5. KESIMPULAN DAN SARAN
5.2. Saran
1. Perlu adanya apoteker pendamping yang menggantikan APA pada saat apa tidak dapat hadir agar pelayanan kefarmasian dapat berjalan lebih baik.
2. Sebaiknya Apoteker Pengelola Apotek bekerja sama dan berdiskusi dengan dokter, dalam hal ini dokter di Klinik Erra Medika untuk dapat meresepkan obat yang telah dipesan sehingga dapat meminimalkan jumlah obat yang kadaluarsa.
3. Sebaiknya stock opname yang dilakukan tidak hanya sebatas memeriksa kesesuaian jumlah barang namun juga memperhatikan tanggal kadaluarsa obat dan perbekalan farmasi yang tersedia di apotek untuk mencegah kerugian akibat barang yang kadaluarsa.
4. Perlu dilakukan evaluasi secara rutin terhadap perputaran obat dan ketersediaannya agar keperluan obat bagi para pelanggan selalu tersedia.
DAFTAR PUSTAKA
Badan Pengawasan Obat dan Makanan RI. (1997). Surat Edaran Direktorat Jenderal POM Nomor 336/E/SE/1997 Tentang Narkotika. Jakarta: Direktorat Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan.
Direktorat Bina Farmasi Komunitas dan Klinik. (2008). Petunjuk Teknis Pelaksanaan Standar Pelayanan Kefarmasian di Apotek (SK Nomor 1027/Menkes/SK/IX/2004). Jakarta: Kementerian Kesehatan RI
Direktorat Jendral Pelayanan Kefarmasian dan Alat Kesehatan. (2006). Standar Pelayanan Kefarmasian di Apotek Keputusan Menteri Kesehatan RI No.1027 Tahun 2004 Tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di Apotek. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI
Kementerian Kesehatan RI. (1978). Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 28/Menkes/Per/1978 Tentang Penyimpanan Narkotika. Jakarta.
Kementerian Kesehatan RI. (1981). Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 28 Tahun 1981 Tentang Penyimpanan dan Pemusnahan Resep. Jakarta. Kementerian Kesehatan RI. (1990). Keputusan Menteri Kesehatan RI No.
347/Menkes/SK/VII/1990 Tentang Obat Wajib Apotek No. 1. Jakarta. Kementerian Kesehatan RI. (1993). Peraturan Menteri Kesehatan RI No.
918/Menkes/Per/X/1993 Tentang Pedagang Besar Farmasi (PBF). Jakarta. Kementerian Kesehatan RI. (1993). Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 919/Menkes/Per/X/1993 Tentang Kriteria Obat yang Dapat Diserahkan Tanpa Resep. Jakarta.
Kementerian Kesehatan RI. (1993). Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 922/Menkes/Per/X/1993 Tentang Ketentuan dan Tata Cara Pemberian Izin Apotek. Jakarta.
Kementerian Kesehatan RI. (1993). Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 924/Menkes/Per/X/1993 Tentang Daftar Obat Wajib Apotek No. 2. Jakarta. Kementerian Kesehatan RI. (1993). Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 925/Menkes/Per/X/1993 Tentang Daftar Perubahan Golongan Obat Wajib Apotek No. 1. Jakarta.
Kementerian Kesehatan RI. (1999). Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 1176/Menkes/SK/X/1999 Tentang Daftar Obat Wajib Apotek No. 3.
Universitas Indonesia
Kementerian Kesehatan RI. (2002). Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 1332/Menkes/SK/X/2002 Tentang Perubahan atas Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 992/Menkes/PER/X/1993 Ketentuan dan Tata Cara Pemberian Izin Apotek. Jakarta.
Kementerian Kesehatan RI. (2011). Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 889 Tahun 2011 Tentang Registrasi, Izin Praktik, dan Izin Kerja Tenaga Kefarmasian. Jakarta.
Pemerintah Republik Indonesia. (1980). Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 25 Tahun 1980 Tentang Perubahan dan Tambahan Atas Peraturan Pemerintah RI Nomor 26 Tahun 1965 Tentang Apotek. Jakarta. Pemerintah Republik Indonesia. (2009). Peraturan Pemerintah Republik
Indonesia No. 51 Tahun 2009 Tentang Pekerjaan Kefarmasian. Jakarta. Presiden Republik Indonesia. (1997). Undang-Undang Republik Indonesia Nomor
5 Tahun 1997 Tentang Psikotropika. Jakarta.
Presiden Republik Indonesia. (2009). Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 35 Tahun 2009 Tentang Narkotika. Jakarta.
Presiden Republik Indonesia. (2009). Undang-Undang Republik Indonesia No. 36 Tahun 2009 Tentang Kesehatan. Jakarta.
Umar, Muhammad. (2011). Manajemen Apotek Praktis cetakan keempat. Jakarta: Wira Putra Kencana.
Universitas Indonesia Lampiran 1. Denah Lokasi Apotek Erra Medika
Universitas Indonesia Lampiran 3. Desain Interior Apotek Erra Medika
Lampiran 4. Denah Ruangan Apotek Erra Medika
Keterangan :
1. Tempat tunggu pasien 2a. Pintu masuk apotek 2b. Pintu masuk klinik 3. Etalase OTC 4. Lemari OTC
5. Lemari penyimpanan obat tablet & kapsul bermerek
6. Meja AA
7. Lemari penyimpanan obat sediaan oral cair & alkes
8. Lemari penyimpanan obat generik, sediaan semisolid, sediaan steril cair (tetes mata, tetes telinga) 9. Wastafel
10. Lemari Narkotika & Psikotropika Kulkas penyimpanan obat
obat-obat untuk racikan
14. Rak penyimpanan obat-obat untuk racikan
15. Meja pengecekan harga obat (komputer)
16. Ruang Administrasi PBF Erra Medika
17. WC
18. Laboratorium 19. Musolah 20. Kasir
21. Ruang Praktek dokter 22. Tangga ke lantai 2 23. Meja keamanan
Universitas Indonesia Lampiran 5. Kartu Stok
Universitas Indonesia Lampiran 7. Salinan Resep
Lampiran 8. Struktur Organisasi Apotek Erra Medika
Pemilik Sarana Apotek
Apoteker Pengelola Apotek
Asisten Apoteker Asisten Apoteker Asisten Apoteker
Universitas Indonesia Lampiran 9. Etiket Obat
Universitas Indonesia Lampiran 11. Bon Kontan Pembelian Obat Tanpa Resep
Universitas Indonesia Lampiran 13. Surat Pesanan Narkotika
Universitas Indonesia Lampiran 15. Kuitansi
Universitas Indonesia Lampiran 17. Contoh Laporan Narkotika
LABEL INFORMASI OBAT SEDIAAN PADAT ORAL
DI APOTEK ERRA MEDIKA
TUGAS KHUSUS PRAKTIK KERJA PROFESI APOTEKER
DI APOTEK ERRA MEDIKA
PUTRI RAHMAWATI, S.Far.
1206330002
ANGKATAN LXXVII
FAKULTAS FARMASI
PROGRAM PROFESI APOTEKER
ii
HALAMAN SAMPUL ... i DAFTAR ISI ... ii DAFTAR LAMPIRAN ... iii 1. PENDAHULUAN ... 1 1.1. Latar Belakang ... 1 1.2. Tujuan ... 2 2. TINJAUAN UMUM ... 3
2.1 Definisi Informasi Obat ... 3 2.2 Langkah-langkah dalam Penyerahan Obat ... 3 2.3 Peran Apoteker dalam Proses Penyerahan Obat ... 7 2.4 Informasi Obat yang Perlu Diketahui ... 8 2.5 Sumber Informasi Obat ... 11 3. METODOLOGI PENGKAJIAN ... 13 3.1 Waktu dan Tempat Pengkajian ... 13 3.2 Metode Pengkajian ... 13 4. PEMBAHASAN ... 14 5. KESIMPULAN DAN SARAN ... 24 5.1. Kesimpulan ... 24 5.2. Saran ... 24 DAFTAR REFERENSI... 25 LAMPIRAN ... 26
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1 Daftar Label Informasi Obat berdasarkan IONI 2008 ... 26 Lampiran 2 Daftar Label Informasi Obat Sediaan Padat Oral di Apotek Erra
1.1 Latar Belakang
Obat merupakan komponen yang tidak dapat dipisahkan dari pelayanan kesehatan. Penggunaan obat yang rasional menjadi hal yang sangat penting karena terkait langsung dengan status kesehatan pasien. Satu diantara penyebab ketidakrasionalan penggunaan obat adalah karena kurangnya informasi yang diberikan oleh apoteker mengenai obat yang dikonsumsi oleh pasien. Dengan demikian, masyarakat membutuhkan informasi yang jelas, benar dan dapat dipercaya agar penentuan kebutuhan jenis dan jumlah obat yang diambil berdasarkan alasan yang rasional (Direktorat Bina Obat Rasional, 2008).
Dalam Undang-Undang No. 8 Tahun 1999 tentang perlindungan konsumen disebutkan bahwa setiap konsumen berhak atas informasi yang benar, jelas dan jujur mengenai kondisi dan jaminan barang dan/atau jasa. Untuk kategori produk obat, ini berarti bahwa konsumen atau pasien berhak atas informasi yang benar, jelas dan jujur mengenai obat yang dikonsumsinya. Dengan mengetahui informasi penting terkait obat yang akan digunakan, maka konsumen atau pasien dapat mengetahui dengan pasti tujuan penggunaan dan hal-hal lain yang terkait dengan obat yang sedang diminum (Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia, 2008).
Apoteker wajib secara moral dan hukum berada dalam posisi yang terbaik untuk memberikan informasi yang cukup dan dapat dimengerti tentang obat yang digunakan oleh pasien untuk memaksimalkan hasil terapi dan mencegah masalah yang mungkin timbul selama terapi. Apoteker berperan penting dalam pemberian informasi karena apoteker merupakan petugas terakhir yang menyerahkan obat kepada pasien. Informasi yang diberikan oleh apoteker haruslah benar, jelas dan mudah dimengerti, akurat, tidak bias, etis, bijaksana, dan terkini (Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 2004).
Cara menggunakan obat, lama penggunaan obat, waktu atau cara penggunaan obat, penyimpanan yang baik, dan efek samping yang sering dihadapi merupakan informasi yang wajib diberikan kepada pasien. Jika pasien patuh pada instruksi yang diberikan oleh dokter dan apoteker, m a k a
keberhasilan terapi dapat dicapai. Sebaliknya, jika obat salah digunakan karena ketidaktahuan atau informasi yang tidak cukup, maka dapat mengkibatkan bahaya atau pengobatan yang tidak efektif bagi pasien. Untuk beberapa sediaan obat ada kebutuhan khusus untuk dilakukan konseling, seperti waktu minum obat, cara dan lama pemberian obat atau interaksi yang dapat terjadi dengan makanan atau obat lain.
Masalah yang sering dihadapi oleh pasien ketika pemberian informasi adalah sulitnya mengingat semua informasi yang diberikan oleh apoteker. Hal ini dapat diatasi dengan pemberian informasi secara lisan maupun tertulis berupa label. Dalam rangka realisasi rencana pemberian label tersebut, maka penulis melakukan pendataan obat sediaan padat oral dan pelabelan informasi tambahan yang diperlukan dalam penggunaan obat-obat tersebut di Apotek Erra Medika. Kegiatan ini diharapkan dapat mendukung pelayanan informasi obat yang baik bagi pasien sehingga program penggunaan obat yang rasional dapat diwujudkan.
1.2 Tujuan
Pendataan dan pelabelan informasi tambahan pada sediaan padat oral dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui informasi tambahan yang harus diberikan kepada pasien yang menggunakan obat sediaan padat oral di Apotek Erra Medika.
2.1 Definisi Informasi Obat (Siregar dan Kumolosasi, 2006)
Informasi obat adalah setiap data atau pengetahuan objektif, diuraikan secara ilmiah dan terdokumentasi mencakup farmakologi, toksikologi, dan farmakoterapi obat. Informasi obat mencakup, tetapi tidak terbatas pada pengetahuan seperti nama kimia; struktur dan sifat-sifat; identifikasi; indikasi diagnostik atau indikasi terapi; mekanisme kerja; waktu mulai kerja dan durasi kerja; dosis dan jadwal pemberian; dosis yang direkomendasikan; absorpsi; metabolisme; detoksifikasi; ekskresi; efek samping dan reaksi merugikan; kontraindikasi; interaksi; harga; keuntungan; tanda; gejala; dan pengobatan toksisitas; efikasi klinik; data komparatif; data klinik; data penggunaan obat; dan setiap informasi lain yang berguna dalam diagnosis dan pengobatan pasien.
2.2 Langkah-Langkah dalam Penyerahan Obat (Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia, 2009)
Pengobatan yang rasional adalah suatu keadaan di mana pasien menerima pengobatan sesuai dengan kebutuhan klinis mereka, dengan dosis, cara pemberian dan durasi yang tepat, dengan cara sedemikian rupa sehingga meningkatkan kepatuhan pasien terhadap proses pengobatan dan dengan biaya terjangkau bagi mereka dan masyarakat pada umumnya. Bila definisi tersebut diterjemahkan, maka “meningkatkan kepatuhan” berarti bahwa pemberian pengobatan sebaiknya disertai dengan informasi yang memadai. Dengan kata lain, informasi obat dan pengobatan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari proses terapi rasional.
Seringkali dokter dianggap merupakan pemegang keputusan terakhir dalam suatu proses terapi, namun dalam hal penggunaan obat, apoteker dan petugas penyerah obat lainnya, merupakan petugas terakhir yang menyerahkan obat kepada pasien. Proses penyerahan obat seringkali diabaikan oleh para penyusun kebijakan di bidang kesehatan selama pengembangan proses pemberian pelayanan kesehatan. Proses ini biasanya dianggap kurang penting dibandingkan proses diagnosis, pengadaan, kontrol penyimpanan dan distribusi. Kelalaian ini
sangat merugikan karena proses penyerahan obat yang tidak tepat dan tidak terkontrol dapat menimbulkan dampak buruk bagi sistem pemberian pelayanan kesehatan.
Semua proses yang telah dilakukan oleh dokter untuk pasien akan menjadi tidak berguna apabila proses penyerahan obat tidak dapat menjamin ketepatan pemberian obat yang benar kepada pasien yang benar dalam dosis dan jumlah yang efektif, dengan instruksi yang jelas dan penyimpanan obat dalam kemasan yang menjamin kestabilan obat. Petugas penyerah obat merupakan orang terakhir yang berkomunikasi dengan pasien sebelum obat digunakan, maka proses penyerahan obat kepada pasien merupakan tahap yang sangat penting dalam menentukan penggunaan obat yang tepat. Dengan demikian, proses ini sebaiknya dimengerti oleh setiap pelaku proses penyerahan obat.
Dalam proses penyerahan obat, ada delapan langkah penting yang sebaiknya dilakukan untuk menjamin terlaksananya penyerahan obat yang benar kepada pasien dari petugas penyerah obat. Setiap langkah membawa tanggung jawab dan atau pertimbangan yang penting untuk dilakukan. Dalam hal ini, diasumsikan bahwa pemberi resep (dokter) telah melakukan diagnosis yang benar serta memilih obat yang benar dan regimen yang tepat, serta pasien mempunyai akses terhadap apotek. Langkah tersebut adalah sebagai berikut : 1. Petugas penyerah obat menerima resep yang benar dari pasien atau pemberi
resep (secara tertulis atau lisan) dan melakukan pengkajian resep terhadap antara lain :
a. Orisinalitas (keaslian resep)
b. Jika diperlukan komunikasi dengan pemberi resep untuk resep yang meragukan dan tidak jelas
2. Petugas peyerah obat membaca resep dengan benar dan memeriksa ketepatan instruksi yang tertulis pada resep terhadap :
a. Nama obat
b. Dosis, cara dan lama pemberian c. Ketersediaan obat
Universitas Indonesia Universitas Indonesia
3. Obat yang diresepkan tersedia dalam kondisi layak pakai (tidak kadaluarsa atau rusak). Petugas penyerah obat sebaiknya :
a. Menjamin obat disimpan pada tempat yang benar
b. Memeriksa tanggal kadaluarsa dan melakukan proses FIFO (First In First Out)
c. Melakukan proses periksa dan periksa ulang (jika memungkinkan) terhadap ketepatan nama, kekuatan dan bentuk sediaan obat yang diberikan
4. Petugas penyerah obat sebaiknya memiliki pengetahuan obat dan cara penggunaan obat yang tepat dan dapat pula melakukan hal berikut :
a. Penyiapan obat dengan tepat
b. Pengecekan kembali terhadap jenis obat dan dosis
5. Petugas penyerah obat sebaiknya mengkomunikasikan kepada pasien cara yang tepat untuk menggunakan obat melalui informasi mengenai :
a. Etiket obat yang mencantumkan informasi mengenai nama pasien, nama obat, petunjuk penggunaan obat, tanggal pemberian obat, identitas pemberi resep, dan identitas petugas penyerah obat
b. Instruksi berupa simbol untuk pasien yang buta huruf c. Pemberian label/etiket informasi tambahan untuk obat
6. Pasien mengerti terhadap instruksi dari petugas penyerah obat. Petugas penyerah obat sebaiknya :
a. Mengulang secara lisan, instruksi yang tertulis pada etiket, jika memungkinkan dalam bahasa yang jelas dan lugas, yang dimengerti oleh pasien
b. Meminta pasien untuk mengulang instruksi yang diberikan c. Menekankan kebutuhan terhadap adanya kepatuhan
d. Menginformasikan peringatan dan perhatian terkait penggunaan obat e. Memberikan perhatian khusus terhadap kondisi tertentu seperti wanita
hamil, pasien yang memiliki gangguan penglihatan dan pendengaran, buta huruf, anak dan pasien lansia dan pasien yang mendapatkan lebih dari satu jenis obat
7. Meyakinkan pasien untuk mematuhi instruksi dari terapi
Untuk meningkatkan kepatuhan, pemberian obat sebaiknya disertai dengan pemberian informasi yang memadai. Komunikasi dengan pasien atau keluarganya seringkali menemui hambatan, sehingga pasien gagal untuk mengikuti petunjuk pengobatan. Berikut ini beberapa kemungkinan penyebab kegagalan yang telah teridentifikasi :
a. Ada kesenjangan antar pemberi dan penerima informasi, baik dalam penggunaan bahasa, cara penuturan, ataupun cara pendekatan
b. Waktu untuk memberikan informasi terbatas
c. Pemberi informasi tidak berhasil menarik perhatian atau keterbukaan pasien/keluarganya
d. Informasi yang diberikan tidak diartikan secara benar, atau tidak dimengerti
e. Petunjuk yang diberikan tidak dipahami f. Petunjuk yang diberikan tidak disepakati
g. Petunjuk yang diberikan tidak dapat dilaksanakan h. Petunjuk diberikan secara tidak lengkap
i. Hal-hal yang sebaiknya dikerjakan terlupa j. Pasien tidak suka diajak berdiskusi
k. Pasien/keluarga merasa sudah mengetahui l. Keyakinan pasien/keluarganya sulit diubah
Tidak tersampaikannya informasi secara baik, mutlak menjadi tanggung jawab apoteker atau petugas penyerah obat lainnya, walaupun hambatannya mungkin ada di pihak penerima. Untuk itu, perlu diwaspadai kemungkinan adanya hambatan di atas agar dapat diantisipasi.
8. Petugas penyerah obat melakukan pendokumentasian terhadap langkah yang dilakukan, yaitu :
a. Memasukkan detil informasi pada profil pengobatan pasien b. Memasukkan data resep
Universitas Indonesia Universitas Indonesia
2.3 Peran Apoteker dalam Proses Penyerahan Obat (Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia, 2009)
Apoteker mempunyai fungsi yang penting dalam sistem pelayanan kesehatan dalam hal :
1. Pengadaan
Apoteker memastikan tersedianya obat dengan kualitas yang baik pada saat diperlukan.
2. Distribusi
Apoteker memindahkan obat dengan aman kemanapun obat akan diberikan, memastikan kondisi perjalanan dan penyimpanan obat tidak mempengaruhi kondisi obat.
3. Peresepan
Apoteker sering diminta untuk memberikan obat bebas atau obat bebas terbatas untuk membantu pasien melakukan swamedikasi.
4. Monitoring
Apoteker perlu melakukan monitoring terhadap terapi jangka panjang pasien penyakit kronis seperti hipertensi, diabetes, dan asma.
Peran lain dari apoteker adalah melakukan :
a. Komunikasi dengan dokter dalam melakukan konfirmasi resep atau menjawab pertanyaan
b. Mematuhi standar terapi. Apoteker bertanggung jawab untuk memastikan kepatuhan resep terhadap standar terapi terutama untuk regimen yang sifatnya kompleks seperti terapi kanker
c. Penelitian terhadap pola peresepan dan penggunaan obat. Apoteker memiliki posisi yang strategis dalam melakukan monitor dan evaluasi terhadap peresepan dan penggunaan obat
d. Edukasi pasien. Pada umumnya, apoteker dipercaya oleh pasien dan dapat memberikan saran yang dihargai oleh pasien serta melakukan edukasi pada pasien secara individual atau edukasi kepada kelompok pasien dengan penyakit tertentu
2.4 Informasi Obat yang Perlu Diketahui (Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia, 2008)
Obat adalah suatu bahan yang sangat berpotensi bila digunakan dengan tepat, karena obat dapat mencegah, menyembuhkan penyakit atau mengatasi masalah kesehatan. Dengan menggunakan obat secara tepat, bisa didapatkan manfaat yang optimal dari obat. Penggunaan obat yang tepat dimulai dengan mematuhi semua informasi yang tertera pada kemasan obat atau aturan pakai yang dituliskan oleh apotek.
Konsumen berhak untuk meminta informasi obat kepada apotek atau kepada Pusat Informasi Obat yang memberikan layanan informasi kepada mayarakat luas seperti PIO Nas Badan POM (Pusat Informasi Obat Nasional Badan POM) jika informasi tersebut masih kurang atau belum dapat dipahami, karena informasi obat merupakan hak konsumen, sebagaimana tercantum dalam Undang-undang perlindungan konsumen. Untuk memperolah hasil terapi yang optimal dan mencegah serta mengatasi efek samping yang tidak diinginkan pada saat membeli obat di apotek, konsumen berhak mendapatkan informasi mengenai hal-hal berikut :
1. Nama dagang dan nama generik obat
Nama dagang adalah nama obat yang diberikan oleh pabrik, sedangkan nama generik adalah nama obat sesuai dengan nama kandungan zat berkhasiatnya. Beberapa obat dengan nama dagang yang berbeda dapat mempunyai nama generik yang sama karena mengandung zat berkhasiat yang sama. Biasanya harga obat dengan nama generik lebih murah daripada obat dengan nama dagang. Informasi nama generik dari obat yang ingin dibeli dapat ditanyakan kepada apoteker.
2. Tujuan penggunaan atau indikasi obat
Indikasi adalah suatu keadaan (kondisi penyakit) dimana obat perlu digunakan. Misalnya, indikasi dari obat golongan antibiotik adalah keadaan infeksi yang disebabkan oleh bakteri. Sementara itu pada keadaan infeksi yang disebabkan oleh virus, tidak diperlukan antibiotik.
Universitas Indonesia Universitas Indonesia
3. Kekuatan dan dosis
Kekuatan obat adalah jumlah kandungan obat yang berkhasiat, sedangkan dosis obat adalah jumlah dan frekuensi obat yang harus diminum atau digunakan dalam jangka waktu tertentu. Misalnya obat-obat golongan antibiotik untuk orang dewasa sering diberikan dengan kekuatan 500 mg dan dengan dosis sehari tiga kali satu tablet.
4. Efek samping yang timbul dan bagaimana upaya penanganan efek samping tersebut
Pada dasarnya, semua obat memiliki efek samping, namun efek samping bersifat individual, artinya bahwa efek samping belum tentu terjadi pada semua pasien. Efek tersebut bisa mulai dari yang bersifat ringan seperti sakit kepala atau gatal-gatal maupun bersifat berat seperti gangguan denyut jantung. Untuk obat yang sama, efek samping yang muncul pada pasien pertama belum tentu muncul juga pada pasien kedua. Untuk itu, risiko timbulnya efek samping, tidak perlu membuat konsumen menjadi cemas untuk minum obat karena setiap penggunaan obat harus sudah mempertimbangkan manfaat risiko obat. Informasi mengenai perbandingan manfaat dan risiko obat serta kemungkinan efek samping dari obat yang diminum dan tindakan apa yang harus dilakukan jika timbul efek samping dapat ditanyakan kepada apoteker.
5. Interaksi obat tersebut dengan obat lain atau dengan makanan
Beberapa obat tertentu boleh dikonsumsi bersamaan dengan obat lain. Ada juga beberapa obat yang perlu dikonsumsi terpisah beberapa jam dari obat lain. Beberapa makanan juga dapat mempengaruhi khasiat dari obat yang diminum. Misalnya makanan dengan kandungan kalium yang tinggi dapat mempengaruhi kegunaan dari obat yang dapat menimbulkan peningkatan kadar kalium dari darah, seperti misalnya obat yang tergolong diuretik hemat kalium. Dengan demikian, pasien yang sedang minum obat yang mengandung spironolakton, sebaiknya mengurangi konsumsi makanan kaya kalium seperti pisang. Informasi tentang obat lain atau makanan yang harus dihindari pada saat penggunaan obat tertentu dapat ditanyakan pada apoteker.
6. Lama penggunaan obat dan hasil yang diharapkan dari obat
Obat harus diminum dalam jangka waktu tertentu hingga dicapai kondisi yang diinginkan. Misalnya obat untuk mengatasi penyakit diabetes perlu diminum secara teratur hingga dapat terkontrol kadar gula darah pada interval kadar gula darah yang normal.
7. Waktu yang baik untuk minum obat
Beberapa obat akan lebih baik efeknya apabila diminum pada malam hari karena dapat menyebabkan kantuk. Beberapa obat lainnya justru akan lebih baik diminum pada pagi hari seperti vitamin atau diuretik. Ada pula obat yang lebih baik diminum setelah makan karena b e r sifat iritasi terhadap lambung. Sebaliknya ada obat yang lebih baik diminum sebelum makan karena perut dalam keadaan kosong dapat meningkatkan penyerapan obat.
8. Cara penyimpanan obat
Umumnya cara penyimpanan obat yang paling sesuai adalah dengan disimpan pada suhu kamar, terlindung dari lembab, dan cahaya matahari langsung, namun ada juga obat yang harus disimpan pada lemari es. Cara penyimpanan obat yang sesuai sangat diperlukan untuk menjaga stabilitas obat, sehingga mutu obat tetap terjamin. Selain itu obat harus disimpan di tempat yang tidak dapat dijangkau oleh anak. Penyimpanan obat secara umum adalah :
a. Ikuti petunjuk penyimpanan pada label/kemasan
b. Simpan obat dalam kemasan asli dan dalam wadah tertutup rapat