Bab 2. Tinjauan pustaka

2.2 Konsep harga diri

Selama progresi HIV, individu memerlukan bertahun-tahun untuk memahami mengapa mereka terinfeksi, dapatkah mereka mencegahnya, kapan waktu yang tepat untuk memberi tahu tentang kondisinya saat ini ke orang lain, siapa yang harus mereka beri tahu karena orang tersebut berisiko terinfeksi, dan apa yang akan terjadi pada dirinya di masa depan. Bagi beberapa orang, diagnosis HIV dapat serupa dengan diagnosis kanker, seperti yang dijelaskan Elizabeth Kubler-Ross (1969) dalam siklus berdukanya-penyangkalan dan isolasi, kemarahan, penerimaan, tawar-menawar , depresi, dan akhirnya penerimaan (French, 2015).

Selanjutnya, seiring progresi HIV, individu harus menghadapi kondisi sakit. Bagi beberapa orang, kondisi sakit ini berarti hilangnya kendali terhadap tubuh yang dapat menyebabkan rasa tidak memiliki kendali terhadap hidupnya. HIV menjadi musuh dan orang yang terinfeksi HIV melaporkan bahwa mereka merasa disiksa oleh virus (Schonnesson and Ross, 1999) dalam (French, 2015).

2.2 Konsep harga diri

2.2.1 Definisi harga diri

Harga diri berdasarkan pada faktor internal dan eksternal. Harga diri atau rasa kita tentang nilai-diri; rasa ini adalah suatu evaluasi dimana seseorang membuat atau mempertahankan diri. Harga diri adalah tinggi rendahnya penilaian seseorang terhadap dirinya sendiri menurut status pribadi yang dilihatnya secara subyektif dan diekspresikan lewat sikap individu tersebut terhadap dirinya sendiri (Karima, 2004).

22

Harga diri adalah rasa dihormati, diterima, kompeten, dan bernilai. Orang dengan harga diri rendah seiring merasa tidak dicintai dan sering mengalami depresi dan ansietas. Harga diri berfluktuasi sesuai dengan kondisi sekitarnya, meskipun inti dasar dari perasaan negatif dan positif dipertahankan (Potter and Perry, 2005).

Maslow dalam teori hirarki kebutuhannya menyatakan bahwa harga diri adalah salah satu motivasi dasar manusia untuk mencapai aktualisasi diri (dalam Huitt, 2007). APA dictionary of Psychology (2007, hal. 830) mendefinisikan harga diri sebagai tahapan dimana kualitas dan karakteristik self-concept yang dimiliki seseorang dianggap positif. Harga diri merefleksikan gambaran citra diri, kemampuan, pencapaian, dan nilai yang dimiliki serta sejauh mana seorang individu sukses menerapkannya. 2.2.2 Bentuk harga diri

Berdasarkan kajian literatur mengenai harga diri yang dilakukan beberapa ahli Brown dan Marshall (2006) membagi bentuk harga diri kedalam 3 kategori :

a. Global self-esteem

Harga diri sering digunakan sebagai istilah yang merujuk pada variabel kepribadian yang mewakili bagaimana perasaan seseorang terhadap dirinya sendiri. Peneliti menamai bentuk harga diri yang demikian sebagai, global self-esteem atau trait self-esteem, karena relatif bertahan dalam berbagai situasi dan waktu. Jika seseorang memiliki harga diri yang tinggi atau rendah ketika kanak-kanak

23

maka kemungkinan besar individu tersebut akan memiliki tingkat harga diri yang sama ketika dewasa (weiten et al., 2012).

b. Feeling of self-worth

Harga diri juga sering dirujuk sebagai reaksi emosi evaluatif terhadap kejadian tertentu. Contohnya seseorang mungkin merasa harga dirinya naik setelah mendapat promosi jabatan dan harga dirinya turun setelah menjalani perceraian. Self-worth adalah perasan bangga terhadap diri sendiri (dalam sisi positif) dan malu terhadap diri sendiri (dalam sisi negatif). Harga diri yang demikian disebut juga sebagai state self-esteem, yaitu harga diri yang bersifat dinamis dan dapat dirubah bergantung pada perasaan seseorang terhadap dirinya di waktu tertentu (Heathertron & Polivy dalam Weiten et al., 2012).

c. Self-evaluations

Disebut juga sebagai domain spesific self-esteem, yaitu harga diri digunakan untuk merujuk cara seseorang mengevaluasi kemampuan dan atribut bervariasi yang ada pada dirinya. Contohnya seorang individu yang memiliki keraguan atas kemampuannya di sekolah dapat disebut memiliki academic self-esteem yang rendah sedangkan individu yang merasa dirinya memiliki kemampuan yang baik dalam bidang olah raga dapat dikatakan memiliki athletic self-esteem yang tinggi.

24

2.2.3 Sumber harga diri

Epstein (dalam Mruk, 2006) menambahkan sumber harga diri yang dikemukakan oleh Coopersmith sehingga lebih dinamis dengan alasan apabila kesuksesan (hal positif) terlibat dalam pembentukan harga diri maka kemungkinan akan adanya kegagalan (hal negatif) juga harus dilibatkan. Keempat sumber harga diri tersebut adalah :

a. Acceptance vs. rejection

Penerimaan dan penolakan dalam hubungan interpersonal seorang individu dengan orang tua, saudara, teman, pasangan, dan rekan kerja dapat mempengaruhi perasaan seorang individu atas dirinya. Bentuk penerimaan seperti rasa peduli, pengasuhan, perasaan tertarik, respek, serta kagum dan bentuk penolakan seperti tidak dihiraukan, direndahkan, atau dimanfaatkan dapat memperharuhi harga diri seseorang.

b. Virtue vs. guilt

Virtue menurut Epstein adalah kepatuhan terhadap standar moral dan etika yang berlaku, sedangkan guilt merujuk pada kegagalan untuk mematuhi standar moral dan etika yang berlaku. Saat seorang individu bertindak sesuai dengan nila moral dan etika yang berlaku maka mereka akan merasa sebagai individu yang „layak‟ dan akan mempengaruhi harga diri mereka secara positif. Sebaliknya saat individu tersebut gagal mengikuti standar moral

25

yang berlaku maka akan mempengaruhi harga dirinya secara negatif.

c. Power vs. powerlessness

Epstein mendefinisikan power sebagai kemampuan untuk mengatur atau mengontrol lingkungannya atau dengan kata lain kemampuan untuk memberi pengaruh. Kemampuan seorang individu untuk berinteraksi dengan lingkungan dan individu sekitarnya dengan cara-cara yang dapat membentuk atau mengarahkan interaksi tersebut mencerminkan kompetensi dalam menghadapi tantangan dalam kehidupan dan akan mempengaruhi harga diri secara positif.

d. Achievement vs. failure

Syarat agar achivement mempengaruhi harga diri seseorang adalah ketika seorang individu mengalami ke suksesan pada dimensi-dimensi tertentu yang berhubungan dengan identitas diri mereka. Contohnya menyikat gigi bukanlah pencapaian signifikan bagi sebagian besar orang, namun dapat menjadi pencapaian personal yang besar bagi individu dengan cacat fisik maupun mental. Saat seorang individu mencapai tujuan dengan menghadapi permasalahan atau rintangan yang memiliki signifikansi personal, maka individu tersebut menunjukan kompetensi dalam menghadapi tantangan dalam kehidupan dan hal tersebut mempengaruhi harga dirinya secara positif.

26

2.2.4 Tingkat harga diri

Mruk (2006) menyimpulkan tingkat harga diri berdasarkan beberapa definisi yang dikemukakan oleh beberapa ahli menjadi tiga kategori, yaitu :

a. Low Self-esteem

Karakteristik individu dengan harga diri rendah meliputi hipersensitivitas, ketidakstabilan, rasa canggung, dan kurang percaya diri. Individu dengan harga diri rendah lebih berfokus pada melindungi diri dari ancaman dibanding berusaha untuk mengaktualisasikan potensi yang dimiliki dan menikmati hidup. Individu dengan harga diri rendah juga tidak memiliki gambaran identitas yang jelas dan sensitif terhadap isyarat sosial yang dianggap relevan dengan dirinya, mereka menggunakan strategi self-handicapping dan menurunkan ekspektasi untuk menghindari perasaan inferior lebih lanjut.

b. High self-esteem

Harga diri tinggi berkorelasi positif dengan rasa bahagia, mereka yang memiliki harga diri tinggi memiliki pandangan yang baik atas diri mereka, kehidupan, dan masa depan. Individu dengan harga diri tinggi lebih mampu menghadapi stres dan menghindari rasa cemas yang sehingga mereka tetap mampu beindak dengan baik saat berhadapan dengan stress dan trauma. Terdapat dukungan

27

interpersonal. Individu yang memiliki harga diri tinggi memiliki karakteristik interpersonal yang disukai serta memiliki standar moral dan kesehatan yang baik. Harga diri yang tinggi juga dapat membantu meningkatkan kinerja berkaitan dengan kemampuan pemecahan masalah dalam situasi tertentu yang membutuhkan inisiatif dan presistensi.

c. Medium self-esteem

Coopersmith (dalam Mruk, 2006) menyatakan bahwa individu dengan tingkat harga diri sedang merupakan hasil dari tidak tereksposnya seorang individu pada faktor-faktor yang mendukung kepemilikan tingkat harga diri yang tinggi, namun memiliki sebagian faktor sehingga menghindarkan mereka dari tingkat harga diri yang rendah.

2.2.5 Faktor-faktor yang mempengaruhi harga diri

Harga diri mempengaruhi bagaimana individu akan berfungsi dalam kehidupannya sehari-hari. Individu dengan harga diri rendah, cenderung memiliki motivasi rendah (Branden, 1994) dalam Karima (2004). Sementara individu dengan harga diri tinggi akan lebih dapat berperilaku efektif (Coopersmith dan Branden) dalam Karima (2004).

Ada beberapa faktor yang mempengaruhi penghargaan seseorang atas dirinya sendiri menurut Coopersmith (1981) dalam Karima (2004), yaitu:

28

a. Penerimaan atau penghinaan terhadap diri.

Individu yang merasa dirinya berharga akan memiliki penilaian yang lebih baik atau positif terhadap dirinya dibandingkan dengan individu yang tidak mengalami hal tersebut. Individu yang memiliki harga diri yang baik akan mampu menghargai dirinya sendiri, menerima diri, tidak menganggap rendah dirinya, melainkan mengenali keterbatasan dirinya sendiri dan mempunyai harapan untuk maju dan memahami potensi yang dimilikinya. Sebaliknya individu dengan harga diri yang rendah umumnya akan menghindar dari persahabatan, cenderung menyendiri, tidak puas akan dirinya, walaupun sesungguhnya orang yang memiliki harga diri yang rendah memerlukan dukungan.

b. Kepemimpinan atau popularitas

Penilaian atau keberartian diri diperoleh seseorang pada saat ia harus berperilaku sesuai dengan tuntutan yang diberikan oleh lingkungan sosialnya yaitu kemampuan seseorang untuk membedakan dirinya dengan orang lain atau lingkungannya. Pada situasi persaingan, seseorang akan menerima dirinya serta membuktikan seberapa besar pengaruh dan kepopulerannya. Pengalaman yang diperoleh pada situasi itu membuktikan individu lebih mengenal dirinya, berani menjadi pemimpin, atau menghindari persaingan.

29

c. Keluarga – orangtua

Keluarga dan orangtua memiliki porsi terbesar yang mempengaruhi harga diri, ini dikarenakan keluarga merupakan modal pertama dalam proses imitasi. Alasan lainnya karena perasaan dihargai dalam keluarga merupakan nilai yang penting dalam mempengaruhi harga diri.

d. Keterbukaan – kecemasan

Individu cenderung terbuka dalam menerima keyakinan, nilai-nilai, sikap, moral dari seseorang maupun lingkungan lainnya jika dirinya diterima dan dihargai. Sebaliknya seseorang akan mengalami kekecewaan bila ditolak lingkungannya.

2.2.6 Gambaran harga diri ODHA

Harga diri pada pasien HIV/AIDS mempunyai peranan penting dalam proses perawatan seperti yang diunhkapkan oleh Stuart dan Sundeen (2000) self esteem (harga diri) adalah perilaku tentang nilai individu menganalisa kesesuaian paerilaku dengan ideal diri. Harga diri yang tinggi berakar dari penerimaan diri tanpa syarat sehingga diharapkan pasien HIV/AIDS dengan harga diri yang tinggi dapat berpengaruh terhadap penerimaan diri tentang kondisinya tanpa syarat.

Kondisi penurunan harga diri, depresi, stress, dan tak bisa menerima kenyataan dialami hampir setiap individu atau anggota keluarga yang mengidap HIV/AIDS. Kondisi tersebut terjadi karena sampai saat ini masyarakat masih menganggap HIV/AIDS sebagai momok menyeramkan.

30

Saat divonis sebagai Orang dengan HIV/AIDS (ODHA), yang terbayang dibenak mereka adalah kematian (Djoerban, 2000).

Harga diri adalah konsep yang meliputi rendah diri, dan penerimaan mereka kepada orang lain. Ini meliputi penilaian diri mereka secara internal yang didasarkan pada pengalaman masa lalu. ODHA dengan harga diri rendah bukan dikarenakan untuk melindungi dirinya sendiri atau orang lain terhadap penularan infeksi HIV, namun adanya stigmatisasi, rasa bersalah, kehilangan citra tubuh yang positif, kehilangan peran, kehilangan pekerjaan, dan hilangnya jaringan sosial. Dalam mempertahankan harga diri, mekanisme koping yang digunakan pada pasien HIV/AIDS adalah sebagai berikut :

1) Penolakan: meniadakan realitas situasi

2) Penghindaran: mencoba untuk mengabaikan akibat situasi 3) Regresi: menjadi lebih tergantung, lebih pasif, lebih emosional 4) Kompensasi: meniadakan keterbatasan disatu area dan

mendapatkan keahlian didaerah lain

5) Rasionalisasi: memaafkan diri untuk tidak mencapai harapan 6) Pengalihan perasaan: penyaluran perasaan yang tidak dapat

31

Dalam dokumen Hubungan Harga Diri dengan Interaksi Sosial Pada Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA) di RSUP H. Adam Malik Medan (Halaman 76-86)