BAB III : Metode Penelitian
SARAN DAN KESIMPULAN
Bab ini akan memaparkan kesimpulan yang menjawab permasalahan dalam penelitian. Selain itu, bab ini juga akan mengemukakan saran praktis dan metodologis yang diharapkan dapat bermanfaat bagi penelitian dengan tema gambaran strategi regulasi emosi pasca putus cinta.
A. KESIMPULAN
1. Ketiga responden memiliki perbedaan dalam melakukan serta memilih strategi regulasi emosi yang dikemukakan oleh Gross (2014). Responden I dan II memiliki persamaan yaitu melakukan tiga strategi regulasi emosi, tetapi perbedaannya adalah responden I tidak melakukan strategi regulasi emosi situation modification dan attention deployment, sedangkan responden II tidak melakukan situation modification dan response modulation. Berbeda dengan responden III yang melakukan setiap strategi regulasi emosi.
2. Dari semua responden, responden III berhasil dalam menghasilkan emosi positif dengan melakukan kelima strategi regulasi emosi. Hal ini terbukti dari munculnya respon emosi positif ketika menghadapi situasi dan kondisi tertentu yang berkaitan dengan mantan kekasihnya. Hal ini terjadi dengan durasi waktu yaitu selama sekitar 1 tahun atau 12 bulan. Semakin responden melakukan strategi regulasi emosi pada setiap situasi maupun kondisi yang berhubungan dengan mantan kekasihnya tersebut, maka semakin berkurang intensitas emosi negatif yang muncul sampai pada akhirnya emosi negatif tersebut tidak pernah muncul kembali.
3. Dari lima strategi regulasi emosi, ditemukan bahwa ada satu strategi yang dilakukan oleh ketiga responden dan menghasilkan emosi positif yang cukup stabil dan berpengaruh pada usaha atau cara responden dalam meregulasi emosinya, yaitu cognitive change. Strategi ini juga terbukti bisa membantu ketiga responden dalam mengurangi durasi munculnya emosi negatif walaupun tidak secara utuh menghilangkan emosi negatif dalam waktu yang singkat. Dalam proses meregulasi emosi, ketiga responden selalu mengubah pemikirannya ke hal yang lebih positif seperti berusaha menerima apa yang sudah terjadi pada mereka dan memberikan makna serta pembelajaran kepada diri mereka masing-masing terkait dengan hubungan romantis atau yang biasa disebut dengan „pacaran‟
tersebut.
4. Strategi regulasi emosi situation selection juga terbukti dapat mengurangi munculnya emosi negatif pada ketiga responden. Hal ini terlihat dari ketiga responden yang melakukan strategi ini. Walaupun dilakukan oleh ketiga responden, tetapi sifatnya hanya sementara. Hal ini terjadi karena kadang kala ketiga responden tidak bisa menghindari atau mendekati situasi atau kondisi yang harus dilakukan atau dilalui sehingga emosi negatifnya bisa muncul kembali.
5. Strategi regulasi emosi situation modification tidak ditemukan pada dua responden yaitu responden I dan II, tapi ditemukan pada responden III. Hal ini disebabkan oleh karakteristik sosial dari masing-masing responden. Responden I dan II memiliki karakteristik sosial yang lebih interaktif pada lingkungan atau orang-orang sekitar dan lebih banyak menemukan emosi positif dari luar diri mereka sendiri. Hal inilah yang membuat responden I dan II memilih untuk menghindar dari kesendirian. Sedangkan responden III justru memiliki
karakteristik sosial yang lebih senang menyendiri dan tidak suka keramaian, sehingga responden III sangat mengurangi intensitas bersosialisasi dengan lingkungannya agar lebih bisa mengontrol emosinya ketika dalam situasi sendiri.
6. Strategi regulasi emosi attention deployment juga ditemukan pada dua responden, yaitu responden II dan III tetapi tidak pada responden I. Strategi ini merupakan versi internal dari strategi situation modification. Responden I tidak bisa mengalihkan perhatiannya ketika emosi negatif terkait mantan kekasihnya tersebut muncul. Alhasil, responden I akan lebih memilih untuk mengindari situasi-situasi yang akan memunculkan emosi negatifnya tersebut. Tetapi pada responden II dengan karakteristik sosialnya yang sama dengan responden I, melakukan strategi regulasi emosi dengan cara yang justru menimbulkan emosi negatif yang lebih besar. Jika pada responden III, strategi ini sangat sesuai dengan karakteristik sosialnya, sehingga ia bisa fokus dalam mengalihkan perhatiannya dengan cara meningkatkan keimanannya.
7. Strategi regulasi emosi yang terakhir, yaitu response modulation ditemukan pada dua responden yaitu responden I dan III dan tidak ditemukan pada responden II.
Hal ini berkaitan dengan pemilihan strategi regulasi emosi yang sesuai dengan karakteristik individu masing-masing responden. Responden I pada akhirnya bisa mengatur reaksi emosi negatif yang muncul karena tidak memaksakan diri untuk melakukan cara yang tidak sesuai dengan karakteristik individunya sendiri, dan hal ini juga terjadi pada responden III. Tetapi pada responden II yang terjadi justru ia tidak dapat mengatur reaksi dari emosi negatifnya karena melakukan cara yang tidak sesuai dengan karakteristik individunya, sehingga pada akhirnya emosi negatifnya masih sering kembali atau muncul.
8. Ada satu hal lagi yang justru cukup besar pengaruhnya pada Responden dalam melakukan regulasi emosi yaitu social support. Social support yang terjadi pada ketiga responden pun berbeda-beda. Jika pada Responden I, walaupun tidak mendapatkan support dari keluarganya tetapi justru ia dapatkan dari teman-teman dekatnya. Sama halnya dengan Responden III yang tidak mendapatkan social support dari keluarga dekatnya melainkan dari sepupu perempuannya. Sedangkan responden II, sama sekali tidak mendapatkan social support baik dari keluarga maupun teman-temannya.
B. SARAN 1. Saran Praktis
a. Individu yang mengalami peristiwa putus cinta tentu mengalami respon emosi yang berbeda-beda. Oleh karena itu, individu perlu mengetahui dan memahami karakteristik individu masing-masing agar nantinya dapat melakukan strategi regulasi emosi yang sesuai dan menghasilkan emosi yang positif atau emosi yang diharapkan.
b. Hubungan orang-orang terdekat sangat mempengaruhi dalam memberikan support agar individu bisa bangkit dari keterpurukan pasca putus cinta. Oleh karena itu, perlu dilakukan penanganan lebih lanjut guna memperbaiki hubungan individu dan lingkungan sekitarnya baik teman dekat, orang tua, kakak/adik, atau bahkan saudara sepupu.
2. Saran Bagi Penelitian Selanjutnya
a. Data-data penelitian dapat diperluas dengan melakukan tringulasi data.
Peluasan data dapat dilakukan dengan pihak kedua pasangan mantan kekasih.
Hal ini diharapkan dapat memberikan gambaran yang lebih jelas mengenai kronologi dan hubungan antara mereka berdua.
b. Penelitian selanjutnya diharapkan dapat mengukur aspek lain yang dapat lebih mengungkapkan kondisi individu terutama individu yang menghadapi peristiwa terkait regulasi emosi pasca putus cinta dalam konteks psikologi seperti psychological well-being, gambaran grief dan aspek lainnya.