• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

5.2 Saran

5.2.2 Saran dalam Kaitan Bidang Akademis

5.2 Saran

5.2.1 Saran Penelitian

Pencitraan tidak hanya dapat dilakukan melalui kuis. pencitraan juga dapat dilakukan oleh siapapun. Untuk itu peneliti mengharapkan ada penelitian lain terkait pencitraan yang dilakukan oleh seseorang atau lembaga, dengan menggunakan analisis resepsi. Karena analisis resepsi kajiannya lebih mendalam dan melihat bagaimana khalayak/penonton/pembaca dalam memaknai teks.

5.2.2 Saran dalam Kaitan Bidang Akademis

Penelitian ini adalah penelitian yang menggunakan analisis resepsi tentang bagaiman penonton memaknai pencitraan dalam sebuah tayangan kuis. Penelitian

Universitas Sumatera Utara

ini bertujuan untuk melihat bagaimana pemaknaan penonton terhadap pencitraan, posisi penonton, serta faktor yang mempengaruhi posisi penonton,terhadap pencitraan dalam tayangan kuis. Dari penelitian tentang pemaknaan penonton ini, diharapkan dapat mengetahui bahwa proses pemaknaan terhadap pesan suatu media massa akan menghasilkan makna yang tidak selalu sama karena dipengaruhi oleh kapasitas setiap penonton. Selain itu, sangat memungkinkan bagi peneliti yang lain untuk mengembangkan penelitian ini dengan menggunakan metode dan kerangka pemikiran yang berbeda melalui kuis lainnya.

5.2.3 Saran dalam Kaitan Bidang Praktis

Isi media massa termasuk tayangan kuis, pada hakikatnya adalah hasil dari sebuah ide untuk membuat. Kuis tidak lepas kaitannya dengan hadiah dan pertanyaan. Konsep kuis juga beragam dan ditampilkan sesuai dengan keinginan penyelenggara. Pencitraan dapat terjadi di media mana pun dan dimana pun, termasuk melalui kuis. pencitraan tidak lepas dari politik, sebab saat melakukan kompetisi politik orang-orang berlomba menampilkan pencitraan yang baik.

Sehingga khalayak disarankan untuk lebih bijak dan aktif dalam memahami isi media agar tidak mudah terprovokasi dengan pesan yang disampaikan.

DAFTAR PUSTAKA

Ardianto, Elvinaro & Lukiati K. Erdiyana. 2004. Komunikasi Massa: Suatu Pengantar. Bandung: Simbiosa Rekatama Media.

Ardianto, Elvinaro & Bambang Q-Anees. 2007. Filsafat Ilmu Komunikasi.Bandung: Simbiosa Rekatama Media.

Arifin, Anwar. 2003. Komunikasi Politik. Jakarta: Balai Pustaka.

Azwar, Saifudin. 2009. Metode Penelitian. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Baran, Stenley. J & Dennis K. Davis. 2010. Teori Komunikasi Massa: Dasar, Pergolakan, dan Masa Depan. Jakarta: Salemba Humanika.

Bungin, Burhan. 2007. Penelitian Kualitatif: Komunikasi, Ekonomi, Kebijakan Publik, dan Ilmu Sosial Lainnya. Jakarta: Kencana.

____________. 2008. Sosiologi Komunikasi: Teori, Paradigma dan Diskursus Teknologi Komunikasi di Masyarakat. Jakarta: Kencana.

Cangara, Hafied. 2009. Komunikasi Politik : Konsep, Teori dan Strategi. Jakarta:

Rajawali Pers.

Croteau, David. & William Hoynes. 2000. Media/Society: Industries, Images, and Audiences. USA: Sage.

Damsar. 2010. Pengantar Sosiologi Politik. Jakarta: Kencana.

Durham, M. G & D. M. Kellner. (Eds). 2002. Media and Cultural Studies:

Keyworks. Massachusetts: Blackwell Publisher.

Effendy, Onong Uchjana. 2006. Ilmu Komunikasi: Teori dan Praktek. Bandung:

Remaja Rosdakarya.

Ferguson, Marjorie & Peter Golding. 1997. Cultural Studies in Question Great.

Britain: Sage.

Hennink, M., Inge H & Ajay B. 2011. Qualitative Research Methods. London:

Sage.

Littlejohn, Stephen W. 1999. Theories Of Human Communication. London:

Wadsworth Publishing Company.

McQuail, Denis. 2000. Mass Communication Theory. London: Sage Publication.

Moleong, Lexy J. 2000. Metode Penelitian Kualitatif. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Universitas Sumatera Utara

Morrisan & Andy Corry Wardhany. 2009. Teori Komunikasi. Bogor: Ghalia Indonesia.

Morissan, Andy Corry Wardhany & Farid Hamid. 2010. Teori Komunikasi Massa. Bogor: Ghalia Indonesia.

Muhadjir, N. 2000. Metodologi Penelitian Kualitatif Edisi IV. Yogyakarta: Rake Sarasin.

Nawawi, H. Hadari. 1995. Metode Penelitian Bidang Sosial. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Nurudin. 2003. Komunikasi Massa. Malang: Cespur.

Pawito. 2007. Penelitian Komunikasi Kualitatif. Yogyakarta: LKiS

Poerwandari, E Kristin. 2005. Pendekatan Kualitatif dalam Penelitian Psikologi.

Jakarta: FP Universitas Indonesia.

Sekaran, Uma. 2000. Research Methods for Business. Singapore: John-Wiley &

Sons Inc.

Senjaya, Sasa Djuarsa. 2007. Teori Komunikasi. Jakarta: Universitas Terbuka.

Singarimbun, Masri. 1995. Metode Penelitian Survey. Jakarta: LP3ES.

Soehartono, Irawan. 2008. Metode Penelitian Sosial: Suatu Teknik Penelitian Bidang Kesejahteraan Sosial dan Ilmu Sosial Lainnya, Bandung: Remaja Rosdakarya.

Jurnal :

Dellarosa, Yovita Devi. 2011. Pemaknaan Penonton Terhadap Stereotip Perempuan dalam Program Televisi (Studi Pada Program “Ala Chef”

Trans TV) – Jurnal Ilmu Komunikasi CommLine. Jakarta: PusKaKom Universitas Al-Azhar Indonesia.

Hadi, Ido Prijana. 2009. Penelitian Khalayak dalam Perspektif Reception Analisys– Jurnal Ilmiah SCRIPTURA. Surabaya: Universitas Kristen Petra.

Wijaya, Haris. 2014. Televisi dan Tayangan Talkshow – Jurnal Komunika.

Medan: USU Press.

Skripsi :

Anggara, Dwiko Surya. 2012. Pemaknaan Pembaca Terhadap Identitas Kaum Gay dalam Novel. Medan: Skripsi Mahasiwa FISIP USU

Sumber Lain :

http://www.rcti.tv/schedules (diakses tanggal 20 Februari 2014 pukul 11.00 WIB) http://nasional.kompas.com/read/2014/02/21/0930004/KPI.Hentikan.Program.Kui s.Kebangsaan.dan.Indonesia.Cerdas (diakses tanggal 25 Februari 2014 pukul 15.15 WIB)

http://m.tribunnews.com/nasional/2013/07/02/siang-ini-hanura-deklarasi-capres-cawapres-wiranto-ht (diakses tanggal 26 Februari 2014 pukul 20.00 WIB) http://m.kompasiana.com/post/read/615623/1/dimana-letak-kesalahan-kuis-kebangsaan-win-ht (diakses tanggal 26 Februari 2014 pukul 20.20 WIB) http://www.rcti.winht (diakses tanggal 1Maret 2014 pukul 14.00)

http://www.globaltv.co.id/cerdas (diakses tanggal 1 Maret 2014 pukul 14.15 WIB) http://www.kpi.go.id (diakses tanggal 2 Maret 2014 pukul 13.00 WIB)

http://m.merdeka.com/profil/indonesia/h/hary-tanoesoedibjo/ (diakses tanggal 3 Maret 2014 pukul 14.00 WIB)

http://m.merdeka.com/profil/indonesia/w/wiranto/# (diakses tanggal 3 Maret 2014 pukul 14.15 WIB)

http://www.aber.ac.uk/media/Documents/648/semo8.html (diakses tanggal 25Maret 2014 pukul 19.15 WIB)

Universitas Sumatera Utara HASIL WAWANCARA

Informan I

Nama : SHT

Tempat/Tanggal Lahir : Metro, 10 September 1992 Jenis Kelamin : Perempuan

Agama : Islam

Suku : Batak Toba

Pekerjaan : Mahasiswi Ilmu Komunikasi FISIP USU Pendidikan Terakhir : SMA

Hobi : Nonton Film

Alamat : Jalan Harmonika No. 28, Pasar 1, Padang Bulan, Medan.

P : Peneliti I : Informan

No. ISI WAWANCARA REFLEKSI

1. P: Apakah pernah menyaksikan kuis kebangsaan di RCTI ?

I : Pernah

2. P: Kira kira berapa kali?

I : Lebih dari 5 kali, gak terhitung 3. P: Kenapa bisa lebih dari 5 kali?

I : Pengen tahu kuisnya, konsepnya bagaimana, intinya ingin tahu kuis itu bagaimana, seperti pertanyaan atau soalnya, tampilan kuis nya. Sekalian pengen liat sejauh mana kuis itu ikut campur dalam politiknya WIN-HT.

4. P: Jadi nyediain waktu khusus atau tidak untuk kuis itu?

I : Pernah sekali karena penasaran, tapi selanjutnya tidak, hanya selingan, seperti saat nonton televisi pada saat jam kuis itu tayang juga

5. P: Menyaksikan kuis tersebut dari awal hingga akhir atau putus-putus ?

I : Pernah dari awal sampai akhir, makanya sedikit banyak tau alur kuisnya, tapi kalau malas nontonnya diganti, jadinya putus-putus.

6. P: Kapan pertama kali menyaksikan kuis tersebut?

I : Gak ingat pasti kapan, tanggalnya. Seingatnya sih bulan oktober, pas kuis itu pemberitaannya heboh

7. P: Pemberitaan heboh seperti apa?

I : Mungkin dari lingkungan teman-teman di kampus banyak yang membincangkan tentang WIN-HT melakukan kampanye melalui kuis itu. Karena adanya kabar itu, makanya saya penasaran untuk menyaksikan kuis kebangsaan itu seperti apa sih.

Kalau hanya kuis biasa dan tidak mencampuradukkan politik, mungkin tidak akan menjadi perbicangan.

Mungkin orang bisa menonton itu bisa percaya kalau WIN-HT itu ingin dekat dengan masyarakat dengan adanya kuis tersebut.

8. P: Selain itu, kabar kuis ini juga heboh di dunia maya, bagaimana tanggapannya?

I : Saya tau dari pemberitaan di twitter dari

@remotivi, kan kuis kebangsaan ini banyak pro dan kontra, yang banyak kontranya sampai ada petisi ke KPI untuk pemberhentian kuis tersebut melalui twitter. Itu berarti masyarakat juga banyak yang memperhatikan kuis tersebut, juga jadi menambah untuk masyarakat yang sebelumnya tidak tahu jadi lebih tahu perkembangannya.

9. P: Jadi setelah menyaksikan tayangan tersebut, apa tanggapan melihat tayangan itu?

I : Saya tidak setuju dengan adanya kuis itu, karena 100% tidak bisa dibuktikan kebenarannya. Bisa saja itu merupakan agenda setting dari pembuat acara.

Apalagi kuis tersebut sempat terjadi kebocoran saat tayang, penelepon menjawab pertanyaan padahal pertanyaan belum diberikan. Dari situ dapat ditangkap jika itu merupakan hanya permainan, untuk menarik simpati masyarakat agar masyarakat mau memilih WIN-HT.

10. P: Hanya dari kejadian itukah anda menilai jika tayangan tersebut ada unsur agenda setting?

I: ya itu satu, lalu acara itukan dibuat untuk kepentingan WIN-HT, karena jika misalnya WIN-HT tidak mencalonkan jadi capres dan cawapres Hanura, pasti kuis itu tidak ada. Juga dari jam tayangnya, acara itukan dibuat dua kali dalam satu hari. Seolah-olah itu memang menjadi acara yang penting untuk ditonton masyarakat. Apalagi jam-jam tayang itu jam-jam yang pas.

11. P: Setelah melihat kuisnya, konsep kuis itu seperti apa?

I : Jadi kuisnya itukan, sebelum pemilu pembawa acara nya ditemani oleh caleg dari partai Hanura,

Universitas Sumatera Utara caleg membacakan pertanyaan, kemudian penelepon

menjawabnya. Pembawa acara juga menyebutkan password “bersih, peduli, tegas” setelah pembawa acaranya menyebutkan WIN-HT kemudian, si penelepon memilih pertanyaan dari ke lima huruf itu.

12. P: Tanggapan tentang judul?

I : Kalau menurut saya, judulnya terlalu berlebihan.

Karena, kuis itu tidak ada bedanya dengan beberapa kuis yang pernah saya tonton. Kuis Kebangsaan itu seolah-olah menjadi penting untuk bangsa Indonesia.

Menggunakan kata kebangsaan menurut saya tidak semudah itu, apalagi yang saya lihat kuis itu memang berbau politik.

13. P: Jadi judul apa yang seharusnya?

I: tetap saja kuis itu tidak cocok untuk diadakan atau tidak layak, apapun judulnya kalau untuk kepentingan politik WIN-HT, tetap tidak cocok.

14. P: Tanggapan tentang password?

I : Slogan bersih, peduli, tegas itu kan mencerminkan keadaan partai Hanura. Sebelum memulai dan menjawab pertanyan kuis si penelepon diharuskan menyebutkan slogan itu, secara tidak langsung penonton yang mendengar, bisa merekam slogan WIN-HT dan adanya slogan itu menambah kejelasan tentang jika kuis tersebut ada maksud lain.

15. P: Waktu jam tayang ?

I : Jam tayangnya itu cukup menarik penonton, karena jam 09.30 biasanya jam ibu-ibu yang berada di rumah untuk menonton, karena pastikan sudah selesai aktifitas dirumah pagi hari. Untuk yang jam 5 sore, itu jamnya orang pulang kerja, atau untuk istirahat dirumah, jadi kemungkinan besar orang akan menonton.

16. P: Soal yang ditanyakan?

I : Soalnya terlalu sulit, karena kan kebanyakan peneleponnya itu ibu-ibu dan bapak-bapak yang kita tidak tahu latar belakang pendidikan dan pengetahuannya. Soal seperti itu, menurut saya lebih cocok untuk ditanyakan ke anak sekolahan.

17. P: Kenapa anak sekolahan?

I : Karena pertanyaan seputar sejarah, geografi yang biasanya di dapatkan pada saat di bangku sekolah.

Kalau orang tua kemungkinan sudah lupa. Apalagi dari beberapa soal, bukan merupakan soal umum

yang diketahui oleh orang banyak.

18. P: Tata cara untuk mengikuti kuis ?

I : Kalau yang daftar lewat web itu, kemungkinan semua orang bisa mendaftar. Tapi tidak semua orang berpeluang untuk ditelepon oleh tim Kuis Kebangsaan. Saya juga kurang tahu bagaimana cara mereka menentukan orang yang pantas untuk ditelepon, jadi saya masih abstrak melihatnya. Jadi kenapa cuma dua saja yang dikasih hadiah, kenapa gak semua yang mendaftar mendapatkan hadiah.

19. P: Lebih mudah melalui web lalu dipilih atau via telepon langsung?

I : Kalau menurut saya via telepon, karena kalau melalui telepon langsung tersambung kesana, tapi kurangnya pasti yang menelepon itu banyak, peluang untuk teleponnya nyambung kesana itu sedikit.

20. P: Cukup mudahkah cara pendaftaran melalui web?

I: Sebenarnya tidak begitu mudah dan efektif. Karena tidak semua kalangan mengenal internet. Apalagi di Indonesia masih banyak daerah yang belum terjangkau internet. Kalau memang harus mendaftar melalui web, berarti peneleponnya orang-orang yang berasal dari kota yang terjangkau internet.

21. P : Pernah ngikutin Kuis Kebangsaan dari web ? I : enggak

22. P: Tanggapan tentang pembawa acara ?

I : Yang saya lihat pembawa acaranya itu wanita, itu menjadi hal yang menarik untuk menontonnya, apalagi pembawa acaranya cantik. Pembawa acara wanita itu lebih enak dilihat.

23. P: Kenapa lebih enak dilihat pembawa acara wanita?

I: Wanita itu memang lebih banyak menariknya daripada laki-laki, pembawaannya lebih kalem.

24. P: Kehadiran caleg-caleg Hanura sebagai pengisi acara ?

I : Jadi seperti kampanye secara tidak langsung.

Karena kan tidak semua masyarakat mengenal caleg-caleg Hanura. Walaupun hanya diperkenalkan nama mereka, paling tidak saat melihat spanduk-spanduk caleg, dan kemudian caleg muncul di TV mereka jadi

Universitas Sumatera Utara lebih tau. Karena kalau tidak dikenal, bagaimana

masyarakat akan tahu caleg-caleg tersebut.

25. P: Kampanye yang seharusnya bagaimana?

I : Kampanye itu kan ada tanggal nya dan sudah ditetapkan KPU, jadi jangan curi start, mentang-mentang punya media TV.

26. P: Sponsor kuis tersebut?

I : Kuis itukan memang tujuannya untuk menarik simpati masyarakat, yang membuat kuis itu memang mereka, dan yang memberikan hadiah juga mereka.

Nah, dibalik itu semua pasti ada keinginan WIN-HT supaya orang-orang yang mendapatkan hadiah memilih partai Hanura. Secara tidak langsung jadi money politik sih.

27. P: Kenapa money politik?

I : Karena kuis itu memberikan hadiah kepada peneleponnya dengan cara menjawab pertanyaan yang diberikan dalam acara tersebut. Apalagi hadiah itukan dipersembahkan oleh WIN-HT, pasti mereka menginginkan timbal balik. Dengan penelepon menyebutkan password dan mengikuti kuis, kemudian diberi hadiah, seperti mengisyaratkan jika ada unsur uang didalamnya, walaupun dalam bentuk benda berupa barang.

28. P: Hadiah yang dipersembahkan?

I : Hadiah yang ditawarkan memang semuanya menarik. Hanya saja ada ketidakadilan soal pembagian hadiah. Setiap hari hadiah yang diberikan berbeda, jadi pemberian hadiahnya tidak merata.

29. P: Bagaimana tanggapan anda tentang setting tempat?

I : Cukup menarik, tidak terlalu berlebihan. Settingan tempat gak terlalu rame dan membuat penonton bosan.

30. P: Mengikuti perkembangan kuis kebangsaan selain dari TV?

I : ya paling dari twitter liat akun twitter @remotivi 31. P: Apakah anda tau jika kuis tersebut pernah

mendapat teguran dari KPI?

I : Tau, tapi gak ngikuti kali perkembangan pemberitaannya

32. P: Tanggapan tentang pasangan WIN-HT?

I : Mereka pasangan yang cocok. Wiranto sudah berpengalaman dipolitik sebagai Ketua Umum Partai Hanura, sedangkan HT sebagai pengusaha. Apalagi dia punya beberapa media seperti televisi, radio, surat kabar. Hal ini mempermudah untuk menyampaikan keinginannya kepada masyarakat melalui media yang dimilikinya. Misalnya dia beriklan tentang partai Hanura dan dirinya di media yang ia miliki. Itu bisa jadi kewenangan tersendiri darinya. Salah satunya adalah Kuis Kebangsaan. Seluruh masyarakat di Indonesia bisa menyaksikan acara tersebut dan bisa mengenal partai Hanura serta WIN-HT. Sebagai pemilik media, HT bisa dengan mudah mengatur jam tayang acara-acara yang mendukung.

33. P: Sejauh mana kuis tersebut berperan dalam kegiatan politik WIN-HT?

I : Sebenarnya, kalau menurut saya kuis itu untuk memperkenalkan Hanura, sebagai partai baru yang mengusung WIN-HT sebagai calon presiden dan wakil presiden dari partai tersebut. Begitu juga dengan caleg-calegnya, ini juga sebagai pencitraan ke masyarakat. Dengan pemberian hadiah, mungkin masyarakat akan lebih tertarik untuk mengenal partai Hanura dari kuis ini.

34. P: Bagaimana tanggapan tentang HT sebagai pemilik modal menggunakan medianya untuk kampanye?

I : seharusnya yang tidak boleh, media yang digunakan HT kan menggunakan frekuensi yah, dan itu milik publik. Gak seharusnya HT dengan seenaknya menggunakan. Dia juga harus memperhatikan aturan siaran dong, memiliki media boleh, tapi tau porsinya, jangan berlebihan terkesan jadi norak. Media dia bangun untuk memenuhi fungsi televise atau menampilkan dirinya.

35. P: Apakah anda tertarik dengan politik ?

I : sedikit, misalnya menonton tayangan yang ada kaitannya dengan politik. Sekedar pengen tahu, bagaimana perkembangan politik Indonesia, seperti saat mau pemilu, pastinya mengikuti perkembangan, karena pengen tahu sejauh mana gambaran politik ditampilkan oleh media, bukan hanya melalui televisi, tetapi juga media lain seperti media sosial dan koran.

36. P: Bagaimana tanggapan tentang Wiranto dan

Universitas Sumatera Utara pencalonannya sebagai bakal calon presiden?

I : gak begitu tahu tentang Wiranto, yang saya tau dia ketua dari Partai Hanura yang bekerja sama dengan HT, agar bisa lebih dekat dengan masyarakat melalui media milik HT. Menurut saya juga Wiranto gak layak jadi presiden, karena belum ada rekam jejak dari Wiranto yang menunjukkan jika dia pantas menjadi presiden, belum ada sesuatu yang dia buat untuk rakyat Indonesia.

37. P: Bagaimana tanggapan tentang HT dan pencalonannya sebagai bakal calon wakil presiden?

I : hampir sama dengan tanggapan tentang Wiranto, sebagai seorang pengusaha yang ingin jadi wakil presiden, dia belum punya banyak pengetahuan tentang politik. Niatnya jadi wapres apa dulu, kalau niatnya untuk membantu masyarakat, gak harus jadi wapres, kalau memang mau membantu jangan waktu mau pencapresan baru peduli. Kalau niatnya memang membantu ya dia buka aja lapanagan kerja untuk masyarakat. apalagi dia seorang pemilik media, harusnya dia tau apa fungsi media, jadi porsi yang ditampilkan ke media porsinya seimbang, karena tayangan yang ditampilkan media banyak yang berlebihan. Itu dulu yang seharusnya di aturnya.

38. P: Bagaimana tanggapan tentang partai politik saat ini?

I : ngelihatnya rumit, banyak pro kontra, semua mau kekuasaan rakyat dibawah ini jadi gak jelas yang pendukung bawah ikut-ikut aja kayak kalau ada kampaye dan lain-lain. Serta sekarang kebanyakan politik uang, yang gak tau itu inisiatif partai atau anggotanya.

39. P: Apa kelebihan pasangan WIN-HT?

I : Pasangan ini sudah punya satu paket calon presiden dan wakil presiden dari partai Hanura

40. P: Apa kekurangan pasangan WIN-HT?

I : Terlalu berlebihan dalam menggunakan media untuk kepentingan politiknya.

41. P: Selain HT, ada juga pemilik media lain seperti ARB dan Surya Paloh. Bagaimana tanggapan tentang ARB dan Surya Paloh?

I : Sebenarnya mereka kan sama-sama menggunakan media untuk keperluan politiknya, yang menjadi perbedaan kalau HT kan bisa dilihat dari kuis

kebangssan, dari berita tentang Hanura, HT dan Wiranto yang sebenarnya gak harus dikonsumsi masyarakat.

Kalau ARB lebih kepada pemberitaannya, walaupun ARB punya TV One dan ANTV, tetapi ARB banyak masuk di beritanya, dan media ARB sering menampilkan citra baik dan positif dari ARB serta partainya.

Kalau Surya Paloh, hampir mirip dengan ARB, dia lebih ke pencitraan baik tentang dirinya dan partai miliknya di dalam TV berita miliknya.

42. P: Ikut pemilu atau gak 9 april?

I : Enggak, karena gak pulang ke daerah asal, dan gak tau informasi kalau ternayata tetap bisa memilih, ada bagiannya untuk para perantau.

43. P: Bagaimana calon presidan dan wakil presiden yang layak ?

I : Benar-benar dekat dengan masyarakat, tau kebutuhan masyarakat, dan dapat memajukan bangsa dan negara. Dia kan presiden harus mementingkan kemakmuran rakyat, bukan kemakmuran dia dan temannya. Mereka harus tau kehidupan masyrakat dari yang kelas paling bawah sampai atas. Selain itu harus pintar, kalaupun punya media, harus pintar mengaplikasikan 4 fungsi media secara seimbang.

Berwawasan luas, bisa menjalin kerja sama dengan negara luar dan yang paling penting bisa melunasi hutang negara dan peduli terhadap para TKI yang bekerja di luar negeri, mereka kan penghasil devisa negara. Tetapi selama mereka bisa bekerja di negeri sendiri, kenapa harus susah panyah keluar negeri, ya ditambah lagi lapangan pekerjaan di Indonesia.

44. P: Siapa yang cocok jadi calon presiden dan wakil presiden?

I : Belum ada, saya rasa belum ada yang cocok 45. P: Bagimana kaitan kuis tersebut dengan P3SPS

dan Etika Jurnalistik yang anda ketahui?

I : Kuis itu banyak menyalahi aturan penyiaran yah, makanya sampek banyak pro kontra dan juga ada larangan KPI.

46. P: Tanggapan tentang kuis Indonesia Cerdas yang formatnya mirip dengan Kuis Kebangsaan?

I : Tujuan besar kedua kuis tersebut itu sama saja.

Sama-sama mencitrakan WIN-HT dan Partai Hanura.

Universitas Sumatera Utara Kalau Kuis Kebangsaaan di RCTI segmentasinya

lebih ke ibu-ibu dan bapak-bapak, serta hadianya berupa barang. Sedangkan Indonesia Cerdas di Global TV itu segmentasinya untuk akademisi, yang hadiahnya berupa uang untuk dana pendidikan. Disini terlihat jika WIN-HT pintar dalam pembagian sasaran penonton. Jika dilihat dari jam tayangannya pun, sangat jelas terlihat jika kuis tersebut tidak sama jam tayangnya, agar penonton dapat menyaksikan kuis secara bergantian dalam waktu yang berbeda.

Informan II

Nama : SN

Tempat/Tanggal Lahir : Medan, 24 September 1987 Jenis Kelamin : Perempuan

Agama : Islam

Suku : Banjar

Pekerjaan : Tenaga Pendidik (Asisten Dosen) Pendidikan Terakhir : S1 Ilmu Politik USU

Hobi : Nulis Buku

Alamat : Jalan Amal gg. Keluarga No. 25 Medan P : Peneliti

I : Informan

No. ISI WAWANCARA REFLEKSI

1. P: Apakah pernah menyaksikan kuis kebangsaan di RCTI?

I : Pernah

2. P: Kira kira berapa kali?

I : Sekitar 3 kali

3. P: Kenapa hanya sekitar 3 kali?

I : Iya kan tiap hari ada kegiatan di luar, waktu itu kalau gak salah pas nonton yang sore, pulang dari kampus, pas liat penasaran ini kuis apa.

4. P: Nontonnya dari awal sampai akhir atau terputus-putus?

I : kalau nonton kuis itu gak pernah dijadwalin, jadi kalau ngelihat kuis itu biasanya gak sengaja dan pas lihat ada yang sampai habis, ada juga yang setengah jalan terus diganti kesiaran lain.

5. P: Kapan pertama kali menyaksikan kuis tersebut?

I : saya lupa-lupa inget, pastinya sebelum pemilu.

Pertamanya gak sengaja sih ngelihat kuisnya, ngelihat ini tayangan apaan, gak taunya nama tayangannya Kuis Kebangsaan.

6. P: Nyedian waktu khusus untuk menonton kuis?

I : ya pastinya tidak, karenakan saya cukup banyak kegiatan di luar rumah, seperti mengajar juga

I : ya pastinya tidak, karenakan saya cukup banyak kegiatan di luar rumah, seperti mengajar juga