• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V SIMPULAN DAN SARAN

5.4 Saran Dalam Kaitan Praktis

Peneliti memberikan masukan pada penelitian yang telah diteliti, atau yang ingin meneliti tentang kasus yang sama agar ada perkembangan yang signifikan. Saran peneliti adalah sebagaimana mestinya penelitian ini harus banyak referensi yang dibutuhkan demi mencapai suatu penelitian yang lebih baik lagi.

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

2. 1 Perspektif / Paradigma Kajian

Perspektif adalah suatu kerangka konseptual (conceptual framework), suatu perangkat asumsi, nilai, atau gagasan yang mempengaruhi persepsi kita dan pada gilirannya mempengaruhi cara kita bertindak dalam suatu situasi. Oleh karena itu, tidak ada seorang ilmuan yang berhak mengklaim, bahwa perspektifnya yang benar atau sah, sedangkan perspektif lain salah. Seperti dikemukakan Tucker, oleh karena suatu paradigma adalah suatu pandangan dunia dalam memandang segala sesuatu, paradigma mempengaruhi pandangan kita mengenai fenomena, yakni teori. Teori digunakan peneliti untuk menjustifikasi dan memandu penelitian mereka. Mereka juga membandingkan hasil penelitian berdasarkan teori itu untuk lebih jauh mengembangkan dan menegaskan teori tersebut. Tingkat perkembangan teoritis suatu bidang akademik merupakan indeks kecanggihan dan kematangan disiplin tersebut. Seraya merujuk kepada Kuhn, Tucker dalam buku Deddy Mulyana, mengatakan bahwa disiplin yang belum matang ditandai dengan persaingan di antara paradigm-paradigma, kurangnya khasanah teori yang terintegerasi, dan pengumpulan fakta yang bersifat acak. Namun pendapat Kuhn mungkin hanya cocok untuk ilmu–ilmu alam dan eksakta. Bagi sebagian ilmu sosial, keistimewaan ilmu sosial, justru keanekaragaman perspektifnya. Objek ilmu–ilmu alam (yang statis, tidak punya kemauan bebas) memang berada dengan objek ilmu sosial, yakni manusia, yang mempunyai jiwa dan kemauan bebas. Persaingan paradigma dalam disiplin komunikasi, misalnya, antara lain disebabkan rumitnya fenomena komunikasi. Frank Dance mengakui, disiplin komunikasi tidak punya grand theories, sejumlah teori parsial dan banyak teori yang partikularistik, berdasarkan alasan berikut.

 Sifat prosesual komunikasi yang menyulitkan prediksi.

 Sifat komunikasi yang hadir dimana–mana membuat penjelasan menjadi sulit.

 Kekuatan dan pelecehan yang berasal dari perdebatan paradigmatik.  Persaingan antara disiplin–disiplin yang berkaitan.

Dalam bidang keilmuan, sekali lagi, perspektif akan mempengaruhi definisi, model atau teori kita yang pada gilirannya mempengaruhi cara kita melakukan penelitian. Perspektif tersebut menjelaskan asumsi–asumsinya yang spesifik mengenai bagaimana penelitian harus dilakukan dalam bidang yang bersangkutan. Perspektif menentukan apa yang dianggap fenomena yang relevan bagi penelitian dan metode yang sesuai untuk menemukan hubungan di antara fenomena, yang kelak disebut teori (Mulyana, 2004: 17).

Peneliti memandang bidang ilmunya secara berbeda, ia cenderung menafsirkan fenomena yang sama dengan cara yang berbeda pula. Oleh karena tidak adanya paradigma, model dan sudut pandang yang diterima secara universal, semua interpretasi yang beraneka ragam dan sering tidak konsisten itu sama–sama absah. Keragaman paradigma berguna karena hal itu memberikan berbagai perspektif mengenai fenomena yang sama. Agar metode itu disebut ilmiah, kita harus dapat memahami apa yang kita lakukan, dan bagaimana kesimpulan yang kita peroleh. Berdasarkan kriteria ini, hampir semua metode bersifat ilmiah bila peneliti dapat mempertahankan pengamatan dan hasilnya secara sistematis dan teratur karena ada kejelasan dari panduan yang ada, antara lain memperhatikan tingkat kepercayaan data dan tafsiran, serta keterbukaan terhadap kritik dari public. Seperti ditegaskan Tucker, bila suatu paradigma menjelaskan dan meramalkan suatu fenomena, paradigma itu memperoleh lebih banyak pendukukung. Lebih banyak lagi ilmuan yang mengeksplorasi, memperbaiki dan menyempurnakan paradigma tersebut. Penelitian–penelitian dan laporan–laporan penelitian berdasarkan paradigma tersebut berlipat ganda sementara paradigma– paradigma saingannya memperoleh sedikit perhatian. Lebih banyak orang menerima paradigma yang bersangkutan dan para penentangnya tersisihkan. Menurut Tucker, paradigma tersebut berkembang sepanjang terus memungkinkan kita berhasil mengatasi problem kita dan menjelaskan fenomena yang kita teliti (Mulyana, 2004: 18).

Paradigma merupakan suatu kepercayaan atau prinsip dasar yang ada dalam diri seseorang tentang pandangan dunia dan bentuk cara pandangnya

terhadap dunia. Paradigma adalah suatu cara pandang untuk memahami kompleksitas dunia nyata. Sebagaimana dikatakan Patton, paradigma tertanam kuat dalam sosialisasi para penganut dan praktisinya. Paradigma menunjukkan pada mereka apa yang penting, abash dan masuk akal. Paradigma juga bersifat normatif, menunjukkan kepada praktisnya apa yang harus dilakukan tanpa perlu melakukan pertimbangan eksistensial atau epistemologis yang panjang (Mulyana, 2004: 9).

2.1.1 Perspektif Konstruktivisme

Konstruktivisme sebagian didasarkan pada teori George Kelly tentang gagasan pribadi yang menyatakan bahwa manusia memahami pengalaman dengan berkelompok serta membedakan kejadian menurut kesamaan dan perbedaannya. Perbedaan yang dirasakan tidak terjadi secara alami, tetapi ditentukan oleh hal–hal yang bertentangan dalam sistem kognitif individu. Pasangan yang bertentangan, seperti tinggi/pendek, panas/dingin dan hitam/putih yang digunakan untuk memahami kejadian dan banyak hal, disebut gagasan pribadi. Gagasan ini merupakan sumber nama dari teori Kelly teori gagasan pribadi. Sistem kognitif seseorang terdiri dari bannyak perbedaan. Dengan memisahkan pengalaman ke dalam kategori–kategori, individu memberinya pemaknaan. Sebagai contoh, anda mungkin melihat ibu anda sebagai seseorang yang tinggi dan ayah anda sebagai seseorang yang pendek, kopi itu panas dan susu itu dingin, jaket favorit anda berwarna hitam dan topi favorit anda berwarna putih. Gagasan disusun ke dalam skema interpretif yang mengidentifikasi sesuatu dan mendapatkan sebuah objek dalam sebuah kategori. Dengan skema interpretif, kita memahami sebuah kejadian dengan mendapatkannya dalam sebuah kategori yang lebih besar (Littlejohn, 2011: 180).

Konstruktivisme mengenali bahwa gagasan memiliki asal mula sosial dan dipelajari melalui interaksi dengan orang lain. Selanjutnya, budaya terlihat sangat penting dalam menentukan makna dari kejadian. Kebudayaan dapat mempengaruhi cara–cara tujuan komunikasi

ditetapkan, bagaimana tujuan dicapai, seperti jenis–jenis gagasan yang digunakan dalam skema kognitif.

Pengumpulan kepatuhan adalah salah dari beberapa jenis komunikasi yang telah diteliti dari sebuah sudut pandang yang terpusat pada orang. Pesan persuasive berkisar dari yang paling sedikit hingga yang paling terpusat pada orang. Pada tingkat yang paling sederhana, misalnya, seseorang dapat mencoba untuk mencapai satu tujuan kepatuhan dengan memberi perintah atau ancaman. Ada tingkat yang lebih kompleks, seseorang juga dapat mencoba membantu orang lain memahami kenapa kepatuhan itu penting dengan memberikan alasan– alasan untuk patuh. Pada sebuah tingkat kerumitan yang jauh lebih tinggi, seorang pelaku komunikasi dapat mencoba untuk mendapatkan simpati dengan membangun empati atau pemahaman terhadap sebuah situasi. Ketika pesan seseorang menjadi lebih kompleks, mereka perlu menggunakan lebih banyak tujuan dan lebih terpusat pada orang.

Pesan–pesan yang menghibur juga telah diteliti dari sudut pandang seorang ahli konstruktivis. Manusia mencoba untuk memberikan dukungan sosial bagi orang lain dalam berbagai cara dan beberapa metode ini lebih canggih dari yang lain. Peneliti tentang pesan–pesan yang menghibur secara umum mendukung pandangan bahwa individu yang lebih kompleks secara kognitif menghasilkan pesan yang lebih canggih daripada individu yang kurang kompleks, bahwa pesan–pesan yang canggih lebih terpusat pada orang daripada pesan yang kurang canggih dan bahwa semakin canggih pesannya, maka semakin efektif dalam memberikan kenyamanan daripada pesan yang kurang canggih.

Sama canggihnya, konstruktivisme pada dasarnya masih merupakan sebuah teori pemilihan strategi. Prosedur penelitian konstruktivis biasanya meminta subjek untuk memilih jenis–jenis pesan yang berbeda dan membaginya menurut kategori–kategori strategi (Littlejohn, 2011: 181).

Paradigma konstruktivis berbasis pada pemikiran umum tentang teori-teori yang dihasilkan oleh peneliti dan teoritis aliran konstruktivis.

Little Jhon mengatakan bahwa teori–teori aliran ini berlandaskan pada ide bahwa realitas bukanlah bentuk yang objektif, tetapi dikonstruksi melalui proses interaksi dalam kelompok, masyarakat dan budaya.

Pada pandangan konstruktivisme berpendapat bahwa semesta secara epitimologi merupakan hasil konstruksi sosial. Pengetahuan manusia adalah konstruksi yang dibangun dari proses kognitif dengan interaksinya dengan dunia objek material. Pengalaman manusia terdiri dari interpretasi bermakna terhadap kenyataan dan bukan reproduksi kenyataan. Dengan demikian dunia muncul dalam pengalaman manusia secara terorganisasi dan bermakna. Keberagaman pola konseptual/kognitif merupakan hasil dari lingkungan historis, kultural, dan personal yang digali secara terus menerus. Jadi tidak ada pengetahuan yang koheren, sepenuhnya transparan dan independent dari subjek yang menamati. Manusia ikut berperan, ia menentukan pilihan perencanaan yang lengkap, dan menuntaskan tujuannya di dunia. Pilihan–pilihan mereka buat dalam kehidupan sehari–hari lebih sering didasarkan pada pengalaman sebelumnya, bukan pada prediksi secara ilmiah teoritis.

Bagi kaum konstruktivis, semesta adalah suatu konstruksi artinya bahwa semesta bukan dimengerti sebagai semesta yang otonom, akan tetapi dikonstruksi secara sosial, dan dikarenanya plural. Konstruktivisme menolak pengertian ilmu sebagai yang “terberi” dari objek pada subjek yang mengetahui. Unsur subjek dan objek sama–sama berperan dalam mengonstruksi ilmu pengetahuan. Konstruksi membuat cakrawala baru dengan mengakui adanya hubungan antara pikiran yang membentuk ilmu pengetahuan dengan objek atau eksistensi manusia. Dengan demikian paradigma konstruktivis mencoba menjembatani dualisme objektivisme subjektivisme dengan mengonfirmasi peran subjek dan objek dalam konstruksi ilmu pengetahuan. Pandangan konstruktivis mengakui adanya interaksi antara ilmuwan dengan fenomena yang dapat memayungi berbagai pendekatan atau paradigma dalam ilmu pengetahuan, bahkan bukan hanya dalam ilmu-ilmu manusia saja, akan tetapi dalam batas

tertentu juga dalam ilmu–ilmu alam, seperti yang ditunjukkan dalam fisika kuantum.

Konsekuensinya, kaum konstruktivis menganggap tidak ada makna yang mandiri, tidak ada deskripsi yang murni objektif. Kita tidak dapat secara transparan melihat “apa yang ada di sana” atau “yang ada di sini” tanpa termediasi oleh teori, kerangka konseptual atau bahasa yang disepakati secara sosial. Semesta yang ada di hadapan kita bukan satu yang ditemukan, melainkan selalu termediasi oleh paradigma, kerangka konseptual, dan bahasa yang dipakai. Karena itu, pendekatan yang aprioristic terhadap semesta menjadi tidak mungkin. Ide tentang tidak adanya satu representasi dan ketersembunyian semesta membuka peluang pluralisme metodologi, karena tidak adanya satu representasi yang memiliki aksen istimewa terhadap semesta.

Bahasa bukan cerminan semesta akan tetapi sebaliknya bahasa berperan membentuk semesta. Setiap bahasa mengkonstruksi aspek-aspek spesifik dari semesta denga carannya sendiri (bahasa puisi/sastra, bahasa sehari–hari, bahasa ilmiah). Bahasa merupakan hasil kesepakatan sosial serta memiliki sifat yang tidak permanen, sehingga terbuka dan mengalami evolusi. Berbagai versi tentang objek–objek dan tentang dunia muncul dari berbagai komunitas sebagai respon terhadap problem tertentu, sebagai upaya mengatasi masalah tertentu dan cara memuaskan kebutuhan dan kepentingan tertentu. Masalah kebenaran dalam konteks konstruktivis bukan lagi permasalahan fondasi atau representasi, melainkan masalah kesepakatan pada komunitas tertentu (Ardianto, 2007: 153).

2.1.2 Sejarah Perspektif Konstruktivisme

Piaget (1970) dalam buku Filsafat komunikasi Ardianto, membedakan dua aspek berfikir dalam pembentukan pengetahuan ini: (1) aspek figurative dan (2) aspek operatif.Aspek berfikir figurative adalah imajinasi keadaan sesaat dan statis. Ini menyangkut persepsi, imaginasi, dan gambaran mental seseorang terhadap suatu objek atau fenomena.

Aspek berfikir operatif lebih berkaitan dengan transformasi dari suatu level ke level lain. Ini menyangkut operasi intlektual atau sistem transformasi. Setiap level keadaan dapat dimengerti sebagai akibat dari transformasi tertentu atau sebagai titik tolak bagi transformasi lain. Dengan kata lain, aspek yang lebih esensial dari berfikir adalah aspek operatif. Berfikir operatif inilah yang memungkinkan seseorang untuk mengembangkan pengetahuan dari suatu level tertentu ke level yang lebih tinggi.

Secara ringkas dalam buku Filsafat komunikasi Ardianto, gagasan konstruktivisme mengenai pengetahuan dapat dirangkum sebagai berikut:

a) Pengetahuan bukanlah merupakan gambaran dunia kenyataan belaka, tetapi selalu merupakan konstruksi kenyataan melalui kegiatan subjek. b) Subjek membentuk skema kognitif, kategori, konsep, dan struktur yang

perlu untuk pengetahuan.

c) Pengetahuan dibentuk dalam struktur konsepsi seseorang. Struktur konsepsi membentuk pengetahuan bila konsepsi itu berlaku dalam berhadapan dengan pengalaman–pengalaman seseorang (Ardianto, 2007: 155).

Konstruk Hubungan Dalam Komunikasi

Seperti kita ketahui, konstruktivisme meyakini bahwa segala sesuatu ada karena konstruksi tertentu. Pada komunikasi berbasis diri, kita sudah melihat bagaimana suatu pesan tidaklah netral melainkan dikonstruksi oleh sistem kognitif tertentu. Lalu bagaimanakah komunikasi berbasis diri ini dapat menghasilkan komunikasi antarpersona yang mensyaratkan adanya hubungan antar pengirim dan penerima pesan? Menurut kalangan konstruktivis, satu hubungan yang bersifat individual akan menghasilkan pesan yang lebih berbasis ‘diri’. Kemudian Burleson (1987) pada buku filsafat komunikasi Ardianto, menyatakan bahwa pengeluaran pesan berbasis ‘diri’ bergantung pada kecakapan dalam

menggambarkan dan mengambil kesimpulan karakteristik psikologi para pendengarnya secara internal

Faktor lain yang mempengaruhui proses komunikasi berbasis diri adalah konsep tentang tujuan. Setiap individu dalam interaksinya selalu berusaha untu memanejen tujuan. Tujuan itu bisa bersifat instrumental (seperti, mengajak atau memberitahukan seseorang) dan relasional (mendukung, penampilan seseorang, menunjukan pesona diri). B.J O’keefe Dan Delia (1982) menyatakan bahwa pesan berbasis-diri lebih kompleks dalam tindakannya karena mereka menentukan tujuan yang beragam. O’Kefee menggunakan trem kompleksitas tindakan (behavioural complexity) untuk merujuk pada bagaimana kebutuhan yang kompleks ini diatur dalam suatu interaksi. Produksi pesan yang kompleks ini bisa dikaitkan dengan kompleksitas kognitif. Secara khusus, individu dengan konstruk sistem yang berbeda akan membuat definisi yang kompleks tentang situasi antarpesona dan akan, sebagai hasil, memproduksi pesan yang lebih bersifat kompleks serta lebih terpusat pada diri (Ardianto, 2007: 163).

Penelitian pada hakikatnya merupakan wahana untuk menemukan kebenaran atau untuk lebih mudah membenarkan kebenaran. Usaha untuk mengejar kebenaran dilakukan oleh para filsuf, peneliti maupun para praktisi melalui model-model tertentu. Model-model tersebut biasanya disebut dengan paradigma. Paradigma merupakan model atau pola tentang bagaimana sesuatu distruktur (bagian dan hubungannya) atau bagaimana bagian-bagian berfungsi.

2. 2 Kajian Pustaka

Ilmu komunikasi merupakan ilmu yang mempelajari, menelaah dan meneliti kegiatan–kegiatan komunikasi manusia yang luas ruang lingkup (scope)-nya dan banyak dimensinya. Para mahasiswa selalu mengklasifikasikan aspek–aspek komunikasi ke dalam jenis–jenis yang satu sama lain berbeda konteksnya (Effendy, 2003: 52).

Komunikasi

Frank Dance mengambil sebuah langkah besar dalam mengklarifikasikan konsep kasar ini dengan menggarisbawahi sejumlah elemen yang digunakan untuk membedakan komunikasi. Ia mendapatkan tiga poin dari “perbedaan konseptual yang penting” yang membentuk dimensi–dimensi dasar komunikasi. Dimensi yang pertama adalah tingkat pengamatan atau keringkasan. Beberapa definisi termasuk luas dan bebas; yang lainnya terbatas. Sebagai contoh, definisi komunikasi sebagai “proses yang menghubungkan semua bagian–bagian yang terputus” merupakan definisi yang umum. Definisi yang lain, komunikasi sebagai “sebuah sistem (misalnya telefon atau telegraf) untuk menyampaikan informasi dan perintah (misalnya di Angkatan Laut) yang bersifat membatasi”.

Perbedaan yang kedua adalah tujuan. Beberapa definisi hanya memasukkan pengiriman dan penerimaan pesan dengan maksud tertentu; yang lainnya tidak memaksakan pembatasan ini. Berikut ini adalah contoh definisi yang menyebutkan maksud: “situasi–situasi tersebut merupakan sebuah sumber yang mengirimkan sebuah pesan kepada penerima dengan tujuan tertentu untuk mempengaruhi perilaku penerima”. Sebuah definisi yang tidak memerlukan tujuan adalah sebagai berikut: “Komunikasi merupakan sebuah proses menyamakan dua atau beberapa hal mengenai kekuasaan terhadap seseorang atau beberapa orang”.

Dimensi ketiga yang digunakan untuk membedakan definisi komunikasi adalah penilaian normatif. Beberapa definisi menyertakan pernyataan tentang keberhasilan, keefektifan, atau ketepatan; definisi– definisi yang lain tidak berisi penilaian yang lengkap seperti itu. Sebagai contoh, definisi berikut menganggap bahwa komunikasi dikatakan berhasil jika: “komunikasi merupakan pertukaran sebuah pemikiran atau gagasan.” Asumsi dalam definisi itu adalah bahwa sebuah pemikiran atau gagasan berhasil ditukarkan. Di sisi lain, sebuah definisi yang tidak menilai apakah hasilnya berhasil atau tidak: “Komunikasi [adalah] penyampaian informasi.” Di sini, informasi disampaikan, tetapi tidak

penting apakah informasi diterima dan dipahami atau tidak (Littlejohn, 20011; 5).

Komunikasi adalah hal yang paling wajar dalam pola tindakan manusia, tetapi juga paling komplit dan rumit. Bagaimana tidak, komunikasi sudah berlangsung semenjak manusia lahir, dilakukan secara wajar dan leluasa seperti halnya bernafas, namun ketika harus membujuk, membuat tulisan, mengemukakan pikiran dan menginginkan orang lain bertindak sesuai dengan harapan kita, barulah disadari bahwa komunikasi adalah sesuatu yang sulit dan berbelit–belit.

Dalam mendefinisikan atau menafsirkan komunikasi juga terjadi kesulitan. Kesulitan ini muncul Karena konsep komunikasi itu sendiri adalah sesuatu yang abstrak dan mempunyai berbagai makna. Kesulitan lainnya karena makna komunikasi yang digunakan sehari–hari berbeda dengan penggunaan komunikasi yang dimaksud oleh para ahli komunikasi untuk kepentingan keilmuan.

Sejak tahun empat puluh atau tepatnya era 1930-1960, definisi– definisi mengenai komunikasi telah banyak diungkap, ketika itu para ahli di Amerika Serikat mulai merasakan kebutuhan akan “Science of

Communication”, di antaranya adalah Carl I. Hovland, seorang sarjana

psikologi yang menaruh perhatian pada perubahan sikap.

Menurutnya, ilmu komunikasi adalah “suatu usaha yang sistematis untuk merumuskan secara tegas azas–azas dan atas dasar azas–azas tersebut disampaikan informasi serta dibentuk pendapat dan sikap (a systematic attempt to formulate in rigorous fashion the principles by which information is transmitted and opinions and attitudes are formed). Adapun mengenai komunikasinya sendiri, Hovland merumuskan sebagai “proses dimana seseorang (komunikator) menyampaikan perangsang– perangsang (biasanya lambang–lambang dalam bentuk kata-kata) untuk untuk merubah tingkah laku orang lain atau komunikate (Purba, 2006: 29).

Komunikasi adalah hal yang paling wajar dalam pola tindakan manusia, tetapi juga paling komplit dan rumit. Komunikasi berlangsung

semenjak kita lahir, dilakukan dengan wajar dan leluasa seperti halnya bernafas, namun ketika harus membujuk, membuat tulisan, mengemukakan pikiran dan menginginkan orang lain bertindak sesuai dengan harapan kita, barulah disadari bahwa komunikasi adalah suatu yang sulit dan berbelit-belit. Proses komunikasi lain misalnya yang dikembangkan oleh Herbert G Hicks dan C Ray Gullet yang didasarkan pada model David K. Berlo dan model yang dikembangkan oleh Wilbur Schramn, menggambarkan komunikasi dimulai dari sumber sebagai titik awal komunikasi itu berasal. Dalam diri sumber terjadi proses pengkodean (encoding) yakni ketika ide dirubah menjadi kode atau simbol bahasa, gerak gerik dan sebagainya di alam pikiran kemudian diekspresikan menjadi sebuah pesan berupa produk fisik seperti kata – kata yang diucapkan, dicetak, ekspresi wajah yang disampaikan melalui saluran tetrtentu kepada penerima. Pesan tersebut diterima berupa ide atau simbol yang terlebih dahulu melalui proses pembacaan kode (decoding) dalam diri penerima dengan menyusun kembali guna memperoleh pengertian. Demikian selanjutnya terjadi proses yang sama dalam diri komunikan yang berubah menjadi komunikator (sumber) yaitu proses encoding maupun decoding dalam menyampaikan pesan sebagai feedback atau respon. Proses ini terus berlanjut secara sirkuler sampai akhirnya proses komunikasi itu berakhir. Dari penjelasan tersebut diketahui bahwa unsur – unsur dalam proses komunikasi menjadi semakin berkembang dengan menambah encoding, decoding dan feedback (Purba, 2006: 40)

Berdasarkan penjelasan di atas dapat dipahami bahwa unsur–unsur komunikasi terdiri dari :

1. Sumber (communicator) 2. Pembentukan kode (encoding) 3. Pesan (message)

4. Saluran (channel)

5. Penerima (communicant) 6. Pembacaan kode (decoing)

7. Umpan balik (feedback) 8. Efek (effect)

(Purba, 2006: 40)

Tujuan komunikasi

Ada beberapa tujuan ilmu komunikasi yang terdapat pada buku Onong Uchjana Effendy (2003) yang berjudul Ilmu, Teori Dan Filsafat Komunikasi yaitu:

a. Mengubah opini/pendapat/pandangan (to change the opinion) b. Mengubah prilaku (to change the behavior)

c. Mengubah masyarakat (to change the society)

Jenis komunikasi

Sesungguhnya komunikasi bukan hanya multi makna dan multi definisi, tetapi cara membaginya pun juga bermacam – macam. Untuk memahami taksonomi (klasifikasi) komunikasi, maka kita dapat melacak pada awal pertumbuhannya sebagai ilmu.

Komunikasi dibagi atas dua bagian yaitu komunikasi media (beralat) dan komunikasi tatap muka (non media). Selanjutnya komunikasi media dibedakan lagi atas dua jenis, yaitu komunikasi dengan menggunakan media massa (pers, radio, film dan televisi) dan komunikasi dengan menggunakan media individual (surat telegram, telepon dan sebagainya).

Jika komunikasi dititikberatkan pada sifat pesan, maka komunikasi dapat dibagi pula ke dalam dua jenis, yaitu komunikasi massa (isinya bersifat umum) dan komunikasi persona (isinya bersifat pribadi). Komunikasi massa dapat menggunakan media massa, sedangkan komunikasi persona boleh dilakukan dengan menggunakan alat seperti surat, telepon dan telegram.

Selain dari pembagian di atas, terdapat juga cara membagi komunikasi berdasarkan pengirim dan penerima atau peserta komunikasi. Dengan demikian komunikasi yang berlangsung antara dua orang,

dinamakan komunikasi persona, yang berlangsung dalam kelompok disebut komunikasi kelompok (ada kelompok kecil dan kelompok besar), dan yang berlangsung dengan massa, dinamakan komunikasi massa. Selain dari ketiga jenis komunikasi itu (persona, kelompok dan massa), para sosiologi menambahkan satu lagi jenis komunikasi, yaitu komunikasi organisasi yaitu komunikasi yang berlangsung didalam organisasi (formal).

Di samping itu sering pula dijumpai komunikasi dibagi berdasarkan lokasi atau kawasan, seperti komunikasi internasional, komunikasi regional dan komunikasi nasional. Tercakup di dalamnya adalah komunikasi lintas budaya, yaitu komunikasi yang berlangsung antara masyarakat yang mempunyai kebudayaan yang berbeda, baik dalam lingkungan suatu bangsa (antar suku), maupun dalam lingkungan antar bangsa.

Pembagian yang lain, didasarkan kepada tujuan dan jenis pesan. Dalam hal ini komunikasi dapat dibedakan dalam banyak jenis antara lain:

a) Komunikasi Politik (kampanye,agitasi, propaganda), b) Komunikasi Perdagangan (reklame, advertensi, promosi), c) Komunikasi Kesehatan (penyuluhan keluarga berencana). d) Komunikasi Agama (dakwa, tablig, khotbah),

Dokumen terkait