BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

5.2. Saran

Adapun saran yang dapat diberikan dari hasil penelitian ini adalah sebagai berikut :

a. Perlu adanya perlakuan tindak lanjut pihak yang berwenang sebagai pengelola gedung J03 dan J02 Departemen Teknik Sipil Universitas Sumatera Utara untuk merekonstruksi aspek yang tidak memenuhi syarat keandalan bangunan yaitu pada aspek utilitas dan proteksi kebakaran dan aspek aksesibilitas.

b. Untuk Dinas Tata Ruang Pemukiman agar lebih gencar lagi mensosialisasikan kepada masyarakat publik untuk mengetahui tentang keandalan bangunan gedung yang sesuai dengan Undang Undang yang telah ditetapkan.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Manajemen Proyek

Manajemen proyek konstruksi adalah merencanakan, mengorganisir, memimpin, dan mengendalikan sumberdaya untuk mencapai sasaran jangka pendek yang telah ditentukan. Fungsi manajemen klasik yang terdiri dari merencanakan, mengorganisasikan, memimpin, dan mengendalikan tetap berlaku untuk manajemen proyek, dengan catatan perlu mengadakan ( restrukrisasi ) disana sini serta menggunakan metode dan teknik baru agar mampu menghadapi sifat-sifat dan prilaku yang khusus terdapat pada kegiatan proyek. Rekayasa nilai adalah evaluasi secara sistematis atas rancangan atau desain suatu proyek untuk mendapatkan nilai paling tinggi bagi setiap satuan biaya yang dikeluarkan untuknya untuk itu pada penelitian ini saya mengambil (Soeharto Imam, 1999).

2.2. Bangunan Gedung.

Menutur Undang Bangunan Gedung (UUBG) yaitu Undang-Undang No.28 tahun 2002, pasal 1 ayat 1 disebutkan bahwa bangunan gedung adalah wujud fisik hasil pekerjaan konstruksi yang menyatu dengan tempat kedudukannya, sebagian atau seluruhnya berada diatas dan/atau didalam

6

Bangunan gedung diselenggarakan melalui kegiatan pembangunan yang meliputi proses perencanaan teknis dan pelaksanaan konstruksi, serta kegiatan pemamfaatan, pelestarian, dan pembongkaran (UU No.28, 2002, pasal 1 ayat 2). Pemamfaatan bangunan gedung merupakan kegiatan memamfaatkan bangunan gedung sesuai dengan fungsi yang telah ditetapkan, tidak hanya sebgai fungsi oprasional saj tetapi termasuk kegiatan pemeliharaan, perawatan, dan pemeriksaan secara berkala (UU No.28, 2002, pasal 1 ayat 3)

Menurut Undang-Undang No.28 tahun 2002, pasal, 2 dan pasal 3, bangunan gedung diselenggarakan berlandaskan asas kemamfaatan, keselamatam, keseimbangan, serta keserasian bangunan gedung denga lingkungannya yang bertujuan untuk :

a. Mewujudkan bangunan gedung yang fungsional dan sesuai dengan tata bangunan gedung yang serasi dan selaras dengan lingkungannya.

b. Mewujuddkan tertib penyelenggaraan bangunan gedung yang menjamin keandalan teknis bangunan gedung dari segi keselamatan, kesehatan, kenyamanan, dan kemudahan.

c. Mewujudkan kepastian hukum dalam penyelenggaraan bangunan gedung.

2.3. Pelaksanaan Pemeriksaan Bangunan Gedung

Pelaksanaan pemeriksanaan bangunan gedung dilakukan secara teratur dan berkesinambungan dengan rentang waktu tertentu, untuk menjamin semua komponen bangunan gedung dalam kondisi laik fungsi.

7

minggu, setiap bulan, setiap tiga bulan, setiap enam bulan, setiap tahun, dan dimungkinkan pula diperiksa untuk jadwal waktu yang lebih panjang (Permen PU No.16, 2010)

Hal-hal yang harus diperiksa meliputi hal yang dipersyaratkan sesuai dengan UUBG yang disebutkan pada pasal 7 ayat 1 yaitu setiap bangunan gedung harus memenuhi persyaratan adminbistratif dan persyaratan teknis sesuai dengan fungsi bangunan gedung.

2.3.1. Persyaratan Administratif

Menurut UUBG pasal 7 ayat 2 disebutkan bahwa setiap bangunan gedung harus memenuhi persyaratan administratif yang meliputi :

a. Status hak atas tanah/atau izin pemamfaatan dari pemegang hak atas tanah. b. Status kepemilikan bangunan gedung.

c. Izin mendirikan bangunan gedung, sesuai ketentuan peraturan perundang undangan yang berlaku.

2.3.2. Persyaratan Teknis

Persyaratan teknis bangunan gedung meliputi persyaratan tatabangunan dan persyaratan keandalan bangunan gedung ( UU No. 28, 2002 pasal 7 ayat 3)

a. Persyaratan tata bangunan

Persyaratan tata bangunan meliputi persyaratan peruntukan dan intensitas bangunan gedung, arsitektur bangunan gedung, dan persyaratan pengendalian

8

1. Persyaratan peruntukan dan intensitas bangunan gedung.

Persyaratan peruntukan dan intensitas bangunan gedung merupakan persyaratan meliputi peruntukan lokasi, kepadatan, ketinggian, dan jarak bebas bangunan gedung ( UU No. 28, 2002, pasal 10 ayat 1 )

2. Persyaratan arsitektur bangunan gedung

Persyaratan teknis bangunan gedung merupakan persyaratan meliputi persyaratan penampilan bangunan gedung, tata ruang dalam, keseimbangan, keserasian, dan keselarasan bangunan gedung dan lingkungannya, sertapertimbangan adanya keseimbangan antara nilai-nilai sosial budaya setempat terhadap penerapan berbagai perkembangan arsitektur dan rekayasa ( UU No.28, 2002, pasal 14 ayat 1)

3. Persyaratan pengendalian dampak lingkungan

Penerapan persyaratan pengendalian dampak lingkungan hanya berlaku bagi bangunan gedung yang dapat menimbulkan dampak penting terhadap lingkungan. Persyaratan ini berlaku pada bangunan-bangunan khusus ( UU No.28, pasal 15 ayat 1 dan 2 )

b. Persyaratan keandalan bangunan

Persyaratan keselamatan bangunan gedung merupakan persyaratan yang meliputi kemampuan bangunan gedung untuk mendukung beban muatan, serta kemampuan gedung dalam mencegah dan menanggulangi bahaya kebakaran dan bahaya petir ( UU No.28, 2002, pasal 17, ayat 1). Kemampuan struktur bangunan gedung yang stabil dan kukuh dalam

9

maksimum dalam mendukung beban muatan hidup dan beban muatan mati, serta untuk daerah/zona tertentu kemampuan untuk mendukung beban muatan yang timbul akibat prilaku alam. Besar beban muatan dihitung berdasarkan fungsi bangunan gedung pada kondisi pembebanan maksimum dan variasi pembebanan agar bila terjadi keruntuhan penggunan bangunan gedung masih dapat menyelamatkan diri.

Sedangkan pada pengamanan terhadap bahaya kebakaran dilakukan dengan sistem proteksi pasif meliputi kemampuan stabilitas struktur dan elemennya, konstruksi tahan api, kompartemenisasi dan pemisahan, serta proteksi pada bukaan yang ada untuk menahan dan membatasi kecepatan menjalarnya api dan asap kebakaran. Pengamanan dilakukan dengan melengkapi kemampuan peralatan dalam mendeteksi dan memadamkan kebakaran, pengendalian asap, dan sarana penyelamatan kebakaran.

Untuk melakukan pengamanan terhadap bahaya petir melului sistem penangkal petir merupakan kemampuan bangunan gedung untuk melindungi semua bagian bangunan gedung, termasukmanusia di dalamnya terhadap bahaya sambaran petir. Sistem penangkal petir terdiri dari instalasi penangkal petir yang harus dipasang pada setiap bangunan gedung yang karena letak, sifat geografis, bentuk, dan penggunaanya memiliki resiko terkena sambaran petir. Adapun syarat keandalan

10

1. Persyaratan kesehatan

Persyaratan kesehatan bangunan gedung meliputi persyaratan sistem penghawaan, pencahayaaan, sanitasi dan penggunaan bahan bangunan gedung (UU No. 28, 2002, pasal 21 )

Sistem penghawaan merupakan kebutuhan sirkulasi dan pertukaran udara yangharus disediakan pada bangunan gedung melalui bukaan dan/atau ventilasi alami dan/atau ventilasi buatan. Bangunan gedung tempat tinggal, pelayanan kesehatan, pendidikan, dan bangunan pelayanan umum lainnya harus mempunyai bukaan untuk ventilasi alami.

Sedangkan sistem pencahayaaan merupakan kebutuhan pencahayaan yang harus disediakan pada bangunan gedung melalui pencahayaan alami dan/atau pencahayaan buatan, termasuk pencahayaan darurat. Bangunan gedung tempat tinggal, pelayanan kesehatan, pendidikan, dan bangunan pelayanan umum lainnya harus mempunyai bukaan untuk pencahayaan alami.

Sistem sanitasi merupakan kebutuhan sanitasi yang harus disediakan dalam dan di luar bangunan untuk memenuhi kebutuhan air bersih, pembuangan air kotor dan/atau air limbah, kotoran dan sampah, serta penyaluran air hujan. Sistem sanitasi pada bangunan gedung dan lingkungannya harus dipasang sehingga mudah dalam pengoprasian dan pemeliharaannya, tidak membahayakan serta tidak menggangu lingkungan. Selain itu yang menjadi persyaratan kesehatan bangunan yaitu penggunaan bahan bangunan gedung dan tidak menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan.

11

2. Persyaratan kenyamanan

Persyaratan kenyamanan bangunan meliputi kenyamanan ruang gerak dan hubungan antar ruang, kondisi udara dalam ruang, pandangan serta tingkat getaran dan tingkat kebisingan ( UU No. 28, 2002, pasal 26 ayat 1 ).

Kenyamanan ruang gerak merupakan tingkat kenyamanan yang diperoleh dari dimensi ruang dan tata letak ruang dan sirkulasi antar ruang dalam bangunan gedung untuk terselanggaranya fungsi bangunan gedung.

Sednagkan kenyamanan kondisi udara dalam ruang merupakan tingkat kenyamanan yang diperoleh dari temparature dan kelembaban di dalam ruang untuk terselenggaranya fungsi bangunan gedung.

Kenyamanan pandangan merupakan kondisi hak pribadi orang dalam melaksanakan kegiatan di dalam bangunan gedungnya tidak terganggu dari bangunan gedung lain yang berada di sekitarnya.

Selaian itu kenyamanan tingkat getaran dan kebisingan merupakan tingkat kenyamanan yang ditentukan oleh suatu keadaaan yang tidak mengakibatkanpengguna dan fungsi bangunan gedung terganggu oleh getaran dan/atau kebisingan yang timbul baik dari dalam bangunan gedung maupun dari lingkungannya.

3. Persyaratan kemudahan

12

Kemudahan hubungan ke,dari dan di dalam bangunan gedung yaitu tersedianya fasilitas dan aksesibilitas yang mudah, aman, dan nyaman termasuk bagi penyandang cacat dan lansia. Terdapat dua hubungan kemudahan antar ruang yaitu kemudahan horizontal antar ruang dan kemudahan hubungan vertikal antar ruang.

Kemudahan hubungan horizontal antar ruang dalam bangunan gedung merupakan keharusan bangunan gedung untuk menyediakan pintu dan/atau koridor antar ruang. Penyediaan mengenai jumlah, ukuran dan konstruksi teknis pintu dan koridor disesuaikan dengan fungsi ruang bangunan gedung. Kemudahan vertikal bangunan gedung, termasuk sarana transportasi vertikal berupa penyediaan tangga, ram, dan sejenisnya serta lift dan atau tangga berjalan dalam bangunan gedung. Bangunan gedung yang bertingkat harus menyediakan tangga yang menghubungkan lantai satu dengan yang lainnya dengan mempertimbangkan kemudahan, keamanan, keselamatan, dan kesehatan pengguna. Bangunan gedung untuk parkir harus menyediakan ram dengan kemiringan tertentu dan/atau sarana akses vertikal lainnya dengan mempertimbangkan kemudahan dan keamanan pengguna sesuai dengan standar teknis yang berlaku. Bangunan gedung dengan jumlah lantai lebih dari 5 (lima) harus dilengkapi dengan sarana transportasi vertikal (lift) yang dipasang sesuai dengan kebutuhan dan fungsi bangunan gedung.

Akses evakuasi dalam keadaan darurat harus disediakan di dalam bangunan gedung meliputi sisten pemberitahuan bahaya bagi pengguna, pintu keluar

13

prasarana pada bangunan gedung juga sangat penting yaitu kepentingan umum meliputi penyediaan fasilitas yang cukup untuk ruang ibadah, ruang ganti, ruangan bayi, toilet, tempat parkir, tempat sampah, serta fasilitas komunikasi dan informasi.

2.4. Keandalan bangunan

Keandalan bangunan gedung adalah keadaan bangunan gedung yang memenuhi persyaratan keselamatan, kesehatan, kenyamanan, dan kemudahan bangunan gedung sesuai dengan kebutuhan fungsi yang telah ditetapkan. Keselamatan bangunan gedung adalah kondisi yang menjamin keselamatan bangunan gedung beserta pemilik dan penggunan bangunan, sekaligus masyarakat lingkungan di sekitarnya terhadap bencana seperti gempa bumi, bahaya petir, bahaya kebakaran, dan bencana lainnya. Kesehatan bangunan gedung merupakan kondisi yang menjamin tercegahnya segala gangguan yang dapat menimbulkan penyakit atau rasa sakit bagi pemilik dan pengguna bangunan bangunan, sekaligus masyarakat lingkungan sekitarnya. Sedangkan kenyamanan bangunan gedung yaitu keadaan yang menjamin rasa nyaman sehingga pengguna gedung dapat melakukan kegiatan dengan baik dan atau merasa betah dan merasakan suasana tenang berada dalam atau sekitar gedung. Kemudahan bangunan gedung adalah kondisi yang menyediakan berbagai kemudahan yang diperlukan bagi pengguna

14

yang terdapat pada bangunan gedung tersebut. Penilaian dilakukan berdasarkan dengan survei di lapangan yang selanjutnya hasil survei dianalisis menurut nilai kriteria keandalan bangunan suatu gedung.

2.5. Penialaian Keandalan Bangunan

Pada penilaian keandalan bangunan gedung terdapat 5 aspek pengamatan yang dinilai untuk menjamin keandalannya, yaitu penialaian aspek arsitektur, struktur, utilitas, aksesibilitas, dan tata bangunan dan lingkungan.

2.5.1. Penilaian Aspek Aristektur

Nilai kondisi arsitektur merupakan suatu nilai tertentu yang berdasarkan dari kondisi pada setiap bagian arsitektur bangunan. Nilai kondisi dapat menjelaskan mengenai kwalitas dan kwantitas suatu elemen bila terjadi kerusakan.

Terdapat 2 komponen yang dinilai secara visual pada aspek arsitektur dalam pemeriksaan keandalan bangunan yaitu komponen ruang dalam dan komponen ruang luar.

a. Komponen Ruang Dalam 1. Kesesuaiaan penggunaan fungsi

Kondisi yang menjamin bentuk dan dimensi serta organisasi ruang, sirkulasi dalam bangunan dan hubungan antar ruang sesuai dengan fungsinya.

15

3. Pelasteran lantai

Kondisi dimana plesteran lantai dalam kondisi baik tidak retak, terbelah atupun pecah.

4. Pelapis muka dinding

Kondisi dimana pelapis muka dinding dalam kondisi baik tidak terkelupas, hilang ataupun tak tampak.

5. Pelapis muka dinding

Kondisi dimana pelpis muka dinding dalam kondisi baik tidak pudar, lembab, berlumut/berjamur, terkelupas hilang atau pun tidak tampak. 6. Kosen pintu dan jendela

Kondisi dimana kosen pintu dan jendela masih berfungsi dengan baik tidak lapuk, rapuh/keropos, retak, berlubang, bagian pintu dan jendela ada yang patah, sambungan lepas, melengkung dan rusak.

7. Lapisan muka langit-langit

Kondisi dimana lapisan muka langit-langit tidak rusak, kotor/bebercak, pudar, panil hilang, ataupun terkelupas.

b. Komponen Ruang Luar 1. Penutup atap

Kondisi dimana penutup atap tidak retak, pecah, rembes, bocor, hilang, korosi, berlumut/berjamur, ditumbuhi tanaman, paku lepas, flshing rusak,

16

3. Pelasteran dinding luar

Kondisi dimana pelasteran dinding dalam kondisi baik tidak terkelupas, hilang ataupun tidak tampak.

4. Pelapis muka lantai luar

Kondisi dimana plesteran dinding dalam kondisi baik tidak terkelupas, hilang ataupun tidak tampak.

5. Plesteran lantai luar

Kondisi dimana plesteran lantai dalam kondisi baiktidak retak, terbelah ataupun pecah.

6. Pelapis muka langit-langit

Kondisi dimana lapisan muka langit-langit tidak rusak, kotor/bebercak, pudar, panil hilang, ataupun terkelupas.

Pengamatan dilapangan dilakukan secara visual kemudian dilakukan penilaian pada bangunan gedung dalam formulir penilaian keandalan bangunan mengacu pada Pajak Bumi Bangunan), dll. Data dianalisis dengan menggunakan panduan Teknis Tata Cara Pemeriksaan Keandalan Bangunan Gedung, tahun 1998, Departemen PU, dan Peraturan Permen PU No.29/PRT/M/2007, Permen PU No.26/PRT/M/2008 dan Dinas Tarukim Kota Medan menerapkan sistem penilaian keandalan arsitektur dengan ketentuan seperti terlihat pada Tabel 2. 1.

Tabel 2.1 Penilaiaan Aeandalan Arsitektur

17

Tabel 2.1 Penilaiaan Aeandalan Arsitektur (lanjutan Tabel 2.1)

(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10)

Ruang

dalam

80%

Kesesuaian penggunaan fungsi

Pelapis muka lantai

Pelapis muka dinding

Plesteran dinding

Kosen pintu dan jendela

Lapisan muka langit

Sub Total

Ruang

Luar

20%

Penutup atap

Pelapis muka dinding luar

Plesteran dinding luar

Pelapis muka lantai luar

Plesteran lantai luar

Pelapis muka langit langit

Sub Total

Total Nilai

Sumber : Dinas Tarukim Kota Medan, 2011 Keterangan :

a. Nilai pada kolom 10 di dapat dari hasil penyelesaiaan pada tiap-tiap komponen dengan tahapan dan persamaan sebagai berikut.

Faktor reduksi kerusakan � = �� (2.1)

Dimana, r = faktor reduksi kerusakan nr = jumlah komponen rusak (bh)

n = jumlah komponen yang tiap lantai (bh) �� = �� − �

18

Dimana, Ka = keandalan awal komponen (%)

∑n = total jumlah komponen pada gedung (bh) K max = nilai maksimum keandalan komponen (%)

Nilai keandalan reduksi kerusakan Kr = r . Ka (2.4)

Dimana, Kr = nilai keandalan reduksi kerusakan (%)

Nilai keandalan komponen Klt = Kt . Ka (2.5)

Dimana, Klt = nilai keandalan komponen tiap lantai (%)

Nilai total keandalan komponen ∑K = Klt1+Klt2+...+Kltn (2.6) Dimana, ∑K = nilai total keandalan komponen (%)

b. Nilai pada kolom (5), (7), dan (9) merupakan nilai presentase tingkat keandalan (K) pada masing-masing komponen yang didapat dari hasil

perhitungan =

3 . 100 %

2.5.2. Penilaiaan Aspek Struktur

Nilai kondisi struktur merupakan suatu nilai tertentu yang berdasarkan dari kondisi pada setiap bagian struktur bangunan. Nilai kondisi dapat menjelaskan mengenai kwalitas dan kwantitas suatu elemen bila terjadi kerusakan.

terdapat 2 komponen yang dinilai secara visual pada aspek struktur dalam pemeriksaan keandalan bangunan yaitu struktur utama dan struktur pelengkap, a. Struktur utama

19

2. Kolom struktur

Kondisi dimana kolom tidak terjadi kerusakan seperti melengkung, retak rambut, retak atau patah.

3. Balok struktur

Kondisi dimana balok struktur tidak terjadi kerusakan seperti melengkung, retak rambut, retak atau patah.

4. Joint kolom-balok

Kondisi dimana joint kolom-balok tidak terjadi kerusakan seperti retak rambut, retak atau patah.

5. Plat lantai

Kondisi dimana plat lantai tidak terjadi kerusakan seperti melengkung, rusak atau patah.

6. Plat tap

Kondisi dimana plat atap tidak terjadi kerusakan seperti bocor, melengkung, retak atau patah.

7. Penggantung langit-langit

Kondisi dimana penggantung langit-langit tidak terjadi kerusakan seperti penggantung hilang, kendur, dan patah.

b. Struktur pelengkap 1. Plat/balok tangga

20

Kondisi dimana balok anak terjadi kerusakan seperti melengkung, retak rambut, retak atau patah.

3. Lain-lain (balok canopy, balok laufel)

Kondisi dimana komponen pelengkap struktur lainnya dalam kondisi baik. Pengamatan dilakukan dilapangan secara visual kemudian dilakukan penilaian pada bangunan gedung dalam formulir penilaian keandalan bangunan mengacu pada Teknis Tata Cara Pemeriksaan Keandalan Bangunan Gedung, tahun 1998, Departemen PU, dan Peraturan Permen PU No.29/PRT/M/2007, Permen PU No.26/PRT/M/2008 dan Dinas Tarukim Kota Medan menerapkan sistem penilaiaan keandalan struktur dengan ketentuan seperti terlihat pada tabel 2.2.

Tabel 2.2 Tabel penilaian keandalan struktur

No Kondisi Kefungsian Komponen Struktur Kmax (%) Faktor Reduksi

Nilai keandalan Bagian komponen.Str Akibat kegagalan Sesuai posisi/tingkat (1) (2) (3) (4) (5) (6) I STRUKTUR UTAMA 1 Pondasi 25.00 2 Kolom struktur 20.00 3 Balok struktur 15.00 4 Joint kolom-balok 15.00 5 Plat lantai 4.50 6 Plat atap 0.50 7 Penggantung langit-langit 5.00

21

Tabel 2.2 Tabel penilaian keandalan struktur (lanjutan tabel 2. 2)

No Kondisi Kefungsian Komponen Struktur Kmax (%) Faktor Reduksi

Nilai keandalan Bagian komponen.Str Akibat kegagalan Sesuai posisi/tingkat (1) (2) (3) (4) (5) (6) Sub total 85.00 II STRUKTUR PELENGKAP 1 Plat/balok tangga 6.00 2 Balok anak 5.00 3 Lain-lain 4.00 Sub total 15 Total nilai 100

Total Nilai Keandalan Struktur Sumber : Dinas Tarukim Kota Medan, 2011

Keterangan :

a. Nilai pada kolom (6) di dapat dari hasil penyelesaiaan pada tiap-tiap komponen dengan tahapan dan persamaan sebagai berikut.

Faktor reduksi kerusakan � =

(2.7)

Dimana, r = faktor reduksi kerusakan Ar = luas komponen rusak (m2)

22

Dimana, Ka = Keandalan awal komponen (%) ∑A = total luas komponen pada gedung (m2) Kmax = nilai maksimum keandalan komponen (%)

Nilai keandalan komponen KLt = Kt . Ka (2.5)

Dimana, KLt = nilai keandalan komponen (%)

Nilai total keandalan komponen ∑K = KLt1+ KLt2 +...+ KLtn (2.6) Dimana, ∑K= nilai total keandalan komponen (%)

b. Nilai pada kolom (4) merupakan nilai presentasi tingkat keandalan (K) pada masing-masing komponen yang didapat dari hasil perhitungan =

3 . %.

2.5.3. Penilaiaan Aspek Utilitas dan Proteksi Kebakaran

Nilai kondisi utilitas merupakan suatu nilai tertentu yang berdasrkan dari kondisi pada setiap bagian utilitas bangunan. Nilai kondisi dapat menjelaskan mengenai kwalitas dan kwantitas suatu elemen bila terjadi kerusakan.

Terdapat 7 komponen yang dinilai pada aspek utilitas dalam pemeriksaan keandalan bangunan yaitu sistem pencegahan kebakaran, transportasi vertikal, plambing, instalasi listrik, instalasi tata udara, penangkal petir, dan instalasi komunikasi. Persyaratan utilitas dan proteksi kebakaran telah diatur dalam Peraturan Mentri Pekerjaan Umum N0.26/PRT/M/2008.

23

Kondisidimana alarm kebakaran tidak terjadi kerusakan pada detektor, titik panggil manual, panel kontrol kebakaran, catu daya, alarm, kabel instalasi kebakaran.

2. Sprikler otomatis

Kondisi dimana spronkler tidak terjadi kerusakan pada pompa air, kepala sprinkler, kran uji, tangki air, pipa instalasi kebakaran.

3. Gas pemadam api

Kondisi dimana tidak terjadi kerusakan pada kumpulan tabung gas pemadam, alarm kebakaran, starter otomatis, catu daya, panel kontrol, kotak operasi manual, peralatan detektor, nosel gas, kran pemilih otomatis. 4. Hidran

5. Kondisi dimana tidak terjadi kerusakan pada pompa air, pipa instalasi, tangki penekan atas/alat kontrol, hidran kotak, hidran pilar, sumber air, tangki penampung air.

6. Tabung pemadam api ringan

Kondisi dimana tidak terjadi kerusakan pada tabung gas tersegel dan selang.

b. Transportasi Vertikal 1. Elevator (lift)

24

Kondisi dimana tidak terjadi kerusakan pada motor penggerak, alat kontrol, kabel dan panel listrik, rantai penarik, roda-roda gigi penarik, badan escalator, anak tangga/lantai.

3. Tangga biasa

Harus memiliki dimensi pijakan dan tanjakan yang berukuran seragam dan memiliki kemiringan tangga kurang dari 60◦. Tidak terdapat tanjakan yang berlubang yang dapat membahayakan pengguna tangga. Harus dilengkapi dengan pegangan rambat (handrail) minimum pada salah satu sisi tangga. Pegangan rambat harus mudah dipegang dengan ketinggian 65 – 80 cm dari lantai, bebas dari elemen konstruksi yang mengganggu, dan bagian ujungnya harus bulat atau dibelokkan dengan baik ke arah lantai, dinding atau tiang. Pegangan rambat harus ditambah panjangnya pada bagian ujung-ujungnya (puncak dan bagian bawah) dengan 30 cm. Untuk tangga yang terletak diluar bangunan, harus dirancang sehingga tidak ada air hujan yang menggenangi lantainya.

c. Plambing 1. Air bersih

Kondisi dimana tidak terjadi permasalahan pada sumber air dari PDAM dan meteran, sumber air dari sumur dan pompa, tangki penampung air, tangki air atas/menara (house tank), pompa penampung air dan alat kontrol, listrikuntuk panel pompa, pompa instalasi dan kran.

25

bak cuci ke saluran terbuka, lobang/saluran pengurasan lantai, pipa air hujan.

d. Instalasi Listrik 1. Sumber daya PLN

Kondisi dimana tidak terjadi permasalahan pada panel tegangan utam, transformator, panel tegangan tengah, panel distribusi, lampu, armatur, kabel instalasi.

2. Sumber daya generator (genset)

Kondisi dimana tidak terjadi permasalahan pada motor penggerak, alternator, alat pengisi aki kabel dan panel listrik, radiator/pendingin, kabel instalasi, AMF, daily tank, dan panel kontak.

e. Instalasi Tata Udara

1. Sistem pendingin langsung (media udara)

Kondisi dimana tidak terjadi permasalahan pada kompresor, evaporator, kondensor, panel distribusi, kipas udara kondensator, media pendingin, pipa instalasi media pendingin, alat kontrol, difuser grill, cerobong udara, menara pendingin, pipa instalasi air, pendingin kondensor, pompa sirkulasi air pendingin kondensor, panel kontrol.

2. Sistem pendingin tak langsung (media air)

26

f. Penangkal petir

1. Sistem utama proteksi petir

Kondisi dimana tidak terjadi permasalahan pada kepla penangkal petir, hantaran pembumian, dan elektroda pembumian.

2. Instalasi proteksi petir

Kondisi dimana tidak terjadi permasalahan pada erester tegangan tengah, strip pengikat ekuipotensial, hantaran pembumian, dan elektroda pembumian.

g. Instalasi Komunikasi 1. Instalasi telepon

Kondisi dimana tidak terjadi permasalahan pada pesawat telpon dan kabel instalasi.

2. Instalasi tata suara

Kondisi dimana tidak terjadi permasalahan pada mikropon, speaker, dan kabel instalasi.

Pengamatan dilakukan dilapangan secara visual kemudian dilakukan penilaian pada bangunan gedung dalam formulir penilaian keandalan bangunan mengacu pada Teknis Tata Cara Pemeriksaan Keandalan Bangunan Gedung, tahun 1998, Departemen PU, dan Peraturan Permen

Dalam dokumen Analisa Keandalan Fisik Bangunan Gedung (Studi Kasus : Gedung Departemen Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara ) (Halaman 116-168)