• Tidak ada hasil yang ditemukan

Saran

Dalam dokumen UNIVERSITAS INDONESIA (Halaman 70-142)

V. KESIMPULAN DAN SARAN

5.2. Saran

1. Perlu menjalankan sistem komputerisasi secara menyeluruh, sehingga pemantauan, pencarian data, dan penelusuran informasi menjadi lebih mudah.

2. Perlunya pembinaan dan pelatihan tenaga kerja mengenai pentingnya sanitasi dan higiene yang dilakukan secara berkesinambungan.

3. Perlu diadakan HPLC untuk menunjang kerja dari Instalwastu Lafi Ditkesad.

DAFTAR ACUAN

Menteri Kesehatan Republik Indonesia. (1988). Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No.43/SK/Menkes/II/1988 tentang Pedoman CPOB.

Jakarta: Departemen Kesehatan Republik Indonesia.

Menteri Kesehatan Republik Indonesia. (1990). Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No.245/Menkes/SK/V/1990 tentang Ketentuan dan Tata Cara Pelaksanaan Izin Usaha Industri Farmasi. Jakarta:

Departemen Kesehatan Republik Indonesia.

Badan Pengawas Obat dan Makanan. (2006). Pedoman Penerapan Cara Pembuatan Obat yang Baik, Jakarta: Badan Pengawas Obat dan Makanan.

Badan Pengawas Obat dan Makanan. (2001). Petunjuk Operasional Penerapan Cara Pembuatan Obat yang Baik. Jakarta: Badan Pengawas Obat dan Makanan.

Kepala Staf TNI AD. (2007). Peraturan Kasad Nomor Perkasad/219/XII/2007 tentang Organisasi dan Tugas Lembaga Farmasi Ditkesad (Orgas Lafi Ditkesad). Bandung.

LAMPIRAN

LAMPIRAN 1

STRUKTUR ORGANISASI

DIREKTORAT KESEHATAN ANGKATAN DARAT

BERDASARKAN KEPUTUSAN KEPALA STAF ANGKATAN DARAT NOMOR KEP / 28 / IX / 2006

DITKESAD

SESDITKESAD INFOLAHTA

RSPAD

SUBDIT BINMATKES SUBDIT

BINDUKKES

POKPIMP IT

SUBDIT BINCAB

SUBDIT BINYANKES

LAFI LABIOMED LAKESMIL LAKESGILUT LAPALKES GUPUS I GUPUS II

LAMPIRAN 2

STRUKTUR ORGANISASI LAFI DITKESAD,

BERDASARKAN PERATURAN KASAD NO : Perkasad 219 / XII / 2007

Eselon Pimpinan

Eselon Pembantu Pimpinan

Eselon Pelayanan Eselon Pelaksana

Keterangan :

KALAFI : Kepala Lembaga Farmasi

WAKALAFI : Wakil kepala Lembaga Farmasi

PA AHLI : Perwira Ahli

KABAG MINLOG : Kepala Bagian Administrasi dan Logistik

KASI TUUD : Kepala Seksi Tata Usaha Urusan Dalam

KAINSTALPROD : Kepala Instalasi Produksi

KAINSTALWASTU : Kepala Instalasi Pengawasan Mutu KAINTALHAR DAN SISJANG : Kepala Instalasi Pemeliharaan dan Sistem

Penunjang

KAINSTAL LITBANG : Kepala Instalasi Penelitian dan Pengembangan KAINSTALSIMPAN : Kepala Instalasi Penyimpanan

KALAFI

LAMPIRAN 3

SISTEM PENGAWASAN MUTU LAFI DITKESAD

Instal Simpan (Gudang

Pembelian/Rekanan Bahan Baku dan Bahan Pembantu

Pemeriksaan Kualitas

LAMPIRAN 4

BLANKO CATATAN PENGUJIAN BAHAN BAKU

LAMPIRAN 5 10. SELESAI DIUJI TANGGAL : 2. NAMA PABRIK :

Tanggal ....-....-20...., TA 20.... Contoh :..No..

15. PUSTAKA : Farmakope Indonesia Ed. IV Th. 1995/Prosedur Tetap

16. CATATAN : 17. KESIMPULAN :

18. PEMERIKSA :

BANDUNG, 20 KA. INS. WASTU

( )

LAMPIRAN 6

BLANKO CATATAN PENGUJIAN TABLET / KAPSUL

LAMPIRAN 7

BLANKO CATATAN PENGUJIAN LARUTAN / SIRUP / INJEKSI / SALEP / KRIM

LAMPIRAN 8

LABEL KARANTINA, DILULUSKAN, DAN DITOLAK

LAMPIRAN 9

ALUR PROSES PRODUKSI SEDIAAN TABLET

IPC:

IPC:

Homogenitas, Kadar zataktif

IPC:

Kekerasan, kerapuhan, dan keseragaman bobot

LAMPIRAN 10

ALUR PROSES PRODUKSI SEDIAAN KAPSUL

Karantina

Pengisian Kapsul Mixer

Polishing

Pencampuran Homogen

Wastu/IPC Wastu/IPC

Karantina Penimbangan

Gudang Obat Jadi Pengemasan

Zat Aktif, Zat Pelincir

Karantina

Pengemasan Karantina Lolos Uji

IPC

Homogenitas massa kapsul Penetapan kadar bahan aktif

IPC

Keseragaman bobot kapsul

QC Pemeriksaan

kelengkapan obat jadi (pemberian label, stempel, nomor batch, exipired date, brosur) IPC

Jumlah setiap strip

Kebocoran strip

LAMPIRAN 11

ALUR PROSES PRODUKSI SEDIAAN SIRUP

LAMPIRAN 12

ALUR PROSES PRODUKSI SIRUP KERING

Wastu/IPC Pengisian/Penutupan

/Labeling

Pengemasan Sekunder

Botol Bersih Pengeringan

Wastu/IPC

Obat Jadi Pencampuran

Wastu/IPC Wastu/IPC

Instalsimpan

Penimbangan Botol

Pencucian Pencampuran

LAMPIRAN 13

ALUR SISTEM PENGOLAHAN AIR

Raw Material (PDAM)

PENUKAR KATION DAN ANION

Purified Water

FILTER 0,3 µm

High Purified Water

Water For Injection

Steril Water For Injection DESTILASI

STERILISASI

FILTER 0,2 µm SAND

FILTER

CARBON FILTER

Bak I Bak II Bak III

GROUND TANK

LAMPIRAN 14

DENAH INSTALASI PENGOLAHAN AIR LIMBAH

AIR LIMBAH

LAMPIRAN 15

INSTALASI AHU LAFI DITKESAD

LAMPIRAN 16

ALUR PROSES PENERIMAAN DAN PENGELUARAN BARANG DI INSTALASI PENYIMPANAN

- Pemotongan kartu barang - Pembuatan BP intern LAFI

(setelah selesai timbang 1 item obat)

PPM : Perintah Pengeluaran Materil

PPnM : Perintah Penerimaan Materil

DITKESADA

LAMPIRAN 17

SERTIFIKAT CARA PEMBUATAN OBAT

Sertifikat CPOB sediaan β-laktam

Sertifikat CPOB sediaan non β-laktam

LAMPIRAN 18

PRODUK LAFI DITKESAD

Nama Produk Isi Bentuk Sediaan

Amox Amoksisilin Kaplet, Kapsul, Sirup Kering

Ampi Ampisilin Kaplet, Kapsul, Sirup Kering

Buscofiad Antalgin, Hiosin n butil bromida Tablet

Clofenad Natrium Diklofenak Tablet salut enterik

Dexad Deksametason Tablet

Dextro 15 Dekstrometorfan HBr Tablet

Fimol Parasetamol Tablet, Sirup

Floxad Ciprofloxacin Kaplet, Kapsul, Sirup Kering

Ifenad Ibuprofen Tablet

Lafiodine Povidon Iodin 10% Larutan Antiseptik

Lafitens Kaptopril Tablet

Metron Metronidazol Tablet

Neodiare Anttapulgite Tablet

Neolafimag Sanalmin, Simetikon Tablet kunyah

Neostopflu Parasetamol, ctm, fenilpropanolamin Tablet

Neuralgad Antalgin, klordiazepoksid, Thiamin mononitrat Tablet Piridoksin HCl, Sianokobalamin, kofein

Neurobiad Vitamin B1, Vitamin B6, Vitamin B12 Tablet

Ponstad Asam Mefenamat Kaplet, Kapsul

Sangobiad Fe gluconas, Mn Sulfat, Cu Sulfat Kapsul

Asam folat, Sianokobalamin, Vitamin C

Solvonad Bromhexine HCl Tablet

Sultrim Trimetoprim, Sulfametoksazol Tablet, Sirup

Thiamfi Tiamfenikol basa Kapsul

Yudhavit Ekstrak ginseng, Vit A, Vit B1, Vit B2 Kaplet

Vit B6, Nikotinamida, Asam askorbat Kalsium pentotenat, Tembaga sulfat Fe gluconas, Mg Sulfat, Mn Sulfat, Zinc Sulfat

LAMPIRAN 19

DAFTAR PRODUK OBAT LAFI DITKESAD

TUGAS KHUSUS PRAKTEK KERJA PROFESI A

DIREKTORAT KESEHATAN ANGKATAN DARAT JL. GUDANG UTARA NO 25

PROTOKOL VALIDASI RETROSPEKTIF

PROGRAM PROFESI APOTEKER UNIVERSITAS INDONESIA

TUGAS KHUSUS PRAKTEK KERJA PROFESI A DI LEMBAGA FARMASI

DIREKTORAT KESEHATAN ANGKATAN DARAT JL. GUDANG UTARA NO 25-26, BANDUNG

PERIODE 1 – 30 APRIL 2013

ROTOKOL VALIDASI RETROSPEKTIF PEMBUATAN TABLET PARASETAMOL

TITIK NURDAYANI, S.Farm.

1206313791

APOTEKER LXXVI

FAKULTAS FARMASI

PROGRAM PROFESI APOTEKER DEPOK

JUNI 2013

TUGAS KHUSUS PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DIREKTORAT KESEHATAN ANGKATAN DARAT

BANDUNG

PEMBUATAN

DAFTAR ISI

Halaman Halaman Judul ... i Daftar Isi ... ii Daftar Gambar ... iii Daftar Lampiran ... iv Bab I. Pendahuluan ... 1 1.1. Latar Belakang ... 1 1.2. Tujuan ... 2 Bab II. Tinjauan Pustaka ... 3 2.1. Tablet ... 3 2.2. Parasetamol ... 4 2.3. Validasi ... 5 2.3.1. Tahapan Validasi ... 5 2.3.2. Kualifikasi ... 5 2.4. Validasi Proses ... 7 2.4.1. Jenis-jenis Validasi Proses ... 8 2.4.2. Protokol Validasi ... 9 Bab III. Metode Penelitian ... 10 3.1. Waktu dan Tempat Penelitian ... 10 3.2. Metode Penelitian ... 10 3.2.1. Kepala Protokol ... 10 3.2.2. Ruang Lingkup ... 10 3.2.3. Tanggung Jawab ... 10 3.2.4. Isi Protokol ... 11 Bab IV. Pembahasan ... 13 Bab V. Kesimpulan dan Saran ... 17 5.1. Kesimpulan ... 17 5.2. Saran ... 17 Daftar Acuan ... 18 Lampiran ... 19

DAFTAR GAMBAR

Halaman Gambar 2.1. Struktur Molekul Parasetamol ... 4

DAFTAR LAMPIRAN

Halaman Lampiran: Protokol Validasi Retrospektif Pembuatan Tablet Parasetamol

500 mg ... 19

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Penerapan CPOB pada industri farmasi yang menyangkut seluruh aspek produksi dan pengendalian mutu, bertujuan untuk menjamin bahwa produk obat senantiasa memenuhi persyaratan mutu yang telah ditentukan. Selain itu penerapan CPOB tersebut dimaksudkan untuk memperluas akses pasar impor, karena CPOB termasuk dalam salah satu persyaratan internasional.

Untuk mendapatkan hasil produksi yang bermutu, unsur validasi tidak dapat dipisahkan dari penerapan CPOB karena validasi merupakan salah satu bagian yang penting agar obat yang dihasilkan atau produksi dari batch ke batch terjamin kualitasnya dan memenuhi persyaratan yang ditetapkan. Usaha industri farmasi yang telah melaksanakan validasi dengan baik, dapat menjamin mutu hasil produksinya, karena penerapan suatu proses yang sudah dipahami disertai pengawasan yang memadai, dapat meyakinkan konsumen akan mutu suatu produk yang dihasilkan. Hal ini sekaligus menghemat biaya produksi karena hasil validasi akan meningkatkan efektifitas produksi sehingga pengeluaran biaya yang tidak perlu akibat kegagalan yang terjadi dapat dihindarkan.

Protokol validasi adalah suatu rencana tertulis mulai dari bagaimana validasi akan dilaksanakan termasuk parameter pengujian, karakteristik produk, peralatan dan batas pengambilan keputusan terhadap hasil uji yang dapat diterima.

Tujuan dibuatnya protokol validasi adalah memberikan kemudahan pengguna, koordinator, manajer dan auditor dengan petunjuk yang jelas dalam memvalidasi peralatan dan proses di pabrik. Protokol validasi yang baik memberikan kemudahan bagi personil yang belum terlatih untuk bekerja dan memahahami seluruh sistem, tujuan penggunaanya, bagaimana fungsinya, bagaimana sistem tersebut diuji, apa saja urutan pengujianya, dan hasil dari seluruh pengujian tersebut.

Mengingat pentingnya kegunaan validasi tersebut maka Lafi Ditkesad memberikan tugas khusus kepada para calon Apoteker yang melakukan PKPA

industri di Lafi Ditkesad untuk melakukan pengamatan validasi terhadap proses pembuatan tablet Parasetamol yang akan dicoba untuk dibahas dalam tugas ini.

1.2. Tujuan

Tugas khusus ini bertujuan untuk mengetahui dan memahami pembuatan protokol validasi retrospektif proses pembuatan tablet parasetamol.

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Tablet

Tablet merupakan bentuk sediaan farmasetika yang banyak dijumpai. Tablet adalah sediaan padat, dibuat secara kempa cetak, berbentuk rata atau cembung rangkap, umumnya bulat, mengandung satu jenis obat atau lebih dengan atau tanpa zat tambahan.

Kelebihan bentuk sediaan tablet (Lachman, Liebermann, & Kanig, 1994):

1. Tablet merupakan bentuk sediaan kompak yang memiliki ketepatan ukuran terbaik dan keseragaman kandungan yang paling tinggi di antara bentuk sediaan oral lainnya.

2. Tablet merupakan bentuk sediaan yang memiliki biaya pembuatan relatif murah, mudah dikemas dan dikirim.

3. Tablet merupakan bentuk sediaan yang tahan terhadap masuknya bahan asing ke dalam tablet.

4. Pemberian tanda pengenal produk pada tablet paling mudah dan relatif murah, tidak memerlukan langkah pekerjaan tambahan bila menggunakan permukaan cetakan yang bermonogram atau berhiasan timbul.

5. Tablet relatif mudah ditelan dan memiliki kemungkinan terkecil untuk tertinggal di tenggorokan.

6. Tablet dapat dijadikan produk dengan profil pelepasan khusus, seperti pelepasan di lambung atau usus, dan produk lepas lambat.

7. Tablet merupakan bentuk sediaan oral yang paling mudah untuk diproduksi secara besar-besaran.

2.2. Parasetamol

Gambar 2.1. Struktur molekul Parasetamol

BM : 151,2

Nama/sinonim : Asetaminofen, Parasetamol, Asetofenum.

Nama kimia : 4-hidroksi asetanilid, p-hidroksi asetanilid, p-asetamidofenol, p-asetaminofenol, p-asetilaminofenol, N-asetil-p-amonofenol.

Nomor CAS : 103-90-2

Pemerian : Hablur atau serbuk hablur putih; tidak berbau; rasa pahit.

Kelarutan : Larut dalam 70 bagian air, dalam 7 bagian etanol ( 95% ) P, dalam 13 bagian aseton P, dalam 40 bagian gliserol P dan dalam 9 bagian propilenglikol P; larut dalam larutan alkali hidroksida.

Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik, terlindung dari cahaya.

Titik leleh : 169o C sampai 172o C.

Indikasi : Analgetikum ; Antipiretikum.

Posologi : Untuk dewasa 500 mg – 1 g tiap 4 – 6 jam dalam satu kali pemberian, maksimum 4 g perhari.

Anak umur 6 – 12 tahun 150 – 300 mg dalam sekali pemberian dengan maksimum 1,2 g perhari. Untuk anak 1 – 6 tahun 60 – 120 mg dalam sekali pemberian, maksimum 6 kali sehari. Untuk anak dibawah 3 tahun 10 mg/kg berat badan (dosis dikurangi sampai 5 mg/kg berat badan jika menderita jaundice).

2.3. Validasi

Validasi adalah suatu tindakan pembuktian dengan cara yang sesuai bahwa tiap proses, bahan/bahan baku, prosedur, kegiatan, sistem, perlengkapan atau mekanisme yang digunakan senantiasa sesuai yang diinginkan.

Tujuan validasi yaitu:

a. Mengidentifikasi parameter proses yang kritis.

b. Menetapkan batas toleransi yang dapat diterima (acceptable criteria) dari masing-masing parameter yang kritis.

c. Memberikan cara atau metode pengawasan terhadap parameter yang kritis.

2.3.1. Tahapan Validasi Tahapan validasi yaitu:

a. Rencana induk validasi; mencakup progam validasi.

b. Protokol validasi : berdasarkan standar validasi.

c. Kalibrasi dan kualifikasi 1. Kalibrasi instrument

2. Kualifikasi peralatan, sistem penunjang, lingkungan dan personalia yang meliputi kelayakan instalasi (IQ), kelayakan operasional (OQ), kelayakan kinerja (PQ).

d. Validasi proses (validasi produk) e. Laporan dan kesimpulan validasi

2.3.2. Kualifikasi

Validasi alat akan melalui tahapan validasi yang meliputi kalibrasi dan kualifikasi. Kualifikasi alat meliputi empat bagian, yaitu;

a. Kualifikasi Rancangan (Design Qualification)

Proses melengkapi dan mendokumentasikan kajian rancangan (design review) untuk meyakinkan bahwa seluruh aspek mutu telah dipertimbangkan dan dikaji pada tahap perancangan.

b. Kualifikasi Instalasi (Instalation Qualification)

Proses pemeriksaan instalasi untuk memastikan bahwa seluruh komponen memenuhi persyaratan yang ditetapkan dan telah dipasang secara tepat, kemudian bagaimana informasi tersebut dicatat.

Tahap-tahap yang dilakukan adalah:

1) Memastikan bahwa sistem atau peralatan telah dipasang sesuai rencana desain dan spesifikasi.

2) Melakukan kalibrasi peralatan dan instrumen.

3) Beberapa sistem tertentu harus dibuktikan dapat beroperasi sesuai dengan desain dan spesifikasi.

Kualifikasi instalasi dilakukan terhadap alat baru atau alat yang akan di rakit ulang, misalnya karena pemindahan lokasi alat.

c. Kualifikasi Operasional (Operational Qualification)

Proses pengujian untuk memastikan bahwa masing-masing komponen/sistem dan/atau kombinasi dari sistem tersebut berfungsi sesuai rancangan dan memenuhi kriteria kinerja yang ditetapkan pada rentang operasional dan bagaimana cara pengujianya.

Tahap-tahap yang dilakukan:

1) Memastikan bahwa sistem dan peralatan bekerja sesuai dengan desain dan spesifikasi.

2) Diulangi sebanyak tiga kali secara berurutan

d. Kualifikasi Kinerja (Perfomance Qualification)

Memastikan bahwa sistem atau peralatan yang digunakan sesuai dengan yang diharapkan dan ditentukan. Pada umumnya pelaksanaan dilakukan dengan placebo. Khususnya untuk produk yang tidak dapat dikorbankan atau dilakukan berulang-ulang, kondisi ini harus harus dilaksanakan seperti validasi produk.

Diulang sebanyak tiga kali secara berurutan.

2.4. Validasi Proses

Validasi proses adalah penetapan melalui bukti yang objektif bahwa suatu proses telah berjalan spesifik, terencana dan secara tetap (konsistensi) telah menghasilkan suatu produk yang memenuhi spesifikasi dan karakteristik yang dikehendaki dan sesuai dengan ditetapkan sebelumnya. Tujuan dari validasi proses adalah untuk memberikan kepercayaan yang tinggi, bahwa proses akan menghasilkan produk yang memenuhi persyaratan mutu yang diterapkan.

Untuk melakukan validasi proses harus ada protokol, berupa dokumen yang merinci bagaimana validasi proses akan dilaksanakan. Protokol ini berisi paparan pokok tentang alur proses, parameter kritis, pengambilan dan analisis sampel serta kriteria penerimaan suatu proses menuju pada kesimpulan. Tapi yang harus diperhatikan dalam protokol adalah harus sesuai dengan dokumen registrasi dalam formulasi, proses, spesifikasi, dan metode analisis. Untuk pelaksanaanya harus mengikuti tahapan protokol atau instruksi yang berlaku. Setiap penyimpangan serta pengamanan selama pelaksanaan selalu didokumentasikan serta di evaluasi dampaknya. Parameter spesifikasi dapat untuk mengkatagorikan karakteristik proses yang sedang dievaluasi dalam rangka validasi proses. Spesifikasi dibuat berdasarkan hasil uji dan kriteria penerimaan dari parameter proses terkait dalam produksi rutin.

Untuk validasi proses, pengambilan sampel untuk mengetahui homogenitas pencampuran, sampel diambil dari bagian atas, tengah, dan bawah campuran.

Sedangkan untuk keseragaman kadar dari proses pencetakan tablet, awal, tengah, dan akhir (Start, Middle, and End). Dalam pengambilan sampel, lokasi pengambilan juga berperan penting, hal ini bertujuan untuk mendapatkan contoh yang representatif dan contoh di lokasi yang berpotensi menimbulkan masalah.

Berat dan jumlah sampel juga menentukan karena:

a. Berat dan jumlah sampel diatur berdasarkan metodologi pengujian untuk pengujian secara fisik, seperti dalam AQL (Acceptable Quality Level).

b. Berat dan jumlah sampel juga harus dibatasi dan ditetapkan khusus bagi setiap parameter spesifikasi untuk pengujian secara kimia, misalnya 1-3 kali bobot dose final untuk pemeriksaan keseragaman kadar campuran sebelum pengisian kapsul atau pencetakan tablet.

c. Berat dan jumlah sampel harus didasarkan pada presentasi zat aktif untuk situasi-situasi lain. Dengan catatan besar sampel yang berlebih akan menyembunyikan masalah keseragaman apabila zat aktif didalamnya berkurang.

Setelah selesai melakukan validasi proses hasilnya harus didokumentasikan dalam bentuk laporan, yang memuat aktifitas, temuan, analisis, data dan evaluasi penyimpangan terhadap protokol atau kriteria penerimaan serta kesimpulan.

2.4.1. Jenis-jenis Validasi Proses

Tergantung dari status suatu sistem atau produk ada empat pendekatan validasi yang dapat dipilih yaitu:

a. Validasi Prospektif

Menyajikan bukti terdokumentasi bahwa suatu proses, prosedur, sistem, peralatan atau mekanisme yang dipakai dalam pembuatan obat bekerja sesuai yang dimaksud berdasarkan suatu protokol validasi yang dirancang sesuai dengan perolehan data pertama (untuk produk baru yang belum beredar).

b. Validasi Konkuren

Validasi yang dilaksanakan berdasarkan data otentik yang diperoleh dan dikumpulkan melalui proses yang sedang berlaku (untuk produk yang sedang beredar).

c. Validasi Retrospektif

Validasi proses pembuatan produk yang telah dipasarkan berdasarkan data otentik yang diperoleh dan dikumpulkan dari proses yang sudah (lama) berlaku dan dinilai melalui prinsip statistik (untuk produk yang sudah lama beredar).

d. Validasi Ulang

Suatu pengulangan dari validasi proses sebelumnya untuk memperoleh kepastian bahwa perubahan dalam proses / lingkungan proses (disengaja atau

tidak) tidak mengakibatkan dampak yang merugikan terhadap karakteristik proses dan mutu produk.

2.4.2. Protokol Validasi

Sebelum melakukan proses validasi, terlebih dahulu menyusun protokol validasi yaitu suatu rencana tertulis yang menyatakan bagaimana validasi akan dilakukan yang mencakup parameter pengujian, karakteristik produk, peralatan produksi serta keputusan mengenai apa yang merupakan hasil yang dapat diterima.

Protokol validasi minimal harus mengandung beberapa unsur berikut yaitu:.

a. Tujuan

b. Penjelasan tentang subyek yang divalidasi c. Metode analisis

d. Kalibrasi dari instrumen yang digunakan saat validasi.

e. Kriteria penerimaan

f. Lampiran atau referensi dokumen seperti spesifikasi, laporan pengembangan dan penelitian yang dilampirkan dalam protokol.

g. Pengesahan protokol.

Selain itu, protokol juga harus mengandung :

a. Alasan terhadap pendekatan validasi yang digunakan.

b. Rencana sampling, termasuk alasannya.

c. Identifikasi dan alasan untuk kondisi-kondisi pengujian.

d. Identifikasi dan alasan untuk parameter-parameter kritis.

e. Perhitungan jika diperlukan untuk evaluasi hasil.

Laporan hasil validasi harus mengandung :

a. Pembahasan dan pernyataan terhadap kejadian dan ketidaksesuaian.

b. Ringkasan dan kesimpulan termasuk pembahasan terhadap setiap perubahan.

c. Pengesahan hasil

METODE PENELITIAN

3.1. Waktu dan Tempat Penelitian

Data diperoleh dari studi lieteratur di Lembaga Farmasi Direktorat Kesehatan Angkatan Darat pada periode 1 April – 30 April 2013.

3.2. Metode Penelitian

Metode penelitian dilakukan dengan langkah-langkah penyusunan protokol sebagai berikut:

3.2.1. Kepala Protokol

Berisi lambang Lafi AD, judul protokol, nomor protokol, tanggal berlaku, nama produk, kode produk, bentuk sediaan, kekuatan sediaan, besar bets, nomor bets, lokasi pembuatan, dokumen produksi induk dan tanggal pembuatan.

3.2.2. Ruang lingkup

Protokol ini merupakan panduan untuk melakukan validasi retrospektif pembuatan tablet Parasetamol di Lembaga Farmasi Ditkesad, meliputi pengawasan parameter kritis pembuatan, pengambilan sampel yang tepat dan pengujian selama pengolahan.

3.2.3. Tanggung jawab a. Bagian Produksi

Bertanggung jawab untuk :

1) Menyusun protokol dan laporan validasi 2) Memastikan bahwa:

a) Peralatan terkait sudah terkualifikasi, tersimpan dengan benar dan siap digunakan

b) Protap yang digunakan untuk memproduksi bets validasi, pengawasan selama proses dan pengambilan sampel sudah sesuai yang tercantum dalam protocol ini

c) Proses pembuatan dilaksanakan sesuai prosedur pengolahan induk yang berlaku.

b. Pemastian Mutu

Pemastian Mutu bertanggung jawab untuk:

1) Mengkaji dan menyetujui Protokol dan Laporan Validasi 2) Menangani kendala dan penyimpangan dalam validasi

3) Mengkaji dan memberikan persetujuan serta pelulusan atas bets validasi.

c. Pengawasan Mutu

Pengawasan Mutu bertanggung jawab untuk:

1) Melaksanakan pengujian fisika dan kimia yang diperlukan untuk meluluskan produk

2) Melakukan pengujian tambahan yang diminta dalam protokol (jika diperlukan)

3) Menangani Hasil Uji di Luar Spesifikasi (HULS).

3.2.4. Isi Protokol a. Komposisi/formula

Berisi komposisi per tablet baik bahan aktif maupun bahan tambahan.

b. Spesifikasi bahan awal

Daftar bahan awal yang digunakan pada proses pembuatan.

c. Perlengkapan dan peralatan yang digunakan

Peralatan dan perlengkapan yang digunakan pada proses pembuatan harus sudah dikualifikasi dan dikalibrasi sebelum produksi dimulai.

d. Sistem penunjang

Sistem penunjang yang digunakan pada proses pembuatan harus sudah dikualifikasi sebelum produksi dimulai.

e. Pola Pengambilan Sampel

Pola pengambilan sampel dari bahan baku sampai produk jadi.

f. Pengolahan

Merupakan alur proses pembuatan tablet dalam satu bets.

g. Proses pembuatan dan parameter kritis

Setiap parameter kritis dari tahapan proses pembuatan dilakukan pengujian baik terhadap bahan aktif maupun bahan tambahan.

h. Kriteria Penerimaan

Validasi dianggap lulus dan dapat diterima apabila hasil pengujian yang diperoleh memenuhi batasan spesifikasi serta seluruh parameter pengujian yang tercantum dalam lampiran telah dilaksanakan.

i. Pengendalian Perubahan

Apabila hasil pengujian yang diperoleh ada yang tidak memenuhi kriteria penerimaan (pelulusan) maka tindak lanjut harus diusulkan dan disetujui oleh petugas yang menandatangani protokol validasi.

j. Pengkajian Kembali Tahunan dan Validasi Ulang

Protokol ini mencakup perencanaan untuk melaksanakan pengkajian tahunan dari seluruh data serta dokumen yang ada.

k. Laporan validasi

Berisi kesimpulan dari validasi retrospektif yang telah dilakukan.

PEMBAHASAN

Mutu suatu produk jadi merupakan faktor penting dalam industri farmasi.

Obat yang bermutu adalah obat yang dapat memenuhi kepuasan pemakai. Mutu sediaan obat akan benar-benar terjamin jika dilakukan suatu proses validasi.

Proses validasi merupakan salah satu penerapan CPOB guna mencapai hasil yang sama antara bets ke bets. Alasan lain penerapan proses validasi yaitu memenuhi Peraturan Pemerintah (dalam hubungannya dengan penerapan CPOB), menjamin mutu obat dan menghemat biaya produksi. Sebelum melaksanakan proses validasi perlu dibuat terlebih dahulu protokol validasi, agar proses validasi yang di lakukan sesuai dengan alur dan ketentuan yang ditetapkan berdasarkan CPOB.

Lembaga Farmasi Ditkesad merupakan lembaga farmasi yang menghasilkan sediaan obat untuk memenuhi kebutuhan bagi prajurit PNS TNI AD dan keluarganya. Obat yang dihasilkan tersebut haruslah bermutu. Salah satu produk yang dihasilkan oleh Lafi Ditkesad adalah Fimol (Parasetamol). Untuk menjamin mutu sediaan tersebut haruslah dilakukan validasi terhadap proses produksinya.

Ketentuan CPOB dalam protokol validasi proses pembuatan tablet antara lain dalah bahan baku, proses, prosedur pembuatan, sistem penunjang, serta peralatan yang digunakan dalam proses pembuatan akan memberikan hasil yang konstan. Sebelum melaksanakan proses validasi perlu dibuat terlebih dahulu protokol validasi, yang merupakan rencana tertulis bagaimana validasi dapat dilaksanakan, termasuk parameter pengujian karakteristik produk, peralatan dan batas pengambilan keputusan terhadap hasil uji yang dapat diterima. Sehingga dengan adanya protokol validasi proses, validasi yang dilakukan sesuai dengan alur dan ketentuan yang ditetapkan berdasarkan CPOB.

Protokol validasi proses pembuatan tablet Parasetamol, merupakan protokol validasi retrospektif, karena validasi yang dilakukan berrdasarkan data pembuatan, pengujian dan pengawasan bets yang dikumpulkan dengan menggunakan 3 bets berturut-turut. Bahan aktif tablet Parasetamol 500 mg adalah

Acetaminhopen pulvis yang berkhasiat sebagai analgesik, bahan pembantu yang ditambahkan sudah sesuai dengan sifat fisikokimia dari bahan aktifnya. Metode

Acetaminhopen pulvis yang berkhasiat sebagai analgesik, bahan pembantu yang ditambahkan sudah sesuai dengan sifat fisikokimia dari bahan aktifnya. Metode

Dalam dokumen UNIVERSITAS INDONESIA (Halaman 70-142)

Dokumen terkait