• Tidak ada hasil yang ditemukan

Saran

Dalam dokumen UNIVERSITAS INDONESIA (Halaman 49-87)

BAB 5. KESIMPULAN DAN SARAN

5.2 Saran

Pada pelaksanaan program BMDTP (Bea Masuk Ditanggung Pemerintah) tidak hanya diberikan untuk obat esensial infus tetapi juga obat-obatan untuk penyakit yang mempunyai prevalensi paling tinggi di Indonesia.

Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia. (2001). Profil Badan

Pengawas Obat dan Makanan. 19 Juli 2012 Pukul 15.00.

http://www.pom.go.id.

Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia. (2004a). Keputusan

Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan Nomor HK.,00.05.21.4231 Tahun 2004 tentang Perubahan Atas Keputusan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan Nomor. 02001/SK/KBPOM tentang Organisasi dan Tata Kerja Badan POM.

Jakarta: Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia.

Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia. (2004b). Keputusan

Badan POM Nomor HK.00.05.21.4232 Tahun 2004 Tentang Perubahan atas Keputusan BPOM Nomor 05018/SK/KBPOM Tahun 2001 Tentang Organisasi dan Tata Kerja Unit Pelaksana Teknis di Lingkungan BPOM. Jakarta: Badan Pengawas Obat dan Makanan

Republik Indonesia.

Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia. (2004c). Pedoman Uji

Bioekivalensi. Jakarta: Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik

Indonesia.

Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia. (2005). Peraturan

Presiden Republik Indonesia No. 64 Tentang Perubahan Keenam Atas Keputusan Presiden No. 103 Tahun 2001 Tentang Kedudukan, Tugas, Fungsi, Kewenangan, Susunan Organisasi dan Tata Kerja Lembaga Pemerintah Non Departemen. Jakarta: Badan Pengawas Obat dan

Makanan Republik Indonesia.

Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia. (2010a). Direktorat

Standardisasi PT dan PKRT Tahun 2010-2014. Jakarta: Badan

Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia.

Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia. (2010b). Laporan

Tahunan 2010 Deputi 1 Bagian Direktorat Pengawasan Produksi Produk Terapetik dan PKRT. Jakarta: Badan Pengawas Obat dan

Makanan Republik Indonesia.

Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia. (2010c). Keputusan

Penetapan Visi dan Misi BPOM. Jakarta: Badan Pengawas Obat dan

Makanan Republik Indonesia.

Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia. (2011). Peraturan

Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia Nomor HK.03.1.23.12.11.10217 tahun 2011 tentang Obat Wajib Uji Ekivalensi. Jakarta: Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik

Indonesia.

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2010). Peraturan Menteri

Kesehatan Republik Indonesia No. 1189/MENKES/PER/VIII/2010 Tentang Produksi Alat Kesehatan dan Perbekalan Kesehatan Rumah Tangga. Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan.

Jakarta: Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.

Presiden Republik Indonesia. (2000). Peraturan Pemerintah Republik Indonesia

Nomor 102 tahun 2000 tentang Standardisasi Nasional. Jakarta.

Presiden Republik Indonesia. (2004). ). Peraturan Pemerintah Republik Indonesia

Nomor 28 tahun 2004 tentang Keamanan, Mutu dan Gizi Pangan.

Jakarta.

Departemen Kesehatan Republik Indonesia. (2009). Undang-Undang Republik

Indonesia No.36 Tentang Kesehatan. Jakarta: Departemen Kesehatan

Lampiran 1. Struktur Organisasi Badan POM

Kepala Badan POM Inspektor

at

PPOM

PPOMN PIOM PROM

Deputi I Bidang Pengawasan Produk Terapetik dan

NAPZA

1. Dit. Penilaian Obat dan Produk Biologi 2. Dit. Standardisasi Produk Terapetik dan PKRT 3. Dit. Pengawasan Produksi Produk Terapetik dan PKRT 4. Dit. Pengawasan Distribusi Produk Terapetik dan PKRT 5. Dit. Pengawasan NAPZA Deputi II Bidang Pengawasan Obat Tradisional, Kosmetik dan Produk

Komplemen

1. Dit Penilaian OT, Suplemen Makanan dan Kosmetik 2. Dit. Standardisasi

OT, Kosmetik dan Produk Komplemen 3. Dit. Inspeksi dan

Sertifikasi OT, Kosmetik dan Produk Komplemen 4. Dit. ObatAsli Indonesia Sekretariat Utama 1. Biro Perencanaan dan

Keuangan

2. Biro Kerjasama Luar Negeri 3. Biro Hukum dan Humas 4. Biro Umum

Deputi III Bidang Pengawasan

Keamanan Pangan dan Bahan Bahaya

1. Dit. Penilaian Keamanan Pangan 2. Dit. Standardisasi

Produk Pangan 3. Dit. Inspeksi dan

Sertifikasi Produk Pangan

4. Dit. Surveilan dan Penyuluhan Keamanan Pangan 5. Dit. Pengawasan

Produk dan Bahan Berbahaya

Lampiran 2. Struktur Organisasi Direktorat Standardisasi Produk Terapetik dan Perbekalan Kesehatan Rumah Tangga (PKRT)

Direktorat Standardisasi Produk Terapetik dan Perbekalan Kesehatan Rumah Tangga

Sub Direktorat Standardisasi dan Pengaturan Produk

Terapetik dan PKRT

Sub Direktorat Standardisasi dan Penilaian Bioavaibilitas/

Bioekivalensi Obat Sub Direktorat Bimbingan Industri Farmasi Seksi Standardisasi BA/BE Obat Seksi Standardisasi

Produk Terapetik dan PKRT Seksi Penilaian BA/BE Obat Seksi Pengembangan Ekspor Seksi Pengaturan Produk Terapetik dan

PKRT Seksi Tata Operasional Seksi Pengembangan Produksi

Lampiran 3. Alur Revisi Farmakope Indonesia P er enc an aa n

Badan POM Kementrian Hasil

Sekretariat Penyusun Panitia Farmakope

Draft SK Panitia Penetapan kriteria Inventarisa si monografi Pembagia n tugas D raf ti ng da n r apa t Editing Rapat teknis 1, 2, 3 dst Penyusunan draft monografi Persiapan P le no Pleno awal Pleno SK Panitia Farmakope List monogafi yang akan disusun Draft akhir monografi Dewan Penetapan FARMAKOPE

Lampiran 4. Alur Perumusan SNI RSNI 2, RSNI 3 Pantek Drafting RSNI 1 BSN RSNI 4

SNI Dokumen Teknis

Rapat Pantek 1,2,3, …n Konsensus Jajak pendapat Pantek dan mastan

e-balloting Panitia teknisdan mastan

OK OK Usulan zat 1 2 3 4 Instansi terkait (BPOM, KemPerin, KemKes) ditolak 5 6

TUGAS KHUSUS PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER

DI DIREKTORAT STANDARDISASI PRODUK TERAPETIK

DAN PERBEKALAN KESEHATAN RUMAH TANGGA

BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN REPUBLIK

INDONESIA JL. PERCETAKAN NEGARA NO. 23 JAKARTA

PUSAT

INFORMASI TEKNIS PENILAIAN UJI BE OBAT

TABLET MEGESTROL ACETAT 160 mg TERHADAP OBAT

KOMPARATOR TABLET MEGACE

PROGRAM PROFESI APOTEKER

TUGAS KHUSUS PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER

DI DIREKTORAT STANDARDISASI PRODUK TERAPETIK

RBEKALAN KESEHATAN RUMAH TANGGA

GAWAS OBAT DAN MAKANAN REPUBLIK

JL. PERCETAKAN NEGARA NO. 23 JAKARTA

PUSAT PERIODE 5 – 27 JULI 2012

INFORMASI TEKNIS PENILAIAN UJI BE OBAT

TABLET MEGESTROL ACETAT 160 mg TERHADAP OBAT

KOMPARATOR TABLET MEGACE

®

PRODUKSI BRISTOL

MYERS SQUIBB

AMELIA DEWI, S.Farm.

1106153012

ANGKATAN LXXV

FAKULTAS FARMASI

PROGRAM PROFESI APOTEKER

DEPOK

JANUARI 2013

TUGAS KHUSUS PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER

DI DIREKTORAT STANDARDISASI PRODUK TERAPETIK

RBEKALAN KESEHATAN RUMAH TANGGA

GAWAS OBAT DAN MAKANAN REPUBLIK

JL. PERCETAKAN NEGARA NO. 23 JAKARTA

INFORMASI TEKNIS PENILAIAN UJI BE OBAT COPY

TABLET MEGESTROL ACETAT 160 mg TERHADAP OBAT

TUGAS KHUSUS PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER

DI DIREKTORAT STANDARDISASI PRODUK TERAPETIK

DAN PERBEKALAN KESEHATAN RUMAH TANGGA

BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN REPUBLIK

INDONESIA JL. PERCETAKAN NEGARA NO. 23 JAKARTA

PUSAT

INFORMASI TEKNIS PENILAIAN UJI BE OBAT

TABLET MEGESTROL ACETAT 160 mg TERHADAP OBAT

KOMPARATOR TABLET MEGACE

Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar profesi Apoteker

PROGRAM PROFESI APOTEKER

TUGAS KHUSUS PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER

DI DIREKTORAT STANDARDISASI PRODUK TERAPETIK

RBEKALAN KESEHATAN RUMAH TANGGA

GAWAS OBAT DAN MAKANAN REPUBLIK

JL. PERCETAKAN NEGARA NO. 23 JAKARTA

PUSAT PERIODE 5 – 27 JULI 2012

INFORMASI TEKNIS PENILAIAN UJI BE OBAT

TABLET MEGESTROL ACETAT 160 mg TERHADAP OBAT

KOMPARATOR TABLET MEGACE

®

PRODUKSI BRISTOL

MYERS SQUIBB

Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar profesi Apoteker

AMELIA DEWI, S.Farm.

1106153012

ANGKATAN LXXV

FAKULTAS FARMASI

PROGRAM PROFESI APOTEKER

DEPOK

JANUARI 2013

TUGAS KHUSUS PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER

DI DIREKTORAT STANDARDISASI PRODUK TERAPETIK

RBEKALAN KESEHATAN RUMAH TANGGA

GAWAS OBAT DAN MAKANAN REPUBLIK

JL. PERCETAKAN NEGARA NO. 23 JAKARTA

INFORMASI TEKNIS PENILAIAN UJI BE OBAT COPY

TABLET MEGESTROL ACETAT 160 mg TERHADAP OBAT

PRODUKSI BRISTOL

HALAMAN JUDUL ... ii DAFTAR ISI ... iii DAFTAR TABEL ... v DAFTAR LAMPIRAN ... vi BAB 1. PENDAHULUAN ... 1

1.1 Latar Belakang ... 1 1.2 Tujuan ... 2 BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA ... 3 2.1 Definisi... 3 2.1.1 Bioavailabilitas ... 3 2.1.2 Ekivalensi Farmasetik... 3 2.1.3 Alternatif Farmasetik ... 3 2.1.4 Bioekivalensi... 3 2.1.5 Ekivalensi Terapetik ... 4 2.1.6 Obat Komparator ... 4 2.1.7 Produk Obat Copy... 5 2.2 Kriteria Untuk Uji Ekivalensi ... 5 2.2.1 Obat yang Memerlukan Uji Ekivalensi In Vivo... 5 2.2.2 Obat yang Cukup Dilakukan Uji Ekivalensi In Vitro .. 6 2.2.3 Obat yang Tidak Memerlukan Uji Ekivalensi In Vivo.. 8 BAB 3. METODOLOGI TUGAS KHUSUS ... 10

3.1 Waktu dan Tempat... 10 3.2 Cara Kerja ... 10 BAB 4. PEMBAHASAN ... 12

4.1 Judul Studi... 13 4.2 Tanggal Pelaksanaan Studi ... 13 4.3 Tempat Pelaksanaan Studi ... 13 4.4 Desain Studi ... 13 4.5 Informasi Obat ... 14 4.5.1 Sifat Farmakologi... 15 4.5.2 Sifat Farmakokinetika... 15 4.5.3 Sifat Fisikokimia... 15 4.6 Subjek ... 15 4.6.1 Jumlah Subjek... 15 4.6.2 Kriteria Inklusi ... 15 4.6.3 Kriteria Eksklusi ... 16 4.7 Waktu Sampling... 17 4.8 Metode Analisis ... 17 4.8.1 Alat... 17

4.9 Nilai Parameter Farmakokinetika ... 18 4.10 Hasil Uji Disolusi Terbanding ... 19 BAB 5. KESIMPUALAN DAN SARAN... 21 5.1 Kesimpulan ... 21 5.2 Saran ... 21 DAFTAR ACUAN ... 22 LAMPIRAN... 23

Lampiran 1 Alur Permohonan Persetujuan Uji BE... 23 Lampiran 2 Pembagian Periode Pada Subjek Secara Random. ... 24

1.1 Latar Belakang

Indonesia sebagai salah satu negara berkembang mengalami perubahan pola penyakit yang dikenal dengan transisi epidemiologi yaitu beralihnya penyebab kematian yang semula didominasi oleh penyakit menular bergeser ke penyakit tidak menular termasuk diantaranya penyakit kanker payudara (Kemenkes, 2007).

Kanker payudara (Carcinoma mammae) adalah suatu penyakit neoplasma ganas yang berasal dari parenchyma. Kanker payudara merupakan salah satu penyebab utama kematian akibat kanker pada wanita. Berdasarkan data statistik rumah sakit dalam Sistem Informasi Rumah Sakit (SIRS) tahun 2004, kanker payudara menempati urutan pertama dalam golongan neoplasma pada pasien rawat inap (15,4%) maupun rawat jalan (15,78%) (Kemenkes, 2007).

Obat antikanker merupakan obat spesialistik, dimana indeks terapi obat sempit sehingga perubahan sejumlah kecil dosis obat dapat menyebabkan efek samping yang tidak diinginkan atau bahkan efek toksik berat, yang dapat menyebakan kematian baik secara langsung maupun tidak langsung. Karena obat antikanker umumnya bekerja pada sel yang sedang aktif, maka efek sampingnya terutama mengenai jaringan dengan proliferasi tinggi yaitu sistem hemopoetik dan gastrointestinal (Sukardja, 2000).

Salah satu obat yang digunakan sebagai antikanker untuk payudara yaitu megestrol acetat yang digunakan sebagai obat lini kedua pada pengobatan kanker payudara. Berdasarkan Buku Pedoman Uji Ekivalensi yang diterbitkan oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan disebutkan bahwa obat dengan batas keamanan atau indeks terapi sempit harus dilakukan uji bioekivalensi untuk membuktikan ekivalensi terapetik secara in vivo dibandingkan terhadap obat komparatornya. Uji bioekivalensi yaitu uji biovailabilitas komparatif yang bertujuan untuk membuktikan kesetaraan atau ekivalensi terapetik antara obat

bioekivalensi dilakukan dalam rangka registrasi obat untuk menilai khasiat, keamanan dan mutu obat sebelum obat dipasarkan untuk mendapatkan izin edar.

Pada pelaksanaan PKPA (Praktek Kerja Profesi Apoteker) ini calon apoteker mendapatkan tugas khusus untuk membuat informasi teknis penilaian uji bioekivalensi obat copy tablet Megesterol Acetat 160 mg terhadap obat komparator tablet Megace® produksi Bristol Myers Squibb.

1.2 Tujuan

Tujuan dari penulisan tugas khusus ini adalah untuk:

1.2.1 Mengetahui profil farmakokinetik dan bioekivalensi dari obat copy tablet Megestrol Acetat 160 mg dibandingkan dengan obat komparator tablet Megace®(megestrol acetat 160 mg) produksi Bristol Myers Squibb

1.2.2 Mengetahui profil disolusi dari obat copy tablet Megestrol Acetat 160 mg dibandingkan dengan dengan obat komparator tablet Megace® (megestrol acetat 160 mg) produksi Bristol Myers Squibb.

2.1 Definisi

2.1.1 Bioavailabilitas (BPOM, 2004)

Bioavailabilitas (ketersediaan hayati) adalah presentasi dan kecepatan zat aktif dalam suatu obat yang mencapai/tersedia dalam sirkulasi sistemik dalam bentuk utuh/aktif setelah pemberian obat tersebut, diukur dari kadarnya dalam darah terhadap waktu atau dari ekskresinya dalam urin.

Bioavailabilitas dibagi menjadi 2, yaitu:

a. Bioavailabilitas absolut yaitu bila dibandingkan dengan sediaan intravena bioavailabilitasnya 100%.

b. Bioavailabilitas relatif yaitu bila dibandingkan dengan sediaan bukan intravena.

2.1.2 Ekivalensi Farmasetik

Dua obat mempunyai ekivalensi farmasetik jika keduanya mengandung zat aktif yang sama dalam jumlah yang sama dan bentuk sediaan yang sama (BPOM, 2004).

2.1.3 Alternatif Farmasetik

Dua obat merupakan alternatif farmasetik jika keduanya mengandung zat aktif sama tetapi berbeda dalam bentuk kimia (garam, ester, dsb) atau bentuk sediaan yang sama atau kekuatan yang sama (BPOM, 2004).

2.1.4 Bioekivalensi

Dua obat disebut bioekivalen jika keduanya mempunyai ekivalensi farmasetik atau merupakan alternatif farmasetik pada pemberian dengan dosis molar yang sama akan menghasilkan bioavailabilitas yang sebanding sehingga efeknya akan sama, dalam hal efikasi maupun keamanan. Jika bioavailabilitasnya

tidak memenuhi kriteria bioekivalen maka kedua obat tersebut disebut bioinekivalen (BPOM, 2004).

2.1.5 Ekivalensi Terapetik (BPOM, 2004)

Dua obat mempunyai ekivalensi terapetik jika keduanya mempunyai ekivalensi farmasetik atau merupakan alternatif farmasetik dan pada pemberian dengan dosis molar yang sama akan menghasilakan efikasi klinik dan keamanan yang sebanding. Dengan demikian, ekivalensi/inekivalensi terapetik seharusnya ditunjukkan dengan uji klinik.

Akan tetapi, untuk obat yang bekerja sistemik, uji klinik mempunyai kendala berikut:

a. Pada penyakit ringan tidak terlihat, pada penyakit berat tidak etis.

b. Endpoint yang diukur seringkali kurang akurat sehingga variabilitasnya besar sekali, dengan akibat dibutuhkan sampel yang besar.

c. Sebagai uji klinik untuk menunjukkan ekivalensi dibutuhkan sampel yang besar sekali.

Oleh karena itu, sebagai alternatif dilakukan uji bioekivalensi yang

endpoint-nya sangat akurat (yakni kadar obat dalam plasma) sehingga

variabilitasnya rendah, dan dengan demikian sampel yang dibutuhkan jauh lebih kecil. Jika terdapat perbedaan yang bermakna secara klinik dalam bioavailabilitasnya, maka kedua obat tersebut dinyatakan inekivalen secara terapetik (inekivalen terapetik).

2.1.6 Obat Komparator (reference product)

Obat komparator adalah obat yang digunakan sebagai pembanding dalam uji ekivalensi in vivo dan/atau in vitro untuk pembuktian ekivalensi suatu obat copy. Obat komparator yang digunakan dalam uji ekivalensi harus obat inovator yang memiliki Izin Edar di Indonesia. Obat inovator yang yang berasal dari tempat produksi yang berbeda dengan tempat produksi inovator yang terdaftar di Indonesia, maka harus dilakukan uji disolusi terbanding untuk membuktikan ekivalensi kedua produk inovator (BPOM, 2004).

Pemilihan obat komparator sesuai dengan Peraturan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia No. HK. 03.1.23.12.11.10217 tahun 2011 tentang Obat Wajib Uji Ekivalensi, pemilihan obat komparator adalah sebagai berikut:

a. Obat yang telah terdaftar di negara yang tergabung dalam (ICH) dan negara asosiasinya (associated countries).

b. Obat copy yang telah terbukti bioekivalen terhadap obat inovator dengan hasil paling mendekati obat inovator, atau

c. Obat yang termasuk dalam daftar prakualifikasi World Health Organization (WHO).

2.1.7 Obat Copy

Obat yang mempunyai ekivalensi farmasetik atau merupakan alternatif farmasetik dengan obat inovator atau pembandingnya, dapat dipasarkan dengan nama generik atau dengan nama dagang (BPOM, 2004).

2.2 Kriteria Untuk Uji Ekivalensi

2.2.1 Obat yang Memerlukan Uji Ekivalensi In Vivo (BPOM, 2004)

Uji ekivalensi in vivo dapat berupa studi bioekivalensi farmakokinetik, studi farmakodinamik komparatif, atau uji klinik komparatif. Dokumentasi ekivalensi in vivo diperlukan jika ada risiko bahwa perbedaan bioavailabilitas dapat menyebabkan inekivalensi terapi.

a. Obat oral lepas lambat yang bekerja sistemik, jika memenuhi satu atau lebih kriteria berikut ini:

1) Obat-obat untuk kondisi yang serius yang memerlukan respons terapi yang pasti (critical use drug), misal: antituberkulosis, antiretroviral, antimalaria, antibakteri, antihipertensi, antiangina, obat gagal jantung, antiepilepsi, antiasma.

2) Batas keamana/indeks terapi yang sempit, kurva dosis respon yang curam, misal: digoksin, antiaritmia, antikoagulan, obat-obat sitostatik, litium, fenitoin siklosporin, sulfonil urea, teofilin.

3) Terbukti ada masalah bioavailabilitas atau bioinekivalensi dengan obat yang bersangkutan atau obat-obat dengan struktur kimia atau formulasi yang mirip (tidak berhubungan dengan masalah disolusi), misal:

 absorpsi bervariasi atau tidak lengkap.  eliminasi presistemik yang tinggi.  farmakokinetik nonlinear.

 sifat-sifat fisikokimia yang tidak menguntungkan (misal: kelarutan rendah, permeabilitas rendah, tidak stabil, dsb).

4) eksipien dan proses pembuatannya diketahui mempengaruhi bioekivalensi. b. Obat non-oral dan non-parenteral yang didesain untuk bekerja sistemik,

misal: sediaan transdermal, supositoria, permen karet nikotin, gel testosteron, dan kontrasepsi bawah kulit.

c. Obat lepas lambat atau termodifikasi yang bekerja sistemik.

d. Obat kombinasi tetap untuk bekerja sistemik, yang paling sedikit salah satu zat aktifnya memerlukan studi in vivo.

e. Obat bukan larutan untuk pengunaan non-sistemik (oral, nasal, okular, dermal, rektal, vaginal, dsb) dan dimaksudkan untuk bekerja lokal (tidak untuk diabsorbsi sistemik). Untuk obat demikian, bioekivalensi harus ditunjukkan dengan studi klinik atau farmakodinamik, dermafarmakokinetik komparatif dan/atau studi in vitro. Pada kasus-kasus tertentu, pengukuran kadar obat dalam darah masih diperlukan dengan alasan keamanan untuk melihat adanya absorbsi yang tidak diinginkan.

2.2.2 Obat yang Cukup Dilakukan Uji Ekivalensi In Vitro (Uji Disolusi Terbanding) (BPOM, 2004)

a. Obat yang tidak memerlukan studi in vivo (tidak termasuk butir 2.2.1)

b. Obat copy yang hanya berbeda kekuatan uji disolusi terbanding dapat diterima untuk kelarutan yang lebih rendah berdasarkan perbandingan profil disolusi.

1) Tablet lepas cepat

Obat copy dengan kekuatan berbeda, yang dibuat oleh pabrik obat yang sama di tempat produksi yang sama, jika:

 semua kekuatan mempunyai proporsi zat aktif dan inaktif yang persis sama atau untuk zat aktif yang sangat poten (sampai 10 mg per satuan dosis), yang inaktif sama banyak untuk semua kekuatan.

 studi ekivalensi telah dilakukan sedikitnya pada salah satu kekuatan (biasanya kekuatan yang tertinggi, kecuali untuk alasan keamanan dipilih kekuatan yang lebih rendah).

 profil disolusinya mirip antar kekuatan, f2 ≥ 50. 2) Kapsul berisi butir-butir lepas lambat

Jika kekuatannya berbeda hanya dalam jumlah butir yag mengandung zat aktif, maka perbandingan profil disolusi (f2 ≥ 50) dengan satu kondisi uji yang direkomendasi sudah cukup.

3) Tablet lepas lambat

Jika obat uji dalam bentuk sediaan yang sama tetapi berbeda kekuatan, dan mempunyai proporsi zat aktif dan inaktif yang persis sama atau zat aktif yang sangat poten (sampai 10 mg per satuan dosis) zat inaktifnya sama banyak, dan mempunyai mekanisme pelepasan obat yang sama, kekuatan yang lebih rendah tidak memerlukan studi in vivo jika menunjukkan profil disolusi yang mirip, f2 ≥ 50, dalam 3 pH yang berbeda (antara pH 1,2 dan 7,5) dengan metode uji yang direkomendasi.

c. Berdasarkan sistem klasifikasi biofarmasetik (Biopharmaceutic Classification

System = BCS) dari zat aktif serta karakteristik disolusi dan profil disolusi

dari obat.Berlaku untuk obat oral lepas cepat, tetapi tidak berlaku untuk oral lepas cepat yang disebutkan dalam butir 2.2.2. point b. 1)

1) zat aktif memiliki kelarutan dalam air yang tinggi dan permeabilitas dalam usus yang tinggi (BCS kelas 1), serta:

 obat memiliki disolusi yang sangat cepat, atau

 obat memiliki disolusi yang cepat dan profil disolusinya mirip dengan obat inovator.

2) zat aktif kelarutan dalam air yang tinggi tetapi permeabilitas dalam usus yang rendah (BCS kelas 3), serta:

 obat tidak mengandung zat inaktif yang diketahui mengubah motilitas dan/atau permeabilitas saluran cerna.

3) zat aktif memiliki permeabilitas dalam usus yang tinggi tetapi kelarutan dalam air yang rendah (kelarutan dalam air tinggi hanya pada pH 6,8; BCS kelas 2 asam lemah), serta:

 obat memiliki disolusi yang cepat pada pH 6,8.

 obat memiliki profil disolusi yang mirip dengan obat pembanding (juga berlaku < 10% pada salah satu pH).

2.2.3 Obat yang Tidak Memerlukan Uji Ekivalensi (BPOM, 2004)

a. Obat copy untuk penggunaan intravena sebagai larutan dalam air yang mengandung zat aktif yang sama dalam molar yang sama dengan obat inovator.

b. Obat copy untuk penggunaan parenteral yang lain (misal: intramuskular, subkutan) sebagai larutan dalam air dan mengandung zat aktif yang sama dalam kadar molar yang sama dan eksipien yang sama atau mirip (similiar) dalam kadar yang sebanding seperti dalam obat pembanding. Eksipien tertentu (misal: buffer, pengawet, antioksidan) boleh berbeda asalkan perubahan eksipien ini diperkirakan tidak mempengaruhi keamanan dan/atau efikasi obat tersebut.

c. Obat copy berupa larutan untuk penggunaan oral (termasuk sirup, eliksir, tingtur atau bentuk larutan lain tetapi bukan suspensi), yang mengandung zat aktif dalam kadar molar yang sama dengan obat inovator, dan hanya mengandung eksipien yang diketahui tidak mempunyai efek terhadap transit atau permeabilitas dalam saluran cerna dan dengan demikian terhadap absorpsi atau stabilitas zat aktif dalam saluran cerna.

d. Obat copy berupa bubuk untuk dilarutkan dan larutannya memenuhi kriteria a, b atau c tersebut di atas.

e. Obat copy berupa gas

f. Obat copy berupa sediaan obat mata atau telinga sebagai larutan dalam air dan mengandung zat-zat aktif yang sama dalam kadar molar yang sama dan eksipien yang praktis sama dalam kadar yang sebanding. Eksipien tertentu

(misal: pengawet, buffer, zat untuk menyesuaikan tonisitas atau zat pengental) boleh berbeda asalkan penggunaan eksipien ini diperkirakan tidak mempengaruhi keamanan dan/atau efikasi obat tersebut.

g. Obat copy berupa sedian obat topikal sebagai larutan dalam air yang mengandung zat-zat aktif yang sama dalam kadar molar yang sama dan eksipien yang praktis sama dalam kadar yang sebanding.

h. Obat copy berupa larutan untuk aerosol atau obat inhalasi nebulizer atau semprot hidung, yang digunakan dengan atau tanpa alat yang praktis sama, larutan dalam air yang mengandung zat-zat aktif yang sama dalam kadar molar yang sama dan eksipien yang praktis sama dalam kadar yang sebanding. Obat tersebut boleh memasukkan eksipien lain asalkan penggunaanya diperkirakan tidak akan mempengaruhi keamanan dan/atau efikasi obat tersebut.

10 Universitas Indonesia

3.1 Waktu dan Tempat

Pengambilan data dan penelusuran pustaka dilakukan di Badan Pengawas Obat dan Makanan, Jakarta Pusat pada periode 5-27 Juli 2012. Data diambil di Deputi I Bidang Pengawasan Produk Terapetik dan NAPZA, Direktorat Standardisasi Produk Terapetik dan NAPZA, Sub Direktorat Standardisasi dan Penilaian Bioavailabitas/Bioekivalensi Obat.

3.2 Cara Kerja

Dilakukan penelusuran data dan pustaka mengenai informasi teknis pada dokumen penilaian uji bioavailabitas/bioekivalensi obat copy tablet Megestrol Acetat 160 mg dibandingkan dengan obat komparator tablet Megace®(megestrol acetat 160 mg) produksi Bristol Myers Squibb dari Sub Direktorat Penilaian Bioavailabitas/Bioekivalensi Obat.

Hasil dari penelusuran data dan pustaka diperoleh informasi mengenai: a. Judul Studi

b. Tanggal Pelaksanaan Studi c. Tempat Pelaksanaan Studi d. Desain Studi

e. Informasi Obat

 Sifat Farmakologi  Sifat Farmakokinetik  Sifat Fisiko Kimia f. Subjek

 Jumlah Subjek

Dalam dokumen UNIVERSITAS INDONESIA (Halaman 49-87)

Dokumen terkait