindak pidana korupsi oleh pengadilan tindak pidana korupsi, berbeda halnya dengan tindak pidana umum yang dikenai sanksi dengan menggunakan KUHP, karena Hakim pengadilan tindak pidana korupsi harus memperhatikan adanya sanksi minimum dan maksimum. Hal tersebut memperlihatkan kesungguhan untuk mencegah/memberantas tindak pidana korupsi dengan kesadaran bahwa tindak pidana korupsi merupakan perbuatan yang sangat tercela walaupun jumlah yang dikorupsi tidak seberapa.139
Penjatuhan sanksi pidana dalam putusan pengadilan tindak pidana korupsi dapat dihadiri oleh terdakwa maupun tanpa hadirnya terdakwa.140
139
Leden Marpaung, op.cit, hlm. 78.
Pada dasarnya, apabila ketentuan Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 Jo Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi ditilik secara lebih intens, detail dan terinci, sebenarnya jenis-jenis sanksi pidana yang
140
dapat dilakukan Hakim pengadilan Tindak Pidana Korupsi terhadap terdakwa pelaku tindak pidana korupsi dapat berupa:
1. Terhadap orang yang melakukan tindak pidana korupsi. a. Pidana mati.
Sanksi pidana mati dijatuhkan kepada setiap orang yang secara melawan hukum melakukan perbuatan memperkaya diri sendiri atau orang lain atau suatu korporasi yang dapat merugikan keuangan negara atau perekonomian negara yang dilakukan dalam keadaan tertentu sebagaimana diatur dalam Pasal 2 ayat (2) Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 Tentang Perubahan Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Bahwa yang dimaksud dengan dalam keadaan tertentu adalah sebagai pemberatan bagi pelaku tindak pidana korupsi apabila tindak pidana tersebut dilakukan terhadap dana-dana yang diperuntukkan bagi penanggulangan keadaan bahaya, bencana alam nasional, penanggulangan akibat kerusuhan sosial yang meluas, penanggulangan krisis ekonomi dan moneter, dan penanggulangan tindak pidana korupsi.141
b. Pidana penjara.
Sanksi pidana penjara yang dijatuhkan oleh Hakim Pengadilan tindak pidana korupsi terhadap pelaku tindak pidana korupsi didasarkan pada jenis
141
Perhatikan Penjelasan Pasal 2 ayat (2) Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 Jo. Undang- Undang Nomor 20 Tahun 2001 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.
tindak pidana yang dilakukan oleh pelaku tindak pidana korupsi tersebut, dalam hal ini dapat diuraikan sebagai berikut:142
1. Pidana penjara seumur hidup atau pidana penjara paling singkat 4 (empat) tahun dan paling lama 20 (dua puluh) tahun dan denda paling sedikit Rp. 200.000.000,00 (dua ratus juta rupiah) dan paling banyak Rp. 1.000.000.000,00 (satu miliar rupaih) bagi setiap orang yang secara melawan hukum melakukan perbuatan memperkaya diri sendiri atau orang lain atau suatu korporasi yang dapat merugikan keuangan negara (Pasal 2 ayat (1) UUPTK).
2. Pidana penjara seumur hidup atau pidana penjara paling singkat 1 (satu) tahun dan/atau denda paling sedikit Rp. 50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah) dan paling banyak Rp. 1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah) bagi setiap orang yang dengan tujuan menguntungkan diri sendiri atau orang lain atau suatu korporasi, menyalahgunakan kewenangan, kesempatan atau sarana yang ada padanya karena jabatan atau kedudukan yang dapat merugikan keuangan negara atau perekonomian negara (Pasal 3 UUPTK). 3. Pidana penjara paling singkat 1 (satu) tahun dan paling lama 5 (lima)
tahun atau denda paling sedikit Rp. 50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah) dan paling banyak Rp. 250.000.000,00 (dua ratus lima puluh juta rupiah) bagi setiap orang yang melakukan tindak pidana sebagaimana yang dimaksud dalam Pasal 209 KUHP (Pasal 5 UUPTK).
142
4. Pidana penjara paling singkat 3 (tiga) tahun dan paling paling lama 15 (lima belas) tahun dan/atau denda paling sedikit Rp. 150.000.000,00 (seratus lima puluh juta rupiah) dan paling banyak Rp. 750.000.000,00 (tujuh ratus lima puluh juta rupiah) bagi setiap orang yang melakukan tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 210 KUHP (Pasal 6 UUPTK).
5. Pidana penjara paling singkat 2 (dua) tahun dan paling lama 7 (tujuh) tahun dan/atau denda paling sedikit Rp. 100.000.000,00 (seratus juta rupiah) dan paling sedikir Rp. 350.000.000,00 (tiga ratus lima puluh juta rupiah) bagi setiap orang yang melakukan tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 387 atau Pasal 388 KUHP (Pasal 7 UUPTK).
6. Pidana penjara paling singkat 3 (tiga) tahun dan paling lama 15 (lima belas) tahun dan/atau denda paling sedikit Rp. 150.000.000,00 (seratus lima puluh juta rupiah) dan paling banyak Rp. 750.000.000,00 (tujuh ratus lima puluh juta rupiah) bagi setiap orang yang melakukan tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 415 KUHP (Pasal 8 UUPTK).
7. Pidana penjara paling singkat 1 (satu) tahun dan paling lama 5 (lima) tahun dan/atau denda paling sedikit Rp. 50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah) dan paling banyak Rp. 250.000.000,00 (dua ratus lima puluh juta rupiah) bagi setiap orang yang melakukan tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 416 KUHP (Pasal 9 UUPTK).
8. Pidana penjara paling singkat 2 (dua) tahun dan paling lama 7 (tujuh) tahun dan/atau denda paling sedikit Rp. 100.000.000,00 (seratus juta rupiah) dan paling banyak Rp. 350.000.000,00 (tiga ratus lima puluh juta rupiah) bagi setiap orang yang melakukan tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 417 KUHP (Pasal 10 UUPTK).
9. Pidana penjara paling singkat 1 (satu) tahun dan paling lama 5 (lima) tahun dan/atau denda paling sedikit Rp. 50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah) dan paling banyak Rp. 250.000.000,00 (dua ratus lima puluh juta rupiah) bagi setiap orang yang melakukan tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 418 KUHP (Pasal 11 UUPTK).
10. Pidana penjara seumur hidup dan/atau pidana penjara paling singkat 4(empat) tahun dan paling lama 20 (dua puluh) tahun dan/atau denda paling sedikit Rp. 200.000.000,00 (dua ratus juta rupiah) dan paling banyak Rp. 1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah) bagi setiap orang yang melakukan tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 419, Pasal 420, Pasal 423, Pasal 425, Pasal 435 KUHP (Pasal 12 UUPTK).
11. Pidana penjara paling singkat 3 (tiga) tahun dan paling lama 12 (dua belas) tahun dan/atau denda paling sedikit Rp. 150.000.000,00 (seratus lima puluh juta rupiah) dan paling banyak Rp. 600.000.000,00 (enam ratus juta rupiah) bagi setiap orang yang dengan sengaja mencegah, merintangi atau menggagalkan secara langsung atau tidak langsung penyidikan,
penuntutan dan pemeriksaan disidang pengadilan terhadap tersangka atau terdakwa ataupun para saksi dalam perkara korupsi (Pasal 21).
12. Pidana penjara paling singkat 3 (tiga) tahun dan paling lama 12 (dua belas) tahun dan/atau denda paling sedikit Rp. 150.000.000,00 (seratus lima puluh juta rupiah) dan paling banyak Rp. 600.000.000,00 (enam ratus juta rupiah) bagi setiap orang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28, Pasal 29, Pasal 35, UU No. 31 Tahun 1999 yang dengan sengaja memberikan keterangan yang tidak benar (Pasal 22 UUPTK).
13. Pidana penjara paling singkat 1 (satu) tahun dan paling lama 6 (enam) tahun dan/atau denda paling sedikit Rp. 50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah) dan paling banyak Rp. 300.000.000,000 (tiga ratus juta rupiah) bagi pelanggaran ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 220, Pasal 231, Pasal 421, Pasal 422, Pasal 429 dan Pasal 430 KUHP (Pasal 23 UUPTK).
14. Pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun dan/atau denda paling banyak Rp. 150.000.000,00 (seratus lima puluh juta rupiah) bagi saksi yang tidak memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 31 UU No. 31 Tahun 1999 (Pasal 24 UUPTK).
c. Pidana tambahan.
Bagi terdakwa pelaku tindak pidana korupsi, selain dijatuhi sanksi pidana penjara dapat juga dijatuhi pidana tambahan berupa perampasan barang- barang yang dimiliki dari hasil korups, yaitu:.143
1. Perampasan barang bergerak yang berwujud atau yang tidak berwujud atau barang tidak bergerak yang digunakan untuk atau yang diperoleh dari tindak pidana korupsi, termasuk perusahaan milik terpidana dimana tindak pidana korupsi dilakukan, begitu pula dari barang yang menggantikan barang-barang tersebut.
2. Pembayaran uang pengganti yang jumlahnya sebanyak-banyaknya sama dengan harta yang diperoleh dari tindak pidana korupsi.
3. Penutupan seluruh atau sebahagian perusahaan untuk waktu paling lama 1 (satu) tahun.
4. Pencabutan seluruh atau sebahagian hak-hak tertentu atau penghapusan seluruh atau sebahagian keuntungan tertentu, yang telah atau dapat diberikan oleh pemerintah kepada terpidana.
5. Jika terpidana tidak membayar uang pengganti paling lama dalam waktu 1 (satu) bulan sesudah putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap, maka harta bendanya dapat disita oleh Jaksa dan dilelang untuk menutup uang pengganti tersebut.
6. Dalam hal terpidana tidak mempunyai harta benda yang mencukupi untuk membayar uang pengganti maka terpidana dengan pidana penjara yang lamanya tidak memenuhi ancaman maksimum dari pidana pokoknya sesuai ketentuan UU No. 31 Tahun 1999 dan lamanya pidana tersebut sudah ditentukan dalam putusan pengadilan.
2. Terhadap tindak pidana korupsi yang dilakukan oleh atau atas nama suatu korporasi.
Terhadap tindak pidana korupsi yang dilakukan oleh atau atas nama suatu korporasi, pidana pokoknya yang dapat dijatuhkan adalah pidana denda
143
Moch. Faisal Salam, op.cit, hlm. 130. Perhatikan juga Pasal 18 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 Jo. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.
dengan ketentuan maksimum ditambah 1/3 (satu per tiga). Penjatuhan pidana terhadap suatu korporasi dilakukan dengan prosedur sebagai berikut:144
a. Dalam hal tindak pidana korupsi dilakukan oleh atau atas nama suatu korporasi, tuntutan dan penjatuhan pidana dapat dilakukan terhadap korporasi dan atau pengurusnya.
b. Tindak pidana korupsi dilakukan oleh suatu korporasi apabila tindak pidana tersebut dilakukan oleh orang-orang baik berdasarkan hubungan kerja maupun berdasarkan hubungan lain, bertindak dalam lingkungan korporasi tersebut baik sendiri-sendiri maupun bersama- sama.
c. Dalam hal tuntutan pidana dilakukan terhadap suatu korporasi, korporasi tersebut diwakili oleh pengurus kemudian pengurus yang mewakili korporasi tersebut dapat mewakilkan kepada orang lain. d. Hakim pengadilan tindak pidana korupsi dapat memerintahkan
seupaya pengurus korporasi menghadap sendiri dipengadilan dan dapat pula memerintahkan supaya pengurus tersebut dibawa kesidang pengadilan.
e. Dalam hal tuntutan pidana dilakukan terhadap korporasi, panggilan untuk menghadap dan menyerahkan surat panggilan tersebut disampaikan kepada pengurus ditempat tinggal pengurus berkantor. Berdasarkan uraian tersebut diatas, maka eksistensi pengadilan tindak pidana korupsi dalam melakukan pemberantasan korupsi apabila dikaitkan dengan sanksi pidana yang dijatuhkan terhadap pelaku tindak pidana korupsi melalui putusan pengadilan tindak pidana korupsi dapat dilihat dari berbagai putusan Pengadilan Tindak Pidana Korupsi pada Pengadilan Negeri Semarang sebagai berikut:
1. Perkara Nomor 02/Pid. Sus/2011/PN. Tipikor.Smg. Nama Terdakwa: Setia Budi Bin Dharma Budi Alim.
Terbukti melanggar Pasal: 2 ayat (1) Jo. Pasal 18 UUPTK.
144
Evi Hartanti, op.cit, hlm. 15. Perhatikan juga Pasal 20 ayat (1-6) Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 Jo. Undang-Undang Nomor 20 tahun 2001 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.
Dihukum:145
a. Menyatakan Terdakwa Setia Budi Bin Dharma Budi Alim terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana korupsi.
b. Menjatuhkan pidana dengan pidana penjara selama 6 tahun dan pidana denda sebesar 400 juta dengan ketentuan apabila denda tidak dibayar diganti dengan pidana kurungan selama 4 bulan.
c. Menghukum terdakwa membayar uang pengganti kerugian negara sebesar Rp. 958.068.600, jika uang pengganti tersebut tidak dibayar dalam waktu paling lama satu bulan setelah putusan berkekuatan hukum tetap, maka harta benda milik terpidana akan disita dan dilelang untuk menutupi uang pengganti tersebut. Jika terpidana tidak mempunyai harta benda yang mencukupi untuk membayar uang pengganti tersebut maka diganti dengan pidana penjara selama 6 bulan.
d. Menetapkan membebankan biaya perkara kepada Terdakwa sebesar Rp. 5000.
2. Perkara Nomor 10/Pid. Sus/2011/PN. Tipikor.Smg.
Nama Terdakwa: Wiwik Budi Santoso, SH Bin Ramlan Mardi Utomo. Terbukti melanggar Pasal 3 Jo. Pasal 18 ayat (1) UUPTK.
Dihukum:146
145
Putusan Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Pada Pengadilan Negeri Semarang Nomor: 02/Pid.Sus/2011/PN.Tipikor.Smg. hlm. 172.
146
Putusan Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Pada Pengadilan Negeri Semarang Nomor: 10/Pid.Sus/2011/PN.Tipikor.Smg. hlm. 28.
a. Menyatakan Terdakwa Wiwik Budi Santoso, SH Bin Ramlan Mardi Utomo terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana korupsi.
b. menjatuhkan pidana penjara kepada terdakwa Wiwik Budi Santoso, SH Bin Ramlan Mardi Utomo oleh karena itu dengan pidana penjara selama 4 tahun.
c. Menjatuhkan pidana denda kepada terdakwa Wiwik Budi Santoso, SH Bin Ramlan Mardi Utomo sebesar Rp. 50.000.000,- dengan ketentuan apabila denda tersebut tidak dibayar diganti dengan pidana kurungan selama 3 bulan.
d. Menetapkan agar terdakwa tetap berada dalam tahanan rumah tahanan negara Kls. I Semarang.
e. Membebankan biaya perkara sebesar Rp. 10.000 kepada terdakwa. 3. Perkara Nomor 24/Pid. Sus/2011/PN. Tipikor.Smg.
Nama Terdakwa: 1. Joko Muhammad Dahlan Bin Sumarji. 2 Wahyudi Bin Minto Diyono.
Terbukti melanggar Pasal 2 ayat (1) Jo. Pasal 18 UUPTK Jo. Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.
Dihukum:147
II. Terhadap Terdakwa Joko Muhammad Dahlan Bin Sumarji.
147
Putusan Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Pada Pengadilan Negeri Semarang Nomor: 24/Pid.Sus/2011/PN.Tipikor.Smg. hlm. 29.
a. Menyatakan Terdakwa I Joko Muhammad Dahlan Bin Sumarji telah terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan tindak pidana korupsi. b. Menjatuhkan pidana kepada Terdakwa I Joko Muhammad Dahlan Bin
Sumarji selama 4 Tahun, denda sebesar Rp. 200.000.000,00 subsidair 3 bulan kurungan, serta membayar uang pengganti sebesar Rp. 76.500.000,- dengan ketentuan apabila dalam waktu 1 bulan setelah putusan Hakim mempunyai kekuatan hukum tetap terpidana tidak mempunyai harta benda yang mencukupi untuk membayar uang pengganti maka diganti dengan pidana penjara selama 6 bulan.
c. Menetapkan agar terdakwa tetap berada dalam tahanan.
d. Membebankan biaya perkara sebesar Rp. 5.000,- kepada Terdakwa. III. Terhadap Terdakwa Wahyudi Bin Minto Diyono.
a. Menyatakan Terdakwa II Wahyudi Bin Minto Diyono telah terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan tindak pidana korupsi.
b. Menjatuhkan pidana kepada Terdakwa II Wahyudi Bin Minto Diyono selama 4 Tahun, denda sebesar Rp. 200.000.000,00 subsidair 3 bulan kurungan, serta membayar uang pengganti sebesar Rp. 83.400.000,- dengan ketentuan apabila dalam waktu 1 bulan setelah putusan Hakim mempunyai kekuatan hukum tetap terpidana tidak mempunyai harta benda yang mencukupi untuk membayar uang pengganti maka diganti dengan pidana penjara selama 6 bulan.
d. Membebankan biaya perkara sebesar Rp. 5.000,- kepada Terdakwa. 5. Perkara Nomor 26/Pid. Sus/2011/PN. Tipikor.Smg.
Nama Terdakwa: Niken Prabarini Binti Sudaryanto. Terbukti melanggar pasal 3 Jo. Pasal 18 UUPTK. Dihukum:148
a. Menyatakan Terdakwa Niken Prabarini Binti Sudaryanto terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana korupsi.
b. Menjatuhkan pidana kepada Terdakwa Niken Prabarini Binti Sudaryanto oleh karena itu dengan pidana penjara selama 1 Tahun 8 Bulan.
c. Menjatuhkan pidana denda kepada Terdakwa Niken Prabarini Binti Sudaryanto sebesar Rp. 50.000.000,- dengan ketentuan apabila denda tersebut tidak dibayar diganti dengan pidana kurungan selama 3 bulan. d. Menjatuhkan pidana kepada Terdakwa Niken Prabarini Binti Sudaryanto
untuk membayar uang pengganti sebesar Rp. 59.218.000,- dengan ketentuan apabila dalam waktu 1 bulan setelah putusan Hakim mempunyai kekuatan hukum tetap terpidana tidak mempunyai harta benda yang mencukupi untuk membayar uang pengganti maka diganti dengan pidana penjara selama 3 bulan.
Berdasarkan uraian tersebut diatas, maka untuk mengetahui lebih lanjut eksistensi Pengadilan Tindak Pidana Korupsi dalam memberikan sanksi pidana
148
Putusan Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Pada Pengadilan Negeri Semarang Nomor: 26/Pid.Sus/2011/PN.Tipikor.Smg. hlm. 50.
terhadap pelaku tindak pidana korupsi sebagaimana dipaparkan diatas dalam rangka melakukan pemberantasan tindak pidana korupsi akan diuraikan sebagai berikut:
1. Terhadap Putusan Nomor 02/Pid. Sus/2011/PN. Tipikor.Smg. Dengan Terdakwa Setia Budi Bin Dharma Budi Alim yang terbukti bersalah melakukan tindak pidana sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam Pasal 2 ayat (1) UUPTK, Majelis Hakim Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Pada Pengadilan Negeri Semarang menjatuhkan putusan:149
a. Menyatakan Terdakwa Setia Budi Bin Dharma Budi Alim terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana korupsi.
b. Menjatuhkan pidana dengan pidana penjara selama 6 tahun dan pidana denda sebesar 400 juta dengan ketentuan apabila denda tidak dibayar diganti dengan pidana kurungan selama 4 bulan.
c. Menghukum terdakwa membayar uang pengganti kerugian negara sebesar Rp. 958.068.600, jika uang pengganti tersebut tidak dibayar dalam waktu paling lama satu bulan setelah putusan berkekuatan hukum tetap, maka harta benda milik terpidana akan disita dan dilelang untuk menutupi uang pengganti tersebut. Jika terpidana tidak mempunyai harta benda yang mencukupi untuk membayar uang pengganti tersebut maka diganti dengan pidana penjara selama 6 bulan.
149
Putusan Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Pada Pengadilan Negeri Semarang Nomor: 02/Pid.Sus/2011/PN.Tipikor.Smg. hlm. 172.
d. Menetapkan membebankan biaya perkara kepada Terdakwa sebesar Rp. 5000.
Putusan Majelis Hakim yang dijatuhkan terhadap Terdakwa Setia Budi Bin Dharma Ali sebagaimana tersebut diatas masih berada pada ambang batas maksimum dan minimum sanksi, yaitu: pidana penjara yang dijatuhkan oleh Majelis Hakim adalah 6 Tahun, sedangkan pidana yang diancamkan dalam Pasal 2 ayat (1) UUPTK adalah paling singkat 4 Tahun dan paling lama 20 tahun. Sedangkan terhadap pidana denda juga berada pada ambang batas maksimum dan minimum, yaitu: pidana denda yang dijatuhkan oleh Majelis Hakim adalah 400 Juta, sedangkan pidana denda yang diancamkan dalam Pasal 2 ayat (1) UUPTK paling sedikit 200 Juta dan paling banyak 1 Miliar. 2. Terhadap Putusan Nomor 10/Pid. Sus/2011/PN. Tipikor.Smg. Dengan
Terdakwa Wiwik Budi Santoso, SH Bin Ramlan Mardi Utomo yang terbukti bersalah melakukan tindak pidana sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam Pasal 3 Jo. Pasal 18 ayat (1) UUPTK, Majelis Hakim Pengadilan Tindak Pidana Korupsi pada Pengadilan Negeri Semarang menjatuhkan putusan:150
a. Menyatakan Terdakwa Wiwik Budi Santoso, SH Bin Ramlan Mardi Utomo terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana korupsi.
150
Putusan Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Pada Pengadilan Negeri Semarang Nomor: 10/Pid.Sus/2011/PN.Tipikor.Smg. hlm. 28.
b. Menjatuhkan pidana penjara kepada terdakwa Wiwik Budi Santoso, SH Bin Ramlan Mardi Utomo oleh karena itu dengan pidana penjara selama 4 tahun.
c. Menjatuhkan pidana denda kepada terdakwa Wiwik Budi Santoso, SH Bin Ramlan Mardi Utomo sebesar Rp. 50.000.000,- dengan ketentuan apabila denda tersebut tidak dibayar diganti dengan pidana kurungan selama 3 bulan.
d. Menetapkan agar terdakwa tetap berada dalam tahanan rumah tahanan negara Kls. I Semarang.
e. Membebankan biaya perkara sebesar Rp. 10.000 kepada terdakwa.
Putusan Majelis Hakim yang dijatuhkan terhadap terdakwa Wiwik Budi Santoso, SH Bin Ramlan Mardi Utomo masih berada pada ambang batas maksimum dan minimum sanksi, yaitu: pidana penjara yang dijatuhkan oleh Majelis Hakim adalah 4 Tahun, sedangkan pidana yang diancamkan dalam Pasal 3 UUPTK adalah paling singkat 1 Tahun dan paling lama seumur hidup. Sedangkan terhadap pidana denda juga berada pada ambang batas maksimum dan minimum, yaitu: pidana denda yang dijatuhkan oleh Majelis Hakim adalah 400 Juta, sedangkan pidana denda yang diancamkan dalam Pasal 3 UUPTK paling sedikit 50 Juta Juta dan paling banyak 1 Miliar.
3. Terhadap Putusan Nomor 24/Pid.Sus/2011/PN.Tipikor.Smg. dengan Terdakwa:
II. Wahyudi Bin Minto Diyono.
Terbukti bersalah melakukan tindak pidana sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam Pasal 2 ayat (1) Jo. Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP, Majelis Hakim Pengadilan Tindak Pidana Korupsi pada Pengadilan Negeri Semarang menjatuhkan putusan:151
1. Terhadap Terdakwa I Joko Muhammad Dahlan Bin Sumarji:
a. Menyatakan Terdakwa I Joko Muhammad Dahlan Bin Sumarji telah terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan tindak pidana korupsi.
b. Menjatuhkan pidana kepada Terdakwa I Joko Muhammad Dahlan Bin Sumarji selama 4 Tahun, denda sebesar Rp. 200.000.000,00 subsidair 3 bulan kurungan, serta membayar uang pengganti sebesar Rp. 76.500.000,- dengan ketentuan apabila dalam waktu 1 bulan setelah putusan Hakim mempunyai kekuatan hukum tetap terpidana tidak mempunyai harta benda yang mencukupi untuk membayar uang pengganti maka diganti dengan pidana penjara selama 6 bulan.
c. Menetapkan agar terdakwa tetap berada dalam tahanan.
d. Membebankan biaya perkara sebesar Rp. 5.000,- kepada Terdakwa.
151
Putusan Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Pada Pengadilan Negeri Semarang Nomor: 24/Pid.Sus/2011/PN.Tipikor.Smg. hlm. 29.
2. Terhadap Terdakwa II Wahyudi Bin Minto Diyono:
a. Menyatakan Terdakwa II Wahyudi Bin Minto Diyono telah terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan tindak pidana korupsi.
b. Menjatuhkan pidana kepada Terdakwa II Wahyudi Bin Minto Diyono selama 4 Tahun, denda sebesar Rp. 200.000.000,00 subsidair 3 bulan kurungan, serta membayar uang pengganti sebesar Rp. 83.400.000,- dengan ketentuan apabila dalam waktu 1 bulan setelah putusan Hakim mempunyai kekuatan hukum tetap terpidana tidak mempunyai harta benda yang mencukupi untuk membayar uang pengganti maka diganti dengan pidana penjara selama 6 bulan.
c. Menetapkan agar terdakwa tetap berada dalam tahanan.
d. Membebankan biaya perkara sebesar Rp. 5.000,- kepada Terdakwa.