BAB VI. Penutup
6.2. Saran
Melihat dari pelaksanaan P2KP di Kelurahan Sei Sikambing B, ada beberapa saran yang penulis anggap perlu untuk dipertimbangkan:
1. Perlunya peningkatan sarana dan prasarana yang mendukung berjalannya P2KP di Kelurahan Sei Sikambing B.
2. Perlunya meningkatkan pemahaman masyarakat akan sikap positif masyarakat sehingga mereka akan lebih aktif berpartisipasi dalam kegiatan, hal ini dilakukan dapat dilakukan oleh pihak BKM yang dibantu oleh masyarakat yang telah merasakan keberhasilan implementasi BLM tahap I.
3. Perlunya peningkatan peran Pemda dalam pelaksanaan P2KP di Kelurahan Sei Sikambing B.
4. Perlunya sikap komitmen yang lebih tinggi dari anggota BKM dalam menjalankan tugas kemasyarakatan.
DAFTAR PUSTAKA
BUKU:
Abdul Wahab, Solichin. Analisis Kebijakan: dari formulasi ke implementasi kebijakan
Negara. Jakarta: Bumi Aksara, 1991.
Buku Pedoman Umum P2KP-3, Edisi Oktober 2005
Hikmat, Harry. Strategi Pemberdayaan Masyarakat. Bandung, Humaniora Utama Press,2001.
Jones, Charles O. Pengantar Kebijakan Publik. Jakarta, PT. Raja Hrasindo Persada, 1991.
Korten, C. David. Menuju Abad Ke-21: Tindakan Sukarela dan Agenda Global. Jakarta, Yayasan obor Indonesia, 2002.
Nawawi, Hadari, Metode Penelitian Bidang Sosial, yogyakarta, Universitas Gajah Mada Press, 1990
Putra, Fadillah. Paradigma Kritis dalam Studi Kebijakan Publik. Yogyakarta, Pustaka Pelajar, 2003.
Singarimbun, Masri. Metode Penelitian Survey. Jakarta, LP3ES, 1995.
Subarsono,AG. Analisa Kebijakan Publik. Yogyakarta, Pustaka Pelajar, 2005.
Sugiono, Metode Penelitian Administrasi, Bandung, C.V. Alfabeta, 2005
Suharto, Edi. Analisis Kebijakan Publik: Panduan Praktis Mengkaji Masalah dan
Kebijakan Sosial. Bandung, Alfabeta, 2005.
Suharto, Edi. dkk., Kemiskinan dan Keberfungsian Sosial: Studi Kasus Rumah Tangga
Miskin di Indonesia, Bandung: STKSPress, 2004.
Sulistyani, Ambar Teguh, “Penyaluran Kemitraan Dan Model-Model Pemberdayaan”, Gava Media, Yogyakarta,2004.
Sumodiningrat, Gunawan. Pemberdayaan Masyarakat dan Jaring Pengaman Sosial. Jakarta, Gramedia, 1999.
Syafiie, Inu Kencana., Tandjung, Djamaludin., Modeong, Suparadan., Ilmu Administrasi
Publik. Jakarta, Rineka Cipta, 1999.
Tangkilisan, Hessel Nogi S. Implementasi Kebijakan Publik: Transformasi Pikiran
George Edwards. Yogyakarta, YPAPI, 2003.
Yusran, Andi. Kelembagaan Partisipasi Kewenangan. Suska Press, Riau, 2006.
INTERNET:
• Menurut bapak apakah latar belakang dilaksanakannya P2KP?
HASIL WAWANCARA
Hasil Wawancara dengan Abdul Husen (27 thn) selaku Fasilitator Kelurahan. Wawancara tanggal 11 Desember 2008
A. Penafsiran.
Jawab:
P2KP dilakukan karena melihat garis kemiskinan di Indonesia khususnya Sumatera Utara yang cukup banyak. Oleh karena itu dibutuhkan program-program yang
realisasinya ke masyarakat. Sebenarnya program kemiskinan itu banyak, Cuma pelakunya adalah pemerintah dan sering salah sasaran. P2KP dibentuk supaya sasaran program penanggulangan kemiskinan tepat.
• Menurut bapak prinsip-prinsip apa saja yang harus dipegang dalam pelaksanaan P2KP?
Jawab:
Nilai-nilai luhur yang jujur, ikhlas, proaktif, dan rasa kebersamaan.
B. Pengorganisasian.
• Apakah pelaksanaan P2KP di kelurahan ini memiliki program kerja yang jelas? Jawab:
Menurut hemat saya sudah sangat jelas, karena mulai dari persiapan administrasi masyarakat sudah diajari cara membuat proposal. BKM membuat rencana anggaran biaya, dan setiap pembelian sekecil apapun itu harus ada bonnya. Inilah letak transparansi itu tadi, atau tertib administrasi. Yang memberi penjelasan untuk hal- hal itu tadi adalah saya sebagai fasilitator kelurahan dan dilakukan ketika sosialisasi awal. Tapi setelah adanya BKM pihak masyarakat jika ingin bertanya, maka bertanya kepada pihak BKM saja dan BKM bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan masyarakat. Tapi ketika ada pertanyaan-pertanyaan yang tidak bisa dijawab oleh BKM maka tidak ada salahnya saya harus turun untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan dan keluhan-keluhan masyarakat ini.
• Apakah sumber daya yang ada baik SDM, keuangan, dan fasilitas cukup
Jawab:
Menurut saya sudah cukup baik.
• Menurut bapak apakah anggota BKM yang terpilih adalah orang-orang yang tepat dan berkomitmen tinggi untuk berperan dengan maksimal dalam pelaksanaan P2KP?
Jawab:
Yang duduk di sini di BKM menurut saya adalah orang-orang yang pantas, memang dari awal masuknya P2KP agak kacau. Setelah terpilih menjadi anggota BKM saya lihat kinerja mereka agak bagus. Untuk melakukan team work mereka betul-betul mampu dan bekerja sesuai tupoksi. Jadi tupoksi ini berjalan sesuai dengan aturan- aturan yang ada dan Alhamdulillah ketika ada LPJ masyarakat tidak ada yang komplain karena BKM menjalankan kegiatan-kegiatannya dengan lancar.
• Bagaimana dengan fasilitas yang tersedia di BKM, apakah sudah cukup baik? Jawab:
Kalau fasilitas kurang cukup. Sebenarnya BKM harus punya computer supaya program-program ke depan berjalan lebih lancer seperti untuk administrasi. Segalanya sebenarnya tidak boleh pakai tulis tangan. Printer juga seharunya ada. Tapi kita jugakan harus melihat dana yang diberikan oleh P2KP ini bukanlah sangat besar biarpun bermanfaat. Makanya diharapkan BKM bisa melakukan channeling, misalnya ke perusahaan-perusahaan untuk menawarkan program- program ini, swasta maupun BUMN. Dan arah ke sana sudah ada, kita kemarin sudah berbicara dengan pihak jamsostek, jadi mereka ada program juga untuk
pemberdayaan masyarakat sekitar 2,5 % atau 2%, itulah yang ingin kita ambil, jadi untuk sementara masih pada tahap lobi-lobi saja.
• Darimana dana Bantuan Langsung Masyarakat ini berasal? Jawab:
Dana P2KP dari Bank Dunia 50% dan APBN 50%. BLM I, II, III untuk tahap pertama ada Rp 500.000.000,00. BLM I dananya dari Bank Dunia yaitu Rp 100.000.000,00. BLM II dananya dari APBD sekitar Rp 250.000.000,00. BLM III dananya dari Bank Dunia sekitar Rp 150.000.000,00.
• Apakah menurut bapak dana yang didapat sudah mencukupi untuk melaksanakan P2KP dengan efektif?
Jawab:
Kurang cukup menurut saya. Jumlah KK miskin banyak, sementara untuk dana social saja perorangnya Cuma Rp 100.000,00 sementara KK miskin masih banyak yang belum terbantu, tapi sebenarnya bukan dana bantuan itu yang kita harapkan, ini Cuma dana rangsangan saja, yang kita harapkan dalaha perubahan moral masyarakat itu tadi. Kita harus bersyukur juga, dengan adanya program ini masyarakat cukup terbantulah. Kalau keluhan-keluhan dan masalah-masalah pastilah ada. Masyarakat ini kan tidak pernah puas, dikasi uang segunung mau minta dua gunung, masyarakat ini seperti itu, tidak pernah puas. Tetapi masyarakat sudah merasakan sudah cukup membantu, dan ada proses pembelajaran. Masyrakat mendapatkan dana ini bukan gampang, ada prosesnya, bukan dipersulit, maksudnya
bikin proposal, dan ini termasuk proses pembelajaran. Ini proses pembelajaran, baik moral maupun intelektual.
• Manakah di antara bidang pelaksanaan yang mendapat perhatian lebih besar dalam berjalannya P2KP di sini?
Jawab:
Lingkungan lebih banyak, soalnya dikelurahan ini kalau hujan sering banjir, gang- gang juga belum dibeton jalannya.
• Bagaimana bapak melihat komitmen pemerintah daerah dalam pelaksanaan P2KP di kelurahan ini dan bagaimana bentuk komitmennya?
Jawab:
Kalau dari pemda pasti ada, karena apapun ceritanya mereka harus menyediakan dana untuk P2KP. Contoh partisipasi mereka seperti pihak kelurahan. Pak lurah harus memfasilitasi tempat, juga untuk mengumpulkan masyarakat. Dengan tanpa adanya bantuan dari pak lurah dan kepling maka program ini tidak berjalan. Dari kecamatan ada PJOK.
C. Penerapan
• Apakah pernah diadakan sosialisasi tentang P2KP kepada masyarakat dan siapakah yang mensosialisasikannya?
Jawab:
Sosialisasi awal oleh faskel pastinya. Masyarakat di kelurahan ini dikumpulkan dengan bantuan pak lurah itu tadi. Setelah berkumpul maka dijelaskan apa itu
P2KP. Dengan mengertinya masyarakat tentang P2KP maka program akan semakin mudah berjalan. Bentuk lain sosialisasi adalah dalam bentuk media seperti poster dan spanduk.
• Apakah menurut bapak P2KP di kelurahan ini dilaksanakan secara transparan dan dapat dipertanggungjawabkan?
Jawab:
Sampai saat ini Alhamdulillah transparan karena bisa dipertanggungjawabkan. Mulai dari print out Bank kita photo copy dan ditempelkan di papan informasi di sekretarian dan di tempat-tempat yang gampang dilihat masyarakat. Misalnya di gang-gang dibuat papan informasi dan itu menjadi sebuah uji publik. Nama-nama yang mendapat bantuan ditempelkan di situ, jadi ada tanggapan dari masyarakat, misalnya jika ada yang dianggap kaya oleh masyarakat maka mereka bisa melapor. Selama ini ada laporan seperti itu, tapi setelah diinvestigasi itu cuma sentiment saja, dan tidak ada salah sasaran.
• Bagaimana bapak melihat partisipasi masyarakat di kelurahan ini? Jawab:
Saya nilai cukup maksimal. Meskipun tanggapan negatif selalu ada. Cuma bagaimana yang penting program ini dilakukan dengan benar sesuai aturan-aturan yang ada di P2KP. Contoh tanggapan sinis masyarakat biasanya berupa ucapan- ucapan seperti “apa tuh P2KP, cuma rapat-rapat saja”. Hal itu lebih karena masyarakat sudah terbiasa dengan bantuan-bantuan instant dan cara berpikir mereka yang agak pragmatis. Dalam P2KP yang dilakukan adalah pembelajaran. Diberikan
kepada mereka muatan-muatan agar menjadi berdaya. Jadi dalam P2KP bukan bantuannya yang dilihat tapi perubahan-perubahan yang diharapkan terjadi di masyarakat. Yang tadinya masyarakat tidak berdaya menjadi berdaya, tidak jujur menjadi jujur, rasa kebersamaan lebih kuat, rasa partisipasi menguat, ini harapan kita, sehingga nanti jika ada program pengentasan kemiskinan lain yang disalurkan pemerintah akan gampang menyalurkan bantuan, tidak lagi bentuk instant. Contoh perubahan di masyarakat adalah yang tadinya tidak bisa membentuk forum diskusi dan berbicara di dalamnya sekarang sudah tidak seperti itu lagi, sudah mulai kritis, masyarakat sudah bisa melakukan monitoring dan evaluasi, mereka bisa melihat cara kerja P2KP dan BKM. Berarti ini menunjukkan adanya perubahan. Tadinya masyarakat apatis dan memiliki mindset yang tidak baik terhadap program pemerintah, dan sejak P2KP ini dilaksanakan maka sudut pandang masyarakat sudah mulai berubah, mereka sudah lebih bersikap positif karena mereka menganggap P2KP ini adalah program yang bisa membuat mereka lebih baik.
• Apa saja kendala-kendala yang bapak lihat dalam pelaksanaan P2KP di kelurahan ini?
Jawab:
Kendalanya dari BKM tidak ada. Dari masyarakat ada, untuk mengisi proposal itu masyarakat itu malas. Tapi itu bisa diatasi oleh BKM.
• Apakah menurut bapak P2KP sudah memberi perubahan yang positif di kelurahan ini?
Perubahan di sini sudah terlihat, baik moral maupun intelektual. Maka ketika mau BLM II mereka mulai berebut karena sudah melihat hasil BLM I.
• Apa saran bapak mengenai pelaksanaan P2KP di sini? Jawab:
Saran saya untuk BKM adalah tetap bekerja dan konsisten dan jangan luntur semangat juang. Masyarakat teruslah mendukung program ini dan berpikir positif.
Hasil wawancara dengan Ibu Zaharawati selaku Koordinator Badan Keswadayaan Masyarakat (BKM).
A. Penafsiran.
• Menurut ibu apa latar belakang dilaksanakannya P2KP di kelurahan ini? Jawab:
Untuk pemberantasan kemiskinan.
• Apa kriteria kemiskinan yang disepakati, siapa yang menetapkannya, dan bagaimana cara menetapkannya.
Jawab:
Kita langsung terjun ke lapangan, yang menentukannya adalah korkot,contoh kriterianya seperti rumah yang terbuat dari papan, penghasilan di bawah standar, kita terjun langsung ke lingkungan-lingkungan. Jadi kita melihat sendiri, kita Tanya berapa penghasilan mereka,pekerjaannya apa, nah dari situ kita tau dia miskin atau tidak.
B. Pengorganisasian.
• Menurut ibu apakah pelaksanaan P2KP ini sudah memiliki prosedur yang jelas? Jawab:
Jelas, ditangani oleh masing-masing bidang. Tanggung jawab masalah sosial ada di UPS, dananya adalah dana hibah, tidak dikembalikan karena bukan berupa pinjaman. Ekonomi tahap pertama adalah pelatihan-pelatihan, kalau lingkungan untuk betonisasi jalan. Selain itu juga ada swadaya masyarakat. Misalnya ada kegiatan mereka menyumbang makanan dan tenaga. Untuk lingkungan ada tukang yang dibayar sekedarnya dan dibantu masyarakat.
• Menurut ibu apakah anggota BKM yang terpilih adalah orang-orang yang tepat dan berkomitmen tinggi untuk berperan dengan maksimal dalam pelaksanaan P2KP? Jawab:
Insya Alloh. Yang saya lihat selama ini mereka mudah-mudahan adalah orang- orang yang ikhlas. Pemilihan mereka dilakukan dilingkungan masing-masing. Caranya kita tidak diberitahu secara terbuka dan tidak ada calon, maksudnya tidak ada kampanye untuk calon aggota BKM. Masyararakat yang diambil penilaiannya siapa yang mereka anggap cocok untuk duduk di BKM. Jadi mereka menunjuk. Jadi yang terpilih itu harus bertanggung jawab. Waktu pemilihan ada 12 lingkungan dari 22 lingkungan. Alasan yang tidak ikut adalah karena mereka menganggap tidak ada manfaatnya dan Cuma rapat-rapat saja. Jadi terpilihlah dari lingkungan ini dan dibawa ke kelurahan untuk dipilih lagi diantara calon dari lingkungan lain. Jadi tidak ada rekayasa. Anggota BKM diangkat dari calon-calon koordinator yang dipilih tadi. Anggota BKM sekarang yang aktif tidak semua, karena tidak bergaji. Biarpun tidak tiap rapat ikut tapi minimal mereka datang tiap bulan sekali. Dan jika ada pelaksanaan dilapangan mereka ikut. Jadwal rapat kita sudah ada, jadi mana yang mau kerja ayo kerja dan tidak ada yang mengeluh.
• Bagaimana proses pembentukan KSM (Kelompok Swadaya Masyarakat)? Dan apakah anggota KSM juga termasuk pemanfaat dana?
Jawab:
KSM dibentuk oleh masyarakat di lingkungan masing-masing. Mereka rapat di kelurahan dan kadang-kadang di lingkungan masing-masing. Anggota KSM juga
termasuk pemanfaat dana. Jadi masyarakat lingkungan yang memilih, kira-kira siapa yang dapat bertanggung jawab untuk mengelola dana BLM dari lingkungan mereka. Jadi masyarakat lingkungan itu sendirilah yang memilih. Mereka mengadakan rapat di lingkungan masing-masing untuk memilih anggota KSM. Intinya masyarakat sendirilah yang memilih siapa yang dapat mereka percaya untuk mengelola dana BLM. Kemudian dipillihlah ketua, sekretaris, dan bendahara. Contohnya KSM pelatihan menjahit ada sebelas orang. Kesebelas orang ini membentuk KSM. KSM itu cuma tiga orang, ketua, sekretaris, dan bendahara.
• Dari mana dana BLM untuk pelaksanaan P2KP ini didapat dan berapa jumlahnya? Jawab:
Dana BLM berasal dari Bank Dunia dan APBD. Disalurkan ke rekening BKM yang ada di BANK SUMUT cabang Sei Sikambing B. Jumlah BLM I 100 juta, dibagi untuk tiap kegiatan tridaya. Lingkungan 70%, sosial 10%, dan ekonomi 20%.
• Apakah menurut ibu dana yang didapat sudah mencukupi untuk melaksanakan P2KP dengan efektif?
Jawab:
Menurut saya sudah cukup. Apa yang diberi dimanfaatkan.
• Siapakah yang memfasilitasi terbentuknya BKM dan berjalannya kinerja BKM? Jawab:
Yang memilih masyarakat dan yang memfasilitasi faskel.
• Ada berapa jumlah unit pelaksana yang dibawahi BKM? Jawab:
Ada tiga unit. Unit lingkungan, sosial, dan keuangan. Unit lingkungan diketuai Deni, unit sosial diketuai bu Sondang, dan unit keuangan diketuai bu Siti.
• Bagaimana ibu melihat komitmen pemerintah daerah dalam pelaksanaan P2KP di kelurahan ini?
Jawab:
Komitmen mereka ada. Mereka memantau dan kami harus bertanggung jawab kepada mereka juga. Mereka datang setiap selesai kegiatan. Kalau dari kecamatan adan PJOK.
• Bagaimana komunikasi dan koordinasi antara BKM dengan unit-unit pelaksana dan antara unit pelaksana sendiri?
Jawab:
Tiap-tiap bidang mengurus urusannya masing-masing. LPJ dibikin oleh tiap-tiap KSM dan terakhir dirangkum oleh faskel dan dikirim ke KORKOT, kemudian mereka turun memantau apa yang sudah dilakukan.
• Bagaimana dengan peran pihak kelurahan dalam pelaksanaan P2KP? Jawab:
Peran kelurahan banyak. Kita selalu meminta arahan dari pak lurah. Kami juga diberi fasilitas kantor sekretariat.
C. Penerapan.
• Apakah pernah diadakan sosialisasi tentang P2KP kepada masyarakat dan siapakah yang mensosialisasikannya?
Sering, masyarakat kumpul, dikasi pengarahan hampir tiap minggu. Yang melaksanakan sosialisasi adalah faskel.
• Apakah menurut ibu pelaksanaan P2KP ini memiliki program kerja yang jelas? Jawab:
Program kerja jelas dan kami berani mempertanggungjawabkannya.
• Apakah jika rapat BKM, KSM juga diikutkan? Jawab:
Jika BKM rapat anggota KSM juga diundang. Kalau gak bisa datang semuanya ketuanya aja pun jadi. Umpamanya ada yang harus mereka ketahui. Ini agar mereka juga bisa menyampaikan informasi kepada masyarakat.
• Bagaimana prosedur pencairan dana dari BKM kepada KSM? Jawab:
Untuk betonisasi jalan KSM mengambil dana melalui tiga tahapan, tahap pertama pencairan dana sebesar 10% yang harus mereka gunakan untuk membeli bahan- bahan, apabila sudah terbeli maka diberikan lagi 60% untuk pelaksanaan tahap awal, jika betonisasi sudah setengah jalan atau hampir siap diberi lagi 30% untuk penyelesaian proyek. Kalau KSM pelatihan-pelatihan cuma dua kali tehap pencairan dana. Masing-masing tahap 50%. Jadi KSM tidak langsung diberikan semua uang sekaligus, hal ini gunanya agar penggunaan dana lebih terarah dan jelas.
• Apakah lulusan pelatihan punya sertifikat? Jawab:
Sertifikat mereka dapat, kalau pelatihan menjahit pesertanya dapat sertifikat dari tempat menjahitnya, begitu juga pelatihan yang lain. Tapi ada juga peserta yang belum mengambil sertifikat yang ada sama BKM. Ada yang udah pergi dan kerja.
• Bagaimana dengan partisipasi masyarakat terhadap jalannya P2KP di kelurahan ini? Jawab:
Gimana ya, sambutan mereka bagus, dan sangat mendukung. Sebelum memulai semuanya kita mendata siapa-siapa saja yang kurang mampu dan tidak ada KKN. Gak ada istilah saudara saya yang duluan dapat.
• Bagaimana kedisplinan masyarakat dalam melaksanakan P2KP ini? Jawab:
Masyarakat cukup disiplin, mereka benar-benar gotong royong, mereka sangat bersyukur.
• Apakah menurut sepengetahuan ibu P2KP di kelurahan ini dilaksanakan secara transparan dan dapat dipertanggung jawabkan?
Jawab:
Insya Alloh transparan, contohnya saja untuk pembangunan lingkungan harus dicatat segala pengeluaran dan ada papan proyek yang harus ada sebelum betonisasi jalan agar masyarakat tau bakal ada betonisasi jalan. Jadi berapa dana P2KP masyarakat harus tau, sehingga masyarakat sendiri tidak bisa melakukan penyimpangan. Kalau untuk pelatihan salon juga ada hal yang seperti itu. Dan untuk kegiatan sosial diadakan di kantor kelurahan baik santunan anak kurang mampu dan jompo. Untuk anak kurang mampu berupa tas dan buku, sedangkan jompo diberikan
sembako. Acara itu dihadiri lurah dan PJOK dari kecamatan. Jadi mereka menyaksikan pelaksanaan itu. Laporan keuangan ada di sekretariat, ada sekretaris yang tugasnya mencatat pendanaan, dan itu diperiksa oleh utusan dari KORKOT I.
• Bagaimana bentuk pertanggung jawaban pihak BKM kepada pemerintah daerah dan masyarakat?
Jawab:
Waktu LPJ masyarakat dikumpulkan di kelurahan. Ada camat, lurah. Kami melaporkan apa-apa saja kegiatan yang kita lakukan dan berapa dana yang dihabiskan untuk itu. Kalo ke masyarakat ada selebaran berisi LPJ singkat, itu cuma 1 lembar saja.
• Apa saja kendala-kendala yang ibu lihat dalam pelaksanaan P2KP di sini? Jawab:
Ada lingkungan-lingkungan yang tidak berpartisipasi. Tapi setelah melihat BLM I ini berjalan baik masyarakat mulai percaya. Mereka marah kepada keplingnya karena tidak berperan aktif dalam mengikuti P2KP.
• Sepengetahuan ibu apa sebab kepling-kepling itu tidak ikut berpartisipasi? Jawab:
Sebabnya yang pasti karena dia gak perduli sama masyarakat lingkungannya sendiri, yang gak mau ngomong kayak gini, ‘mana ada tu, buat capek aja, dulu pun ada kayak gitu, cakap-cakap aja program ini, tapi kenyataannya gak ada’. Bahkan faskel sendiri sempat berdebat sama yang ngomong kayak gitu tadi, tapi faskel gak mau kasi tau namanya. Ada kepling yang bilang, ‘Ngapain susah-susah kasi
masyarakat, kasi aja sama kami, biar kami yang urus’, sementara program ini kan gak boleh pegawai pemerintah yang megang, harus masyarakat sendiri yang urus. Ada diundang kepling-kepling ke kelurahan, atau ada juga kepling yang kirim wakil dari lingkungan dia, pernah kepling yang gak ikut itu di undang, tapi dia merasa lebih tinggi dari kami, kami gak dianggap, kayak orang gak berpendidikan dianggap kami ini. Kami dating ke lingkungan nawarkan bantuan P2KP, masyarakatpun dah mau. Jadi kami suruh bikin proposal, kalo gak bisa kami Bantu. Waktu dah siap mereka bikin. Kami minta mereka jumpa kepling untuk minta tanda tangan. Tapi kepling malah suruh kami yang datang jumpai dia. Masyarakat bilang ke kepling, ‘gak mungkin orang BKM jumpa bapak minta teken, kan kami yang minta sama BKM, masa malah BKM jumpai bapak’. Terakhir keplingnya tetap gak mau teken. Mereka kepling itu juga kadang-kadang fitnah kami. Pernah kami bakar-bakar ikan malah dituduh pake uang BLM.
• Apa menurut ibu P2KP sudah membawa perubahan di kelurahan ini? Jawab:
Masyarakat semakin percaya kepada program P2KP. Yang sudah punya skill mungkin bisa pinjam dana bergulir pada BLM II untuk membuka usaha sendiri.
• Apa saran ibu mengenai pelaksanaan P2KP di sini? Jawab:
Bekerjalah untuk betul-betul membantu masyarakat. Tunjukkan bahwa kita betul- betul mau membantu mereka.
Hasil wawancara dengan Bapak Rudy Asriandy selaku Lurah di Kelurahan Sei Sikambing B.
Wawancara tanggal 24 November 2008.
Penafsiran
• Menurut bapak apa latar belakng dilaksanakannya P2KP di kelurahan ini? Jawab:
Latar belakangnya adalah kemiskinan yang sangat kompleks, baik dari segi budaya, ekonomi, dan lingkungan.
• Menurut bapak apa-apa saja nilai-nilai dan prinsip-prinsip yang harus dipegang dalam P2KP ini?
Jawab:
Banyak, seperti kejujuran, ikhlas, kebersamaan, demokrasi, dan tanggung jawab.