• Tidak ada hasil yang ditemukan

Saran

Dalam dokumen UNIVERSITAS INDONESIA (Halaman 60-110)

BAB 6. KESIMPULAN DAN SARAN

6.2 Saran

1. Kebersihan alat peracikan perlu diperhatikan guna menjamin efektifitas obat. Terutama untuk obat racikan yang mengandung beta laktam sebaiknya mempunyai alat racik sendiri.

2. Apoteker lebih berperan aktif dalam kepuasan pelanggan terkait dengan pelayanan informasi obat selama jam kerja.

3. Setiap karyawan sebaiknya lebih bertanggung jawab mengenai persediaan barang berdasarkan tanggung jawab rak masing-masing untuk mencegah kekosongan barang.

4. Sebaiknya jumlah barang yang tersisa ditulis dalam kartu stok agar dapat mempermudah pengontrolan persediaan barang.

DAFTAR ACUAN

Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 1978. Peraturan Menteri Kesehatan No. 28/Menkes/Per/I/1978 tentang Penyimpanan Narkotika. Jakarta.

Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 1980. Apotek. Dalam Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 25 Tahun 1980. Jakarta.

Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 1993. Peraturan Menteri Kesehatan No. 922 Tahun 1993 Tentang Ketentuan dan Tata Cara Pemberian Izin Apotek. Jakarta.

Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 1990. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 347/MenKes/SK/VII/1990 Tentang Obat Wajib Apotek. Jakarta

Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 1997. Undang-Undang No. 5 tahun 1997 tentang Psikotropika. Jakarta.

Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 2002. Keputusan Menteri Kesehatan No. 1322/Menkes/SK/X/2002 Tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 922/MENKES/PER/X/1993 Tentang Ketentuan dan Tata Cara Pemberian Izin Apotek. Jakarta.

Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 2004. Standar Pelayanan Kefarmasian di Apotek. Dalam Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1027/Menkes/Sk/IX/2004. Jakarta.

Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 2006. Pedoman Penggunaan Obat Bebas dan Bebas Terbatas. Jakarta

Presiden Republik Indonesia. 2009. Ketentuan Umum pasal 1 ayat 1. Dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 51 Tahun 2009 Tentang Pekerjaan Kefarmasian. Jakarta.

Presiden Republik Indonesia. 2009. Ketentuan Umum Pasal 1 ayat 13. Dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 51 Tahun 2009 Tentang Pekerjaan Kefarmasian. Jakarta.

Presiden Republik Indonesia. 2009. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika. Jakarta.

PT. Kimia Farma (Persero) Tbk. 2009. Mutu Pelayanan Kefarmasian dan Pengendalian Mutu. Dalam Panduan Materi PKPA di Apotek Kimia Farma. Jakarta.

Departemen Kesehatan Republik Indonesia. .2009. Undang-Undang No. 35 tahun

Lampiran 1. Struktur Organisasi PT Kimia Farma Apotek

*)Ket: APIM: Apoteker Pendamping

Direktur Utama KFA Direktur Operasional Manajer Bisnis Strata A Supervisor Pengadaan Supervisor Adm dan Keu Adm Hutang Dagang Adm Piutang Dagang Pemegang Kas Umum/SDM Apoteker Pengelola Apotek Kepala Pelayanan Farmasi / APIM Swalayan Farmasi Layanan Farmasi Manajer Bisnis Strata B Manajer Bisnis Strata C Direktur SDM dan Umum Direktur Keuangan

56

Lampiran 3. Denah Apotek Kimia Farma No. 7 Bogor

Lantai 1

58

60

62

Lampiran 8. Bon Permintaan barang Apotek

BON PERMINTAAN BARANG APOTEK (BPBA)

TANGGAL: No. Urut:

No. NAMA SATUAN JUMLAH JUMLAH SISA KET.

BARANG YANG YANG PERSEDIAAN

DIMINTA DIBERIKAN DI GUDANG

PJ PENERIMA PJ PJ

GUDANG BARANG PEMBELIAN PELAYANAN

64

Lampiran 10. Laporan Penggunaan Narkotika

66

Lampiran 13. Laporan Ikhtisar Penerimaan Harian (LIPH)

PT. Kimia Farma Apotek Apotek KF No. 7

Jl. Juanda No. 30. Bogor

Laporan Ikhtisar Penerimaan Harian-Rekap Shift: Total Operator: Seluruh

Tanggal : 20/10/2011 Hal: 1/1

No. Nama Pelayanan L/R Nomor. Kd. Tanggal Tunai Kredit Jumlah

Disc. Tag PENJUALAN TUNAI 1 Obat Bebas 2 Retur Tunai 3 Resep Tunai 4 Resep UPDS Sub Total PENJUALAN KREDIT 1 Kartu Debit 2 Kartu Kredit Sub Total TOTAL TUNAI: SETORAN:

68

BERITA ACARA PEMUSNAHAN PERBEKALAN FARMASI

Pada hari ini kamis tanggal tiga belas bulan Januari tahun dua ribu sebelas sesuai dengan peraturan menteri kesehatan No. 922/MENKES/PER/X/1993 tentang ketentuan dan tata cara pemberian izin apotek.

Nama Apoteker Pengelola Apotek : Drs. Syarifuddin, Apt.

SIK No. : ……… Tanggal ………

Nama Apotek : Apotek Kimia Farma Unit Bisnis Bogor Alamat Apotek : Jl. Ir. H. Djuanda No. 30 Bogor

Telah melakukan pemusnahan : Perbekalan farmasi sebagaimana tercantum dalam daftar terlampir

Tempat melakukan pemusnahan : Halaman belakang Apotek Kimia Farma Jl. Ir H. Djuanda No. 30 Bogor

Berita acara ini kami buat sesungguhnya dengan penuh tanggung jawab Berita acara ini dibuat dalam rangkap 2 (dua) dan dikirimkan kepada :

1. Kepala kantor wilayah departemen kesehatan propinsi jawa barat 2. Kepala Balai Pemeriksaan Obat dan Makanan di Bogor

Karyawan yang membantu

(………)

Bogor, 13 Januari 2011 Yang membuat Berita Acara

(Drs. Syarifuddin, Apt) SIK ………. Lampiran 14. Berita Acara Pemusnahan Perbekalan Farmasi

UNIVERSITAS INDONESIA

STUDI KELAYAKAN APOTEK

DI KELURAHAN CINERE-DEPOK

TUGAS KHUSUS PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER

DEDDY RIFANDI LAURENS, S.Farm.

1006835154

ANGKATAN LXXIII

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM PROGRAM PROFESI APOTEKER – DEPARTEMEN FARMASI

DEPOK NOVEMBER 2011

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ... i DAFTAR ISI ... ii DAFTAR TABEL.. ... iii DAFTAR LAMPIRAN.. ... iv BAB 1 PENDAHULUAN ... 1 1.1 Latar Belakang ... 1 1.2 Tujuan... 2 BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA ... 3 2.1 Definisi Studi Kelayakan... 3 2.2 Manfaat Studi Kelayakan ... 3 2.3 Proses Pembuatan Studi Kelayakan. ... 4 2.4 Aspek-aspek Penilaian Studi Kelayakan.. ... 6 2.5 Demografi Penduduk Kelurahan Cinere. ... 11 BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN ... 14 BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN ... 15 4.1 Asumsi Sumber Pendapatan Apotek ... 18 4.2 Aspek Modal dan Biaya ... 20 BAB 5 KESIMPULAN DAN SARAN... ... 25 4.1 Kesimpulan ... 25 4.2 Saran ... 25

DAFTAR TABEL

Halaman Tabel 2.1. Jumlah Penduduk Kelurahan Cinere Bulan Juli 2011 ... 11 Tabel 2.2. Jumlah Penduduk Kelurahan Cinere Menurut Komposisi Umur Bulan Juli 2011. ... 12 Tabel 2.3. Jumlah Penduduk Kelurahan Cinere Menurut Tingkat Pendidikan

Bulan Juli 2011. ... 12 Tabel 2.4. Jumlah Penduduk Kelurahan Cinere Menurut Mata Pencaharian

Bulan Juli 2011. ... 12 Tabel 2.5. Pola Penyakit Penderita Rawat Jalan Pasien Umur 1-4 Tahun

di Puskesmas Cinere. ... 13 Tabel 2.6. Pola Penyakit Rawat Jalan Pasien Umur 5-44 Tahun di Puskesmas

Cinere... 13 Tabel 4.1. Apotek Kompetitor. ... 18 Tabel 4.2. Asumsi Resep per Hari. ... 19 Tabel 4.3. Asumsi Penjualan Obat Wajib Apotek dan Obat Bebas Dalam

1 Tahun. ... 19 Tabel 4.4. Sumber Pendapatan Dari Resep Luar (Out of House). ... 20

DAFTAR LAMPIRAN

Halaman Lampiran 1. Jumlah Penduduk Warga Negara Indonesia di Kelurahan

Cinere Pada Bulan Juli 2001 ... 28 Lampiran 2. Jumlah Penduduk Warga Negara Asing di Kelurahan

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Apotek merupakan suatu tempat untuk melakukan pekerjaan kefarmasian, penyaluran sediaan farmasi dan perbekalan kesehatan lainnya kepada masyarakat. Fungsi apotek adalah sebagai tempat pengabdian apoteker yang telah mengucapkan sumpah jabatan, dan sebagai sarana farmasi untuk melakukan peracikan, pengubahan bentuk, pencampuran dan penyerahan obat dan sarana penyaluran perbekalan farmasi yang harus menyebarkan obat yang diperlukan masyarakat secara meluas dan merata (Kementerian Kesehatan RI, 2009).

Apoteker penanggung jawab suatu apotek, memiliki tanggung jawab dalam memberikan pelayanan yang optimal kepada masyarakat. Dalam pemberian pelayanan, seorang apoteker juga dituntut untuk mampu dalam mengelola suatu apotek dengan baik. Oleh karena itu, sebelum dibangunnya suatu apotek, perencanaan dalam pembangunannya harus dilakukan dengan perhitungan teliti karena apotek juga bertujuan memperoleh keuntungan.

Saat ini pertumbuhan pendirian apotek, baik yang didirikan secara perseorangan maupun kerjasama dengan pihak lain semakin meningkat. Namun tidak semua apotek yang berdiri tersebut dapat bertahan dalam persaingan. Apalagi saat ini sudah tidak ada peraturan mengenai jarak minimal dalam pendirian apotek, sehingga membuat persaingan menjadi semakin ketat, hanya apotek yang mempunyai perencanaan dan bisa membaca pasarlah yang dapat bertahan.

Penelitian yang digunakan untuk mengetahui apakah apotek layak berdiri pada suatu lokasi tertentu disebut dengan studi kelayakan (Feasibility Study). Studi kelayakan digunakan untuk menilai kemajuan atau kemunduran suatu apotek dalam beberapa tahun ke depan setelah apotek tersebut berdiri. Pelaksanaan studi kelayakan memiliki tujuan, yaitu menghindari resiko kerugian, memudahkan perencanaan, memudahkan pelaksanaan pekerjaan, memudahkan pengendalian.

Untuk itu pada Praktek Kerja Profesi Apoteker kali ini diberikan tugas khusus mengenai studi kelayakan terhadap suatu apotek. Titik yang akan didirikan suatu apotek yaitu berlokasi di Jalan Cinere Raya Kelurahan Cinere, Kecamatan Cinere Depok.

1.2 Tujuan

Mahasiswa dapat melakukan penilaian studi kelayakan terhadap apotek yang akan didirikan di Jalan Cinere Raya Kelurahan Cinere, Kecamatan Cinere Depok.

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2. 1 Definisi Studi Kelayakan

Studi kelayakan (feasibility study) adalah suatu metode penjajagan gagasan (idea) suatu proyek mengenai kemungkinan layak atau tidaknya untuk dilaksanakan (Umar, 2009).

Suatu apotek yang didahului dengan studi kelayakan belum tentu dapat menjamin keberhasilan apotek tersebut, sebab studi kelayakan tersebut hanya berfungsi sebagai pedoman atau landasan pelaksanaan pekerjaan, karena dibuat berdasarkan data-data dari berbagai sumber yang dianalisis dari banyak aspek.

Tingkat keberhasilannya dipengaruhi dua faktor yaitu kemampuan sumber daya internal termasuk kecakapan manajemen, kualitas pelayanan, produk yang dijual, dan kualitas karyawan serta pengaruh lingkungan eksternal yang tidak dapat dipastikan termasuk pertumbuhan pasar, pemasok, pesaing, dan adanya perubahan peraturan. Pendirian apotek yang dipaksakan tanpa mengindahkan hasil penilaian dari studi kelayakan akan menimbulkan kerugian. Oleh karena itu studi kelayakan yang dilakukan harus benar-benar berdasarkan pada data yang valid dan observasi secara menyeluruh.

2.2 Manfaat Studi Kelayakan (Sofyan, 2003)

Studi kelayakan dibutuhkan oleh pihak-pihak yang mempunyai kepentingan antara lain yaitu :

1. Pengusaha : dengan adanya studi kelayakan pengusaha dapat mengetahui apakah gagasan usahanya layak digunakan atau tidak, karena dengan adanya studi kelayakan pengusaha dapat mengambil peluang atau dapat menghindari resiko kerugian.

2. Kreditor : dengan adanya studi kelayakan kreditor dapat mengkaji apakah proyek tersebut pantas diberikan kredit atau tidak. Meskipun ada faktor-faktor lain yang dijadikan pertimbangan seperti besarnya nilai jaminan, bonafiditas pengusahanya, tingkat hubungan kedua belah pihak, jaminan dan sebagainya.

3. Investor : dengan adanya studi kelayakan calon investor dapat menganalisis apakah menanamkan modal pada proyek tersebut dapat memberikan keuntungan atau tidak.

2.3 Proses Pembuatan Studi Kelayakan

Tahapan atau proses dalam membuat sebuah studi kelayakan pendirian apotek, dapat terdiri dari 5 tahapan yaitu :

2.3.1. Penemuan suatu gagasan

Gagasan merupakan sebuah pemikiran terhadap sesuatu yang ingin sekali untuk dilaksanakan. Gagasan yang baik untuk didiskusikan dan dianalisis sebelum dilaksanakan adalah gagasan yang memenuhi beberapa kriteria diantaranya yaitu bahwa ide harus :

a. Sesuai dengan visi organisasi b. Dapat menguntungkan organisasi

c. Sesuai dengan kemampuan sumber dayanya yang dimiliki organisasi d. Tidak bertentangan dengan peraturan yang berlaku

e. Aman untuk jangka panjang

2.3.2. Penelitian

Setelah gagasan disetujui, langkah berikutnya adalah melakukan penelitian lapangan. Data-data yang dibutuhkan antara lain :

a. Ilmiah : melalui analisa data-data bisnis mengenai kondisi lingkungan eksternal yang ada di sekitar lokasi yang ditetapkan seperti :

1) Nilai strategi sebuah lokasi. 2) Data kelas konsumen.

3) Peraturan yang berlaku di daerah tersebut. 4) Tingkat persaingan yang ada saat ini.

b. Non ilmiah yaitu : melalui intuisi (intuition) atau feeling yang diperoleh setelah melihat lokasi dan kondisi lingkungan di sekitarnya.

5

2.3.3. Evaluasi

Dalam melakukan evaluasi terhadap data hasil penelitian dilapangan, dapat dilakukan dengan cara yaitu:

1) Memperhatikan beberapa faktor yang berpengaruh, terdiri dari :

a) Eksternal faktor, yaitu tipe konsumen yang akan dilayani (pemukiman, perkantoran), tingkat keuntungan yang akan diperoleh, kondisi keamanan, peraturan tentang perkembangan tata kota (pelebaran jalan) di tempat lokasi yang ditetapkan, dan kondisi keamanan di sekitar lokasi yang ditetapkan.

b) Internal faktor, yaitu kemampuan keuangan, ketersediaan tenaga kerja, ketersediaan produk, dan kemampuan pengelolaan (manajemen).

2) Membuat usulan proyek (project appraisal), yang meliputi: pendahuluan, analisis teknis mengenai peta lokasi dan lingkungan sekitar, analisis pasar, analisis manajemen, dan analisis keuangan.

2.3.4. Rencana Pelaksanaan

Setelah usulan proyek disetujui, kemudian menetapkan waktu (time schedule) untuk memulai pekerjaan sesuai dengan skala prioritas :

a. Menyediakan dana biaya investasi dan modal kerja. b. Mengurus izin.

c. Membangun, merehabilitasi gedung. d. Merekrut karyawan.

e. Menyiapkan barang dagangan, sarana pendukung. f. Memulai operasional.

2.3.5. Pelaksanaan rencana kerja

Dalam melakukan setiap jenis pekerjaan, dibuatkan suatu format yang berisi mengenai :

a. Jadwal pelaksanaan setiap jenis pekerjaan. b. Mencatat setiap penyimpangan yang terjadi. c. Membuat evaluasi dan solusi penyelesaiannya.

2.4 Aspek-aspek Penilaian Studi Kelayakan

Aspek-aspek yang perlu dilakukan studi kelayakan bila akan membuat suatu usaha apotek antara lain :

2.4.1. Penilaian Aspek Manajemen

Penilaian terhadap aspek manajemen operasional antara lain dapat meliputi mengenai rencana :

1) Strategi manajemen

Strategi manajemen yaitu suatu strategi yang akan digunakan untuk mengubah kondisi yang ada saat ini (current condition) menjadi kondisi di saat yang akan (future condition) datang dalam suatu periode waktu tertentu. Strategi manajemen tersebut antara lain mengenai visi, misi, strategi, program kerja, standar operasional prosedur (SOP).

2) Bentuk dan Tata Letak Bangunan.

Dalam menetapkan bentuk dan tata letak bangunan, terdapat beberapa hal yang harus diperhatikan yaitu :

a) Bentuk bangunan harus dapat menggambarkan Identity company image, untuk membentuk opini konsumen. Nuansanya (physical evident) baik interior ataupun exterior, sesuai dengan target konsumen yang akan dilayani, dan kemudahan untuk dikembangkan.

b) Sistem tata letak (lay out) dapat memberikan kemudahan dalam melakukan pengawasan dan pengendalian mutasi barang dan kemudahan bagi konsumen untuk memperolehnya (untuk barang otc/bebas).

c) Estetika, rapih,teratur dan tersusun dengan baik.

d) Kesesuaian dengan peraturan yang berlaku dan sifat barang, karena dalam pengelolaan sediaan farmasi di apotek telah diatur oleh undang-undang dan adanya sifat obat yang mudah terpengaruh oleh berbagai macam keadaan.

3) Jenis Produk yang Akan Dijual

Persediaan merupakan elemen penting dalarn perusahaan retail. Seperti diketahui dalam melakukan penilaian terhadap analisis produk yang akan dijual berkaitan dengan beberapa hal yaitu :

7

a) Target konsumen, bila target konsumennya yang menengah-atas, maka barang yang dijual juga barang menengah-atas.

b) Jumlah dan jenis (lini, item) produk kebutuhan konsumen, umumnya konsumennya yang menengah-atas meminta perhatian yang lebih dari penjual. Oleh sebab itu lini dan jumlah itemnya terpenuhi agar kelengkapannya terjaga.

2.4.2. Penilaian Aspek Pasar

Dalam menilai aspek pasar terdapat beberapa hal yang harus diperhatikan antara lain yaitu :

1) Bentuk Pasar, dapat berupa : 1. Persaingan sempurna

a. Jumlah penjual dan konsumennya tidak terbatas.

b. Harga ditentukan oleh jumlah penawaran (supply) dan jumlah permintaan (demand).

c. Tidak ada hambatan masuk (entry barrier). d. Contohnya : pasar industri sembako, buah. 2. Persaingan monopolistis

a. Jumlah penjual dan konsumennya banyak. b. Harga ditentukan oleh promosi.

c. Tidak ada entri barrier.

d. Contohnya : pasar industri restoran, salon. 3. Monopoli yaitu :

a. Hanya ada satu penjual, tidak ada pesaing.

b. Mempunyai posisi tawar yang dominan, sehingga dapat bertindak sebagai penentu harga (price maker) .

c. Entri barriernya tinggi. d. Contohnya : PLN, Telkom. 4. Oligopoli yaitu :

a. Penjualnya sedikit.

b. Harga ditentukan oleh kualitas produk, service, promosi. c. Entri barriernya tinggi.

d. Contohnya : pasar industri automotif, hand phone. 2) Potensi Pasar (potential market)

Potensi Pasar adalah sejumlah pembeli suatu wilayah yang memiliki uang dan keinginan untuk membelanjakannya (dikuantumkan dalam suatu mata uang). Cara mengukur potensi pasar (Q) antara lain dapat dilakukan dengan mengkalikan jumlah pembeli (n) dan harga rata-rata barang (P).

Rumus 1 :

3) Target Pasar (target market)

Target Pasar adalah jenis konsumen tertentu yang akan dilayani atau yang akan menjadi sasaran pemasaran. Target pasar dapat dibagi menjadi 3 golongan yaitu :

a) Pasar individu (untuk keperluan perorangan), umumnya tunai, jumlah pembeliannya kecil, seperti anggota masyarakat

b) Pasar korporasi (untuk keperluan karyawan di suatu instansi), umumnya kredit, jumlah pembeliannya besar, seperti PLN

c) Pasar reseller (penjual) adalah pasar yang membeli barang atau jasa untuk dijual kembali, seperti grosir, dokter dispensing.

2.4.3. Penilaian Aspek Teknis

2.4.3.1. Lokasi dan Lingkungan Di sekitarnya .

Arti strategis suatu lokasi adalah berkaitan dengan beberapa hal yang menjadi pertimbangan yaitu meliputi:

a) Jarak lokasi dengan supplier : relatif dekat dan mudah dicapai

b) Jarak lokasi dengan domisili konsumennya relatif dekat dan mudah dicapai dengan berbagai macam jenis alat transportasi

c) Bentuk dan luas lahan (bangunan) : mudah untuk mengembangkan usaha, seperti praktek dokter, laboratorium klinik.

d) Nyaman dan aman : daerahnya tidak jorok, tidak macet dan sempit dan tingkat kriminalnya rendah (bukan daerah premanisme).

e) Prospek pertumbuhan pasarnya relatif cepat dan besar : jumlah konsumen dan daya beli (income perkapita) nya relatif tinggi.

Q = n x P

9

2.4.3.2. Bentuk Badan Usaha

Bentuk badan usaha yang akan ditetapkan tentunya memiliki tujuan tertentu misalnya :

1. Koperasi untuk memperoleh fasilitas kemudahan dalam mengurus izin, tetapi kurang mendapat perhatian dari kalangan konsumen, investor, kreditor. 2. Persero (PT) untuk memperoleh perhatian dari kalangan konsumen,

investor, kreditor tertentu, tetapi dalam mengurus izin dikenakan biaya yang relatif mahal dibandingkan dengan koperasi.

2.4.3.3. Struktur Organisasi

Tujuan pembentukan struktur organisasi untuk memberi gambaran mengenai :

a) Jumlah jenis pekerjaan yang akan dilaksanakan.

b) Fungsi-tugas dan wewenang-tanggung jawab setiap pekerjaan. c) Persyaratan jabatan pada setiap jenis pekerjaan.

d) Hirarki dalam pengambilan keputusan.

Dalam struktur organisasi, besar-kecilnya bagan dan jumlah pegawai yang dibutuhkan tegantung pada :

a) Jenis dan volume pekerjaan, bila jumlah dan volume pekerjaan banyak, maka struktur diperbesar. Sebaliknya bila volume pekerjaan sedikit, struktur dirampingkan, agar lebih efisien.

b) Penempatan setiap pegawai sesuai dengan persyaratan jabatannya (the right man on the right place) yang telah ditetapkan.

2.4.4. Penilaian Aspek Keuangan

Pertimbangan dalam menilai aspek keuangan dapat meliputi penilaian terhadap :

A. Penilaian Sumber Pendanaan 1. Kegunaannya

a. Dana untuk kebutuhan membeli aktiva tetap, seperti tanah, bangunan, peralatan interior (komputer, meja & rak obat, kursi pasien) dan eksterior (billboard).

b. Dana untuk kebutuhan modal kerja (untuk aktiva lancar yaitu kas, rekening di Bank, membeli barang dagangan).

2. Sumber Dana

Pertimbangan dalam memilih sumber dana adalah biaya yang paling rendah (efisien) dengan masa tenggang pengembalian yang lebih lama dibandingkan payback periode proyeknya. Beberapa sumber dana yang dapat digunakan yaitu :

a. Modal pemilik perusahaan (modal disetor). b. Bank (kreditor).

c. Investor, dari kas penerbitan saham atau obligasi. d. Lembaga non-bank atau leasing (dana pensiun).

B. Penilaian Analisis Keuangan

Dalam melakukan penilaian aspek keuangan terhadap kelayakan suatu proyek dapat dilakukan dengan beberapa metode analisis antara lain: 1. Metode Analisis Payback Periode (PP).

Payback Periode adalah pengukuran periode yang diperlukan dalam menutup kembali biaya investasi (initial cash investment) dengan menggunakan aliran kas (laba bersih) yang akan diterima.

Rumus 2 :

Jumlah nilai investasi

Payback Periode = ---x 1 tahun Jumlah kas yang masuk per th

Indikatornya adalah

a. Bila PP yang diperoleh waktunya < dari maksimum PP yang ditetapkan, maka proyek tersebut layak dilaksanakan.

b. Bila PP yang diperoleh waktunya > lama dari maksimum PP yang ditetapkan, maka proyek tersebut tidak layak dilaksanakan. c. Bila PP yang diperoleh waktunya = maksimum PP yang

ditetapkan, maka proyek tersebut dikatakan boleh dilaksanakan dan juga boleh tidak.

11

2. Metode Analisis Return On Investment (ROI)

Analisis Return On Investment adalah pengukuran besaran tingkat return (%) yang akan diperoleh selama periode investasi dengan cara membandingkan jumlah nilai laba bersih per tahun dengan nilai investasi. Rumus 3 : x100% investasi Nilai bersih laba Nilai ROI Indikatornya adalah :

a. Bila ROI yang diperoleh > dari bunga pinjaman, maka proyek dikatakan layak dilaksanakan

b. Bila ROI yang diperoleh < dari bunga pinjaman, maka proyek dikatakan tidak layak dilaksanakan

c. Bila ROI yang diperoleh = bunga pinjaman, maka proyek boleh dilaksanakan dan boleh juga tidak.

2. 5 Demografi penduduk kelurahan Cinere

Lokasi apotek yang akan didirikan berada di Kelurahan Cinere yang terdiri dari 18 RW dengan jumlah penduduk sebesar 23.512 jiwa. Segmentasi pasar dilakukan berdasarkan data demografi penduduk yang meliputi pembagian berdasarkan usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan, dan mata pencaharian serta pola penyebaran penyakit di daerah Cinere.

Tabel 2.1. Jumlah Penduduk Kelurahan Cinere Bulan Juli 2011 Laki-laki Perempuan Jumlah Warga Negara Indonesia 12.536 10.931 23.467 Warga Negara Asing 29 16 45

Tabel 2.2. Jumlah Penduduk Kelurahan Cinere Menurut Komposisi Umur Bulan Juli 2011

No. Usia Laki-laki (jiwa) Perempuan (jiwa) Total (jiwa)

1. 0-4 1.270 1.158 2.428 2. 5-9 1.129 1.001 2.130 3. 10-14 1.024 975 1.999 4. 15-19 1.009 953 1.962 5. 20-24 1.001 948 1.949 6. 25-29 990 856 1.846 7. 30-34 962 849 1.811 8. 35-39 895 776 1.671 9. 40-44 885 671 1.556 10. 45-49 860 676 1.536 11. 50-54 719 665 1.384 12. 55-59 580 513 1.093 13. 60-64 558 333 891 14. 65-69 325 235 560 15. 70-74 191 197 388 16 75-79 98 77 175 17. 80 keatas 69 64 133

Tabel 2.3. Jumlah Penduduk Kelurahan Cinere Menurut Tingkat Pendidikan Bulan Juli 2011

No. Tingkat Pendidikan Jumlah penduduk (orang)

1. Belum sekolah 1.788

2. Tidak Tamat Sekolah 1.804

3. Tamat SD/sederajat 2.779

4. Tamat SLTP/sederajat 3.414

5. Tamat SLTA/sederajat 6.031

6. Tamat akademi/sederajat 4.423

7. Tamat perguruan tinggi/sederajat 3.273

Tabel 2.4. Jumlah Penduduk Kelurahan Cinere Menurut Mata Pencaharian Bulan Juli 2011

No. Mata Pencaharian Jumlah penduduk (orang)

1. Petani 40 2. Wiraswasta 1.440 3. Pengrajin/industri kecil 3 4. Buruh 3.210 5. Pedagang 859 6. PNS 503 7. TNI/POLRI 210 8. Pensiun/purnawirawan 833 9. Lain-lain 16.414

13

Tabel 2.5. Pola Penyakit Penderita Rawat Jalan Pasien Umur 1-4 Tahun di Puskesmas Cinere

No. Nama Penyakit Kasus Baru

Jumlah % 1. ISPA 2.994 64,85 2. Dermatitis 794 17,20 3. Pneumonia 247 5,35 4. Diare 218 4,72 5. Konjungtivitis 195 4,22 6. Asma 169 3,66 Jumlah 4617 100

Tabel 2.6. Pola Penyakit Penderita Rawat Jalan Pasien Umur 5-44 Tahun di Puskesmas Cinere

No. Nama Penyakit Kasus Baru Jumlah % 1. ISPA 1.442 15,66 2. Dermatitis 1.613 17,52 3. Gastro Enteritritis 1.521 16,52 4. Hypertensi 1.224 13,30 5. Diare 879 9,55 6. Asma 684 7,43 7. Arthritis 592 6,43 8. Mata 479 5,20 9. Diabetes Melitus 431 4,68 10. TBC 341 3,70 Jumlah 9.206 100

BAB 3

METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Jenis Penelitian

Penelitian dilakukan dengan observasi langsung pada lokasi penelitian. Sedangkan data kependudukan diperoleh dari Kelurahan Cinere Bulan Juli 2011.

3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian

Lokasi penelitian berada di Jalan Cinere Raya, Cinere, Depok. Waktu penelitian dilakukan selama periode 16 hingga 19 September 2011.

3.3 Data Penelitian

a. Jumlah penduduk berdasarkan usia, jenis kelamin, mata pencaharian, dan tingkat pendidikan di Kelurahan Cinere, Depok.

b. Sarana kesehatan yaitu Rumah Sakit, Puskesmas, klinik, praktek dokter, laboratorium, dan apotek (pada radius 100 m, 500 m, dan 1 Km dari lokasi apotek).

c. Sumber pemasukan serta jumlah pemasukan apotek rata-rata per hari.

3.4 Cara Pengumpulan dan Pengolahan Data

a. Data kependudukan diperoleh dari Kelurahan Cinere Bulan Juli 2011, antara lain meliputi data jumlah penduduk, jenis kelamin, sebaran usia, tingkat pendidikan dan mata pencaharian yang diperoleh dan dibuat dalam bentuk tabel yang digunakan untuk memberikan gambaran mengenai apotek yang sesuai dengan kondisi penduduk.

b. Data mengenai sarana kesehatan diperoleh dari observasi lapangan secara langsung pada radius 100 m, 500 m, dan 1 Km dari lokasi pendirian apotek.

c. Data jumlah pemasukan apotek beserta sumber pemasukan rata-rata per

Dalam dokumen UNIVERSITAS INDONESIA (Halaman 60-110)

Dokumen terkait