BAB 5 KESIMPULAN DAN SARAN
5.2 Saran
a. Tetap mempertahankan kerjasama yang baik antar departemen pada PT Actavis Indonesia sehingga dihasilkan kinerja yang lebih baik.
b. Terus menjaga dan mempertahankan kualitas produk sesuai dengan CPOB atau GMP yang telah ada.
Badan Pengawasan Obat dan Makanan. (2012). Pedoman Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB). Jakarta: BPOM RI.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2010). Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 1799/MENKES/PER/XII/2010 Tentang Industri Farmasi. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI
Presiden Republik Indonesia. (1967). Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 1967 Tentang Penanaman Modal Asing. Jakarta: Presiden RI Presiden Republik Indonesia. (2009). Peraturan Pemerintah Republik Indonesia
Nomor 51 Tahun 2009 Tentang Pekerjaan Kefarmasian. Jakarta: Presiden RI
Presiden Republik Indonesia. (2009). Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 36 Tahun 2009 Tentang Kesehatan. Jakarta: Presiden RI
Priyambodo, Bambang. (2007). Manajemen Farmasi Industri. Yogyakarta:
Global Pustaka Utama.
PT. Actavis Indonesia. (2013). SOP Approved Supplier. Jakarta: PT. Actavis Indonesia.
PT. Actavis Indonesia. (2013). SOP Tata Cara Masuk-Keluar Karyawan dan Tamu di Area Produksi Beta Lactam Facility. Jakarta: PT. Actavis Indonesia
PT. Actavis Indonesia. (2012). SOP Toll Manufacturing & Analysis. Jakarta: PT.
Actavis Indonesia.
PT. Actavis Indonesia. (2011). SOP Pelatihan Karyawan. Jakarta: PT. Actavis Indonesia.
PT. Actavis Indonesia. (2010). SOP Change Control (Kontrol Perubahan).
Jakarta: PT. Actavis Indonesia.
PT. Actavis Indonesia. (2009). SOP Pembersihan Mesin Secara Umum. Jakarta:
PT. Actavis Indonesia.
PT. Actavis Indonesia. (2009). SOP Self Inspection (Inspeksi Diri). Jakarta: PT.
Actavis Indonesia.
PT. Actavis Indonesia. (2009). SOP Tata Cara Masuk Area Gudang. Jakarta: PT.
Actavis Indonesia.
LAMPIRAN
Lampiran 1. Struktur Manajemen Operasional PT Actavis Indonesia
Lampiran 1. Struktur Manajemen Operasional PT Actavis Indonesia (lanj.)
LAPORAN TUGAS KHUSUS PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER
DI PT ACTAVIS INDONESIA
JL. RAYA BOGOR KM 28, JAKARTA TIMUR PERIODE 12 AGUSTUS – 30 SEPTEMBER 2013
PENENTUAN METODE NATRIUM SITRAT DAN ASAM SORBAT DALAM ENEMA LAKSATIF
SARY NUR NATALIA 1206330091
ANGKATAN LXXVII
FAKULTAS FARMASI PROGRAM PROFESI APOTEKER
DEPOK JANUARI 2014
LAPORAN TUGAS KHUSUS PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER
DI PT ACTAVIS INDONESIA
JL. RAYA BOGOR KM 28, JAKARTA TIMUR PERIODE 12 AGUSTUS – 30 SEPTEMBER 2013
PENENTUAN METODE NATRIUM SITRAT DAN ASAM SORBAT DALAM ENEMA LAKSATIF
Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar profesi Apoteker
SARY NUR NATALIA 1206330091
ANGKATAN LXXVII
FAKULTAS FARMASI PROGRAM PROFESI APOTEKER
DEPOK JANUARI 2014
HALAMAN SAMPUL ... i HALAMAN JUDUL ... ii DAFTAR ISI ... iii DAFTAR GAMBAR ... iv DAFTAR LAMPIRAN ... v I. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang ... 1 1.2. Tujuan Penelitian ... 2 II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Natrium sitrat ... 3 2.2. Asam sorbat ... 4 2.3. Kromatografi Cair Kinerja Tinggi ... 4 2.4. Metode analisis Natrium sitrat dan Asam sorbat ... 8 III. METODOLOGI PENELITIAN
3.1. Tempat penelitian ... 11 3.2. Alat ... 11 3.3. Bahan ... 11 3.4. Cara kerja ... 12 IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. Pemilihan panjang gelombang analisis ... 14 4.2. Optimasi metode analisis Natrium sitrat dan Asam sorbat ... 14 V. KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan ... 16 5.2 Saran ... 16 DAFTAR PUSTAKA ... 17
Gambar 2.1 Rumus struktur Natrium sitrat ... 3 Gambar 2.2 Rumus struktur Asam sorbat ... 4 Gambar 3.1 Kromatogram larutan standar asam sorbat 10 µg/mL ... 19 Gambar 3.2 Kromatogram larutan standar natrium sitrat 10 µg/mL ... 19 Gambar 3.3 Kromatogram larutan standar asam sorbat 10 µg/mL ... 20 Gambar 3.4 Kromatogram larutan standar natrium sitrat 10 µg/mL ... 20 Gambar 3.5 Kromatogram larutan standar asam sorbat 50 µg/mL ... 21 Gambar 3.6 Kromatogram larutan standar natrium sitrat 50 µg/mL ... 21 Gambar 3.7 Kromatogram larutan standar asam sorbat 50 µg/mL... 22 Gambar 3.8 Kromatogram larutan standar natrium sitrat 50 µg/mL ... 22 Gambar 3.9 Kromatogram larutan standar asam sorbat 50 µg/mL... 23 Gambar 3.10 Kromatogram larutan standar natrium sitrat 50 µg/mL ... 23 Gambar 3.11 Kromatogram larutan standar asam sorbat 250 µg/mL... 24 Gambar 3.12 Kromatogram larutan standar asam sorbat 500 µg/mL... 24 Gambar 3.13 Kromatogram larutan standar natrium sitrat 250 µg/mL ... 25 Gambar 3.14 Kromatogram larutan standar natrium sitrat 500 µg/mL ... 25 Gambar 3.15 Kromatogram larutan standar campuran 250 µg/mL ... 26 Gambar 3.16 Kromatogram larutan standar campuran 500 µg/mL ... 27
1.1. Latar Belakang
Laksatif adalah makanan atau obat-obatan yang diminum untuk membantu mengatasi konstipasi dengan membuat kotoran bergerak dalam usus dengan mudah. Salah satu bagian dari kelompok laksatif adalah enema.
Enema merupakan prosedur pemasukkan cairan ke dalam kolon melalui anus. Bahan – bahan yang digunakan untuk enema laksatif diantaranya adalah Sodium Lauryl Sulfoacetate sebagai zat aktif, Natrium sitrat sebagai zat aktif yang mendukung kerja dari Lauryl Sulfoacetate dan Asam sorbat sebagai bahan pengawet.
Pada tahun 1914, Albert Hustin dan Luis Agote berhasil menggunakan Natrium sitrat sebagai antikoagulan pada transfusi darah.
Selain itu, pada tahun 2003, Oopik, et al., membuktikan bahwa natrium sitrat dapat digunakan untuk meringankan ketidaknyamanan pada infeksi saluran kencing dan sebagai pencahar osmotik.
Natrium sitrat dalam sediaan farmasi, khususnya enema digunakan sebagai pencahar osmotik yang bekerja dengan menarik air ke dalam usus besar, sehingga meningkatkan kadar air dan volume usus yang dapat melunakkan tinja dan merangsang usus agar berkontraksi kemudian menggerakkan isinya ke rektum (UCB Pharma, 2012).
Asam sorbat merupakan anti mikroba yang ditemukan oleh E. Miller dari jerman (1930) dan C.M. Golding dari USA (1940). Komponen dari asam sorbat diisolasi dari minyak mentah rowanberry (sorb apple). Asam sorbat pertama kali dipatenkan oleh C.W. Gooding pada tahun 1945. Asam sorbat merupakan golongan umum dari asam lemak rantai panjang tidak jenuh dan efektif sebagai agen fungistatis (Bousquet, Ennio., et al., 2002).
Fungsi lain dari asam sorbat dalam sediaan farmasi, khususnya enema adalah memiliki efek pencahar yang dapat membantu untuk melunakkan tinja yang keras dan meringankan sembelit tanpa melelahkan (UCB Pharma, 2012).
Dalam pembuatan suatu sediaan dibutuhkan suatu quality atribute untuk suatu produk sehingga produk tersebut dapat memenuhi spesifikasi yang ditetapkan. Untuk itu diperlukan suatu penetapan kadar dari Natrium sitrat dan Asam sorbat. Dalam laporan ini hanya melakukan penetapan kadar dari Natrium sitrat dan Asam sorbat dikarenakan Sodium Lauryl Sulfoacetat telah terlebih dahulu divalidasi.
Untuk menetapkan kadar obat diperlukan suatu metode analisis yang memiliki tingkat selektivitas dan sensitivitas yang tinggi, nilai akurasi dan presisi yang tinggi, serta ketangguhan yang tinggi. Untuk mendapatkan hasil tersebut, metode analisis yang digunakan harus divalidasi. Metode validasi bertujuan untuk memastikan bahwa metode analisis yang akan divalidasi, parameternya harus memenuhi persyaratan yang telah ditetapkan (Indrayanto, 1994).
1.1. Tujuan Penelitian
Mendapatkan metode analisis natrium sitrat dan asam sorbat dalam enema laksatif.
2.1. Natrium sitrat 2.1.1. Monografi
Struktur kimia :
[Sumber: European Pharmacopoeia 6, 2008, telah diolah kembali]
Gambar 2.1. Rumus bangun Natrium sitrat Nama lain : Natrii citras
C6H5Na3O7. 2H2O (BM=294,1)
Trisodium 2-hydroxypropane-1,2,3-tricarboxylate dihydrate
Sodium citrate mengandung tidak kurang dari 99,0% dan tidak lebih dari 101,0%
C6H5Na3O7, dihitung terhadap zat anhidrat (European Pharmacopoeia 6, 2008).
Pemerian : Serbuk kristal putih atau hampir putih, kristal granul (European Pharmacopoeia 6, 2008).
Kelarutan : Mudah larut dalam air, praktis tidak larut dalam etanol 96%
(European Pharmacopoeia 6, 2008).
2.1.2. Mekanisme kerja natrium sitrat
Natrium sitrat bekerja dengan menarik air ke dalam usus besar, sehingga meningkatkan kadar air dan volume usus yang dapat melunakkan tinja dan merangsang usus agar berkontraksi kemudian menggerakkan isinya ke rektum.
2.2. Asam sorbat 2.2.1. Monografi
Rumus struktur :
[Sumber: European Pharmacopoeia 6, 2008, telah diolah kembali]
Gambar 2.2. Rumus struktur Asam sorbat
Nama lain : Acidum sorbicum C6H8O2 ; BM = 112,1 (E,E)-Hexa-2,4-dienoic acid
Pemerian : Putih atau hampir putih, serbuk kristal.
Kelarutan : Sedikit larut dalam air, mudah larut dalam etanol 96%. (European Pharmacopoeia 6, 2008).
2.2.2. Mekanisme kerja asam sorbat
Asam sorbat bekerja dengan melunakkan tinja yang keras dan meringankan sembelit tanpa melelahkan.
2.3. Kromatografi Cair Kinerja Tinggi 2.3.1. Teori
Kromatografi didefinisikan sebagai suatu prosedur pemisahan zat terlarut oleh suatu migrasi diferensial dinamis dalam sistem yang terdiri dari dua fase atau lebih, salah satu sistemnya bergerak berkesinambungan dalam arah tertentu dan di dalamnya zat-zat tersebut menunjukkan perbedaan mobilitas disebabkan adanya perbedaan dalam adsorbsi, partisi,
kelarutan, ukuran molekul atau kerapatan ion (Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 1995).
Kromatografi Cair Kinerja Tinggi (KCKT) merupakan suatu teknik pemisahan sampel dalam fase diam berupa zat padat dan fase gerak berupa zat cair dimana pompa KCKT dilengkapi dengan suatu tekanan tinggi untuk menghantarkan eluen pada kecepatan optimal (Poole & Poole, 1991).
Terdapat dua macam variasi yang digunakan dalam KCKT tergantung dari polaritas pelarut dan fase diam, yaitu (Clark, 2007) :
a. Fase normal
Kolom diisi dengan silika dan menggunakan pelarut non polar seperti heksan. Kolom yang biasa digunakan memiliki diameter dalam 4,6 mm (atau lebih kecil) dan memiliki panjang 150 – 250 mm. Campuran senyawa polar akan tertahan lebih lama di dalam kolom silika dibandingkan dengan senyawa non polar, sehingga senyawa non polar akan keluar dari kolom lebih cepat.
b. Fase terbalik
Pada KCKT fase terbalik, ukuran kolom yang digunakan sama dengan fase normal. Namun, partikel silika dimodifikasi untuk menjadikannya non polar dengan melekatkan rantai karbon yang panjang pada permukaannya, umumnya C-8 atau C-18. Pelarut yang digunakan adalah yang bersifat polar, seperti campuran air dan alkohol, contohnya metanol. Pada fase ini akan terjadi interaksi antara pelarut polar dengan senyawa polar dalam campuran bahan, senyawa polar dalam bahan tidak akan tertahan di dalam kolom karena kolom bersifat non polar, maka senyawa polar akan keluar lebih cepat dari kolom.
2.3.2. Komponen-komponen KCKT
Komponen-komponen penting dari KCKT adalah pompa, injektor, kolom, dan detektor.
1. Pompa (Gandjar, I.G, 2007)
Pompa yang cocok digunakan untuk KCKT adalah pompa yang inert terhadap fase gerak. Tujuan penggunaan pompa atau sistem penghantaran fase gerak adalah untuk menjamin proses penghantaran fase gerak berlangsung secara tepat, reproduksibel, konstan, dan bebas dari gangguan. Ada 2 jenis pompa dalam KCKT yaitu, pompa dengan tekanan konstan dan pompa dengan aliran fase gerak yang konstan.
2. Injektor (Johnson, EL dan Stevenson, R, 1991)
Injektor berfungsi untuk memasukkan cuplikan ke dalam kolom.
3. Kolom (Johnson, EL dan Stevenson, R, 1991)
Kolom adalah bagian yang sangat penting dalam kromatografi.
Berhasil atau gagalnya suatu analisis tergantung pada pemilihan kolom dan kondisi percobaan yang sesuai. Kolom dapat dibagi menjadi dua kelompok:
a. Kolom analitik: Diameter dalam 2-6 mm. Panjang kolom tergantung pada jenis material pengisi kolom. Untuk kemasan pellicular, panjang yang digunakan adalah 50-100 cm. Untuk kemasan poros mikropartikulat, 10-30 cm. Dewasa ini tersedia yang berukuran 5 cm.
b. Kolom preparatif: umumnya memiliki diameter 6 mm atau lebih besar dan panjang kolom 25-100 cm.
Ukuran kinerja kolom dilihat dari kemampuan kolom untuk memisahkan komponen yang dianalisis. Dasar yang banyak digunakan untuk pengukuran kinerja kolom adalah resolusi, efisiensi kolom (HETP) serta faktor kapasitas.
3. Detektor (Gandjar, I.G, 2007)
Detektor pada KCKT dikelompokkan menjadi 2 golongan yaitu detektor universal (yang mampu mendeteksi zat secara umum, tidak bersifat spesifik, dan tidak bersifat selektif) seperti detektor indeks bias dan detektor spektrometri massa; dan golongan detektor yang spesifik
yang hanya akan mendeteksi analit secara spesifik dan selektif, seperti detektor UV-Vis, detektor fluoresensi, dan elektrokimia.
2.3.3. Fase Gerak (Johnson, EL dan Stevenson, R, 1991)
Di dalam kromatografi cair komposisi dari fase gerak adalah salah satu dari variabel yang memengaruhi pemisahan. Terdapat variasi yang sangat luas pada fase gerak yang digunakan untuk KCKT, tetapi beberapa sifat umum yang sangat harus dimiliki fase gerak, yaitu:
1. Murni, tidak terdapat kontaminan 2. Tidak bereaksi dengan wadah 3. Sesuai dengan detektor 4. Dapat melarutkan sampel 5. Memiliki viskositas rendah
6. Bila diperlukan, memudahkan uji perolehan kembali 7. Diperdagangan dapat diperoleh dengan harga yang sesuai
Umumnya semua fase gerak yang sudah digunakan langsung dibuang karena prosedur pemurniannya kembali sangat rumit dan mahal. Dari semua persyaratan di atas, persyaratan pertama sampai keempat adalah syarat yang sangat penting.
2.3.4. Analisis Kuantitatif dengan KCKT (Johnson, EL dan Stevenson, R, 1991)
Dasar perhitungan kuantitatif untuk suatu komponen zat yang dianalisis adalah dengan mengukur luas puncaknya. Ada beberapa metode yang dapat digunakan, yaitu :
1. Metode baku luar
Larutan pembanding dengan berbagai konsentrasi disuntikkan dan diukur luas puncaknya. Kurva kalibrasi dibuat dengan memplot antara luas puncak kromatogram yang dianalisis terhadap konsentrasi larutan baku pembanding. Larutan sampel yang akan dianalisis disuntikkan dan diukur luas puncaknya. Kadar sampel diperoleh dengan perbandingan langsung.
Kekurangan metode ini adalah diperlukan baku murni serta ketelitian dalam pengenceran dan penimbangan.
2. Metode baku dalam
Sejumlah baku dalam ditambahkan ke dalam larutan sampel dan larutan baku pembanding. Kemudian larutan campuran komponen baku pembanding dan baku dalam dengan konsentrasi tertentu disuntikkan.
Kurva kalibrasi dibuat dengan menghubungkan perbandingan luas puncak terhadap konsentrasi komponen baku pembanding. Kadar sampel diperoleh dengan memplot perbandingan luas puncak komponen sampel dengan baku dalam pada kurva standar. Keuntungan menggunakan cara ini adalah kesalahan pada volume injeksi dapat dieliminir. Kesulitan cara ini adalah menentukan baku dalam yang tepat.
2.4 Metode analisis Natrium sitrat dan Asam sorbat
Beberapa metode analisis natrium sitrat dan asam sorbat yang telah dilakukan oleh beberapa peneliti sebelumnya, yaitu :
a. Analisis asam benzoat, asam sorbat, dan asam salisilat dalam produk kosmetik dengan ekstraksi fase padat dan kromatografi cair kinerja tinggi
Kondisi : Metode analisis menggunakan kromatografi cair kinerja tinggi (KCKT) dengan fase terbalik kolom TSK gel ODS-80TM (150x4,6mm, 5 µm). Fase gerak yang digunakan adalah air - metanol (65:35, v/v). Detektor yang digunakan adalah detektor UV dengan panjang gelombang 235 nm.
Waktu retensi asam sorbat pada analisis tersebut adalah 10,2 menit (Mikami, E., Goto, T., Ohno, T., Matsumoto, M., Nishida, M. 2002).
b. Analisis kuantitatif dari asam sorbat dalam formulasi krim menggunakan Kromatografi Cair Kinerja Tinggi
Kondisi : Metode analisis menggunakan kromatografi cair kinerja tinggi (KCKT) dengan detektor UV pada panjang gelombang 254 nm dan kolom PLRP-S 8µm 100Å, 250x4,6 mm. Fase gerak yang digunakan adalah asetonitril – 0,2 M dapar fosfat pH 7,0) - air (1:5:94,v/v) dengan laju alir 1,0 ml/menit. Waktu retensi meropenem
pada analisis tersebut adalah 9,8 menit. (Aluoch-Orwa, J., Quintens, I., Roets, E., Hoogmartens, J. 1997).
c. Pengembangan dan validasi kadar asam sitrat dan asam fosfat dalam sediaan farmasi menggunakan kromatografi ion
Kondisi : Metode analisis menggunakan anion-exchange chromatography dengan eluent 20 mM KOH dan dideteksi menggunakan suppressed conductivity.
(DeBorba, Brian M., Rohrer, Jeff S., Bhattacharyya, Lokesh. 2004).
d. Stabilitas larutan trisodium citrate dan gentamicin untuk catheter setelah penyimpanan dalam syringe plastik pada temperatur kamar
Kondisi : Metode analisis menggunakan ion-exchange HPLC dengan detektor UV pada panjang gelombang 210 nm dan kolom 300 x 7,8 mm polystyrene divinylbenzene resin (Supelcogel C-610H, Supelco Canada, Mississauga, Ontario) dengan volume injeksi 20µL.
Komposisi fase gerak yang digunakan adalah 0,1 % w/v asam fosfat dengan laju alir 0,5 ml/menit. (Cote, Dennis., Lok, Charmaine E., Battistella, Marisa., Vercaigne, Lavern. 2010).
e. Penetapan Kadar Asam Sorbat
Kondisi : Metode analisis menggunakan HPLC dengan detektor UV pada panjang gelombang 254 nm dan kolom LiChrospere®(Merck) C-18 (125 x 4 mm, 5 µm) dengan volume injeksi 20 µL. Komposisi fase gerak yang digunakan adalah 800 ml air – 700 ml metanol – 1,4 g KH2PO4 – 400 µL HClO4 dengan laju alir 1,3 ml/menit. (European Pharmacopoeia 6, 2008)
f. Penetapan Kadar Kalium sorbat, Natrium benzoat, dan Asam sitrat menggunakan HPLC
Kondisi : Metode analisis menggunakan HPLC dengan detektor UV pada panjang gelombang 212 nm untuk asam sitrat, 263 nm untuk kalium sorbat, dan 254 nm untuk natrium benzoat. Kolom yang digunakan adalah C18 (250 x 4,6 mm, 5 µm) dengan volume injeksi 20 µL. Komposisi fase gerak yang digunakan adalah 0,005 M amonium
asetat – 15% asetonitril (90 :10, v/v) di adjust dengan asam asetat hingga pH 4,0. Laju alir yang digunakan adalah 1,2 ml/menit. (Tubio, Gisela., Nerli, Bibiana B., Pico, Guillermo a., Venancio, Armando., Teixera, Jose. 2009)
3.1. Tempat Penelitian
Penelitian dilakukan di laboratorium Research and Development PT Actavis Indonesia, Jl. Raya Bogor Km 28, Jakarta Timur.
3.2. Alat
Alat yang digunakan pada penelitian ini adalah Kromatografi Cair Kinerja Tinggi (LC-10AT, Shimadzu), Injektor autosampler, detektor UV (SPD-10A VP, Shimadzu), kolom LiChrospher®100 (RP 18, 5 µm, 4 x 125 mm), komputer dengan perangkat lunak LC Solution, spektrofotometer UV-Vis (agillent), timbangan analitik (Mettler Toledo), alat-alat gelas, pH meter (Mettler Toledo), pipet volume (Pyrex).
3.3. Bahan
Bahan yang digunakan adalah natrium sitrat (Merck), asam sorbat (Merck), purified water, metanol (Tedia), KH2PO4 (Merck), HClO4 (Sigma Aldrich).
3.3.1. Larutan induk natrium sitrat dan larutan uji
Ditimbang secara seksama 50,0 mg natrium sitrat, kemudian dimasukkan ke dalam labu ukur 20,0 mL dan dilarutkan dengan etanol-air (1:1). Diperoleh konsentrasi larutan 2,5 mg/mL. Kemudian dilakukan pengenceran untuk mendapatkan larutan dengan konsentrasi tertentu.
3.3.2. Larutan induk asam sorbat dan larutan uji
Ditimbang secara seksama 50,0 mg asam sorbat, kemudian dimasukkan ke dalam labu ukur 20,0 mL dan dilarutkan dengan etanol-air (1:1). Diperoleh konsentrasi larutan 2,5 mg/mL. Kemudian dilakukan pengenceran untuk mendapatkan larutan dengan konsentrasi tertentu.
3.1.1. Rancangan larutan sampel enema laksatif
Diukur secara seksama 5,0 ml larutan enema laksatif, kemudian dimasukkan ke dalam labu ukur 100 mL dan dilarutkan dengan etanol – air (1:1). Diperolah konsentrasi larutan 4,5 mg/mL untuk natrium sitrat dan 0,05 mg/ml untuk asam sorbat. Kemudian pipet 1 mL larutan dimasukkan ke dalam labu ukur 15 mL sehingga diperoleh konsentrasi larutan 0,3 mg/mL untuk natrium sitrat dan 0,003 mg/mL untuk asam sorbat.
3.2. Cara Kerja
3.2.1. Optimasi Kondisi Analisis natrium sitrat dan asam sorbat 3.2.1.1. Penetapan Panjang Gelombang Analisis
Larutan induk natrium sitrat dan asam sorbat diencerkan dengan etanol-air (1:1) hingga diperoleh konsentrasi 50,0 µg/mL, kemudian dibuat spektrum serapannya dengan spektrofotometer UV-Vis. Dicatat panjang gelombang maksimum.
3.2.1.2. Pemilihan metode analisis untuk natrium sitrat dan asam sorbat Masing-masing larutan natrium sitrat dan asam sorbat dengan konsentrasi 250,0 µg/mL dan 500,0 µg/mL disuntikkan sebanyak 20 µL ke alat KCKT dengan variasi metode sebagai berikut :
a. Kolom : LiChrospher®100 (RP 18, 5 µm, 4 x 125 mm) Fase gerak : Air - metanol (65:35, v/v) pH 6,5
Laju alir : 1,0 ml/menit
Panjang gelombang : 254 nm (Mikami, E., Goto, T., Ohno, T., Matsumoto, M., Nishida, M. 2002)
b. Kolom : C18 (4,6 x 250 mm)
Fase gerak : Acetonitril - buffer fosfat 0,2 M - air (1:5:94, v/v/v) Laju alir : 1,0 ml/menit
Panjang gelombang : 254 nm (Aluoch-Orwa, J., Quintens, I., Roets, E., Hoogmartens, J. 1997).
c. Kolom : LiChrospher®100 (RP 18, 5 µm, 4 x 125 mm)
Fase gerak : 800 mL air – 700 mL metanol - 1,4 g KH2PO4- 400 µL HClO4dengan pH 3,0
Laju alir : 1,3 ml/menit
Panjang gelombang : 254 nm (European Pharmacopoeia 6, 2008)
d. Kolom : LiChrospher®100 (RP 18, 5 µm, 4 x 125 mm)
Fase gerak : 800 mL air – 700 mL metanol – 2,8 g KH2PO4- 400 µL HClO4dengan pH 3,3
Laju alir : 1,3 ml/menit
Panjang gelombang : 254 nm (modifikasi dari European Pharmacopoeia 6, 2008)
e. Kolom : C18 (4,6 x 250 mm)
Fase gerak : 0,005 M ammonium asetat – 15% asetonitril
(90:10,v/v) di adjust dengan asam asetat hingga pH 4,0 Laju alir : 1,2 ml/menit
Panjang gelombang : 215 nm (Tubio, Gisela., Nerli, Bibiana B., Pico, Guillermo a., Venancio, Armando., Teixera, Jose. 2009)
f. Kolom : LiChrospher®100 (RP 18, 5 µm, 4 x 125 mm) Fase gerak : 1200 mL air – 300 mL metanol – 1,4 g KH2PO4
600µL HClO4dengan pH 2,75 ± 0,02 Laju alir : 1,3 ml/menit
Panjang gelombang : 215 nm (modifikasi dari European Pharmacopoeia 6, 2008).
Dicatat waktu retensi, faktor ikutan, dan jumlah lempeng teoritis untuk masing – masing metode analisis.
4.1. Pemilihan Panjang Gelombang Analisis
Pemilihan panjang gelombang analisis dilakukan dengan menggunakan alat spektrofotometer UV-Vis. Natrium sitrat dan asam sorbat dibuat spektrum serapannya dan kemudian dibuat overlay antara kedua spektrum tersebut. Panjang gelombang optimum yang dipilih untuk analisis natrium sitrat dan asam sorbat yaitu pada panjang gelombang 215 nm, karena pada panjang gelombang ini natrium sitrat dan asam sorbat memberikan serapan dan luas puncak yang besar.
4.2. Optimasi Metode Analisis Natrium sitrat dan Asam sorbat 4.2.1 Pemilihan Komposisi Fase Gerak untuk Analisis
Untuk mendapatkan kondisi optimal analisis, diadakan pemilihan komposisi fase gerak terbaik untuk analisis natrium sitrat dan asam sorbat.
Kondisi yang pertama terdiri dari kolom LiChrospher®100 (RP 18, 5 µm, 4 x 125 mm), fase gerak Air - metanol (65:35, v/v) pH 6,5, dengan laju alir 1,0 ml/menit dan dideteksi pada panjang gelombang 254 nm. Pada kondisi ini, puncak natrium sitrat pecah dan mempunyai waktu retensi yang sama dengan asam sorbat.
Kondisi kedua yang terdiri dari kolom C18 (4,6 x 250 mm), fase gerak Acetonitril - buffer fosfat 0,2 M - air (1:5:94, v/v/v), laju alir 1,0 ml/menit dan dideteksi pada panjang gelombang 254 nm. Pada kondisi tersebut puncak natrium sitrat dan asam sorbat tidak teridentifikasi sama halnya dengan kondisi analisis kelima yang terdiri dari kolom C18 (4,6 x 250 mm), fase gerak 0,005 M ammonium asetat – 15% asetonitril
(90:10,v/v) di adjust dengan asam asetat hingga pH 4,0, laju alir 1,2 ml/menit dan dideteksi pada panjang gelombang 215 nm.
Kondisi yang ketiga terdiri dari kolom LiChrospher®100 (RP 18, 5 µm, 4 x 125 mm), fase gerak 800 mL air – 700 mL metanol - 1,4 g KH2PO4- 400 µL HClO4dengan pH 3,0, laju alir 1,3 ml/menit dan
dideteksi pada panjang gelombang 254 nm. Pada kondisi ini puncak natrium sitrat dan asam sorbat berada pada waktu retensi yang sama. Begitu pula dengan kondisi keempat, puncak natrium sitrat dan asam sorbat tidak dapat diidentifikasi.
Kondisi yang dipilih adalah kondisi keenam dengan kondisi analisis terdiri dari kolom LiChrospher® 100 (RP 18, 5 µm, 4 x 125 mm), fase gerak 1200 mL air – 300 mL metanol – 1,4 g KH2PO4- 600µL HClO4
dengan pH 2,75 ± 0,02, laju alir 1,3 ml/menit dan dideteksi pada panjang gelombang 215 nm, yang menunjukkan puncak natrium sitrat dan asam sorbat terpisah dengan nilai resolusi lebih dari 1,5.
5.1. Kesimpulan
Dari hasil optimasi metode analisis, dapat disimpulkan bahwa metode analisis yang keenam dapat digunakan untuk mengidentifikasi senyawa natrium sitrat dan asam sorbat. Kondisi kromatografi yang digunakan sesuai dengan hasil optimasi untuk penetapan kadar natrium sitrat dan asam sorbat dalam enema laksatif sebagai berikut :
Kolom : LiChrospher®100 (RP 18, 5 µm, 4 x 125 mm)
Fase gerak : 1200 mL air – 300 mL metanol – 1,4 g KH2PO4 – 600 µL HClO4dengan pH 2,75 ± 0,02
Laju alir : 1,3 mL/menit Panjang gelombang : 215 nm.
Penyiapan larutan sampel enema laksatif sebagai berikut :
Diukur secara seksama 5,0 ml larutan enema laksatif, kemudian dimasukkan ke dalam labu ukur 100 mL dan dilarutkan dengan etanol – air (1:1).
Diperoleh konsentrasi larutan 4,5 mg/mL untuk natrium sitrat dan 0,05 mg/ml untuk asam sorbat. Kemudian pipet 1 mL larutan dimasukkan ke dalam labu ukur 10 mL sehingga diperoleh konsentrasi larutan 4,5 mg/mL untuk natrium sitrat dan 0,005 mg/mL untuk asam sorbat.
5.2. Saran
Sebagai langkah berikutnya perlu dilakukan validasi metode analisis dari metode yang telah didapat agar dapat mengetahui apakah parameter – parameter validasi metode analisis terpenuhi atau tidak.
Aluoch-orwa, J., Quintens, I., Roets, E., Hoogmartens, J. (1997). Quantitative
Aluoch-orwa, J., Quintens, I., Roets, E., Hoogmartens, J. (1997). Quantitative