BAB V KESIMPULAN, KETERBATASAN PENELITIAN DAN SARAN
C. Saran
1) Bagi guru untuk semakin mengembangkan pendekatan guru sebagai model dalam menerapkan pendidikan karakter baik dalam proses pembelajaran di kelas maupun kegiatan lain yang melibatkan guru.
2) Sebelum menggunakan pendekatan ini, guru sebaiknya membina hubungan yang baik dengan siswa sehingga siswa dapat lebih menyerap pengajaran dan bimbingan moral dari guru.
82
DAFTAR PUSTAKA
Adisusilo, Sutarjo. 2012. Pembelajaran Nilai-Karakter: Konstruktivisme dan VCT
Sebagai Inovasi Pendekatan Pembelajaran Afektif. Jakarta :
PT Raja Grafindo Persada
Gunawan, Imam. 2013. Metode Penelitian Kualitatif: Teori dan Praktik. Jakarta: PT Bumi Aksara
Koesoema, Doni. 2007. Pendidikan Karakter: Strategi Mendidik Anak Di Zaman
Global. Jakarta: Grasindo
Lickona, Thomas. 2012. Mendidik Untuk Membentuk Karakter: Bagaimana
Sekolah Dapat Memberikan Pendidikan Tentang Sikap Hormat
dan Tanggung Jawab (terjemahan Juma Abdu Wamaungo).
Jakarta: Bumi Aksara
Listyarti, Retno. 2012. Pendidikan Karakter Dalam Metode Aktif, Inovatif Dan
Kreatif. Jakarta: Erlangga
Margono, S. 2009. Metodologi Penelitian Penelitian. Jakarta: Rineka Cipta
Mulyana, Rohmat. 2011. Mengartikulasikan Pendidikan Nilai. Bandung: Alfabeta
Mulyasana, Dedi. 2011. Pendidikan Bermutu dan Berdaya Saing. Bandung: Remaja Rosdakarya
Ryan, Kevin dan Karen E. Bohlin. 1999. Building Character in Schools. San Francisco: Jossey-Bass
Sadulloh, Uyoh dkk. 2011. Pedagogik (Ilmu Mendidik). Bandung: Alfabeta
Salahudin, Anas. 2011. Filsafat Pendidikan. Bandung: CV Pustaka Setia
Suparno, Paul. 2005. Gagasan, Sikap dan Praktek Guru IPA dan Matematika Yayasan Santa Ursula Terhadap Pendidikan Nilai. Dalam Widya
Dharma, Vol. 16, No. 1, Oktober 2005, hal. 1-13.
Suparno, Paul. 2010. Metode Penelitian Pendidikan Fisika. Yogyakarta: Universitas Sanata Dharma
Suparno, Paul. 2013. Sumbangan Pendidikan Fisika Terhadap Pembangunan
Karakter Bangsa. Yogyakarta: Universitas Sanata Dharma
Turmujianto. 2011. Guru Sebagai Model Dalam Pendidikan Berbasis Karakter,
Budaya Dan Moral (online). Terdapat di
http://gensha98.blogspot.com/2011/09/guru-sebagai-model-dalam-pendidikan.html. Diunduh pada 2 Mei 2014.
---. 2011. Pendidikan Karakter Bangsa (online). Terdapat di http://fisika-dan-pembelajaran.blogspot.com/2011/03/pendidikan-karakter-bangsa.html. Diunduh pada 2 Mei 2014.
84
Transkrip Wawancara 1
Waktu : Tanggal 25 Agustus 2014; Jam 12.30 WIB Tempat : Ruang tamu SMA Santa Maria Yogyakarta Terwawancara/ Guru A : Ibu Maria Fransisca Sutilah
Pewawancara/ Peneliti : Peneliti
Peneliti : Ok,,kita mulai ya bu..
Guru A : Iya..
Peneliti : Ibu mungkin diawal saya boleh tau nama lengkap ibu begitu?
Guru A : Nama lengkapnya Maria Fransiska Sutilah,,, Pake C..
Peneliti : O iya bu,,pakai c..terus ibu mengajar di Santa Maria udah berapa lama bu?
Guru A : 25 tahun..
Peneliti : Oh 25 tahun..berarti sejak pertama kali penempatan bu?
Guru A : Saya sebelumnya sudah mengajar di Semarang 2 tahun, SPG 1 tahun, di Santa Maria 25 tahun. Di SPG 1 tahun. SMP 2 tahun
Peneliti : SMP 2 tahun ,,yang di Semarang itu bu?
Guru A : He’ee..
Guru A : Itu mengajar di Gajah Mada itu karena untuk pemenuhan wajib mengajar 24 jam karena di Santa Maria kurang dari 24 jam jadi untuk memenuhi 24 jam saya mengajar di sekolah lain.
Peneliti : Ohh…jadi sekarang aturannya harus 24 jam mengajar ya bu?
Guru A : Iya. Itu ganti-ganti. Gag hanya di Gajah Mada. Saya dulu pernah di SMA Bineka eh SMA Widya Wacana terus SMA II.
Peneliti : SMA II ? Ap itu bu?
Guru A : Institute Indonesia. Terus pernah juga di SMA Bopkri 3
Peneliti : Wuishh..Berarti pengalaman mengajar bukan cuma di STAMA ya bu.
Guru A : Oh iya..banyak..banyak karakater siswa yang beraneka ragam
Peneliti : Iya..Oh..terus tentang kurikulum ni bu..kurikulum 2013. Kan di Santa Maria sudah diterapkan nah salah satunya di kurikulum 2013 kan semakin diterapkannya pendidikan nilai karakter. Nah seperti itu, nah kalo menurut ibu penerapan pendidikan karakter di suatu sekolah itu perlu atau tidak bu?
Guru A : Oh iya perlu
Peneliti : Itu kira-kira kenapa bu menurut ibu?
Guru A : Karena kita harus menghasilkan siswa yang berkepribadian,,
Peneliti : Perlunya..
Guru A : Khususnya kalo Santa Maria mempunyai visi misi menjadikan siswa yang berpribadi, prestasi dan mandiri. Tiga karakter yang akan dibentuk itu tidak cukup hanya diberikan lewat pengetahuan saja. Untuk bisa menjadi mandiri, untuk bisa menjadi berprestasi, untuk bisa menjadi berpribadi perlu pendidikan karakter. Perlu dilatih.
Peneliti : Berarti sejauh ibu mengajar, terutama di Stama bu..menurut ibu penerapan pendidikan karakter nilai di sekolah ini sudah bagus atau belum bu?
Guru A : Kalo saya mengajar itu sebetulnya sejak saya mengajar itu pendidikan karakter itu sudah saya tanamkan cuma e itu tidak tercover dalam RPP, dalam program-program pengajaran. Tetapi di dalam proses KBMnya itu kami sudah masukkan.
Peneliti : Jadi kalo pendidikan karakter itu tidak ada dalam RPP tapi ada dalam prosesnya ada itu malah lebih bagus atau harusnya ada dalam RPP?
Guru A : Di RPP ada kan jauh lebih bagus karena itu kan secara tertulis kan ada rincian yang jelas. Tapi ini sudah lama dilaksanakan sejak awal mengajar.
Peneliti : Terus berkaitan dengan itu bu pendidikan nilai karakter kan menurut Kemdikbud itu kan ada 18,,18 itu banyak ya bu..
Guru A : Iya,,gag hafal juga..
Peneliti : Iya.. Sama bu saya juga gag hafal. Nah menurut ibu ke 18 nilai karakter itu sudah cukup atau ada hal yang perlu ditambahkan atau bagaimana bu?
Guru A : Sementara ini kami cukup karena ya belum mengembangkan.
Peneliti : Terus untuk pendidikan nilai karakter itu menurut ibu juga dan sejauh pengalaman ibu melalui fisika itu dapat diterapkan atau tidak?
Guru A : Banyak sebetulnya.
Guru A : Bisa.
Peneliti : Terus itu sekali mengajar bu 18 itu bisa diterapkan atau?
Guru A : Tidak semuanya.
Peneliti : Ohh tidak semuanya..
Guru A : Tidak semuanya. Tidak langsung 18 karakter itu kita terapkan. Ini kan sifatnya ya menyisipkan dalam kegiatan kita. Kan tidak ada jam khusus untuk pendidikan karakter. Jadi kita menyisipkan.
Peneliti : Terus kalo untuk cara ibu menerapkan pendidikan karakter itu seperti apa bu?
Guru A : Kita terapkan didalam kehidupan sehari-hari.
Peneliti : Yang ibu maksudkan terapkan dalam kehidupan sehari-hari?
Guru A : Ya penerapan..ya dalam penerapan hidup sehari-hari. Misalnya disitu butuh jujur. Dalam kehidupan sehari-hari kita juga butuh jujur. Kalo gag jujur kan resikonya banyak baik secara pribadi, keluarga maupun untuk kelompok organisasi.
Peneliti : Terus berkaitan dengan penerapan itu bu,,nah apakah ibu ketika mengajar kan ibu menyisipkan pendidikan nilai karakter bu,,misalnya jujur apakah ibu cuma menyampaikan anak-anak kita harus bersikap jujur atau kah ibu juga sendiri menerapkan?
Guru A : Oh iya kalo untuk bagaimana kita memasukkan pendidikan karakter itu khususnya jujur itu kita yang pertama kita jujur dulu. Pertama kita terbuka dengan siswa. Contohnya kalo kita salah ngitung ya kita akui saja kalo kita salah ngitung,,,ayo kita koreksi sama-sama mungkin saya salah ngitung. Terbuka enak. Jadi mereka tau oh gurunya terbuka, kami juga harus terbuka.
Peneliti : Berarti mulai penerapan itu dari diri kita sendiri?
Guru A : Dari diri kita sendiri dan kemudian dalam proses KBM itu contohnya dalam ulangan harus jujur, kamu percaya diri, gag perlu tanya sana sini, gag perlu kamu percaya pada yang tidak bisa dipercaya. Jadi bukan dalam hal pesan atau apa tapi kita laksanakan. Tanggung jawab, kerja sama itu melalui praktikum banyak sekali yang bisa kita terapkan. Habis praktikum tanggung jawab melaporkan data, harus membuat laporan, kerja sama. Dalam satu pekerjaan kamu harus kerja sama bagi tugas tidak mungkin mengerjakan sendiri. Nah itu kan langsung diterapkan tidak hanya dengan mendikte atau dengan kata-kata. Tekun, tekun mencatat, bukan karena jaman IT terus sekarang kamu tidak mencatat. Mencatat tetap wajib dari saya karena suatu saat kamu juga akan nulis dan kamu juga lama belajar menulis. Sayang kalo kamu tidak digunakan. Suatu saat kamu akan nulis walaupun secanggih IT apapun. Tekun menulis, jujur, kerja sama, tanggung jawab, rasa ingin tahu jelas dalam motivasi kita, prasyarat pengetahuan diberikan kesempatan mereka untuk ingin tahu. Tapi ini sudah mulai kita terapkan sejak lama cuma gag tertulis.
Peneliti : Terus untuk siswanya sendiri..misalnya ada siswa yang bisa menerapkan pendidikan nilai karakter itu dengan baik itu tindakan ibu kepada siswa itu apa bu?
Guru A : Kita kasih anu to yo, kita kasih reward to yo..
Peneliti : Rewardnya itu berupa apa bu?
Guru A : Rewardnya ada yang pertama yo bagus, dikasih selamat, pujian.
Peneliti : Terus pernah..
itu saya kasih sesuatu. Sesuatu itu berupa buku yang isinya buku tentang motivasi..kecil itu kita tidak anu untuk reward yang kita berikan.
Peneliti : Apakah ibu pernah membandingkan sebagai reward..coba kamu lihat misalnya si A misalnya dia bisa begini begini begini..membandingkan antara satu dengan yang lain?
Guru A : Bukannya membandingkan ya nek saya..nek saya memberikan kepada anak-anak supaya lebih termotivasi dan pendidikan karakter supaya semakin berhasil itu saya memberikan contoh, jadi pengalaman-pengalaman, sharing pengalaman..sharing pengalaman karena sudah 25 tahun mengajar kan kita punya alumni,,dari pengalaman-pengalaman mereka itu kami sharingkan dan pernah kami juga hadirkan begitu.
Peneliti : Terus tentang penerapannya itu bu,,sejauh ini kan ibu sudah menerapkannya setiap kali ibu mengajar,,nah sejauh ini apa ibu menemukan kesulitan dalam menerapkan pendidikan karakter itu bu?
Guru A : Ya kesulitan sih ada ya ,,karena kan perkembangan IT, perkembangan pergaulan khususnya itu jadi kendala untuk kita semua. Contohnya sekarang karena perkembangan IT adanya HP, adanya macam-macam,,orang kan cenderung punya sikap cuek, sikap kurang perhatian gitu loh. Bahwa IT itu bagus untuk membantu kita tapi jangan sampai kita terjajah oleh IT. Atau gara-gara IT itu kita kemudian terlalu lama dengan HP, televisi dan sejenisnya sehingga yang lain menjadi kurang.
Peneliti : Jadi kesulitan paling besar itu di IT bu?
Guru A : Iya perkembangan IT, perkembangan pergaulan juga. Jaman sekarang beda dengan jaman saya SMA. Jaman saya juga gag ada kalkulator. Jaman saya gag ada kalkulator. Saya kuliah juga belum
ada komputer. Belum ada komputer saya kuliah. Maka saya sekarang pakai laptop otodidak. Gag ada komputer jaman dulu. Pendidikan komputer juga gag ada. Orang komputernya aja gag ada gimana pendidikannnya. Tetapi kita harus ngikuti kalo itu. Kita harus mau belajar. Kita terbuka kalo memang gag bisa saya juga tanya.
Peneliti : Termasuk tanya ke siswa juga begitu?
Guru A : Oh gag masalah. Suatu saat komputer saya macet nanya ayo siap ini ahli ITnya. Gag masalah. Mereka juga tau, saya juga cerita. Jaman saya sekolah saya SMA belum ada kalkulator. Jaman saya kuliah belum ada komputer sehingga kamu bisa melihat bagaimana saya membuka diri untuk mau belajar sehingga saya bisa menggunakan komputer. Mereka tau juga kita menggunakan komputer, menggunakan laptop. Jadi mereka tau bahwa kita mau belajar bahkan di usia yang sudah tua.
Peneliti : Terus berikutnya bu,,ibu kan mengajar kelas XI dan kelas XII. Kira-kira perbedaan yang paling mendasar antara kelas XII dan XI itu apa bu? Entah dari siswanya atau dari ibu nanti mau menyampaikan pelajarannya seperti apa.
Guru A : Yo kalo dari penyampaian pelajaran dari sisi kebutuhan. Kalo kelas XII kan tuntutannya untuk mengahadapi UN kalo kelas XI kan untuk kenaikan kelas. Itu kan menuntut kegiatan yang berbeda. Itu dari sisi kebutuhan. Kalo dari sisi siswa, kalo kelas XII kan sudah mulai mempersiapkan ujian ke perguruan tinggi tapi kalo kelas XI kan banyak-banyak kegiatan dan saya kasih kesempatan, silahkan melakukan kegiatan yang semaksimal mungkin untuk membantu kepribadian tapi yo jangan lupa belajar kenaikan kelasnya tapi nek kelas XII harus ada yang dikurangi dan harus ada prioritas kegiatan yang harus diakukan
Peneliti : Kalo untuk penerapan pendidikan karakternya tetap sama ya bu? Ibu memberikan contoh?
Guru A : Tetap sama. Tetap dari kami. Kalo sudah dari kita dan kita suruh melakukan anak enak. Sehingga mereka tau. Contohnya salim waktu pulang sekolah.
Peneliti : Jadi disini seperti itu bu?
Guru A : Jelas. Bukan cuma saya tapi ketemu suster kepala juga langsung salim. Jadi kami sampaikan bahwa kalian salim dengan saya bukan demi saya, untuk menghormati saya bukan. Tapi ini adalah pembentukan karakter kalian. Suatu saat kalian bisa menghargai orang yang dituakan. Yang dituakan itu bisa siapa saja.
Peneliti : Terus kalo untuk siswanya sendiri bu, ada suatu kebiasaan gag sih kalo yang kelas X wajib memanggil yang kelas XI dan XII dengan panggilan kakak atau mbak. Itu wajib atau kesadaran sendiri?
Guru A : Ya kesadaran sendiri. Mereka juga bilang kakak. Sama adek kelas ya dek. Apalagi kalo di asrama. Kakak, adek, saudara, saudari.
Peneliti : Hmm..Itu saja sih bu yang ingin saya tanyakan.
Guru A : Nanti kalo kurang tanya lagi.
Peneliti : Sejauh ini cuma itu bu. Jadi terima kasih banyak bu sudah memberikan saya sedikit,,ehh banyak informasi..terima kasih banyak bu..
Transkrip Wawancara 2
Waktu : Tanggal 22 September 2014; Jam 11.00 WIB Tempat : Ruang tamu SMA Santa Maria Yogyakarta Terwawancara/ Guru A : Ibu Maria Fransisca Sutilah
Pewawancara/ Peneliti : Peneliti
Peneliti : Bisa kita mulai bu?
Guru A : Oh iya..silahkan..
Peneliti : Yang pertama tentang yang pendidikan karakter itu. Kalo ibu kan kemarin menceritakan bahwa di RPP itu tidak tertulis ya? Atau seperti apa bu?
Guru A : Ada yang tertulis, ada yang tidak..tidak semuanya..tapi misalnya di dalam RPP itu ada kegiatan misalnya saya mengukur dengan teliti..ya kayak kata-kata kayak gitu..
Peneliti : Oh,,berarti tidak langsung..misalnya kan ada yang nilai yang diterapkan..tidak langsung seperti itu biasanya pake kata-kata
saya,…
Guru A : Di kolom terakhir kan ada nilai karakter apa yang ingin diterapkan.
Peneliti : Berarti ada di RPP?
Guru A : Iya..ada..
Peneliti : Oh iya bu... Terus berkaitan dengan pengamatan kemarin ni bu. Nah pas saya masuk pertama kali di kelas XII..nah siswanya duduk seperti katakanlah seperti hari pertama..pas masuk lagi pas pertemuan kedua, siswanya sudah pindah tempat bu..itu memang disengaja
atau?
Guru A : Disengaja..tapi kami tidak mengatur setiap hari. Cuma awal karena udah kelas XII..itu awal saya kasih tau..kamu tidak boleh duduk dengan satu teman. Saya minta kamu harus duduk bersama 20 temanmu yang lain..semuanya. Nah itu silahkan diatur sendiri. Entah mau seminggu sekali ganti, entah mau 2 minggu sekali ganti,,terserah karena saya punya tujuan nantinya kamu akan mengenal macam-macam karakter sehingga minimal kamu selama ini sudah belajar. Karakter dari teman-temanmu seperti ini seperti itu sehingga suatu saat kamu dalam terjun di pekerjaan atau di masyarakat itu kan banyak karakter sehingga kamu mudah untuk menyesuaikan dan paling gag kalo ada konflik itu manajemen konfliknya kamu akan cepat mengatasi. Jadi kami gag ngatur setiap hari ya..kami karena awal aja waktu pengarahan atau pembinaan wali kelas itu kami sampaikan itu. Kan mereka kelas XII tau maksud saya begitu maka dia ganti tempat duduk ganti teman itu dia tidak menjadi masalah. Beda misalnya kalau saya belum menyampaikan mungkin mereka akan karena senang dengan itu ya maunya dengan itu terus sehingga ada semacam protes atau ketidakmauan. Tapi ini gag masalah menurut saya.
Peneliti : Kelas XI juga seperti itu bu? Soalnya berpindah juga bu..
Guru A : Kalo kelas XI iya..itu saya juga hanya mengatakan begitu tapi mereka udah jalan tapi kalo kelas X kami harus atur setiap hari karena penyesuaian.
Peneliti : Selanjutnya tentang kemarin bu..itu yang paling kelihatan di kelas XI bu. Itu entah karena jam siang atau entah apa..pas ibu mengajukan pertanyaan itu pasti jawabannya sudah tau belum..belum..ingat atau tidak..tidak..kira-kira jawaban mereka itu karena memang mereka
merasa jenuh atau karena mereka benar-benar tidak tau bu?
Guru A : Itu ada variasi banyak ya. Ada yang memang gag tahu tapi ada juga karena untuk membuat suasana supaya tidak ngantuk jadi dibuat koor atau apa sehingga saya kan melakukan sesuatu sehingga mereka tidak jadi jenuh atau ngantuk. Jadi memang ada yang memang tidak tau tapi ada juga yang sengaja untuk menghilangkan kejenuhan atau lelah.
Peneliti : Terus kalo respon ibu? Misalnya ibu menemukan itu tidak tau itu bagaimana. Terus kalau ibu menemukan mereka pura-pura biar bisa istilahnya menyemangati diri sendiri itu tindakan ibu gimana bu? Apa sama untuk keduanya atau gimana bu?
Guru A : Ya dua-duanya kami tanggapi tapi tanggapan kami berbeda. Kalo saya kan sudah tau karakter anaknya. Kalo anaknya sudah tau,,sudah pinter tapi dia bilang begitu kami tanggapi dia bukan dengan menerangkan..
Peneliti : Terus selanjutnya ni bu..untuk siswa yang bertanya.itu setiap kali untuk ee..bukan cuma materi yang kemarin bu gelombang cahaya..apakah selalu siswa yang sama atau?
Guru A : Yang bertanya? Yang tanya ya pada umumnya yang aktif dia selalu aktif tapi kan kami mencoba untuk semuanya aktif. Justru kalo mereka yang jarang bertanya atau jarang bicara itu kami beri pertanyaan biar dia bicara..kalo misalnya masih pelan saya suruh ngulang keras sampai temannya dengar. Itu memang latihan yang kami berikan supaya dia itu belajar untuk bicara.
Peneliti : Jadi begitu..berarti yang jarang bertanya itu malah diajak bicara dengan ibu memberi pertanyaan?
Peneliti : Terus ada gag sih bu..Kadang ada guru yang seperti ini bu..misalnya siswa yang ini tu sering sekali bertanya. Suatu saat diberi kesempatan untuk bertanya dan masih dia lagi terus sama gurunya jangan kamu terus yang lain aja. Ibu pernah seperti itu atau gimana bu?
Guru A : Yo gag..kami tetap menanggapi. Tapi menanggapinya kan bagaimana menanggapinya kalo misanya pertanyaannya itu gag perlu ditanyakan ya dikasih tau bahwa itu tidak perlu ditanyakan. Kalo memang sudah jelas dia hanya karena mau bicara saja bertanya ya sesuai dengan konteks yang kita bicarakan.
Peneliti : Ini di luar fisika ni bu..ibu kan wali kelas XII,,di setiap kelas itu ada ketua kelas kan bu. Nah itu kalo untuk ketua kelasnya sendiri itu ibu yang menunjuk atau siswa yang memilih?
Guru A : Oh gag..siswa..
Peneliti : Oh kelas yang memilih berarti ya bu..
Guru A : Itu aklamasi mereka belajar demokrasi sekali. Gag ada otoritas dari kami wali kelas..gag ada sama sekali.
Peneliti : Terus kalo untuk kebersihan kelas sendiri. Itu apakah memang ada petugasnya atau siswa?
Guru A : Ada yang piket kelas. Lalu setiap pulang sekolah kan kursi ditaruh diatas. Lalu ada nanti karyawan yang bersihkan pulang sekolah..ngepel.. Jadi anak-anak memang harus nyapu..mereka nyapu bersih terus yang ngepel pak pak..
Peneliti : Oh jadi siswanya yang nyapu terus..ohh..
Guru A : Iya,,jadi sudah kesepakatan bersama. Kursi diatas meja sudah membantu karyawan untuk ngepel. Yang membantu bersihkan itu
yang piket..Jadi gotong royong.
Peneliti : Ini yang terakhir bu..kalo kemarin pas wawancara yang pertama kan ibu bilang salah satu kesulitan itu tentang ya masalah perkembangan pergaulan, perkembangan IT itu. Nah kalo untuk didalam kelas itu sendiri bu, kesulitan yang ibu temukan pas penerapan pendidikan nilai-karakter itu apa saja bu?
Guru A : Dalam kelas?
Peneliti : Iya bu..
Guru A : Itu anak-anaknya kan dari berbagai daerah..yang latar belakang budayanya berbeda-beda sehingga untuk penyesuaian itu kan butuh waktu..tidak bisa langsung. Jadi latar belakang anak yang berbeda-beda.
Peneliti : Jadi menyesuaikan dengan latar belakang itu ya bu..
Guru A : Iya..itu kan butuh waktu.
Peneliti : Yang terakhir ni bu,,harapan ibu dengan adanya penerapan pendidikan nilai-karaker dalam pelajaran khususnya fisika itu apa bu?
Guru A : Ya kalo saya untuk siswanya itu setelah keluar dari Santa Maria itu mempunyai karakter wanita yang mandiri, berprestasi dan berkepribadian. Itu sesuai dengan visi misi sekolah dan kami itu juga secara pribadi itu juga sangat mengharapkan sekali, sangat setuju sekali kalo nanti itu anak-anak kami itu menjadi wanita yang