BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
5.2 Saran
Adapun saran yang dapat diberikan untuk penelitian berikutnya adalah:
1. Disarankan pada penelitian lebih lanjut tidak menambahkan inokulum sebelum memasuki tahap kedua pada pengolahan anaerob dua tahap agar dapat dibangdikan efisiensi pengolahan anaerob satu tahap dengan anaerob dua tahap.
2. Disarankan pada penelitian lebih lanjut memvariasikan waktu operasi pada tahap asidifikasi, sehingga dapat diketahui dengan tepat lama tahap asidifikasi berlangsung.
3. Disarankan pada penelitan berikutnya agar mengamati pertumbuhan bakteri dalam satuan jam, agar terlihat dengan jelas fase pertumbuhan mikroorganisme seperti pada kurva pertumbuhan mikroorganisme.
DAFTAR PUSTAKA
Angraini., Mumu, S., Yulianti, P. 2014. Pengolahan Limbah Cair Tahu secara Anaerob menggunakan Sistem Batch. Jurnal Teknik Lingkungan Institut Teknologi Nasional Bandung. Vol 2(1).
Astuti, M. 2007. Pengantar Ilmu Statistik untuk Peternakan dan Kesehatan. Hewan.
Cetakan pertama. Binasti Publisher, Bogor.
Benefield, L.D., Randall, C.W.(1980). Biological Process Design for Wastewater Treatment. : Prentice Hall Inc, Englewood Cliffs.
Budiman dan Amirsan. 2015. Efektifitas Abu Sekam Padi Dan Arang Aktif Dalam Menurunkan Kadar Bod Dan Cod Pada Limbah Cair Industri Tahu Super Afifah Kota Palu. Jurnal Kesehatan Tadulako. Vol 1 (2)
Darsono. 2007. Pengolahan Limbah Cair Tahu Secara Anaerob Dan Aerob. Program Studi Teknik Industri, Fakultas Teknologi Industri, Universitas Atma Jaya. J Teknologi Industri 9 (1) : 9-20.
Dhiauddin, F. 2014. Aplikasi Anaerobic Treatment Pada Limbah Cair Ikan Dengan Menggunakan Reaktor Mesophilic. Skiripsi Universitas Syiah Kuala: Banda Aceh.
Dhadse, Dieter dan Angelika Steinhauser. 2008. Biogas from Waste and Renewable Resources: An Introduction. Weinheim: Wiley-VCH Verlag GmbH & Co. Kga, Germany.
Eckenfelder, W.W., Patoczka, J.B., and Pulliam, G.W. 1988. Anaerobic Versus Aerobic Treatment in the USA. New York:Pergamon Press.
Faisal, M., Asri, G., Farid, M., and Hiroyuki D. 2016. Effect of Organic Loading on Production of Methane Biogas From Tofu Wastewater Treated by Thermophilic Stirred Anaerobic Reactor. Rasayan Journal of Chemistry. Vol 9(2). Pages 133 - 138
Ginting, Perdana. 2007. Sistem Pengelolaan Lingkungan Dan Limbah Industri. Cetakan pertama. Bandung: Yrama Widya
Giska,dkk. 2013. Analisis Nilai Tambah dan Strategi Pemasaran Usaha Industri Tahu di Kota Medan. Jurnal Agribisnis vol.2 no.1 tahun 2013. Medan.
Hambali, E., Mujdalipah, S., Tambunan, A. H., Pattiwiri, A. W., dan Hendroko, R., 2008. Teknologi Bioenergi. PT AgroMedia Pustaka, Jakarta. 52-62
Hanifah,T A Christine Jose dan Titania T. Nugroho. 2001. Pengolahan Limbah Cair Tapioka Dengan Teknologi EM (Effective Mikroorganisms). Jurnal Natur Indonesia III (2)
Haryati, T. 2006. Biogas: Limbah Peternakan Yang Menjadi Sumber Energi. Alternatif.
Wartazoa 16(3): 160-169.
Herlambang, A, 2002, Teknologi Pengolahan Limbah Cair Industri Tahu, Pusat Pengkajian dan Penerapan Teknologi Lingkungan (BPPT) dan Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Samarinda.
Hidayat, R. 2015. Pemanfaatan Limbah Cair Tahu Menjadi Produk NATA DE SOYA Menggunakan Metode Fermentasi. Skripsi Program Studi Pendidikan Kimia.
UIN Sunan Gunung Djati: Bandung.
Husin, A. 2008. Pengolahan Limbah Cair Industri Tahu dengan Biofiltrasi Anaerob dalam Reaktor Fixed-Bed (Tesis). Program Pascasarjana Teknik Kimia USU Indriyati, 2005. Pengolahan Limbah Cair Organik secara Biologi Menggunakan
Reaktor Anaerobik Lekat Diam. Jurnal Akuakultur Indonesia1(3). 341-343.
Jenie, B.S.L. dan Winiati P.R. 1993. Penanganan Limbah Industri Pangan. Kanisius.
Yogyakarta.
Khasristya dan Amaru. 2004. Teknologi Digester Gas Bio Skala Rumah Tangga.
Program Kreativitas Mahasiswa Bidang Penerapan Teknologi XVII. Fakultas Pertanian. Universitas pajajaran, Bandung.
Kahar, A., Novelya, N., Widarti, B. N., Busyairi, M., Octhavia, V. 2016. Pengaruh Temperatur Terhadap BOD, TSS, dan VFA Pada Pengolahan Lindi dalam Bioreaktor Anaerob. Prosiding Seminar Nasional Industri Kimia dan Sumber Daya Alam.
Kholiq, M.A. 2007. Perbandingan Sistem Digester Anaerob Termofilik Satu dan Dua Fase. Jurnal Teknologi Lingkungan. Vol 8(1).
Lang, L.Y. 2007. Treatability of Palm Oil Mill Effluent (POME) Using Black Liquor in an Anaerobic Treatment Process. Thesis University Sains Malaysia.
Madyanova, Mutiara. 2005. Pengolahan Senyawa organik Limbah Cair Domestik Dengan Menggunakan Anaerobic Baffled Reactor (ABR). Bandung: Tugas Akhir TL-ITB.
Masturi. 1997. Pengambilan Minyak Kedelai Pra Proses Pembuatan Tahu. Laporan Penelitian Badan Penelitian dan Pengembangan Industri. Semarang.
Moertinah, S., 2010. Kajian Proses Anaerobik Sebagai Alternatif Teknologi Pengolahan Air Limbah Industri Organik Tinggi. Jurnal Teknologi Pencegahan Pencemaran Industri.Vol 1(2).
Pohan, N. 2008. Pengolahan Limbah Cair Industri Tahu dengan Biofilter Aerobik.
Tesis, Fakultas Teknik, Universitas Sumatera Utara : Medan.
Pohland, F.G. and S. Ghosh. 1971. Developments in Anaerobic Stabilization of Organic Wastes – The Two-Phase Concept. Environ. Lett. (1), 255-256.
Rajput, Er. R. K., 2012. Non-Conventional Energy Sources And Utilisation. S. Chand and Company LTD, Ram Nagar, New Delhi. 158.
Ratnani, R.P. 2011. Kecepatan Penyerapan Zat Organik pada Limbah Cair Industri Tahu dengan Lumpur Aktif. Jurnal Teknik Kimia. Universitas Wahid Hasyim Semarang. Vol 7(2).
Rosiana, N. 2006. “Uji Toksisitas Limbah Cair Tahu Sumedang terhadap Reproduksi Daphnia carinata KING”. Bandung: Universitas Padjajaran.
Said, N.I dan Heru, D.W. 1999. Teknologi Pengolahan Air Limbah Tahu-Tempe Dengan Proses Biofilter Anaerob dan Aerob. Badan Pengkajian Dan Penerapan Teknologi, Jakarta.
Simamora, S., Salundik, S. Wahyuni, dan Surajudin. 2006. Membuat Biogas Pengganti Bahan Bakar Minyak dan Gas dari Feses. Agromedia Pustaka, Jakarta.
Soetopo, R.S., Sri, P., Yusup, S., dan Krisna A.W. 2011. Efektivitas Proses Kontinyu Digestasi Anaerobik Dua Tahap Pada Pengolahan Lumpur Biologi Industri Kertas. Jurnal Riset Industri. Vol 5(2).
Sufyandi,A. 2001. InformasiTeknologiTepatGunaUntukPedesaan Biogas. Bandung Sugiharto. 1987. Dasar-dasar Pengelolaan Air Limbah. UI Press, Jakarta
Shuler, M. L., Kargi, F. 1991. Bioprocess Engineering. Prentice Hall Professional Technical Reference.
Stafford DA, Hawkes DL, Horton R. 1980. Methane Production from Water Organic Matter. CRC Press, Florida.
Trisakti, B., Irvan, Mahdalena, Taslim, Turmuzi, M. 2016.Effect of temperature on methanogenesis stage of two-stage anaerobic digestion of palm oil mill effluent (POME) into biogas. IOP Conf. Series: Materials Science and Engineering 206 Van Lier, J. B., Mahmoud, N., dan Zeeman, G., 2008. Anaerobic Watewater Treatment.
IWA Publishing. London. 416
Vegantara, D. A. 2009. Pengolahan Limbah Cair Tapioka Menggunakan. Kotoran Sapi Perah Dengan Sistem Anaerobik. Tesis Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan. Institut Pertanian Bogor: Bogor.
Woodard. 2007. Industrial Waste Treatment Handbook Second Edition. Elsevier Inc Yazar, E., Cirik, K., Ozdemir, S., Akman, D., and Cinar, O. 2016. Optimization of
Two-Stage and Single-Two-Stage Anaerobic Reactors Treating Cheese Whey.
Kahramanmaras Sutcu Imam University Journal of Engineering Science.
Turkey. Vol 19(1).
LAMPIRAN Lampiran 1. Analisa Sampel
1. Analisa Chemical Oxygen Demand (COD) A. Pembuatan reagen
Berikut prosedur pembuatan reagen yang digunakan dalam penentuan kadar COD:
1. Ag2SO4
2. H2SO4 1:2
Ambil 100 ml H2SO4 (p), diencerkan menjadi 300 ml dengan aquades.
3. Larutan Na2C2O4 0,025 N Gr = N x BE x V
= 0,025 x 67 x 1
= 1,68 gr
Ditimbang dengan teliti 1,68 gr Na2C2O4 dilarutkan menjadi 1 liter dengan aquades dimasukkan ke dalam labu ukur 1000 ml, ditepatkan sampai tanda garis, dan diaduk sampai homogen.
4. Pembuatan Larutan Standar KMnO4 0,025 N.
Ditimbang 0,79 gr KMnO4, dilarutkan menjadi 1 liter dengan aquades,
dididihkan selama 2 jam dan dibiarkan selama 1 malam, kemudian ditentukan faktor larutan tersebut.
5. Penentuan faktor larutan KMnO4 selama 40-60 menit pada temperatur 150-200 oC, didinginkan dalam desikator, setelah dingin dipipet 25 ml
Na2C2O4 0,025 N, dimasukkan ke dalam erlenmeyer 300 ml. Kemudian ditambahkan 100 ml aquades dan 10 ml H2SO4 1:2 dan ditambahkan KMnO4 0,025 N sekitar 20 ml, dibiarkan beberapa menit sampai hilang warnanya. Panaskan pada temperatur 55-600 C dalam water bath selama beberapa menit. Dalam keadaan panas dititrasi dengan KMnO4 sampai warna merah muda yang tidak hilang selama 50 detik.
B. Prosedur penetapan COD
Berikut prosedur kerja dalam penetapan kadar COD:
1. Sampel dipipet sebanyak 5 ml ke dalam erlenmeyer 300 ml.
2. Ditambahkan 25 ml aquades.
3. Lalu ditambahkan 5 ml H2SO4 1 : 2.
4. Kemudian ditambahkan 1 gram Ag2SO4 kristal dan diaduk sampai rata.
5. Lalu ditambahkan 10 ml KMnO4 0,025 N.
6. Dipanaskan dalam waterbath pada suhu 60 0C – 70 0C selama 30 menit.
7. Setelah itu, ditambahkan 10 ml Na2C2O4 0,025 N.
8. Kemudian larutan dititrasi dengan KMnO4 0,025 N sampai berwarna merah muda dan dicatat volume KMnO4 yang terpakai.
9. Dilakukan prosedur yang sama untuk blanko (aquades) tanpa penambahan Ag2SO4. 2. Analisa Volatile Suspended Solid (VSS)
1. Tempatkan kertas saring whatman No. 42 di atas alat penyaring atau cawan Gooch.
Sambung dengan sistem vakuum dan cuci kertas saring dengan aquades 20 ml.
Kemudian kertas saring dioven terlebih dahulu selama 1 jam pada suhu 105˚C.
2. Kertas saring yang telah dioven dimasukkan dalam desikator selama 15 menit.
3. Kertas saring tersebut ditimbang untuk mengetahui berat awal kertas sebelum penyaringan sampel limbah.
4. Kertas saring diletakkan pada alat penyaring atau cawan Gooch yang disambung dengan sistem vakuum, kemudian sampel limbah cair sebanyak 10 ml dilewatkan pada kertas saring.
5. Kertas saring dan residu dioven selama 1 jam pada suhu 105˚C,
6. Cawan porselin dipanaskan di dalam oven pada suhu 105 °C selama 1 jam,
kemudian dibakar di dalam tanur pada suhu 550°C selama 10-20 menit. setelah itu dipindahkan dalam oven suhu 105°C selama 30 menit sebelum didinginkan dalam desikator selama 15 menit.
7. Massa cawan porselin ditimbang dengan timbangan analitik
8. Kemudian ke dalam cawan porselin dimasukkan kertas saring dan residu yang telah dioven pada suhu 105°C selama 1 jam. Dibakar di dalam tanur pada suhu 550°C selama 10-20 menit. setelah itu dipindahkan dalam oven suhu 105°C selama 30 menit sebelum didinginkan dalam desikator selama 15 menit.
9. Massa cawan porselin dan residu ditimbang dan didapat massa dengan satuan gram.
3. Analisa Volatile Fatty Acid (VFA)
Metode yang digunakan dalam analisa VFA adalah destilasi uap (steam destilation) (AOAC, 1991). Pengukuran Volatile Fatty Acid dilakukan dengan cara:
1. Dimasukkan aquades ke dalam labu destilasi dan tambahkan sebanyak 10 batu diidih, panaskan diatas hot plate sampai mendidih.
2. Sebanyak 5 ml sampel dimasukkan kedalam erlenmeyer 500 ml, ditambahkan 1 ml H2SO4 15%, kemudian ditutup dengan sumbat karet yang telah dihubungkan dengan labu destilasi dan kondensor.
3. Hasil destilasi ditampung dengan labu erlemenyer 300 ml yang telah diisi 5 ml NaOH 0,5 N. Proses destilasi selesai pada saat jumlah destilat yang ditampung mencapai 300 ml.
4. Destilat yang telah tertampung ditambah indikator phenophtalein (PP) sebanyak 2-3 tetes, lalu ditirasi dengan HCl 0,5 N sampai terjadi perubahan dari warna merah jambu ke bening.
Lampiran 2. Tabulasi Hasil COD, VSS, VFA, dan Biogas pada Pengolahan Limbah Cair Tahu dengan Menggunakan Bioreaktor Satu Tahap dan Dua Tahap
Tabel 1 Hasil Analisis COD
Lanjutan Lampiran 2
No Tanggal Keterangan Volume biogas (ml) I Tahap II Tahap
Lampiran 3. Contoh Perhitungan 1. Perhitungan Nilai COD
COD (mg/l) = (a-b) x f x 1000/V x 0,2 Keterangan:
a = Volume titrasi dengan KMnO4 (ml)
b = Volume titrasi blanko dengan KMnO4 (ml) f = faktor KMnO4
V =Volume sampel (ml) 0,2 = 1 KmnO4 ~ 1 gr O2
COD (mg/l) = (a-b) x f x 1000/V x 0,2
= (63-0,15) x 0,104 x 1000/5 x 0,2 = 2614,56 mg/l
2. Perhitungan Nilai VSS VSS (mg/l) = (d-a) x 1000/V Keterangan:
d = berat cawan dan residu setelah pemanasan 105˚C a = berat cawan dan residu setelah pembakaran 550˚C V =Volume sampel (ml)
VSS (mg/l) = (d-a) x 1000/V
= (19849,167-19839,5) x 1000/10 = 967,4 mg/l
3. Perhitungan Nilai VFA
VFA (mg/l) = (b-a) x NHCl x 1000/V Keterangan:
a = Volume titrasi sampel HCl (ml)
b = Volume titrasi blanko dengan HCl (ml) V =Volume sampel (ml)
VFA (mg/l) = (b-a) x NHCl x 1000/V = (8,2-7,9) x 0,5 x 1000/5 = 30 mg/l
4. Perhitungan Yield Biogas Yield biogas = V/(CODt – COD0) Keterangan:
V = Volume kumulatif biogas (L)
COD0 = Konsentrasi COD saat awal pengolahan (g) CODt = Konsentrasi COD saat akhir pengolahan (g) Hasil Yield biogas R1
Yield biogas = 3,36 L / (18,1 g – 4,2 g) = 0,24 L/g CODterkonversi
Hasil Yield biogas R2
Yield biogas = 4,09 L / (18,3 g – 3,1 g) = 0,27 L/g CODterkonversi
Lampiran 4. Foto Dokumentasi Pelaksanaan Penelitian Reaktor
Reaktor anaerob Analisis COD
Titrasi menggunakan KMnO4 Pemanasan sampel dengan Waterbath
Lanjutan Lampiran 4 Analisis VSS
Sampel dan kertas saring dikeringkan dalam
oven dengan suhu 105ºC
Penyaringan sampel dengan pompa vacuum
Proses pembakaran dalam tanur dengan suhu 550ºC Analisis VFA
Proses destilasi uap
Lanjutan Lampiran 4 Pengukuran Biogas
Pengukuran gas dengan Water Displacement Pengukuran gas dengan Water Displacement Pengambilan dan Pengawetan Sampel
Sampel untuk analisa COD, VSS, VFA