• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB VI PENUTUP

6.2 Saran

Berdasarkan analisis data dan kesimpulan dari hasil penelitian yang telah dikemukakan, maka dapat diberikan saran-saran yang nantinya diharapkan dapat memperbaiki atau menyempurnakan pelaksanaan Program Keluarga Harapan (PKH) di Kecamatan Medan Sunggal di tahun anggaran berikutnya. Saran-saran yang dimaksud meliputi:

1. Kegiatan resertifikasi harus dilakukan dengan komitmen dan tegas agar program dapat bergilir kepada KSM lainnya namun harus dipastikan kesiapan program perlindungan sosial lainnya sehingga dapat membawa rumah tangga yang telah lepas dari PKH ke dalam program mereka masing-masing. Jumlah pendamping perlu diminimalisir dan disesuaikan dengan jumlah peserta yang didampingi.

2. Koordinasi dengan berbagai pihak yang berkecimpung dalam pengentasan kemiskinan perlu dilakukan oleh pendamping. Pengentasan kemiskinan tidak akan bisa diwujudkan oleh satu program yaitu PKH, jadi program ini perlu disinergikan dengan program-program lain yang memang berhak didapatkan oleh KSM.

3. Program ini masih perlu diperluas sehingga mampu mencakup sebagian besar keluarga sangat miskin di Medan Sunggal. Metode pendataan dan penentuan prioritas sasaran harus lebih tepat lagi. Tim pendata harus melibatkan tim independen misalnya ada komisioner seperti LSM, wartawan, aparat pemerintah, dan institusi antara pemerintah dan masyarakat seperti PKK, Karang Taruna, KMPI, bahkan kalangan intelektual. Jadi melibatkan tim terpadu dalam melakukan pendataan. Jadi, tidak ada alasan untuk mengeluh karena semua pihak turut dalam pendataan. Bila ada data yang salah, maka itu merupakan kesalahan bersama. Pendataan tidak dimonolopi oleh satu pihak saja. Kemudian perlu satu rumusan yang utuh tentang kriteria kemiskinan dan bisa diterima berbagai pihak yang menyelenggarakan pembangunan terkait pengentasan kemiskinan.

4. Selain melakukan sosialisasi intensif yang dipahami sebagai proses memberikan informasi kepada penerima bantuan tentang aturan operasional program dan esensi dari program, sosialisasi pembinaan moral juga harus dilakukan. Peserta PKH perlu diberi motivasi untuk bersyukur terhadap apa yang dimiliki, berterima kasih terhadap pemberian orang lain, dan berusaha dengan kemampuan sendiri untuk mengubah nasib bukan bergantung karena ketidakmampuannya.

5. Pendamping harus terus mengawal pemanfaatan bantuan ini agar hasilnya memberi manfaat yang tepat bagi peserta PKH. Fitur penting lain yang perlu mendapatkan perhatian adalah mekanisme pembayarannya. Pembayaran yang dilakukan melalui bank akan memberi manfaat karena

mereka dapat belajar menabung, dan tabungan dapat digunakan di kemudian hari daripada dihabiskan untuk kebutuhan konsumtif.

Sumber Buku

Buku Pedoman Umum PKH. 2008. Direktorat Jenderal Bantuan dan Jaminan Sosial Departemen Sosial Republik Indonesia.

Buku Kerja Pedoman Pelaksanaan Program Keluarga Harapan. 2011. UPPKH Kementerian Sosial dan TNP2K.

Bungin, Burhan. 2012. Metodologi Penelitian Kualitatif (Akualisasi Metodologis Kearah Ragam Varian Kontemporer). Jakarta: PT Rajagrafindo.

Dunn, Willian N. 2000. Pengantar Analisis Kebijakan Publik. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Mardalis. 1995. Metode Penelitian: Suatu Pendekatan Proposal. Jakarta: Bumi Aksara.

Maraya, Satriana. 2011. Evaluasi Penyelenggaraan Program Pelatihan Reguler di UPTP Balai Latihan Kerja Industri Makasar. Makassar: Universitas Hassanuddin.

Medan Sunggal dalam Angka 2014. 2014. Badan Pusat Statistik. Modul Diklat TOT PKH. 2007. Jakarta: Pusdiklat Kesos.

Nazara, Suahasil dan Sri Kusumastuti Rahayu. 2013. Program Keluarga Harapan (PKH): Program Bantuan Dana Tunai Bersyarat di Indonesia.

Singarimbun, Masri. 1995. Metode Penelitian Survey. Jakarta: LP3ES.

Soemitro, Sutyastie dkk. 2002. Kemiskinan dan Ketidakmerataan di Indonesia. Jakarta: PT Rineka Cipta.

Subagyo, Joko. 2004. Metode Penelitian dalam Teori dan Praktek. Jakarta: PT. Rineka Cipta.

Subarsono, AG. 2005. Analisis Kebijakan Publik. Yogyakarta: Penerbit Pustaka Pelajar.

Tangkilisan.2003. Kebijakan Publik yang Membumi. Yogyakarta: Lukman Offset. Winarno, Budi. 2007. Kebijakan Publik Teori dan Proses. Yogyakarta: MedPress.

Sumber Internet

2014) November 2014) November 2014) PEDOMAN WAWANCARA

1. Bagaimana gambaran Program Keluarga Harapan di Kecamatan Medan Sunggal?

2. Apakah hasil yang dicapai dari program ini sudah sesuai dengan tujuan awalnya?

3. Bagaimana prosedur-prosedur dan aturan-aturan dalam pelaksanaan program ini?

4. Apakah hasil yang telah dicapai program ini, sudah dapat menjawab permasalahan kemiskinan yang ada di Kecamatan Medan Sunggal?

5. Apakah manfaat yang diberikan oleh pemerintah kepada keluarga sangat miskin melalui program ini sudah terdistribusi secara merata ke seluruh lapisan masyarakat?

6. Apakah program yang dilaksanakan oleh pemerintah sudah sesuai dengan kebijakan yang telah ditetapkan sebeumnya?

7. Apakah program dan kebijakan yang telah ditetapkan oleh pemerintah sudah sesuai dengan keinginan dan kebutuhan keluarga sangat miskin? 8. Apakah program ini telah memberikan keuntungan kepada keluarga sangat

miskin (target group)?

9. Apakah kelompok sasaran memperoleh bantuan seperti yang sudah didesain dalam program?

10.Apakah program ini mempengaruhi perilaku masyarakat?

11. Sejauh ini, apa hasil yang telah dicapai dari pelaksanaan program ini?

1. Bagaimana gambaran Program Keluarga Harapan (PKH) di Kecamatan Medan Sunggal?

2. Bagaimana pelaksanaan program ini? Apakah sudah sesuai dengan tujuan awalnya?

3. Bagaimana prosedur-prosedur dan aturan-aturan dalam pelaksanaan program ini?

4. Apakah hasil yang telah dicapai program ini sudah dapat menjawab permasalahan kemiskinan yang ada di Kecamatan Medan Sunggal?

5. Apakah manfaat yang diberikan oleh pemerintah kepada keluarga sangat miskin melalui program ini sudah terdistribusi secara merata ke seluruh lapisan masyarakat?

6. Apakah program yang dilaksanakan oleh pemerintah sudah sesuai dengan kebijakan yang telah ditetapkan sebeumnya?

7. Apakah program dan kebijakan yang telah ditetapkan oleh pemerintah sudah sesuai dengan keinginan dan kebutuhan keluarga sangat miskin? 8. Apakah program ini telah memberikan keuntungan kepada keluarga sangat

miskin (target group) dan bagaimana mekanisme pengukurannya?

9. Apakah kelompok sasaran memperoleh bantuan seperti yang sudah didesain dalam program?

10.Apakah program ini mempengaruhi perilaku masyarakat?

11. Sejauh ini, apa hasil yang telah dicapai dari pelaksanaan program ini? 12.Apa saja yang menjadi kewenangan Kepala Seksi Kesejahteraan Sosial

dalam program ini?

a. Identitas Informan

1. Nama :

2. Usia : ..… tahun 3. Pendidikan :

SD/SLTP/SLTA(sederajat)/Diploma/Sarjana 4. Menerima Bantuan PKH Sejak : 20…..

b. Daftar Pertanyaan A. EFEKTIVITAS

1. Bagaimana pelaksanaan Program Keluarga Harapan di Kecamatan Medan Sunggal?

2. Bagaimana prosedur pemberian bantuan yang diberikan oleh pemerintah bagi keluarga sangat miskin yang ingin mendapatkan bantuan?

3. Apakah Anda sebagai masyarakat sudah memahami dengan jelas prosedur dalam mendapatkan bantuan itu?

4. Apakah Program Keluarga Harapan di Kecamatan Medan Sunggal sudah terlaksana sesuai terlaksana sesuai dengan prosedur yang telah ditetapkan? 5. Apakah dengan adanya prosedur yang diberikan tersebut, proses

pemberian bantuan pada Program Keluarga Harapan menjadi lebih mudah?

6. Dalam melaksanakan tugasnya, apakah para pelayan publik sudah melaksanakan tugasnya dengan benar sesuai dengan fungsinya masing-masing?

7. Apakah Program Keluarga Harapan yang telah dilaksanakan di Kecamatan Medan Sunggal sudah mencapai hasil atau tujuan yang diinginkan sejak awal?

B. KECUKUPAN

8. Masalah apa yang teratasi dengan adanya Program Keluarga Harapan yang telah dilaksanakan di Kecamatan Medan Sunggal?

9. Apakah setelah adanya Program Keluarga Harapan, terjadi peningkatan pelayanan kesehatan dan pelayanan pendidikan bagi keluarga sangat miskin?

C. PEMERATAAN

10.Apakah bantuan yang didapat rumah tangga sangat miskin dari Program Keluarga Harapan di Kecamatan Medan Sunggal sesuai dengan peraturan yang ditetapkan?

11.Apakah bantuan yang diterima dari Program Keluarga Harapan sama rata untuk semua keluarga sangat miskin?

12. Apakah manfaat yang diterima dari Program Keluarga Harapan sama rata untuk semua keluarga sangat miskin?

13.Apakah Program Keluarga Harapan sudah menjangkau seluruh keluarga sangat miskin yang ada di Kecamatan Medan Sunggal?

D. RESPONSIVITAS

14.Apakah Program Keluarga Harapan yang dilaksanakan di Kecamatan Medan Sunggal sesuai dengan keinginan masyarakat?

15.Apakah pemerintah atau pemberi layanan memberi bantuan sesuai dengan keinginan dan harapan masyarakat sebagai penerima manfaat?

E. KETEPATAN

16.Apakah hasil yang telah dicapai dari Program Keluarga Harapan tersebut sudah memberikan manfaat kepada masyarakat (kelompok sasaran)?

17.Apakah perubahan perilaku yang dialami masyarakat dari Program Keluarga Harapan tersebut?

HASIL WAWANCARA

A. Hasil Wawancara dengan Pendamping PKH Kecamatan Medan Sunggal, Yulisnina, S. Ag.

1. Program ini masih berjalan dengan lancar tidak ada masalah yang begitu besar meskipun dalam kenyataannya masih ada yang pro dan kontra. Rata-rata masyarakat yang pro adalah mereka yang menerima bantuan sedangkan yang kontra adalah yang tidak menerima bantuan.

2. Pelaksanaan program ini sudah sesuai dengan tujuan awalnya yaitu mengentaskan mata rantai kemiskinan. Dalam pelaksanaan, pendamping juga dibantu ketua kelompok. Ketua kelompok berfungsi untuk menyampaikan informasi yang didapat pendamping dari UPPKH Kota kepada anggota kelompok. Informasi mengenai anggota kelompok yang mengalami perubahan data baik hamil, melahirkan, anaknya berpindah sekolah, tamat sekolah, atau meninggal didapat dari ketua kelompok. Setelah itu barulah pendamping melakukan pendataan. Ketua kelompok membantu pendamping untuk melaksanakan tugasnya terkait dengan informasi mengenai anggota kelompok karena keterbatasan pendamping dan banyaknya peserta yang ditanggungjawabi oleh pendamping yaitu 184 orang.

3. Prosedur-prosedur dan aturan-aturan sudah ada dan dalam pelaksanaannya sudah berjalan. Semua KSM harus memenuhi kewajibannya, misalnya yang mempunyai anak balita harus dibawa setiap bulan ke posyandu untuk hal kesehatan, bagi yang mempunyai anak usia sekolah harus tetap melaksanakan pendidikannya di sekolah masing-masing.

Peserta harus didampingi saat pencairan dana karena pihak kantor pos tidak mengetahui nominal uang yang dikeluarkan. Selain itu perlu pendamping untuk memastikan bahwa orang yang mengambil dana adalah orang yang benar dan tidak digantikan oleh orang lain. Kemudian, pendamping jugalah yang mengisi nama dan nominal uang pada formulir pencairan dana. Awalnya pendamping melakukan verifikasi data dan mengumpulkan hasilnya kepada operator di UPPKH Kota.Setelah dikelola operator, pendamping kembali

melakukan cross check pada data dan akhirnya dilakukan closing data. Akhirnya terbitlah keterangan nama dan nominal uang yang didapatkan masing-masing KSM dan dari keterangan tersebutlah nantinya pendamping mengisi formulir pencairan dana. Saat pertemuan kelompok sebelum pencairan, biasanya hasil keterangan tersebut langsung diumumkan oleh pendamping sehingga bila ada pemotongan dan KSM tidak mengetahuinya, pendamping langsung bisa menjelaskan dan membuktikannya lewat formulir verifikasi ke fasdik dan faskes.

Masyarakat didampingi ke posyandu karena mereka minder.Dalam bayangannya kader-kader posyandu kurang ramah, namun setelah ada PKH mereka mau tidak mau memang diharuskan datang.Selain itu pendamping juga melakukan monitoring terhadap konsistensi peserta dalam memenuhi kewajibannya.Bahkan, beberapa peserta PKH dijemput oleh pendamping ke rumah masing-masing agar membawa anaknya ke posyandu.Beberapa peserta terkadang tidak membawa anaknya ke posyandu karena anaknya sakit dan tidak bisa diimunisasi.

Pendamping berkoordinasi dengan TKSK untuk mendata peserta PKH yang belum memiliki Kartu Keluarga Sejahtera (KKS) adalah kartu yang diterbitkan oleh Pemerintah sebagai penanda keluarga kurang mampu, sebagai pengganti Kartu Perlindungan Sosial (KPS).

Mengenai kunjungan ke peserta, selain untuk pemutakhiran data, pendamping juga mengunjungi peserta yang tidak hadir dalam pertemuan kelompok untuk menyampaikan informasi atau peserta yang tidak hadir ke posyandu untuk menanyakan alasan ketidakhadiran dan memberi arahan agar tetap melaksanakan kewajibannya.

Pencairan di kantor pos sudah terjadwal satu kelurahan dalam satu hari. Jadi sewaktu pencairan, semua pendamping hadir setiap hari meskipun pada hari tersebut bukanlah jadwal pencairan wilayah binaannya. Hal ini dilakukan karena peserta yang tidak bisa mengambil dana sesuai jadwalnya dapat mengambilnya di hari berikutnya sedangkan pendamping harus membuat rekap harian jumlah KSM berdasarkan wilayah, tanggal, dan nominal yang

mengambil dana PKH. Rekapan tersebut juga harus ditandatangani oleh pihak kantor pos.

Resertifikasi dilakukan pada tahun 2013.Pendamping diberi pelatihan sebelum membuat laporan resertifikasi. Data yang telah dihimpun oleh pendamping kemudian dikirim ke UPPKH Pusat dan dari pusat akan dikeluarkan hasil resertifikasi apakah bantuan diperpanjang (transisi) atau diberhentikan (graduasi). Saat hasil resertifikasi telah keluar, pendamping mendapat pelatihan lagi untuk menindaklanjuti hasil tersebut.Pertemuan pertama dilakukan dengan anggota dan mengundang tokoh lingkungan setempat (tolingset) untuk menyampaikan hasil resertifikasi.Peserta PKH yang terkena graduasi boleh mengajukan keberatan melalui formulir yang telah disediakan.Di pertemuan yang kedua, formulir keberatan yang telah diisi peserta harus mendapat persetujuan dan tanda tangan dari dua tolingset, ketua kelompok, dan pendamping.Peserta PKH juga ada yang menerima status graduasinya dan ada pula yang menolak.Hasilnya ada 14 peserta PKH yang mengalami graduasi saat resertifikasi. Namun hingga kini belum ada lagi instruksi dari pusat untuk kelanjutan proses resertifikasi.

4. Hasil yang dicapai oleh program ini belum 100% karena bila sudah 100% program ini sudah dihapuskan. Jumlah peserta PKH yang mendapat bantuan menurun dari tahap III pencairan tahun 2014 bulan Oktober yaitu 197 KSM menjadi 184 KSM pada bulan Desember yang merupakan tahap IV pencairan tahun 2014. Hal ini diakui pendamping terjadi karena setelah dilakukan pemutakhiran data, peserta PKH tidak lagi memenuhi persyaratan yaitu ibu hamil, memiliki balita, dan anak sekolah SD/SMP (non kategori). Bagi peserta PKH yang telah meninggal, penghapusan sebagai penerima bantuan PKH tidak dilakukan. Pendamping akan melakukan pendataan mengenai siapa yang mengasuh anak peserta PKH, kemudian bantuan disalurkan melalui pihak yang mengasuh anak dan tetap harus digunakan untuk keperluan kesehatan dan pendidikan. Ada juga anak yang mengalami keterbelakangan mental yang meskipun usianya setara dengan usia anak SMP, namun dia bersekolah di SD, anak tersebut masuk dalam kategori SD dan menerima bantuan.

Tidak ada masalah yang terjadi dalam laporan PKH karena program memang tidak ada masalah.Verifikasi tetap berlanjut, tanggapan pihak di faskes dan fasdik juga baik, dan tidak ada keluhan dari masyarakat.Masalah yang terjadi hanya di awal-awal peluncuran program yaitu masalah identitas diri atau kepemilikan KK dan KTP. Saat pencairan dana, selain membawa kartu PKH, peserta juga harus membawa bukti identitas diri. Kemudian Dinas Sosial berkoordinasi dengan Dinas Kependudukan.Para pendamping diperintahkan untuk mendata peserta PKH yang tidak memiliki identitas diri dan kemudian langsung diurus.

Pemutakhiran data secara dilakukan sebulan sekali, namun secara global dilakukan pertiga bulan sesuai dengan jadwal pencairan.Jadi, apabila pencairan dilakukan pada bulan Desember, dilakukan verifikasi pada bulan November untuk data Agustus, September, dan Oktober. Hasil tersebutlah yang nantinya dijadikan acuan untuk pencairan dana pada bulan Desember. 5. Manfaat yang diberikan juga belum merata ke seluruh lapisan masyarakat

karena program ini dijalankan sesuai dengan data yang didapat dari BPS. Jadi yang mendapat bantuan hanyalah mereka yang datanya diberikan oleh BPS. Bagi masyarakat yang merasa kurang mampu namun tidak mendapat bantuan, tidak menjadi tanggung jawab pendamping karena hal tersebut di luar kewenangan pendamping. Jadi pendamping tidak bisa membantu masyarakat tersebut.

6. Penerima bantuan mengakui bahwa PKH telah banyak membantu, namun penerima bantuan yang akhirnya bantuannya dihentikan karena anaknya tidak ada lagi yang memenuhi persyaratan untuk menerima bantuan berharap bantuan ini diperpanjang hingga SMA karena biaya saat SMA jauh lebih besar dibandingkan biaya untuk wajib belajar 9 tahun.

Pendamping sudah memberi arahan pada peserta PKH untuk memanfaatkan dana sebaik-baiknya. Anak dari peserta PKH pada umumnya sudah mendapatkan BOS, maka pendamping mengarahkan peserta PKH agar menggunakan dana untuk membeli alat-alat sekolah, transportasi, dan uang saku anak.

Karakteristik yang membedakan peserta PKH di Sunggal dan Lalang ialah warga di Lalang pada umumnya lebih mengharapkan bantuan dibandingkan warga di Sunggal. Hal ini karena saat ada pendataan ataupun pertemuan kelompok, warga Lalang langsung mengindikasikan bahwa akan ada bantuan lain dan langsung menanyakan bantuan yang baru pada pendamping, padahal tidak ada. Sedangkan pada warga di Sunggal tidak ditemui hal-hal seperti itu. 7. Terdapat keuntungan yaitu penerima yang awalnya mengalami kesulitan

dalam menyekolahkan anak dan pergi ke puskesmas menjadi lebih terbantu. Selain itu, ada pertemuan kelompok setiap bulan. Dalam pertemuan, penerima bantuan PKH diberi kesempatan untuk menyampaikan segala keluh kesahnya. Hal ini banyak membantu masyarakat yang awalnya malu atau takut untuk menyuarakan pendapatnya. Masyarakat menjadi lebih berani berbicara dan terbuka.

8. Bantuan yang diberikan sudah sesuai dengan program yang dibuat. Sempat beredar kabar bahwa ada pemotongan jumlah bantuan oleh pendamping PKH, padahl bantuan tersebut dipotong karena penerima bantuan yang telah melalaikan kewajibannya. Bahkan ada beberapa masyarakat yang bantuannya habis karena terpotong semua. Memang sejak 2013 potongan hanya 10% setiap bulan, namun sebelumnya potongannya 50%, jadi ada juga yang bantuannya habis terpotong.

9. Program ini membuat masyarakat lebih menyadari pentingnya pendidikan dan kesehatan. Masyarakat ekonomi rendah biasanya memiliki rasa minder terhadap kalangan yang lebih tinggi seperti dokter. Namun dengan adanya PKH, mereka berkurang rasa mindernya karena terbiasa berinteraksi dengan dokter sehingga merasa akrab dan dirangkul oleh orang-orang dengan status yang lebih tinggi dari mereka.

10.Hasil yang dicapai KSM setelah mendapat PKH tentu sangat banyak. Mereka lebih menyadari pentingnya pendidikan dan kesehatan. Selain itu, masyarakat lebih berani berkomunikasi dan menyampaikan pendapat.

11.Mengenai laporan kegiatan, memang tidak dicantumkan tanggal pada rencana kegiatan. Ini terjadi karena kami bekerja berdasarkan kondisi yang terjadi di

lapangan sehingga tidak dapat diprediksi jadwal yang pasti dalam setiap kegiatan dan tidak semua kegiatan dapat dilakukan sesuai rencana.

B. Hasil Wawancara dengan Kepala Seksi Kesejahteraan Sosial Kecamatan Medan Sunggal, Drs. Ruslan Isra Pulungan.

1. Program Keluarga Harapan di Medan Sunggal sudah disalurkan atau didistribusikan kepada warga sasaran sehingga sasaran yang diinginkan oleh pemerintah dapat tercapai. Namun kita melihat ada kendala-kendala dalam hal pemanfaatan bantuan oleh rumah tangga sasaran misalnya penggunaan setelah menerima bantuan yang perolehannya tidak digunakan oleh rumah tangga kepada apa yang dimaksud sebagai tujuan dari program artinya di luar dari tujuan awal, misalnya bantuan untuk keperluan anak untuk menunjang pendidikan atau sekolah yang digunakan untuk belanja. Hal ini berkaitan dengan mental masyarakat penerima bantuan PKH dan disarankan ini perlu pengarahan dari pendamping.

2. Pelaksanaan program belum sepenuhnya sesuai dengan tujuan awal diluncurkannya PKH karena ada kendala seperti yang disebutkan tadi yaitu masalah mental manusianya termasuk masyarakat dan pengelola.

3. Sudah ada prosedur-prosedur dan aturan-aturan yang baku namun disana-sini perlu penyempurnaan terutama berkaitan dengan penyempurnaan aparat penyelenggara baik dari pihak pendamping, pemerintah, dan pihak yang berkaitan dengan pelaksanaan program ini. Inilah pentingnya policy dan pengawasan untuk mengawasi secara ketat penyaluran bantuan dan pemanfaatannya di rumah tangga.

4. Hasil yang dicapai belum 100% menjawab masalah kemiskinan yang ada di Medan Sunggal, mungkin berkisar 50-60%. Perlu pendataan ulang secara terus menerus karena ada kalanya seseorang dalam 3 bulan awal berada dalam posisi miskin namun tetap mendapat bantuan hingga bulan selanjutnya padahal statusnya sudah berada di atas garis kemiskinan. Di sisi lain, ada orang yang awalnya tidak miskin namun karena ada maslah seperti sakit atau bangkrut, dia lebih miskin yang lebih membutuhkan bantuan namun tidak mendapat bantuan karena tidak terdata saat program pertama kali diluncurkan.

Kemudian, pendataan terhadap rumah tangga sasaran perlu lebih difokuskan kepada kriteria miskin yang sama antara dinas terkait. Misalnya miskin menurut Kantor Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana berbeda dengan miskin menurut BPS (Badan Pusat Statistik), berbeda pula dengan Departemen Sosial. Jadi perlu satu rumusan yang utuh tentang kriteria kemiskinan dan bisa diterima berbagai dinas yang menyelenggarakan pembangunan terkait pengentasan kemiskinan. Inikan perlu revisi data.Pendataan yang akurat dilakukan setiap tahun.Ada revisi data.Jangan lagi menggunakan data 2011 untuk tahun 2014-2015. Tim pendata harus melibatkan tim independen misalnya ada komisioner seperti LSM, wartawan, aparat pemerintah, dan institusi antara pemerintah dan masyarakat seperti PKK, Karang Taruna, KMPI, bahkan mahasiswa. Jadi melibatkan tim terpadu dalam melakukan pendataan. Jadi nanti tidak ada alasan untuk mengeluh karena semua pihak turut dalam pendataan.Bila data yang ada salah, maka itu merupakan kesalahan bersama.Pendataan tidak dimonolopi oleh satu pihak saja.Hal yang terjadi sekarang, masyarakat menujukan kesalahan kepada kepala lingkungan dan lurah.Padahal yang melakukan pendataan adalah BPS. Dua hal utama yaitu perlu penyediaan data awal yang akurat dan perlu tim pendataan yang terpadu untuk selalu melakukan pendataan secara berkala minimal per tahun.

Berkaitan juga dengan keluhan masyarakat yang tidak mendapat bantuan. Sebagai Kasi Kesos ya kami hanya bisa menampung keluhan dan mengecek apakah masyarakat terdata sebagai penerima bantuan karena hanya nama yang terdata saja yang berhak menerima bantuan. Jika tidak terdaftar, maka hal ini disampaikan ke Dinsosnakertrans dan BPS. Itulah perlunya tim pendata yang terpadu. Apabila tim sudah terbentuk, harusnya masalah ini dapat disampaikan kepada tim untuk ditinjau kembali termasuk oleh TKSK (Tenaga Kerja Sosial

Dokumen terkait