BAB 1 PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Di dalam menjalankan suatu pekerjaan, manusia memegang peranan yang sangat besar dalam keberlangsungan aktivitas perusahaan. Manusia sebagai salah satu sumber daya yang bersifat dinamis dan memiliki kemampuan untuk terus berkembang perlu mendapat perhatian dari pihak perusahaan. Perhatian ini perlu diingat dalam menjalankan aktivitas agar sumber daya manusia dapat bekerja dengan optimal.
Undang-Undang Dasar 1945 pasal 27 ayat (2) menetapkan bahwa “Setiap warga negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan”. Yang dimaksud dengan pekerjaan dan penghidupan yang layak adalah pekerjaan yang bersifat manusiawi, yang memungkinkan pekerja berada dalam kondisi selamat dan sehat, bebas dari kecelakaan dan penyakit akibat kerja. Berdasarkan pasal tersebut, maka dikeluarkan Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1969 tentang pokok-pokok tenaga kerja dimana perlindungan atas keselamatan karyawan dijamin dalam pasal 9 yang menyatakan bahwa “Setiap tenaga kerja berhak mendapat perlindungan atas keselamatan, kesehatan, pemeliharaan moral kerja, serta perlakuan yang sesuai martabat manusia dan moral agama”.
Seperti yang kita ketahui, bahwa Keselamatan kerja para pekerja termasuk didalam Undang-Undang Republik Indonesia. UU No. 13 Tahun 2003 menegaskan bahwa setiap pekerja/buruh mempunyai hak untuk memperoleh perlindungan atas keselamatan dan kesehatan kerja (pasal 86, ayat 1). Untuk
melindungi keselamatan pekerja/ buruh guna mewujudkan produktivitas kerja yang optimal diselenggarakan upaya keselamatan dan kesehatan kerja (K3) (pasal 86, ayat 2) (Kepnakertrans, 2012).Sejak ditetapkannya Undang-Undang No. 1 Tahun 1970 tentang keselamatan kerja, Menteri tenaga kerja dan transmigrasi R.I sebagai pemegang polisi nasional K3, bersama para pemangku kepentingan telah melakukan berbagai upaya untuk mendorong pelaksanaan K3 melalui berbagai kegiatan, antara lain kampanye, seminar, lokakarya, konvensi, pembinaan dan peningkatan kompetensi personil K3, pembentukan dan pemberdayaan lembaga-lembaga K3 baik tingkat nasional sampai dengan tingkat perusahaan, pemberian penghargaan K3, dan perbaikan-perbaikan sistem K3 secara berkelanjutan, namun hasilnya tetap saja belum optimal (Kepmenakertrans RI No. 372 Tahun 2009).Setiap kecelakaan itu dapat diramalkan atau diduga dari semula jika perbuatan dan tindakan yang tidak aman tidak memenuhi persyaratan. Statistik mengungkapkan bahwa 80% kecelakaan disebabkan oleh perbuatan yang tidak aman ( Unsafe act), dan hanya 20% oleh kondisi yang tidak aman (Unsafe
Condition) (Silalahi, 1991).
Berdasarkan Undang-Undang diatas, didalam suatu pekerjaan yang memungkinkan terjadinya kecelakaan kerja, seorang karyawan membutuhkan adanya jaminan atas keselamatan dan kesehatan kerjanya (K3) dari perusahaan. Hal ini merupakan suatu kebutuhan karena dengan adanya jaminan terhadap keselamatan dan kesehatan kerja membuatnya merasa aman, dan dengan sendirinya hasil pekerjaan atau kinerjanya akan lebih baik pula sehingga apa yang menjadi tujuan perusahaan maupun tujuan pribadinya dapat terpenuhi serta dapat meningkatkan nama baik perusahaan dalam bidang K3. Ada beberapa faktor yang
mempengaruhi berhasil atau tidaknya tujuan tersebut, salah satu faktor pentingnya adalah sumber daya manusia, karena sumber daya manusia merupakan pelaku dari keseluruhan aktivitas perusahaan dari perencanaan hingga evaluasi. Potensi yang dimiliki oleh setiap karyawan di dalam perusahaan harus dimanfaatkan dengan tidak melupakan aspek keselamatan dan kenyamanan kerja agar karyawan mampu memberikan kinerja yang terbaik.Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) dijadikan sebagai aspek perlindungan tenaga kerja sekaligus melindungi aset perusahaan yang bertujuan agar sedapat mungkin memberikan jaminan kondisi yang aman dan sehat kepada setiap karyawan dan untuk melindungi Sumber Daya Manusia (SDM) dikarenakan Keselamatan dan Kesehatan Kerja bertujuan untuk mengurangi angka kecelakaan kerja.
Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) sendiri merupakan kegiatan yang menjamin terciptanya kondisi kerja yang aman, terhindar dari gangguan fisik dan mental melalui pembinaan dan pelatihan, pengarahan, dan control terhadap pelaksanaan tugas dari para karyawan dan pemberian bantuan sesuai dengan aturan yang berlaku, baik dari lembaga pemerintahan maupun perusahaan dimana mereka bekerja. (Yuli, 2005:211) selain itu Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) juga merupakan salah satu bentuk upaya untuk menciptakan tempat kerja yang aman, sehat, bebas dari pencemaran lingkunganyang pada akhirnya akan berdampak pada masyarakat luas, sehingga dapat melindungi dan bebas dari kecelakaan kerja pada akhirnya dapat meningkatkan efisiensi dan produktivitas kerja.Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan kerja yang selanjutnya disingkat SMK3 adalah bagian dari sistem manajemen perusahaan secara keseluruhan dalam rangka pengendalian resiko yang berkaitan dengan kegiatan
kerja guna terciptanya tempat kerja yang aman, efisien dan produktif (Peraturan Pemerintah No. 50 Tahun 2012).
Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Ketenagakerjaan mencatat bahwa kasus kecelakaan kerja peserta program Jaminan Kecelakaan Kerja tahun 2015 menurun. Hal tersebut dapat dilihat dari jumlah kasus di tahun sebelumnya yang mencapai 53.319 kasus, sementara tahun 2015 ini berjumlah 50.089 kasus. Pada tahun 2012 terdapat 99.491 kasus atau rata-rata 414 kasus kecelakaan kerja per hari, sedangkan tahun 2011 terdapat 98.711 kasus kecelakaan kerja, 2010 terdapat 96.314 kasus, 2009 terdapat 94.736 kasus, dan 2008 terdapat 83.714 kasus.
Saat ini perkembangan perusahaan BUMN (Badan Usaha Milik Negara)/ PTPN (PT Perkebunan Nusantara) sangat besar di Indonesia. Potensi sumber daya yang dihasilkan merupakan faktor dominan dalam strategi pembangunan bangsa dan Negara Indonesia terutama dalam menghadapi era globalisasi dan industrialisasi. Kegiatan pegolahan PTPN memerlukan program keselamatan kerja untuk meningkatkan mutu dan kualitas hasil produksi perusahaan. PT Perkebunan Nusantara IV Unit Usaha Bah Butong merupakan salah satu unit usaha PT Perkebunan Nusantara IV yang bergerak dibidang pengolahan daun teh menjadi bubuk teh hitam. Proses kerja yang dilakukan oleh pekerja di PTPN IV Unit Usaha Bah Butong yaitu:
a. Penerimaan pucuk teh segar (mutu halus kasar/ kegetasan dan ketidaksesuaian pucuk segar)
b. Pelayuan
c. Turunan Daun Layu
d. Penggulungan e. Oksidasi Enzimatis
f. Pengeringan (Kadar air, Taste, Liquor)
g. Sortasi (Kadar air, Density, Taste, Liquor, Appearance, Infused Leaf) h. Pengepakan (Kadar air, Density, Taste, Liquor, Appearance, Infused Leaf) i. Penyimpanan
PT Perkebunan Nusantara IV Unit Usaha Bah Butong memberikan jaminan keselamatan dan kesehatan kerja bagi para karyawannya untuk meningkatkan kinerja karyawan. Jaminan keselamatan dan kesehatan kerja yang dimaksud berupa Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Ketenagakerjaan (BPJS Ketenagakerjaan). Adapun resiko sosial ekonomi yang ditanggulangi oleh PT Perkebunan Nusantara IV Unit Usaha Bah Butong melalui BPJS Ketenagakerjaan untuk karyawannya yaitu, berupa perlindungan peristiwa kecelakaan kerja, sakit, hamil, bersalin, cacat karena kecelakaan kerja, dan meninggal dunia.
Dalam rangka menunjang aktivitas kerja karyawan serta meningkatkan produktivitas kerja, PT Perkebunan Nusantara IV Unit Usaha Bah Butong memberikan jaminan keselamatan dan kesehatan kerja. Untuk mengetahui sejauh mana pengaruh jaminan keselamatan dan kesehatan kerja terhadap kinerja karyawan maka diperlukan adanya evaluasi secara bertahap yang dilakukan oleh suatu bagian yang ada di internal perusahaan tersebut.
Berdasarkan uraian latar belakang diatas, maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul : “Pengaruh Program Keselamatan Dan
Kesehatan Kerja Terhadap Kinerja Karyawan PT Perkebunan Nusantara IV Unit Usaha Bah Butong”.